Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kaum pria punya gaya komunikasi berbeda termasuk dalam berbahasa. Bahasa yang serba
gamblang, praktis, apa adanya membuat para pria lebih nyaman berbincang juga berdiskusi
dengan kalangannya. Termasuk ketika membicarakan peran sebagai ayah, mendukung istri
menyusui, menjadi bagian dari proses pemberian ASI kepada si buah hati.

Komunikasi antar pria membuat para ayah anggota komunitas ini lebih mudah menyerap
informasi. Juga memudahkan anggota komunitas untuk mengajak pria baik ayah juga calon ayah
untuk lebih peduli terhadap keluarga. Memberikan perhatian yang tepat pada istri yang sedang
hamil, akan melahirkan, juga perawatan bayi pascabersalin dan masa menyusui yang
membutuhkan kekompakan suami dan istri untuk memberikan perhatian penuh kepada bayi.Bagi
komunitas ini, menjadi wadah paling tepat dan sesuai karakter pria. Praktis, interaktif dengan
waktu yang cepat, sesuai gaya pria dalam berkomunikasi yang langsung pada intinya.

ASI bukan semata urusan ibu dan 50 persen keberhasilan ASI disumbangkan oleh dukungan
ayah. Komunitas Ayah ASI mengakui hal ini, dan menyadari pentingnya peran ayah dalam
proses pemberian ASI termasuk sejak kehamilan ibu, melahirkan dan pengasuhan anak. Banyak
ayah yang sebenarnya peduli namun tak tahu cara menunjukkannya atau melakukan tindakan apa
untuk memberikan dukungan tepat kepada istri.

Bagaimana cara ayah mendukung ASI, peran suami dalam merawat anak, merupakan informasi
yang dibutuhkan para ayah. Pria bukannya tidak peduli, tapi tidak tahu bagaimana caranya.

Salah satu administator Ayah ASI Jakarta, Gamma Quieto, menambahkan kesadaran inilah yang
dicoba dibangun komunitas. "Kesadaran ini bisa dibangun lebih dini, sejak usia awal 20-an.
Anggota Ayah ASI Jakarta sendiri ada yang belum menikah," jelas Gamma, bapak satu anak
berprofesi sebagai konsultan ini.
Komunitas Ayah ASI fokus pada pemberian dukungan tepat kepada ibu menyusui. Kebutuhan
informasi akan makanan pendamping ASI (MPASI), pengasuhan anak, bentuk dukungan tepat
kepada istri sepanjang masa kehamilan hingga menyusui, juga makanan sehat dengan gizi
seimbang, juga tinggi di kalangan pria.

Pria pun leluasa berbagi pengalaman menjadi ayah dengan bahasanya melalui komunitas ini.
Berbagi informasi menjadi penting bagi para ayah, karena tak mudah menjadi orangtua muda era
kekinian, dengan perubahan zaman dan pola asuh yang tak bisa lagi konvensional.

Dengan peran dan dukungan suami, pasangan muda bisa lebih kompak dalam memberikan
pengasuhan termasuk untuk menghadapi intervensi orangtua dan mertua. Dengan mengalirnya
berbagai informasi penting mengenai peran ayah di media sosial ini, para pria juga bisa belajar
dari pengalaman unik pria lainnya. Termasuk menemukan cara yang lebih baik dalam
memberikan dukungan. Bisa jadi cara yang selama ini dilakukan salah. Ketika berbagi informasi,
kita jadi bisa memperbaiki diri, untuk memberikan dukungan yang tepat belajar dari pengalaman
unik anggota komunitas lainnya, menjadi lebih tercerahkan.

Laki-laki yang emosionalnya cenderung lebih stabil bisa berperan lebih baik saat mendampingi
istri yang sedang hamil hingga menyusui. Dengan mendapatkan pencerahan dari berbagi
pengalaman dan informasi, para suami tidak lagi kebingungan dan bisa mendukung istri jauh
lebih baik lagi.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas makalah ingin memperjelas dengan rumusan sebagai berikut :

1. Apakah Pengertian Ayah Menyusui ?

2. Apa Saja Peran Ayah Saat Ibu Menyusui ?

3. Fungsi ayah ASI?

4. Bagaimana Cara Menjadi Ayah ASI ?

5. Apa Saja Yang Mengurangi Dukungan Untuk Menjadi Ayah ASI ?


BAB II

PEMBAHASAN

A. Peran Ayah

Peran ayah atau fathering lebih merujuk dengan pengertian parenting. Hal ini karena fathering
merupakan bagian dari parenting. Idealnya, ayah dan ibu mengambil peranan yang saling
melengkapi dalam menjalankan rumah tangga dan perkawinan, termasuk di dalamnya berperan
memberikan model yang lengkap bagi anak-anak dalam menjalani kehidupan (Kurnia dalam
salis 2008). Peran ayah (fathering) dapat dijelaskan sebagai suatu peran yang dimainkan seorang
ayah dalam kaitannya dengan tugas untuk mengarahkan anak menjadi mandiri di masa
dewasanya, baik secara fisik dan biologis. Peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu dan
memiliki pengaruh pada perkembangan anak walau pada umumnya menghabiskan waktu relatif
lebih sedikit dengan anak dibandingan dengan ibu. Hal ini karena, menurut Fromm (seperti
dikutip Salis, 2008) cinta ayah didasarkan pada syarat tertentu, berbeda dengan ibu yang tanpa
syarat. Dengan demikian cinta ayah memberi motivasi anak untuk lebih menghargai nilai-nilai
dan tanggung jawab.

B. Fungsi Ayah ASI

Fungsi dan peran ayah dalam proses pemberian ASI atau menyusui dirasa cukup penting karena
dukungan ayah atau suami paling berarti bagi ibu menyusui dan pada dasarnya proses meyusui
merupakan kerjasama antara ibu dan ayah untuk kebaikan bersama. Ayah seharusnya adalah
orang pertama yang mendukung program ASI untuk bayinya. Selain itu, tidak ada salahnya juga
ayah untuk ikut mempelajari mengenai ASI. Seperti apa saja manfaat ASI untuk ibu dan bayinya,
bagaimana produksi dan pengeluaran ASI serta apa saja yang mendukungnya dan kelebihan-
kelebihan ASI dibandingkan susu formula. Agar dapat mengasuh anak dengan baik tidak hanya
diperlukan peran ibu saja, tapi juga dibutuhkan peran ayah. Secara ilmiah, dijelaskan bahwa
peran ayah dalam menyusui disebabkan oleh hormon. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat
hormon Oksitoksin, Prolaktin, dan Vasopressin meningkat pada suami yang baru memiliki anak.
Peningkatan hormon Okstitoksin diakui sebagai komponen utama dalam memulai dan menjaga
insting memelihara dan kedekatan antara ayah dan si kecil. Hal ini terutama terjadi saat suami
melakukan kontak kulit dengan si kecil. Ternyata, kunci kelancaran dan kesuksesan masa
kehamilan, kelahiran, dan saat menjadi orang tua tidak terbatas pada nutrisi semata. Kualitas
hubungan ayah dengan keluarga justru memegang peranan yang penting. Perlu diingat adalah
bahwa suami bukanlah pengganti istri, baik suami maupun istri memegang peran yang berbeda,
tapi sama pentingnya. Ayah dapat menjadi penghubung bayi untuk mendapatkan makanannya
dengan menggendong dan memberikannya kepada ibu (Astutik,2014). Kesiapan ayah dalam
proses menyusui juga dapat membantu ibu menghasilkan ASI yang terbaik. Ayah juga yang
dapat membuat proses menyusui menjadi menyenangkan atau sebaliknya jika ayah ikut
membantu dan mendukung ibu untuk memberikan ASI Eksklusif kesuksesan dalam pemberian
ASI Eksklusif semakin mungkin terjadi. Dengan fakta penelitian tersebut peran ayah dalam
mendampingi ibu dalam proses menyusui adalah hal yang baik dan dapat meningkatkan
keberhasilan menyusui, jika psoses menyusui menjadi hal yang menyenangkan untuk seluruh
anggota keluarga maka kesuksesan program pemberian ASI eksklusif akan terjadi dan kendala
dalam pemberian ASI eksklusif yaitu kurangnya kesadaran ayah dalam ikut berperan dalam
pemberian ASI eksklusif dapat teratasi.

C. Cara Menjadi Ayah ASI

Tidak ada rumus baku untuk sukses menjadi Ayah ASI. Setiap ayah punya gaya masing-masing
dan setiap pasangan memiliki ‘bahasa’ yang khas Para Ayah ASI, berbagi kepada
pembaca Ayahbunda bagaimana cara mereka menyukseskan pemberian ASI untuk buah hati
tercinta.

1. Menjadi ‘cheerleader’ untuk istri saat menyusui. Ini akan membuatnya lebih rileks dan ASI
pun menjadi lebih lancar. Saat ibu senang, hormon prolaktin dan oksitosin yang penting untuk
produksi ASI akan bekerja lebih baik. Berikan pesan singkat berisi kata-kata mesra di siang hari,
kejutan kecil ataupun sekadar memandikan anak tanpa disuruh. Semua itu bisa memberikan ibu
kebahagiaan tersendiri.

2. Menjadi juru bicara dan pelindung. Disinilah ayah berperan menjadi ‘benteng’
pertahanan bunda dari ‘serangan’ mitos-mitos. Carilah informasi sebanyak-banyaknya kepada
ahlinya. Bergabunglah dengan kelompok pendukung ASI. Jika istri bekerja, jangan sungkan
bicara dengan atasannya agar istri diberikan waktu, kalau perlu tempat khusus, untuk memompa
ASI. Biarkan semua orang tahu istri kita sedang menyusui.

3. Menjadi manajer yang baik. Proses menyusui akan lebih mudah dengan mengatur
persediaan ASI perahan (ASIP). Anda bisa memulai mengaturnya dengan membuat daftar apa
saja yang diperlukan untuk menyimpan ASI, diantaranya mencari stok botol dan memberikan
label tanggal ASI masuk freezer. Temani istri saat sedang memompa di malam hari dan selalu
ingatkan istri untuk memompa ASI. Ayah adalah manajer logistik ASIP.

4. Menjadi orangtua yang sebenarnya. Tugas ayah bukan sekedar pengambil keputusan atau
pencari nafkah. Namun juga harus terlibat total dalam urusan rumah tangga. Mulai dari
mengurusi anak hingga belanja keperluan keluarga. Bayangkan ibu menyusui harus bertahan
kurang lebih 15 menit di posisi yang sama selama 2-3 jam sekali. Proses yang cukup melelahkan
ini butuh seorang super ayah yang ikut intervensi urusan rumah.

5. Be a Google! Jangan hanya istri yang cari tahu informasi tentang ASI. Alangkah baiknya
jika Ayah juga bisa menjadi sumber informasi. Buatlah daftar pertanyaan dari istri di pagi hari
sebelum berangkat ke kantor, dan ketika pulang ke rumah, sudah siap dengan segudang jawaban.
Diskusikan dengan istri jawaban-jawaban itu.

6. Tidak egois. Prioritas seorang suami adalah keluarganya, bukan pekerjaan apalagi hobi.
Dan tugas suami tidak selesai ketika sejumlah uang ditransfer ke rekening istri. Tugas
seorang ayah juga tidak selesai hanya ketika membelikan mainan pada anak atau mengajaknya
jalan-jalan ke mall. Jadilah bagian dari keluarga dengan seutuhnya, bukan sekadar ATM
berjalan.

7. Bijaksana. Tahan emosi saat menghadapi lingkungan yang terlalu fleksibel soal ASI. Cari
dan beri pemahaman dengan cara yang tepat, santai dan bijaksana pada orangtua, mertua, dll.
Tempelkan kertas-kertas berisi informasi tentang ASI di kulkas, jadi secara tidak langsung
mereka juga bisa membacanya. Letakkan buku-buku tentang ASI di tempat yang mudah terlihat
agar mereka bisa ikut membacanya.
8. Beri motivasi, bukan paksaan. Kadang istri bisa menjadi emosional, merasa lelah, lalu
ingin berhenti menyusui. Dalam kondisi seperti ini, jadilah pendengar yang baik, pahami
kesulitan istri, ajak istirahat sejenak dan nikmati waktu romantis berdua. Terus yakinkan ia
bahwa ASI adalah yang terbaik untuk buah hati. Bisikan kata-kata lembut seperti “Baby, don’t
give up. I’m with you” sambil tersenyum.

9. Lepaskan beban. Jangan menjadikan dukungan terhadap proses menyusui sebagai beban.
Mendampingi istri menyusui adalah bagian dari kewajiban alamiah seorang suami sekaligus
tanggung jawab ayah pada anaknya. Belajarlah bersama-sama dengan istri.

10. Berbagi. Jangan menutup diri dan buka jaringan pergaulan serta informasi seluas-luasnya.
Sharing membuat Anda semakin memahami persoalan, dan belajar lebih banyak tentang suatu
hal dengan dimensi dan perspektif beragam. Semakin banyak informasi, semakin memudahkan
Anda mengambil langkah yang tepat. (me)

D. Hal-hal Yang Mengurangi Dukungan Untuk Menjadi Ayah ASI

Aneka mitos muncul tentang ayah. Sebagian mitos itu muncul akibat pencitraan ayah di masa
lalu ditambah ‘bumbu’ asumsi publik. Betulkah mitos ini?

1. Tidak dibutuhkan bayi.

FAKTA: Bayi tidak hanya butuh ibu untuk menyusu. Marcus Jacob Goldman, MD dalam
bukunya The Joy of Fatherhood menegaskan bahwa ayah juga berperan saat proses menyusui.
Misalnya menggendong sambil menunggu ibu bersiap untuk menyusui.

2. Tidak tahu cara merawat anak.

FAKTA: “Ibu sebenarnya tidak perlu khawatir, karena kenyataannya ayah memiliki naluri sama
seperti ibu untuk merawat anak,” jelas Dr. Henry Cloud dan Dr. John Townsenddalam buku
mereka, Raising The Great Children. Ayah hanya perlu belajar dan terbiasa dengan peran
barunya.
3. Punya pola asuh yang sama dengan ayahnya dahulu.

FAKTA: Menjadikan ayah sebagai role model tidak ada yang salah. Namun, ayah modern akan
mencari role model lain untuk mendapatkan pola asuh terbaik dari yang terbaik.

4. Tidak akan mampu konsentrasi dengan karirnya bila ia penuh perhatian dengan anak.

FAKTA: Masih menurut Dr. Cloud dan Dr. Townsend dalam buku Raising The Great
Children, ayah masa kini sangat menikmati perannya sebagai ayah. Peran ini termasuk salah satu
cara untuk meningkatkan status pria, selain kesuksesan dalam karir. Bahkan anak bisa menjadi
motivasi untuk mencapai karir yang ideal.

5. Tidak mau mengorbankan pekerjaannya meski demi anak.

FAKTA: Anggapan ayah akan dipandang negatif bila harus keluar dari pekerjaannya
demikeluarga sudah tidak berlaku. Sekarang, bila karir istri lebih maju, kenapa
tidak ayahberganti peran. Menurut Koray Tanfer dalam bukunya The Meaning of Fatherhood,
banyak pekerjaan di rumah yang bisa dilakukan oleh ayah.

6. Tidak bisa dijadikan role model bagi anak perempuan.

FAKTA: Apapun jenis kelamin anak, ayah tetap bisa menjadi panutan buat anak. Bagi anak laki-
laki, ayah adalah contoh untuk berperilaku sebagai seorang laki-laki. Bagi anak
perempuan, ayah adalah role model bagaimana cara bersosialisasi dengan dunia laki-laki.

7. Tidak mampu mengasuh anak, bila ia seorang ayah tunggal.

FAKTA: Dampak ditinggal oleh pasangannya membuat ayah sering dicap tidak mampu
mengasuh anak seperti ibunya. Tidak selalu, kok! Ayah tunggal zaman sekarang tidak canggung
lagi untuk mengasuh anak sendirian –karena ia sudah ikut mengasuh anak sebelumnya dan ada
dukungan dari sekelilingnya.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam proses menyusui ayah juga mempunyai peran yang sangat penting.ayah tidak bisa
menyusui bayi seperti yang dilakukan ibu. Tapi ayahpasti bisa berperan aktif dalam proses
menyusui. Keterlibatan ayah dalam memberikan dukungan emosional dan fisik kepada ibu
menyusui sangatlah dibutuhkan,sehingga Keterlibatan ayah tersebut turut menentukan
kelancaran refleks pengeluaran ASI (let down reflex) yang dipengaruhi emosi ibu.

B. Saran

Untuk para ayah sebaiknya dapat mendukung sepenuhnya proses pemberian asi, karena peran
ayah juga sangat di butuhkan dalam kelancaran reflex pengeluaranasi. Dan jangan memberikan
tekanan emosi terhadapibu, mendampingi istri menyusui adalah bagian dari kewajiban alamiah
seorang suami sekaligus tanggung jawab ayah pada anaknya. Belajarlah bersama-sama dengan
istri.