Anda di halaman 1dari 6

Nama : Aisyah Bella Cardina

Nim : 7151142004
Prodi : Pend. Akuntansi A 2015
Etika Profesi dan Bisnis

Analisis Kasus tentang Pendekatan Pengambilan Keputusan

Kasus Korupsi dalam Penyalahgunaan Frekuensi 3G di Frekuensi Radio PT. INDOSAT, Tbk
dan Anak Perusahaan PT. Indosat Mega Media (IM2)

Majalah mingguan Tempo edisi 13-19 Januari 2014 memberitakan sebuah tulisan tentang
kasus korupsi yang melibatkan PT Indosat Mega Media (IM2), dan PT Indosat. Kedua
perusahaan tersebut dituduh telah melanggar Pasal 33 UU Telekomunikasi, Pasal 58 PP
No.52 Tahun 2000, dan Pasal 30 PP No.53 Tahun 2000. Kedua perusahaan tersebut
‘mencurangi’ perjanjian dalam proyek pengadaan jaringan broadband alias internet berbayar.
Secara keseluruhan, kasus tersebut ditengarai, sesuai tudingan Kejaksaan Agung, karena
adanya perjanjian kerja sama yang tidak sah dan melanggar peraturan antara PT Indosat
dengan PT IM2 (dimotori oleh Indar Atmanto, direktur periode 2006-2012) yang membuat
negara rugi. Menurut Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan, kerugian yang diderita
negara atas perjanjian kerjasama yang tidak sehat tersebut sekitar Rp 1,3 Triliun.

Kasus tersebut berawal ketika PT Indosat memenagi tender pita frekuensi radio 2,1 Gigahertz
generasi ketiga (3G) dengan penawaran seharga Rp 160 miliar. Salah satu syarat yang harus
dipenuhi oleh Indosat sebagai syarat protokol terhadap pemerintah adalah membayar
pendapatan negara bukan pajak (PNBP) berupa pembayaran upfront fee atau biaya awal
sebesar Rp 320 miliar untuk jangka waktu 10 tahun dan biaya hak penggunaan frekuensi
setiap awal tahun dengan total Rp 1,37 triliun pada tahun 2012. Setelah memenangi tender
tersebut, PT Indosat kemudian melakukan perjanjian bisnis dengan salah satu anak
perusahaannya yaitu PT Indosat Mega Media (IM2) untuk pengadaan akses internet
broadband dengan rincian PNBP berupa Rp 23 miliar untuk biaya hak penyelenggaraan
telekomunikasi tahunan pada tahun 2012 dan Rp 36 miliar untuk biaya kewajiban pelayanan
universal tahunan pada tahun 2012.
Tudingan korupsi yang menjerat anak-induk perusahaan penyedia layanan telekomunikasi
mulai santer tercium. Ada tudingan bahwa IM2 dilaporkan tidak pernah mengikuti seleksi
pelelangan pita jaringan pada pita frekuensi 2,1 GHz sehingga dianggap tidak berhak
memanfaatkan jalur tersebut. IM2 juga tidak memiliki izin penyelenggara 3G karena izin
penyelenggara dimiliki Indosat sehingga Kejaksaan menilai IM2 sebagai penyelenggara jasa
telekomunikasi telah memanfaatkan jaringan bergerak seluler frekuensi 3G tanpa izin resmi
dari pemerintah.

Hingga pada tanggal 5 Januari 2013, kejaksaan agung mengumumkan Indosat dan IM2
ditetapkan sebagai tersangka. Menurut kejagung, PT Indosat dan PT IM2 telah melanggar
Pasal 33 Undang-Undang No 36 Tahun 1999 Tentang Telekomunikasi yang berisi; (1)
Penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit wajib mendapatkan izin pemerintah;
(2) Penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit harus sesuai dengan peruntukannya
dan tidak saling mengganggu; (3) Pemerintah melakukan pengawasan dan pengendalian
penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit. PT Indosat dan PT IM2 juga
melanggar Pasal 58 PP Nomor 52 Tahun 2000 Tentang Peneyelenggaraan Komunikasi yang
berbunyi, Menteri mengumumkan peluang usaha untuk menyelenggarakan jaringan dan/atau
jasa telekomunikasi kepada masyarakat secara terbuka dan Pasal 30 PP Nomor 53 Tahun
2000 Tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Dan Orbit Satelit yang berbunyi, biaya
hak penggunaan spektrum frekuensi radio bagi penggunaan bersama pita frekuensi radio dan
atau kanal frekuensi radio dibebankan secara penuh pada setiap pengguna. Kerjasama Indosat
dan IM2 dalam peneyediaan akses Internet, menurut Jaksa, melanggar undang-undang dan
aturan di bidang telekomunikasi. Mereka menuduh Indosat dan IM2 memakai pita frekuensi
radio 2,1 Gigahertz tanpa ikut lelang. Kerja sama anak-induk perusahaan itu dianggap “akal-
akalan” agar IM2 tak membayar biaya nilai awal dan biaya hak penggunaan frekuensi. Dalam
kasus tersebut, Jaksa Penuntut Umum juga mendakwa Indar Atmanto dengan tuduhan UU
Tindak Pidana Korupsi Pasal 2 dan Pasal 3. Secara garis besar, kedua pasal tersebut berisi
tentang memperkaya diri sendiri atau korporasi dengan cara melawan hukum dan melakukan
penyalahgunaan kewenangan. Hakim memvonis Indar dengan hukum 8 tahun penjara.
Analisis Kasus dengan Menggunakan 4 Pendekatan dalam Pengambilan Keputusan

1. Pendekatan Cost Benefit (Biaya Manfaat)


Dalam pendekatan ini, menyangkut beberapa hal, yaitu :
a. Well ofness
Pengambilan keputusan ini harus menghasilkan manfaat. Di dalam kasus yang menjerat
PT. Indosat, Tbk dan Anak Perusahaannya PT. Indosat Mega Media hanya mementingkan
kepentingan untuk perusahaannya sendiri tanpa memperhatikan kepentingan pihak lain
(pengguna jasa internet). Sebab penyalahgunaan frekuensi 3G di frekuensi radio 2.1 GHz
akan berdampak luas kepada terhentinya seluruh usaha layanan terkait internet di indonesia.
Selain itu, pelanggaran mengenai perjanjian dalam proyek pengadaan jaringan
broadband alias internet berbayar dapat merugikan dan tidak memberikan manfaat yang
imbang antara perusahaan dengan negara hal ini dikarenakan kerjasama antara kedua
perusahaan ini didasarkan untuk mengibuli pihak pemerintah agar IM2 tidak membayar biaya
nilai awal dan biaya hak pengguna frekuensi, yang sudah ditetapkan didalam peraturan
perundang-undangan.
b. Fairness (keadilan)
Hal ini menyangkut mengenai distribusi pelayanan yang fair (adil) dari manfaat dan
kerugian. Pada kasus ini, manfaat yang didapat hanya untuk PT. Indosat dan anak
perusahaanya sedangkan kerugian ini melibatkan pihak-pihak lain seperti pihak pemerintah
(negara) maupun pihak pengguna jasa internet. Sehingga, dalam hal ini jelas bahwa
keputusan yang diambil oleh kedua perusahaan ini tidak adil karena tidak menguntungkan
bagi perusahaan maupun pihak-pihak pemangku kepentingan .
c. Right
Pengambilan keputusan yang etis sebaiknya tidak melanggar beberapa hak dari
stakeholder (pemangku kepentingan). Namun, pada kasus ini PT. Indosat,Tbk dan anak
perusahaannya telah melanggar hak-hak dari stakeholder, sebab perusahaan ini telah
mengingkari dari perjanjian yang telah dilakukan. Dan pihak perusahaan juga tidak mematuhi
segala peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah didalam undang-undang yang termuat di
dalam Pasal 33 UU Telekomunikasi, Pasal 58 PP No.52 Tahun 2000, dan Pasal 30 PP No.53
Tahun 2000. Dalam hal ini pihak perusahaan menghilangkan hak-hak pemerintah dalam
memperoleh keuntungan menyangkut pembayaran biaya awal penggunaan frekuensi kepada
pemerintah sehingga dapat merugikan pihak pemerintah itu sendiri.
2. Pendekatan Lima Pertanyaan
Pendekatan lima pertanyaan ini menyangkut tentang apakah keputusan yang diambil
oleh PT. Indosat, Tbk dan PT. Indosat Mega Media (IM2) tersebut :
a. Menguntungkan ?
Pada kasus ini, pengambilan keputusan tersebut tidak akan menguntungkan bagi pihak
pemerintah maupun pengguna internet di Indonesia. Sebab, kasus pelanggaran dan
penyalahgunaan ini akan merugikan negara dan juga dapat berakibat pada terhentinya
seluruh usaha layanan terkait internet.
b. Apakah keputusan ini sudah sesuai dengan hukum ?
Pada kasus ini jelas melanggarPasal 33 UU Telekomunikasi, Pasal 58 PP No.52 Tahun
2000, dan Pasal 30 PP No.53 Tahun 2000.
c. Apakah keputusan ini sudah adil ?
Dalam pengambilan keputusan yang dilakukan perusahaan tidak adil karena hanya
mementingkan keuntungan bagi perusahaan itu sendiri tanpa mempertimbangkan keuntungan
pihak lain (pengguna jasa internet dan pemerintah).
d. Kebenaran ?
Keputusan yang diambil oleh perusahaan ini akan merampas hak-hak orang lain dalam
mendapatkan keuntungan dan informasi dengan bebas. Karena pelanggaran ini dapat
mengakibatkan kerugian yang besar bagi pemerintah (negara) selain itu juga penyalahgunaan
freskuensi 3G di frekuensi radio 2.1 GHz ini juga akan menimbulkan dampak ke semua
jaringan internet yang ada di Indonesia akan terhenti.
e. Apakah keputusan ini akan membawa perkembangan yang lebih baik ?
Keputusan ini tidak akan membawa perkembangan yang lebih baik karena akan
mengganggu layanan jaringan internet di Indonesia.

3. Pendekatan Standar Moral


Pendekatan standar moral alam pengambilan keputusan ini, berkaitan dengan beberapa
hal, yaitu :
a. Manfaat besar untuk masyarakat
Akibat dari penyalahgunaan 3G di frekuensi radio 2.1 GHz tidak akan memberikan
manfaat yang besar bagi masyarakat. Justru keputusan ini akan mengakibatkan kerugian yang
sangat besar bagi pemerintah maupun seluruh masyarakat sebagai pengguna layanan internet.
Hal ini akan mengakibatkan kerugian materiil yang sangat besar bagi pemerintah dan
terganggunya layanan internet, sehingga masyarakat tidak akan bisa menggunakan layanan
internet dengan maksimal.
b. Adil bagi semua yang memiliki kepentingan
Keputusan ini tidak adil, karena hanya menguntungkan satu pihak saja yaitu perusahaan
itu sendiri.
c. Konsisten menjaga hak-hak setiap orang (para stake holder)
Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh perusaahan dalam menjaga hak-hak setiap
orang (stake holder) tidak konsisten, dikarenakan perusahaan ini hanya mementingkan hak-
hak kepentingan bagi perusahaannya saja. Semua keuntungan untuk perusahaan itu snediri
sedangkan kerugian untuk para stakeholder.

4. Pendekatan Pastin
Dalam pendekatan Pastin ini berkaitan erat dengan konsep etika aturan dasar. Yang
didalamnya menyangkut tentang beberapa hal, yaitu :
a. Organisasi/ aturan dan nilai-nilai (terkait dengan moral dan norma, etika dalam
manajemen)
Pada kasus ini, manajemen perusahaan PT. Indosat, Tbk dan anak perusahaannya yaitu
PT. Indosat Mega Media (IM2) jelas melanggar moral dan norma etika dalam pengambilan
keputusannya. Hal ini dibuktikan pada saat manajemen melakukan pengambilan keputusan
ini terkait dengan penyalahgunaan frekuensi 3G di frekuensi radio 2.1 GHz perusahaan ini
tidak menghiraukan peraturan-peraturan hukum (Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 2000
tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Orbit Satelit ) yang ada di Indonesia
dan perusahaan ini juga tidak memperhatikan atas dampak negatif yang ditimbulkan kepada
pengguna layanan internet yang ada di Indonesia.

b. Aturan etika dasar yang dapat digunakan untuk menentukan batasan-batasan etika, yang
didalamnya menyangkut mengenai beberapa hal, diantaranya
1) Etika peraturan dasar
Pengambilan keputusan yang dilakukan manajemen perusahaan ini mengakibatkan
benturan hak antara perusahaan dengan pemangku kepentingan (stake holder) perusahaan.
Dimana perusahaan mengambil keputusan ini dengan maksud agar memproleh keuntungan
yang besar namun manajemen perusahaan tidak mempertimbangkan hak-hak pemangku
kepentingan lain seperti pemerintah dan pengguna jasa layanan internet.
2) Etika titik akhir
Dalam pengambilan keputusan yang etis ini, perusahaan seharusnya menentukan
kepentingan atau kebaikan untuk semua yang terbaik. Namun pada kasus ini, perusahaan
hanya menentukan kepentingan atau kebaikan yang terbaik hanya bagi perusahaan itu sendiri.
3) Etika kontrak sosial
Dalam pengambilan keputusan yang etis ini, perusahaan juga harus menentukan batasan
apa yang harus diambil orang atau organisasi terhadap prinsip-prinsip etika. Namun pada
kenyataannya, PT. Indosat, Tbk dan anak perusahaannya tidak menghiraukan prinsip-prinsip
etika yang baik dalam melakukan pengambilan keputusan ini.