Anda di halaman 1dari 13

BEHAVIORAL RESEARCH IN ACCOUNTING (BRIA)

UJIAN TENGAH SEMESTER

Oleh :

AULIA DAWAM 041324253002

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS


PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2015
Jawaban dari soal UTS BRIA:
1. Eskalasi komitmen merupakan tindakan seorang manajer yang memulai suatu proyek,
kemudian proyek tersebut menjadi tidak menguntungkan baginya, maka manajer tersebut
justru lebih cenderung untuk meneruskan proyek tersebut (penumpukan masalah)
dibandingkan dengan manajer yang tidak memulai proyek. Ketidakrasionalan eskalasi
terhadap sebuah komitmen merupakan tingkatan di mana para individu mengeskalasikan
sebuah komitmen untuk tindakan-tindakan tertentu yang dilakukan sebelumnya sampai
pada satu titik yang melewati sebuah model pengambilan keputusan yang rasional.
Maksudnya, Individu atau manajer pada umumnya akan mengalami kesulitan dalam
memisahkan suatu keputusan yang mereka ambil sebelumnya dengan keputusan yang ada
serta hubungannya dengan masa depan. Sebagai konsekuensi dari tindakan tersebut,
individu atau seorang manajer akan cenderung membiaskan keputusannya yang
disebabkan tindakannya di masa lalu dan mempunyai tendensi untuk melakukan eskalasi
komitmen terutama bila menerima kondisi yang negative.
Penyebab dari timbulnya eskalasi tersebut telah dijelaskan oleh beberapa peneliti,
diantaranya teori self-justification yang menjelaskan bahwa seorang manajer yang dari
awal telah mempunyai sebuah tanggung jawab atas proyeknya akan cenderung
melanjutkan proyek tersebut, walaupun kondisi prospek ekonomi mengindikasikan pada
proyek sebaiknya dihentikan, teori prospek memprediksi bahwa bagaimana suatu
keputusan tergantung pada permasalahan yang disusun, dan terakhir teori dilema
keputusan. Dari ketiga teori tersebut menjelaskan terjadinya eskalasi berdasarkan sisi
psikologis dari pengambilan keputusan. Diluar teori tersebut terdapat teori lain seperti
teori agensi, dimana dinilai sebagai tindakan yang rasional bagi para agen sebagai
pengambilan keputusan.
Relevansi yang terjadi terhadap dunia akuntansi keprilakuan, dimana dari teori-teori
tersebut berusaha untuk menentukan dan menjelaskan perilaku eskalasi dengan saling
bersaing, dengan satu teori mengklaim dapat menggantikan teori yang lainnya. Salah satu
hal yang sedikit serta relevan dan jarang diangkat yaitu mengenai latar belakang
pengalaman kerja atau pengamatan bisnis oleh para pengambil keputusan. Meskipun
kejadian eskalasi komitmen pada umumnya terjadi di dunia nyata dan dilakukan oleh
para pengambil keputusan yaitu para manajer.
Sebelum melakukan strategi untuk melakukan de eskalasi perlu dilakukannya
pencairan konflik akibat eskalasi tersebut, setelah konflik dirasa telah mulai hilang akibat
dampak terjadinya eskalasi maka dilanjutkan dengan proses pembentukan yang dimulai
dengan menyusun kembali atau membuat strategi keputusan baru, kemudian dilanjutkan
dengan pembekuan yang berguna untuk menekankan bahwa eskalasi yang telah terjadi
tidak akan muncul di kemudian hari. Pada strategi de eskalasi sendiri seorang manajer
perlu untuk menetapkan targetnya serta lebih melihat proses bukannya hasil, kemudian
jangan terlalu cepat memberikan bonus terhadap hasil dari keputusan yang baik
dilanjutkan dengan peningkatan kesadaran terhadap cost serta jangan jadikan eskalasi
sebagai ancaman. Perlu juga dilakukannya monitoring control oleh perusahaan serta
penalaran moral individu yang diharapkan dapat mempengaruhi tendensi manajer untuk
tidak melakukan eskalasi komitmen pada proyek yang tidak menguntungkan.
Beberapa penelitian empiris yang telah dilakukan untuk menunjukkan dan mengurangi
perilaku eskalasi komitmen, diantaranya seperti penelitian Gosh pada tahun1997 yang
menyatakan terdapat tiga prosedur pengawasan yang dapat mengurangi kecenderungan
terhadap eskalasi, diantaranya dengan menyediakan feed back yang rasional terhadap
pengeluaran sebelumnya, menyediakan sebuah laporan progress report dari proyek, serta
menyediakan berbagai informasi mengenai manfaat bagi masa mendatang dari adanya
pengeluaran tambahan. Penelitian berikutnya oleh Cheng et al pada tahun 2003 yang
mempunyai pengukuran hurdle rate sebagai alat mengurangi adanya eskalasi. Peneliti
Chong dan Suryawati pada 2010 juga menunjukkan bahwa dengan monitoring control
saja sudah dapat mencakup tiga prosedur dalam pengawasan sehingga dapat menjadi
strategi de-eskalasi yang sangat efektif bagi sebuah perusahaan.
Contoh ide penelitian di bidang akuntansi “Tingkat Penalaran Moral Manajer dalam
Melakukan Eskalasi Komitmen pada Kondisi Adverse Selection dan Kefektifan Hurdle
Rate Sebagai Strategi De-eskalasi Manajer”. Pada ide tersebut dijelaskan bahwa tingkat
moral manajer dalam melakukan tindakan eskalasi komitmen yang dipengaruhi oleh
kesalahan dalam membuat kebijakan yang diakibatkan kurangnya informasi yang didapat
oleh manajer serta bagaimana strategi dari de eskalasi hurdle rate tersebut nantinya dapat
mendeteksi dan mengurangi adanya eskalasi komitmen yang di buat oleh seorang
manajer di sebuah perusahaan.
2. Terdapat beberapa keterbatasan-keterbatasan dari bounded rationality dalam
pengambilan keputusan, dimana kurangnya pengetahuan atau keterbatasan pemikiran
akan sesuatu yang menyeluruh dari si pembuat keputusan, baik itu dari tingkat
kemampuan intelegency ataupun kemampuan dalam tingkat emosi untuk mengadapi dan
mengambil keputusan. Pengaruh dari tingkat memori per person juga akan berdampak
terhadap pengambilan keputusan, karena setiap kemampuan individu dalam menangkap
dan menyimpan informasi berbeda-beda. Selain itu time pressure yang mengakibatkan
keterbatasan dalam rasionalitas terpengaruhi, karena semakin individu tersebut tertekan
maka pemikiran secara rasional, tindakan, dan keputusan yang diambil akan terpengaruhi
dan menjadi bias. Pengaruh berikutnya adalah uncertainly (ketidakpastian), dimana
ketidakpastian akan informasi yang didapat serta penetapan terhadap target dapat
mengakibatkan juga keterbatasan dalam rasionalitas.
Bias dalam pengambilan keputusan atau disebut dengan heuristic terjadi dalam
beberapa hal, seperti adanya satisfice yaitu lebih pada mengedepankan membuat sebuah
keputusan yang memuaskan keinginan dirinya daripada keputusan yang memadai sesuai
dengan keadaan. Alasan lainnya dalam pembuatan keputusan adalah orang lain tampak
bias atau tidak memadai. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan pemikiran mereka
akan sesuatu yang menyeluruh. Dari keterbatasan pemikiran tersebut muncul adanya
heuristic, di mana individu perlu untuk mengumpulkan beberapa alternatif serta
persetujuan dari orang lain untuk membuat keputusan. Berkaitan dengan seorang
manajer, pemikiran ini cukup membantu dalam membuat keputusan yang mana nantinya
seorang manajer memiliki beberapa bidang yang harus dikuasai dalam sebuah
perusahaan.
Untuk mengurangi bias (heuristic) diperlukan adanya sebuah pertimbangan-
pertimbangan, diantaranya:
 Availability heuristic, membantu strategi dalam pengambilan keputusan oleh
manajemen pada kejadian yang sering terjadi dibandingkan kejadian yang jarang
terjadi. Ketika Availability heuristic tidak ada maka hasil bias tidak dapat
dilaksanakan karena ketidak tersediaan informasi dari frekuensi masalah yang
terjadi.
 Representativeness heuristic, lebih mengarah pada tokoh atau model yang lebih
representatif. Contoh bagi seorang manajer bank dan investor yang akan menilai
suatu bisnis baru berdasarkan keidentikan dari bisnis yang sama di masa lalu dan
apakah bisnis baru ini nantinya akan sukses ataupun tidak.
 Positive hypothesis testing, suatu keadaan di mana suatu hipotesis yang telah diuji
dan kemudian diakui keabsahannya oleh orang lain. Maka akan menimbulkan
kecenderungan bahwa keyakinan akan suatu hipotesis akan menjadi berlebihan
dan berdampak tidak mau menerima penolakan hipotesis yang sama pada
penelitian selanjutnya.
 Affect heuristics, merupaka faktor-faktor yang memengaruhi pertimbangan
heuristic, karena adanya keterbatasan waktu dan kondisi lingkungan sekitar.
Selanjutnya, fungsi Affect heuristics adalah untuk memeroleh pengambilan
keputusan yang optimal.
Salah satu alasan penyebab terjadinya bias dalam pengambilan keputusan adalah
adanya framing. Untuk menguji bias akibat framing ini menggunakan teori prospek,
dimana teori prospek mengemukakan bahwa frame yang diadopsi seseorang dapat
mempengaruhi keputusannya. Dalam konteks ini, pada saat seorang pengambil
keputusan diberikan sebuah alternatif keputusan yang dibingkai secara positif, maka
pada keputusan yang diambil akan cenderung risk averse. Sedangkan pada saat
informasi yang disajikan tersebut secara negative maka hasil keputusan yang diambil
akan cenderung risk seeking. Bias yang dipengaruhi oleh framing informasi tersebut
dapat membuat sebuah keputusan yang diambil menjadi tidak optimal, karena
framing informasi tersebut akan mempengaruhi preferensi risiko pada seorang
pengambil keputusan. Teknik untuk mengendalikan terjadinya bias tersebut dapat
digunakan teknik causal cognitive mapping, dimana pendekatan tersebut telah diteliti
oleh Hodgkinson pada tahun1999. Dilanjutkan dengan penelitian dari Wright and
Goodwin pada tahun 2002 yang membantah bahwa teknik dari causal cognitive
mapping tersebut tidak bisa secara baik untuk membatasi terjadinya framing, maka
mereka menawarkan resolusi dengan teknik think harder. Namun pada tahun 2002
Hodgkinson membantah kembali penemuan yang dilakukan oleh Wright and
Goodwin tahun 2002, yaitu menyatakan bahwa teknik yang ditawarkan oleh mereka
berdua bukanlah cara yang sederhana dan lebih sulit untuk diterima.

3. Pengambilan dalam keputusan yang rasional sebenarnya berawal dari teori ekonomi
mikro yang berasumsi bahwa seorang manusia cenderung akan memaksimalkan fungsi
kegunaannya. Beberapa model lama dari ekonomi banyak yang mengasumsikan bahwa
kepentingan manajer dan perusahaan akan berjalan dengan tujuan yang sama. Model
tersebut berusaha menjelaskan bahwa dengan kata lain kepentingan manajer sebagai
individu telah sejalan dengan kepentingan para pemegang saham. Teori keagenan dalam
pendekatan ini sebenarnya telah dapat menjelaskan tentang perilaku individu (manajer)
dalam tindakan pengambilan keputusan. Sebenarnya Harrison dan Harrell pada tahun
1993 telah mencoba untuk mengembangkan sebuah pandangan yang lebih dalam
mengenai pembuatan keputusan ekonomi yang rasional, dengan berlandaskan pada
kerangka teori keagenan. Pandangan yang mereka kemukakan mencoba untuk
menjelaskan bahwa konflik kepentingan akan muncul pada seorang manajer yang
dikontrak untuk bertindak dalam upaya untuk memenuhi serta menjalankan kepentingan
ekonomi perusahaan, pada kenyataannya seorang manajer lebih termotivasi untuk
memaksimumkan kepentingan ekonominya sendiri.
Adanya asumsi yang melandasi model keagenan bahwa terdapat dorongan agen untuk
mengabaikan kepentingan dari perusahaan tersebut, hal tersebut disebabkan seorang agen
memiliki kesempatan. Terdapat informasi secara probadi yang dimiliki seorang agen dan
akan dijadikan sebagai media untuk memanfaatkan kesempatan yang dia peroleh. Teori
keagenan telah juga menjelaskan bahwa kedua hal tersebut akan dapat menimbulkan
masalah adverse selection. Menurut Eisendhardt pada tahun 1989 menyatakan bahwa
adverse selection merupakan kondisi dimana pihak dari perusahaan tidak dapat
mengetahui secara real apakah seorang manajer akan menunjukkan segala kemampuan
terbaiknya dan secara maksimal dalam menjalankan tugasnya.
Beberapa penelitian yang berhubungan dengan membuat dan melakukan pengambilan
keputusan dalam bidang ekonomi biasanya berasumsi bahwa seorang manajer adalah
individu yang rasional. Namun banyak juga penelitian-penelitian yang menemukan
bahwa asumsi dari rasionalitas tersebut sering dilanggar. Dalam membuat suatu
keputusan seorang manajer sering juga memperlihatkan bahwa dia lebih mementingkan
kepentingan individunya dibandingkan dengan kepentingan perusahaan. Seringkali juga
seorang manajer sendiri tidak sadar bahwa tindakannya dalam pengambilan keputusan
tersebut dapat merugikan perusahaan.
Pada penelitiannya Ruchala pada tahun 1999 menyatakan bahwa eskalasi itu terjadi
akibat keputusan untuk tetap betahan melanjutkan sebuah proyek, walaupun prospek
tersebut mengalami kondisi ekonomi yang tidak diharapkan dan mengindikasikan bahwa
proyek tersebut juga harus dihentikan. Bahkan penelitian Ross dan Staw pada tahun 1993
berpendapat bahwa terdapat tiga situasi yang akan menyebabkan eskalasi menjadi sesuatu
kedaan yang menyulitkan, dimana berkaitan dengan biaya-biaya sunk cost (telah
dikorbankan) dalam serangkaian tindakan, para pengambil keputusan juga memiliki suatu
kesempatan untuk merubah secara penuh dan pengambil keputusan mempunyai
konsekuensi terhadap hal-hal ketidakpastian secara penuh. Penelitian oleh Arkes dan
Blumer pada tahun 1985 juga telah memberikan pandangannya untuk menggunakan teori
prospek dalam menjelaskan pengaruh sunk cost tersebut. Adanya sunk cost dalam suatu
proses pengambilan keputusan dapat mengakibatkan seorang pengambil keputusan tidak
akan menarik diri disebabkan adanya peningkatan sunk cost.
Penelitian yang dilakukan oleh Kanodia et al. pada tahun 1989 menjelaskan bahwa
eskalasi sebagai suatu permasalahan yang serupa dengan tindakan adverse selection.
Kanodia juga mengungkapkan bahwa eskalasi sebagai keputusan seorang manajer yang
tidak rasional, sebab tindakan tidak sadar secara langsung maupun tidak langsung
seorang manajer akan lebih cenderung mengabaikan kepentingan perusahaan dan akan
lebih mementingkan kepentingan dari ekonomi pribadinya. Terdapatnya asimetri
informasi dari seorang manajer terhadap perusahaan akan mengakibatkan seorang
manajer dengan ide serta inisiatif yang dimilikinya akan berusaha untuk melanjutkan
proyek tersebut, walaupun proyek tersebut tidak memberikan keuntungan. Ross dan Staw
pada tahun 1993 menyatakan bahwa pada kenyataanya selain karena seorang manajer
menginginkan hasil akhir dari outcome, dia juga merasa memiliki suatu ikatan emosional
dan takut terjadi penurunan dengan kredibilitasnya sebagai seorang manajer, apabila
proyek tersebut dihentikan.
Banyak penelitian yang telah mencoba untuk menjelaskan perilaku eskalasi ini. Brockner
pada tahun1992 telah mengungkapkan bahwa terdapat tiga teori yang dapat
menjelaskannya yaitu, teori self-justification, dilanjutkan dengan adanya teori prospek
oleh Whyte pada tahun1986 serta teori dilema keputusan. Dasar dari ketiga teori tersebut
lebih berpandangan terhadap segi psikologis pengambil keputusan. Namun menurut
Kanodia et al pada tahun 1989 menyatakan bahwa dari ketiga teori tersebut terdapat teori
agensi yang menjelaskan secara berbeda dalam menerangkan eskalasi, bahwa eskalasi
sebagai tindakan yang rasional bagi seorang agen dalam pengambilan keputusan. Dari
berbagai teori yang telah dijelaskan mengenai hubungan keduannya, sebenarnya teori-
teori tersebut berusaha menerangkan perilaku eskalasi dengan saling bersaing, dimana
antara satu teori dan lainnya saling mengklaim untuk lebih mengungkapkan kebenaran
yang sebenarnya.
4. Analisis dari penelitian Cinton dan Hunton (2001):
a) Perbedaan penelitian Clinton dengan penelitian yang lainnya seperti pada
penelitian yang dilakukan oleh:
 Vroom dan Jago (1988) dengan VJ modelnya yaitu menggunakan sistem
software yang canggih untuk mengusulkan tingkat ketepatan dan tipe dari
model VJ yang sungguh complex dan komprehensif, VJ berpendapat
bahwa keefektifitasan organisasi bergantung pada pemahaman syarat dari
sebuah situasi dan menilai seberapa banyak partisipasi sangat penting bagi
keberhasilan. Konsekuensi hasil dari menggunakan jumlah yang tidak
pantas pada partisipasi meliputi, antara lain penurunan kualitas keputusan
di semua tingkat organisasi, yang dapat berdampak negatif terhadap
kinerja organisasi.
 Margereson dan Glube, (1979) menjelaskan secara normative disahkan
model VJ yang menguji variabel kinerja organisasi. Pada penelitian
mereka, respon pada masalah penyususnan hipotesis yang menggunakan
pembagian manajer dari toko eceran ke atas dan kebawah sampai level
menengah pada persetuan dari VJ model. Hasil dari penelitian
mengindikasikan bahwa manajer dengan model persetujuan tinggi
mempunyai signifikansi lebih menguntungkan operasi dan lebih
menyakinkan karyawan.
 Tushman and Nadler, (1978) mengusulkan pada model level organisasi
bahwa memasukkan konsep tiba-tiba, yang akan dianggap sebagai sebuah
faktor yang harmoni dalam desain pada strategi penganggaran partisipatif
yang efektif. Mereka menyarankan bahwa ketidakcocokan dibangun dari
beberapa sumber dan persepsi macam-macam hasil dari proses kebutuhan
informasi. Kebutuhan proses tersebut atau keperluan, kemudian membantu
untuk membentuk organisasi mekanisme bertahan (misal, kapasitas proses
informasi). Mereka menyarankan bahwa sistem pengiriman informasi
yang paling efektif adalah salah satu yang benar sesuai dengan kapasitas
persyaratan.
 Brownell, (1982) menyarankan bahwa spesifikasi peran seharusnya dapat
dimodifikasi untuk gugatan pribadi dari peran penumpang. Lebih lanjut
dia mengindikasikan bahwa ketika peran cocok pada sifat yang tidak
mungkin. Kita harus mempertimbangkan konsekuensi negatif yang
mungkin terjadi seperti kinerja di bawah standar dan ketidakpuasan kerja.
 Dari penelitian di atas menunjukkan bahwa kualitas pengambilan
keputusan individu dapat berdampak buruk ketika PNP dan DPA yang
tidak selaras. Selanjutnya, Vroom dan Jago (1988), Margerison dan Glube
(1979), Tushman dan Nadler (1978), dan Brownell (1982)
mengindikasikan bahwa dampak dari level-mikro pembuaatan keputusan
yang efektif dan efisiensi di seluruh organisasi mungkin akan menjadi
nyata di tingkat makro. Yaitu, sejauh PNP dan DPA tidak cocok, yang
kurang bisa diharapkan dari kinerja organisasi yang optimal.
b) Motivasi serta tujuan dari penelitian Cilnton and Hunton adalah membuat
kerangka penelitian yang nantinya dapat menghubungkan konsekuensi dari
pertisipan terhadap pendapatan organisasi, dimana kebutuhan yang dirasakan oleh
participant (PNP) serta tingkat keselarasan partisipasi yang akan mempengaruhi
tingkat perizinan pertisipasi (DPC) serta nantinya akan berpengaruh secara positif
terhadap indicator kinerja organisasi.
c) Model penelitian dari Clinton and Hunton diawali dengan perumusan hipotesis,
dimana hipotesis dari penelitian ini adalah H: sebagai tingkat dari kecocokan PNP
dan peningkatan DPA, yaitu sebagai tingkat dari pendekatan pengukuran DPC 0
(PNP-DPA), maka kinerja organisasi akan meningkat. Kemudian pengambilan
sample sendiri dikumpulkan dari 386 personil akuntansi yang mewakili
penerbitan, manufaktur kertas, industri produk kimia. Dimana responden
melengkapi kuesioner pada laporan keuangan dan konferensi eksekutif keuangan
diadakan di Amerika Serikat timur laut. Kuesioner yang diberikan mirip dengan
yang dilakukan oleh Shield and young, (1993). Untuk pengukuran variabel sendiri
pada respon partisipan untuk survey item nya menggunakan komputer pribadi
dengan merandom semua item survey untuk setiap individu untuk menghalangi
efek pesanan. Variabel PNP dan DPA diperiksa dalam sebuah cara bermotif.
Mengidentifikasi tiga pemisahan dimensi dari partisipasi penganggaran yaitu,
partisipasi dalam perencanaan, partisipasi dalam penganggaran, dan interaksi
dengan isu penganggaran terbaik. Kemudian menghubungkan korelasi matix dari
setiap variabel seperti PNP, DPA, DPC, persen perubahan dalam pendapatan
bersih, persen perubahan dalam harga saham, persen perubahan dalam
pengembalian dalam investasi, dan kinerja perusahaan yang dirasakan
dibandingkan dengan pengamat industri. Dilanjutkan dengan pengukuran
MANOVA untuk menaksir sejauh mana partisipan merespon pengaruh dari
karakter sampel pada tabel 1 yaitu industri, umur, gender, jabatan, dan tingkat
pelaporan dari CEO. Dilanjutkan dengan analisis ANOVA untuk mengisolasi
variabel dependen dengan signifikasi berbeda bedasarkan baik umur atau jabatan.
Kemudian dilakukan pengujian hipotesis dan post hoc testing, yaitu premis balik
DPC adalah bahwa sebagai perbedaan antara DPA dan PNP mendekati 0, ukuran
kinerja akan meningkat sejalan, pada atau dekat dengan poin nol yaitu keselarasan
yang sempurna dengan pengukuran kinerja juga meningkat.
d) Teori ekspektasi menyatakan bahwa intensitas kecenderungan untuk melakukan
dengan cara tertentu tergantung pada intensitas harapan bahwa kinerja akan
diikuti dengan hasil yang pasti dan pada daya tarik dari hasil kepada individu.
Menurut pendapat pribadi saya penelitian yang dilakukan oleh Clinton dan
Hunton, (2001) mempunyai dasar teori ekspektasi, dimana hal ini ditunjukkan
pada kerangka konseptual yang dibuat oleh mereka, terdapat tingkat pengharapan
yang tinggi dari partisipan terhadap hasil dari pendapatan organisasi yang
mempengaruhi indicator peningkatan kinerja organisasi.
e) Menurut pendapat saya, untuk melakukan pengembangan serta penerapan konsep
dasar dari penelitian Clinton dan Hunton ini di Indonesia sangatlah susah, karena
hal tersebut terbentur dengan tingkat kesadaran individu yang masih kurang
terhadap peningkatan kinerja organisasi secara sukarela dan lebih kepada
pemikiran yang individual. Namun hal ini dapat di minimalkan dengan
memberikan treatment khusus terhadap karekteristik pengukuran, seperti
penambahan pada unsur agama, budaya, serta sistem yang dianut oleh organisasi
tersebut. Dapat juga ditambahkan sebuah hubungan dimana adanya keadilan dan
komitmen dalam mempengaruhi kinerja organisasi kearah yang lebih baik lagi.
5. Topic penelitian akuntansi perilaku:

“MEKANISME STRATEGI MENGGUNAKAN HURDLE RATE DAN


MONITORING CONTROL DALAM MENGURANGI ESKALASI KOMITMEN
PADA PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAJER”

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan beberapa teori dari manajemen keuangan dan teori ekonomi mikro yang
berusaha menjelaskan pemahaman pengambilan keputusan secara rasional, dimana tujuan dari
manajer perusahaan lebih berusaha memaksimalkan kegunaan fungsi dan keuntungan bagi
peruahaannya. Dari berbagai paradigma tersebut telah mengindikasikan bahwa seorang
pengambil keputusan mempunyai kepentingan yang sejalan dengan kepentingan perusahaan
serta berusaha untuk terus menginvestasikan kepada proyek-proyek yang menguntungkan
perusahaan dan menilai kinerja yang ekonomis dari proyek-proyek tersebut. Di lain pihak
seorang manajer juga harus menghindari segala investasi yang tidak menguntungkan dan
menghentikan hal-hal yang tidak menambah profit bagi perusahaan. Maka dari itu bagi seorang
manajer juga harus perlu untuk mempertimbangkan dan mengabaikan sunk cost yang terjadi,
menurut (Staw dan Ross, 1993) menyatakan bahwa terdapat beberapa situasi yang
mengakibatkan eskalasi menjadi suatu hal yang menyulitkan, seperti banyaknya biaya yang telah
dikeluarkan (sunk cost) dalam berbagai unsur tindakan. Pada proses pengambilan keputusan
dalam hal mempertimbangkan biaya-biaya yang telah dikeluarkan (sunk cost) akan menjadikan
para pengambil keputusan untuk enggan menarik dirinya, hal itu diakibatkan karena terjadinya
peningkatan pada sunk cost.
Beberapa peneliti telah banyak yang mendeskripsikan bahwa seorang manajer akan terus
berusaha meneruskan proyek-proyeknya meskipun terdapat beberapa bukti yang memberatkan
bahwa proyek tersebut tidaklah menguntungkan (Schulz dan Cheng, 2002; Staw, 1976). Perilaku
yang tidak masuk akal tersebut bredampak pada hasil heuristic (bias) yang diakibatkan oleh
pembenaran komitmen atas tindakan dan keputusan yang mereka pilih di masa lalu (Schulz dan
Cheng, 2002). Bazerman pada tahun 1994 dalam bukunya juga telah menjelaskan bahwa
perilaku yang terjadi tersebut merupakan eskalasi komitmen yang tidak rasional.
Beberapa penelitian juga telah banyak yang berusaha menjelaskan mengenai perilaku eskalasi
tersebut, diantaranya (Brockner, 1992) yang menyatakan bahwa eskalasi dapat dijelaskan dalam
tiga teori yaitu teori self justification, teori dilema keputusan, dan toeri prospek. Namun dari
ketiga teori tersebut hanya berusaha membahas konflik eskalasi pada sisi psikologinya dalam hal
pengambilan keputusan. Terdapat teori agensi yang juga menjelaskan terjadinya eskalasi ini,
dimana hubungan tersebut terjadi antara seorang principal dan agennya, dari hubungan keagenan
ini menimbulkan adanya asimetri informasi dan conflict of interest yang diakibatkan oleh tujuan
yang berbeda antara principal dan agennya (Jensen dan Meckling, 1976). Pada konteks akuntnsi
perilaku (Kamodia.et.al, 1989) juga telah menjelaskan bahwa eskalasi dapat di jelaskan dengan
teori agensi, dimana tindakan pengambil keputusan bersifat rasional.
Terkait dengan teori agensi (Harrison dan Harrell, 1993) juga telah ikut mendeteksi
bahwa eskalasi tersebut dapat dijelaskan dengan teori agensi, dimana pada saat ketersediaan
informasi secara insentif akan mempengaruhi keputusan manajer. Namun penelitian mereka ini
hanya menguji elemen adverse selection dari hubungan yang dijelaskan oleh teori agensi
terhadap eskalasi komitmen. Adverse selection sendiri menyebabkan terjadinya konflik
hubungan antara principal dan agennya, dimana (Eisendhart, 1989) telah menyatakan bahwa
ketika agen memiliki privat information dan kesempatan untuk bertindak demi kepentingannya
sendiri dengan melakukan pengorbanan terhadap kepentingan dari prinsipalnya, maka tindakan
dari konflik tersebut akan mengakibatkan adverse seletion.
Beberapa riset telah dilakukan untuk menunjukkan bahwa prosedur terhadap
pengendalian dapat mengurangi konflik eskalasi komitmen tersebut. Seperti penelitian yang
dilakukan oleh (Gosh, 1997) bahwa dalam mengurangi konflik eskalasi tersebut dapat dilakukan
dalam tiga prosedur pengawasan, yaitu mempersiapkan feed back yang rasional pada
pengeluaran sebelumnya, mempersiapkan progress report dari proyek, dan mempersiapkan
informasi untuk masa manfaat di masa depan dari pengeluaran tambahan. Peneliti (Cheng, 2003)
telah juga mengajukan alat untuk mengurangi konflik eskalsi yaitu dengan hurdle rate, dimana
hurdle rate itu sendiri mempunyai beberapa strategi yang harus dilakukan untuk mengurangi
adanya eskaasi, diantaranya melakukan penetapan target, lebih memfokuskan diri kepada proses
dan bukannya hasil, jangan terlalu cepat memberikan bonus terhadap hasil akhir yang baik,
melakukan peningkatan kesadaran terhadap cost, dan jangan jadikan eskalasi sebagai sebuah
ancaman. Sedangkan penelitian lain yang dilakukan oleh (Chong dan Suryawati, 2010)
menggunakan monitoring control dalam mengurangi konflik eskalasi tersebut, dimana untuk
melakukan monitoring control perusahaan harus membangun departemen evaluasi proyek untuk
melakukan pemantauan terhadap seluruh aktivitas investasi perusahaan yang akan dan telah
diputuskan oleh manajer. Hal ini didukung oleh pernyataan dari (Bazerman, 1994) menyatakan
bahwa untuk mengurangi adanya eskalasi komitmen dan keterjadian bias didalamnya, maka
diperlukan pendapat dari pihak ketiga yang bersifat objektif terhadap keputusan yang diambil
oleh seorang manajer.
Sesuai dengan kedua strategi yang disarankan oleh (Cheng, 2003) “hurdle rate” dan
(Chong dan Suryawti, 2010) “monitoring control”. Sesuai dengan kedua metode tersebut, pada
penelitian ini ingin melakukan pembandingan terhadap keefektifan kedua strategi dalam
mendeteksi dan mengurangi adanya eskalasi dalam pengambilan keputusan.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apakah strategi hurdle rate dapat mengurangi adanya eskalasi komitmen?
2) Apakah strategi monitoring control dapat mengurangi adanya eskalasi komitmen?
3) Apakah terdapat perbedaan pengambilan keputusan dari eskalasi komitmen yang terjadi
terhadap strategi hurdle rate maupun monitoring control?