Anda di halaman 1dari 23

BAB II

LANDASAN TEORI
A. DEFINISI LARUTAN
Larutan didefinisikan sebagai campuran dua atau lebih zat yang membentuk satu
macam fasa (homogen) dan sifat kimia setiap zat yang membentuk larutan tidak
berubah.Larutan disebut campuran karena susunannya atau komposisinya dapat berubah.
Larutan pun disebut homogen karena susunanya begitu seragam sehingga tidak dapat
diamati adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optis sekalipun.
Homogen juga dapat diartikan suatu kondisi dimana tidak ada kecenderungan zat-zat
dalam larutan terkonsentrasi pada bagian-bagian tertentu, melainkan menyebar secara
merata di seluruh campuran.Sifat-sifat fisika zat yang dicampurkan dapat berubah atau
tidak, tetapi sifat-sifat kimianya tidak berubah.
Fase larutan dapat berwujud gas, padat ataupun cair. Larutan gas misalnya udara.
Larutan padat misalnya perunggu, amalgam dan paduan logam yang lain. Larutan cair
misalnya air laut, larutan gula dalam air, dan lain-lain. Komponen larutan terdiri dari
pelarut(solvent) dan zat terlarut (solute). Pelarut adalah medium bagi zat terlarut yang
dapat berperan serta dalam reaksi kimia dalam larutan atau meninggalkan larutan karena
pengendapan atau penguapan. Dan uraian mengenai gejala ini memerlukan komposisi
larutan.
Sedangkan zat terlarut adalah komponen dari larutan yang memiliki jumlah lebih
sedikit dalam sistem larutan.Selain ditentukan oleh kuantitas zat, istilah pelarut dan
terlarut juga ditentukan oleh sifat fisikanya (struktur). Pelarut memiliki struktur tidak
berubah, sedangkan zat terlarut dapat berubah. Contohnya yaitu dapat kita lihat pada
larutan garam. Di dalam larutan garam, air yang digunakan lebih banyak daripada garam,
sehingga air merupakan pelarutnya. Kemudian air sendiri bentuknya tidak berubah (tetap
cair) walaupun telah dicampur dengan garam yang berbentuk kristal. Sebaliknya pada
garam terjadi perubahan bentuk dimana sebelumnya berbentuk kristal menjadi bentuk cair
atau melarut dalam air, sehingga disebut zat terlarut.
Larutan sendiri dapat terjadi karena adanya gaya tarik-menarik antara molekul-
molekul solven dan solute. Pada bagian ini yang dibahas adalah larutan cair. Pelarut cair
umumnya adalah air. Pelarut cair yang lain misalnya benzena, kloroform, eter, dan
alkohol.

B. KLASIFIKASI LARUTAN
1. Berdasarkan banyak sedikitnya zat terlarut
a. Larutan Pekat
Larutan pekat yaitu larutan yang relatif mengandung lebih banyak
solute (zat terlarut) dibanding solvent (zat pelarut) atau memiliki konsentrasi
yang lebih tinggi.
b. Larutan Encer
Larutan encer yaitu larutan yang relatif mengandung lebih sedikit
solute (zat telarut) dibanding solvent (zat pelarut) atau memiliki konsentrasi
yang lebih rendah.

2. Berdasarkan daya hantarnya


Larutan elektrolit yaitu larutan yang dapat menghantarkan arus listrik jika
larutan tersebut mengandung partikel-partikel yang bermuatan listrik (ion-ion) dan
bergerak bebas di dalam larutannya.
Larutan elektrolit dapat dibagi menjadi dua, yaitu larutan elektrolit kuat dan
larutan elektrolit lemah.Larutan elektrolit kuat yaitu larutan yang terbentuk dari zat
elektrolit yang terurai atau terionisasi sempurna (elektrolit kuat).Sedangkan larutan
elektrolit lemah yaitu larutan yang terbentuk dari zat elektrolit yang tidak terurai
atau terionisasi secara sempurna (elektrolit lemah).
a. Elektrolit kuat
Elektrolit kuat memiliki ciri-ciri antara lain; dapat terionisasi sempurna, dapat
menghantarkan arus listrik, lampu menyala terang, serta memiliki gelembung gas.
Pada asam-asam kuat seperti HCl, HNO3, dan H2SO4, gugus sisa asamnya
memiliki daya tarik relatif kuat terhadap pasangan elektron ikatan sehingga
hampir semua molekul asam dalam air terionisasi. Dapat dikatakan bahwa asam-
asam tersebut terionisasi sempurna.
HCl(aq) → H+(aq) + Cl–(aq)
Larutan elektrolit kuat tidak hanya berupa asam-asam kuat (H2SO4, HCl). Namun
dapat juga berupa basa-basa kuat (NaOH, Ba(OH)2), serta garam (NaCl, KCl).

b. Elektrolit Lemah
Elektrolit lemah memiliki ciri-ciri sebagai berikut; terionisasi sebagian, dapat
menghantarkan arus listrik, lampu menyala redup, dan terdapat gelembung gas
namun tidak sebanyak pada elektrolit kuat.
Pada asam-asam lemah seperti CH3COOH, H2S, HCN, dan H2SO3, gugus sisa
asamnya memiliki daya tarik kurang kuat sehingga tidak semua molekul-molekul
asam ini dalam air terionisasi, tetapi hanya sebagian kecil.Sisanya tetap dalam
bentuk molekulnya.

Tanda panah dua arah menunjukkan hanya sebagian kecil dari asam asetat
terurai menjadi ion-ionnya.Umumnya tetap sebagai molekul.Larutan elektrolit
lemah biasanya berupa senyawa-senyawa dari asam lemah (HCN, CH3COOH)
serta basa lemah (NH4OH, Al(OH)3 ).

c. Larutan Non Eletrolit


Larutan non elektrolit yaitu larutan yang molekul-molekulnya tidak terionisasi
sehingga tidak ada ion-ion yang dapat menghantarkan aruslistrik. Contohnya
seperti larutan gula, larutan urea, larutan alkohol. Zat nonelektrolit dalam larutan,
tidak terurai menjadi ion-ion tetapi tetap berupa molekul.

3. Berdasarkan kejenuhannya
a. Larutan Sangat Jenuh
Larutan sangat jenuh yaitusuatu larutan yang mengandung lebih banyak solute
(zat terlarut) daripada yang diperlukan untuk larutan jenuh.Larutan tidak dapat lagi
melarutkan zat terlarut sehingga terjadi endapan.Larutan sangat jenuh terjadi apabila
bila hasil kali konsentrasi ion > Ksp sehingga menyebabkan pengendapan (kelewat
jenuh).

b. Larutan Jenuh
Larutan jenuh yaitu suatu larutan yang partikel- partikelnya tepat habis
bereaksi dengan pereaksi (zat dengan konsentrasi maksimal). Larutan jenuh terjadi
apabila hasil konsentrasi ion = Ksp maka larutan tersebut tepat jenuh.

c. Larutan Tak Jenuh


Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute (zat terlarut) kurang
dari yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh.Larutan ini partikel- partikelnya
tidak tepat habis bereaksi dengan pereaksi (masih bisa melarutkan zat). Larutan tak
jenuh terjadi apabila bila hasil kali konsentrasi ion < Ksp ( masih dapat larut).

4. Larutan Asam-Basa
a. Asam Basa Menurut Arhenius
Menurut Arrhenius, asam adalah zat yang bila dilarutkan di dalam air
meningkatkan konsentrasi ion H+(aq). Asam Arrhenius dirumuskan sebagai HxZ, yang
dalam air mengalami ionisasi sebagai berikut :
HxZ ⎯ ⎯ → x H+ + Zx-
Jumlah ion H+ yang dapat dihasilkan oleh 1 molekul asam disebut valensi
asam, sedangkan ion negatif yang terbentuk dari asam setelah melepaskan ion H+
disebut ion sisa asam.
Berdasarkan valensinya, asam dibedakan atas:
1) Asam bervalensi satu, misalnya: HCl, HCN, HNO3, CH3COOH, dan
lain-lain.
2) Asam bervalensi dua, misalnya: H2SO4, H2CrO4, H2CO3, dan lain-lain.
3) Asam bervalensi tiga, misalnya: H3PO4, H3AsO4, dan lain-lain.
Sifat-sifat asam diantaranya, yaitu di dalam air menghasilkan ion H+ , dapat
mengubah warna kertas lakmus biru menjadi merah, larutannya dalam air dapat
menghantarkan arus listrik (larutan elektrolit), dan dapat menyebabkan perkaratan
pada logam (korosif).
Basa adalah zat yang bila dilarutkan di dalam air dapat meningkatkan
konsentrasi ion OH-(aq).Jadi, pembawa sifat basa adalah ion OH-.
Jumlah ion OH- yang dapat dihasilkan oleh satu molekul basa disebut valensi
atau martabat basa. Berdasarkan valensinya basa dibedakan atas:
1) Basa bervalensi satu, misalnya: NaOH, KOH, AgOH, NH4OH, dan
lain-lain.
2) Basa bervalensi dua, misalnya: Ca(OH)2, Mg(OH)2,Fe(OH)2, dan lain-
lain.
3) Basa bervalensi tiga, misalnya: Fe(OH)3, Cr(OH)3, dan lain-lain.
Sifat yang dimiliki oleh basa, yaitu jika di dalam air dapat menghasilkan ion
OH-, dapat mengubah warna kertas lakmus merah menjadi biru, larutannya dalam air
dapat menghantarkan arus listrik (larutan elektrolit), dan jika mengenai kulit, maka
dapat menyebabkan kulit melepuh (kaustik).

Walaupun teori Arrhenius berhasil mengungkapkan beberapa kasus, tetapi


memiliki keterbatasan. Selain hanya memandang aspek reaksi asam-basa di dalam
pelarut air, juga pembentukan ion H+ atau ion OH merupakan kekhasan teori asam-
basa Arrhenius. Artinya jika suatu reaksi tidak membentuk ion H+ atau ion OH tidak
dapat dikatakan sebagai asam atau basa.

b. Teori Asam Basa Bronsted–Lowry

Menurut Bronsted-Lowry, dalam reaksi yang melibatkan transfer proton, asam


adalah spesi yang bertindak sebagai donor proton. Contoh pada reaksi asam ini dapat
dilihat sebagai berikut:
HCl + H2O --> H3O+ + Cl-
Sedangkan basa adalah spesi yang bertindak sebagai akseptor proton. Contoh
dari reaksi basa ini dapat dilihat pada:
NH3 + H2O --> NH4+ + OH-
Proton (ion H+) dalam air tidak berdiri sendiri melainkan terikat pada molekul
air karena atom O pada molekul H2O memiliki pasangan elektron bebas yang dapat
digunakan untuk berikatan kovalen koordinasi dengan proton membentuk ion
hidronium, H3O+. Persamaan reaksinya:
H2O(l) + H+(aq) → H3O+(aq)
Dalam larutan, asam atau basa lemah akan membentuk kesetimbangan dengan
pelarutnya. Misalnya HF dalam pelarut air dan NH3 dalam air.
Pasangan a1 – b2 dan a2 – b1 merupakan pasangan asam – basa
konjugasi.Asam konjugasi yaitu asam yang terbentuk dari basa yang menerima
proton. Basa konjugasi yaitu basa yang terbentuk dari asam yang melepas proton
Teori Brönsted – Lowry memperkenalkan adanya zat yang dapat bersifat asam
maupun basa, yang disebut sebagai zat amfoter. Contohnya adalah air. Di dalam
larutan basa, air akan bersifat asam dan mengeluarkan ion positif (H3O+). Sedangkan
dalam larutan asam, air akan bersifat basa dan mengeluarkan ion negatif (OH-).

c. Asam-Basa Lewis
Pada umumnya definisi asam-basa mengikuti apa yang dinyatakan oleh
Arrhenius atau Bronsted-Lowry, tapi dengan adanya struktur yang diajukan Lewis
muncul definisi asam dan basa baru. Asam Lewis didefinisikan sebagai spesi yang
menerima pasangan electron dan merupakan senyawa dengan elektron valensi < 8.
Basa Lewis didefinisikan sebagai spesi yang memberikan pasangan electron dan
mempunyai pasangan elektron bebas.
Reaksi antara boron trifluorida dengan amonia menurut teori ini merupakan
reaksi asam-basa; dalam hal ini boron trifluorida berindak sebagai asam dan amonia
sebagai basa. Dengan menggunakan diagram dot-elektron, persamaan reaksi kedua
spesies ini dapat dituliskan sebagai berikut:

Di dalam kulit valensi atom pusat N dalam molekul NH3, terdapat tiga pasang
elektron ikatan (N-H) dan satu pasang elektron menyendiri, sedangkan untuk atom
pusat B alam molekul BF3 terdapat tiga pasang elektron ikatan (B-F). Sepasang
elektron menyendiri atom elektron non bonding ini dapat disumbangkan kepada atom
pusat B untuk kemudian dimiliki bersama-sama, Dengan demikian terjadi ikatan
kovalen koordinat B-N dan struktur yang terjadi berupa dua bangun tetrahedron
bersekutu pada salah satu sudutnya.
d. Kekuatan Asam- Basa
Asam dapat dibedakan menjadi asam kuat dan asam lemah, begitu pula
basa. Reaksi ionisasi asam kuat, secara umum dapat ditulis
1) Asam kuat
Disebut asam kuat karena zat terlarut dalam larutan ini mengion seluruhnya
(α = 1 Untuk menyatakan derajat keasamannya, dapat ditentukan langsung
dari konsentrasi asamnya dengan melihat valensinya.
2) Asam lemah
Disebut asam lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak mengion
seluruhnya, α ≠ 1, (0 < α < 1).Penentuan besarnya derajat keasaman tidak
dapat ditentukan langsung dari konsentrasi asam lemahnya (seperti halnya
asam kuat).
3) Basa kuat
Disebut basa kuat karena zat terlarut dalam larutan ini mengion seluruhnya (α
= 1). Pada penentuan derajat keasaman dari larutan basa terlebih dulu
dihitung nilai pOH dari konsentrasi basanya.
4) Basa lemah
Disebut basa lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak mengion
seluruhnya, α ≠ 1, (0 < α < 1). Penentuan besarnya konsentrasi OH- tidak
dapat ditentukan langsung dari konsentrasi basa lemahnya (seperti halnya
basa kuat).

5. Larutan Penyangga (Buffer)


Larutan penyangga atau larutan buffer adalah larutan yang dapat
mempertahankan pH tertentu terhadap usaha mengubah pH, seperti penambahan
asam, basa, ataupun Pengenceran. Dengan kata lain pH larutan penyangga tidak akan
berubah walaupun pada larutan tersebut ditambahkan sedikit asam kuat, basa kuat
atau larutan tersebut diencerkan.
Jadi, ada 2 jenis larutan penyangga yaitu:

Larutan penyangga asam yang terdiri dari campuran asam lemah dan basa konjugasinya.
a. Larutan penyangga basa yang terdiri dari campuran basa lemah dan asam
konjugasinya.
Larutan penyangga dapat dibuat secaralangsung dan secara tidak langsung.Hal
ini tergantung dari sumber asam konjugasi/basa konjugasi dari asam lemah/ basa
lemahnya.

Perhatikan peta konsep larutan penyangga

1) Sistem penyangga asam dan basa konjugasinya


Larutan penyangga ini dibuat secara langsung dari campuran asam lemah
dengan basa konjugasinya atau campuran asam lemah dengan garamnya.
Contoh :
Mereaksikan :
a. CH3COOH dari CH3COONa :
CH3COOH : asam lemah
CH3COONa : basa konjugasi
b. H3PO4 dan NaH2PO4 :
H3PO4 : asam lemah
NaH2PO4 : basa konjugasi
Selain dibuat secara langsung, juga dapat dibuat secara tidak langsung, yakni
dengan mereaksikan asam lemah berlebihan dengan basa kuat.
Contoh :
Mereaksikan 100 mL larutan CH3COOH 0,1M dengan 50 mL NaOH 0,1M
sehingga secara stokiometri dalam 150 mL campuran yang dihasilkan terdapat
0,005mol CH3COOH (sisa reaksi) dan CH3COO- (hasil reaksi)

2) Sistem penyangga basa dan asam konjugasinya


Larutan penyangga ini dibuat secara langsung dari campuran basa lemah
dengan asam konjugasinya atau campuran basa lemah dengan garamnya.
Contoh :
Mereaksikan larutan NH3atau NH4OH dengan larutan NH4Cl sehingga
terdapat NH4OHdan NH4+ yang berasal dari ionisasi NH4Cl.
Selain dibuat secara langsung juga dapat dibuat secara tidak langsung, yakni
dengan mereaksikan basa lemah berlebihan dengan asam kuat.

Contoh :
Mereaksikan 100 mL larutan NH4OH 0,1M dengan 50 mL larutan HCl 0,1M
sehingga secara stokiometri dalam 150 mL campuran yang dihasilkan terdapat 0,005
mol NH4OH (sisa reaksi) dan NH4+ (hasil reaksi)
Kegunaan Larutan Penyangga

Dalam tubuh manusia terdapat sistem penyangga yang berperan dalam mempertahankan pH,
seperti:

a. Buffer darah, pH darah berkisar 7,35- 7,45. pH darah < 7,35 disebut
keadaan asidosis. Jika pH darah lebih kecil dari 7,0 atau lebih besar dari 7,8 ;
maka akan menimbulkan kematian. Untuk menjaga agar pH darah tidak
banyak berubah, maka dalam darah terdapat sistem penyangga H2CO3 / HCO3-
.
b. Bffer cairan tubuh. Dalam cairan sel tubuh terdapat sistem penyangga H2PO4- /
HPO42-. Campuran penyangga tersebut berperan juga dalam ekskresi ion
H+ pada ginjal
2. Dalam industri farmasi, larutan penyangga berperan dalam pembuatan obat- obatan,
agar zat aktif obat tersebut mempunyai pH tertentu Larutan penyangga yang umum
digunakan dalam industri farmasi adalah larutan asam basa konjugasi senyawa fosfat.

C. KONSENTRASI LARUTAN
Larutan adalah campuran homogen dari dua atau lebih zat (unsur/molekul). Ketika
ditempatkan dalam air, kebanyakan zat akan terlarut dan zat yang terlarut ini disebut
soluble (dapat larut) dan yang lainnya yang tidak dapat larut disebut insoluble (tidak
dapat larut). Garam dan gula sangat mudah larut dalam air.
Dalam suatu larutan, zat yang menunjukkan jumlah yang lebih besar disebut dengan
pelarut dan zat yang jumlahnya lebih sedikit disebut zat terlarut. Apa artinya bahwa suatu
zat terlarut dalam zat lainnya? Hal ini berarti bahwa molekul-molekul dari zat terlarut
terpisah dan terdistribusikan secara merata dalam pelarut
Zat tidak dapat larut (insoluble) mempertahankan keadaannya agar tidak terdistribusi
dalam pelarut. Biasanya yang digunakan sebagai pelarut adalah air, karena kebanyakan
zat padat akan terlarut dalam air, tetapi sebenarnya hampir semua cairan dapat dijadikan
pelarut
Konsentrasi adalah jumlah zat yang terlarut yang hadir terhadap jumlah pelarut atau
terhadap jumlah larutan tertentu. Dalam hal ini kita bisa mengasumsikan zat terlarut yang
wujudnya cair atau padat, sedangkan pelarutnya berwujud zat cair. Ada beberapa jenis
konsentrasi, diantaranya molaritas (M), molalitas (m), normalitas (N), persen (%), ppm
(part per million), ppb (part per billion), dan sebagainya.
Banyaknya zat yang terdapat dalam suatu larutan dapat diketahui dengan
menggunakan konsentrasi larutan yang dinyatakan dalam molaritas. Molaritas adalah
suatu cara menyatakan konsentrasi atau kepekaan larutan. Molaritas menyatakan
banyaknya mol zat dalam 1 liter larutan. Molaritas dilambangkan dengan M dan memiliki
satuan mol/L atau mmol/mL. Secara matematis, rumus molaritas adalah sebagai berikut.

Atau dapat dijelaskan dengan memakai rumus :

𝒈𝒓𝒂𝒎 𝒁𝒂𝒕 𝑻𝒆𝒓𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕 𝟏𝟎𝟎𝟎


M= × 𝑽𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆 𝑳𝒂𝒓𝒖𝒕𝒂𝒏 𝒎𝑳
𝑴𝒓 𝒁𝒂𝒕 𝑻𝒆𝒓𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕

Selain itu dapat juga dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

Dimana n merupakan jumlah mol yang terlarut dan V merupakan volume larutan
dalam setiap liter. Jika yang diketahui bukan mol tetapi gram zat terlarut, rumus diatas
dapat pula dinyatakan dengan :

1) Pengertian dan rumus Molalitas


Molalitas adalah besaran yang menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap satuan
berat pelarut. Satuan molalitas adalah molal (m) yang sama dengan mol/kilogram. Jika n
mol senyawa dilarutkan dalam P kilogram pelarut, maka rumus molalitas larutan adalah
sebagai berikut.

𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑍𝑎𝑡𝑇𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 1000


m= × 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝑀𝑟 𝑍𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
2) Normalitas Larutan (N)
Normalitas adalah besaran yang menyatakan jumlah mol ekivalen zat terlarut dalam
tiap satuan volume larutan. Satuan normalitas adalah normal (N) yang sama dengan mol
ekivalen/liter. Rumus normalitas larutan adalah sebagai berikut.
𝒈𝒓𝒂𝒎 𝒁𝒂𝒕 𝑻𝒆𝒓𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕 𝟏𝟎𝟎𝟎
N= × 𝑽𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆 𝑳𝒂𝒓𝒖𝒕𝒂𝒏 (𝒎𝑳)
𝑩𝑬 𝒁𝒂𝒕 𝑻𝒆𝒓𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕

3) Persen Konsentrasi

Pada umumnya di bidang kimia, persen digunakan untuk menyatakan konsentrasi


suatu larutan. Persen konsentrasi dapat dibagi menjadi persen volume dan persen berat.
Untuk mengukur persen berat (%W/W) menggunakan rumus :

𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑍𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 (𝑔)


% b/b = × 100%
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑔

Untuk mengukur persen volume (%V/V) menggunakan rumus :

𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑍𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡


% v/v = × 100%
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛

Sedangkan untuk mengukur berat dan volume (% B/V) menggunakan rumus :

𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑍𝑎𝑡 𝑇𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟


%b/v = × 100%
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛

4) PPM ( part per million )

PPM atau “Part per Million” jika dibahasa Indonesiakan akan menjadi “Bagian
per Sejuta Bagian” adalah satuan konsentrasi yang sering dipergunakan di dalam
cabang Kimia Analisa. Satuan ini sering digunakan untuk menunjukkan kandungan
suatu senyawa dalam suatu larutan misalnya kandungan garam dalam air laut,
kandungan polutan dalam sungai, atau biasanya kandungan yodium dalam garam juga
dinyatakan dalam ppm.
Seperti halnya namanya yaitu ppm, maka konsentrasinya merupakan
perbandingan antara berapa bagian senyawa dalam satu juta bagian suatu sistem.
Sama halnya denngan “prosentase” yang menunjukan bagian per seratus. Jadi rumus
ppm adalah sebagai berikut

𝑴𝒈 𝒁𝒂𝒕 𝑻𝒆𝒓𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕
Ppm = 𝑽𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆 𝑳𝒂𝒓𝒖𝒕𝒂𝒏 (𝑳) × 𝟏𝟎𝟎%

5) PPB ( part per billion )

PPB atau “Part per Billion” jika dibahasa Indonesiakan akan menjadi “Bagian per
Semiliar Bagian” Satuan ini sering digunakan untuk menunjukkan kandungan suatu
senyawa dalam suatu larutan misalnya kandungan garam dalam air laut, kandungan
polutan dalam sungai, atau biasanya kandungan yodium dalam garam juga
dinyatakan dalam ppm.
Seperti halnya namanya yaitu ppm, maka konsentrasinya merupakan
perbandingan antara berapa bagian senyawa dalam satu juta bagian suatu sistem.
Sama halnya denngan “prosentase” yang menunjukan bagian per seratus. Jadi rumus
ppb adalah sebagai berikut :

𝝁 𝒁𝒂𝒕 𝑻𝒆𝒓𝒍𝒂𝒓𝒖𝒕
Ppb = 𝑽𝒐𝒍𝒖𝒎𝒆 𝑳𝒂𝒓𝒖𝒕𝒂𝒏 (𝑳) × 𝟏𝟎𝟎%

D. TEKNIK MENIMBANG DAN PELARUTAN

Neraca digital merupakan alat yang sering ada dalam laboratorium yang digunakan
untuk menimbang bahan yang akan digunakan. Neraca digital berfungsi untuk membantu
mengukur berat serta cara kalkulasi fecare otomatis harganya dengan harga dasar satuan
banyak kurang. Cara kerja neraca digital hanya bisa mengeluarkan label, ada juga yang
hanya timbul ditampilkan layar LCDnya. Kita mengenal neraca digital sebagai alat ukur
untuk satuan berat. Dibandingkan dengan neraca jaman dulu yang masih menggunakan
neraca analog atau manual, neraca digital memiliki fungsi lebih sebagai alat ukur,
diantaranya neraca digital lebih akurat, presisi, akuntable (bisa menyimpan hasil dari
setiap penimbangan)
Menimbang benda adalah menimbang sesuatu yang tidak memerlukan tempat dan
biasanya tidak dipergunakan pada reaksi kimia, seperti menimbang cawan, gelas kimia
dan lain-lain. Menimbang zat adalah menimbang zat kimia yang dipergunakan untuk
membuat larutan atau akan direaksikan. Untuk menimbang zat ini diperlukan tempat
penimbangan yang dapat digunakan seperti gelas kimia, kaca arloji dan kertas timbang.
Menimbang zat dengan penimbangan selisih dilakukan jika zat yang ditimbang
dikhawatirkan akan menempel pada tempat menimbang dan sukar untuk dibilas. Pada
penimbangan selisih akan diperoleh berat zat yang masuk ke dalam tempat yang
diinginkan bukan pada tempat menimbang.
Dalam praktikum biologi neraca ini biasa digunakan untuk menimbang bahan-bahan
yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil. Beberapa praktikum yang sering
memerlukan alat ini yaitu praktikum mikrobiologi dan kultur jaringan, dimana neraca ini
digunakan untuk menimbang bahan yang akan digunakan untuk membuat media untuk
bakteri, jamur ataupun untuk media tanam kultur jaringan.
Selain itu dengan adanya tingkat ketelitian yang tinggi maka hal tersebut dapat
meminimalkan kesalahan dalam pengambilan media yang dibutuhkan. Jumlah media
yang tidak tepat dalam pembuatan media baik untuk kultur jaringan ataupun media
bakteri tentunya akan berpengaruh terhadap konsentrasi zat dalam media. Hal tersebut
dapat menyebabkan terjadinya kekeliruan dalam hasil praktikum yang dilaksanakan.

PENIMBANGAN SAMPEL

Dalam penimbangan sampel, dapat digunakan dua jenia neraca yaitu neraca analitik
sederhana dan neraca analitik digital. Neraca analitik digital merupakan salah satu
neraca yang memiliki tingkat ketelitian tinggi, neraca ini mampu menimbang zat atau
benda sampai batas 0,0001g. Sedangkan neraca analitik sederhana adalah neraca yang
memiliki dua pinggan, yang harus diperhatikan titik nolnya sebelum menimbang.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan bekerja dengan neraca ini adalah :
a. Neraca harus dalam keadaan datar, perhatikan waterpass agar berada di tengah
b. Neraca harus dalam keadaan bersih, hindari bersentuhan langsung kulit dengan
bagian - bagian neraca agar lemak tidak menempel. Gunakan sarung tangan bila
perlu
c. Sesuai standar operasional prosedur, ruangan yang baik untuk neraca adalah ruang
yang kedap udara dan tertutup rapat.
Langkah kerja penimbangan yang meliputi :
a. Persiapan pendahuluan alat-alat penimbangan, siapkan alat dan zat yang akan
ditimbang, sendok spatula, kaca arloji dan kertas isap.
b. Pemeriksaan pendahuluan terhadap neraca meliputi: periksa kebersihan neraca
(terutama piring-piring neraca), kedataran dan kesetimbangan neraca.

A. c. Penimbangan, dapat dilakukan setelah diperoleh keadaan setimbang pada


neraca dan timbangan pada posisi nol, demikian pula setelah penimbangan selesai
timbangan dikembalikan seperti semula kalibrasi.

Pengontrolan Neraca Digital


Timbangan/Neraca dikontrol dengan menggunakan anak timbangan yang
sudah terpasang atau dengan dua anak timbangan eksternal, misal 10 gr dan 100 gr.
Timbangan/Neraca digital, harus menunggu 30 menit untuk mengatur temperatur. Jika
menggunakan timbangan yang sangat sensitif, hanya dapat bekerja pada batas temperatur
yang ditetapkan.
Timbangan harus terhindar dari gerakan (angin) sebelum menimbang angka
“nol” harus dicek dan jika perlu lakukan koreksi. Penyimpangan berat dicatat pada
lembar/kartu kontrol, dimana pada lembar tersebut tercantum pula berapa kali timbangan
harus dicek. Jika timbangan tidak dapat digunakan sama sekali maka timbangan harus
diperbaiki oleh suatu agen (supplier).

Penanganan Neraca
Kedudukan timbangan harus diatur dengan sekrup dan harus tepat horizontal
dengan “Spirit level (waterpass) sewaktu-waktu timbangan bergerak, oleh karena itu,
harus dicek lagi. Jika menggunakan timbangan elektronik, harus menunggu 30 menit
untuk mengatur temperatur. Jika menggunakan timbangan yang sangat sensitif, anda
hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan.
Timbangan harus terhindar dari gerakan (angin) sebelum menimbang angka
“nol” harus dicek dan jika perlu lakukan koreksi. Setiap orang yang menggunakan
timbangan harus merawatnya, sehingga timbangan tetap bersih dan terawat dengan baik.
Jika tidak, sipemakai harus melaporkan kepada manajer lab. timbangan harus dikunci
jika anda meninggalkan ruang kerja.

Kebersihan Neraca
Kebersihan timbangan harus dicek setiap kali selesai digunakan, bagian dan
menimbang harus dibersihkan dengan menggunakan sikat, kain halus atau kertas (tissue)
dan membersihkan timbangan secara keseluruhan timbangan harus dimatikan, kemudian
piringan (pan) timbangan dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan
dengan menggunakan pembersih seperti deterjen yang lunak, campurkan air dan
etanol/alkohol. Sesudah dibersihkan timbangan dihidupkan dan setelah dipanaskan, cek
kembali dengan menggunakan anak timbangan.

Berikut adalah prosedur yang harus diharus diketahui dan harus dilakukan dalam
mengoprasikan neraca digital sebelum hingga setelah penimbangan :
1. Keadaan neraca harus siap pakai
2. Neraca harus bersih (terutama piring-piring neraca)
3. Anak timbangan dalam keadaan lengkap
4. Persiapan pendahuluan terhadap alat bantu penimbangan
5. Pemeriksaan kedataran neraca dan kesetimbangan neraca
6. Pekerjaan penimbangan dan perhitungan hasil penimbangan
7. Melaporkan hasil penimbangan
8. Mengembalikan neraca pada keadaan semula Proses Pengukuran

Secara umum proses menimbangan dengan neraca elektronik/digital adalah:


1. Pastikan bahwa timbangan sudah menyala, pastikan neraca dalam keadaan
datar dan waterpass berada di tengah.
2. Pastikan timbangan menunjukkan angka ”nol”( jika tidak perlu di koreksi).
3. Letakakan benda yang massanya akan diukur pada piringan tempat benda.
4. Baca skala yang tertera pada display digital sesuai skala satuan timbangan tersebut.
5. Untuk pengukuran yang sensitivitasnya tinggi perlu menunggu 30 menit, karena
hanya dapat bekerja pada batas temperatur yang ditetapkan.
Langkah kerja penimbangan dengan neraca analitik meliputi :
1. Persiapan alat bantu penimbangan untuk menimbang zat padat diperlukan :
a. Kaca arloji yang kering dan bersih, digunakan untuk menampung kelebihan zat
yang ditimbang, karena kelebihan zat tidak boleh dikembalikan ke botol.
b. Spatula
c Kertas isap untuk memegang tempat menimbang pada saat memasukan /
mengeluarkan alat timbang (dan zat) ke atau dari dalam neraca.
d. Botol timbang sebagai tempat penimbangan
e Zat yang akan ditimbang dan setelah penimbangan selesai, botol zat harus
dikembalikan ke tempatnya

2. Pemeriksaan pendahuluan terhadap neraca adalah :


a. Pemeriksaan kebersihan neraca terutama piring-piring neraca dapat
dibersihkan menggunakan sapu-sapu yang tersedia dalam neraca.
b Pemeriksaan kedataran neraca dilakukan dengan cara melihat water pass, dengan
mengatur sekrup pada kaki neraca sehingga gelembung air di water pass tepat
berada di tengah
c.Pemeriksaan kesetimbangan neraca yang dilakukan dengan membiarkan dahulu
pointer bergoyang ke kiri dan ke kanan beberapa kali. Jika goyangan maksimum ke
kiri dan ke kanan kira-kira sama jauh maka neraca dalam keadaan setimbang

3. Cara menggunakan neraca analitik sederhana


a. Nolkan terlebih dulu neraca tersebut
b. Letakkan zat yang akan ditimbang pada bagian timbangan
c. Baca nilai yang tertera pada layar monitor neraca
d. Setelah digunakan, nolkan kembali neraca tersebut
TITIK KRITIS PELARUTAN SAMPEL

Dalam.proses pelarutan sampel perlu di perhatikan hal - hal yang menjadi titik kritis,
ini untuk menghindari analat - analat yamg dapat tertinggal tidak melarut sempurna. Hal -
hal tersebut diantaranya :

1. Pada tahap penimbangan, timbang sampel secara perlahan - lahan agar tidak
menyebabkan ketidakseimbangan neraca.

2. Tuangkan sampel dalam wadah secara perlahan - lahan, pastikan seluruh analat
masuk ke dalam wadah dengan menggunakan pengaduk dan pastikan tidak ada yang
terjatuh. Bilas secara berturut - turut kaca arloji dengan pelarut kemudian bilas
batang pengaduk di atas wadah pelarutan. Jumlah pelarut yang masuk dalam
pembilasan maksimum setengah dari volume target.

3. Larutkan analat dengan batang pengaduk, gunakan magnetic stirrer bila perlu

FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERUSAKAN LARUTAN

1. Perhitungan penimbamgan analat yang salah, hal ini dapat menurunkan kualitas
larutan karena kesalahan konsentrasi

2. Ketidakstabilan baham kimia akibat pengaruh suhu maupun cahaya. Terdapat


beberapa larutan kimoa yang harus diperhatikan penyimpanannya. Contohnya,
larutan iod yang akan rusak bila terkena cahaya serta larutan kanji yang harus di
simpan dalam suhu 5 - 10 derajat celcius

Adanya kontaminasi zat lain yang menyebabkan terbentuknya endapan dan perubahan warna
akibat alat - alat yang digunakan kurang diperhatikan kebersihannya
BAB III

PEMBAHASAN

Cara Kerja Pembuatan Larutan Buffer, Garam , Asam dan Basa

A. Pembuatan Larutan Buffer Aseta sebanyak 1000 ml (menurut USP 3.7)


1. Timbang 77.1 g Ammonium asetat
2. Larutkan 77.1 g Ammonium asetat dalam air
3. Tambahkan 57 ml asam asetat glacial 100%
4. Larutkan dengan air hingga volumenya 1000 ml

B. Pembuatan Larutan Garam NaCl 0.5 M sebanyak 100 ml


1. Timbang NaCl sebanyak 2.9250 gram dengan menggunakan kaca arloji sebagai alas.
2. Masukan sampel ke dalam piala gelas 100 ml perlahan lahan, lalu bilas kaca arloji
dengan air.
3. Tambahkan air ± 50 ml untuk melarutkan NaCl, Kocok/ homogenkan larutan dengan
batang pengaduk hingga tidak ada lagi padatan yang terlihat.
4. Masukan larutan NaCl kedalam labu ukur 100 ml dengan bantuan corong dan
pengaduk.
5. Bilas piala gelas dan pengaduk dengan air, air hasil pencucian diamsukan kedalam
labu ukur 100 ml.
6. Bilas corong yang digunakan.
7. Himpitkan dengan air hingga tanda tera
8. Homogen kanlarutan.
Perhitungan :

AR Na = 23

AR Cl = 35.5

MR NaCl = 58.5

Perhitungan =
𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑁𝑎𝐶𝑙 1000
𝑀= ×
𝑀𝑅 𝑁𝑎𝐶𝑙 𝑚𝑙 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛

𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑁𝑎𝐶𝑙 1000


0.5 = ×
58.5 100

0.5 ×58.5 ×100


𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑁𝑎𝐶𝑙 = 1000
2925
𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑁𝑎𝐶𝑙 =
1000
𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑁𝑎𝐶𝑙 = 2.9250 𝑔𝑟𝑎𝑚

C. Pembuatan Larutan H2SO4 2 N sebanyak 250 ml

1. Pengerjaan dilakukan di lemari asam.


2. Ambil larutan H2SO4pa (pure analysis) 97% dengan bj 1.84 g/ml.
3. Buka botol H2SO4 lalu tuangkan larutan secukupnya kedalam piala gelas.
Masukan air ± 50 ml ke dalam piala gelas 500 ml. Ambil 48.5 ml larutan H2SO4
dengan menggunakan gelas ukur, kemudian tuang kepiala gelas 500 ml yang
telah diberi air sebelumnya melalui dinding secara perlahan lahan.
4. Tambahkan air hingga volumenya menjadi 250 ml.
5. Homogenkan dengan menggunakan batang pengaduk maupun magnetic stirrer.

Perhitungan =

Bj H2SO4 = 1.84 g/ml

AR H = 1

AR S= 32

AR O = 16

MR H2SO4= 98

BE H2SO4= ½ MR = 49

𝑔𝑟𝑎𝑚 H2SO4 1000


𝑁= ×
𝐵𝐸 H2SO4 𝑚𝑙 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛
𝑔𝑟𝑎𝑚 H2SO4 1000
2= ×
49 250
2 × 49 × 250
𝑔𝑟𝑎𝑚 H2SO4 =
1000
24500
𝑔𝑟𝑎𝑚 H2SO4 =
1000
𝑔𝑟𝑎𝑚 H2SO4 = 24.5 𝑔𝑟𝑎𝑚

Bj H2SO4= 1.84 g/ml

ml H2SO4= gram H2SO4x bj H2SO4


ml H2SO4= 24.5 g x 1.84 g/ml

ml H2SO4 = 48.5 ml

D. Pembuatan larutan NH4OH 10 % v/v sebanyak 100 ml

1. Pengerjaan dilakukan di lemari asam. Ambil larutan NH4OH / Ammonium


Hydroxide / Ammonium Solution for analysis 25% dengan bj 0.903 g/ml.
2. Buka botol NH4OH lalu tuangkan larutan secukupnya kedalam piala gelas. Ambil
40 ml larutan H2SO4 dengan menggunakan gelas ukur, kemudian tuang ke piala
gelas 300 ml melaui dinding secara perlahan lahan.
3. Tambahkan air hingga volumenya menjadi 100 ml.
4. Homogenkan dengan menggunakan batang pengaduk maupun magnetic stirrer.

Perhitungan =
[NH4OH] = 25 %
Volume NH4OH yg akan dibuat= 100 ml
[NH4OH] yang akan dibuat =10%

𝑉 𝑁𝐻4𝑂𝐻 𝑦𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡 ×[𝑁𝐻4𝑂𝐻] 𝑦𝑔 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑎𝑡


V NH4OH yg akan diambil = [NH4OH]

100 𝑚𝑙 ×10%
= = 40 𝑚𝑙
25%

E. Pembuatan dapar posfat pH 4,5 sesuai Farmakope Indonesia V

1. Siapkan dua buah piala gelas 500 ml dan satu buah piala gelas 1000 ml

2. Timbang 6,8 gram kalium dihidrogen posfat, larutkan dengan 500 ml air dalam piala
gelas 500 ml A

3. Pipet 4,5 ml larutan tetra methylammonium hidroksida 1,097 M, encerkan dalam


piala gelas 500 ml B dengan air

4. Campur kedua larutan pada poin nomor 2 dan nomor 3 dalam piala gelas 1000 ml

Adjuat pH campuran dengan asam posfat hingga pH 4,5


BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

Larutan adalah suatu sistem homogen yang terdiri dari molekul atom ataupun ion
dari dua zat atau lebih. Larutan akan terjadi jika atom, molekul atau dari suatu zat
semuanya terdispersi. Larutan terdiri atas zat yang dilarutkan (zat terlarut) yang disebut
solute dan pelarut yang dinamakan solvent. Solvent atau pelarut merupakan senyawa
dalam jumlah yang lebih besar sedangkan senyawa dalam jumlah yang lebih sedikit
disebut solute atau zat terlarut. Pembuatan larutan adalah suatu cara mempelajari tentang
pencampuran 2 bahan antara cair atau padat dengan konsentrasi tertentu. Untuk
menyatakan kepekaaan atau konsentrasi suatu larutan dapat di lakukan berbagai cara
tergantung pada tujuan penggunaannya. Adapun satuan yang digunakan untuk
menentukan kepekaan larutan adalah molaritas. Molaritas,Normalitas, persen berat,
persen volume, atau sebagainya.

B. SARAN

Pengetahuan dasar laboratorium khususnya yang berkaitan dengan ilmu kimia,


penting Bentuk dikuassi mahasiswa/i Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Ilmu
Farmasi sebagai calon ahli farmasi masa depan. Utamanya, bagi mereka yang akan terjun
ke dunia industri sebagai analis quality control maupun analis pengembangan metode.
Hal - hal yang hsrus dikuasai sebagai seorang ahli kimia yang berkaitan dengan pelarutan
yaitu :

1. Memahami konsep - konsep larutan

2. Memahami konsentrasi larutan dan penggunaannya

3. Memahami tanda - tanda adanya kerusakan larutan

4. Memahami penyimpanan larutan demi menjaga kualitasnya


DAFTAR PUSTAKA