Anda di halaman 1dari 4

Manifestasi Klinis

Gejala dapat terjadi akibat perubahan morfologi dan lebih menggambarkan


beratnya kerusakan yang terjadi dari pada etiologinya.
a. Pembesaran hati
Pada awal perjalanan sirosis, hati cendrung membesar dan sel-selnya
dipenuhi oleh lemak. Hati tersebut menjadi keras dan memiliki tepi tajam yang
dapat diketahui melalui palpasi. Nyeri abdomen dapat terjadi sebagai akibat
dari pembesaran hati yang cepat dan baru saja terjadi mengakibatkan
regangan pada selubung fibrosa hati (kapsul Glissoni). Pada perjalanan
penyakit yang lebih lanjut, ukuran hati akan berkurang setelah jaringan parut
menyebabkan pengerutan jaringa hati.

b. Obstruksi Portal
Manifestasi lanjut sebagian disebabkan oleh kegagalan fungsi hati yang
kronis dan sebagian lagi oleh obstruksi sirkulasi portal. Semua darah dari
organ-organ digestif praktis akan berkumpul dalam vena porta dan dibawa ke
hati. Karena hati yang sirotik tidak memungkinkan pelintasan darah yang
bebas, maka aliran darah tersebut akan kembali kedalam limpa dan traktus
gastrointestinal dengan konsekuensi bahwa organ-organ ini menjadi tempat
kongestif pasif yang kronis, dengan kata lain kedua organ tersebut akan
dipenuhi oleh darah dan dengan demikian tidak dapat bekerja dengan baik.
mengalami penurunan.

c. Varises Gastro Intestinal


Obstruksi aliran darah lewat hati yang terjadi akibat perubahan fibrotik juga
mengakibatkan pembentukan pembuluh darah kolateral dalam sistem
gastrointestinal dan pemintasan (shunting) darah dari pembuluh portal ke
dalam pembuluh darah dengan tekanan yang lebih rendah. Sebagai
akibatnya, penderita sirosis sering memperlihatkan distensi pembuluh darah
abdomen yang mencolok serta terlihat pada inspeksi abdomen (kaput
medusae), dan distensi pembuluh darah diseluruh traktus gastrointestinal.
Esofagus, lambung dan rektum bagian bawah merupakan daerah yang sering
mengalami pembentukan pembuluh darah kolateral. Distensi pembuluh darah
ini akan membentuk varises atau hemoroid tergantung pada lokasinya.
d. Edema
Gejala lanjut pada Sirosis hepatis ditimbulkan oleh gagal hati yang kronis.
Konsentrasi albumin plasma menurun sehingga menjadi predisposisi untuk
terjadinya edema. Produksi aldosteron yang berlebihan akan menyebabkan
retensi natrium serta air dan ekskresi kalium.

e. Defesiensi Vitamin dan Edema


Karena pembentukan, penggunaan dan penyimpanan vitamin tertentu yang
tidak memadai (terutama vitamin A, C, dan K), maka tanda-tanda defisiensi
vitamin tersebut sering dijumpai, khususnya sebagai fenomena hemoragik
yang berkaitan dengan defisiensi vitamin K. Gastritis kronis dan gangguan
fungsi gastrointestinal bersama-sama asupan diet yang tidak adekuat dan
gangguan fungsi hati turut menimbulkan anemia dan status nutrisi serta
kesehatan pasien yang buruk akan mengakibatkan kelelahan hebat yang
mengganggu kemampuan untuk melakukan aktifitas rutin sehari-hari.

f. Adanya ikterus
Menandakan bawah seseorang itu sedang menderita penyakit liver.

g. Asites
Ketika liver kehilangan kemampuannya membuat protein albumin, air
menumpuk pada kaki (edema) dan rongga abdomen (asites). Faktor utama
asites adalah peningkatan tekanan hidrostatik pada kapiler usus.

h. Hipertensi portal.
Hipertensi portal adalah peningkatan tekanan darah vena portal yang
memetap di atas nilai normal. Penyebab hipertensi portal adalah peningkatan
resistensi terhadap aliran darah melalui hati.
(Price S.A., 2006)
Diagnosa
Diagnosa Sirosis Hepatis Berdasarkan Pemeriksaan Laboratorium, terdiri dari:
a. Urin
Dalam urine terdapat urobilnogen juga terdapat bilirubin bila penderita ada ikterus.
Pada penderita dengan asites, maka ekskresi Natrium (Na) dalam urin berkurang
(urin kurang dari 4 meq/l) menunjukkan kemungkinan telah terjadi syndrome
hepatorenal.

b. Tinja
Terdapat kenaikan kadar sterkobilinogen. Pada penderita dengan ikterus, ekskresi
pigmen empedu rendah. Sterkobilinogen yang tidak terserap oleh darah, di dalam
usus akan diubah menjadi sterkobilin yaitu suatu pigmen yang menyebabkan tinja
berwarna cokelat atau kehitaman.

c. Darah
Biasanya dijumpai normostik normo kronik anemia yang ringan, kadang– kadang
dalam bentuk makrositer yang disebabkan kekurangan asamfolik dan vitamin B12
atau karena Splenomegali. Bilamana penderita pernah mengalami perdarahan
gastrointestinal maka akan terjadi hipokromik anemi, juga dijumpai likopeni
bersamaan dengan adanya trombositopeni.

d. Tes Faal Hati


Pada sirosis globulin bertambah, sedangkan albumin menurun. Pada orang normal
tiap hari akan diproduksi 10-16 gr albumin, pada orang dengan Sirosis hanya dapat
disintesa antara 3,5-5,9 gr/hari. Kadar normal albumin dalam darah 3,5-5,0 g/dl
(Hadi, 2002).

Sarana Penunjang Diagnostik


a. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi (USG) banyak dimanfaatkan untuk mendeteksi kelainan di
hati, termasuk sirosis hati. Gambaran USG tergantung pada tingkat berat ringannya
penyakit. Pada tingkat permulaan Sirosis akan tampak hati membesar, permulaan
irregular, tepi hati tumpul. Pada fase lanjut terlihat perubahan gambar USG, yaitu
tampak penebalan permukaan hati yang irregular. Sebagian hati tampak membesar
dan sebagian lagi dalam batas nomal.
b. Peritoneoskopi (laparoskopi)
Secara laparoskopi akan tampak jelas kelainan hati. Pada sirosis hepatis akan
jelas kelihatan permukaan yang berbenjol-benjol berbentuk nodul yang besar atau
kecil dan terdapatnya gambaran fibrosis hati, tepi biasanya tumpul. Seringkali
didapatkan pembesaran limpa.

c. Esophagus Gastro Duodenoscopy (EGD)


Dilakukan untuk pemeriksaan ada tidaknya varises dalam sistem GI.

Dapus
Price S.A., 2006, Patofisiologi konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi 6,
EGC, Jakarta.
Hadi, S. 2002 . Gastroenterologi . Bandung . PT Alumni