Anda di halaman 1dari 12

TUGAS OMPI

ASOSIASI, LEMBAGA DAN KELOMPOK

Disusun Oleh :

Rasyid Khairudin ( 1500019108 )


Surya Adami ( 1500019172 )
Akhmad Saeful Akbar ( 1500019173 )
M. Fajri Dwi Anggaa ( 1500019174 )

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2018
1. ASOSIASI

A. Definisi Asosiasi
Asosiasi merupakan proses intraksi yang mendasari terbentuknya
lembaga-lembaga sosial. Berbagai asosiasi dapat ditemukan dalam masyarakat.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, asosiasi bisa diartikan sebagai
persatuan antara rekan usaha atau persekutuan dagang. Asosiasi juga bisa berarti
perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama. Pengertian lain
istilah ini adalah proses interaksi yang mendasari terbentuknya lembaga-
lembaga sosial.
Contoh dari Asosiasi :
a) APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia)
b) AKI (Asosiasi Kontraktor Indonesia)
B. Sejarah Asosiasi
a) APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia)
Pada bulan Januari 1952 sekelompok pengusaha Indonesia
melakukan pembentukan sebuah asosiasi dengan nama PUSPI (dewan
pengusaha urusan sosio-ekonomi). Mengingat semakin banyaknya isu,
pengusaha mempersatukan diri mereka dalam organisasi sebagai forum
komunikasi dan konsultasi dengan tujuan untuk mengadopsi langkah-
langkah yang sama dalam menyelesaikan masalah Pengusaha, Pekerja dan
Pemerintah. Organisasi ini juga diperlukan untuk berfungsi sebagai saluran
bagi aspirasi pengusaha untuk didengar oleh Pemerintah dan organisasi
terkait lainnya. Awalnya organisasi ini dipusatkan di ibu kota negara
tersebut, namun seiring dengan berkembangnya keanggotaannya ke semua
provinsi dan pusat industri.
Nama PUSPI dilaksanakan sampai dengan tanggal 31 Januari 1985,
ketika pada kongres nasional organisasi yang diadakan di kota Surabaya,
keputusan bulat diterima untuk mengubah nama menjadi APINDO
(Asosiasi Pengusaha Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia) .
Saat ini, APINDO adalah organisasi pemersatu untuk Pengusaha.
Berpartisipasi dalam pembentukan kesejahteraan sosial di masyarakat
bisnis melalui kerja sama yang terintegrasi antara Pemerintah, Pengusaha /
perusahaan, dan Pekerja, dalam rangka partisipasi aktif untuk pencapaian
tujuan nasional.
APINDO diakui pada tahun 1975 oleh Keputusan Menteri Tenaga
Kerja, dan dimandatkan oleh KADIN Indonesia (Kamar Dagang dan
Industri Nasional Indonesia), untuk mewakili Majikan pada emiten terkait
dengan hubungan industrial dan ketenagakerjaan.
Kantor Pusat APINDO ada di Jakarta, sedangkan di masing-masing
dari 26 provinsi, organisasi tersebut dipimpin oleh dewan provinsi masing-
masing, dan kemudian di distrik oleh 173 dewan distrik.
b) AKI (Asosiasi Kontraktor Indonesia)
Sejarah terbentuknya AKI tidak bisa dipisahkan dengan semakin
meningkatnya pembangunan proyek-proyek besar yang sebagian dana
pembangunannya dari pinjaman luar negeri sehingga tendernya diharuskan
melalui penawaran internasional (International Competitive Bid) yang
tentunya terbuka juga untuk para kontraktor dari luar negeri, dan masuknya
modal asing dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA) yaitu dengan
diundangkannya UU No.l Tahun 1967.
GAPPENSI pada Kongres pertama yang berlangsung di Tretes
Malang tahun 1959 dalam salah satu keputusannya menetapkan perlunya
dibentuk wadah kontraktor nasional untuk menghadapi kontraktor asing.
Dilain pihak dirasa perlu Indonesia memiliki suatu organisasi kontraktor
besar (Master Builder Association) yang layak untuk menjadi anggota
IFAWPCA (International Federation of Asian and Western Pacific
Contractors Associations) sehingga kontraktor Indonesia dapat berkiprah di
forum internasional. Meskipun pada saat itu sudah berdiri organisasi
GAPPENSI namun disadari bahwa GAPPENSI ini masih belum sanggup
untuk menjadi anggota IFAWPC.
Berdasarkan hal tersebut maka Menteri PUTL mengambil kebijaksanaan
agar untuk sementara Dewan Direksi Perusahaan Bangunan Negara (DD-
PBN) saja dulu yang untuk sementara mewakili Indonesia di IFAWPCA
mengingat Indonesia termasuk pendiri IFAWPCA karena pada waktu
pembentukannya di Manila bulan Maret 1958 Indonesia diundang dan
Menteri PUTL menugaskan pejabat Departemen PUTL yaitu Ir.R.Pramudji
untuk hadir mewakili Indonesia. Selain itu Executive Board IFAWPCA pada
konvensi IFAWPCA ke-10 di Bangkok tahun 1970 juga mengharap agar
para kontraktor Indonesia segera membentuk organisasi yang menjadi
anggota IFAWPCA, Maka sekembali delegasi Dewan Direksi BUMN dari
konvensi di Bangkok, dilangsungkanlah pertemuan antara Ir.S.Danunagoro
yang mewakili Dewan Direksi Perusahaan Bangunan Negara, H.E.Kowara
yang mewakili Dewan Teknik Pembangunan Indonesia dan
Prof.Ir.R.Rooseno yang mewakili GAPPENSI untuk membicarakan
pembentukan organisasi baru sebagai wadah kontraktor Indonesia yang
sesuai Anggaran Dasar IFAWPCA dapat menjadi anggota.
Selanjutnya pada tanggal 2 Oktober 1971 bertempat di kantor PT
Pembangunan Jaya di proyek Senen diselenggarakan musyawarah para
kontraktor dan disepakati untuk membentuk satu wadah kontraktor yang
baru dengan nama ASOSIASI KONTRAKTOR INDONESIA disingkat
AKI yang dalam bahasa Inggris dengan nama INDONESIAN
CONTRACTORS ASSOCIATION disingkat ICA.
C. Analisis Asosiasi
a) Apindo
Tujuan dibentuknya APINDO untuk :
1. Mempersatukan dan membina pengusaha serta memberikan pelayanan
kepentingannya didalam bidan hubungan industrial.
2. Menciptakan dan memelihara keseimbangan, ketenangan dan kegairahan
kerja serta usaha dalam pembinaan hubungan industrial dan
ketenagakerjaan.
Usaha-Usaha yang dilakukan oleh APINDO :
1. Menggalang kerjasama dan hubungan baik dengan instansi2 /lembaga
pemerintah dan swsta , baik dalam atau pun luar negeri sepanjang tidak
bertentangan dengan azas dan tujuan APINDO.
2. Memantapkan langkap operasional hubungan industrial pancasila dan
kerjasama tripartit anatara, pengusaha dan pekerja di wilayah kerja
organisasi.
3. Membina sumberdaya manusia sebagai peserta produksi sebagaimana
digarisakan dalam hubungan industrial pancasila.

Keanggotaan APINDO terdiri dari :


1. Anggota biasa yaitu perusahaan yang terdiri dari BUMN/BUMD,
koperasi, usaha swasta dan pengusaha. Hak anggota sebagai berikut
a. hak suara dan bicara
b. mengajukan pendapat
c. memperoleh pembinaan
2. Anggota luar biasa yaitu organisai-organisasi ekonomi, himpunan,
gabungan dan asosiasi-asosiasi. Hak nya sebagai berikut :
a. Hak bicara
b. Mengajukan pendapat
c. Memperoleh pembinaan
3. Anggota kehormatan yaitu perorangan yang telah berjasa kepada
APINDO, Pembina dan penasehat APINDO. Anggota kehormatan
mempunyai hak sebagai berikut :
a. Hak bicara
b. Mengajukan pendapat
c. Mengunjungi rapat-rapat dan pertemuan-pertemuan

Struktur organisasi APINDO terdiri dari :


a) Tingkat pusat terdiri dari :
• Musyawarah nasional
• Dewan pengurus pusat

Susunan DPP adalah sebagai berikut :


• seorang ketua umum
• beberapa( 4 sampai 6) orang wakil ketua umum yang masing-masing
mengkordinasi beberapa bidang.
• Seorang sekertaris jenderal
• 2 orang wakil sekertaris jenderal
• Seorang bendahara
• Ketua-ketua sektor sesuai dengan pembagian sektoral yang ada
b) Tingkat daerah terdiri dari :
• Musyawarah daerah
• Dewan pengurus daerah (DPD)
• Kordinator (dibentuk bila dianggap perlu)
Musyawarah daerah merupakan kekuasaan tertinggi daerah. DPD
adalah pimpinan tertinggi organisasi daerah antara dua musyawarah daerah.
Masa bakti kepengurusan APINDO adalah empat tahun untuk setiap satu
masa bakti. Ketua Umum DPP, ketua DPD dan ketua DPC hanya dapat
dijabat tidak lebih dua kali berturut-turut oleh orang yang sama. Anggota
pengurus lainnya dapat dipilih kembali untuk masa bakti berikutnya.
2. Lembaga
A. Definisi Lembaga
Pengertian lembaga lebih menunjuk pada sesuatu bentuk, sekaligus
juga mengandung mana yang abstrak. Karena dalam pengertian lembaga juga
mengandung tentang seperangkat norma-norma, peruturan-peraturan yang
menjadi ciri lembaga tersebut. Lembaga merupakan system yang kompleks
yang mencangkup berbagai hal yang berhubungan dengan konsep sosial,
psikologis, politik dan hukum.
Konsep lembaga/ kelembagaan telah banyak dibahas dalam sosiologi,
antropologi, hukum dan politik. Dalam bidang sosiologi dan antropologi
kelembagaan banyak di tekankan pada norma, tingkah laku maupun adat
istiadat. Dalam ilmu politik kelembagaan banyak ditekankan pada aturan main,
kegiatan kolektif untuk kepentingan bersama. Dalam ilmu Psikologi
menegaskan pentingnya kelembagaan dari sudut pandang tingkah laku
manusia. Sedangkan dari ilmu hukum melihatnya dari sudut hukum atau
regulasinya serta istrumen dan litigasinya (Djogo, dkk, 2003)
Untuk memahami lebih dalam tentang arti lembaga, dapat dilihat dari
berbagai pendapat para ahli tentang konsep dan definisi dari lembaga.
Contoh Dari Lembaga :
a) YLBHI ( Yayasan Lembaga Badan Hukum Indonesia)
b) LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)
B. Sejarah Lembaga
a) LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan)
UUD 1945 mengamanahkan bahwa sekurang-kurangnya dua puluh
persen Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) adalah untuk
fungsi pendidikan. Pemerintah dan DPR RI pada tahun 2010 melalui UU
Nomor 2 tahun 2010 tentang APBN-P 2010 menyepakati bahwa sebagian
dana dari alokasi dana fungsi pendidikan dalam APBN-P tersebut dijadikan
sebagai Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) yang dikelola
dengan mekanisme pengelolaan dana abadi (endowment fund) oleh sebuah
Badan Layanan Umum (BLU).
Pada tahun 2011, Menteri Keuangan dan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan menyepakati bahwa pengelolaan DPPN dan pemanfaatan hasil
pengelolaan dana tersebut akan dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan
namun pejabat dan pegawainya merupakan gabungan antara pegawai
Kementerian Keuangan dan pegawai Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
Menteri Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK)
Nomor 252/PMK.01/2011 tanggal 28 Desember 2011 menetapkan
Organisasi dan Tata Kelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan sebagai
sebuah lembaga non eselon yang langsung bertanggung jawab kepada
Menteri Keuangan dan berpedoman pada kebijakan-kebijakan yang
ditetapkan oleh Dewan Penyantun LPDP (Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Menteri Keuangan, dan Mensteri Agama). Melalui Keputusan
Menteri Keuangan (KMK) Nomor 18/KMK.05/2012 tanggal 30 Januari
2012, LPDP ditetapkan sebagai instansi pemerintah yang menerapkan pola
keuangan Badana Layanan Umum.
b) YLBHI ( Yayasan Lembaga Badan Hukum Indonesia)
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia didirikan pada tanggal
26 Oktober 1970 atas inisiatif Dr. Adnan Buyung Nasution, S.H yang
didukung penuh oleh Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta saat itu. Pendirian
Lembaga Bantuan Hukum di Jakarta diikuti dengan pendirian kantor-kantor
cabang LBH di daerah seperti Banda Aceh, Medan, Palembang, Padang,
Bandar Lampung, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Bali,
Makassar, Manado, Papua dan Pekanbaru. Saat ini YLBHI memiliki 15
kantor cabang LBH di 15 Provinsi, dan 10 pos LBH di 10 Kabupaten.
YLBHI sebagai Yayayasan, didirikan dengan tujuan untuk
mendukung kinerja LBH yang tersebar di 15 Provinsi, dan saat ini dipimpin
oleh Asfinawati sebagai Ketua Badan Pengurus dan Nursyahbani
Katjasungkana sebagai Dewan Pembina menggantikan Dr. Adnan Buyung
Nasution yang diangkat oleh Presiden sebagai anggota Dewan Pertimbangan
Presiden tahun 2007.
Persoalan bantuan hukum terkait erat dengan kemiskinan struktural
yang terjadi di Indonesia, kemiskinan struktural membuat rakyat tidak
mampu untuk mengakses keadilan (bantuan hukum), berpijak dari kondisi
tersebut YLBHI LBH hadir untuk memberikan bantuan hukum dan
memperjuangkan hak rakyat miskin, buta hukum dan korban pelanggaran
Hak Asasi Manusia (HAM). Semasa rezim Soeharto (orde baru), peran
YLBHI-LBH menjadi salah satu aktor kunci dalam menentang dan
menumbangkan rezim Otorianisme orde baru, selain itu YLBHI-LBH
menjadi simpul dan lokomotif bagi gerakan pro demokrasi di Indonesia.
Selain sebagai lembaga yang tetap konsisten memperjuangkan
penegakan hukum, demokrasi dan HAM, YLBHI juga menjadi tempat
lahirnya organisasi masyarakat sipil yang saat ini memegang peran penting
sebagai gerakan penyeimbang negara. ICW, Kontras, KRHN, Baku Bae,
RACA, K3JHAM, adalah beberapa organisasi masyarakat sipil yang
dahulunya adalah desk-desk tersendiri dan dikelola langsung oleh YLBHI.
Kondisi negara yang sampai saat ini masih tetap menciptakan ruang
anti demokrasi, anti gerakan, dan sengaja menciptakan politik kekerasan serta
membuka ruang bagi militerisme membuat rakyat apatis dan frustasi. Disisi
penegakan Hukum dan HAM, kondisi perubahan terasa mengalami
kemandekan, tragedi 27 Juli, Kerusuhan mei 1998, Pelanggaran HAM Timor
Timur, kasus Tanjung Priok, Penghilangan dan Kekerasan di Aceh dan
Papua, adalah deretan kasus yang tidak pernah terselesaikan hingga saat ini.
C. Anlisis Lembaga
a) LPDP
1) TUJUAN, FOKUS & PROGRAM LPDP
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan mengarahkan segenap
usahanya guna mencetak pemimpin masa depan yang tersebar di
berbagai bidang. Pengelolaan dana abadi pendidikan ini bertujuan
menjamin keberlangsungan program pendidikan bagi generasi
mendatang sebagai pertanggungjawaban antargenerasi. Selain itu,
LPDP juga bertujuan mengantisipasi keperluan rehabilitasi
pendidikan yang rusak akibat bencana.
LPDP berfokus pada pengembangan kualitas sumber daya
manusia di berbagai bidang yang menunjang percepatan
pembangunan Indonesia. Beberapa di antara prioritas yang menjadi
fokus LPDP antara lain; teknik, sains, pertanian, hukum, ekonomi,
keuangan, kedokteran, agama, serta sosial-budaya.

3. Kelompok
A. Definisi
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang
berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama
lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.
Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok
pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil
suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi
antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga
bagi komunikasi kelompok.
Contoh Dari Kelompok :
a) Kelompok Petani
b) Kelompok Pecinta Alam Indonesia
B. Sejarah
a. Kelompok Tani Subur
Kelompok Tani Subur adalah kelompok tani yang beralamatkan di
Dukuh Gedong Sari Desa Sruni Kecamatan Kecamatan Musuk Kabupaten
Boyolali. Kelompok ini berdiri tahun 2004 dengan sejarah awal
pembentukan nya adalah untuk menghidupkan kembali kelompok tani
Subur lama yang sudah tidak ada kegiatan. Pada awalnya kelompok tani
subur yang lama diketuai oleh Bapak Kartosuyono dan Bapak Broto Suseno
yang pada awalnya juga merupakan gabungan dari dua kelompok yang
berbeda kemudian menjadi satu kelompok tani yang bernama kelompok tani
Subur, kelompok tani Subur ini juga pada akhirnya vakum karena tidak ada
kegiatan dan aktivitas keorganisasiaan yang berarti dan berguna bagi
anggota kelompok.
Proses untuk menghidupkan kembali kelompok tani subur tersebut
sangat sulit, karena untuk mengumpulkan sepuluh anggota saja mengalami
kesulitan. Hal ini dilakukan sampai empat kali pertemuan tetap tidak bisa
terlaksana. Untuk mengatasi hal tersebut Bapak Marjono (Ketua kelompok
tani subur saat ini) berkoordinasi dengan KCD Musuk yang dijabat oleh
Bapak Gatot Suseno dan PPL Musuk Bapak Juma’in dan PDPP (Pimpinan
Dinas Peternakan dan Periaknan) Musuk Bapak Tarwiji dengan hasil yang
cukup baik, yaitu dapat menghadirkan 10 anggota kelompok.
Perkembangan kelompok tani grafiknya terus naik. Pada Tahun
2005 kelompok mengajukan pembelian pupuk bersubsidi ke dinas Pertanian
sebanyak 50 ton yang akhirnya bisa terkabulkan dan dikelola oleh kelompok
sehingga mendapatkan hasil keuntungan 5000 rupiah/zak yang
dimanfaatkan untuk menambah kas kelompok.
b. Kelompok Pecinta Alam Indonesia
Istilah Pecinta Alam di Indonesia sebenarnya belum lama dikenal.
Dahulu memang sudah ada kelompok-kelompok yang bergerak di bidang
lingkungan hidup dan konservasi alam. Sejarah tentang kelompok Pecinta
Alam, terutama yang ada kaitannya dengan upaya pelestarian alam, sudah
tercatat sejak tahun 1912, dengan terbentuknya De Nederlandsh Indische
Vereneging Tot Natuur Rescherming. Kemudian Pemerintah Hindia
Belanda mulai terlibat secara konkret sejak tahun 1937, dengan
terbentuknya Bescherming Afdeling Van’t Land Plantetuin. Sejak saat itu
kegiatan kepecintaalaman mulai berkembang di Indonesia. Pada Awal
tahun 1960-an kegiatan yang berorientasi pada pelestarian alam ini
mendapat pengaruh yang cukup besar dari kegiatann kepanduan (scouting).
Pandu, yang kini dikenal dengan nama Pramuka, berkembang pesat sejak
tahun 1940-an, dan memang jenis kegiatan yang sering dilakukannya
adalah kegiatan olahraga, rekreasi, petualangan, membaca jejak dan
ketrampilan lainnya. Mau tidak mau, memang harus kita akui, bahwa
kegiatan kepecintaalaman bertambah muatannya dengan jenis-jenis
kegiatan petualangan karena adanya pengaruh dari kepanduan. Istilah
“Pecinta Alam” pertama kali diperkenalkan oleh Mapala Universitas
Indonesia pada tahun 1975. Setelah berulang kali berganti nama, akhirnya
mereka menamakan kelompoknya Mapala UI. Setelah itu, terutama di era
1980-an, perkembangan kelompok-kelompok Pecinta Alam semakin pesat
di seluruh tanah air, sampai sekarang ini.
C. Analisis
Menurut peraturan menteri pertanian nomor;
273/Kpts/OT.160/4/2007 kelompok tani adalah kumpulan
petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan
kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi,
sumberdaya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan
usaha anggota. Kelompok tani juga dapat diartikan organisasi non formal
di perdesaan yang ditumbuhkembangkan “dari, oleh dan untuk petani”.
Umumnya kelompok tani dibentuk atas dasar kesamaan tujuan,
kesamaan kepentingan dan kesamaan kondisi dalam suatu lingkungan
petani. dengan dibentuknya kelompok tani mempermudah untuk
penyampaianmateripenyuluhaberupa pembinaandalam memberdayakan
petani agar memiliki kemandirian, bisa menerapkan inovasi ,dan mampu
menganalisa usahatani, sehingga petani dan keluarganya bisa
memperoleh pendapatan dan kesejahteraan yang meningkat dan layak.