Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sembari
mengangkat tangan, bermohon kiranya memberikan rahmat dan kasih karunia-
Nya serta kelapangan berpikir dan waktu, sehingga penulis dapat menyusun
dan menyelesaikan laporan praktikum ini. Dengan judul “Pewarnaan Sederhana”.
Laporan ini disusun sebagai tugas yang diberikan oleh dosen pengajar mata
kuliah "Bakteriologi I”.
Diharapkan pembuatan laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi
para pembaca dan dapat dijadikan salah satu ilmu yang bermanfaat. Penulis
menyadari masih banyaknya kekurangan dari penulisan hasil laporan ini, kritik
dan saran yang membangun sangat membantu penulis untuk mengurangi segala
kekurangan tersebut kedepannya. Dengan kerendahan hati, penulis berharap
laporan ini bermanfaat bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca. Amin.

Gorontalo, April 2015

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . ................................................................................... i


DAFATAR ISI . ............................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ iii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 3
C. Tujuan ............................................................................................... 3
D. Manfaat .............................................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...................................................................... 4
A.Pewarnaan bakteri ............................................................................... 4
B.Macam-macam pewarnaan ................................................................. 5
BAB III METODE PRATIKUM ..................................................................... 7
A. Alat..................................................................................................... 7
B. Bahan ................................................................................................. 7
C. Prosedur Kerja.................................................................................... 7
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................... 8
A. Hasil Pengamatan .............................................................................. 8
B. Pembahasan ........................................................................................ 8
BAB V PENUTUP ........................................................................................... 9
A. Kesimpulan ........................................................................................ 9
B. Saran................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 10
LAMPIRAN ..................................................................................................... 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pewarnaan sederhana merupakan tekhnik pewarnaan yang paling
banyak digunakan. Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat
sulit,larena selain bakteri itu tidak berwarna juga tranparan dan sangat kecil.
Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu tekhnik pewarnaan sel
bakteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamat. Oleh karena itu
tekhnik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama
dalam penelitian-penelitian mikrobiologi.
Prinsip dasar dari pewarnaan ini adalah adanya ikatan
ion antara komponen selular dari bakteri dengan senyawa aktif
dari pewarna yang disebut kromogen. Terjadi ikatan ion karena
adanya muatan listrik baik pada komponen seluler maupun pada pewarna.
Berdasarkan adanya muatan ini maka dapat dibedakan asam dan pewarna basa.
Pewarna asam dapat terjadi karena bila senyawa pewarna bermuatan
negatif. Dalam kondisi pH mendekati netral dinding sel bakteri cenderung
bermuatan negatif, sehingga pewarna asam yang bermuatan negatif akan
ditolak oleh dinding sel, maka sel tidak berwarna. Pewarna asam ini disebut
pewarna negatif. Contoh pewarna asam misalnya: tinta cina, larutan nigrosin,
asam pikrat, eosin, dll.
Pewarna basa bisa terjadi bila senyawa pewarna bersifat positif,
sehingga akan diikat oleh dinding sel bakteri dan sel bakteri ini jadi berwarna
dan terlihat. Contoh dari pewarna basa misalnya metilen biru, kristal violet,
safranin, dan lain-lain. Teknik pewarnaa asam basa ini hanya menggunaka satu
jenis senyawa pewarna, teknik ini disebut pewarna sederhana. Pewarnaan
sederhana ini diperlukan untuk mengamati morfologi, baik bentuknya maupun
susunan sel. Teknik pewarnaan yang lain adalah pewarnaan diferensial, yang
menggunakan senyawa pewarna yang lebih dari satu jenis. Diperlukan untuk
mengelompokkan bakteri misalnya, bakteri gram positif dan gram negatif atau

1
bakteri tahan asam dan tidak tahan asam. Juga diperlukan untuk mengamati
struktur bakteri seperti flagela, kapsula, spora, dan nukleus.
Teknik pewarnaan bukan pekerjaan yang sulit tapi perlu ketelitian dan
kecermatan bekerja serta mengikuti aturan dasar yang berlaku sebagai berikut:
Mempersiapkan kaca objek. Kaca objek ini harus bersih dan bebas
lemak, untuk membuat apusan dari bakteri yang diwarnai. Mempersiapkan
apusan, apusan yang baik adalah yang tipis dan kering, terlihat seperti lapisan
yang tipis. Apusan ini berasal dari biakan cair atau padat. Biakan cair suspensi
sel sebanyak satu atau dua mata ose dan diletakkan ke kaca objek. Lalu
diapuskan pada kaca objek selebar...cm. biarkan mengerig di udara atau diatas
apai kecil dengan jarak 25 cm.
Biakan padat. Bakteri yang dikulturkan pada medium padat tidak dapat
langsung dibuat apusan seperti dari biakan cair, tapi harus diencerkan dulu.
Letakkan setetes air pada kaca objek, lalu dengan jarum inokulasi ambil
bakteri dari biakan padat, letakkan pada tetesan air dan apusan. Biarkan
mengering di udara. Fiksasi dengan pemanasan. Apusan bakteri pada kaca
objek dapat dilakukan diantaranya dengan cara memanaskan diatas api.
Struktur di dalam sel pada tempat-tempat yang dibentuk oleh spesies
ini, disebut endospora. Endospora dapat bertahan hidup dalam keadaan
kekurangan nutrien, tahan terhadap panas, kekeringan, radiasi UV serta bahan-
bahan kimia.
Ketahanan tersebut disebabkan oleh adanya selubung spora yang tebal
dan keras. Sifat-sifat ini menyebabkan dibutuhkannya perlakuan yang keras
untuk mewarnainya. Hanya bila diperlukan panas yang cukup, pewarna yang
sesuai dapat menembus endospora. Tetapa sekali pewarna memasuki
endospora, sukar untuk dihilangkan. Ukuran dan letak endospora di dalam sel
merupakan ciri-ciri yang digunakan untuk membedakan spesies-spesies bakteri
yang membentuknya.
Faktor yang mempengaruhi pewaraan bakteri yaitu fiksasi, peluntur
warna, subtrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup.
Suatu preparat yang sudah suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam

2
encer.bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri tahan asam, dan hal ini
merupakan ciri yang khas bagi suatu spesies.
Teknik pewarnaan warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat
macam yaitu pengecatan sederhana, pengecatan negatif, pengecatan diferensial
dan pengecatan struktural. Pemberian warna pada bakteri atau jasad-jasad renik
lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis,
atau olesan, yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana. Prosedur
pewarnaan yang menampilkan perbedaan diantara sel-sel mikroba atau bagian-
bagian sel mikroba disebut teknik pewarnan diferensial. Sedangkan pengecatan
struktural hanya bisa mewarnai satu bagian dari sel sehingga dapat
membedakan bagian-bagian dari sel. Termasuk dalam pengecatan ini adalah
pengectan endospora, flagela dan pengecatan kapsul.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana prosedur pewarnaan sederhana
2. Bagaimana bentuk-bentuk dari bakteri.
C. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui prosedur pewarnaan sederhana
2. Mengetahui bentuk-bentuk bakteri
D. Manfaat
1. Dapat mengetahui prosedur pewarnaan sederhana
2. Dapat mengetahui bentuk-bentuk bakteri

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.Pewarnaan Bakteri
Teknik pewarnaan warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat
macam yaitu pengecatan sederhana, pengecatan negatif, pengecatan
diferensial dan pengecatan struktural. Pemberian warna pada bakteri atau
jasad- jasad renik lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna
pada lapisan tipis, atau olesan, yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan
sederhana. Prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan di antara sel-
sel microbe atau bagian-bagian sel microbe disebut teknik pewarnaan
diferensial. Sedangkan pengecatan struktural hanya mewarnai satu bagian
dari sel sehingga dapat membedakan bagian-bagian dari sel. Termasuk dalam
pengecatan ini adalah pengecatan endospora, flagella dan pengecatan kapsul.
Mikroba sulit dilihat dengan cahaya karena tidak mengadsorbsi atau
membiaskan cahaya. Alasan inilah yang menyebabkan zat warna digunakan
untuk mewarnai mikroorganisme. Zat warna mengadsorbsi dan membiaskan
cahaya sehingga kontras mikroba dengan sekelilingnya dapat ditingkatkan.
Penggunaan zat warna memungkinkan pengamatan strukur seperti spora,
flagela, dan bahan inklusi yng mengandung zat pati dan granula fosfat.
Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit,
kerena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil.
Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel
bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Olek karena itu
teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu cara yang paling utama
dalam penelitian-penelitian mikrobiologi. Tujuan pewarnaan terhadap
mikroorganisme ialah untuk :
1. Mempermudah melihat bentuk jasad, baik bakteri, ragi, maupun fungi.
2. Memperjelas ukuran dan bentuk jasad
3. Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan struktur dalam jasad.

4
4. Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat-sifat
fisik dan kimia dapat diketahui (Waluyo, L. 2005).
Langkah-langkah utama teknik pewarnaan :
1. Pembuatan olesan bakteri, olesan bakteri tidak boleh terlalu tebal atau
tipis
2. Fiksasi, dapat dilakukan secara pemanasan atau dengan aplikasi bahan
kimia seperti sabun, formalin, fenol.
3. Aplikasi zat warna : tunggal, atau lebih dari 1 zat warna
Teknik pewarnaan dikelompokkan menjadi beberapa tipe,
berdasarkan respon sel bakteri terhadap zat pewarna dan sistem pewarnaan
yang digunakan untuk pemisahan kelompok bakteri digunakan pewarnaan
Gram, dan pewarnaan “acid-fast”(tahan asam) untuk genus Mycobacterium.
prosedur pewarnaan mikrobiologi dibutuhkan pembuatan apusan lebih
dahulu sebelum melaksanakan beberapa teknik pewarnaan yang spesifik.
B. Macam-Macam Pewarnaan
Secara garis besar teknik pewarnaan bakteri dapat dikategorikan
sebagai berikut :
1. Pewarnaan sederhana
Menggunakan satu macam zat warna (biru metilen/air fukhsin)
tujuan hanya untuk melihat bentuk sel. Pewarnaan sederhana, merupakan
pewarna yang paling umum digunakan. Berbagai macam tipe morfologi
bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan dengan
menggunakan pewarna sederhana, yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya
digunakan satu macam zat warna saja. Kebanyakan bakteri mudah
bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya
bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang
digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin
(komponen kromoforiknya bermuatan positif) (Syamsuri, Istamar. 2004).

5
2. Pewarnaan differensial
Pewarnaan bakteri yang menggunakan lebih dari satu zat warna
seperti pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam. Penjelasan sebagai
berikut:
a. Pewarnaan Gram
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode untuk
membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram-
positif dan gram-negatif, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel
mereka. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya, ilmuwan
Denmark Hans Christian Gram (1853–1938) yang mengembangkan
teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus
dan bakteri Klebsiella pneumoniae.
Dengan metode pewarnaan Gram, bakteri dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan
reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. Reaksi atau sifat bakteri
tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya. Oleh karena itu,
pengecatan Gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak
mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp (Tjitrosoepomo,
G.2007)
Contoh bakteri yang tergolong bakteri tahan asam, yaitu dari
genus Mycobacterium dan beberapa spesies tertentu dari genus
Nocardia. Bakteribakteri dari kedua genus ini diketahui memiliki
sejumlah besar zat lipodial (berlemak) di dalam dinding selnya
sehingga menyebabkan dinding sel tersebut relatif tidak permeabel
terhadap zat-zat warna yang umum sehingga sel bakteri tersebut tidak
terwarnai oleh metode pewarnaan biasa, seperti pewarnaan sederhana
atau Gram (Sylvia. 2008).

6
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : pembakar bunsen,
baki pewarnaan, kertas lensa, kaca objek, ose inokulasi, mikroskop, dan
kertas bibulous.
B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu : biakan
Escherchia coli, dan Basillus cereus, matilen blue, kristal violet, karbol
fuksil.
C. Proses Kerja
1. Menyiapkan apusan bateri organisme-organisme yang terpisah
2. Menempatkan kaca objek pada kaki pewarnaan dan genangi apusan
dengan salah satu dari pewarna-pewarna yang diperintahkan dengan
menggunakan waktu pajanan yang sesuai bagi masing-masing pewarna :
karbol fuksin, 15 – 30 detik, kristal violet, 20 – 60 detik, metilen biru, 1 –
2 menit.
3. Mebilas apusan perlahan dengan air keran untuk membersihkan
pewarnaan yang berlebih.
4. Mengeringkan preparat.
5. Melakukan fiksasi menggunakan bunsen.
6. Menetaskan oil imersi dan mengamati pada mikroskop dengan perbesaran
100 x.

7
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Gambar bakteri streptokous


B. Pembahasan
Pewarnaan sederhana merupakan pewarnaan yang paling umum
digunakan. Berbagai macan tipe morfologi bakteri (coccus, bacillus,spirilum,
dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana,
yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja.
Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarnaan-pewarnaan
sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan
zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat
alkalin (komponen kromotofiknya bermuatan positif).
Pada pewarnaan sederhana, bakteri diwarnai oleh reagen tunggal.
Pewarnaan dasar dengan kromogen (zat warna) muatan positif disarankan
selama asam nukleat bakteri dan komponen dinding sel membawa muatan
negatif yang menyerap dengan kuat dan mengikat kation kromogen perlu
diperhatikan lamanya waktu pewarnaan tergantung pada jenis pewarnaan yang
digunakan. Misalnya metilen blue terserap selama 2-3 menit, dengan demikian
bakteri yang terdapat pada sampel akan menyerap zat warna yang diberikan.
Pengecetan sederhana digunakan untuk memperlihatkan atau memperjelas
kontras antara sel dan latar belakangnya sehingga dapat mempertajam bentuk
dari sel-sel mikroba itu sendiri.

8
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan dibawah mikroskop dengan menggunakan
perbesaran 100 x 10, maka dapat disimpulkan bahwa pada sampel tersebut
ditemukan bakteri berbentuk coccus yakni Streptokokus.
B. Saran
Adapun sehubungan dengan praktikum ini, khususnya ditujukan bagi
diharapkan bagi seluruh mahasiswa agar selama kegiatan praktikum ini
berlangsung, Mahasiswa harus menggunakan APD (Alat Pelindung Diri).
Diharapkan pula bagi semua praktikan, bahwa selama kegiatan praktikum ini
berlangsung, agar semua praktiakan bersungguh-sungguh dalam melakukan
praktikum.

9
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, D. 2007. Media Agar. Ide Besar Istri Peneliti, http://www.nvtech.com ,


Diakses tanggal 2 maret 2015.

Syamsuri, Istamar. 2004. SainsBiologi. Jakarta : Erlangga.

Sylvia. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Penerbit erlangga : Jakarta

Tjitrosoepomo, G.2007. TaksonomiTumbuhanObat-Obatan.GadjahMada


University Press: Yogyakarta.

Waluyo, L. 2005. Mikrobiologi Umum. UMM Press : Malang

10
LAMPIRAN 1
(skema kerja)

Biakan bakteri

- diambil menggunakan ose


- digoreskan pada gelas objek
- diberi zat warna
- dibilas dengan aquadest
- diamati dengan mikroskop

Bakteri Streptokokus

11
LAMPIRAN 2

(Dokumentasi Kegiatan)

Gmbr. Biakan bakteri Gmbr. Bakteri Streptokokus

Gmbr. Mengambil biakan Gmbr. Pengamatan di mikroskop

12