Anda di halaman 1dari 19

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS BERMAIN

BERNYANYI DAN MENARI


USIA TODDLER
RUANG MELON RSUD CENGKARENG

Proposal Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Keperawatan Anak Program Profesi Ners

Disusun Oleh :
1. Apriliyanti
2. Evie Nurmala Sari
3. Gina Khairunnisa
4. Maya Ayudya Pratiwi
5. Nia Handayani
6. Nur Fitriyana
7. Rani Prananda Putri
8. Ricky Dwiantama
9. Sara Octaviana Benafa
10. Sarah Octavia

PROGRAM PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERTAMEDIKA
JAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hospitalisasi biasanya memberikan pengalaman yang menakutkan bagi anak. Semakin muda
usia anak, semakin kurang kemampuannya beradaptasi, sehingga timbul hal yang
menakutkan. Semakin muda usia anak dan semakin lama anak mengalami hospitalisasi maka
dampak psikologis yang terjadi salah satunya adalah peningkatan kecemasan yang
berhubungan erat dengan perpisahan dengan saudara atau teman-temannya dan akibat
pemindahan dari lingkungan yang sudah akrab dan sesuai dengannya (Wong, 2008).

Anak-anak dapat merasakan tekanan (stress) pada saat sebelum hospitalisasi, selama
hospitalisasi, bahkan setelah hospitalisasi, karena tidak dapat melakukan kebiasaannya
bermain bersama teman-temannnya, lingkungan dan orang-orang yang asing baginya serta
perawatan dengan berbagai prosedur yang harus dijalaninya terutama bagi anak yang baru
pertama kali di rawat menjadi sumber utama stress dan kecemasan atau ketakutan (Carson,
dkk, 1992).

Terapi bermain adalah suatu bentuk permainan yang direncanakan untuk membantu anak
mengungkapkan perasaannya dalam menghadapi kecemasan dan ketakutan terhadap sesuatu
yang tidak menyenangkan baginya. Ketika masa anak sudah memasuki masa toddler anak
selalu membutuhkan kesenangan pada dirinya dan anak membutuhkan suatu permainan.

Pemberian terapi bermain ini dapat menunjang tumbuh kembang anak dengan baik. Pada
kenyataannya tidak semua anak dapat melewati masa kanak-kanaknya dengan baik, ada
sebagian yang dalam proses tumbuh kembangnya mengalami gangguan kesehatan. Dengan
memperhatikan hal-hal tersebut diatas, maka perlu adanya program terapi bermain di rumah
sakit khususnya di ruang perawatan anak, sehingga diharapkan asuhan keperawatan dapat
menunjang proses penyembuhan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan tindakan program bermain pada anak usia balita selama kurang lebih
30 menit diharapkan anak dapat mengekspresikan perasaaannya dan menurunkan
kecemasannya serta dapat melanjutkan tumbuh kembang anak yang normal atau sehat.

2. Tujuan Khusus
a. Melatih imajinasinya
b. Mengembangkan kecerdasan
c. Dapat mengembangkan kemampuan bahasa anak
d. Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan
e. Dapat merangsang rasa kreatif anak
f. Dapat mengembangkan kepercayaan dirinya
g. Dapat melanjutkan tumbuh kembang yang normal
h. Dapat mengekspresikan perasaan, keinginan dan fantasi dari anak- anak
i. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stres karena sakit dan dirawat
j. Dapat beradaptasi lebih efektif terhadap stress karena sakit dan lingkungan baru.

C. Sasaran

Sasaran dari program terapi bermain adalah anak- anak yang dirawat di ruang rawat melon
perawatan anak RSUD Cengkareng, yang secara program pengobatan tidak ada
kontraindikasi untuk melakukan kegiatan permainan.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Bermain

Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan social dan
bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak-anak akan
berkata-kata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa
yang dapat dilakukannya, dan mengenal waktu, jarak serta suara (Wong, 2008)

Aktivitas bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi anak. Dengan
aktivitas bermain anak juga akan memperoleh stimulasi mental yang merupakan cikal bakal
dari proses belajar pada anak untuk pengembangan, kecerdasan, keterampilan, kemandirian,
kreativitas, agama, kepribadian, moral, etika dan sebagainya. Bermain secara garis besar
dapat dibagi kedalam dua kategori yaitu aktif dan pasif (hiburan).

B. Kategori Bermain

1. Bermain Aktif
a. Bermain Mengamati
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut.
Anak memperhatikan alat, mengocok-ngocok apakah ada bunyi, mencium, meraba,
menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar.
b. Bermain Konstruksi
Pada anak umur 3 tahun misalnya dengan menyusun balok-balok menjadi rumah-
rumahan.
c. Bermain Drama
Misalnya main sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan saudara-saudaranya
atau teman-temannya.
d. Bermain bola, tali dan sebagainya.
2. Bermain Pasif
Dalam hal ini anak berperan pasif antara lain dengan melihat dan mendengar bermain
pasif adalah ideal, apabila anak sudah lelah bermain aktif dan membutuhkan sesuatu
untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya.

C. Fungsi Bermain
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik, perkembangan
sosial, perkembangan kreativitas, perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan
bermain sebagai terapi (Soetjiningsih, 1995).
1. Perkembangan Sensoris-motorik
Pada saat melakukan permainan aktivitas sensoris-motoris merupakan komponen terbesar
yang digunakan anak sehingga kemampuan penginderaan anak dimulai meningkat
dengan adanya stimulasi-stimulasi yang diterima anak seperti: stimulasi visual, stimulasi
pendengaran, stimulasi taktil (sentuhan) dan stimulasi kinetik.
2. Perkembangan Intelektual (Kognitif)
Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan memanipulasi segala sesuatu yang ada
di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur dan
membedakan objek.
3. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya.
Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan menerima. Bermain dengan
orang lain akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan sosial dan belajar
memecahkan masalah dari hubungan tersebut.
4. Perkembangan Kreativitas
Di mana melalui kegiatan bermain anak akan belajar mengembangkan kemampuannya
dan mencoba merealisasikan ide-idenya.
5. Perkembangan Kesadaran diri
Melalui bermain anak akan mengembangkan kemampuannya dan membandingkannya
dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan
mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap orang lain.
6. Perkembangan Moral
Anak mempelajari nilai yang benar dan salah dari lingkungan, terutama dari orang tua
dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapat kesempatan untuk
menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan dapat
menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam lingkungannya.
7. Bermain sebagai Terapi
Pada saat anak dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang
sangat tidak menyenangkan seperti : marah, takut, cemas, sedih dan nyeri. Perasaan
tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi
beberapa stresor yang ada di lingkungan rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan
permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan
melakukan permainan, anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya
(distraksi).

D. Klasifikasi Bermain
Ada beberapa jenis permainan, baik ditinjau dari isi permainan, karakter sosial dan kelompok
usia anak. Di bawah ini akan dibahas secara rinci satu per satu :
1. Berdasarkan Isi Permainan
Berdasarkan isi permainan, ada enam jenis permainan, yaitu :
a. Sosial affective play
Inti permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan antara
anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan dari
hubungan yang menyenangkan dengan orang tuanya dan/atau orang lain. Permainan
yang biasa dilakukan adalah “Cilukba”, berbicara sambil tersenyum/tertawa, atau
sekadar memberikan tangan pada bayi untuk menggenggamnya, tetapi dengan diiringi
berbicara sambil tersenyum dan tertawa. Bayi akan mencoba berespons terhadap
tingkah laku orang tuanya dan/atau orang dewasa tersebut/misalnya dengan
tersenyum, tertawa, dan/atau mengoceh.
b. Sense of pleasure play
Permainan ini menggunakan alat yang dapat menimbulkan rasa senang pada anak dan
biasanya mengasyikkan. Misalnya, dengan menggunakan pasir, anak akan membuat
gunung-gunungan atau benda-benda apa saja yang dapat dibentuknya dengan pasir.
Bisa juga dengan menggunakan air anak akan melakukan macam-macam permainan,
misalnya memindah-mindahkan air ke botol, bak, atau tempat lain. Ciri khas
permainan ini adalah anak akan semakin asyik bersentuhan dengan alat permainan ini
dan dengan permainan yang dilakukannya sehingga susah dihentikan.
c. Skill play
Sesuai dengan sebutannya, permainan ini akan meningkatkan keterampilan anak,
khususnya motorik kasar dan halus. Misalnya, bayi akan terampil memegang benda-
benda kecil, memindahkan benda dari satu tempat ke tempat yang lain, dan anak akan
terampil naik sepeda. Jadi, keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan
kegiatan permainan yang di lakukan. Semakin sering melakukan latihan, anak akan
semakin terampil.
d. Games atau permainan
Games atau permainan adalah jenis permainan yang menggunakan alat tertentu yang
menggunakan perhitungan dan/atau skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak
sendiri dan/ atau dengan temannya. Banyak sekali jenis permainan ini mulai dari yang
sifatnya tradisional maupun yang modern.misalnya, ular tangga, congklak, puzzle,
dan lain-lain.
e. Unoccupied behaviour
Pada saat tertentu, anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum, tertawa, jinjit-
jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja, atau apa saja yang ada di
sekelilingnya. Jadi, sebenarnya anak tidak memainkan alat permainan tertentu, dan
situasi atau obyek yang ada di sekelilingnya yang di gunakannya sebagai alat
permainan. Anak tampak senang, gembira, dan asyik dengan situasi serta
lingkungannya tersebut.
f. Dramatic play
Sesuai dengan sebutannya, pada permainan ini anak memainkan peran sebagai orang
lain melalui permainannya. Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa,
misalnya ibu guru, ibunya, ayahnya, kakaknya, dan sebagainya yang ingin ia tiru.
Apabila anak bermain dengan temannya, akan terjadi percakapan di antara mereka
tentang peran orang yang mereka tiru. Permainan ini penting untuk proses identifikasi
anak terhadap peran tertentu .

2. Berdasarkan Karakter Sosial


a. Onlooker play
Pada jenis permainan ini, anak hanya mengamati temannya yang sedang bermain,
tanpa ada inisiatif untuk ikut berpartisipasi dalam permainan. Jadi, anak tersebut
bersifat pasif, tetapi ada proses pengamatan terhadap permainan yang sedang
dilakukan temannya.
b. Solitary play
Pada permainan ini, anak tampak berada dalam kelompok permainan, tetapi anak
bermain sendiri dengan alat permainan yang dimilikinya, dan alat permainan tersebut
berbeda dengan alat permainan yang digunakan temannya, tidak ada kerja sama,
ataupun komunikasi dengan teman sepermainannya.
c. Parallel play
Pada permainan ini, anak dapat menggunakan alat permainan yang sama, tetapi antara
satu anak dengan anak lainnya tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga antara
anak satu dengan anak lain tidak ada sosialisasi satu sama lain. Biasanya permainan
ini dilakukan oleh anak usia toddler.
d. Associative play
Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan anak lain, tetapi
tidak terorganisasi, tidak ada pemimpin atau yang memimpin permainan, dan tujuan
permainan tidak jelas. Contoh permainan jenis ini adalah bermain boneka, bermain
hujan-hujanan dan bermain masak-masakan.
e. Cooperative play
Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada permainan jenis ini, juga
tujuan dan pemimpin permainan. Anak yang memimpin permainan mengatur dan
mengarahkan anggotanya untuk bertindak dalam permainan sesuai dengan tujuan
yang diharapkan dalam permainan tersebut. Misalnya, pada permainan sepak bola,
ada anak yang memimpin permainan, aturan main harus dijalankan oleh anak dan
mereka harus dapat mencapai tujuan bersama, yaitu memenangkan permainan dengan
memasukkan bola ke gawang lawan mainnya.

E. Karakteristik Bermain Sesuai Tahap Perkembangan


1. Bayi
a. 1 Bulan
Visual : lihat dengan jarak dekat, gantungkan benda yang terang dan menyolok
Auditori : bicara dengan bayi, menyanyi, musik, radio, detik jam
Taktil : memeluk, menggendong, memberi kesenangan
Kinetik : mengayun, naik kereta dorong
b. 2-3 Bulan
Visual : buat ruangan menjadi tenang, gambar, cermin ditembok. Bawa bayi ke
ruangan lain. Letakkan bayi agar dapat memandang di sekitar.
Auditori : bicara dengan bayi, beri mainan bunyi, ikut sertakan dalam pertemuan
keluarga.
Taktil : memandikan, mengganti popok, menyisir rambut dengan lembut, gosok
dengan lotion/bedak.
Kinetik : jalan dengan kereta, gerakan berenang, bermain air
c. 4-6 Bulan
Visual : bermain cermin, anak nonton tv. Beri mainan dengan warna terang.
Auditori : anak bicara, ulangi suara yang dibuat, panggil nama, remas kertas didekat
Telinga, pegang mainan bunyi.
Taktil : beri mainan lembut/kasar, mandi cemplung/cebur.
Kinetik : bantu tengkurap, sokong waktu duduk.
d. 6-9 Bulan
Visual : mainan berwarna,bermain depan cermin,”ciluk ….ba”. Beri kertas untuk
dirobek-robek.
Auditori : panggil nama “mama …papa”, dapat menyebutkan bagian tubuh. Beri
tahu yang anda lakukan, ajarkan tepuk tangan dan beri perintah sederhana.
Taktil : meraba bahan bermacam-macam tekstur, ukuran, main air mengalir,
berenang.
Kinetik : letakkan mainan agak jauh lalu suruh untuk mengambilnya.
e. 9-12 Bulan
Visual : perlihatkan gambar dalam buku. Ajak pergi ke berbagai tempat.bermain
bola, tunjukkan bangunan agak jauh.
Auditori : tunjukkan bagian tubuh dan sebutkan, kenalkan dengan suara binatang.
Taktil : beri makanan yang dapat dipegang, kenalkan dingin, panas dan hangat.
Kinetik : beri mainan.

Mainan yang dianjurkan untuk Bayi 6-12 bulan:


a. Blockies warna-warni jumlah, ukuran.
b. Buku dengan gambar menarik
c. Balon, cangkir dan sendok
d. Boneka bayi
e. Mainan yang dapat didorong dan ditarik

2. Toddler ( 2-3 Tahun )


a. Mulai berjalan, memanjat, lari
b. Dapat memainkan sesuatu dengan tangannya
c. Senang melempar, mendorong, mengambil sesuatu
d. Perhatiannya singkat
e. Mulai mengerti memiliki “ Ini milikku ….”
f. Karakteristik bermain “Paralel Play”
g. Toddler selalu bertengkar saling memperebutkan mainan/sesuatu
h. Senang musik/irama
Mainan Untuk Toddler
a. Mainan yang dapat ditarik dan didorong
b. Alat masak
c. Malam, lilin
d. Boneka, Blockies, Telepon, gambar dalam buku, bola, dram yang dapat
dipukul,
krayon, kertas.

3. Pre-School
a. Cross motor and fine motors
b. Dapat melompat, bermain dan bersepeda.
c. Sangat energik dan imaginative
d. Mulai terbentuk perkembangan moral
e. Mulai bermain dengan jenis kelamin dan bermain dgn kelompok
f. Karakteristik bermain
g. Assosiative play
h. Dramatic play
i. Skill play
j. Laki-laki aktif bermain di luar
k. Perempuan didalam rumah

Mainan untuk Pre-school


a. Peralatan rumah tangga
b. Sepeda roda Tiga
c. Papan tulis/kapur
d. Lilin, boneka, kertas
e. Drum, buku dengan kata simple, kapal terbang, mobil, truk
4. Usia Sekolah
a. Bermain dengan kelompok dan sama dengan jenis kelamin
b. Dapat belajar dengan aturan kelompok
c. Belajar Independent, cooperative, bersaing, menerima orang lain.
d. Karakteristik “Cooperative Play”
e. Laki-laki : Mechanical
f. Perempuan : Mother Role

Mainan untuk Usia Sekolah


a. 6-8 tahun
kartu, boneka, robot, buku, alat olah raga alat untuk melukis, mencatat, sepeda.
b. 8-12 tahun
buku, mengumpulkan perangko, uang logam, pekerjaan tangan, kartu, olah
raga bersama, sepeda, sepatu roda.

F. Tahap Perkembangan Bermain


1. Tahap eksplorasi
Merupkan tahapan menggali dengan melihat cara bermain.
2. Tahap permainan
Setelah tahu cara bermain, anak mulai masuk dalam tahap permainan.
3. Tahap bermain sungguhan
Anak sudah ikut dalam perminan.
4. Tahap melamun
Merupakan tahapan terakhir anak membayangkan permainan berikutnya.
G. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain
1. Tahap perkembangan, tiap tahap mempunyai potensi/keterbatasan
2. Status kesehatan, anak sakit→ perkembangan psikomotor kognitif terganggu
3. Jenis kelamin
4. Lingkungan → lokasi, negara, kultur.
5. Alat permainan → senang dapat menggunakan
6. Intelegensia dan status sosial ekonomi

Menurut Soetjaningsih (1995) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
agar aktivitas bermain bisa menjadi stimulus yang efektif sebagaimana berikut ini :
a. Energi
Anak bermain sangat diperlukan ekstra energi. Anak yang sakit sangat kecil
kemungkinannya untuk mengikuti permainan.
b. Waktu
Untuk mengikuti terapi bermain anak harus mempunyai cukup waktu untuk bermain,
karena mengingat kondisi anak yang harus diperhatikan.
c. Ruangan
Untuk terapi bermain ruangan tidak usah terlalu lebar dan tidak perlu ruangan khusus
untuk bermain, yang terpenting anak bisa bermain di ruang keluarga, di halaman,
bahkan di kamar tidurnya.
d. Peralatan
Untuk bermain diperlukan alat permainan yang sesuai dengan umur dan taraf
perkembangannya.
e. Pengetahuan
Anak belajar bermain melalui mencoba-coba sendiri, meniru teman-temannya atau
diberi tahu caranya oleh orang lain. Cara yang terakhir adalah yang terbaik karena anak
tidak terbatas pengetahuannya dalam menggunakan alat permainannya dan anak-anak
akan mendapat keuntungan lain lebih banyak.
f. Teman Bermain
Dalam bermain anak harus merasa yakin bahwa ia mempunyai teman bermain,
mendapat keuntungan apakah itu saudaranya, pembantu, orang tuanya atau temannya.
Karena kalau anak bermain sendiri, maka ia akan kehilangan kesempatan belajar dari
teman-temannya. Sebaliknya kalau terlalu banyak bermain dengan orang lain, maka
dapat mengakibatkan anak tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk menghibur
diri sendiri dan menemukan kebutuhannya sendiri. Bila kegiatan bermain dilakukan
bersama orang tuanya, maka hubungan orang tua dengan anak menjadi akrab dan ibu
atau ayah akan segera mengetahui setiap kelainan yang terjadi pada anak mereka
sendiri.

H. Terapi Bermain di Rumah Sakit

1. Tujuan
a. Melanjutkan tugas kembang selama perawatan
b. Mengembangkan kreativitas melalui pengalaman permainan yang tepat
c. Beradaptasi lebih efektif terhadap stress karena sakit atau dirawat
2. Prinsip
a. Tidak boleh bertentangan dengan terapis dan perawatan yang sedang di jalankan
b. Tidak banyak energi, singkat dan sederhana
c. Mempertimbangkan keamanan dan infeksi silang
d. Kelompok umur sama
e. Melibatkan keluarga/orang tua.
BAB III
TERAPI BERMAIN

A. Karakteristik Sasaran
Sasaran terapi bermain ini adalah anak-anak usia yang kami batasi usia anak 1 – 3 tahun dan
dirawat di ruang perawatan anak Melon RSUD Cengkareng dengan kriteria :
1. Tidak dalam kondisi bedrest total
2. Dalam fase penyembuhan
3. Bersedia mengikuti permainan/terapi

B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan


1. Tempat : Ruang bermain melon lantai 6
2. Hari / Tanggal : Selasa, 15 November 2016
3. Waktu : 09.00 – 09.30 WIB

C. Setting Tempat
Tempat disetting berbentuk lingkaran, dimana anak-anak didampingi oleh orang tuanya dan
ruangan harus nyaman dan tenang.

L CL

F K

K
K

K K
F
O
D. Jenis aktivitas
Bermain dan bernyanyi

E. Metode
Metode yang digunakan adalah demonstrasi bernyanyi dengan menggunakan beragam
media sebagai peraga, kemudian ajak peserta untuk menirunya dengan memulai permainan
bermain dan bernyanyi.

F. Media
1. Karton
2. Balon
3. Kardus
4. Musik
5. Name Tage

G. Uraian Kerja
1. Struktur organisasi
a. Leader : Apriliyanti
b. Co. Leader : Gina Khairunnisa
c. Fasilitator : Nia Handayani
Nur Fitriyana
Maya Ayudya Pratiwi
Ricky Dwi Antama
Evie Nurmala Sari
Rani Prananda Putri
Sarah Octavia
d. Observer : Sara O. Benafa
2. Uraian Tugas
a. Leader
1) Membuka terapi bermain
2) Menjelaskan tujuan bermain
3) Mengarahkan proses kegiatan pada anggota kelompok
4) Menutup terapi bermain
5) Mengevaluasi perasaan setelah pelaksanaan
b. Co.Leader
1) Membantu leader dalam mengorganisasi anggota
2) Mengingatkan leader dalam pelaksanaan terapi bermain
3) Menjelaskan aturan bermain pada anak
c. Fasilitator
1) Menyiapkan alat-alat permainan
2) Memberi motivasi kepada anak untuk bermain dan bernyanyi
3) Mempertahankan kehadiran anak
4) Mencegah gangguan / hambatan terhadap anak baik luar maupun dalam
d. Observer
1) Mencatat dan mengamati respon klien secara verbal dan non verbal
2) Mencatat seluruh proses yang dikaji dan semua perubahan perilaku
3) Mencatat dan mengamati peserta aktif dari program bermain

H. Fase Permainan
a. Fase orientasi
1. Salam terapeutik
a. Leader :
1) Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri dan anggota kelompok lain
peserta memperkenalkan diri satu persatu
2) Menjelaskan tujuan
Tujuan : Tujuan dari program bermain ini supaya anak dapat bersosialisasi
dengan orang lain dan dapat mengekpresikan imajinasi anak serta dapat
mengembangkan kemampuan keterampilan motorik anak.
b. Co leader :
1) Menjelaskan aturan bermain
Aturan main :
 Co leader menyebutkan dan menjelaskan aturan permainan
 Anggota diatur dalam bentuk huruf O
 Co leader mendemonstrasikan cara bermain dan bernyanyi
 Waktu untuk bermain dan bernyanyi adalah 15 menit
 Fasilitator mengajak peserta untuk ikut bermain dan bernyanyi
 Jika ada peserta yang ingin keluar harus menunjuk tangan dan
memberitahukan fasilitator
 Jika ada peserta yang drop out fasilitator menanyakan alasan kalau
mungkin motivasi kembali kegiatan
 Peserta harus hadir di tempat 5 menit sebelum kegiatan berlangsung

2. Fase kerja
1) Leader berdiri di depan
2) Leader mengatur posisi peserta
3) Fasilitator menyiapkan peralatan bermain
4) Fasilitator memberi motivasi kepada anak
5) Observer mengamati jalannya kegiatan dan respon selama program bermain

3. Fase terminasi
1) Evaluasi respon subyektif
Leader menanyakan perasaan peserta setelah mengikuti program bermain.
2) Evaluasi respon obyektif
Observer mengobservasi perilaku peserta selama kegiatan terkait dengan tujuan
3) Tindak lanjut

I. Hasil
a. Peserta diharapkan mampu bergabung dengan temannya dalam kelompok kecil
b. Peserta dapat mengikuti kegiatan sampai selesai dan dapat bermain dan bernyanyi
c. Peserta dapat aktif mengikuti kegiatan permainan karena peserta dalam kondisi yang
lemah.
DAFTAR PUSTAKA

A.H. Markum.1991. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. FKUI

Ahira. 2008. Perkembangan Fisik Balita. Available online at

http://www.anneahira.com/ilmu (diakses tanggal 24 April 2010).

Spontan. [online] Available http://www.docstoc.com, diakses tanggal 20 Januari 2010

Suriadi dan Yuliani R. 2000. Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi I. Jakarta.

Whaley & Wong, 2008, Nursing Care of Infants and Children, fifth edition, Clarinda

company, USA.