Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kegiatan suatu bisnis secara keseluruhan merupakan rangkaian dari berbagai kelompok kegiatan
bisnis, di mana setiap kelompok kegiatan bisnis tersebut akan terkait dengan kelompok kegiatan
yang lain. Keterkaitan tersebut akan membentuk suatu mata rantai kegiatan bisnis yang memiliki
ketergantungan antara satu kelompok kegiatan bisnis dengan kelompok yang lain tersebut.
Diversifikasi bagi sebagian pihak dianggap sebagai suatu langkah yang cukup ‘provokatif’.
Alasannya adalah karena dibalik diversifikasi, terdapat berbagai konsekuensi yang relatif lebih
besar bagi keberlangsungan sebuah perusahaan. Diversifikasi (menyebarkan bidang usaha menjadi
lebih dari satu) akan memunculkan resiko lebih tinggi, baik dalam aspek pendanaan, manajemen,
dan isu-isu krusial lainnya.
Di sinilah manajemen strategis diperlukan karena perusahaan dituntut untuk berkembang secara
terencana dan terukur, sehingga memerlukan peta perjalanan menghadapi masa depan yang tidak
pasti, memerlukan langkah-langkah strategis, dan perlu mengarahkan kemampuan dan komitmen
SDM untuk mewujudkan tujuan perusahaan.
PEMBAHASAN

A. TOTAL SISTEM NILAI BISNIS


Kegiatan suatu bisnis secara keseluruhan merupakan rangkaian dari berbagai kelompok kegiatan
bisnis, di mana setiap kelompok kegiatan bisnis tersebut akan terkait dengan kelompok kegiatan
yang lain. Keterkaitan tersebut akan membentuk suatu mata rantai kegiatan bisnis yang memiliki
ketergantungan antara satu kelompok kegiatan bisnis dengan kelompok yang lain tersebut.
Misalnya saja dalam suatu kegiatan bisnis tekstil atau kain, maka dia akan terkait dan tergantung
pada kelompok kegiatan bisnis yang lain yaitu bisnis benang tenun yang merupakan bahan baku
untuk pembuatan kain tekstil tersebut. Selanjutnya bisnis benang tenun itu akan tergantung lagi
pada bisnis kapas sebagai bahan bakunya dan bisnis kapas akan tergantung lagi dengan bisnis
perkebunan kapas dan seterusnya. Keterkaitan seperti tersebut merupakan keterkaitan yang
menuju ke arah hulu (Industri Hulu). Di samping terkait ke arah hulu, kegiatan bisnis kain tekstil
tadi akan terkait lagi ke arah hilir yaitu dengan bisnis konveksi yang akan memanfaatkan hasil
produksi kain tekstilnya itu sebagai bahan dasarnya untuk membuat baju, celana, blus, rok, jas,
singlet dan sebagainya. Lebih lanjut lagi bisnis konveksi tersebut akan terkait ke arah Industri yang
lebih Hilir lagi dengan bisnis penyaluran atau pendistribusian produknya kepada konsumen.
Kegiatan bisnis yang terakhir ini merupakan bisnis retailer atau retail business yang mana bisnis
retail inilah yang kemudian langsung berhubungan atau langsung terkait dengan kegiatan
pembelian yang dilakukan oleh para konsumen akhir.
Setiap kelompok kegiatan bisnis yang saling terkait satu sama lain tersebut di atas merupakan suatu
unit usaha bisnis atau “Business Unit”, sehingga membentuk suatu mata rantai “Unit Bisnis” yang
saling kait mengkait antara satu dengan yang lain, bahkan tidak hanya saling terkait akan tetapi
bahkan akan saling tergantung di antara mereka. Setiap Unit Bisnis, apakah itu Unit Bisnis Kain
(Tekstil) tadi, ataukah Unit Bisnis Konveksi, Distribusi dan yang lain-lain tersebut akan memiliki
suatu posisi sendiri yang cukup menentukan dalam mata rantai keseluruhan kegiatan bisnis
tersebut. Oleh karena masing-masing unit bisnis itu memiliki posisi yang cukup menentukan, maka
mereka itu lalu disebut sebagai “Unit Bisnis Strategik” atau “Strategic Business Unit” yang
kemudian sering dikenal dengan singkatan “SBU”. Setiap SBU akan merupakan suatu bagian dari
total sistem kegiatan bisnis keseluruhan yang saling terkait tersebut di atas. Dengan demikian dapat
kita katakan bahwa keseluruhan mata rantai kegiatan bisnis tersebut membentuk apa yang disebut
sebagai “TOTAL SISTEM NILAI BISNIS” atau “Total Business Value System”, atau sering juga
disebut “Total Business Value Chain”, untuk suatu cabang industri tertentu yang dalam hal ini
industri tekstil. Bagi cabang-cabang industri yang lain tentu saja akan terjadi hal yang sama.

B. DIVERSIFIKASI USAHA (BISNIS)


Penggambaran serta uraian yang kita ikuti di atas sebenarnya hanyalah merupakan suatu
penggambaran yang sederhana dari suatu kondisi total nilai bisnis. Kesederhanaan masalahnya
adalah terlihat pada penggambaran bahwa masing-masing Sistem Nilai Bisnis atau SBU tadi
dianggap hanyalah memiliki satu Unit Bisnis saja, padahal dalam kenyataannya banyak unit bisnis
yang telah berkembang dan masing-masing unit bisnis itu tidak saja hanya memiliki satu unit akan
tetapi memiliki beberapa SBU. Sebagai contoh dalam Subsistem Bisnis Kain, disitu mereka telah
memiliki berbagai SBU Kain Wool, SBU Kain Tetoron, SBU Kain Korden, SBU Kain Cotton dan
sebagainya. Begitu pula pada Subsistem yang lain mungkin pula telah mengalami perkembangan.
Perkembangan unit bisnis yang dilakukannya itu merupakan suatu proses bisnis yang disebut
sebagai proses diversifikasi usaha atau sering pula disebut sebagai penganekaragaman usaha
bisnisnya. Proses bisnis yang berupa penganekaragaman usaha atau diversifikasi bisnis tersebut
dapat dilakukan terhadap berbagai cabang bisnis baik yang bersifat :
1. Diversifikasi Horizontal
Diversifikasi yang bersifat horizontal adalah suatu penganekaragaman usaha atau bisnis yang
dilakukan terhadap berbagai jenis produk yang memiliki jenjang industri yang sejajar atau
setingkat diantara produk-produk atau usaha yang dianekaragamkan tersebut.
Sebagai suatu contoh misalnya saja diversifikasi produk yang dilakukan oleh : Indofood misalnya,
dia memproduksikan berbagai produk yang memiliki hierarki yang sama atau sejajar dalam
industrinya yaitu produk-produk berupa: Mie Instant, kemudian dia juga memproduksi Kecap,
Saus Tomat, dan sebagainya.

2. Diversifikasi Vertikal
Diversifikasi Vertikal adalah diversifikasi yang dilakukan terhadap berbagai produk yang bergerak
kearah industri yang lebih hulu ataupun yang lebih hilir, oleh karena itulah maka diversifikasi
semacam ini lalu disebut sebagai diversifikasi vertikal. Sebagai gambaran terhadap bentuk
diversifikasi vertikal ini dapat kita tunjukkan beberapa contoh, yaitu : Gramedia yang
mengusahakan bisnis Penerbitan, juga mengoperasikan bisnis Toko Buku.
3. Diversifikasi Diagonal
Diversifikasi diagonal tentu saja mudah kita pahami yaitu penganekaragaman yang dilakukan
terhadap berbagai produk atau usaha yang bersifat menyamping atau horizontal tetapi terhadap
produk-produk yang memiliki hierarki hulu hilir yang berada pada jenjang yang tidak sama atau
tidak sejajar. Dengan demikian maka gerakan dari diversifikasinya tersebut bersifat menyamping
ke arah atas atau ke arah hulu ataupun ke arah bawah atau ke arah hilir. Contoh yang dapat kita
tunjukkan bagi diversifikasi bentuk diagonal ini ada beberapa macam, salah satunya yaitu :
Yamaha, juga merupakan contoh lain yang mana dia menghasilkan produk sepeda motor, tetapi
juga memproduksi barang-barang elektronika bahkan juga menghasilkan berbagai produk alat-alat
musik.
4. Diversifikasi Sirkular
Diversifikasi ini merupakan bentuk yang paling rumit dan paling beragam dalam melakukan
penganekaragaman produk maupun bisnisnya. Sebagai contoh yang mudah untuk ditangkap serta
mudah diikuti dapat kita tunjukkan beberapa bentuk seperti : Kota Yogyakarta misalnya, yang
berusaha untuk menganekaragamkan usahanya dalam berbagai jenis usaha serta bisnis yaitu
dengan menggunakan tema sebagai : Kota Wisata, Kota Pelajar, Kota Pendidikan, Kota Gudeg,
Kota Budaya dan sebagainya.

C. SISTEM NILAI PRODUSEN


Setiap kegiatan bisnis, seperti telah kita bicarakan di muka, adalah merupakan pertautan antara
mata rantai nilai produsen dengan mata rantai nilai konsumen, baik konsumen yang tergolong
sebagai konsumen industri maupun yang termasuk ke dalam kelompok konsumen akhir.
Kegiatan bisnis yang berhasil adalah kegiatan bisnis yang dapat mempertautkan dengan baik
sistem nilai produsen yaitu sistem nilai dari perusahaan itu sendiri dengan sistem nilai konsumen
yang dihadapinya, baik konsumen industri maupun konsumen akhir. Apabila perusahaan itu gagal
dalam mempertautkan antara sistem nilai dari perusahaannya itu dengan sistem nilai dari
konsumennya, maka pengusaha itu akan segera mengalami kesulitan dalam proses bisnisnya.
Kegagalan tersebut adalah merupakan bukti dari adanya ketidakcocokan antara sistem nilai dari
produsen itu dengan sistem nilai yang dimiliki oleh konsumennya. Dengan adanya ketidakcocokan
tersebut maka produsen akan ditinggalkan oleh konsumennya atau dengan kata lain konsumen
akan meninggalkan perusahaan itu dengan cara tidak mau membeli produk-produk yang dihasilkan
oleh perusahaan itu.
Suatu perusahaan dalam menjalankan usaha produksi serta bisnisnya memiliki berbagai kegiatan
serta berbagai bagian yang bertugas untuk menjalankan kegiatan-kegiatan tersebut. Bagian-bagian
yang pada umumnya selalu ada di dalam suatu perusahaan adalah : Bagian Pemasaran, Bagian
Keuangan, Bagian Produksi dan Bagian Akuntansi. Pengaturan terhadap hubungan kerja diantara
berbagai bagian tersebut agar terkoordinir dengan baik, terpadu serta kuat, maka tugas koordinasi
itu akan dilakukan oleh bagian manajemen yang biasanya disebut Direksi atau Chief Executive
Officer (CEO). Selain CEO atau Direksi biasanya dalam jajaran pimpinan atau manajemen
perusahaan terdapat pula suatu badan yang sering disebut Dewan Komisaris atau “Board of
Director” (BOD). Dewan Komisaris ini merupakan suatu badan yang mewakili para pemegang
saham atau para pemilik perusahaan tersebut.
1. Kegiatan Primer (Primary Activity) dan Kegiatan Penunjang (Support Activity)
a. Faktor kegiatan Primer (Utama) :
 Kegiatan Bagian Produksi
 Kegiatan Bagian Keuangan
 Kegiatan Bagian Pemasaran
b. Kegiatan Sekunder (Penunjang) :
 Kegiatan Manajerial
 Kegiatan Bagian Personalia
 Kegiatan Bagian Administrasi Umum dan Perkantoran
 Kegiatan Bagian Teknik
 Kegiatan Bagian Akuntansi
 Kegiatan Bagian Pengadaan Bahan dan sebagainya

2. Nilai Produsen
Sistem nilai Produsen adalah merupakan berbagai faktor yang saling berkait, yang membentuk
atau menentukan besar kecilnya nilai yang diharapkan akan diperoleh oleh seorang produsen
dalam menghasilkan suatu produk. Sedangkan nilai yang diharapkan oleh produsen dalam
menjalankan kegiatan produksi serta bisnisnya itu lalu disebut sebagai “Nilai Produsen”.
3. Loyalitas Konsumen
Semakin cocok produk tersebut terhadap kebutuhan serta keinginan konsumen maka semakin
tinggi pula kesediaan konsumen untuk membayar dengan harga yang lebih mahal terhadap produk
yang dibelinya itu. Disamping harga yang lebih tinggi, efektivitas produk dapat diukur dari
loyalitas konsumen terhadap produk yang kita hasilkan tersebut, semakin loyal berarti semakin
efektif tugas yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.

D. SISTEM NILAI KONSUMEN INDUSTRI


Konsumen industri yang memanfaatkan barang yang dibelinya itu untuk menjalankan usaha atau
proses produksinya, dan bukan untuk dipergunakannya untuk dikonsumsi sebagaimana dilakukan
oleh konsumen akhir. Oleh karena itu maka faktor-faktor yang menjadi pertimbangannya tentulah
akan berkaitan dengan berbagai hal seperti di bawah ini yaitu :
1. Harga Pokok Produksi, Harga Pokok Penjualan Dan Harga Jual Produknya
2. Mutu Barang Hasil Produksinya
3. Kelancaran Proses Produksinya
4. Kontinuitas Suplai atau Pasokan Bahan Bakunya

E. SISTEM NILAI KONSUMEN AKHIR


Adapun sistem nilai yang terjadi di dalam sistem nilai konsumen akhir tentu saja merupakan
berbagai nilai yang menjadi pertimbangan para konsumen dalam memilih dan membeli suatu
produk yang dibutuhkan dan diinginkannya sesuai dengan daya beli ataupun penghasilan yang
dimilikinya. Pertimbangan-pertimbangan yang dipikirkan oleh konsumen pada dasarnya dapat
dikelompokkan menjadi 2 aspek yaitu:
1. Aspek Internal
Aspek internal merupakan aspek yang berasal dari diri pribadi konsumen tersebut beserta anggota
keluarganya. Pertimbangan yang bersifat internal itu tentu saja berupa pertimbangan yang
dilakukannya, baik secara individual maupun pertimbangan yang berasal dari isteri, anak-anak
beserta anggota keluarganya akan merupakan suatu sistem nilai yang pada umumnya terjadi dalam
sebuah rumah tangga konsumen akhir. Pertimbangan yang terkait dengan aspek individual dari
diri pribadi konsumen tersebut lalu disebut sebagai aspek “Kepribadian” atau “Personality”. Hal
ini sangat ditentukan oleh sifat-sifat yang melekat pada diri pribadi seseorang. Seorang yang
memiliki kepribadian yang “artistik” misalnya, mereka akan menyenangi produk-produk yang
bercorak geometris, lurus-lurus dan bernuansa wijang, polos dan lugu.
2. Aspek Eksternal
Disamping pertimbangan yang berasal dari anggota keluarganya seringkali terdapat pula
pertimbangan yang datang dari eksternal yaitu datang dari anggota masyarakat seperti kelompok
masyarakat terdekatnya atau teman dekatnya yang sering disebut “Peers Group” ataupun yang
datang dari pemimpin masyarakat yang biasanya lalu disebut sebagai “Reference Group” atau
“Opinion Leadership”.
a. Peers Group
Kita dapat merasakan pada diri kita sendiri bahwa banyak tingkah laku kita serta banyak pula kita
melakukan kegiatan pembelian terhadap suatu produk tertentu yang disebabkan oleh adanya
pengaruh dari teman dekat kita. Proses terjadinya pengaruh yang timbul dari cerita yang kita
tangkap dari berbagai macam teman ini sering juga disebut proses “word of mouth” atau dalam
istilah kita disebut sebagai “dari mulut ke mulut”.
b. Reference Group dan Opinion Leadership
Berbeda dengan peers group, kita juga sering melakukan tindakan tertentu sebagai akibat dari
pengaruh yang datang dari perbuatan yang kita contoh dari para tokoh masyarakat kita misalnya
Presiden, Gubernur, Wali Kota ataupun pimpinan perusahaan kita. Tindakan yang dilakukan oleh
para tokoh masyarakat itu akan selalu dijadikan “panutan” dan kemudian akan menjadi semacam
penuntun bagi warga masyarakat banyak untuk mengikuti perilakunya. Tokoh-tokoh semacam itu
lalu disebut sebagai Kelompok Referensi atau “Reference Group”. Tingkah laku para tokoh
masyarakat itu akan selalu menjadi acuan bagi para warga dalam melakukan berbagai tindakan
maupun penggunaan suatu produk tertentu, oleh karena itu maka proses semacam ini sering pula
disebut sebagai “Opinion Leadership”.
c. Sosial dan Budaya
Pengaruh yang lain lagi yang lebih bersifat makro adalah sesuatu yang datang dari anggota
masyarakat sekelilingnya. Unsur ini merupakan faktor sosial kemasyarakatan serta aspek budaya
yang berkembang didalam masyarakat di mana konsumen itu berada dan bertempat tinggal.
Masing-masing masyarakat akan selalu memiliki kebiasaan-kebiasaan tersendiri yang mana
kebiasaan tersebut apabila berlangsung lama dan menahun maka akan berkembang menjadi
budaya atau kultur.

F. KECOCOKAN NILAI PRODUSEN DENGAN NILAI KONSUMEN


1. Kecocokan dan Nilai Tambah yang Diciptakan
Suatu produk akan dapat memiliki kecocokan terhadap sistem nilai konsumen apabila produk
tersebut dapat memiliki “Nilai Tambah” atau “Value Added” kepada konsumennya. Apabila
konsumen dapat merasakan bahwa suatu produk yang ditawarkan kepadanya itu akan memberikan
tambahan nilai kepadanya maka produk tersebut akan dianggap cocok baginya dan akan dibeli
serta akan disenanginya.
2. Pengorbanan Konsumen
Tinggi rendahnya benefit suatu produk akan dibandingkan dengan biaya atau uang (money cost)
yang harus dikeluarkannya untuk memiliki produk itu, yaitu harga beli dari produk tersebut.
Bahkan tidak jarang disamping membandingkannya dengan harga beli produk tersebut konsumen
juga akan membandingkan pula benefit dari produk itu dengan berbagai korban yang lain yang
harus ditanggungnya sehubungan dengan kepemilikan dari produk yang dibelinya tadi.
3. Loyalitas dan Fanatisme Konsumen
Loyalitas konsumen akan membentuk adanya pembelian yang berulang-ulang dari konsumen itu
terhadap produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Loyalitas tersebut apabila dapat
dipertahankan dengan baik oleh produsen terhadap konsumennya itu maka lama kelamaan akan
membentuk fanatisme konsumen terhadap produk yang dihasilkannya itu. Fanatisme konsumen
itu akan berakibat positif terhadap perusahaan yang menghasilkan produknya, karena kondisi
semacam itu akan mengakibatkan adanya perubahan terhadap sifat permintaan akan produk
tersebut dari permintaan yang bersifat “ELASTIS” menjadi permintaan yang bersifat
“INELASTIS”.
4. Elastisitas Permintaan
Suatu permintaan dikatakan memiliki sifat yang elastis apabila jumlah permintaan tersebut sangat
dipengaruhi dan mudah dipengaruhi oleh faktor lain terutama faktor harga. Semakin kecil
elastisitas suatu permintaan terhadap produk akan membuat produk yang kita pasarkan itu menjadi
sangat tidak terpengaruh oleh naik turunnya harga. Apabila produk kita telah memperoleh loyalitas
serta fanatisme yang tinggi maka pada umumnya hal tersebut akan mengakibatkan adanya sifat
elastisitas terhadap produk kita itu menjadi semakin rendah atau bahkan menjadi sama sekali tidak
terpengaruh oleh perubahan harga.
5. Nilai Tambah Konsumen sebagai Profit Margin bagi Produsen
Apabila produsen dapat memproduksikan suatu barang yang mampu menimbulkan nilai tambah
atau value added yang tinggi kepada konsumen, maka konsumen tersebut akan bersedia untuk
membayar mahal terhadap produk yang dibelinya itu. Hal itu akan terjadi apabila produk yang
dihasilkan dapat memberikan kecocokan kepada konsumen. Sedangkan kecocokan akan terjadi
apabila produk itu dapat memberikan nilai tambah (value added) kepada konsumen yang berupa
technical value maupun emotional value, melebihi berbagai korban yang harus dikeluarkannya
terhadap produk yang dibelinya itu. Dengan demikian maka produsen akan dapat memperoleh
profit margin yang lebih tinggi sebagai akibat dari harga jual yang tinggi terhadap produknya yang
disebabkan karena produk tersebut ternyata telah mampu untuk menciptakan nilai tambah yang
tinggi bagi konsumennya. Profit margin tersebut akan dapat menjadi lebih tinggi lagi apabila
produsen dalam menjalankan proses produksi bagi produknya itu dapat bekerja lebih efisien lagi
sehinggga Harga Pokok Produksi (HPP) atau Biaya Produksinya dapat ditekan menjadi lebih
rendah lagi.
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari keseluruhan mata rantai kegiatan bisnis yang telah dijelaskan maka akan membentuk apa
yang disebut sebagai “TOTAL SISTEM NILAI BISNIS” atau “Total Business Value System”, atau
sering juga disebut “Total Business Value Chain”.
Proses bisnis yang berupa penganekaragaman usaha atau diversifikasi bisnis tersebut dapat
dilakukan terhadap berbagai cabang bisnis baik yang bersifat :
1. Diversifikasi horizontal
2. Diversivikasi vertikal
3. Diversifikasi diagonal
4. Diversifikasi sirkular
Kegiatan bisnis yang berhasil adalah kegiatan bisnis yang dapat mempertautkan dengan baik
sistem nilai produsen yaitu sistem nilai dari perusahaan itu sendiri dengan sistem nilai konsumen
yang dihadapinya, baik konsumen industri maupun konsumen akhir.
Adapun sistem nilai yang terjadi di dalam sistem nilai konsumen akhir tentu saja merupakan
berbagai nilai yang menjadi pertimbangan para konsumen dalam memilih dan membeli suatu
produk yang dibutuhkan dan diinginkannya sesuai dengan daya beli ataupun penghasilan yang
dimilikinya.
DAFTAR PUSTAKA

Gitosudarmo, Indriyo. 2001. Manajemen Strategis: Cetakan Pertama, Yogyakarta, BPFE.


http://www.ciputraentrepreneurship.com/business-advice/diversivikasi-usaha-perlu-atau-tidak
http://2010manajemenstrategi.blogspot.com/2010/11/manajemen-strategis_13.html?m=1