Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN ANALISA SINTESA TINDAKAN

KEPERAWATAN PEMASANGAN INFUS DI IGD


RSUD CILACAP

Oleh:

Sadewo Ba’do Riyadi

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH
CILACAP

Jl.Cerme No.24 Sidanegara Cilacap - Jawa Tengah (53223)


 : (0282) 532975
Inisial pasien : Sdr. S Dx Medis : Thypoid

Tanggal masuk : 14 - 03 - 2018 No. RM :

1. Diagnosa keperawatan dan dasar pemikiran

a. Diagnosa keperawatan
DS : Klien mengatakan demam sejak 5 hari yang lalu dan klien merasa
kedinginan.
DO : Suhu: 38,5 ̊ C, daerah sekitar wajah memerah.
Diagnosa keperawatan: Hipertermi b.d proses penyakit

b. Dasar pemikiran
Demam tifoid disebut juga dengan Typus abdominalis atau typoid
fever. Demam tipoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya
terdapat pada saluran pencernaan (usus halus) dengan gejala
demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran
pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran .
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau
Salmonella paratyphi dari Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk
batang, gram negatip, tidak membentuk spora, motil, berkapsul dan
mempunyai flagella (bergerak dengan rambut getar). Bakteri ini
dapat hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di
dalam air, es, sampah dan debu. Bakteri ini dapat mati
dengan pemanasan (suhu 600C) selama 15 – 20 menit, pasteurisasi,
pendidihan dan khlorinisasi.
Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh
manusia melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian
kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke
usus halus dan berkembang biak.
Bila respon imunitas humoral mukosa IgA usus kurang baik maka
kuman akan menembus sel-sel epitel terutama sel M dan
selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang
biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman
dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya
dibawa ke plaque Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah
bening mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang
terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah
(mengakibatkan bakterimia pertama yang asimtomatik) dan menyebar
ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Di
organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian
berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya
masuk ke dalam sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan
bakterimia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan
gejala penyakit infeksi sistemik, seperti demam, malaise, mialgia,
sakit kepala dan sakit perut.
Semua pasien demam tifoid selalu menderita demam
pada awal penyakit.Demam berlangsung 3 minggu bersifat
febris, remiten dan suhu tidak terlalu tinggi. Pada awalnya suhu
meningkat secara bertahap menyerupai anak tangga selama 2-7 hari,
lebih tinggi pada sore dan malam hari,tetapi demam bisa pula
mendadak tinggi. Dalam minggu kedua penderita akan terus menetap
dalam keadaan demam, mulai menurun secara tajam pada
minggu ketiga dan mencapai normal kembali pada minggu
keempat. Ketika seseorang mengalami demam maka orang tersebut
beresiko terkena dehidrasi karena biasanya keringat akan keluar secara
berlebihan, salah satu cara untuk mencegah dehidrasi dan menurunkan
suhu tubuh adalah dengan melakukan rehidrasi. Rehidrasi bisa
dilakukan melalui intra vena yaitu dengan pemasangan infus, selain
untuk rehidrasi pemasangan infus juga membantu untuk memudahkan
pemberian obat injeksi via intra vena seperti paracetamol untuk
menurunkan suhu tubuh.
2. Tindakan keperawatan yang dilakukan
Melakukan pemasangan infus RL 20 tpm
3. Prinsip
Prinsip pemasangan terapi intravena (infus) memperhatikan prinsip
steril, hal ini yang paling penting dilakukan tindakan untuk mencegah
kontaminasi jarum intravena (infus).

4. Bahaya yang dapat terjadi

a. Hematoma

b. Infiltrasi

c. Tromboflebitis/bengkak (inflasi pada pembuluh vena)

d. Emboli udara

e. Perdarahan

f. Reaksi alergi

5. Analisa tindakan keperawatan


Tujuan dilakukan pemasangan infus adalah untuk mempertahankan atau
mengganti cairan tubuh yang mengandung elektrolit, vitamin, protein,
lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan secara adekuat melalui
oral, memberikan keseimbangan asam basa, memperbaiki volume
komponen darah dan memberikan nutrisi saat sistem pencernaan
diistirahatkan. Perawat mencuci tangan kemudian mempersiapkkan alat-
alat yang akan dipakai seperti standar infus, abocath ukuran 22, torniquet,
kapas alkohol, plester, kasa, cairan infus yang kemudian disambungkan ke
infus set serta mengaliri infus set dengan cairan infus agar tidak ada udara
pada infus set, memakai sarung tangan, setelah itu perawatan menanyakan
nama pasien untuk memvalidasi program terapi, perawat memberitahu
bahwa ia akan memasang infus, setelah mendapat persetujuan perawat
memasang torniquet untuk membendung aliran darah, kemudian perawat
mencari vena yang lurus, mengukur vena dengan jarum abocath yang ada
lalu mengoleskan kapas alkohol pada daerah yang akan ditusuk, kemudian
perawat menusukkan abocath dengan sudut awal sekitar 45 ̊ lalu sudut
diturunkan untuk mengincar vena yang sudah ditentukan, setelah jarum
masuk ke dalam vena (ditandai dengan chamber abocath berisi darah)
lepaskan jarum setengahnya dan masukkan kembali sisa jarum yang ada
lalu tarik kembali sisa jarumnya, sebelum jarum terlepas semua perawat
menggunakan bagian ibu jari untuk membendung aliran darah vena yang
sudah ditusuk abocath agar darah tidak keluar, kemudian segera mungkin
sambungkan infus set ke abocath yang telah terpasang kemudian perawat
melakukan fiksasi abocath yang sudah terpasang, langkah terakhir perawat
mengatur tetesan infus sesuai dosis yang diberikan oleh dokter, kemudian
melakukan evaluasi sebelum berpamitan dengan pasien.

6. Hasil yang didapat dan maknanya


S : klien mengatakan masih merasa dingin dan lemas
O : suhu: 38,4 ̊ C
A : masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi pemberian obat antipiretik sesuai dosis yang
diberikan dokter

7. Tindakan keperawatan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi


diagnosa di atas (mandiri dan kolaboratif)
a. Pemberian obat antipiretik
b. Memonitor suhu tubuh sesering mungkin
c. Monitor IWL
d. Monitor balance cairan

8. Evaluasi diri
Sebelum melakukan pemasangan infus akan lebih baik jika
perawat melakukan komunikasi teraupetik dengan lengkap seperti
memperkenalkan diri, memberitahu prosedur pemasangan infus, tujuan
pemasangan infus, serta melakukan kontrak waktu dan tempat kepada
pasien.
9. Daftar Pustaka

Haji, Bayu Seno. (2010). Hubungan Kompetensi Pada Aspek


Keterampilan Pemasangan Infus Dengan Angka Kejadian Flebitis Di
RSUD Banyudono Boyolali. Diakses 9 Januari 2017 pada jam 23.00 WIB.
http://etd.eprints.ums.ac.id/7935/1/J210080508.pdf
Harahap. (2009). Karakteristik Penderita Demam Typhoid Rawat
Inap Di RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam Tahun 2009. Diakses 9 Januari
2017 pada jam 23.45 WIB.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28625/4/Chapter%20II.pd
f

Nurarif, A.H., dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi NANDA NIC-


NOC. Jakarta:MediAction