Anda di halaman 1dari 2

3/24/2018 Titik nyala - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Titik nyala
Titik nyala dari bahan yang mudah menguap adalah suhu terendah saat dia dapat menguap untuk membentuk
campuran yang bisa menyulut api di udara. Mengukur titik nyala membutuhkan sumber pengapian. Pada titik nyala, uap
dapat berhenti untuk membakar ketika sumber pengapian padam.

Titik nyala jangan dikelirukan dengan suhu swasulut, yang tidak memerlukan sumber pengapian, atau titik api, suhu pada
saat uap terus membakar setelah dinyalakan. Baik titik nyala maupun titik api tergantung pada suhu sumber pengapian
yang jauh lebih tinggi.

Titik nyala seringkali digunakan sebagai karakteristik deskriptif dari bahan bakar cair, dan juga digunakan untuk
membantu mencirikan bahaya kebakaran cairan. "Titik nyala" mengacu antara cairan yang mudah menyala dan cairan
mudah terbakar. Ada berbagai standar untuk mendefinisikan setiap istilah. Cairan dengan titik nyala kurang dari 60,5
atau 37,8 ° C (140,9 atau 100,0 ° F) — tergantung pada standar yang diterapkan — dianggap mudah menyala, sementara
cairan dengan titik nyala di atas suhu tersebut dianggap mudah terbakar

Contoh
Bensin (petrol) merupakan bahan bakar
yang digunakan dalam mesin penyalaan Bahan Titik Suhu
bakar nyala swasulut
percik. Bahan bakar ini dicampur dengan
udara dalam batas dapat terbakar dan Etanol (70%) 166 °C (331 °F)[1] 363 °C (685 °F)[1]
dipanaskan di atas titik nyala, kemudian Bensin (petrol) −43 °C (−45 °F)[2] 280 °C (536 °F)[3]
disulut dengan spark plug. Untuk
Diesel (2-D) >52 °C (126 °F)[2] 256 °C (493 °F)[3]
menyulut, bahan bakar harus memiliki titik
nyala yang rendah, tetapi untuk Jet fuel (A/A-1) >38 °C (100 °F) 210 °C (410 °F)

menghindari terjadinya preignition yang Kerosene >38–72 °C (100–162 °F) 220 °C (428 °F)
disebagkan oleh panas residual dalam Minyak sayur (canola) 327 °C (621 °F)
kamar combustion panas, bahan bakar
Biodiesel >130 °C (266 °F)
harus mempunyai suhu swasulut yang
tinggi.

Titik nyala bahan bakar diesel bervariasi antara 52 and 96 °C (126 and 205 °F). Diesel cocok digunakan dalam suatu
compression-ignition engine. Udara dikompresi sampai dipanasi di atas suhu swasulut bahan bakar, yang kemudian
diinjeksi dalam bentuk semprotan bertekanan tinggi, menjaga campuran bahan bakar dan udara dalam batas dapat
terbakar. Dalam mesin berbahan bakar diesel, tidak ada sumber penyalaan (seperti spark plugs pada mesin berbahan
bakar bensin). Dengan demikian, bahan bakar diesel harus mempunyai titik nyala tinggi dan suhu swasulut yang rendah.

Titik nyala bahan bakar jet juga bervariasi menurut komposisi bahan bakar. Baik Jet A dan Jet A-1 mempunyai titik nyala
antara 38 and 66 °C (100 and 151 °F), dekat dengan kerosene yang dapat dibeli di toko. Namun baik Jet B dan JP-4
mempunyai titik nyala antara −23 and −1 °C (−9 and 30 °F).

Lihat pula
* Material Safety Data Sheet (MSDS)

https://id.wikipedia.org/wiki/Titik_nyala 1/2
3/24/2018 Titik nyala - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Petrotest
Suhu swasulut
Titik api

Referensi
1. ^ a b "Ethanol MSDS" (http://www.nafaa.org/ethanol.pdf) (PDF). Diakses tanggal January 4, 2014.
2. ^ a b "Flash Point — Fuels" (http://www.engineeringtoolbox.com/flash-point-fuels-d_937.html). Diakses tanggal
January 4, 2014.
3. ^ a b "Fuels and Chemicals — Autoignition Temperatures" (http://www.engineeringtoolbox.com/fuels-ignition-temperat
ures-d_171.html). Diakses tanggal January 4, 2014.

Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Titik_nyala&oldid=11973708"

Halaman ini terakhir diubah pada 25 Oktober 2016, pukul 17.56.

Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat
Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

https://id.wikipedia.org/wiki/Titik_nyala 2/2