Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI III

FARMAKOTERAPI PASIEN ULKUS DM DAN HIPERTENSI

Disusun oleh :

DWI PUSPA RANI (I1C015010)


DWI WAHYUNI (I1C015050)
CINDI SAPUTRI (I1C015058)
DIENE AISYAH P (I1C015070)
FAJRI R WIDYARTIKA (I1C015094)
DAINA YULIANDA (I1C015108)

Dosen Pembimbing Praktikum : Ika Mustikaningtias, M.Sc., Apt


Asisten Praktikum : Dina Prarika
Tanggal Diskusi Kelompok : 14 Maret 2018
Tanggal Presentasi Diskusi Dosen : 21 Maret 2018

LABORATORIUM FARMAKOLOGI DAN FARMASI KLINIK


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2018
FARMAKOTERAPI PASIEN ULKUS DM DAN HIPERTENSI

I. KASUS

Nama pasien : Umur : BB :


Ny. S 50 tahun 80 kg
Rg Rawat : Tgl MRS : TB :
Dahlia 15/9/17 150 cm
RPD : Diagnosis : Riwayat MRS :
DM (+) 15/9/17 Pasien kontrol ke poli. Penyakit dalam dengan
keluhan kaki kanan bengkak dan terdapat luka
yang terasa nyeri

Hasil Pemantauan Harian Pasien

Parameter penyakit 26/8 27/8


TD (mmHg) 130/80 140/80
Nadi (x/menit) 80 80
Suhu (oC) 36 37
Nafas (x/menit) 18,5 18
Luka menganga
++ ++
(5x5x5 cm)
Nyeri pada luka ++ +
Mual - muntah + +

Pemeriksaan Laboratorium

Parameter Nilai Normal


GDS 70-200 mg/dL 294
Albumin 3,5-5,0 g/dL 2,58
Globulin 2,3-3,2 (gr %) 5,18
Hb 13.5 – 17.5 (13 – 10,1
16) (g/dl)
Kreatinin 0.5 – 1.5 (mg/dl) 0,46

Daftar Terapi Farmakologis

Terapi Aturan
pakai
Ceftazidim 3x1 gr H1 H2
Metronidazole 3x500 mg H1 H2
Novorapid 3x6 UI √ √
PCT tab 3x500 mg √ √
NaCl 0,9 % 30 tpm √ √
2. DASAR TEORI

a. Patofisiologi

1. Diabetic foot / ulkus diabetic mellitus

Penyakit Diabetes Melitus (DM) merupakan gangguan metabolisme


karbohidrat, lemak dan protein yang berhubungan dengan defisiensi relatif atau
absolut sekresi insulin yang ditandai dengan hiperglikemia kronis yang disebabkan
oleh faktor lingkungan dan keturunan. Penyakit DM ini merupakan salah satu
ancaman utama bagi umat manusia pada abad 21 ini. Badan WHO memperkirakan,
pada tahun 2000 jumlah pengidap penyakit DM yang berusia di atas 20 tahun
berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian pada tahun
2025, jumlah itu akan meningkat menjadi 300 juta orang. Penyakit DM dibagi ats 2
tipe, yakni tipe dapat menyebabkan perubahan patofisiologi pada berbagai sistem
organ seperti mata, ginjal, ekstremitas bawah.² Salah satu akibat komplikasi kronik
atau jangka panjang penyakit DM adalah ulkus diabetikum. Ulkus diabetikum
disebabkan adanya tiga faktor yang sering disebut trias, yaitu: iskemik, neuropati dan
infeksi (Roza et al, 2015).
Ulkus diabetikum adalah keadaan ditemukannya infeksi, tukak dan
atau destruksi ke jaringan kulit yang paling dalam di kaki pada pasien Diabetes
Mellitus (DM) akibat abnormalitas saraf dan gangguan pembuluh darah arteri perifer.
Ulkus diabetikum dapat dicegah dengan melakukan intervensi sederhana sehingga
kejadian angka amputasi dapat diturunkan hingga 80%. Faktor risiko terjadi ulkus
diabetikum pada penderita penyakit DM adalah:
a. Jenis kelamin
Laki-laki menjadi faktor predominan berhubungan dengan terjadinya ulkus.
Menurut Prastica dkk pasien ulkus diabetikum yang diteliti di RSUD Dr. Saiful
Anwar Malang adalah laki-laki (56,3%).
b. Lama Penyakit Diabetes Melitus (DM)
Lamanya durasi DM menyebabkan keadaan hiperglikemia yang lama.
Keadaan hiperglikemia yang terus menerus menginisiasi terjadinya hiperglisolia
yaitu keadaan sel yang kebanjiran glukosa. Hiperglosia kronik akan mengubah
homeostasis biokimiawi sel tersebut yang kemudian berpotensi untuk terjadinya
perubahan dasar terbentuknya komplikasi kronik DM. Seratus pasien penyakit DM
dengan ulkus diabetikum, ditemukan 58% adalah pasien penyakit DM yang telah
menderita penyakit DM lebih dari 10 tahun. Hasil analisis regression kepada semua
pasien rawat jalan di klinik penyakit dalam Veteran Affairs, Washington
menyimpulkan bahwa rerata lama pasien penyakit DM ulkus diabetikum sebanyak
162 orang adalah 11.40 tahun dengan RR 1.18 (95% CI).
c. Neuropati
Neuropati menyebabkan gangguan saraf motorik, sensorik dan otonom.
Gangguan motorik menyebabkan atrofi otot, deformitas kaki, perubahan
biomekanika kaki dan distribusi tekanan kaki terganggu sehingga menyebabkan
kejadian ulkus meningkat. Gangguan sensorik disadari saat pasien mengeluhkan kaki
kehilangan sensasi atau merasa kebas. Rasa kebas menyebabkan trauma yang terjadi
pada pasien penyakit DM sering kali tidak diketahui. Gangguan otonom
menyebabkan bagian kaki mengalami penurunan ekskresi keringat sehingga kulit
kaki menjadi kering dan mudah terbentuk fissura. Saat terjadi mikrotrauma keadaan
kaki yang mudah retak meningkatkan risiko terjadinya ulkus diabetikum. Menurut
Boulton AJ pasien penyakit DM dengan neuropati meningkatkan risiko terjadinya
ulkus diabetikum tujuh kali dibanding dengan pasien penyakit DM tidak neuropati.
d. Peripheral Artery Disease
Penyakit arteri perifer adalah penyakit penyumbatan arteri di ektremitas
bawah yang disebakan oleh atherosklerosis. Gejala klinis yang sering ditemui pada
pasien PAD adalah klaudikasio intermitten yang disebabkan oleh iskemia otot dan
iskemia yang menimbulkan nyeri saat istirahat. Iskemia berat akan mencapai klimaks
sebagai ulserasi dan gangren. Pemeriksaan sederhana yang dapat dilakukan untuk
deteksi PAD adalah dengan menilai Ankle Brachial Indeks (ABI) yaitu pemeriksaan
sistolik brachial tangan kiri dan kanan kemudian nilai sistolik yang paling tinggi
dibandingkan dengan nilai sistolik yang paling tinggi di tungkai. Nilai normalnya
dalah O,9 - 1,3. Nilai dibawah 0,9 itu diindikasikan bawah pasien penderita DM
memiliki penyakit arteri perifer.
e. Perawatan kaki
Edukasi perawatan kaki harus diberikan secara rinci pada semua orang dengan
ulkus maupun neuropati perifer atau peripheral Artery disease (PAD).
Menurut penelitian Purwanti OK perawatan kaki terdiri dari perawatan perawatan
kaki setiap hari, perawatan kaki reguler, mencegah injuri pada kaki, dan
meningkatkan sirkulasi.

(Roza et al, 2015)

(Levantalo et al, 2011)


(Kartika, 2017)

Klasifikasi Ulkus DM

(Bader,2008)
Pasien mengalami ulkus diabetic kelas sedang karena infeksi pada pasien yang stabil
secara sistemik dan metabolisme, namun setidaknya memilki satu karakteristik berikut: luka
menganga lebih dari 2 cm di sekitar ulkus; goresan limfangitik; menyebar di bawah fasia
superfisial; abses jaringan dalam; ganggren; Keterlibatan otot, tendon, sendi, atau tulang
(Bader, 2008).

b. Guideline Terapi

Ulkus diabetik
Hipertensi

3. PENATALAKSANAAN KASUS DAN PEMBAHASAN

a. subjektif

Nama pasien : Umur : BB :


Ny. S 50 tahun 80 kg
Rg Rawat : Tgl MRS : TB :
Dahlia 15/9/17 150 cm
RPD : Diagnosis : Riwayat MRS :
DM (+) 15/9/17 Pasien kontrol ke poli. Penyakit dalam dengan
keluhan kaki kanan bengkak dan terdapat luka
yang terasa nyeri
b. objektif

Hasil Pemantauan Harian Pasien

Parameter penyakit 26/8 27/8 Keterangan


TD (mmHg) 130/80 140/80 Hipertensi
Nadi (x/menit) 80 80 Normal
Suhu (oC) 36 37 Normal
Nafas (x/menit) 18,5 18 Normal
Luka menganga Moderate
++ ++
(5x5x5 cm)
Nyeri pada luka ++ +
Mual - muntah + +

Pemeriksaan Laboratorium

Parameter Nilai Normal


GDS 70-200 mg/dL 294
Albumin 3,5-5,0 g/dL 2,58
Globulin 5,18
Hb 10,1
Kreatinin 0,46

 Tekanan darah
Tekanan darah pasien naik melebihi batas tekanan darah normal. Pada hari
pertama pasien mengalami hipertensi
 Luka menganga
Pasien memiliki luka menganga (5 x 5 x 5) dan termasuk kelas sedang karena infeksi
karena memiliki luka menganga lebih dari 2 cm di sekitar ulkus; goresan limfangitik;
menyebar di bawah fasia superfisial; abses jaringan dalam; ganggren; Keterlibatan otot,
tendon, sendi, atau tulang (Bader, 2008).

 Mual muntah
Pasien mengalami mual muntah sejak hari pertama masuk rumah sakit.
Mual muntah yang dialami pasien disebabkan oleh peningkatan gula darah
karena keterlambatan dalam pencernaan glukosa darah yang sulit dikendalikan (

c. Asessment

Diagnosa pasien : Ulkus DM + Hipertensi

Problem medic yang perlu diterapi : Ulkus DM, Hipertensi , Mual muntah
Algoritma Diagnosa Ulkus DM

Terapi pasien

Terapi yang telah diterima pasien

Nama obat Aturan pakai 15/9 16/9


Ceftazidime 3 x 1 gr H1 H1
Metronidazole 3 x 500 gr H2 H2
Novorapid 3 x 6 UI √ √
Paracetamol tab 3 x 500 mg √ √
NaCl 0,9% 30 tpm √ √
DRP

Tanggal Subjektif Objektif Problem Assessment Plan


Medik
15/9 Hipertensi TD = 130/80 Hipertensi DRP: Indikasi Memberikan terapi
tanpa terapi antihipertensi pada
Pasien didiagnosa pasien diabetes
hipertensi tetapi mellitus. Terapi yang
belum dapat diberikan yaitu
16/9 TD= 140/80 mendapatkan telmisartan 80 mg.
terapi. Paisen (Ong, 2009)
terindikasi
hipertensi karena
tekanan darah >130
mmHg/>80 mmHg.
(Perkeni, 2011)
15/9 Mual- GDS Naik= 294 Mual- DRP: Indikasi Memberikan terapi
16/9 muntah mg/dl muntah tanpa terapi untuk mual muntah
Pasien dengan yaitu golongan
mual muntah prokinetik dopamine
belum D2. Reseptor antagonis
mendapatkan yaitu metoclopramide
terapi. Mual 10 mg 3xsehari 15
muntah dapat menit sebelum makan.
diberikan (Camilien, 2015)
prokinetik dan
antiemetik.
(Aljarallah, 2011)
Kaki Luka menganga Ulkus DRP: Terapi tidak Penggantian
kanan (5x5x5 cm) Diabetes efektif ceftazidim dengan
bengkak GDS Naik = 294 Mellitus Pasien telah kombinasi ceftriaxone
dan luka mg/dl mendapatkan terapi 2 gram/hari dengan
yang obat ceftazidim clindamycin 900
terasa namun kurang mg/hari. (Bader,
nyeri efektif karena 2008)
memiliki ESO
nefropathy yang
merupakan
komplikasi
diabetes mellitus.
(MIMS, 2012)
GDS Naik = 294 Ulkus DRP: Terapi tidak Memberi tambahan
mg/dl Diabetes efektif terapi basal yaitu
HbA1C= 11,8% Mellitus Pasien telah insulin degludec yang
mendapatkan terapi merupakan long
prandial insulin acting.
yaitu novorapid
(rapid acting),
namun berdasarkan
guideline pasien
dengan HbA1C
>10% diberi terapi
insulin itensif
berupa basal
insulin dan prandial
insulin. (Perkeni,
2011)

PLAN

a. Tujuan terapi

 Mencegah keparahan ulkus diabetic


 Mengatasi hipertensi
 Mengatasi mual muntah
b. Terapi non farmakologi

Terapi non farmakologi untuk ulkus diabetic dapat dilakukan :

1. Kendali infeksi (infection control): jika terlihat tanda-tanda klinis infeksi harus
diberikan pengobatan infeksi secara agresif (adanya kolonisasi pertumbuhan
organisme pada hasil usap namun tidak terdapat tanda klinis, bukan merupakan
infeksi).
2. Kendali luka (wound control): pembuangan jaringan terinfeksi dan nekrosis secara
teratur. Perawatan lokal pada luka, termasuk kontrol infeksi, dengan konsep TIME:
o Tissue debridement (membersihkan luka dari jaringan mati)
o Inflammation and Infection Control (kontrol inflamasi dan infeksi)
o Moisture Balance (menjaga kelembaban)
o Epithelial edge advancement (mendekatkan tepi epitel)
3. Kendali tekanan (pressure control): mengurangi tekanan pada kaki, karena tekanan
yang berulang dapat menyebabkan ulkus, sehingga harus dihindari. Mengurangi
tekanan merupakan hal sangat penting dilakukan pada ulkus neuropatik. Pembuangan
kalus dan memakai sepatu dengan ukuran yang sesuai diperlukan untuk mengurangi
tekanan.
(Perkeni ,2015)
KIE

 Untuk tenaga kesehatan lain:


- Pengecekan tekanan darah untuk memastikan keberhasilan bahwa
pemberian telmisartan itu berhasil
- Pengecekan GDS untuk memastikan bahwa nilai GDS kembali
normal
 KIE untuk pasien :
- Menjaga kebugaran pasien agar tidak lemas
- Cara minum obat dan frekuensinya
 KIE untuk keluarga:
- Cara meminum obat dan frekuensinya

Nama obat Jadwal Jumlah Manfaat Hal yang


minum perlu
obat diperhatikan
Telmisartan 80 mg/1 Tekanan darah Dikonsumsi
tablet kembali sesudah
normal makan
Metoclopramide 3xsehari 10 mg/1 Mengatasi Dikonsumsi
tablet mual muntah sebelum
makan
Ceftriaxone - 2 gram Mengobati Harus
infeksi luka dihabiskan,
pada kaki pemakaian
selama 2
minggu
Clindamycin - 900 mg Mengobati Harus
infeksi luka dihabiskan,
pada kaki pemakaian
selama 2
minggu
Insulin degludec - 10 iu Menormalkan Digunakan
perhari nilai HbA1C secara
kontinyu.

Monitoring
Yang perlu dimonitoring dari pengobatan adalah :
Obat Monitoring Target
Keberhasilan ESO keberhasilan
Telmisartan Tekanan darah Gangguan Tekanan darah
kembali normal gastrointestinal, kembali normal
130/80 mmHg. infeksi saluran 130/80 mmHg.
nafas atas, (Perkeni, 2011)
kecemasan,
vertigo, dan
gangguan
penglihatan.
(MIMS, 2012)
Metoclopramide Mual dan Angina, nyeri Mual dan
muntah dapat dada,palpitasi, muntah dapat
teratasi. ruam kulit, teratasi.
demam,
eosinophilia,
mual, muntah
(MIMS,2014).
Ceftriaxone Mencegah Pusing, sakit Luka pasien
keparahan luka kepala, dan diare. tidak semakin
pada pasien. (MIMS, 2012) parah. (Bader,
2008)
Clindamycin Mencegah Nyeri perut, iritasi Luka pasien
keparahan luka local leukopenia. tidak semakin
pada pasien. (MIMS, 2012) parah. (Bader,
2008)
Insulin degludec Nilai HbA1C Diare, sinusitis, Nilai HbA1C
kembali normal dan gangguan kembali normal
<7%. gastrointestinal. <7%. (Perkeni,
(MIMS, 2018) 2011)

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA