Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Meteran
Meteran disebut juga sebagai pita ukur atau tape atau bisa disebut juga
sebagai rol meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jarak atau panjang.
Meteran juga berguna untuk mengukur sudut, membuat sudut siku-siku, dan juga
dapat digunakan untuk membuat lingkaran.
Satuan yang digunakan dalam meteran adalah mm atau cm, feet tau inch.
Pita ukur atau meteran tersedia dalam ukuran panjang 10 meter, 15 meter, 30
meter sampai 50 meter. Pita ukur biasanya dibagi pada interval 5 mm atau 10 mm.
Meteran juga memiliki daya muai dan daya regang. Daya muai adalah
tingkat pemuaian akibat perubahan suhu udara. Dan daya regang adaah perubahan
panjang akibat regangan atau tarikan. Daya muai dan daya regang meteran
dipengaruhi oleh jenis meteran, yang di bedakan berdasarkan bahan yang
digunakan dalam pembuatannya.
Penyajian angka nol pada meteran ada yang di nyatakan tepat di ujung awal
meteran dan ada pula yang dinyatakan pada jarak tertentu dari ujung awal meteran
Ada tiga jenis meteran atau pita ukur yaitu :
 Meteran atau pita ukur dari kain ( metalic cloth )
Meteran atau pita ukur ini terbuat dari kain linen dan anyaman kawat halus
yang terbuat dari tembaga atau kuningan. Meteran ini mempunyai sifat sebagai
berikut :
1. Fleksibel
2. Mudah rusak
3. Pemuaiannya besar
4. Dan tingkat ketelitiannya sangat rendah
 Meteran atau pita ukur baja ( steel tape )
Meteran atau pita ukut ini terbuat dari bahan baja. Meteran ini mepunyai sifat
sebagai berikut :
1. Agak kaku
2. Tahan lama
3. Tahan air
4. Pemuaiannya kecil
5. Tingkat ketelitiannya agak teliti atau sedang (alat ukur,2015) .

Gambar 1.Meteran
(Sumber : http://alatukur.web.id )

2.2 Abney Level


Abney level digunakan untuk mengukur kemiringan lahan. Dapat juga untuk
mengukur ketinggian benda seperti pohon, rumah, dan sebagainya. Penggunaan
clinometer lebih praktis daripada penggunaan abney level karena, sebab surveyor
hanya tingggal membaca besaran sudut atau kemiringan lahan tersebut dalam dua
macam satuan, yaitu derajat dan persentase. Untuk cara penggunaan clinometer
hampir sama dengan kompas, yaitu mata yang kanan melihat skala clinometer,
sedangkan mata kiri menuju objek. Kedua mata membidik sasaran dalam posisi
sejajar. Selain digunakan untuk mengukur besarnya lereng dalam dua satuan, yaitu
derajat (skala kiri) dan persentase (skala kanan), clinometer ini juga digunakan
untuk mengukur tinggi pohon, bangunan atau objek-objek yang lainnya (Abdullah,
1993).
Penyipat abney terdiri atas tabung bidik berpenampang segi empat,
panjangnya 127 mm, dilengkapi dengan tabung teleskop yang mencapai panjang
178 mm. Tabung teleskop dilengkapi dengan lubang bidik pada ujung bidik dan
benang silang garis horizontal, sehingga lengkaplah susunan pembidikan. Pada
tabung bidik empat persegi panjang disekrupkan busur setengah lingkaran
berskala derajat dibaca dengan nonius. Pada sumbu busur dipasang suatu nino

spiritus. Dalam tabung bidik dipasang cermin yang membentuk sudut 450 dengan

garis bidik, yang memungkinkan pengamat melihat secara serentak nivo spiritus
melalui cermin dan target di tempat yang jauh pada benang silang. Untuk mengatur
sudut kemiringan, penyipat abney ditempatkan pada mata sedemikian rupa
sehingga gelembung nivo terlihat pada cermin. Tabung bidik dimiringkan unutk
mengamati stasiun depan, dan dengan menggerakkan sekrup pengontrol nivo
secara lambat (Irvine, 1995).

Gambar 2. Abney Level


(Sumber : http://alatukur.web.id )

2.3 Suunto Level


Suunto PM-5 digunakan untuk mengukur suatu ketinggian, Suunto Meter
Tingginya adalah instrumen untuk mengukur seperti mengukur tingginya pohon,
dengan ketelitian besar dan cepat. Juga dapat digunakan untuk menentukan sudut
suatu gradien. Suunto Klinometer merupakan instrumen yang penggunanya
seluruh penjuru dunia seperti para pensurvei, insinyur, orang yang membuat peta,
geolog, buruh tambang dan arsitek dan banyak orang yang lain untuk mengukur
sudut vertikal dan keserongan dengan cepat dan dengan mudah.
Suunto tandem adalah suatu klinometer dan kompas ketepatan liquid-filled
di dalam satu alat. Instrument ini adalah suatu alat sempurna untuk para pensurvei,
insinyur, orang yang membuat peta, geolog, buruh tambang, arsitek dan untuk
siapa yang perlu untuk mengukur indikasi directional, sudut vertikal dan
keserongan dengan kecepatan dan ketelitian (Alat Ukur,2015 ) .

Gambar 3. Suunto Level


(Sumber : http://alatukur.web.id )

2.4 Haga Meter


Bentuk dan model elegant hampir mirip seperti pistol sehingga
memudahkan anda untuk memegang serta melakukan pengukuran dengan cara
pengintai, Di alat Haga Altimeter berselimut casing logam ringan kasar agar
menjaga serta menjaga dari pengaruh luar. Beberapa fungsi yang terdapat dialat
ini adalah :
 Mata pembidik berguna untuk sewaktu anda mengintai ke object yang
diukur
 Arah bidik mencocokan antara kita mengintai di mata pembidik
 Pemutar skala digunakan untuk memilih jarak batang yang berputar
 Tombol pengunci berfungsi untuk mengunci setelah membidik pohon
dengan
benar
 Tombol pelepas kunci fungsinya sebaliknya dengan tombol pengunci
 Skala membaca saat tombol pengunci digunakan dan muncul angka yang
Diperoleh (Indo digital,2015 ).

Gambar 4. Haga Meter


(Sumber : http://indodigital.com )

2.5 Theodolit
Theodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk
menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Berbeda
dengan waterpass yang hanya memiliki sudut mendatar saja. Di dalam
theodolit sudut yang dapat di baca bisa sampai pada satuan sekon (detik). Alat
ini dilengkapi dengan dua lingkaran berskala, yaitu lingkaran berskala
horizontal dan vertikal. Apabila sudut vertikal zenith diatur 90o atau nadir 0o
maka dapat berfungsi sebagai alat menyipat datar (Chairil,2009).
Jenis-Jenis :
Dari konstruksi dan cara pengukuran, dikenal 3 macam theodolite :
1. Theodolit Reiterasi (Theodolit sumbu tunggal)
Pada theodolite reiterasi, plat lingkaran skala (horizontal) menjadi satu
dengan plat lingkaran nonius dan tabung sumbu pada kiap.
Sehingga lingkaran mendatar bersifat tetap. Pada jenis ini terdapat sekrup
pengunci plat nonius (Chairil, 2009).
2. Theodolit Repetisi
Pada theodolite repetisi, plat lingkarn skala mendatar ditempatkan
sedemikian rupa, sehingga plat ini dapat berputar sendiri dengan tabung
poros sebagai sumbu putar. Pada jenis ini terdapat sekrup pengunci
lingkaran mendatar dan sekrup nonius (Chairil,2009).
3. Theodolite Elektro Optis
Dari konstruksi mekanis sistem susunan lingkaran sudutnya antara
theodolite optis dengan theodolite elektro optis sama. Akan tetapi
mikroskop pada pembacaan skala lingkaran tidak menggunakan system
lensa dan prisma lagi, melainkan menggunkan system sensor. Sensor ini
bekerja sebagai elektro optis model (alat penerima gelombang
elektromagnetis). Hasil pertama system analogdan kemudian harus
ditransfer ke system angka digital. Proses penghitungan secara otomatis
akan ditampilkan pada layer (LCD) dalam angka decimal (Nisa, 2008).
Gambar 5.Theodolit
(Sumber: Chairil, 2009)

2.6 Slope
Kemiringan dan panjang lereng merupakan dua hal dari topografi yang
mempengaruhi erosi. Pengaruh kemiringan dan panjang lereng terhadap erosi
disebabkan karena kecepatan aliran permukaan, dimana semakin panjang dan
curam suatu lereng maka kecepatan aliran permukaan akan semakin cepat. Dengan
demikian gaya gesek air pada tanah dan kemampuan air untuk menghanyutkan
tanah semakin besar.
Kemiringan suatu lahan adalah tingkat kecuraman lereng permukaan suatu
lahan yang dapat dinyatakan dalam satuan persen atau derajat. Satuan persen
adalah satuan yang umum digunakan untuk menyatakan kemiringan atau lereng
lahan yang menunjukkan perbandingan antara beda tinggi dengan jarak mendatar
dari dua titik yang diukur, sedangkan satuan derajat menyatakan besarnya sudut
yang dibentuk oleh garis permukaan lahan tersebut dengan garis mendatar.
Kedudukan lereng juga menentukan besar kecilnya erosi. Lereng bagian
bawah lebih mudah tererosi daripada lereng bagian atas karena momentum air
larian lebih besar dan kecepatan air larian lebih terkonsentrasi ketika mencapai
lereng bagian bawah. Dari berbagai pengamatan ternyata ”Air limpasan yang
terjadi pada tanah bertekstur sedang sampai halus umumnya meningkat dengan
meningkatnya kemiringan, sedangkan pada tanah bertektur pasir meningkatnya
kemiringan tidak selalu meningkatkan limpasan. Namun demikian dengan
meningkatnya kemiringan erosi selalu meningkat.
Lahan dengan kemiringan yang cukup dapat mengakibatkan air mengalir
ke bagian yang lebih rendah merupakan faktor penyebab erosi. Sudah dapat diduga
pada lahan curam, air lebih dari hujan yang jatuh akan mengalir ke bagian yang
lebih rendah dengan kecepatan lebih tinggi dibanding aliran pada lahan dengan
kemiringan yang lebih landai, sehingga terjadinya erosi akan lebih serius.
Panjang lereng juga memegang peranan penting. Makin panjang lereng,
akumulasi limpasan permukaan makin besar, sehingga volume dan kecepatannya
akan semakin meningkat, yang berarti daya gerus dan angkutnya semakin tinggi.
Sehubungan dengan erosi ini sertiap negara menetapkan batas meksimum
kemiringan lereng untuk daerah yang dapat diusahakan pertanian (arable land)
berbeda-beda. Di Afrika tengah maksimum kemiringan adalah 12 %, do Filipina
25 % dan di Israel 35 %.
Hubungan antara erosi dan kemiringan dan panjang lereng seperti terlihat pada
Gambar di bawah ini:

(a) (b)
Gambar 6. Hubungan antara erosi dan kemiringan (a) dan panjang lereng (b)
(Sumber : McCormac, 2004)

Berdasarkan hal di atas pula tindakan-tindakan konservasi secara mekanis


umumnya berkaitan dengan usaha-usaha memperpendek dan memperkecil lereng
lahan yang akan digunakan.
Konversi satuan derajat ke dalam satuan persen dapat menggunakan persamaan
berikut:
 Satuan derajat = tg satuan %
 Satuan % = arc tg satuan derajat
Contoh:
o Lereng 45o → tg 45o = 1, berarti persen kemiringan lahan = 100%
o Lereng 15o→ 15o = 0,2679, berarti persen kemiringan lahan = 26,79%
o Lereng 15 %→ arc tg 0,15 = 8,53, berarti sudut kemiringan lahan = 8,53o
Besarnya kemiringan suatu lahan dapat diketahui dengan beberapa cara yaitu
dengan menggunakan alat yang sederhana maupun alat yang lebih modern.
Beberapa alat pengukur kemiringan di lapangan diantaranya adalah meteran,
busur derajat, suunto level/klinometer, abney level, haga meter, waterpass,
theodolite.
Tabel 1: Klasifikasi Kemiringan Lereng dan Kategori Bentuk

Kemiringan Kelas Kemiringan


Lahan (%) Lahan Relief
0 –3 Datar Datar
3 –8 Agak Miring Landai
8 – 15 Miring Berombak
1 –
5 25 Agak Terjal Bergelombang
2 –
5 40 Terjal Berbukit
> 40 Curam Bergunung
(Sumber : McCormac, 2004)

Reliefnya Land slope atau kemiringan lahan merupakan faktor yang sangat perlu
untuk dperhatikan, sejak dari penyiapan lahan pertanian, usaha penanamannya,
pengambilan produk-produk serta pengawetan lahan tersebut, karena lahan yang
mempunyai kemiringan itu dapat dikatakan lebih mudah terganggu atau rusak,
lebih-lebih kalau derajat kemiringanya besar. Derajat kemiringan dan panjang
lereng merupakan dua sifat yang utama dari topografi yang memepengaruhi
besarnya erosi. Makin curam dan makin panjang lereng maka makin besar pula
besar kecepatan aliran air permukaan dan bahaya erosi. Bila kita hubungkan
kenyataan ini dengan lereng yang gundul, maka inilah yang termudah untuk
terjadinya erosi ditijau dari sudut topografi, karena kecepatan daripada aliran air
di permukaan dapat dengan mudah mengikis lapisan atas tanah (McCormac,
2004).
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, S. 1993. Survai Tanah dan Evaluasi Lahan. Jakarta : Penebar Swadaya.

Alat Ukur . 2015.Meteran. Terdapat di: http://alatukur.web.id . diakses pada


tanggal 21 September 2017 pukul 16.13 WIB.

Alat Ukur . 2015.Suunto Level Terdapat di: http://alatukur.web.id . diakses pada


tanggal 21 September 2017 pukul 16.13 WIB.

Chairil. 2009. Theodolit .Terdapat di: http://ftsl.itb.ac.id. diakses pada tanggal 21


September 2017 pukul 16.20 WIB.

Indo Digital . 2015. Haga Meter. Terdapat di: http://indodigital.com . diakses


pada tanggal 21 September 2017 pukul 16.13 WIB.

Irvine, W. 1995. Penyigian Untuk Konstruksi. Edisi ke II. ITB. Bandung.

McCormac, J.2004. Surveying. Fifth Edition. John Wiley & Sons, Inc.

Nisa, Mardiani. 2008. Theodolit . Terdapat di: http://dasardasarsurveying.com.


diakses pada tanggal 21 September 2017 pukul 16.20 WIB.
Debby Shafira Chandra
240110150073
BAB III

3.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pengukuran terhadap kemiringan suatu
lahan dengan beberapa alat pengukur sudut dengan ketelitian dan metode yang
berbeda-beda.Pengukuran dilakukan untuk mengetahui derajat dan persen
kemiringan lahan yang akan memengaruhi laju erosi sebab semakin miring suatu
lahan maka laju erosi juga semakin besar.
Praktikan diharuskan mengukur kemiringan lahan menggunakan lima macam
jenis alat pengukur sudut yaitu theodolite, meteran, suunto level, abney level dan
hagameter. Dari kelima alat pengukur di atas, alat ukur yang paling sulit
digunakan yaitu theodolit, tetapi theodolite memiliki tingkat ketelitian dan
keakuratan yang paling baik. Sebelum dilakukan pengukuran, praktikan yang
mengukur harus diukur tingginya sampai posisi mata agar pengukuran menjadi
konsisten.
Praktikan diharuskan mengukur sebanyak dua kali di tempat titik yang
mempunyai kemiringan berbeda-beda. Pertama, praktikan mengukur kemiringan
menggunakan alat meteran. Pada alat meteran ini, praktikan hanya dapat
menjangkau sampai posisi titik ke 1 saja, dikarenakan pada posisi ke 2 praktikan
sudah tidak dapat menjangkau jarak mendatar menggunakan meteran karena
posisinya terlalu tinggi oleh karena ini praktikan harus ikut berpindah ke posisi 2
agar tetap bisa diukur.
Pada alat ukur meteran, hasil yang diperoleh menunjukkan nilai kemiringan
pada titik posisi satu dan dua secara berturut- turut yaitu 20,53 % dan 8,38 % ,
dengan satuan derajatnya adalah 11,16° dan 4,79°. Pengukuran menggunakan
meteran ini menghasilkan pengukuran yang tidak akurat yang disebabkan oleh
posisi pita ukur yang tidak benar-benar lurus menyebabkan sudut yang terbentuk
antara tinggi dan jarak datar menjadi tidak tegak lurus dan tidak membentuk sudut
siku-siku.
Cara penggunaan alat ukur abney level, suunto level dan hagameter dilakukan
oleh pengukur dengan cara membidik dan memegang alat ukur tersebut. Sebelum
membidik, terlebih dahulu praktikan diharuskan menyisir bidikan terlebih dahulu
agar bidikan tepat.
Didapatkan hasil pengukuran kemiringan dengan menggunakan alat
hagameter, abney level dan suunto level. Pada hagameter, kemiringan lahan yang
didapatkan pada titik posisi 1 dan 2 secara berturut-turut adalah 30,1 % dan 20,9
%, dengan satuan derajatnya 88,9° dan 87,26°. Pada alat abney level didapatkan
hasil kemiringannya pada titik posisi 1 dan 2 secara berturut-turut adalah 36% dan
32 %, dengan satuan derajatnya adalah 88,4° dan 88,21°. Pada alat suunto level
didapatkan hasil kemiringannya pada titik posisi 1 dan 2 secara berturut-turut
adalah 32,49 % dan 38,38 %, dengan satuan derajatnya adalah 18° dan 21°. Pada
alat ukur suunto level, dapat dikatakan tingkat keakuratannya paling rendah,
dikarenakan pada saat selesai membidik, pada alat tersebut tidak dapat mengunci
bidikan sehingga nilai bidikan sering berubah.
Pada alat ukur theodolit diperoleh nilai yang lebih akurat jika dibandingkan
dengan alat ukur lain sebab pada theodolit sudut yang diukur sangat detail hingga
satuan detik sementara pada alat ukur lain hanya sampai menit bahkan hanya
sampai satuan derajat. Pada hasil pengukuran theodolit diperoleh besarnya nilai
kemiringan yang pada titik posisi 1 dan 2 secara berturut-turut adalah 32,63 % dan
31,55 % , dengan satuan derajatnya adalah 18,0702° dan 17,511° .
Pengukuran yang tidak akurat pada praktikum kali ini juga disebabkan oleh
human error , dikarenakan cuaca sangat panas dan matahari sangat terik sehingga
konsentrasi praktikan terganggu.
Meskipun demikian hasil pengukuran pada praktikum kali ini sudah memiliki
nilai yang cukup baik meskipun akurasi pada praktikum kali ini masih jauh dari
hasil yang sebenarnya. Dari hasil pengukuran diperoleh nilai kemiringan lahan
berkisar 8 – 40 % , menurut literatur nilai itu menunjukkan bahwa lahan termasuk
ke dalam lahan yang miring dan berbukit-bukit sehingga menyebabkan erosi akan
sangat mudah terjadi pada kemiringan tersebut.
Namun karena adanya vegetasi di sekitar lahan yang diukur berupa tanaman
tahunan dan rumput maka laju erosi dapat ditekan meskipun kemiringan lahan
menjadi salah satu faktor yang mempercepat run off. Sehingga prediksi erosi
dengan pendugaan kemiringan lahan dari hasil pengukuran tidak dapat dilakukan
tanpa memerhatikan faktor-faktor lainnya.
Debby Shafira Chandra
240110150073
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1. Didapatkan hasil pengukuran kemiringan lahan dengan menggunakan
meteran pada posisi 1 dan 2 berturut-turut adalah 20,53 % dan 8,38 % ,
dengan satuan derajatnya adalah 11,16° dan 4,79° .
2. Pada hagameter, kemiringan lahan yang didapatkan pada titik posisi 1 dan
2 secara berturut-turut adalah 30,1 % dan 20,9 %, dengan satuan derajatnya
88,9° dan 87,26°.
3. Pada alat abney level didapatkan hasil kemiringannya pada titik posisi 1 dan
2 secara berturut-turut adalah 36% dan 32 %, dengan satuan derajatnya
adalah 88,4° dan 88,21°.
4. Pada alat suunto level didapatkan hasil kemiringannya pada titik posisi 1 dan
2 secara berturut-turut adalah 32,49 % dan 38,38 %, dengan satuan
derajatnya adalah 18° dan 21°.
5. Pada hasil pengukuran theodolit diperoleh besarnya nilai kemiringan yang
pada titik posisi 1 dan 2 secara berturut-turut adalah 32,63 % dan 31,55 %
, dengan satuan derajatnya adalah 18,0702° dan 17,511° .
6. Alat ukur suunto level mempunyai tingkat keakuratannya paling rendah
dikarenakan pada saat selesai membidik, pada alat tersebut tidak dapat
mengunci bidikan sehingga nilai bidikan sering berubah.
7. Alat ukur theodolite merupakan alat ukur dengan ketelitian dan keakuratan
yang paling tinggi.
8. Dari hasil pengukuran diperoleh nilai kemiringan lahan berkisar 8 – 40 %
9. Menurut literatur nilai itu menunjukkan bahwa lahan termasuk ke dalam
lahan yang miring dan berbukit-bukit sehingga menyebabkan erosi akan
sangat mudah terjadi pada kemiringan tersebut.

4.2 Saran
Saran dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1. Diperlukan ketelitian yang cukup tinggi saat melakukan pengukuran dan
perhitungan kemiringan lahan.
2. Sebelum melaksanakan praktikum sebaiknya praktikan mempelajari dahulu
materi praktikum yang akan dipraktikan.