Anda di halaman 1dari 4

Alexander Santober

St Fauziyah Nurul Amri MH

CHAPTER 11
SAMPLING AND MATERIALITY

LO 1 : SAMPLING
Audit merupakan proses pencarian bukti yang mendasari pembentukan opini auditor. Dalam proses
pencarian bukti diharapkan auditor dapat melakukan pekerjaan yang sufficient appropriate dan dapat memberi
kesimpulan audit berdasarkan kebijaksanaan dengan biaya yang reasonanable Salah satu dari banyak prosedur
yang dilakukan oleh auditor untuk memperoleh bukti audit adalah audit sampling dimana auditor memilih sample dari
keseluruhan data (populasi) untuk diuji. Audit sampling merupakan metode yang digunakan auditor untuk
mengumpulkan bukti – bukti audit untuk dapat membuat opini atas laporan keuangan. Di dalam ISA 530 paragraf 4
menyatakan bahwa tujuan dari audit sample adalah untuk memberikan basis yang sesuai bagi auditor untuk
mendapatkan kesimpulan mengenai populasi dimana sample diambil. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa audit
sample termasuk penerapan prosedur audit dengan menggunakan kurang dari 100% item dari populasi yang
berhubungan dengan audit dimana semua unit sample memiliki kesempatan untuk dipilih sebagai sample audit.
Pada awalnya auditor harus menentukan pendekatan yang akan digunakan dan kapan waktu yang sesuai untuk
menggunakan audit sampling. Kriteria yang biasa digunakan untuk mencari bukti audit seperti sufficiency, relevance,
dan reliability juga dapat diterapkan pada audit sampling.

LO 2 : DESIGNING AND SELECTING THE SAMPLE FOR TESTING


Jika auditor dapat mendapatkan sample dari saldo atau transaksi yang dapat merepresentasikan keseluruhan
populasi saldo atau transaksi, maka auditor dapat membuat kesimpulan yang menggambarkan keseluruhan populasi
melalui pengujian tersebut. Keuntungan dari penggunaan sampling yaitu berkurangnya biaya audit. Namun jika
auditor mengabaikan level risiko atau sample tidak merepresentasikan populasi, auditor akan gagal mengumpulkan
bukti yang sufficient dan appropriate.
Audit sampling dapat dilakukan dengan basis non-statistical ataupun statistical. Jika auditor menggunakan statistical
sampling, mereka akan menggunakan teori probabilitas untuk menentukan sample size dan random selection untuk
memastikan bahwa setiap item dari populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sample audit.
Namun biasanya statistical method tidak digunakan untuk mengevaluasi ataupun untuk menentukan sample size.
Sedangkan pada non-statistical sampling biasanya lebih subjektif daripada statistical sampling dam menggunakan
metode haphazard selection atau terkadang menggunakan random selection.
Ada dua alasan mengapa dibutuhkan perencanaan yang cermat dalam proses sampling, yaitu :
1. Menggunakan sampling meningkatkan risiko bahwa auditor akan gagal untuk mendeteksi hal yang penting. Risiko
tersebut harus dievaluasi terlebih dahulu oleh auditor untuk memutuskan apakah hal tersebut sesuai dengan
keadaan dan audit perusahaan.
2. Karakteristik populasi harus dikenali dengan jelas sebelum mengambil sample.

Judgemental sampling
Judgment dilakukan tidak hanya pada non-statistical sampling namun juga pada statistical sampling. Namun
biasanya judgmental sampling digunakan sebagai sinonim dari non-statistical sampling karena dalam non-statistical
membutuhkan judgment pada segala aspeknya
Statistical sampling
Dalam statistical sampling juga masih diperlukan judgment meskipun tida sebanyak pada non-statistical sampling.
Disini, diperlukan pengetahuan mengenai homogenitas populasi. Ada beberapa contoh factor yang menyebabkan
kurangnya homogenitas, yaitu :
1. Transaksi yang tidak menggunakan kontrol internal yang sama selama periode berjalan tidak dapat
dianggap sebagai homogen;
2. Saldo pada populasi dapat memiliki nilai yang berbeda jauh.
Dikarenakan kurangnya homogenitas pada populasi, hal yang biasa dilakukan adalah membaginya kedalam
tingkatan – tingkatan dan menggunakan perlakuan yang berbeda pada tiap tingkatan sebagai populasi yang
berbeda.

LO 3 : SAMPLE SELECTION METHODOLOGY


Beberapa cara agar sample dapat dipilih agar mendekati persyaratan untuk pengambilan sampel statistik adalah
sebagai berikut:
1. Random Sampling
Metode ini mencoba untuk memastikan bahwa setiap item dalam populasi memiliki kesempatan seleksi yang
sama seperti item lainnya. Ini adalah metode statistical selection dan diperlukan untuk statistical sampling,
namun juga dapat digunakan dengan metode sampling non-statistical. Auditor mengalokasikan pengenal
individu ke setiap unit sampling dan kemudian menggunakan prosedur acak untuk menentukan unit sampling
mana yang akan dipilih untuk pengujian. Prosedur yang paling umum digunakan meliputi tabel generator
bilangan acak dan program pemilihan acak khusus komputer
2. Systematic or Interval Sampling
Metode yang mungkin menggunakan titik awal acak dan kemudian memilih setiap item ke-n. Memberikan
perlindungan di seluruh populasi dan dapat memiliki efek yang sama seperti pengambilan sampel secara acak
jika kesalahan tersebut disebarkan secara acak ke seluruh populasi. Jika tidak menyebar secara acak,
systematic sampling mungkin tidak menghasilkan sampel yang representatif.
3. Block or Cluster Sampling
Metode ini tidak berusaha untuk memilih sampel yang representatif, namun melibatkan pemilihan kelompok
transaksi dan pengujian untuk mengetahui beberapa kriteria. Auditor dapat menggunakan metode ini saat
menguji sistem. Misalnya, auditor mungkin telah diberitahu bahwa pengontrol kredit memberi inisial setiap
pesanan penjualan sebagai bukti bahwa pengecekan kelayakan kredit telah dilakukan. Pilihan 'blok' dari 100
pesanan penjualan bisa membuktikan atau membantah klaim ini. Metode pemilihan sampel semacam ini bisa
sangat berguna dan relatif efisien sehingga sampel dapat dipilih dengan cukup cepat namun ini bukan metode
non-statistical sampling Ini menunjukkan bahwa ini bukan metode seleksi yang tepat untuk digunakan saat
tujuan tes audit adalah untuk menarik kesimpulan yang valid tentang populasi dari sampel.
4. Haphazard Sampling
Dalam kasus ini sampel dipilih dengan metode seperti menggunakan blindfolds dan pin atau ulang tahun
pasangan. Masalahnya adalah bahwa hal itu tidak valid secara matematis karena sampelnya mungkin bias.
Oleh karena itu, mungkin tidak, memberikan sampel dari mana kesimpulan dapat ditarik tentang keseluruhan
populasi. Ini adalah metode non-statistik untuk memilih sampel.

The level of confidence auditors set for their statistical sampling tests
Pentingnya mengumpulkan bukti audit yang appropriate dan sufficient menggambarkan pentingnya pemilihan
sample size untuk pengujian yang lebih detail. Termasuk didalamnya level of confidence yang dicari auditor dan
expected dan acceptableerroratau tingkat deviasi. Level of confidence auditor ditentukan oleh penilaian risiko
inherent dan control. Penilaian risiko inherent akan mempengaruhi seberapa percaya auditor mengenai salah saji
yang ada pada suatu transaksi atau saldo sebelum menerapkan kontrol internal. Jika auditor telah memperoleh bukti
dari pengujian audit yang relevan lainnya yang telah dilakukan pada system test of control atau saldo yang mereka
uji, maka degree of confidence yang diperlukan dari sampling akan berkurang.

The expected error rate in the population


Expected error merupakan penentu yang penting dalam sample size. Ketika auditor menguji control internal suatu
perusahaan, mereka menggunakan istilah attribute sampling. Ada dua respon terhadap pengujian di attribute
sampling yaitu ya, control telah diterapkan dengan benar atau tidak, control belum diterapkan. Dalam attribute
sampling, auditor mencari tingkat ketidak beradaan prosedur control internal yang diterapkan. Semakin tinggi
expected error maka semakin besar sample size yang diperlukan.

The tolerable error rate set by the auditors


Selain itu, auditor juga harus menentukan tingkat tolerable error pada populasi yang merupakan tingkat maximum
error yang dapat diterima auditor dalam menentukan apakah evaluasi control risk awal mereka valid atau apakah
total catatan transaksi dan saldo dapat dianggap akurat dan lengkap. Semakin kecil tingkat tolerable error semakin
besar sample size. Sample size dapat dihitung dengan cara :

Reability factor
𝑆𝑎𝑚𝑝𝑙𝑒 𝑆𝑖𝑧𝑒 =
𝑇𝑜𝑙𝑒𝑟𝑎𝑏𝑙𝑒 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟 𝑟𝑎𝑡𝑒

LO 4 : EVALUATION OF TEST RESULTS


Tahap pertama dalam evaluasi adalah menentukan jumlah kesalahan pada sampel. Berikutnya adalah untuk
memperkirakan, berdasarkan hasil sampel dan tingkat kepercayaan yang diberikan, tingkat kesalahan atas (UER)
pada populasi, dengan menggunakan faktor keandalan dan ukuran sampel.
Auditor memutuskan tindakan yang tepat berdasarkan hasil sampel, seperti menempatkan lebih sedikit
ketergantungan pada kontrol dan memperluas cakupan prosedur substantif. Auditor juga harus memperhatikan sifat
error yang teridentifikasi. Meski masuk dalam kriteria error, beberapa error bisa saja lebih penting daripada yang lain.
Pengambilan sampel atribut dalam pengujian sistem pengendalian internal cukup penting, namun jumlah dari saldo
akun yang error jauh lebih penting.

LO 5 : MONETARY UNIT SAMPLING (MUS)


Monetary unit sampling (MUS) digunakan untuk memperkirakan jumlah saldo akun yang salah. Auditor
menentukan nilai kesalahan maksimum yang siap mereka terima dan menggunakan MUS untuk memperkirakan
kesalahan yang paling mungkin terjadi (MLE atau Most Likely Error) dan batas kesalahan atas (UEL, atau Upper
Error Limit) yang mungkin terjadi dalam hal moneter.
Ada dua ide dasar yang mendasari MUS:
(1) populasi dibagi menjadi £ 1 unit;
(2) Jika ditemukan kesalahan dalam transaksi atau saldo yang dilampirkan £ 1, transaksi atau saldo dianggap
"tercemar".
Auditor menentukan tingkat kepercayaan dan kesalahan yang dapat ditolerir, dan ini, bersama dengan perkiraan
kemungkinan kesalahan dapat digunakan untuk menentukan ukuran sampel yang sesuai.
Saat mengevaluasi hasil sampel, auditor menghitung MLE, ditambah dengan menghitung perkiraan UEL. Jika
UEL berada dibawah batas dari kesalahan yang dapat ditolerir, auditor dapat menerima populasi tersebut. Jika tidak,
auditor dapat menyesuaikan UEL untuk setiap kesalahan yang ditemukan untuk menentukan apakah hal tersebut
dapat mengurangi UEL di bawah batas kesalahan yang dapat ditolerir. Jika UEL tetap berada di atas kesalahan
yang dapat ditolerir, auditor melaksanakan prosedur perpanjangan atau alternatif.
Comparative advantage of statistical and non-statistical sampling
Keuntungan dari sampling statistik adalah bahwa hal itu mengharuskan auditor untuk membuat penilaian eksplisit
pada tingkat kepercayaan, tingkat kesalahan yang diharapkan dan tingkat kesalahan yang dapat ditolerir. Ukuran
sampel didasarkan pada prinsip statistik dan oleh karena itu dapat dibenarkan, dan risiko sampling dan evaluasi
hasilnya diukur dan lebih tepat.
Sampling statistik memiliki beberapa kelemahan: (a) memakan waktu dan mahal; (b) memerlukan dokumen atau
saldo rekening yang harus dilakukan dengan cara yang memungkinkan identifikasi terpisah; (c) lebih sulit dipahami
untuk non-statistika, walaupun paket sampling statistik komputer khusus tersedia.

LO 6 : ALTERNATIVE STATISTICAL SAMPLING METHODS


Metode sampling statistic lainnya yaitu: Discovery sampling, dimana saat kesalahan terdeteksi, auditor berhenti
melakukan sampling dan menyimpulkan pada tingkat kepercayaan tertentu bahwa populasi memiliki tingkat
kesalahan yang lebih tinggi daripada yang dapat diterima. Jenis sampling ini relatif efisien jika jumlah sampel
cenderung kecil. Sedangkan Variables sampling, dimana metode ini hanya sesuai saat auditor mengantisipasi
sejumlah besar kesalahan karena ukuran sampelnya besar untuk menghasilkan perkiraan populasi, yang membuat
metode sampling ini menjadi tidak efisien.