Anda di halaman 1dari 7

PENALARAN

Menurut Jujun S. Suriasumantri pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-


kekuasaan. Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat adam dan hawa dan
setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan ini.
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan ini
secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini
terbatas untuk kelangsung hidupnya (survival). Seekor kera tahu mana buah jambu yang enak.
Manusia mengembangkan pengetahuannya mengatasi kebutuhan kelangsungan
hidup ini. Dia memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar
untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu.manusia mengebangkan kebudayaan; manusia
member makna kepada kehidupan ; manusia “memanusiakan” diri dalam hidupnya “dan masih
banyak lagi pernyataan semacam ini semua itu, pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia
itu dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari segi kelangsungan
hidupnya. Inikah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya : dan
pengetahuan ini jugalah mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi
ini.
Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan 2 hal utama yakni,
pertama, manusia mempunyai bahasa yang mengkomunikasikan informasikan jalan pikiran yang
melatarbelakangi informasi tersebut. Contoh : seekor beruk bisa saja memberikan informasi
kepada kelompoknya bahwa ada segerombolan gorilla datang menyerang; namun bagaimana
berkembang bahasanya, ia tidak mampu mengkomunikasikan kepada beruk-beruk lainnya.

Kedua, manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat dan


mantap, adalah kemampuan berpikir suatu alur kerangka berpikir tertentu. Binatang mampu
berpikir namun tidak dapat berpikir nalar. Perbedaan utama antara seorang professor nuklir
dengan anak kecil yang membangun bom atom dari pasir di play-group-nya. Tempat dia
melakukan riset terletak pada kemampuannya dalam menalar. Dua kelebihan inilah yang
memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya yakni bahasa yang bersifat
komunikatif dan berpikir yang mampu menalar.
1
Jujun s. suriasumantri,filsafat ilmu sebuah pengantar popular,Jakarta:PT.PenebarSwadaya,2012.
HAKIKAT PENALARAN
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang
berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang berpikir, merasa,
bersikap koma dan bertindak. Sikap tindakannya yang bersumber pada pengetahuan yang di
dapatkan lewat kegiatan merasa atau berpikir.
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar.
Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama maka oleh sebab itu kegiatan proses
berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itupun juga berbeda beda dapat dikatakan
bahwa tiap jalan pikiran mempunyai apa yang disebut sebagai kriteria kebenaran, dan kriteria
kebenaran ini merupakan landasan bagi proses penemuan kebenaran tersebut.
Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai penalaran tertentu
ciri yang pertama, iyalah adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika.
Ciri yang kedua, dari penalaran adalah sifat analitik proses berpikirnya.
Disamping itu masih terdapat bentuk lain dalam usaha manusia untuk mendapatkan pengetahuan
yakni wahyu. Ditinjau dari hakikat usahanya, maka dalam rangka menemukan kebenaran, kita
dapat bedakan 2 jenis pengetahuan. Yang pertama adalah pengetahuan yang didapatkan sebagai
hasil usaha yang aktif dari manusia untuk menemukan kebenaran, baik melalui nalaran maupun
lewat kegiatan lain seperti perasaan dan intuisi.
Pengetahuan juga dapat kita tinjau dari sumber yang memberikan pengetahuan
tersebut. Dalam hal wahyu dan intuisi maka secara implisit kita mengakui bahwa wahyu (atau
dalam hal ini tuhan yang menyampaikan wahyu) dan intuisi sumber pengetahuan.

LOGIKA

Penalaran merupakan proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar


pengetahuan yang dihasilkan penalaran itu mempunyai dasar kebenaran maka proses berpikir itu
harus dilakukan suatu cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih (valid) kalo
proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan
kesimpulan ini disebut logika, dimana logika secara luas dapat di defenisikan sebagai
“pengkajian untuk cara berpikir secara sahih” terdapat bermacam macam cara penarikan
kesimpulan namun untuk sesuai tujuan studi yang mewujudkan diri kepada ilmiah, kita akan
melakukan penelaahan yang seksama hany terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan dari
kasus-kasus individual nyata yang menjadi kesimpulan bersifat umum. Induksi merupakan cara
berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus individual.
Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan
yang ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan
pernyataan yang bersifat umum, katakanlah umpamanya kita mempunyai fakta bahwa kambing
mempunyai mata, gajah mempunyai mata, demikian juga dengan singa, kucing, dan berbagai
binatang lainnya.
Penalaran deduktif adalah kegiatan berpikir yang sebaliknya dari penalaran
induktif. Deduksi adalah cara berpikir dimana yang bersifat umum, ditarik kesimpulannya yang
bersifat khusus. Penarikan kesimpulan, secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir
yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah
kesimpulan. Pernyataan yang mendukung sigolismus ini disebut premis yang kemudian dapat
dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang
didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut. Dari contoh kita sebelumnya
kita dapat membuat silogismus sebagai berikut:

Semua makhluk mempunyai mata (Premis mayor)


Si polan adalah seorang makhluk (Premis minor)
Jadi si polan mempunyai mata (Kesimpulan)
Kesimpulan yang diambil bahwa si Polan mempunyai mata adalah sah menurut penalaran
deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari dua premis yang mendukungnya. Salah
satu dari ketiga unsur tersebut persyaratannya tidak dipenuhi maka kesimpulann yang ditariknya
akan salah. Matematika adalah pengetahuan yang disusun secara deduktif. Argumentasi
matematik seperti a sama dengan b dan bila b sama dengan c maka a sama dengan c merupakan
suatu penalaran deduktif. Kesimpulan yang berupa pengetahuan baru bahwa a sama dengan c
hakikatnya bukan merupakan pengetahuan baru dalam arti yang sebenarnya, melainkan sekedar
konsekuensi dari dua pengetahuan yang sudah kita ketahui sebelumnya, yakni bahwa a sama
dengan b dan b sama dengan c. Tak pernah ada kejutan dalam logika (Wittgenstein), sebab
pengetahuan yang diperoleh adalah kebenaran tautologis. Namun benarkah ulangan matematika
tak pernah menimbulkan surprise: seperti pertanyaan Taufiq ismail dalam sajak ladang jagung:
bagaimana kalau bumi bukan bulat, tapi segi empat?
2. Taufiq Ismail, “Kisah felis, Capra dan Bos, “(Felis catus adalah kucing: capra aegagrus adalah kambing: bosbobalus
adalah kerbau) dalam Taufik Ismail Marzuki 30 dan 31 Januari 1980) halam 10

3. William S. Sahakian dan Mabel lewis Sahakian. Realism of Philosophy (Cambridge, Mass : Schenkman,
1965) halaman 3

4. . Ludwig von Wittgenstein, Tractatus Logico Philosohicus (London: Routledge & Kegan Paul, 1972), halaman 129

5. Taufiq Ismail, loc. Cit

Sumber Pengetahuan

De omnibus dubitandum! Segala sesuatu harus diragukan desak Rene Descartes. Namun
segala yang ada dalam hidup ini dimulai dengan meragukan sesuatu, bahkan juga Hamlet si
peragu, yang berseru kepada Ophelia:
Ragukan bahwa bintang-bintang itu api
Ragukan bahwa matahari itu bergerak
Ragukan bahwa kebenaran itu dusta
Tapi jangan ragukan cintaku
Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu! Baik logika deduktif maupun logika induktif,
dalam proses penalarannya, mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang
dianggapnya benar.
Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya.
Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas
dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia.
6. Doubt thou the stars are fire;
Doubt the sun doth move;
Doubt truth to be a liar;
But never doubt I love.
(William Shakespeare, Hamlet, Babak II, Adegan 2)
Masalah utama yang timbul dari cara berpikir ini adalah mengenai kriteria untuk
mengetahui akan kebenaran dari suatu ide yang menurut seorang yang jelas dan dapat dipercaya.
Ide yang satu bagi si A mungkin bersifat jelas dan dapat dipercaya namun hal ini belum tentu
bagi si B. Mungkin saja bagi si B menyusun system pengetahuan si A karena si B
mempergunakan ide lain bagi si B merupakan prinsip jelas dan dapat dipercaya.
Berlainan dengan kaum rasionalis maka kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan
manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman
yang konkret.
Masalah utama yang timbul dalam penyusunan pengetahuan secara empiris ini ialah
bahwa pengetahuan yang dikumpulkan itu cenderung untuk mengumpulkan fakta-fakta.
Kumpulsn tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal hal yang
bersifat kontradiktif. Suatu kumpulan mengenai fakta, atau kaitan antara berbagai fakta, belum
menjamin terwujudnya suatu system pengetahuan yang sistematis : kecuali kalo dia hanya
“seorang kolektor barang barang serba nekah”. Lebih jauh Einstein mengingatkan bahwa tak
terdapat metode induktif yang memungkinkan berkembangnya konsep dasar suatu ilmu.
Kaum empiris menggangap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan gejala
yang tertangkap oleh pancaindera.
Masalah yang kedua adalah mengenai hakikat pengalaman yang merupakan cara daam
menemukan pengetahuan dan panca indera sebagai alat yang menangkapnya. Pernyataannya
adalah apakah yang sebenarnya dinamakan pengalaman? Apakah hal ini merupakan stimulus
panca indera? Atauakah persepsi? Atau sensasi? Sekiranya kita mendasarkan diri kepada panca
indera sebagai alat menangkap gelaja fisik yang nyata maka seberapa jauh kita dapat
mengandalkan panca indera tersebut?
Ternyata kaum empiris tidak bisa memberikan jawab yang meyakinkan hakikat
pengalaman itu sendiri.
Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun
pengetahuan secara teratur maka intuisi ini tidak bisa diandalkan. Pengetahuan intuitif dapat
dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya
pernyataan yang dikemukakannya. Bagi Maslow intuisi ini merupakan pengalaman puncak
(peak experience) sedangkan bagi Nietzsche merupakan inteligensi yang paling tinggi.
Wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh tuhan kepada manusia.
Pengetahuan disalurkan oleh nabi-nabi yang diutusnya sepanjang zaman.
7. Hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berada dalam benak orang yang berpikir tersebut
8. Harold A. Larrabee, Reliable Knowledge (Boston: Houngthon Miflin, 1964)
9. Albert Einstein, “Physic and reality”, Journal of Franklin Institute, 222 (1936), hlm 348-389
10. Dikutip dalam Stanley M. Honer dan Thomas C. Hunt, Invitation to philosophy (Belmont, Cal: Wadsworth, 1968), hlm. 72
11. Dikutip dalam George F. Kneller, Introduction to the philosophy

5. Kriteria kebenaran

Seorang anak kecil yang baru masuk sekolah, setelah 3 hari berselang, mogok tidak mau belajar.
Orangtuanya mencoba membujuk dia dengan segala macam daya, dari iming-iming gula gula,
tanpa ancaman sapu lidi, semuanya sia-sia. Setelah didesak desak akhirnya dia berterus terang,
bahwa dia sudah kehilangan hasratnya untuk belajar sebab ternyata ibu gurunya adalah seorang
pembohong .
“Coba ceritakan bagaimana dia berbohong,”pinta orangtuanya sambil tersenyum.
“3 hari yang lalu ia berkata bahwa 3+4= 7. Dua hari yang lalu dia berkata 5+2=7
bukankah semua ini tidak benar?”
Permasalahan yang sederhana ini membawa kita kepada apa yang disebut teori
kebenaran. Apakah persyaratannya agar suatu jalan pikiran menghasilkan kesimpulan yang
benar?
Tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya
benar, termasuk anak kecil kita yang tadi, yang dengan pikiran kekanak kanakannya mempunyai
kriteria kebenaran tersendiri. Bagi kita tidak sukar untuk menerima kebenaran
3+4=7;5+2=7;dan6+1=7;sebab secara deduktif dapat dibuktikan bahwa ketiga pernyataan
tersebut adalah benar.mengapa hal ini kita sebut benar? Sebab pernyataan dan kesimpulan yang
ditariknya adalah konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan terdahulu yang telah dianggap
benar.
Teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria tersebut diatas disebut teori koherensi.
Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori koherensi atau pernyataan
dianggap benar bila pernyataan itu koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan
sebelumnya yang dianggap benar. Bila kita menggangap bahwa “semua manusia pasti akan
mati” adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “si Polan adalah seorang
manusia dan si Polan pasti akan mati”.