Anda di halaman 1dari 47

BAB V

ANALISA DAN PROGRAMING

5.1 Analisa Fungsi dan Programing


5.2.1 Analisa Fungsi
1. Fungsi primer
Fungsi dari perancangan Pusat Palang Merah Indonesia adalah
sebagai pelayanan sosial dan Kesehatan, penangulangan bencana serta
pemulihan pada korban – korban bencana pada saat terjadi bencana.
2. Fungsi sekunder
Menunjang kegiatan utama Palang Merah Indonesia serta
mendorong pelayanan.
5.2.2 Analisa Aktifitas

Aktivitas pengguna Palang Merah Indonesia ini terbagi atas beberapa


aktivitas, yaitu:

1. Pekerja/karyawan

Gambar 5.1 Diagram Aktivitas Pekerja


Sumber: Dokumen Pribadi,2018

2. Relawan
Gambar 5.2 Diagram Aktivitas Relawan
Sumber: Dokumen Pribadi,2018

3. Pusdiklat

Gambar 5.3 Diagram Aktivitas Pusdiklat


Sumber: Dokumen Pribadi,2018

5.2.3 Analisa Pelaku Dan Kebutuhan Fasilitas


Berdasarkan hasil analisis aktivitas diatas maka didapatkan kebutuhan ruang yang
diperlukan dalam pusat Palang Merah Indonesia provinsi Nusa Tenggara Timur
secara umum sebagai berikut :
1. Pekerja atau Staf
Tabel 5.1 Analisa Pelaku,Aktifitas Dan Kebutuhan Fasilitas
Kebutuhan
Pelaku Aktifitas
Jenis Ruang Fasilitas
Unit Ke area kantor Area kantor UTD Kantor UTD
Kerja Ruang Kepala
Unit Ruang Devisi
Transfus
i Darah Ruang Staf
Brifieng Ruang Rapat
Rekrutmen donor Ruang Administrasi

Seleksi donor darah Ruang Pemeriksaan

Pengambilan Darah Ruang Donor


Ruang Pemulihan
Pemisah Komponen Laboratorium
Darah
Uji saring Darah Lab. Penyaringan Darah
Karantina
Penyimpanan Darah Lab. Penyimpanan
Darah
Pemeriksaan Cocok Ruang Pemeriksaan
serasi
Serahkan Pada Petugas Ruang Administrasi
Rumah Sakit
Unit Ke area kantor Area Klinik/Rumah Bangunan
Kerja Sakit Klinik/Ruma
Klinik Ruang Kepala h Sakit
Ruang Devisi
Ruang Staf
Brifieng Ruang Rapat Pengurus
dan Staf
Melakukan Pendaftaran Ruang Registrasi atau
pasien admin
Pemeriksaan Pasien Ruang pemeriksaan
Ruang tunggu
Lobby
Pelayanan kepada Pasien Ruang Klinik
Ruang Obat
Laboratorium
Unit Ke area kantor /Markas Area kantor / Markas Bangunan
Kerja Ruang Kepala Markas
Kebutuhan
Pelaku Aktifitas
Jenis Ruang Fasilitas
Markas / Ruang Devisi
Kantor Ruang Staf
Brifieng Ruang Rapat

Unit Pos Ke area Pos Komando Area kantor Pos


Komand Komando
o Ruang Kepala
Ruang Staf
Brifieng Ruang Rapat
Menginformasikan dan Ruang Peralatan/ radio
melaporkan
Unit Ke area Pos Komando Area kantor Pos Komando Gudang
Gudang Ruang Kepala Logistik
Logistik Ruang Staf
Brifieng Ruang Rapat
Mengangkut barang Ruang Penyimpanan
masuk & keluar Barang

Memeriksa Ruang sortir


/penyortiran barang Ruang pemeriksaan
(masuk & keluar)
Menyimpan barang Gudang umum
Gudang khusus
Karyaw Datang Pintu masuk Gerbang
an
Ke loket masuk Pos Jaga Pos jaga
(pengel
ola) Parkir Area parkir Parkiran
Ke area kantor Office area Semua
Ruang kepala Fasilitas
Ruang staf

Rapat Ruang rapat


Menyimpan arsip Ruang arsip
Mengontrol Ruang kontrol
Mengamankan Ruang M&E
Mengawasi Ruang genset
Ruang CCTV
Ruang Security
Kebutuhan
Pelaku Aktifitas
Jenis Ruang Fasilitas

Sumber: Dokumen Pribadi,2018

2. Relawan
Tabel 5.2 Analisa Pelaku,Aktifitas Dan Kebutuhan Fasilitas
Kebutuhan
Pelaku Aktifitas Jenis Ruang Fasilitas
Relawan Datang Parkir Area Parkir
Palang Mengikuti pertemuan R. serbaguna Gedung
Merah Auditorium Relawan
Remaja Ruang rapat
Bermain Ruang Untuk Bermain
Membaca Perpustakaan Mini
Santai/Jalan- Taman
jalan/Ngobrol Lopo
Lomba/tampil R. Mini Theater
Panggung terbuka
Show Room
olahraga Lapangan olahraga
outdoor
Makan Cafe
Istirahat Ruang istrahat
BAB/BAk Toilet
Parkir Lahan Parkir
Unit Datang Parkir Parkiran
Korsp Brifieng Ruang Rapat Gedung
Sukarela( Mengikuti pertemuan R. serbaguna Relawan
KSR) Auditorium
Ruang rapat
Kebutuhan
Pelaku Aktifitas Jenis Ruang Fasilitas
Membaca Perpustakaan
Santai/Jalan- Taman
jalan/Ngobrol Lopo
Lomba/tampil R. Mini Theater
Panggung terbuka
Show Room
olahraga Lap. olahraga outdoor
Makan Cafe
Istirahat Ruang istrahat
BAB/BAk Toilet
Parkir Lahan Parkir
Unit Datang Parkir Parkiran
Tenaga Brifieng Ruang Rapat Gedung
Sukarela Mengikuti pertemuan R. serbaguna Relawan
(TSR) Auditorium
Ruang rapat
Membaca Perpustakaan
Mengikuti pertemuan R. serbaguna
Auditorium
Ruang rapat
Membaca Perpustakaan
Santai/Jalan- Taman
jalan/Ngobrol Lopo
Lomba/tampil R. Mini Theater
Panggung terbuka
Show Room
olahraga Lap. olahraga outdoor
Makan Cafe
Istirahat Ruang istrahat
BAB/BAk Toilet
Kebutuhan
Pelaku Aktifitas Jenis Ruang Fasilitas
Parkir Lahan Parkir
Sumber: Dokumen Pribadi,2018

3. Pusdiklat
Tabel 5.3 Analisa Pelaku,Aktifitas Dan Kebutuhan Fasilitas

Pelaku Aktifitas Kebutuhan


Jenis Ruang Fasilitas

Palang Datang Parkir Area Parkir


Merah
Penginapan Wisma/Hote Wisma/Hotel
Remaja
Mengikut Pelatihan R. serbaguna

Bermain Ruang Untuk Bermain


Membaca Perpustakaan Mini
Santai/Jalan- Taman
jalan/Ngobrol Lopo
Lomba/tampil R. Mini Theater
Panggung terbuka
Show Room
olahraga Lapangan olahraga
outdoor
Makan Cafe
Istirahat Ruang istrahat
BAB/BAk Toilet
Parkir Lahan Parkir
Unit Datang Parkir Parkiran
Korsp
Brifieng Ruang Rapat Wisma / Hotel
Sukarela(
Mengikuti pelatihan R. serbaguna
KSR)
Ruang rapat
Pelaku Aktifitas Kebutuhan
Jenis Ruang Fasilitas

Membaca Perpustakaan
Santai/Jalan- Taman
jalan/Ngobrol Lopo
Lomba/tampil R. Mini Theater
Panggung terbuka
Show Room
olahraga Lapangan olahraga
outdoor
Makan Cafe
Istirahat Ruang istrahat
BAB/BAk Toilet
Parkir Lahan Parkir
Unit Datang Parkir Parkiran
Tenaga
Brifieng Ruang Rapat Gedung
Sukarela
Mengikuti pelatihan R. serbaguna Relawan
(TSR)
Ruang rapat
Membaca Perpustakaan
Mengikuti pertemuan R. serbaguna
Auditorium
Ruang rapat
Membaca Perpustakaan
Santai/Jalan- Taman
jalan/Ngobrol Lopo
Lomba/tampil R. Mini Theater
Panggung terbuka
Show Room
olahraga Lapangan olahraga
outdoor
Makan Cafe
Pelaku Aktifitas Kebutuhan
Jenis Ruang Fasilitas

Istirahat R. istrahat

BAB/BAk Toilet
Parkir Lahan Parkir
Sumber: Dokumen Pribadi,2018

5.2.4 Skema Hubungan Ruang


Untuk menganalisa skema hubungan ruang dapat di bagi menjadi 2 kategori.
Yaitu ruang luar dan ruang dalam.
1. Ruang Luar
Ruang luar adalah ruang yang berada di luar Palang Merah Indonesi, berikut
skema hubungan antar ruang luar / skema hubungan antar fasilitas.

Gambar 5.4 Skema Hubungan Ruang Unit Markas


Sumber : Olahan Penulis

2. Ruang Dalam
Ruang dalam Palang Merah Indonesia dapat di bagi menjadi 7 bagian
berdasakan fasilitas yaitu :
a. Unit Markas
Gambar 5.5 Skema Hubungan Ruang Unit Markas
Sumber : Olahan Penulis
b. Unit UTD

Gambar 5.6 Skema Hubungan Ruang Unit UTD


Sumber : Olahan Penulis

c. Unit Klinik/Rumah sakit


Gambar 5.7. Skema Hubungan Ruang Unit Klinik
Sumber : Olahan Penulis.
d. Gudang Logistik

Gambar 5.8. Skema Hubungan Ruang Unit Gudang Logistik


Sumber : Olahan Penulis

e. Pos Komando
Gambar 5.9. Skema Hubungan Ruang Unit Gudang Logistik
Sumber : Olahan Penulis
f. Relawan

Gambar 5.10. Skema Hubungan Ruang Unit Gudang Logistik


Sumber : Olahan Penulis

g. Pusdiklat
Gambar 5.11. Skema Hubungan Ruang Unit Gudang Logistik
Sumber : Olahan Penulis

5.2.5 Program Ruang Dan Simpulan Fasilitas


1. Ruang Luar ( Publik )
b. Enternce
c. Akses jalan
d. Parkir
e. Taman/lopo
f. Pedestrian
g. Fasilitas penerangan
h. Panggung terbuka
i. Lapangan Outdoor
2. Ruang Dalam ( Bangunan )
a. Unit Transfusi Darah (UTD)
b. Klinik
c. Markas
d. Gudang Logistik
e. Pos Komando ( Posko)
f. Pusdiklat
g. Gedung Relawan

5.2.6 Analisa Luasan Ruang


1. Luasan Ruang Dalam Bangunan Pusat Palang Merah Indonesia

a. Analisa Ruang Unit Transfusi Darah ( UTD)


Tabel 5.4 Analisa Luasan Ruanga Unit Kerja Transfusi Darah

Peruntukan Standar Luas


Fasilitas/ ruang Sumber
(m²)

Unit Kerja Unit Ruang Kepala Standar ruang = 10 Per Men Kes10
Transfusi Asumsi 1 Direktur RI Nomor 83
Darah 10 x 1 = 10 Tahun 2014
( UTD) Ruang Staf Standar ruang = 30 Per Men Kes 600
Asumsi 20 staf RI Nomor 83
30 x 20 = 600 Tahun 2014
Ruang Rapat Standar ruang = 50 Per Men Kes 1050
Asumsi 20 staf dan RI Nomor 83
1 Direktur Tahun 2014
50 x 21 = 1050
R. Tunggu Standar ruang = 20 Per Men Kes 600
Permintaan Darah Asumsi 30 orang RI Nomor 83
20 x 30 = 600 Tahun 2014
R. Administrasi Standar ruang = 30 Per Men Kes 900
Asumsi 30 orang RI Nomor 83
30 x 30 = 900 Tahun 2014
R. Pemeriksaan Standar ruang = 24 Per Men Kes 720
Asumsi 30 orang RI Nomor 83
24 x 30 = 720 Tahun 2014
R. Konseling Standar ruang = 6 Per Men Kes 180
Asumsi 30 orang RI Nomor 83
6 x 30 = 180 Tahun 2014
Ruang Donor Standar 8 kursi Per Men Kes 400
donor RI Nomor 83
Asumsi 50 Kursi Tahun 2014
8 x 50 = 400
R.Pemulihan Standar ruang = 24 Per Men Kes 1 200
Asumsi 50 orang RI Nomor 83
24 x 50 = 1200 Tahun 2014
Peruntukan Standar Luas
Fasilitas/ ruang Sumber
(m²)

Laboratorium Standar ruang = 30 Per Men Kes 1500


serologi Asumsi 50 kantong RI Nomor 83
darah Tahun 2014
30 x 50 = 1500
Lab. Penyaringan Standar ruang = 24 Per Men Kes 1200
Darah Asumsi 50 kantong RI Nomor 83
darah Tahun 2014
24 x 50 = 1200
R. Penyimpanan Standar ruang = 20 Per Men Kes 1000
Darah Asumsi 50 kantong RI Nomor 83
darah Tahun 2014
20 x 50 = 1000
R. Penyimpanan Standar ruang = 10 Per Men Kes 500
Darah Karantina Asumsi 50 kantong RI Nomor 83
darah 10 x 50 = 500 Tahun 2014
R. Produksi Standar ruang = 10 Per Men Kes 20
Komponen Asumsi 20 r. RI Nomor 83
Produksi Tahun 2014
10 x 20 = 20
Jumlah Total Luasannya = 9880 m²
Sumber : Olahan Penulis

b. Analisa Ruang Unit Klinik


Tabel 5.5 Analisa Luasan Ruanga Unit Kerja Klinik
Standar Luas
Peruntukan Fasilitas/ ruang Sumber
(m²)
Unit Kerja Ruang Kepala Standar ruang = 10 Per Men Kes10
Klinik Asumsi 1 Direktur RI Nomor 83
10 x 1 = 10 Tahun 2014
Ruang Staf Standar ruang = 30 Per Men Kes 600
Asumsi 20 staf RI Nomor 83
30 x 20 = 600 Tahun 2014
Ruang Rapat Standar ruang = 50 Per Men Kes 1050
Asumsi 20 staf dan RI Nomor 83
1 Direktur Tahun 2014
50 x 21 = 1050
Standar Luas
Peruntukan Fasilitas/ ruang Sumber
(m²)
R.Registrasi/admin Standar ruang = 30 Per Men Kes 900
Asumsi 30 orang RI Nomor 83
30 x 30 = 900 Tahun 2014

R.Tunggu Standar ruang = 20 Per Men Kes 600


Asumsi 30 orang RI Nomor 83
20 x 30 = 600 Tahun 2014
R.pemeriksaan/Kon Standar ruang = 24 Per Men Kes 720
sultasi Asumsi 30 orang RI Nomor 83
24 x 30 = 720 Tahun 2014
R.Obat/Farmasi Standar ruang = 4 Depkes RI 20
Asumsi lemari obat
5
4 x 5 = 20
R.Rawat/tindakan 1 Tempat tidur, Depkes RI 608
meja, nurse call, tv,
dan sofa
Min 7,2 m2/tempat
tidur + 6 m2 sofa
Asumsi 40 unit
7,2 + 6 x 40= 608

R. Laboratorium Standar ruang = 30 Per Men Kes 1500


Asumsi 50 kantong RI Nomor 83
darah Tahun 2014
30 x 50 = 1500
Jumlah Total Luasannya = 6008 m²
Sumber : Olahan Penulis

c. Analisa Ruang Unit Pos Komando

Tabel 5.6 Analisa Luasan Ruanga Unit Kerja Pos Komando


Luas
Peruntukan Fasilitas/ ruang Standar Sumber
(m²)
Unit Pos Ruang Kepala Standar ruang = 30 Per Men Kes 1500
Komando Asumsi 50 kantong RI Nomor 83
darah Tahun 2014
30 x 50 = 1500
Ruang Staf Standar ruang = 30 Per Men Kes 600
Asumsi 20 staf RI Nomor 83
Luas
Peruntukan Fasilitas/ ruang Standar Sumber
(m²)
30 x 20 = 600 Tahun 2014
Ruang Rapat Standar ruang = 50 Per Men Kes 1050
Asumsi 20 staf dan RI Nomor 83
1 Direktur Tahun 2014
- 50 x 21 =
1050
R.Radio Ruang gerak = EN 2.592
1,15-2 m²
1 meja = 0,6 m x
1,20m = 0,72 m²
Tempat duduk =0,6
m x 0,6 m = 0,36 m²
Asusi 5 orang x 2 x
0.72 x 0.36 = 2.592

Jumlah Total Luasannya = 3152.592 m²


Sumber : Olahan Penulis

d. Analisa Ruang Unit Relawan


Tabel 5.7 Analisa Luasan Ruanga Unit Kerja Relawan
Standar Luas
Peruntukan Fasilitas/ ruang Sumber
(m²)
Relawan Auditorium Standar ruang 0.7 EN 140
m2/ org
Asumsi 200 orang
0.7 x 200 =140
Ruang rapat Standar ruang = 50 Per Men Kes 1050
Asumsi 20 staf dan RI Nomor 83
1 Direktur Tahun 2014
50 x 21 = 1050
Perpustakaan Standar ruang
Ruang baca 1,2 m2 x 300 = 360 EN
Katalog 1,2 x 1,2x 2 = 2.88 570.24
Rak buku 1,2 x 2,4x 60 =
207.36
R. Mini Theater Standar ruang EN 1728
2,4 m2 x 300 = 1728
Standar Luas
Peruntukan Fasilitas/ ruang Sumber
(m²)
Cafe Standar ruang EN 36
Resepsionis 3 m2/ org x 2 = 6 8
R.Duduk 1.2 m2/ org x 300
Kasir =360
R.Ganti/ Loker 3 m2/ org x 2=6
Toilet 1.2 m2/ org x 10=72
4.5 m2/ org x 6=27
Toilet Standar ruang 36
4.5 m2/ org x 8 =36
Jumlah Total Luasannya = 3892. 24 m²
Sumber : Olahan Penulis

e. Analisa Ruang Unit Pusdiklat


Tabel 5.8 Analisa Ruang Unit Kerja Pusdiklat
Fasilitas/
Sumber Luas (m²)
Peruntukan ruang Standar
Pusdiklat Auditoriu Standar ruang 0.7 m2/ EN 140
m org
Asumsi 200 orang0.7 x
200 = 140
Ruang Standar ruang = 50 Per Men Kes 1050
rapat Asumsi 20 staf dan 1 RI Nomor 83
Direktur Tahun 2014
50 x 21 = 1050
Wisma Standar Ruang AS 360
Kamar 3,6 m2 x 100 =360
Perpustaka Standar ruang EN
an 1,2 m2 x 300 = 360
Ruang 1,2 x 1,2x 2 = 2.88
570.24
baca 1,2 x 2,4x 60 = 207.36
Katalog
Rak buku
R. Mini Standar ruan2,4 m2 x EN 1728
Theater 300 = 1728

Cafe Standar ruang EN 368


Resepsioni 3 m2/ org x 2 = 6
s 1.2 m2/ org x300 =360
R.Duduk 3 m2/ org x 2=6
Kasir 1.2 m2/ org x 10=72
Fasilitas/
Sumber Luas (m²)
Peruntukan ruang Standar
R.Ganti/ 4.5 m2/ org x 6=27
Loker
Toilet
Toil Standar ruang 36
et 4.5 m2/ org x 8 =36

Jumlah Total Luasannya = 4252. 24 m²


Sumber : Olahan Penulis

f. Analisa Ruang Unit Markas


Tabel 5.9 Analisa Ruang Luar

Peruntukan Fasilitas/ Standar


ruang Luas
Sumber
(m²)

Unit Kerja Ruang Standar ruang = 10 Per Men Kes RI 10


Markas / Kepala Asumsi 1 Direktur Nomor 83 Tahun
10 x 1 = 10 2014
Kantor
Ruang 1,15-2 m² /Orang AS 17,04
Devisi Kapasitas 5 orang
Standar gerak
2 m²/orang = 10 m²
20 unit monitor
pengawas 20 x 0,2 x
0,4 = 1,6 m²
2 meja = 4 m²
3 kursi = 3 x 0,6 x 0,8 =
1,44 m²

Ruang Staf Standar ruang = 30 Per Men Kes RI 600


Asumsi 20 staf Nomor 83 Tahun
30 x 20 = 600 2014
Ruang Standar ruang = 50 Per Men Kes RI 1050
Rapat Asumsi 20 staf dan 1Nomor 83 Tahun
Direktur 2014
50 x 21 = 1050

Jumlah Total Luasannya = 1677,04 m²

Sumber : Olahan Penulis


2. Analisa Ruang Luar
Tabel 5.9 Analisa Ruang Luar

Peruntukan Fasilitas/ Standar Luas


Sumber
ruang (m²)
Ruang Luar Mobil Standar ruang EN 4750
15m²/unit
15 x 250 =3750
Motor Standar ruang 2 EN 1000
m²/unit
2 x 500 = 1000
Pedestrian Standar EN 1.5
1.5
Panggung Standar ruang 10 m2 EN 1000
terbuka 10 x 100 = 1000
Lapangan Standar ruang EN 1914
Outdoor 25 m x 15 m x 2 =
Futsal 750
Bola voly 9 m x 18 m x 2 = 324
Basket 28 m x 15 m x 2 =
840
Jumlah Total Luasannya = 7665.5m²
Jadi luasan total untuk analisa ruang dalam dan ruang luarnya =
13038.6 m²

Sumber : Olahan Penulis

4.3. Analisa Tapak


4.3.1. Analisa Penzoningan
Membagi zoning pada tapak berdasarkan tingkat kebutuhan privasi
sesuai dengan fungsi utama dari Palang Merah Indonesia yakni sebagai
tempat Pelayanan sosial atau kesehatan dan penanggulangan bencana.
Penzoningan yang direncanakan dalam zonasi ini terbagi menjadi 3 bagian
yakni, zona Utama, zona Penunjang,dan service.
1. Zona Utama meliputi, Unit Transfusi Darah, Markas dan Klinik.
2. Zona Penunjang meliputi, seluruh fasilitas yang menunjang kegiatan
Utama yakni Pusdiklat, Pos komando dan Unit Relawan.
3. Zona Service meliputi,ruang genzet, parkiran pengelola, parkiran
service, parkiran pengunjung dan untuk parkiran pengunjung dibagi
menjadi dua bagian yang mana parkiran untuk pengunjung yang
datang hanya untuk melakukan riset dan parkiran bagi pengunjung
yang menginap. Penzoningan pada tapak dapat dilihat pada gambar
berikut :

Gambar : 4.17 Pengolahan Penzoningan


Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

4.3.2. Analisa Pencapaian dan Orientasi


1. Analisa Eksisting
Pencapaian menuju tapak perancangan dapat ditempuh dengan
menggunakan kendaraan maupun berjalan kaki yang mana melalui dua
jalur jalan dan memiliki orientasi langsung terhadap tapak. Tapak
perancangan dilalui jalur kendaraan umum dengan rute dari Rumah
sakit Mamami, RSUD S.K. Lerik menuju lokasi perancangan yang
mana melalui jalan utama yaitu jalan Raden ajeng. Pencapaian dan
orientasi menuju tapak dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar : 4.18 Analisa Jalur Transportasi dan Pencapaian


Terhadap Tapak
Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

2. Pengolahan Pencapaian dan Orientasi


Pengolahan pencapaian dan orientasi pada tapak ditentukan
berdasarkan analisa pencapaian dan orientasi menuju tapak serta
pengolahan penzoningan sehingga peletakan main entrance, service
entrance adalah sebagai berikut:
a. Main entrance ditujukan untuk jalur keluar masuk bagi
pengunjung, diletakan di jalan Raden Ajeng dengan
pertimbangan sebagai berikut:
 Merupakan jalan kolektor dan dilalui kendaraan umum
sehingga mempermudah akses pengunjung ke Palang Merah
indonesia.
 Lebih dekat dengan parkir pengunjung.
 Tidak menimbulkan crossing sirkulasi dengan pengelola
b. Side Entrance ditujukan untuk jalur keluar masuk bagi pengelola
dan service di letakan di samping kiri kanan site dengan
pertimbangan sebagai berikut :
 Aktivitas service memiliki jalur tersendiri sehingga tidak
menimbulkan crossing dengan sirkulasi pengunjung lainya.
 Lebih dekat dengan fasilitas pengelola dan service sehingga
mempermudah supplyer.

4.3.3. Analisa Topografi dan Jenis Tanah


1. Analisa Eksisting
Keadaan topografi pada lokasi perancangan sedikit landai dengan
dengan kemiringan ± 16 % dan memiliki jenis tanah keras. Analisa
Topografi pada tapak dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar : 4.20 Potongan Topografi Pada Tapak


Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

2. Pengolahan Topografi
Dari analisa di atas, terdapat 2 alternatif untuk pengolahan topografi
yang dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 5.15 Alternatif Topografi


No Alternatif Kelebihan Kekurangan Gambar
1. Membiarkan - Tapak lebih tampak - Rumit dalam
kontur alami alami penataan site
- Hemat biaya dan
bangunan

2. Melakukan - Tapak mudah ditata - Butuh biaya


cut & fill berdasarkan - Butuh tenaga
perencanaan yang
ada
- Tapak mudah
dikontrol
Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

Dari beberapa alternatif diatas maka pemilihan penyelesaian


topografi untuk perancangan laboratorium adalah alternatif 2 yaitu
melakukan cut & fill untuk daerah yang berkontur dengan tujuan untuk
penempatan fasilitas.

4.3.4. Analisa Vegetasi


1. Analisa ksisting
Keadaan vegetasi pada lokasi perancangan tidak tertata dengan rapi,
terdapat beberapa vegetasi seperti rumput ilalang, semak belukar, pohon
Kedondong Hutan seperti pada gambar dibawah ini :
Gambar : 4.21 Analisa Vegetasi
Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

2. Pengola Vegetasi
Berdasarkan analisa di atas, terdapat 2 alternatif untuk menyelesaikan
masalah vegetasi pada lokasi perancangan, dapat dilihat pada tabel
berikut :

Tabel 5.16 Alternatif Vegetasi


No Alternatif Keuntungan Kerugian
1. Vegetasi yang hemat biaya - Tapak terlihat tidak teratur
ada di biarkan tidak ada - Tapak tidak memiliki
alamiah penataan orientasi yang jelas
2. Menata ulang dan - Menampilkan kesan - Butuh biaya.
menggunakan memiliki nilai estetika - Membutuhkan perawatan
vegetasi yang yang tinggi. yang baik.
sesuai fungsinya - Tapak nampak lebih - Butuh ahli dalam
masing-masing teratur pertamanan.
- Adanya keserasian dalam
Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017.
tapak.

Dari dua alternatif di atas maka penyelesaian vegetasi menggunakan


alternatif 2 yaitu menata ulang dan menggunakan vegetasi yang
sesuai fungsinya masing-masing.
Tabel 4.17 Jenis – jenis Vegetasi
Jenis Contoh
No Fungsi Contoh Gambar
Vegetasi Tumbuhan
1 Penutu Sebagai penutup tapak, Pakis, rumput
p tapak Pengurang hawa panas, japan dan
Pemberi batas pada tapak. sebagainya.
2 Penghias Penambah nilai estetis, Bunga teratai,
Penyaring debu, bakung, melati,
Pengurang hawa pans, mawar, dan lain-
2
Produsen o . lain.
3 Pengarah Pembatas dan pengarah Pohon palem,
dalam tapak, penyaring pohon nyiur dan
2
hawa panas, produsen o , lontar.
kontrol pandang, elemen
estetis.
4 Peneduh Peneduh, penyaring debu Angsana, kiara
dan hawa panas, payung, trembesi
mereduksi kebisingan, beringin, dan jenis
pembatas tapak, produsen pohon pelindung
o2, elemen estetis. lainnya.
Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

Pada perancangan Palang Merah Indonesia jenis vegetasi


pengarah dan peneduh akan ditempatkan mengelilingi tapak, ME dan
SE, jenis vegetasi penghias tapak akan ditempatkan pada atap bangunan
dan area hijau dimana sebagai Penambah nilai estetis, Penyaring
debu, Pengurang hawa panas, Produsen o2 juga sebagai
penerapan konsep green architecture. Berikut jenis vegetasi
yang akan digunakan sebagaimana telah ditentukan berdasar analisa
.
Gambar : 4.22 Analisa Vegetasi
Sumber : Hasil AnalisaPenulis,2018.

4.3.5. Analisa Klimatologi


1. Analisa Eksisting
Iklim pada lokasi perancangan termasuk dalam iklim tropis.
Analisa klimatologi pada lokasi perancangan dapat dilihat pada gambar
berikut :

Gambar : 4.23 Analisa Klimatologi


Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017.

2. Pengolahan Klimatologi
Dampak yang perlu dipertimbangkan dari kondisi klimatologi
terhadap bangunan adalah :
a. Memperhatikan orientasi bangunan terhadap arah angin dan sinar
matahari, terutama bangunan Unit Transfusi Darah, Klinik dan
Gudang.
b. Memperhatikan arah angin untuk sirkulasi udara dalam bangunan
yang baik,
c. Memperhatikan arah sinar matahari untuk pemanfaatan secara
optimal bagi pencahayaan dan penghawaan alam.
a) Matahari
Sinar matahari tidak dapat diterima secara langsung oleh
manusia (dapat mengganggu aktifitas manusia didalam gedung
maupun lingkungan di luar gedung), oleh karena itu matahari tidak
harus masuk secara langsung kedalam bangunan dan juga suatu
lingkungan kawasan tertentu.

Gambar 5.11. Orientasi Matahari


Sumber : Olahan Data Penulis, 2017

Dalam pengolahan mengenai masalah orientasi matahari tersebut


maka terdapat 3 alternatif yang dapat menjadi pertimbangan dalam
mengantisipasi permasalahan klimatologi, yaitu:
a. Meminimalisir cahaya matahari yang dapat menimbulkan
panas didalam ruangan dengan cara mengupayakan agar bukaan-
bukaan tidak berorientasi langsung dengan arah timur-barat dan
menggunakan bahan-bahan yang dipakai harus tahan panas atau
dapat mereduksi efek sinar ultra violet.
b. Penataan vegetasi pada tapak agar meminimalisir sinar matahari
yang terkena langsung pada bangunan sehingga penghawaan
didalam bangunan dapat terorganisir dengan baik.

Gambar 5.12. Pengolahan Vegetasi untuk Meminimalisir


Sinar Matahari Masuk ke dalam Bangunan.
Sumber :Search Geogle , 2018.
c. Penggunaan sunscreen dapat meminimalisir sinar matahari
masuk secara langsung kedalam bangunan.

Gambar 5.13. Penggunaan Sunscreen Untuk Meminimalisir


Sinar Matahari Masuk Ke Dalam Bangunan.
Sumber :Search Geogle , 2018

Berdasakan alternatif pengolahan di atas maka cara yang dipilih


adalah mengkombinasikan 3 cara di atas yaitu mebuat bukaan tidak
berorientasi langsung dengan matahari, serta penggunaan sunscreen
pada bangunan dan penataan vegetasi agar meminimalisir cahaya dan
megurangi udara panas ke dalam bangunan.

4.3.6. Analisa Sirkulasi


Sirkulasi pada perancangan pusat Palang Merah Indonesia terbagi
menjadi 2 bagian, yaitu sirkulasi pejalan kaki dan sirkulasi kendaraan.

Alternatif 1: Penggabungan

Gambar : 4.29 Alternatif 1 Sirkulasi Pejalan kaki


Sumber : Pedoman Perancangan Laboratorium,2009
Keuntungan : Menghemat tapak
Kerugian : Membutuhkan sistem pengontrolan yang baik.

Alternatif 2: Pemisahan

Gambar : 4.30 Alternatif 2 Sirkulasi Pejalan kaki


Sumber : Pedoman Perancangan Laboratorium,2009
Keuntungan :
1. Sirkulasi pada tapak teratur;
2. Memberikan teritori yang nyata antara pengguna kendaraan
motor dan pejalan kaki.
3. Memberikan rasa aman dan nyaman bagi pejalan kaki.
Kerugian :
1. Membutuhkan area sirkulasi pejalan kaki yang besar

Berdasarkan pertimbangan keuntungan dan kerugian masing


masing maka, bentukan sikulasi yang digunakan adalah alternatif 1.

4.4. Analisa Bangunan


4.4.1. Analisa Bentuk Dasar Bangunan
Secara umum ada tiga bentukan dasar bangunan yaitu : lingkaran
segitiga, dan bujur sangkar (Ching, 1999). Tiap-tiap bentuk memiliki
kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dan kelemahan bentuk dasar dapat
dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.19 Kelebihan Dan Kelemahan Bentuk Dasar


Bentuk Kelebihan Kelemahan
Lingkaran – Bentuk terpusat dan bersifat – Kurang fleksibel
stabil – Sulit dikembangkan
– Orientasi berpusat pada – Sulit digabungkan dengan
porosnya bentuk lain

Segitiga – Bentuk yang sangat stabil dan – Kurang fleksibel dan


seimbang efisien
– Pengembangan fungsi ruang – Pemanfaatan ruang
pada tiap sisinya menjadi sulit
– Orientasi pada setiap sudutnya
Bujur sangkar – Bentuk yang statis, netral, – Orientasi ruang cenderung
stabil, mudah dikembangkan ke statis
segala arah
– Orientasi ruang pada keempat
sisinya, efisiensinya tinggi
Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017
Dari tabel diatas, bentuk dasar yang sesuai untuk bangunan
laboratorium pertanian dan peternakan adalah ketiga bentuk yang kemudian
dikembangkan menjadi satu kesatuan menyesuaikan dengan bentukan site.

4.4.2. Analisis Jenis Massa Bangunan


Ada 2 jenis masa bangunan yaitu masa tunggal dan masa majemuk.
Kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis masa bangunan dapat
dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.20 Kelebihan dan Kekurangan Jenis Masa Bangunan

Masa Bangunan Kelebihan Kekurangan


Masa Tunggal – Aktifitas bangunan – Kesulitan dalam
terpusat pada satu membagi fungsi ruang
tempat. dan sirkulasi.
– Kemudahan dalam
pengelolaan dan
pengontrolan
Masa Majemuk – Dapat memrpermudah – Kesulitan dalam
membagi masa sesuai pengelolaan dan
fungsi bangunan. pengontrolan

Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

Dari tabel di atas, jenis masa bangunan yang dipilih yaitu massa
majemuk. Pemilihan massa majemuk lebih efisien, karena dalam bangunan
Palang Merah Indonesia sedikit berjauhan dengan jarak minimal 3m antara
semua fasilitas menjadi sangat penting dalam menunjang kegiatan yang
berlangsung didalamnya.
4.5. Analisa Utilitas
4.5.1. Analisa Elektrikal
Jaringan listrik pada tapak saat ini bersumber dari PLN. Dalam
pengolahannya agar sesuai dengan konsep green architecture, maka
sumber listrik utama bersumber dari solar panel, dengan memanfaatkan
energi matahari yang di ubah menjadi energi listrik.

Gambar : 4.33 Schematic Diagram of Photovoltaic Systems; Grid-


Connected (Top) and Stand-Alone (Bottom).
Sumber : The Green Studio Handbook, 2007.

4.5.2. Analisa Sistem Distribusi Air Bersih


Sumber air bersih utama berasal dari PDAM. Sumber air bersih
dapat didistribusikan dengan alternatif- alternatif berikut:
1. Up Feed System
Air bersih ditampung dulu di reservoir bawah kemudian dialirkan
dengan menggunakan pompa langsung ke titik-titik kran yang
diperlukan. Sistim ini sering mengalami kesulitan kalau sumber
tenaga untuk pompa mengalami pemadaman.
2. Down Feed System
Air bersih dialirkan dengan menggunakan pompa untuk diteruskan
pada tangki di atas bangunan, kemudian dari tangki dialirkan ke
tempat - tempat yang memerlukan dengan sistim gravitasi /
diturunkan secara langsung. Untuk tempat-tempat tertentu yang
jaraknya lebih dari 9 m dari tangki digunakan alat tambahan untuk
memperkuat pancaran air, misalnya menggunakan pompa tekan.

Dari alternatif diatas, sistem distribusi air bersih yang digunakan


adalah down feed system.

4.5.3. Analisa Sistim Distribusi Air Kotor


Sistem distribusi air kotor ada 3 macam yakni :
1. Grey water merupakan air yang buangan yang berasal berasal dari
zink dapur, wastafel, floor drain kamar mandi, dll. Pengolahan grey
water menggunakan sistem water treatment plant yaitu air kotor
didaur ulang dan dimanfaatkan kembali menjadi air yang layak
pakai.

Gambar : 4.34 Schematic diagram of a greywater system,


showing greywater sources, storage and treatment, and usage
components
Sumber : The Green Studio Handbook, 2007.

2. Black water merupakan air buangan yang berasal dari kloset


(skreta).
Pengolahan black water menggunakan septic tankbiotech.
Septictank biotech ini system mengolah/proses limbah domestik
atau tinja dalam tangki yang telah dilengkapi dengan media bioball
secara biological menggunakan microorganisme atau bakteri
pengurai yang mengurai dan mengfilter limbah menjadi cair dan
125
akan teralirkan keluar melalui pipa inlet dan pipa outlet yang
dilengkapi tabung disinfektan (tabung pembasmi kuman) sehingga
cairan buangan sudah aman dan ramah lingkungan tanpa adanya
kuman berbahaya.
3. Air hujan merupakan air yang jatuh ke atas permukaan tanah atau
bangunan. Pengolahan air hujan pada site dan bangunan terbagi
menjadi 2 bagian yaitu :
 Water Catchments System
Air hujan dari atap disalurkan ke talang vertikal kemudian
ditampung dan diolah kembali untuk keperluan domestik dan
pengairan tanaman pada lahan Percontohan dan kadang sapi.

Gambar : 4.35 Schematic Layout of a Rainwater Catchment


and Storage System For a Residential Building
Sumber : The Green Studio Handbook, 2007

 Pervious Surfaces
Penggunaan penutup permukaan tanah yang memungkinkan air
masuk dan mengalir ke lapisan yang lebih bawah.

Adapun alur pemanfaat air kotor, air hujan yang mana dapat
menunjang kegiatan dalam Palang Merah Indonesia, dapat dilihat pada
diagram berikut ini :

126
 Sistim Pembuangan Air Kotor Dari Laboratorium.

Gambar : 4.36 Alur Pembuangan Air Kotor


Dari Laboratorium
Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

 Sistem pembuangan air kotor dari WC/KM dan dapur

Gambar : 4.37 Alur Pembuangan Air Kotor Dari KM/WC


Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

 Sistim Pembuangan Air Hujan

Gambar : 4.38 Alur Pembuangan Air Hujan


Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

4.5.4. Analisa Sistem Pencahayaan


Sistem pencahayaan pada Palang Merah Indonesia terbagi
menjadi 2 bagian yakni :
1. Pencahayaan Alami
Pada bangunan Palang Merah Indonesia pencahayaan alami
pada siang hari harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk
mengurangi pemakaian energi listrik, terutama pada ruangan
laboratorium.

127
2. Pencahayaan Buatan
Pada sistem ini sumber energi listrik utama berasal dari
solar panel, dengan memanfaatkan energi matahari yang di ubah
menjadi energi listrik dari dan sebagai cadangan energi dapat
menggunakan generator set.
Sistem pencahayaan buatan pada perancangan pusat Palang
Merah Indonesia di rencanakan pada seluruh ruangan dan diletakan
di atas langit – langit ruangan dan ditanam pada dinding, untuk
memberikan citra pada bangunan pada ruangan tertentu.

4.5.5. Analisa Sistem Penghawaan


Sistem Penghawaan pada pusat laboratorium pertanian dan
peternakan terbagi menjadi 2 bagian antara lain :
1. Penghawaan Alami
Sistem penghawaan alami yang direncanakan menggunakan
potensi iklim yaitu pergerakan angin untuk mencapai kenyamana
thermal pada ruangan.Terdapat 2 jenis sistem penghawaan alami
yang direncanakan yaitu :
a. Cross Ventilation
Merupakan sistem penghawaan silang dapat dicapai dengan
adanya bukaan antar ruang sehingga pergerakan udara
dapat terjadi.

Gambar : 4.39 Cross Ventilation


Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

128
b. Stack Ventilation
Sistem ventilasi cerobong bekerja berdasarkan sifat udara
terhadap temperatur. Udara panas memiliki kerapatan
rendah, bersifat ringan akan bergerak keatas dan digantikan
dengan udara dingin dari luar bangunan yang masuk
melalui ventilasi silang.

Gambar : 4.40 VariousStack Ventilation Configuration


Sumber : The Green Studio Handbook, 2007

2. Penghawaan Buatan
Sistem penghawaan buatan yang direncanakan
menggunakan Air Conditioner (AC). Untuk bangunan yang
memiliki ruangan yang luas seperti loratorium, aula dan kantor
pengelola, jeni AC yang digunakan yaitu AC central. Sistem kerja
ACcentral menggunakan sistem pendingin tidak langsung dimana
unit AC tidak berhubungan langsung dengan ruang tetapi
menggunakan mesin pengolah udara/air handling unit (AHU)
kemudian udara disirkulasikan melalui tabung penyebar udara
horisontal (ducting). Penempatan mesin pengolah udara dapat
dibagi menurut jumlah tingkat lantai. Satu AHU dapat melayani
satu lantai atau lebih tergantung kapasitas AHUnya dan beban
kalor yang akan didinginkan.

129
4.5.6. Analisa Sistem Penangkal Petir
Penangkal petir harus dipasang pada bangunan - bangunan tinggi,
minimum bangunan 2 lantai, terutama yang paling tinggi diantara
sekitarnya (Tanggoro, 2006). Jenis-jenis penangkal petir beserta
kelebihan dan kekurangannya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.21 Sistem Penangkal Petir


Jenis Kelebihan Kekurangan
Sistem franklin – Pemasangan cukup praktis – Jangkauan terbatas
– Biayanya murah

Sistem faraday – Pemasangan cukup praktis – Biaya sedikit mahal


– Jangkuan luas – Mengurangi
keindahan

Sistem radioaktif – Cocok untuk bangunan – Biayanya mahal


tinggi – Berbahaya bagi
– Jangkauan luas kesehatan manusia
– Satu bangunan cukup
menggunakan satu
penangkal
Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

Dari uraian di atas, maka dalam perencanaanya sistem penangkal


petir yang akan dipakai pada bangunan laboratorium pertanian dan
peternakan ini adalah sistem Faraday.

4.5.7. Analisa Sistem Keamanan


Sistem keamanan yang direncanakan pada pusat laboratorium
pertanian dan peternakan ini yaitu :
1. Sistem intercom, pada tiap fasilitas berhubungan dengan intercom
kantor security.
2. CCTV tersebar di daerah penting.
130
4.5.8. Analisa Sistem Pembuangan Sampah
Secara garis besar, sampah dibedakan menjadi tiga jenis yaitu:
1. Sampah anorganik/kering, contoh : logam, besi, kaleng, plastik,
karet, botol, dan lain-lain yang tidak dapat mengalami
pembususkan secara alami.
2. Sampah organic / basah, contoh : Sampah dapur, sampah restoran,
sisa sayuran, rempah-rempah atau sisa buah, dan lain lain yang
dapat mengalami pembusukan secara alami.
3. Sampah berbahaya, contoh : Baterei, botol racun nyamuk, jarum
suntik bekas, dan lain-lain.
Sampah dipisahkan berdasarkan jenisnya, jenis sampah organik
dan anorganik akan dipertimbangkan untuk diolah dan dimanfaatkan
kembali sebagai pupuk dan barang daur ulang, sedangkan jenis sampah
berbahaya akan ditampung pada TPS sementara dan kemudian akan
diangkut oleh mobil sampah menuju TPS kota.

Organik Terpakai Diolah

Pemilahan

Jenis sampah Anorganik Tidak Pupuk dan


terpakai barang jadi

Sampah
berbahaya

TPS Sementara

TPS Kota

Gambar : 4.41 Diagram Sistem Pengolahan Sampah


Sumber : Hasil Analisa Penulis,2017

131
4.5.9. Sistem Penanggulangan Bahaya Kebakaran
Fire protection adalah satu usaha untuk mengadakan
perlindungan tehadap penghuni bangunan apabila terjadi kebakaran.
Perlindungan dalam hal ini dimaksudkan sebagai suatu tindakan
pemadaman dan pencegahan kebakaran. Jenis – jenis pemadam
kebakaran yang disiapkan antara lain :
1. Cctv camera
Memiliki fungsi utama sebagai security system dalam bangunan,
akan tetapi dapat membantu pendeteksian akan adanya api.
2. Heat detector atau rate of rise detector ( ROR Detector)
Dipakai untuk mendeteksi panas atau api yang bekerja bila suhu
mencapai 57o C. Dan di letakan pada setiap ruang kantor sewa
dan ruang rapat.
3. Automatic Sprinkler, pemadam kebakaran dalam suatu jaringan
saluran yang dilengkapi dengan kepala penyiram. Kebutuhan air
ditampung pada reservoir dan radius pancuran 25 m2.
4. Fire hydrant, yaitu sitem yang menggunakan daya semprot air
melalui selang sepanjang 30 meter yang diletakkan dalam kotak
dengan penutup ditempat strategis.

4.6. Analisa Struktur


Struktur bangunan adalah komponen yang merupakan satu-kesatuan
yang dirancang dan diperhitungkan saling berhubungan secara struktural,
dalam usaha meneruskan beban ststis dan dinamis yang terjadi pada
bangunan ke dalam tanah. Berdasarkan peletakkannya, sistem struktur dibagi
menjadi tiga, yaitu:

132
1. Sub Structure (struktur bawah)
Faktor jenis, kondisi, dan daya dukung tanah sangat menentukan
dalam pemilihan jenis sub-struktur atau pondasi yang digunakan pada
bangunan. Berikut adalah jenis-jenis substruktur yang digunakan
sebagai alternatif :

Alternatif 1. Pondasi jalur

Gambar : 4.42 Pondasi Jalur


Sumber : Hasil Olahan Penulis,2017.

Kriteria :
1. Sebatas penggunaannya pada bangunan yang berlantai satu
2. Mudah dikerjakan
3. Lebih bersifat ekonomis
4. Baik untuk diterapkan pengerasan tanah pada bagian dasar
pondasi.

133
Alternatif 2. Pondasi footplate

Gambar 4.43 Pondasi Footplate


Sumber : Hasil Olahan Penulis,2017

Kriteria :
1. Stabil dan tahan terhadap beban
2. Ekonomis
3. Konvensional dan mudah dalam pelaksanaan
4. Dapat menahan daya dukung tanah

Alternatif 3. Pondasi pondasi tiang pancang

Gambar 4.44 Pondasi Tiang Pancang


Sumber : Hasil Olahan Penulis,2017

Kriteria :
1. Stabil dan tahan terhadap beban

134
2. Dapat menahan daya dukung tanah
3. Sangat baik digunakan pada tanah yang labil karena
pondasi ini dapat mencapai kedalaman tanah keras
yang paling dalam.
4. Baik untuk diterapkan pada bangunan berlantai banyak.

Berdasarkan analisa diatas maka pemilihan sistem struktur


pondasi yang dipakai yaitu pondasi jalur sebagai pengikat lantai
dasar dan pondasi footplate.

2. Supper Structure (Struktur Badan)


Supper struktur adalah struktur yang menyalurkan gaya dari atas
ke pondasi. Struktur ini dapat berupa kolom, balok struktur dan juga
dinding.
a. Rangka kaku dan inti ( rigid frame and core)
Rigid frameand core adalah struktur rangka yang di perkuat
oleh inti bangunan yang mempunyai sistem joint yang kokoh
(rigid) dan dapat terbuat dari beton, baja, kombinasi beton dan
baja. sistem yang bekerja pada sistem ini adalah Rangka kaku
bereaksi terhadap beban lateral, terutama melalui lentur balok
dan kolom Perilaku demikian berakibat ayunan (drift) lateral
yang besar pada bangunan dengan ketinggian tertentu. Akan
tetapi, apabila dilengkapi dengan struktur inti, ketahanan
lateral bangunan akan sangat meningkat karena interaksi inti
dan rangka. Sistem inti ini juga memuat sistem-sistem mekanis
dan transportasi vertikal.

135
Gambar 4.45 Rangka Kaku dan Inti
Sumber : Hasil Olahan Penulis.2017

b. Kolom struktur
Digunakan untuk memikul beban secara langsung baik beban
vertikal maupun beban horisontal dan disalurkan ke dalam
tanah.
c. Kolom partisi
Digunakan untuk mengikat dinding bangunan atau dinding
penyekat
d. Balok induk (balok struktur).
Dihitung agar sesuai lebar bentangan dan mampu memikul
beban.
e. Balok anak
Dihitung agar dimensi balok mampu stabil dalam menyalurkan
gaya dan material balok dari beton bertulang.
Pemilihan struktur badan berdasarkan pada pertimbangan :
1. Dapat memenuhi kebutuhan fungsi bangunan
2. Keuntungan struktur yang ekonomis, tahan gempa, dan mudah
pelaksanaanya.
3. Dapat menjamin kaemanan dan kenyamanan pengguna gedung

136
Berdasarkan kriteria pemilihan struktur di atas maka pada
perancangan pusat palang Merah Indonesia ini akan menggunakan
sistem kolom struktur, kolom praktis dan balok untuk bangunan hanya
berkapasitas 2 lantai.

3. Upper Structure (Struktur atas)


A. Rangka Baja Ringan

Gambar 4.46 Rangka Baja Ringan


Sumber : google search diolah.2017

1) Pertimbangan keuntungan :
a) Lebih kuat dalam penggunaan bentang lebar. b)
Tahan panas.
c) Mudah dalam pemasangan . d)
Lebih praktis .
2) Pertimbangan kerugian :
a) Membutuhkan banyak rangka.

B. Atap Plat Beton


1) Pertimbangan keuntungan :
a) Tidak mudah terbakar atau anti api. b)
Tahan lama dan kuat.
c) Lebih praktis.

2) Pertimbangan kerugian :
a) Membutuhkan kekakuan struktur yang tinggi.
b) Membutuhkan tenaga ahli dalam proses pengerjaan.
137
Sesuai pendekatan green archtecture pada bangunan Palang Merah
Indonesia ini menggunakan atap bertaman/green roof sehingga
penggunan struktur yang tepat yaitu atap plat beton.

Gambar 4.47 Greenroof


Sumber : google search diolah,2017

Berikut ini kedalaman tanah minimum untuk berbagai jenis


tanaman pada aplikasi green roof :

Tabel 4.22 Minimum Soil Deep For Green Roof Planting


Planting Minimum Soil Deep
Lawns 200-300 mm
Flowers and ground covers 250-300 mm
Shrubs 600-750 mm
Small trees 750-1050 mm
Large trees 1,5-1,8 m
Sumber : The Green Stsudio Handbook, 2007.

138