Anda di halaman 1dari 3

Hubungan Asupan Nutrisi dengan Kadar Vitamin D pada Tuberkulosis Anak

Pembahasan
Judul Jurnal Hubungan Asupan Nutrisi dengan Kadar Vitamin D pada Tuberkulosis Anak
Author Roza Erisma, Gustina Lubis, Finny Fitry Yani
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RSUP Dr M Djamil, Padang
Nama Jurnal Sari Pediatri, Vol. 18, No. 1, Juni 2016
Masalah Menurut WHO (World Health Organization), insiden kasus TB pada tahun 2011 mencapai 9 juta dengan angka
kematian mencapai 1,4 juta orang pada kasus yang tidak terinfeksi HIV (human immunodeficiency virus) dan sebesar
430 000 pada kasus yang terinfeksi HIV, sepertiga di antaranya adalah anak. TB memiliki kadar vitamin D yang
lebih rendah dibanding anak yang tidak sakit TB. Nnoaham dan Clarke, dalam systematic review dan
meta-analisis, menyimpulkan bahwa kadar vitamin D pada kasus TB lebih rendah 0,68 SD dibanding individu
yang sehat, serta berhubungan dengan risiko terjadinya TB aktif. Kejadian defisiensi vitamin D diperkirakan
mencapai 30%-50%, baik pada anak maupun orang dewasa, di berbagai belahan dunia. Penyebab utama
defisiensi vitamin D adalah kekurangan paparan sinar ultraviolet B (UVB) yang menginduksi sintesis vitamin D

di kulit serta kurangnya asupan yang mengandung vitamin D.11,12 Wilayah Indonesia mendapatkan paparan
sinar matahari yang tinggi, tetapi kejadian TB masih cukup tinggi.
Tujuan Mengetahui hubungan asupan nutrisi yang mengandung vitamin D dengan kadar vitamin D darah pada
anak yang terinfeksi TB.
Metode Rancangan : rancangan penelitian Cross Sectional
Variable : variable yang diteliti adalah kejadian penyakit TBC dan karakteristik umum sampel anak usia 1-14
tahun yang kontak serumah dengan TB dewasa BTA positif, dengan hasil tuberculin skin test positif serta
pengaruh asupan vitamin D.
Analisis : Kandungan vitamin D dalam asupan diolah menggunakan program Nutri-Survei Indonesia dan
untuk Analisis statistik dilakukan dengan program SPSS melalui uji Fisher dan t-test (p<0,05).
Hasil
Sebagian besar anak yang terinfeksi TB memiliki status gizi baik (61,4%). Tidak terdapat anak dengan status
gizi buruk ataupun gizi lebih. Rerata asupan vitamin D per hari pada anak perempuan lebih besar
dibanding anak laki-laki (p=0,13). Rerata asupan vitamin D pada anak dengan status gizi baik lebih
banyak dibanding dengan gizi kurang (p=0,53). Namun, secara statistik perbedaan tersebut tidak bermakna
(Tabel 2). Sebagian besar anak (83,3%) yang kurang mendapat vitamin D sesuai RDA mengalami
insufisiensi vitamin D dibandingkan dengan anak yang cukup mendapat vitamin D, walaupun secara
statistik tidak bermakna.
Pembahasan Keadaan malnutrisi atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi, dan lain-lain, akan mempengaruhi daya
tahan tubuh seseorang sehingga rentan terhadap penyakit termasuk TB paru. Keadaan ini merupakan faktor
penting yang berpengaruh di negara miskin, baik pada orang dewasa maupun anak-anak (Hiswani, 2009).
Salah satu pilihan yang perlu dipertimbangkan untuk memecahkan permasalahan tuberkulosis adalah pemberian
vitamin D sebagai pengobatan suportif yang menyertai pengobatan standar jangka pendek yang ada pada saat ini.
Vitamin D berfungsi sebagai imunomodulator, yaitu terlibat pada aktivitas makrofag. Penelitian invitro yang
dilakkukan Liu tahun 2006 menunjukan metabolit aktif vitamin D yaitu 1,25-dihydroxyvitamin D bisa membantu
makrofag menekan pertumbuhan Mycobscterium tuberculosis melalui peningkatan kadar cathelicidin
intraseluler. Cathecilidin adalah anti mikroba protein yang sangat poten yang bisa membunuh gram negatif dan
positif. Cathelicidin terdapat dalam tubuh manusia dalam bentuk Human LL-37 Peptida atau h-CAP18 yang
berperan di imunitas innate. Selain pada imunitas innate metabolit aktif vitamin D juga punya peran yang penting
pada imunitas adaptif sebagai imunosupresor. Peran vitamin D pada imunitas adaptif adalah menekan INF-y,
TNF-α sebagai interlekin inflamasi dan menaikkan IL-4 sebagai interlekin anti inflamsi (8, 9). Peran metabolit
aktif vitamin D pada imunitas adaptif sangat diperlukan untuk menekan reaksi inflamasi berlebihan sehingga
dapat meningkatkan dan mempercepat kesembuhan penderita tuberkulosis.
Kesimpulan Sebagian besar anak yang terinfeksi TB mendapat asupan vitamin D di bawah RDA dan mengalami insufisiensi
vitamin D meskipun secara statistik tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan asupan nutrisi. Kadar
vitamin D yang rendah pada anak TB dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal,
antara lain tingginya pemanfaatan vitamin D sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi kuman M.
tuberkulosis dan adanya kemungkinan polimorfisme genetik pada reseptor vitamin D yang memengaruhi sintesis
vitamin D. Faktor eksternal, antara lain asupan nutrisi vitamin D maupun paparan sinar matahari yang
mengandung sinar ultraviolet B yang rendah berperan dalam sintesis vitamin D di kulit. Asupan vitamin D yang
rendah atau di bawah RDA serta paparan sinar UVB yang kurang menyebabkan sebagian besar (97%) penderita
TB mengalami insufisensi.