Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI

RANGKAIAN KONVERTER TEGANGANKE ARUS (FLOATING LOAD)

Oleh :
Khairinnisa Siregar 16507134042

TEKNIK ELEKTRONIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
A. KOMPETENSI
Menjelaskan karakteristik converter tegangan ke arus
B. SUB KOMPETENSI
1. Menjelaskan operasi kerja konverter tegangan – arus
2. Menggambarkan kurva transfer tegangan – arus
3. Menjelaskan pengaruh perubahan tegangan referensi terhadap kurva transfer
4. Menjelaskan pengaruh pengubahan Rspan pada kurva transfer
C. TEORI DASAR
Rangkaian konverter tegangan ke arus jenis floating load (beban mengambang),
seperti pada gambar.2. mempunyai dua jenis tegangan input, yaitu Vref, tegangan
referensi dan tegangan input signal Vin. Arus beban yang mengalir adalah menurut
persamaan :
𝑽𝒊𝒏 +𝑽𝒓𝒆𝒇
Ibeban = 𝟐𝑹

Dimana : Vin = tegangan signal input


Vref = tegangan referensi
Atau bila diasumsikan kurva karakteristik converter tegangan ke arus seperti pada
gambar.1.

Gambar.1.Kurva karakteristik Vin vs Iload


Maka nilai resistansi R dapat diperoleh dengan persamaan :
𝑉𝑖𝑛 (𝐵)−𝑉𝑖𝑛(𝐴)
R=
2[𝐼𝐿(𝐵)−𝐼𝐿(𝐴)

Dimana Vin(A) = tegangan signal input pada titik A


Vin(B) = tegangan signal input pada titik B
IL(A) = arus beban pada titik A
IL(B) = arus beban pada titik B
D. ALAT DAN BAHAN
1. Catu daya DC
2. IC LM -741
3. Bread-board
4. Resistor : 1 MΩ (2 buah), 10 kΩ pot, 1 KΩ pot.
5. Multimeter
6. Milliampermeter DC
E. KESELAMATAN KERJA
1) Multimeter dalam pengukuran, posisi saklar fungsi harus sesuai dengan besaran
yang diukur, tegangan DC atau tegangan AC, arus DC, tahanan dan fungsi
lainnya.
2) Pemilihan nilai batas ukur tegangan dan arus jangan melebihi nilai yang diukur.
3) Perhatikan polaritas colok alat ukur, jangan terbalik.
4) Pahami betul titik - titik sambung pada breadboard.
5) Pahami betul nomor-nomor kaki pada Integrated Circuit (IC) yang digunakan.
F. LANGKAH KERJA
Percobaan I : Mencarai kurva transfer tegangan input – arus beban
1. Siapkan rangkaian percobaan seperti pada gambar 2 berikut :

Gambar.2.
2. Berikan catu daya +15V pada kaki (7),dan -15V pada kaki (4) IC 741
3. Atur tegangan wiper potensiometer 10 KΩ pada posisi sedemikian rupa sehingga
tegangannya = NOL Volt.
4. Atur tegangan Vin = 0 Volt, amati arus beban pada output. Selanjutnya atur
tahanan Rspan (1KΩ) sehingga arus beban = 5 mA. Atur Vin = 10 Volt, amati
arus beban.
5. Atur potensiometer 10KΩ, sehingga arus beban mencapai 20 mA. Ukur kembali
tegangan referensi (wiper potensiometer 10KΩ).
6. Turunkan tegangan Vin berangsur-angsurdari 10 Volt sampai 0 Volt, dengan
penurunan setiap 1 Volt, amati apa yang terjadi pada arus beban. Isikan hasil
amatan pada tabel.1.
Percobaan II:
Pengaruh tegangan referensi terhadap kurva transfer tegangan- arus
1. Dengan gambar rangkaian seperti di atas lakukan pengaturan tegangan referensi sebagai
berikut : +5V, +2V, +1V, 0V, -1V, -2V, -5V.(Diukur antara wiper potensiometer 10KΩ
terhadap GND).
2. Atur Vin dari 0 V dengan kenaikan setiap 1 V sampai mencapai 10Volt. Amati arus
beban. Isikan hasil amatan pada Tabel.2.
Percobaan III :
Pengaruh variasi Rspan terhadap kurva transfer tegangan – arus.
1. Ulangi percobaan II untuk Rspan dengan nilai 220Ω, 330Ω, 470Ω dan 560Ω.
2. Isikan hasilnya pada Tabel.3.
G. DATA
Tabel.1. Hubungan tegangan input vs arus beban
Vin 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Iload 5,5 7,5 9,5 11 13 14,5 16,5 18 20 20 20

Tabel.2. Pengaruh tegangan referensi terhadap kurva transfer tegangan – arus.


Vin Pembacaan nilai IL (mA) pada tegangan referensi =….V
(Volt) +2V +1V 0V -1V -2V
0 3,5 mA 1,5 mA 0 -2 mA -4 mA
1 5 mA 3,5 mA 3 mA 0 mA -2,5 mA
2 7 mA 5,5 mA 4 mA 2 mA -0,5 mA
3 8,5 mA 7 mA 5,5 mA 3,5 mA 2 mA
4 10,5 mA 9 mA 7 mA 5,5 mA 3,5 mA
5 12,5 mA 10,5 mA 9 mA 7,5 mA 5 mA
6 14 mA 12,5 mA 10,5 mA 9 mA 7 mA
7 16 mA 14,5 mA 12,5 mA 10,5 mA 9 mA
8 18 mA 16 mA 14 mA 12,5 mA 10,5 mA
9 20 mA 18 mA 16 mA 14,5 mA 12 mA
10 20,5 mA 19,5 mA 18 mA 16 mA 14 mA
Tabel 3. Hubungan Tegangan Input vs Arus beban pada variasi Rspan

Vin Pembacaan nilai IL (mA) pada Rspan


(Volt) =….
220Ω 330Ω 470Ω 560Ω
0 -5 -3 -2 -2,5
1 -2,5 -1,5 -1 -1,5
2 -0,5 0 0 0
3 2 1 1 0,5
4 4,5 2,5 2 2
5 6 4 2,5 2,5
6 8,5 5 3,5 4
7 11 6,5 4,5 4,5
8 13,5 7,5 6 5,5
9 15,5 9 6,5 6,5
10 18 10,5 7,5 8

H. ANALISA
Dari praktikum yang dilakukan dapat dianalisis pada percobaan pertama sebalum
melakukan pengukuran pada tabel 1 terlebih dahulu mengukur arus beban saat vin
sama dengan nol maka arus beban sebesar -1,6 mA kemudian mengukur Vreff pada
saat Vin sama dengan 10V dan arus beban 20 mA maka Vreff sebesar 3V,nilai dari
arus beban bisa dihitung secara teori dengan rumus :
𝑽𝒊𝒏 +𝑽𝒓𝒆𝒇
Ibeban = 𝟐𝑹
pada tebel 1 nilai dari semakin besar Vin maka arus beban semakin besar juga
kemudian secara teori arus beban bisa dicari menggunakan rumus diatas maka kita
dapat membandingkan antara arus beban pengukuran dengan arus beban yang
dihitung secara teori.
Misalnya pada saat Vin 10V ,Vreff 3V dan R = 1kΩ maka
𝑽𝒊𝒏 +𝑽𝒓𝒆𝒇
Ibeban = 𝟐𝑹
𝟏𝟎 +𝟑
= 𝟐×𝟏𝟎𝟎𝟎
= 0,0065 A
= 6,5 mA
Maka dapat dibandingkan hasil Ibeban pengukuran lebih besar dibandingkan arus
beban yang dihitung secara teori.
Pada tabel 2 nilai tegangan referensinya dibuat nol kemudian diukur nilai arus
bebannya dari pengukuran dapat disimpulkan semakin besar nilai Vin maka niali arus
beban semakin besar juga.
Perhitungan secara teori pada tabel 2 saat Vin 1V, Vreff 0V dan R =1kΩ maka
𝑽𝒊𝒏 +𝑽𝒓𝒆𝒇
Ibeban = 𝟐𝑹
𝟏 +𝟎
= 𝟐×𝟏𝟎𝟎𝟎 = 0,0005 mA
Dari perhitungan diatas dapat dibandingkan nilai dari arus beban pengukuran lebih
besar dibandingkan arus yang dihitung secara teori.
Pada tabel 3 tegangan referensi dikembalikan seperti pada tabel 1 yaitu sebesar 3V
dan arus bebannya di variasi dengan Rspan maka dapat dianalisis semakin besar
tegangan inputnya maka arus beban yang dihasilkan semakin besar juga.
I. JAWABAN PERTANYAAN
1) Adapun Kurva hubungan antara tegangan Vin dan arus beban seperti dibawah
ini.
25

20

15

10

0
0 1 2 4 5 6 7 8 9 10

arus beban

2) Iya bentuk kurvnya linear


3) Adapun Kurva hubungan antara tegangan Vin dan arus beban dengan
pengaruh tegangan referensi seperti dibawah ini
20

15

10

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
-5

-10

Ibeban denganVreff -2 Ibeaban dengan Vreff 1

4) Adapun Kurva hubungan antara tegangan Vin dan arus beban dengan
pengeruh niali Rspan seperti dibawah ini
20

15

10

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
-5

-10

Ibeban dengan Rspan 220 ohm Ibeban dengan Rspan 330 ohm

J. KESIMPULAN
1) Konverter tegangan ke arus merupakankan rangkaian yang digunakan untunk
mentransformasikan suatu sumber tegangan menjadi sumber arus
2) Rangkaian konverter arus ke tegangan yang paling sederhana adalah
rangkaian converter arus ke tegangan dimana beban rangkaian berada dalam
kondisi mengambang (floating load).
3) Pada rangkaian konverter tegangan ke arus bekerja secara linear walaupun
diberi variasi tegangan referensi dan Rspan.

K. LAMPIRAN
LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI
LINEAR VARIABLE DIFFERENTIAL TRANSFORMER (LVDT)

Oleh :
Khairinnisa Siregar 16507134042

TEKNIK ELEKTRONIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
A. KOMPETENSI
Mampu menjelaskan karakteristik sensor LVDT
B. SUB KOMPETENSI
1) Menggambarkan kurva karakteristik Posisi input vs tegangan output
2) Menjelaskan frekuensi kerja sinyal AC yang digunakan
C. DASAR TEORI
Linear Variable Differential Transformer (LVDT), merupakan transduser posisi jenis
linier (garis lurus). Ada jenis lain yaitu untuk poaiai rotasional, disebut RVDT
(Rotational Variable Differential Transformer). Konstruksi
LVDT seperti terlihat pada gambar.1. pada gambar Nampak bahwa konstruksi LVDT
tersusun dari sebuah kumparan primer, dua buah kumparan sekunder, inti ferrite yang
dapat bergeser secara linier. Poros inti ini bergeser sehingga dicapai posisi relative
antara kumparan primer terhadap kumparan sekunder (1) dan sekunder (2). Jika
kumparan primer tersambung pada sumber AC (order kilo Hertz) dan inti lebih dekat
ke kumparan sekunder(1), maka tegangan induksi yang terjadi pada kumparan
sekunder(1) akan lebih besar dari pada kumparan sekunder(2).

Gambar.1. Konstruksi transduser LVDT


Bila percobaan dilakukan mengambil rangkaian gambar.2.(a), maka karakteristik
hubungan antara posisi inti terhadap tegangan output pada kumparan sekunder ( Vo =
Vs1 – Vs2), terlihat seperti gambar berikut :
Gambar.2. Posisi inti dan karakteristik tegangan Voutput.
D. ALAT DAN BAHAN
1) Catu daya DC
2) Sensor LVDT
3) Modul TK294C atau AFG
4) Modul Demodulator
5) Voltmeter DC
6) Oscilloscope
7) Base Plate TK 289
E. KESELAMATAN KERJA
1) Multimeter dalam pengukuran, posisi saklar fungsi harus sesuai dengan besaran
yang diukur, tegangan DC atau tegangan AC, arus DC, tahanan dan fungsi
lainnya.
2) Pemilihan nilai batas ukur tegangan dan arus jangan melebihi nilai yang diukur.
3) Perhatikan polaritas colok alat ukur, jangan terbalik.
4) Pahami betul titik - titik sambung pada breadboard.
5) Pahami betul nomor-nomor kaki sensor LVDT yang digunakan.
F. LANGKAH KERJA
1) Siapkan rangkaian percobaan seperti rangkaian berikut :

Gambar.3. Rangkaian percobaan LVDT

2) Atur frekuensi AFG pada 500 kHz dengan bentuk sinus.. Atur CRO supaya
tegangan output nampak dengan baik, tanpa cacat.
3) Aturlah posisi inti ke kiri atau ke kanan, amati apa yang terjadi pada layar CRO.
4) Buatlah grafik yang menunjukkan hubungan antara tegangan output terhadap posisi
inti ( dalam mm )
G. ANALISA DATA
Dari praktikum yang dilakukan dapat dianalisis sensor LVDT ini terdiri dari lilitan
primer dan sekunder. Dari praktikum yang dilakukan kita dapat menentukan yang
mana lilitan sekunder dan yang mana lilitan primer yaitu dengan mengukur tahanannya
yang mana jika tahananya yang sama maka itu adalah lilitan sekunder dan sebaliknya
jika nilai tahananya berbeda maka itu adalah lilitan primer kemudian dari data yang
didapatkan nilai dari tegangan keluaran (Vo) belum sesuai dengan prinsip kerja dari
sensor LVDT,Adapun prinsip kerja dari LVDT ini adalah pada saat perubahan posisi
inti magnet pada kumparan LVDT mengakibatkan perubahan induksi magnetik
pada kumparan sekunder 1 dan 2. Dengan perubahan induksi magnetik pada
kumparan sekunder 1 dan 2 tersebut maka output kumparan 1 dan 2 akan
menghasilkan tegangan induksi magnetik yang besarnya sebanding perseseran inti
magnet LVDT akibat perubahan tekanan pada kantung tetapi dari data praktikum
yang didapatkan belum sesuai yaitu nilai dari tegangan keluaran (Vo) lebih kecil
dari nilai posisinya.
H. JAWABAN DISKUSI
1) bentuk kurva hubungan antara tegangan output dengan displacement inti.
6

0
6.5 7 7.5 8 8.5 9 9.5 10 10.5 11 11.5

Vo

2) Adapun aplikasi LVDT dalam sistem instrumentasi adalah Variasi ketebalan pada
work pieces : ketebalan dan profil yang terukur, pemilihan ukuran dari produk.
3) Adapun Pendapat saya dari praktikum ini adalah bahwa pada saat praktikum hasil
data yang didapatkan belum sesuai dengan cara kerja dari sensor LVDT ini yang
mana cara kerja dari sensor LVDT ini adalah Semakin dalam inti magnet
dimasukkan ke dalam kumparan maka nilai keluaran yang di hasilkan akan
semakin besar akan tetapi saat praktikum hasil tegangan keluaran dari LVDT ini
hasilnya masih naik turun.
I. KESIMPULAN
1) Sensor Linear Variable Differential Transformers (LVDT) adalah suatu sensor
yang bekerja berdasarkan prinsip trafo diferensial dengan gandengan variabel
antara gandengan variabel antara kumparan primer dan kumparan sekunder.
2) Adapun kurva dari posisi input dan tegangan output dari sensor LVDT ini seperti
gambar kurva di atas
3) Adapun cara kerja sinyal AC dalam sensor LVDT adalah sensor LVDT
menggunakan arus bolak-balik dari amplitude dengan eksitasi primer (frekuensi
yang tepat). Sedangkan untuk sinyal output LVDT ini berasal dari diferensial
tegangan AC yang bisa diubah menggunakan suatu sirkuit elektronik untuk
menyeimbangkan tegangan DC.
J. LAMPIRAN DATA