Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT DAN

MANAJEMEN BENCANA PADA TN “K” DENGAN GASTRITIS DI


UNIT GAWAT DARURAT RST TK.IV DR.NOESMIR
BATURAJA

D
I
S
U
S
U
N
OLEH

NAMA : HARTATI
TINGKAT : III.A
DOSEN PEMBIMBING : LISDAHAYATI SKM, MPH
CI LAHAN : DEVARITA

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
PRODI KEPERAWATAN BATURAJA
TAHUN 2018
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN
PADA TN.”K” DENGAN GASTRITIS
DI UNIT GAWAT DARURAT RST TK.IV DR.NOESMIR
BATURAJA
OLEH

NAMA : HARTATI

NIM : PO.71.20.2.15.023

TELAH DIPERIKSA DAN DISETUJUI OLEH PEMBIMBING KLINIK UNIT GAWAT


DARURAT RST TK.IV DR.NOESMIR

BATURAJA
Baturaja, Maret 2018

DOSEN PEMBIMBING CLINICAL INSTRUCTOR

LISDAHAYATI SKM, MPH DEVARITA


NIP. NIP.
LAPORAN PENDAHULUAN GASTRITIS

A. PENGERTIAN
 Gastritis atau lebih dikenal sebagai maag berasal dari bahasa yunani yaitu gastro,
yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi/peradangan.
 Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung (Kapita Selekta Kedokteran, Edisi
Ketiga
 Gastritis adalah segala radang mukosa lambung. Gastritis merupakan suatu keadaan
peradangan atau perdarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronis, difus
atau local (Sylvia A Price, 2006).
.

B. ETIOLOGI
Penyebab dari Gastritis dapat dibedakan sesuai dengan klasifikasinya sebagai berikut :
a) Gastritis Akut
Penyebabnya adalah stres psikologi, obat analgetik, anti inflamasi terutama aspirin
(aspirin yang dosis rendah sudah dapat menyebabkan erosi mukosa lambung), makanan,
bahan kimia misalnya lisol, alkohol, merokok, kafein lada, steroid dan digitalis, dan juga
sering akibat dari diet yang semberono
b) Gastritis Kronik
Penyebab dan patogenesis pada umumnya belum diketahui, biasanya disebabkan oleh
ulkus benigna atau maligna dari lambung Helicobacter pylori. Gastritis ini merupakan
kejadian biasa pada orang tua, tapi di duga pada peminum alkohol, dan merokok.

C. MANIFESTASI KLINIS
a) Gastritis Akut
1. Anoreksia
2. Mual
3. Muntah
4. Nyeri epigastrum
5. Perdarahan saluran cerna pada Hematemasis melena, tanda lebih lanjut yaitu anemia.

b) Gastritis Kronis
Pada tipe A, biasanya asimtomatik, klien tidak mempunyai keluhan. Namun pada
gastritis tipe B, pasien biasanya mengeluh :
1. Nyeri ulu hati
2. Anorexia
3. Nausea
4. Anemia

D. ANATOMI FISIOLOGI
Esofagus : berpungsi menyalurkan makanan dan minuman dari mulut ke lambung
Stomach : berpungsi penerima makanan dan bekerja sebagai penampung dalam jangka
pendek
Duodenum : berpungsi untuk meyalurkan makanan ke usus hallus
Ulcer : luka terbuka atau lesi
Mucosa : melindungi memberan mukosa dari infansi

E. PATOFISIOLOGI
a) Gastritis Akut
Zat iritasi yang masuk ke dalam lambung akan mengiitasi mukosa lambung. Jika
mukosa lambung teriritasi ada 2 hal yang akan terjadi :
1. Karena terjadi iritasi mukosa lambung sebagai kompensasi lambung. Lambung
akan meningkat sekresi mukosa yang berupa HCO3, di lambung HCO3 akan
berikatan dengan NaCL sehingga menghasilkan HCI dan NaCO3.
Hasil dari penyawaan tersebut akan meningkatkan asam lambung. Jika asam
lambung meningkat maka akan meningkatkan mual muntah, maka akan terjadi
gangguan nutrisi cairan & elektrolit.
2. Iritasi mukosa lambung akan menyebabkan mukosa inflamasi, jika mukus yang
dihasilkan dapat melindungi mukosa lambung dari kerusakan HCL maka akan terjadi
hemostatis dan akhirnya akan terjadi penyembuhan tetapi jika mukus gagal
melindungi mukosa lambung maka akan terjadi erosi pada mukosa lambung. Jika
erosi ini terjadi dan sampai pada lapisan pembuluh darah maka akan terjadi
perdarahan yang akan menyebabkan nyeri dan hypovolemik.
b) Gastritis Kronik
Gastritis kronik disebabkan oleh gastritis akut yang berulang sehingga terjadi iritasi
mukosa lambung yang berulang-ulang dan terjadi penyembuhan yang tidak sempurna
akibatnya akan terjadi atrhopi kelenjar epitel dan hilangnya sel pariental dan sel
chief. Karena sel pariental dan sel chief hilang maka produksi HCL. Pepsin dan
fungsi intinsik lainnya akan menurun dan dinding lambung juga menjadi tipis serta
mukosanya rata, Gastritis itu bisa sembuh dan juga bisa terjadi perdarahan serta
formasi ulser.

F. PATHWAY

Agen Lambung

Respon Peningkatan Asam Lambung

Anorexia

Nutrisi kurang dari kebutuhan

Tidak Dapatdi netralisir


Infeksi Mukosa Lambung

Peningkatan HCL (asam lambung) refluk gaster

Inflamasi/peradangan

pada mukosa lambung respon mual muntah


kelemahan fisik
nyeri akut
intoleran aktifitas

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Adapun pemeriksaan penunjang gastritis menurut Hudak dan Gallo, 1996, seperti di
bawah ini :
a. Nilai haemoglobin dan hematokrit untuk menentukan adanya anemia akibat perdarahan.
b. Kadar serum gastrin rendah atau normal, atau meninggi pada gastritis kronik yang
berat.
c. Pemeriksaan rontgen dengan sinar X barium untuk melihat kelainan mukosa lambung.
d. Endoskopi dengan menggunakan gastrocopy untuk melihat kelainan mukosa lambung.
e. Pemeriksaan asam lambung untuk mengetahui ada atau tidak peningkatan asam
lambung
f. Pemeriksaan darah untuk memeriksa apakah terdapat H. Pylori dalam darah. Hasil tes
yang positif menunujukkan bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada suatu waktu
dalam hidupnya tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena infeksi. Tes darah
dapat juga dilakukan untuk memeriksa anemia yang terjadi akibat perdarahan lambung
karena gastritis.
g. Pemeriksaan feses tes ini untuk memeriksa apakah terdapat bakteri H. Pylori dalam
feses atau tidak. Hasil yang positif dapat mengindikasikan terjadinya infeksi. Pemeriksaan
juga dilakukan terhadap adanya darah dalam feses. Hal ini menunjukkan adanya pendarahan
dalam lambung.
h. Anbalisa lambung tes ini untuk mengetahui sekresi asam dan merupakan tekhnik
penting untuk menegakkan diagnosis penyakit lambung. Suatu tabung nasogastrik
dimasukkan ke dalam lambung dan dilakukan aspirasi isi lambung puasa untuk dianalisis.
Analisis basal mengukur BAO( basal acid output) tanpa perangsangan. Uji ini bermanfaat
untuk menegakkan diagnosis sindrom Zolinger- Elison (suatu tumor pankreas yang
menyekresi gastrin dalam jumlah besar yang selanjutnya akan menyebabkan asiditas nyata).

H. KOMPLIKASI

1. Komplikasi yang timbul pada Gastritis Akut, yaitu perdarahan saluran cerna bagian atas
(SCBA) berupa hemotemesis dan melena, berakhir dengan syock hemoragik, terjadi ulkus,
kalau prosesnya hebat dan jarang terjadi perforasi.

2. Komplikasi yang timbul Gastritis Kronik, yaitu gangguan penyerapan vitamin B 12, akibat
kurang pencerapan, B 12 menyebabkan anemia pernesiosa, penyerapan besi terganggu dan
penyempitan daerah antrum pylorus.

I. PENATALAKSANAAN
Pengobatan gastritis meliputi :
1. Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi.
2. Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dapat dijumpai.
3. Pemberian obat-obat antasid atau obat-obat ulkus lambung yang lainn.
Pada gastritis, penatalaksanaanya dapat dilakukan dengan (medis dan non medis), yaitu
sebagai berikut
a. Gastritis Akut
1. Intruksikan pasien untuk menghindari alkohol.
2. Bila pasien mampu makan melalui mulut, anjurkan diet mengandung gizi.
3. Bila gejala menetap, cairan perlu diberi secara parenteral.
4.Bila perdarahan terjadi, lakukan penatalaksanaan untuk hemoragi saluran
gastrofestinal.
5. Untuk menetralisir asam gunakan antasida umum.
6. Untuk menetralisir alkhali gunakan jus lemon encer atau cuka encer.
7.Pembedahan darurat mungkin diperlukan untuk mengangkat gangren atau
perforasi.
8. Jika gastritis terjadi akibat menelan basa kuat, gunakan sari buah jeruk yang encer
atau cuka yang di encerkan.
9. Reaksi lambung diperlukan untuk mengatasi obstruksi polirus.

b. Gastritis Kronik
1. Dapat diatasi dengan memodifikasi diet pasien, diet makan lunak diberikan sedikit
tapi lebih sering.
2. Mengurangi stress
3. H.pylori diatasi dengan antibiotik (seperti tetraciklin ¼, amoxillin) dan gram
bismuth (pepto- bismol).

J. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Airway
Setelah dilakukan pemeriksaan jalan nafas pasien bebas tanpa sumbatan atau
gangguan, jalan napas klien bersih
2. Breathing
Pernafasan klien spontan tanpa gangguan ataupun alat bantu napas RR : 19 x/menit
3. Circulation
 Nadi :82 x/menit
 CRT : kembali normal dalam waktu <2 detik
 Pendarahan : tidak terdapat pendarahan pada klien
 Turgor Kulit : turgor kulit klien baik
4. Disability
 Respon : klien sadar penuh (composmentis)
 Pupil : pupil isokor (sama besar)
 Replek : reflek klien normal
 GCS : 15 E4M6 V5
5. Exposure
Klien tidak dilakukan pemeriksaan EKG

K. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : Lemas
Kesadaran : Composmentis
TD : 120/80 mmHg
Temp : 37,1ºC
Pols :76 x/menit
RR : 21 x/menit
BB : 76 Kg
TB : 170 Cm
2. Kepala
Bentuk : simetris, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan
Rambut : hitam
3. Leher : simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran vena jugularis
4. Mata : simetris, kanan kiri tampak simetris
Penglihatan : normal
Pupil : isokor
Sclera : ikterik
Konjungtiva : anemis
5. Hidung :Tidak terdapat polip, tidak ada secret, tidak terpasang alat bantu
pernapasan
6. Telinga : simetris, tidak ada serumen, pendengaran baik
7. Mulut
Bentuk : simetris
Mukosa Bibir : mukosa bibir kering
Stomatitis : tidak ada
Tonsil : tidak ada pembesaran
Tiroid : tidak ada pemberasan
8. Dada
Thorax : simetris
Pernafasan : frekuensi napas 19 x/menit
Abdomen : Terdapat nyeri tekan
9. Genetalia dan Rectum : klien mengatakan tidak ada kelainan pada daerah genetalia
dan rectum
10. Ekstremitas
Atas : kekuatan otot kurang ditandai dengan klien lemah dalam beraktifitas
Bawah : kekuatan otot kurang ditandai dengan klien lemah dalam beraktifitas

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan Rasa Nyaman Nyeri Akut berhubungan dengan inflamasi Asam
Lambung Sekunder Gastritis

2. Gangguan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Berhubungan Dengan Anorexia


di tandai dengan mual dan muntah

G. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Gangguan Rasa Nyaman Nyeri Akut berhubungan dengan inflamasi Asam Lambung
Sekunder Gastritis
Ditandai dengan : nyeri di bagian ulu hati, klien tampak meringis skala nyari 4
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri pada klien
berkurang/hilang.
Kriteria Hasil : nyeri pada klien hilang, klien tidak meringis lagi, K/U membaik
1) Monitor TTV klien
Rasional :untuk menentukan intervensi selanjutnya
2) Kaji tingkat skala nyeri klien
Rasional : untuk mengetahui tingkat skala nyeri klien
3) Anjurkan pasien mengatur posisi senyaman mungkin
Rasional : Dengan mengatur posisi pasien, maka diharapkan nyeri klien (-)

4) Ajarkan klien teknik distraksi relaksasi


Rasional : untuk mengurangi nyeri pada klien
5) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian therapy
Rasional : untuk mempercepat kesembuhan klien
2. Gangguan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Berhubungan Dengan Anorexia di
tandai dengan mual dan muntah

Ditandai dengan : tidak nafsu makan ber(-), mual dan sering muntah

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x24 jam di harapkan


nutrisi kurang dari kebutuhan dapat teratasi

Kriteria Hasil : -klien sudah nafsu makan


-makanan yg di sajikan di habiskan
-turgor kulit elastis

1) Monitor BB klien
Rasional : Mengetahui BB klien

2) Anjurkn klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering


Rasional : Beri makan mudah di cerna dan tidak merangsang mual dan muntah

3) Kolaborasi dengan tim gizi


Rasional : Mengetahui makanan yang bergizi untuk klien
DAFTAR PUSTAKA

Reeves, Charlene, et al,Keperawatan Medikal Bedah, Alih bahasa Joko Setiyono, Edisi I,
jakarta, Salemba Medika
Muttaqin, Arif,. Kumala Sari.( 2011). Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah.Salemba Medika : Jakarta.
Smeltzer, Suzanna C.( 1997),Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, salemba
medika. Jakarta

Mansjoer Arif . Kapita selekta kedoktoranEdisi 3 .jilid 1. Jakarta .2001

Price , Sylvia Aderson .Patopisiologi .EGC . Jakarta .2006

Soporman .Ilmu Penyakit Dalam .jilid II .FKUI .jakarta .1990