Anda di halaman 1dari 20

RESUME MATA KULIAH PASAR MODAL

SAHAM DAN ANALISIS FUNDAMENTAL, ANALISIS TEKNIK

Disusun Oleh:

Deden Teguh Pribadi 1617104009

UNIVERSITAS WIDYATAMA

BANDUNG

2018
A. Saham
Saham merupakan salah satu instrumen pasar modal yang paling

diminati investor karena memberikan tingkat keuntungan yang menarik.

Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seorang atau

sepihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.

Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim

atas pendapatan perusahaan, klaim atas aset perusahaan, dan berhak hadir

dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).


Saham adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan

perusahaan sehingga pemegang saham memiliki hak klaim atas deviden atau

distribusi lain yang dilakukan perusahaan kepada pemegang sahamnya,

termasuk hak klaim atas aset perusahaan dengan prioritas setelah hak klaim

pemegang surat berharga lain dipenuhi jika terjadi likuiditas.


Menurut Husnan Suad (2010:29) pengertian saham adalah:
Saham adalah secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal yaitu
pihak yang memiliki kertas tersebut untuk memperoleh bagian dari
prospek atau kekayaan organisasi yangmenerbitkan sekuritas tersebut,
dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut
menjalankan haknya.
Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2012:5) pengertian saham adalah:
Saham (stock) merupakan tanda penyertaan atau pemilikan seseorang
atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham
berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas
tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga
tersebut.
Sedangkan menurut Fahmi (2015:80) pengertian saham adalah:
Saham merupakan tanda bukti penyertaan kepemilikan modal/dana
pada suatu perusahaan. Saham berwujud selembar kertas yang
tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan dan diikuti
dengan hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap
pemegangnya. Serta merupakan persediaan yang siap untuk dijual.
Dari beberapa pengertian saham tersebut menurut kesimpulan penulis

adalah surat berharga yang merupakan tanda penyertaan/kepemilikan

seseorang atau badan terhadap suatu perusahaan yang didalamnya tercantum

nilai nominal, nama perusahaan, dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang

dijelaskan kepada setiap pemegangnya.

1. Jenis-jenis Saham
Perdagangan saham juga dikenal beberapa jenis saham. Menurut Kasmir
(2010:210), jenis-jenis saham ditinjau dalam beberapa segi antara lain
sebagai berikut:
a) Dari segi cara peralihannya
1) Saham Atas Unjuk (Bearer Stocks).
Merupakan saham yang tidak mempunyai nama atau tidak tertulis
nama pemilik dalam saham tersebut. Saham jenis ini mudah untuk
dialihkan kepada pihak lain diperlukan syarat dan prosedur
tertentu.
2) Saham Atas Nama ( Registered Stocks).
Di dalam saham tertulis nama pemilik saham tersebut dan untuk
dialihkan kepada pihak lain diperlukan syarat dan prosedur
tertentu.
b) Dari Segi Hak Tagihnya
1) Saham Biasa (Common Stock)
Bagi pemilik saham ini hak untuk memperoleh deviden akan
didahulukan lebih dahulu kepada saham preferen. Begitu pula dengan
hak terhadap harta apabila perusahaan dilikuidasi.
2) Saham Preferen (Preffered Stock)
Merupakan saham yang memperoleh hak utama dalam deviden dan
harta apabila perusahaan dilikuidasi.

2. Harga Saham
Harga saham merupakan salah satu indikator pengelolaan

perusahaan. Keberhasilan dalam menghasilkan keuntungan akan

memberikan kepuasan bagi investor yang rasional. Harga saham yang

cukup tinggi akan memberikan keuntungan, yaitu berupa capital gain

dan citra yang lebih baik bagi perusahaan sehingga memudahkan bagi
manajemen untuk mendapatkan dana dari luar perusahaan. Untuk

memahami pengertian audit secara baik, berikut ini pengertian audit

menurut pendapat beberapa para ahli:


Pengertian harga saham menurut Jogiyanto (2008:167) “Harga

saham adalah harga suatu saham yang terjadi di pasar bursa pada saat

tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh

permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar modal.”

Menurut Agus Sartono (2008:70) “Harga pasar saham terbentuk melalui

mekanisme permintaan dan penawaran di pasar modal. Dalam pasar

modal yang efisien, semua sekuritas diperjualbelikan pada harga

pasarnya.” Harga saham menurut Brigham dan Houston (2010:7): “Harga

saham menentukan kekayaan pemegang saham. Maksimalisasi kekayaan

pemegang saham diterjemahkan menjadi memaksimalkan harga

saham perusahaan. Harga saham pada satu waktu tertentu akan

bergantung pada arus kas yang diharapkan diterima di masa depan oleh

investor “rata–rata” jika investor membeli saham”.

Berdasarkan pengertian para ahli tersebut maka dapat disimpulkan

bahwa harga saham adalah harga yang terbentuk sesuai permintaan dan

penawaran dipasar jual beli saham dan biasanya merupakan harga penutupan.

B. Analisis Saham
Dalam konteks teori untuk melakukan analisis dan memilih saham

terdapat dua pendekatan dasar yakni:


1. Analisis Fundamental
Analisis Fundamental melakukan analisis terhadap faktor-faktor makro

ekonomi yang mempengaruhi kinerja seluruh perusahaan-perusahan,

kemudian dilanjutkan dengan analisis industri, dan pada akhirnya

dilakukan analisis terhadap perusahaan yang mengeluarkan sekuritas

bersangkutan untuk menilai apakah sekuritas yang dikeluarkannya

menguntungkan atau merugikan bagi investor (Tanndelilin, 2010:338).

Karena banyak faktor yang mempengaruhi harga saham dalam hal ini

maka beberapa tahapan analisis untuk melakukan analisis fundamnetal yaitu

menurut Tanndelilin (2010:338):

1. Analisis Ekonomi dan Pasar Modal


Analisis ekonomi dan pasar modal bertujuan untuk
membuat keputusan alokasi penginvestasian dana di beberapa
negara atau dalam negeri dalam bentuk saham, obligasi ataupun
kas.
2. Analisis Industri
Analisis industri bertujuan berdasarkan analisis ekonomi dan
pasar, tentukan jenis-jenis industri mana yang mengutungkan dan
mana yang tidak berprospek baik.
3. Analisis Perusahaan
Analisis perusahaan bertujuan berdasarkan hasil industri, tentukan
perusahaan-perusahan mana dalam industri terpilih yang
berprospek baik.

Analisis Ekonomi dan Pasar Modal.

Indikator Ekonomi Pengaruh Penjelasan


GDP (Gross Domestic Meningkatnya GDP Meningkatnya GDP

Product) merupakan Sinyal yang mempunyai pengaruh

baik (positif) untuk positif terhadap daya beli

investasi begitu juga konsumen sehingga dapat


sebaliknya. meningkatkan permintaan

terhadap produk

perusahaan
Inflasi Peningkatan inflasi secara Inflasi meningkatkan

relatif merupakan sinyal pendapatan dan biaya

negatif bari para pemodal perusahaan. Jika

di pasar modal peningkatan biaya

produksi lebih tinggi dari

peningkatan harga yang

dapat dinikmati oleh

perusahaan maka

profitabilitas perusahaan

akan turun.
Tingkat Suku Bunga Tingkat suku bunga yang Tingkat suku bunga yang

tinggi merupakan sinyal meningkat akan

negatif terhadap harga menyebabkan peningkatan

saham suku bunga yang

disyaratkan atas investasi

pada suatu saham.

Disamping itu tingkat suku

bunga yang meningkat

akan menyebabkan
investor menarik

investasinya pada saham

dan memindahkannya

pada investasi berupa

tabungan dan deposito.


Kurs Rupiah Menguatnya kurs rupiah Mengingat kurs rupiah

terhadap mata uang asing terhadap mata uang asing

merupakan sinyal positif akan menurunkan biaya

bagi perekonomian yang impor bahan baku untuk

mengalami inflasi. produksi, dan akan

menurunkan tingkat suku

bunga yang berlaku.

Analisis Industri

a. Development – Stage 1
Fase di mana perusahaan mulai memperkenalkan ide, produk, atau jasa yang

mereka usungkan kepada pasar. Aktivitas pada fase ini pada umumnya adalah
introduction atau promosi melalui media pemasaran untuk mensosialisasikan

barang dan jasa perusahaan.


b. Growth – Stage 2
Fase ini menggambarkan kondisi perusahaan yang telah mampu mencapai

tahapan “diterima” di masyarakat. Penjualan dan laba yang dihasilkan oleh

perusahaan dikatakan meningkat hasil dari promosi dan pengenalan yang

dilakukan perusahaan pada tahap sebelumnya, oleh karenanya perusahaan

mengurangi tingkat agresifitas promosi pada tahap ini.

c. Expansion – Stage 3
Ditandai dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan tetap berlanjut

(tinggi) tapi dengan tingkat yang semakin berkurang baik (tidak sepesat fase

growth).
d. Maturity – Stage 4
Tahap ini ditandai oleh semakin ketatnya persaingan harga dan produksi di

dalam industri. Promosi kembali ditingkatkan, inovasi-inovasi, dan plus value

mulai menjadi senjata perusahaan untuk mendapatkan pasar dan ekstensi

terhadap pesaing-pesaingnya.
e. Decline – Stage 5
Ditandai dengan penurunan pendapatan dan pertumbuhan industri yang

lambat atau menurun. Akibatnya pesaing pun mulai berkurang akibat

terjadinya resesi industry.

Analisis Perusahaan

Bagi para investor yang melakukan analisis perusahaan, informasi rasio dari laporan

keuangan yang diterbitkan perusahaan merupakan salah satu jenis informasi yang

paling mudah dan paling murah didapatkan dibandingkan alternatif informasi lainnya.
Analisis rasio keuangan tersebut terdapat 4 kelompok instrument rasio yaitu:

1) Rasio Likuiditas

2) Rasio Solvabilitas

3) Rasio Rentabilitas

4) Rasio Aktivitas

2. Analisis Teknik
Tanndelilin (2010:392), “Analisis Teknikal adalah teknik untuk

memprediksi arah pergerakan harga saham dan indikator pasar saham

lainnya berdasarkan pada data pasar historis seperti informasi harga

saham dan volume”.

Ada tiga hal yang mendasari analisis teknikal. Tiga dasar tersebut adalah:

1. Market action discounts everything. Salah satu keuntungan dalam

menggunakan analisis teknikal adalah bahwa pergerakan harga (price action)

cenderung mencerminkan informasi yang beredar di pasar. Apakah itu rumor

atau sentimen. Dengan demikian, maka hal yang Anda butuhkan untuk

mengambil keputusan adalah apa yang Anda bisa lihat dari pergerakan harga

itu sendiri. Anda tidak perlu dipusingkan oleh berita atau rumor, misalnya,

mengenai si Anu mau melakukan ini atau itu. Cukup perhatikan price action-

nya. Tenang… tenang… nanti Anda akan sampai ke topik itu. Ikuti saja modul

ini sampai selesai.


2. Price Move In Hand. Harga bergerak dalam tren, begitu bunyi dasar yang ke-

2. Maksudnya adalah bahwa pergerakan harga cenderung bergerak dalam arah

(trend) tertentu sampai suatu saat tren tersebut akan berakhir. Arahnya bisa

naik, turun, atau datar-datar saja. Dengan mengetahui tren pasar, maka Anda

akan bisa mengambil keputusan yang tepat.

3. History Of Repeat. Sejarah selalu berulang. Para technician (sebutan untuk

trader ber-”haluan” analisis teknikal) menemukan bahwa pergerakan harga

cenderung membentuk pola-pola tertentu. Pola-pola ini pun memiliki

kecenderungan berulang dari masa ke masa. Dengan demikian, berulangnya

pola-pola tersebut bisa dimanfaatkan untuk memperkirakan ke mana arah

pergerakan harga selanjutnya berdasarkan “sejarah” yang tercatat ketika pola-

pola yang sama muncul di masa lalu.

1) The Dow Theory

Pertama kali dikemukakan oleh Charles H. Dow (sehingga disebut dengan

The Dow Theory) pada tahun 1800-an. Teori ini bertujuan untuk

mengidentifikkasi trend harga pasar saham dalam jangka panjang dengan

berdasar pada data-data historis harga pasar saham di masa lalu. Teori ini pada

dasarnya menjelaskan bahwa pergerakan harga saham bisa dikelompokkan

menjadi tiga, yaitu : a. Primary trend, yaitu pergerakan harga saham dalam

jangka waktu yang lama (beberapa tahun) b. Secondary (intermediate) trend,

yaitu pergerakan harga saham yang terjadi selama pergerakan harga dalam

primary trend. c. Minor trend atau day-to-day move, merupakan fluktuasi


harga saham yang terjadi setiap hari. Untuk menggambarkan pola pergerakan

harga-harga saham dalam primary trend, dalam The Dow Theory dikenal

adanya dua istilah utama, yaitu (1) pasar dalam kondisi bergairah (bull

market) dan (2) pasar yang lesu (bear market). Bull market terjadi ketika

pergerakan harga-harga saham dalam primary trend cenderung untuk bergerak

naik, sedangkan bear market menunjukkan pergerakan harga-harga saham

dalam primary trend yang cederung turun.

2) Chart Pola Pergerakan Harga Saham

Teknik lain untuk menggambarkan pola pergerakan harga saham adalah

dengan menyusun grafik (chart) dari pergerakan saham secara individual

selama waktu tertentu. Dengan membuat gambaran pergerakan harga saham

secara visual dan memperhatikan kekuatan daya tarik menarik permintaan dan

penawaran, investor berharap bahwa mereka akan mampu memprediksi arah

pergerakan harga saham di kemudian hari.

a. Grafik Batang (Bar Chart). Grafik batang merupakan cara yang paling

sederhana dalam analisis teknikal yang menggambarkan pergerakan harga

saham. Grafik batang memudahkan analis untuk secara visual dapat

mengamati informasi dari suatu kisar perdagangan (trading range) pada

suatu periode tertentu yang dianalisis. Sumbu vertikal dalam grafik batang

menunjukkan harga saham, sedangkan sumbu horizontal menunjukkan

waktu. Pergerakan harga saham ditunjukkan oleh diagram batang vertikal

(bar vertical) dimana ujung atasnya menunjukkan catatan harga tertinggi


saham, sedangkan ujung bawahnya menunjukkan catatan harga terendah.

Garis horizontal (tick mark) pada sebelah kiri batang mencerminkan harga

buka dan garis horizontal sebelah kanan batang mencerminkan harga tutup

(closing or settlement price).

b. Point and Figure Chart. Chart seperti ini lebih kompleks dibandingkan

dengan bar chart biasa karena menggambarkan perubahan harga saham

yang berubah secara signifikan (volume perdagangan saham tidak

dimasukkan dalam chart jenis ini). Metode penggrafikan angka atau poin

dan gambar (point and figure chart) berbeda dengan metode lainnya,

dalam hal aksis horizontal tidak mengukur waktu melainkan jumlah

perdagangan dalam kisar harga tertentu. Grafik poin dan gambar terdiri

dari kotak-kotak yang mencerminkan himpunan pergerakan harga tertentu

dimana ada yang mencerminkan penurunan maupun peningkatan harga

saham tersebut.

3) Rata Rata Bergerak

Teknik rata-rata bergerak (moving average) adalah salah satu teknik yang

dipakai dalam analisis teknikal, untuk mendeteksi dan menganalisis

pergerakan harga saham baik saham individual maupun seluruh saham di

pasar modal. Tujuan penggunaan teknik ini adalah untuk mendeteksi arah

pergerakan harga saham dan besarnya tingkat pergerakan tersebut. Dalam

perhitungan rata-rata bergerak, data yang dipakai adalah data harga penutupan

saham (closing price) untuk waktu tertentu. Perhitungan rata-rata bergerak


tersebut dilakukan secara terus-menerus sehingga menghasilkan sebuah garis

trend rata-rata bergerak yang menunjukkan trend pergerakan harga saham.

Selanjutnya garis trend yang dihasilkan tersebut nantinya akan bisa dipakai

untuk memprediksi arah pergerakan harga saham di masa depan. Disamping

berguna untuk memprediksi arah pergerakan harga saham, garis trend yang

dihasilkan juga berguna dalam pengambilan keputusan menjual atau membeli

saham. Dalam pembuatan keputusan membeli atau menjual saham, investor

bisa membandingkan harga pasar saham saat ini dengan nilai rata-rata

bergerak harga saham. Kesimpulan sementara yang dapat ditarik dari metode

ini adalah bahwa investor dianjurkan untuk membeli saham, jika : a. Garis

rata-rata bergerak secara mendatar dan harga pasar saham akan melampaui

garis tersebut. b. Harga saham berada di bawah garis rata-rata bergerak yang

sedang menaik c. Harga saham saat ini berada di atas garis rata-rata bergerak

yang cenderung menurun, namun kembali menaik sebelum mencapai garis

tesebut. Sedangkan, investor disarankan untuk menjual saham, jika : a. Harga

saham saat ini berada di bawah garis rata-rata bergerak yang mendatar b.

Harga saham bergerak naik di atas garis rata-rata bergerak, namun garis rata-

rata bergerak tersebut justru sedang menurun c. Harga saham yang cenderung

mengalami kenaikan (berada di bawah garis rata-rata bergerak), tetapi

kembali menurun sebelum mencapai garis rata-rata bergerak tersebut.

4) Relatif Strength
Teknik lainnya dalam analisis teknikal yang digunakan untuk menganalisis

saham indiviual ataupun saham-saham dalam industri adalah teknik relative

strength. Relative strength menggambarkan rasio antara harga saham dengan

indeks pasar atau industri tertentu. Dalam penggunaan relative strength, jika

terjadi trend pergerakan harga saham yang meningkat, maka bagi investor,

pergerakan seperti ini merupakan sinyal akan terjadinya peningkatan rasio

harga saham dibanding indeks pasar. Hal ini merupakan indikasi bahwa saham

tersebut akan memberikan return yang melebihi return pasar, dan akan

menarik minat investor untuk menjadikan saham tersebut sebagai alternatif

investasi yang baik. Disamping itu, penggunaan relative strength juga bisa

digunakan sebagai dasar penentuan sektor-sektor industri mana saja yang

menarik dan menguntungkan, investor akan bisa menentukan seberapa besar

proporsi dana yang akan diinvestasikan pada saham-saham pada industri.

5) Tranding Rule

Dalam praktek, para analis teknikal biasanya membuat suatu aturan

perdagangan (trading rules) yang bisa dipakai sebagai patokan dalam

pengambilan keputusan membeli atau menjual saham. Trend penurunan harga

saham (declining trend) akan mencapai titik terendah (trough point) yang

kemudian dilanjutkan dengan terjadinya trend peningkatan (raising trend)

harga saham. Situasi pada saat pergerakan harga saham mencapai titik

terendah dan mulai meningkat, bagi para analis teknikal merupakan

indikator/sinyal untuk melakukan tindakan membeli saham. Berikutnya, trend


peningkatan harga saham tersebut akan mencapai puncaknya pada saat harga

saham mencapai titik puncak (peak point). Dalam situasi seperti ini, para

analis teknikal biasanya akan menahan saham yang dimilikinya untuk dijual

di kemudian hari. Trend berikutnya adalah trend pergerakan harga saham yang

mendatar (flat trend). Pada saat ini para analis teknikal bisa saja menjual

sahamnya, tetapi di satu sisi mereka mungkin berharap akan terjadi lagi trend

peningkatan, sehingga mereka lebih memilih untuk menahan sahmnya dan

tidak segera dijual. Tetapi, jika pada akhir trend mendatar, ternyata diikuti

trend penurunan harga saham, maka situasi ini bagi para analis teknikal akan

merupakan sinyal untuk menjual sahamnya, untuk menghindari kerugian yang

lebih besar akibat harga terus turun. Sinyal untuk membeli saham akan terjadi

lagi ketika trend penurunan sudah mencapai titik terendah dan diikuti oleh

trend peningkatan harga saham.


Model Siklus Pasar dan Indentifikasi Trend Dasar

Perbedaan trend terkait dengan perbedaan unit rentang waktu. Untuk tujuan

praktis, terdapat emapat bentuk trend, yaitu : 1 . Trend jangka pendek (short term

trend), yakni antara 3 hingga 6 minggu 2 . Trend jangka menengah (intermediate

term trend), yakni antara 6 minggu hingga 9 bulan 3 . Trend primer (primary trend),

yakni antara 9 bulan hingga 2 tahun 4 . Trend sekunder (secular trend), yakni antara 8

tahun hingga 12 tahun Pedoman tersebut bersifat kasar karena dalam praktiknya,

kerangka waktu tersebut dapat berbeda sesuai dengan kebutuhan perbandingan waktu
trend. Salah satu prinsip dasar (building block) analisis teknikal adalah bahwa harga

tidak bergerak secara langsung naik atau turun melainkan bergerak secara zigzag.

Terdapat beberapa puncak dan palung dimana setiap puncak lebih tinggi dari

pergerakan harga sebelumnya dan setiap siklus tandingannya menurun secara

progresif. Bila serangakaian puncak dan palung tersebut tidak lagi terdorong ke atas,

maka terdapat suatu sinyal bahwa trend mengalami pembalikan (reversal).

Dalam mengidentifikasi sinyal-sinyal dalam pergerakan harga saham, dikenal

adanya dua istilah penting untuk menggambarkan pergerakan harga saham, yaitu : 1.

Support adalah volume pembelian (buying), aktual atau potensial, yang cukup untuk

menghentikan trend menurun dari suatu harga dalam suatu periode yang cukup besar.

2. Resistance adalah volume penjualan (selling), aktual atau potensial, yang cukup

untuk memenuhi semua penawaran sehingga menghentikan harga yang lebih tinggi

dalam waktu tertentu.

Dengan kata lain istilah support level berarti tingkat harga atau kisaran harga,

pada saat para analis teknikal mengharapkan akan terjadinya peningkatan yang

signifikan atas permintaan saham di pasar. Support level menggambarkan batas

bawah kisaran harga (lower boundary) yang bisa membuat para pembeli saham

tertarik untuk segera melakukan pembelian saham, sehingga permintaan saham

meningkat, dan selanjutnya harga saham akan bergerak naik.

Sedangkan resistance level berarti kisaran harga, dimana para analis teknikal

berharap akan terjadi peningkatan yang signifikan atas jumlah saham yang

ditawarkan di pasar. Resistance level menggambarkan batas atas tingkat harga (upper
boundary) yang bisa membuat para penjual saham segera bertindak menjual

sahamnya. Situasi ini diharapkan bisa menjadi penahan (resistance) atas gerakan naik

harga saham, karena jika banyak pihak yang ingin menjual saham di pasar, maka

diharapkan harga akan bergerak turun dan tidak melewati batas atas harga.

Support level biasanya terjadi ketika banyak investor melakukan tindakan

‘ambil untung’, dengan melakukan penjualan saham-saham, karena tertarik dengan

harga jual yang cukup tinggi. Jika banyak investor melakukan tindakan ‘ambil

untung’ maka biasanya justru akan diikuti penurunan harga saham. Selanjutnya, jika

harga turun seperti ini maka akan banyak para pembeli saham yang tertarik untuk

melakukan pembelian saham sehingga permintaan saham kembali meningkat.

Sedangkan resistance level biasanya terjadi ketika harga saham turun terus setelah

mencapai harga tertinggi. Investor yang memiliki saham tentunya tidak akan mau

rugi akibat harga sahamnya terus turun. Mereka akan menunggu waktu yang tepat

untuk menjual sahamnya demi mengurangi kerugian, biasanya pada saat harga saham

mencapai titik balik (recovery point). Pada saat seperti ini, jika banyak penjual yang

menjual saham, maka penawaran saham akan meningkat dan biasanya justru akan

diikuti oleh penurunan harga saham. Untuk mencapai level batas terbawah (floor),

area support harus mencerminkan konsentrasi permintaan. Area support adalah

tempat dimana penjual menjadi kurang antusias untuk membagi asetnya, sedangkan

pembeli secara temporer lebih kuat motivasinya untuk membeli.


Daftar Pustaka

Husnan, Suad. (2010). Manajemen Keuangan : Teori dan Penerapan Buku 1. Edisi 4. BPFE.

Yogyakarta.

Darmadji, Tjiptono, dan Fakhruddin. (2012). Pasar Modal Di Indonesia. Edisi. Ketiga.

Jakarta : Salemba Empat.

Fahmi, Irham. (2015). Manajemen Investasi. Jakarta: Salemba Empat.

Kasmir. (2010). Pengantar Manajemen Keuangan. Jakarta: Kencana.

Jogiyanto. (2008). Metodologi Penelitian Sistem Informasi. Yogyakarta: CV Andi Offset.


Agus, Sartono. (2008). Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi Edisi Empat. Yogyakarta:

BPFE.

Brigham dan Houston. 2010. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Buku 1. (Edisi 11).

Jakarta : Salemba Empat.

Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi. Edisi pertama.

Yogyakarta : Kanisius