Anda di halaman 1dari 2

Nama : Pragiwaka Manggala Adji Masnur Alif

NIM : 111611133201
Kelas : Kepribadian B-1

Perkenalkan nama saya adalah Pragiwaka Manggala Adji Masnur Alif, atau biasa
dipanggil dengan panggilan raka. Saya merupakan mahasiswa yang sedang menjalani
pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi UNAIR dan telah memasuki semester kedua. Pada
kesempatan kali ini saya akan menuliskan topik mengenai hubungan antara teori kepribadian
psikoanalisa Sigmund Freud dengan bentuk dari kepribadian diri saya seperti sekarang ini.
Berdasarkan refleksi diri yang telah saya lakukan saya menyadari bahwa semasa kecil
saya adalah anak yang cenderung cuek dengan keadaan apapun dan yang terpikir oleh saya
hanyalah bermain dan terus bermain, namun menginjak pada usia 5 sampai 10 tahun saya
kemudian berubah menjadi anak yang penakut, saya mulai merasakan rasa kurang percaya diri
terhadap lingkungan sekitar maupun teman-teman sebaya pada masa itu. Saya merasa banyak
kekurangan dan merasa menjadi anak yang paling bodoh dikelas. Saya akui memang pada saat
itu penampilan saya masih acak-acakan dan saya juga merupakan anak yang malas
mengerjakan tugas dan tidak cukup pintar dalam berbagai hal pelajaran. Saya memiliki rasa
takut pada teman-teman saya yang menganggap dirinya berkuasa dan berani untuk berduel
lewat perkelahian dengan teman-teman yang lain sehingga terkadang beberapa anak sering
melakukan bullying terhadap saya. Saya merasa menjadi anak yang kurang diperhatikan dan
cenderung dijauhi. Mungkin banyak yang tidak menyukai saya sehingga membuat saya hanya
memiliki sedikit teman akrab, dan biasanya teman akrab saya adalah orang yang senasib
dengan saya. Karena lingkungan dan keadaan dimasa sekolah dasar pada saat itu tidak
membuat saya nyaman akhirnya saya terkadang melampiaskannya dengan bermain diluar
rumah sekitar saya tinggal. Saya melampiaskannya dengan berbagai macam permainan khas
anak kecil pada saat pulang sekolah maupun libur sekolah. Namun terkadang saya tidak bisa
leluasa untuk bermain dilingkungan perumahan saya berada karena orang tua saya terkadang
melarang saya untuk bermain karena saya sering kedapatan tidak kenal waktu pada saat
bermain diluar rumah dan sering melalaikan urusan sekolah. Hal ini menjadikan saya lebih
sering menghabiskan waktu dirumah dengan melakukan kegiatan yang tidak produktif seperti
menonton televisi maupun bermain video game. Keterkekangan yang saya alami sunggu sangat
menyiksa, dibalik kesenangan yang saya alami pada masa-masa sekolah dasar saya merasa
kalau lebih banyak hal-hal menyedihkan yang saya rasakan dari pada kebahagiaan pada masa-
masa itu. Tidak hanya disekolah saja saya menjadi orang yang sering menjadi korban bullying,
ditempat les pun saya merasakan hal yang sama. Hal ini mengakibatkan saya menjadi pribadi
yang gampang tersinggung terhadap ucapan seseorang yang merendahkan saya. Karena
semenjak kecil saya sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi korban bullying dengan
berbagai macam tindakan dan ucapan pelecehan yang rasanya begitu menyakitkan bagi saya.
Kemudian ketika akhirnya saya beranjak ke fase berikutnya yaitu masa-masa smp yang
menginjak pada usia 11-13 tahun. Dimasa ini saya sudah mulai memikirkan penampilan saya
dan mulai banyak berteman. Namun kebanyakan teman-teman saya adalah orang-orang yang
tidak baik kelakuannya sehingga secara tidak langsung saya akhirnya juga mengikuti beberapa
kebiasaan buruk mereka. Pada masa smp ini kepribadian saya juga tidak kunjung mengalami
perbaikan. Namun setidaknya pada masa smp ini saya mulai menunjukkan keseriusan dalam
mengejar nilai yang bagus dalam beberapa kesempatan. Tentu hal ini merupakan suatu perilaku
yang saya lakukan demi mendapatkan imbalan atas prestasi yang saya raih.

Peristiwa serta pengalaman yang telah saya lalui sehingga membentuk kepribadian saya
seperti sekarang dapat dihubungkan dengan teori kepribadan dari Sigmund Freud. Contohnya
adalah pada saat masa sekolah dasar saya berkeinginan untuk bermain dengan teman-teman
saya diluar rumah sekitar tempat tinggal bisa disebut sebagai id. Namun orangtua saya pada
saat itu sering melarang karena saya tidak mempedulikan batas waktu bermain serta
kepentingan sekolah bila sudah terlalu asyik bermain yang mana hal ini bisa disebut sebagai
superego. Ketika saya tetap memutuskan untuk bermain dan mengabaikan larang orangtua saya
maka hal itu disebut sebagai ego.
Peristiwa kedua yang bisa dihubungkan dengan pengalaman hidup saya adalah ketika
saya mulai memperhatikan penampilan saya akibat dari mulai timbulnya kesadaran diri saya
untuk berpenampilan lebih menarik lagi. Peristiwa ini sesuai dengan teori yang telah
dipaparkan oleh freud tentang mekanisme pertahanan diri. Dalam hal ini masuk pada bagian
pembentukan reaksi. Dimana terjadi proses penggantian impuls atau perasaan yang
menimbulkan ketakutan atau kecemasan. Dalam perisitiwa ini saya menyadari bahwa saya
memiliki ketakutan bilamana saya dihindari banyak orang akibat penampilan saya yang acak-
acakan dan cenderung tidak menarik sama sekali. Maka dari itu saya berusaha untuk menutupi
ketakutan saya dengan mulai memperbaiki penampilan saya dengan harapan orang lain akan
senang melihat penampilan saya dan tidak menghindari saya lagi.