Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia sedang gencar-gencarnya

melakukan pembangunan nasional di berbagai sektor guna mewujudkan

masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Dalam pelaksanaannya,

pembangunan nasional membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dana tersebut

direalisasikan ke dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terdapat pos

penerimaan negara yang terbagi menjadi dua, yaitu penerimaan yang bersumber

dari dalam negeri dan yang bersumber dari penerimaan luar negeri. Saat ini

yang menjadi pos penerimaan negara paling dominan adalah penerimaan dalam

negeri khususnya penerimaan dalam bentuk pajak.

Pajak merupakan pembayaran yang diwajibkan kepada setiap warga negara

yang kontraprestasinya tidak bersifat langsung. Penerimaan pajak bagi suatu

negara merupakan suatu pos penerimaan yang penting, karena menjadi pos

penerimaan terbesar, seperti di Indonesia. Pajak merupakan sumber utama

penerimaan negara yang digunakan untuk membiayai pengeluaran rutin

maupun pembangunan agar tercapai kemakmuran dan kesejahteraan

masyarakat. Hal tersebut tertuang dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja

1
2

Negara (APBN), penerimaan pajak merupakan penerimaan dalam negeri yang

terbesar.

Menurut Kementerian Keuangan, besarnya peran pajak dalam membiayai

pembangunan tercermin dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

(APBN) tahun 2015 yang 82.2 % dari total penerimaan negara yang bersumber

dari penerimaan pajak. Mengingat pentingnya peranan pajak, maka pemerintah

dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak telah melakukan berbagai upaya untuk

memaksimalkan penerimaan pajak. Salah satu upaya yang dilakukan adalah

reformasi peraturan perundang-undangan perpajakan dengan diberlakukannya

self asessment system dalam pemungutan pajak sejak tahun 1984.

Tabel 1.1 menunjukan anggaran belanja Negara Indonesia dalam 3 tahun

terakhir meningkat tajam, dari 1.650.563,8 triliun rupiah pada tahun 2013

menjadi 1.806.515,2 pada tahun 2015. Semakin meningkat jumlah anggaran

belanja negara maka membutuhkan sumber penerimaan yang semakin besar

pula. Data pada tabel di bawah ini menunjukan bahwa sebagian besar

kebutuhan untuk membiayai anggaran belanja diperoleh dari penerimaan dalam

negeri, yaitu penerimaan pajak. Ringkasan APBN tahun 2013-2015 dapat

dilihat pada tabel 1.1.


3

Tabel 1.1

Ringkasan APBN tahun 2013-2015

(Dalam Miliaran Rupiah)

2013 2014 2015


Keterangan
LKPP LKPP LKPP

A. PENDAPATAN NEGARA 1.438.891,1 1.550.490,8 1.508.020,4


I. PENDAPATAN DALAM NEGERI 1.432.058,6 1.545.456,3 1.496.047,3
1. Penerimaan Perpajakan 1.077.306,7 1.146.865,8 1.240.418,9
a. Pajak Dalam Negeri 1.029.850,1 1.103.217,6 1.205.478,9
b. Pajak Perdagangan Internasional 47.456,6 43.648,1 34.940,0
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak 354.751,9 398.590,5 255.628,5
II.PENERIMAAN HIBAH 6.832,5 5.034,5 11.973,0
B. BELANJA NEGARA 1.650.563,8 1.777.182,9 1.806.515,2
I. Belanja Pemerintah Pusat 1.137.163,0 1.203.577,2 1.183.303,7
II. Transfer ke Daerah dan Dana Desa 513.260,4 573.703,1 623.139,6
C. KESEIMBANGAN PRIMER (98.637,3) (93.250,7) (142.485,1)
D. SURPLUS/(DEFISIT) ANGGARAN (A-B) (211.672,8) (226.692,0) (298.494,8)
E. PEMBIAYAAN 237.394,6 248.892,8 323.108,0
I. Pembiayaan Utang 223.222,4 255.732,4 380.916,1
II. Pembiayaan Investasi (16.915,4) (8.912,5) (59.654,8)
III. Pemberian Pinjaman 293,5 2.493,5 1.504,9
IV. Kewajiban Penjaminan (706,0) (964,1) -
V. Pembiayaan Lainnya 31.500,2 543,6 341,7
KELEBIHAN/(KEKURANGAN)PEMBIAYAAN 25.721,8 22.200,8 24.613,2

Sumber: Kementerian Keuangan RI data pokok APBN 2013-2015

Dalam menentukan pajak yang terhutang terdapat penghasilan tidak kena

pajak (PTKP). Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) adalah besaran

penghasilan yang menjadi batasan tidak kena pajak bagi Wajib Pajak Orang
4

Pribadi. Menurut (Michel Salim dan Lili Syahfitri, 2) Keberadaan PTKP adalah

untuk memberikan keuntungan kepada penduduk yang berpenghasilan rendah

(redistribusi pendapatan). Namun keringanan ini harus mengacu kepada

perkembangan kehidupan sosial dan ekonomi yang terjadi di masyarakat kelas

bawah. Kebijakan dalam mengubah besaran PTKP dan pengaruhnya terhadap

penerimaan Pajak Penghasilan Orang Pribadi atau Pajak Penghasilan Pasal 21

Orang Pribadi merupakan suatu hal yang penting.

Penghasilan tidak kena pajak (PTKP) sudah mengalami beberapa

perubahan. Tercatat sudah sembilan (9) kali mengalami perubahan sampai saat

ini. Mulai dari Undang-Undang No. 7 tahun 1983 sebesar Rp. 960.000,

Undang-Undang No. 10 tahun 1994 sebesar Rp. 1.728.000, Undang-Undang

No. 17 tahun 2000 sebesar Rp. 2.880.000, berdasarkan Peraturan Menteri

Keuangan 564/KMK.03/2004 sebesar Rp. 12.000.000, berdasarkan Peraturan

Menteri Keuangan 137/KMK.03/2005 sebesar Rp. 13.200.000, Undang-

Undang No. 36 tahun 2008 sebesar Rp. 15.840.000, berdasarkan Peraturan

Menteri Keuangan 162/PMK.011/2012 sebesar Rp. 24.300.000, berdasarkan

Peraturan Menteri Keuangan 122/PMK.010/2015 sebesar Rp. 36.000.000, dan

berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan 101/PMK.010/2016 sebesar Rp.

54.000.000.

Menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro dalam rapat

bersama Komisi XI DPR, (25/6/2015) mengungkapkan “Dengan PTKP naik,


5

pertumbuhan ekonomi bisa terdorong sebesar 0,09%. Dorongan pertumbuhan

ekonomi ini berasal dari konsumsi rumah tangga yang akan naik sebesar 0,07%

karena beban wajib pajak perorangan berkurang.”

Selain untuk pertumbuhan ekonomi, kenaikan PTKP juga dilakukan demi

menyesuaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten

(UMK) 2015 yang naik sekitar 31% dibanding dengan UMP 2013. Selain itu,

pemerintah menaikan PTKP hingga 48% karena harus menyesuaikan dengan

UMK tertinggi di Karawang, Jawa Barat sebesar Rp. 35.500.000 per tahun.

Menurut (Novita, 2010; 2) dengan perubahan nilai PTKP ini, pemerintah

berharap tingkat kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak semakin

meningkat. Jika PTKP dinaikkan, maka penghasilan kena pajak akan semakin

sedikit sehingga pajak yang dikenakan semakin sedikit pula. Hal inilah yang

mendasari pemerintah untuk menaikan PTKP guna mengurangi pajak yang

dikenakan dan mendorong agar wajib pajak semakin taat membayar pajak.

Dengan perubahan nilai PTKP ini tentu akan berpengaruh terhadap

penerimaan pajak penghasilan pada pemerintah. Apakah penerimaan pajak

penghasilan akan berkurang karena PTKP dinaikan sehingga pajak yang

dikenakan lebih sedikit, atau penerimaan pajak penghasilan akan meningkat

sehingga mendorong wajib pajak untuk lebih taat membayar pajak.


6

Dengan uraian diatas menjadi dasar pertimbangan penulis untuk melakukan

pembahasan dengan judul : ”ANALISIS KENAIKAN PTKP TERHADAP

PENERIMAAN PPh OP DAN TINGKAT KEPATUHAN WAJIB PAJAK

ORANG PRIBADI (STUDI PADA KANTOR WILAYAH DIREKTORAT

JENDERAL PAJAK JAKARTA SELATAN II).”

B. Perumusan Masalah

1. Apakah kenaikan PTKP berpengaruh terhadap penerimaan pajak

penghasilan orang pribadi di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak

Jakarta Selatan II?

2. Apakah kenaikan PTKP berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan wajib

pajak orang pribadi di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak

Jakarta Selatan II?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk menganalisis dampak atas kenaikan PTKP terhadap

penerimaan pajak penghasilan orang pribadi di Kantor Wilayah

Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Selatan II.

b. Untuk menganalisis dampak atas kenaikan PTKP terhadap tingkat

kepatuhan wajib pajak orang pribadi di Kantor Wilayah Direktorat

Jenderal Pajak Jakarta Selatan II.


7

2. Kegunaan Penelitian

a. Bagi penulis, sebagai referensi untuk memperluas wawasan dan

untuk mempraktekkan teori yang telah dipelajari dimasa

perkuliahan.

b. Bagi fiskus, sebagai bahan masukan bagi fiskus untuk menganalisis

faktor - faktor yang dapat mempengaruhi penerimaan pajak dan

mengoptimalkan tingkat kepatuhan wajib pajak orang pribadi).

c. Bagi akademik, memberikan informasi bahwa mata kuliah

perpajakan sangat penting yang harus diberikan kepada mahasiswa

untuk dapat menambah wawasan dalam hal perpajakan.

d. Bagi Wajib Pajak, memberikan informasi dan pengetahuan tentang

perubahan PTKP dengan memberikan bukti empiris mengenai

perubahan PTKP terhadap penerimaan pajak.

e. Bagi penelitian selanjutnya, sebagai sarana pembanding.