Anda di halaman 1dari 5

SYARIF FAYED FAHLEVI AL-QADRIE

D1101151027

POTENSI AIR TANAH DAERAH PONTIANAK DAN SEKITARNYA


PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Data dan informasi potensi air tanah di daerah Pontianak dan sekitarnya sangat
diperlukan pemerintah daerah dalam mengelola sumber daya air tanah yang berbasis pada
cekungan air tanah. Daerah Pontianak dan sekitarnya dipisahkan menjadi 3 (tiga) wilayah
potensi air tanah, yaitu wilayah potensi air tanah tinggi, wilayah potensi air tanah sedang, dan
wilayah potensi air tanah rendah.
Wilayah Potensisi Air Tanah Tinggi, sistem akuifer ini dicirikan oleh kedalaman akuifer
berkisar antara 80 – 145 mbmt, kelulusan sistem akuifer (K) antara 17,3 – 77,8 m/hari,
keterusan sistem akuifer (T) antara 53 – 95 m2/har, kedalaman muka air tanah (MAT) antara 0
– 9 mbmt, Qs antara 17,3 – 69 m3/hari/m, dengan debit optimum (Qopt) antara 99,6 –2678
m3/hari/m. Kualitas air tanah baik dan layakuntuk air minum.
Wilayah Potensi Air Tanah Sedang, mempunyai kedalaman akuifer berkisar antara 60 –
120 mbmt, kelulusan sistem akuifer (k) antara 39.10-2 – 6,9.10-1 m/det, T antara 35 – 52
m2/hari, kedalaman air tanah (MAT) antara 3 – 15 mbmt, debit spesifik (Qs) antara 0,33 –
0,50 l/dtk/m, dengan Qopt antara 1,7 – 8,2 l/dtk. Kualitas air tanah baik dan layak untuk air
minum.
Wilayah Potensi Air Tanah Rendah,mempunyai kedalaman akuifer berkisar antara 50 –
100 mbmt, K antara 28.10-2 – 4,6.10-1 m2/det, T antara 7 - 13,7 m2/hari. Kuantitas air tanah
ditunjukkan oleh MAT antara 7 – 25 mbmt, sumur yang dibuat dengan menyadap sistem
akuifer tersebut dapat menghasilkan Qsantara 0,08 – 0,13 l/dtk/m, dengan Qopt antara 0,62 –
1,8 l/dtk. Kualitas air tanah baik dan layak untuk air minum.

1. PENDAHULUAN
Kebutuhan air bersih yang bersumber dari air tanah di daerah Pontianak dan
sekitarnya dari tahun ke tahun meningkat sesuai dengan pertumbuhan penduduk dan
kegiatan pembangunan.
Untuk melayani kebutuhan air bersih yang bersumber dari air tanah tersebut, perlu
diketahui potensi air tanah di daerah Pontianak dan sekitarnya baik secara kuantitas
maupun kualitas.

1
Di Kota Pontianak, ketersediaan air baku untuk air bersih, pertanian, industri dan
lain sebagainya masih terbatas. Hal ini semakin diperparah dengan tidak tersedianya air
permukaan dengan kualitas yang memadai. Kekurangan air ini makin terasa terutama
pada saat musim kemarau, dimana instrusi air laut (asin) memasuki sungai jauh ke arah
daratan sehingga menganggu pemanfaatan air sungai (air permukaan). Kekurangan air
pada musim kemarau, juga sangat dirasakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
karena sulitnya mendapatkan sumber air baku akibat air sungai Kapuas mengalami
instrusi air laut.
Pada penulisan skripsi ini, penulis memilih daerah Kota Baru, Kelurahan Kota Baru,
Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, tepatnya di jalan Dr. Sutomo sampai jalan
Ampera sebagai lokasi penelitian karena daerah tersebut merupakan daerah pemukiman
serta perdagangan yang sering mengalami kekurangan air terutama pada musim kemarau.
Daerah tersebut sebenarnya sudah terjangkau oleh jaringan Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) namun jumlah air masih terbatas dan kualitas masih kurang baik.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi kekurangan air baku adalah
dengan memanfaatkan sumber air tanah bebas sebagai penyedia air baku. Pengembangan
pemanfaatan air tanah didahului dengan eksplorasi air tanah berupa survey hidrogeologi.
Ketersediaan air tanah ditentukan oleh beberapa faktor penting, yaitu klimatologi,
geomorfologi dan kondisi geologi serta penyebaran akuifer yang ada di suatu daerah.
Selain itu, pengujian kualitas air tanah harus dilakukan.

2. KEADAAN UMUM
Lokasi daerah penyelidikan mencakup peta topografi sekala 1:250.000 Lembar 1315
Pontianak, secara geografis terletak antara garis 109 ͦ 00' – 110 ͦ 15' Bujur Timur dan garis
00 ͦ 00' – 01 ͦ 30' Lintang Selatan.
Luas seluruh daerah penyelidikan ini kurang lebih 13.400 km2, sekitar 85% terdiri
atas dataran dengan elevasi rata-rata berkisar antara 0,00 - 50,00 m di atas muka laut
(aml) dan selebihnya secara setempat-setempat merupakan medan perbukitan dengan
elevasi sekitar 250 – 930 m aml.

2.1 Curah Hujan


Berdasarkan curah hujan rata-rata tahunan selama peiode 5 tahun (2001 – 2005)
yang diperoleh dari Meterologi Bandara Pontianak sebagai statsiun pengukur curah
hujan di daerah Pontianak, setelah dianalisis menunujukkan jumlah curah hujan tahunan

2
berkisar dari 2737 sampai 3040 mm/tahun atau rata-rata tahunan sebesar 3.050
mm/tahun atau rata-rata bulanan sebesar 254 mm/bulan.
Curah hujan di daerah ini berkisar antara 2300 -3500 mm/tahun terdiri dari dua
musim yaitu musim penghujan dan kemarau
Bila curah hujan ini jatuh di atas daerah Pontianak dengan luas sekitar 13.400 km2
atau 13.400 juta m2 akan diperoleh debit curah hujan sekitar 40.870 juta m3/tahun.
Besarnya intensitas hujan (curah hujan dibagi hari hujan) di daerah penyelidikan, yakni
berkisar dari 8,2 sampai 24,6 mm/hari atau rata-rata sekitar 15,9 mm/hari.

2.2 Suhu Udara


Berdasarkan data klimatologi selama peiode 5 tahun (2001 – 2005) yang diperoleh
dari Meterologi Bandara Pontianak sebagai statsiun pengukur suhu udara di daerah
penyelidikan. Suhu udara bulanan di daerah penyelidikan berkisar dari 26,12 sampai
27,20 ͦC.

2.3 Evapotranspirasi
Evapotranspirasi (evapotranspiration) adalah proses kembalinya air ke udara yang
disebabkan oleh penguapan yang berasal dari permukaan tanah (sungai, danau, situ) dan
tumbuh - tumbuhan.
Proses serupa namun hanya berasal tubuh air (water body) atau permukaan tanah
tanpa tetumbuhan disebut evaporasi (evaporation). Jumlah uap air yang kembali ke
udara tersebut merupakan komponen pengurang (losses) yang berpengaruh terhadap
terbentuknya air tanah.
Perhitungan evapotranspirasi potensial (potential evapotranspirasition, ETo)
dilakukan dengan metoda Thornthwaite sebagai berikut.

ETo = 1,6 b (10t/i)a

Dengan
ETo = Evapotranspirasi
b = Koefisien koreksi bulanan pada lokasi terhadap lintang
t = Suhu udara bulanan rata-rata (oC)
L = (t/5)1,514 adalah indeks pemanasan bulanan
i = i1 + i2 + i3 + ………i12
a = 6,75 x 10-7 x 13 – 7,71 x 10-5 x i2
Hasil penghitungan menunjukkan ETp bulanan rata-rata antara 124 – 151 mm dan
ETp tahunan mencapai 1.524 mm. Sementara itu, besarnya evapotranspirasi nyata

3
(actuall evapotranspiration, ETa) bulanan terhitung antara 9,55 – 235,15 mm dan ETa
tahunan mencapai 1.328 mm dalam luasan 13.400 km2 akan diperoleh volume
evapotranspirasi nyata (hujan efektip) sebesar 17.795 juta m3/tahun (sekitar 45 % total
hujan).
2.4 Penduduk dan Kebutuhan Air Bersih
Kota Pontianak adalah daerah yang paling padat penduduknya bila dibandingkan
dengan kabupaten lainnya, dengan luas daerah 107,80 km2 dihuni oleh 487,058 jiwa,
dengan tingkat kepadatan penduduk, mencapai 4,5 jiwa/km2. Kebutuhan air bersih
minimal daerah Kota Pontianak pada tahun 2005 dengan jumlah penduduk 487.058 jiwa
adalah 48.705 m3/hari, yang saat ini telah diupayakan untuk dipenuhi oleh Perusahaan
Daerah Air Minum (PDAM) dari sumber air baku di S. Kapuas Kecil yang berkapasitas
700 l/detik, sehingga terdapat defisit 21.295 m3/hari.

Jalur Air bersih Kota Pontianak

2.5 Geologi Daerah Pontianak


Dataran rendah Pontianak secara geologi dibentuk oleh batuan hasil endapan delta
Kapuas yang terdiri dari lapisan lempung lunak, lanau dan pasir, di bagian pinggiran
kota tanah permukaannya merupakan tanah gambut. Perlapisan gambut belum
terkonsolidasi sehingga mempunyai sifat permeabilitas, porositas yang tinggi dan
kerapatan rendah, sehingga dapat menyimpan air didalam ruang antar butir pada lapisan
tersebut hingga mencapai 150% Keberadaan endapan delta Kapuas dengan kandungan
airtanah bebas dan tertekan cukup melimpah di beberapa tempat, perlu dimanfaatkan
sebagai salah satu sumber air bersih dan memerlukan kajian yang seksama untuk

4
mengetahui potensi air yang dihubungkan dengan kualitasnya sebagai alternatif
pemenuhan air bersih bagi masyarakat

3. KUALITAS AIR TANAH


Air bersih merupakan persoalan utama dalam keseharian bagi masyarakat
Pontianak khususnya dan Kalimantan Barat secara umum. Instalasi pengolah air bersih
PDAM baru melayani sekitar 53% dari total penduduk (550.000 jiwa tahun 2005),
masyarakat yang belum terlayani dengan terpaksa menggunakan air permukaan yang
tertarnpung pada sungai dan parit untuk keperluan mandi dan cuci. Sedangkan untuk
memenuhi kebutuhan memasak dan air minum digunakan sumber air hujan dengan
membuat tampungan di setiap rumah. Airtanah dangkal dan dalam pada dataran aluvial
Pontianak umumnya mempunyai kualitas kurang baik karena angkalekeruhan tinggi,
rasa tawar -payau,sifat asam dan kandungan ion Fe+3 lebih besar dari 0,1 gr/liter.
Penyebaran lapisan akuifer tidak dapat diduga dengan cara-cara konvensional tetapi
harus menggunakan beberapa alat bantu survei bawah permukaan yaitu geolistrik dan
pemboran eksplorasi. Dalam penelitian ini akan dipelajari sifat fisik lapisan pembawa
airtanah (akuifer) yang sering digunakan pada penentuan potensi dan kualitas
airtanahnya untuk pasokan air bersih sesuai dengan kebutuhan. Uji laboratorium kimia
air juga bertujuan untuk mengetahui kualitas airtanahya sehingga dapat dipakai untuk
dasar perencanaan pembuatan pengolahan airtanah (water treatment) baik dengan
saringan secara fisik maupun dengan penambahan bahan kimia yang diperlukan.