Anda di halaman 1dari 10

EVALUASI PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PENGEMBANGAN

INFRASTRUKTUR EKONOMI WILAYAH


(PNPM-PISEW)

Aida Fitriani
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kapuas
Email:aidafitriani45@gmail.com

Abstrak: Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (Regional Infrastructure for Social
and Economic Development – RISE), yang kemudian disingkat dengan PISEW diharapkan dapat menjawab
kebutuhan dalam melakukan upaya pengentasan kemiskinan, dan pengurangan tingkat pengangguran terbuka
dengan juga meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam melaksanakan desentralisasi dan otonomi
daerah. Program PISEW dengan intervensi berupa bantuan teknis dan investasi infrastruktur dasar pedesaan,
dibangun dengan berorientasi pada konsep “Community Driven Development (CDD)” dan “Labor Intensive
Activities (LIA)”, sehingga kemudian dikategorikan sebagai salah satu program PNPM-Mandiri. Dengan
demikian kemudian program PISEW dikenal dengan nama PNPM-PISEW. Indikator-indikator penelitian
meliputi , evaluasi perencanaan, evaluasi pelaksanaan, evaluasipelaporan, evaluasi pemanfaatan berkelanjutan
dan evaluasi penguatan kelembagaan serta dampak dari pelaksanaan kegaitan PNPM-PISEW di Kecamatan
Sintang tahun 2014 baik dampak yang diharapkan maupun dampak yang tidak diharapkan.

Kata Kunci: Evaluasi Kebijakan, Evaluasi Program, Pemberdayaan masyarakat.

Prinsip dasar yang harus diperhatikan untuk ditangani hanya jika birokrat melakukan tindakan
melakukan evaluasi adalah dengan melihat sejauh tertentu.
mana masyarakat berkontribusi sebagai simpul
penghambat penanganan masalah. Hal ini Misal: Upaya penanganan akan lebih efektif
dimaksudkan untuk menghindarkan adanya jika diturunkan tim dari Bawasda dan langsung
‘penghukuman’ kepada masyarakat sementara simpul pelimpahan temuan ke kejaksaan, namun TK PNPM
penghambat penanganan bukan dimasyarakat. Mandiri terkadang tidak merespon permintaan tim
Berangkat dari hal tersebut, maka hal yang menjadi dimaksud. Target progres yang harus dicapai adalah
bahan pertimbangan dalam evaluasi bukan lagi siapa Birokrat (TK PNPM Mandiri Perdesaan) terlibat
pelaku masalah tetapi siapa atau dimana simpul dalam upaya investigasi penunjukkan tim Audit
hambatan atas upaya penanganan masalah berada. pemerintah Dukungan pelimpahan hasil temuan ke
Untuk melihat dimana simpul hambatan penanganan aparat hukum dilakukan pemanggilan terhadap pelaku
masalah berada dan bagaimana target progres yang (terutama jika pelaku adalah aparat),. Pemberian
diharapkan. Berikut adalah tolok ukur yang dimaksud sanksi terhadap pelaku setelah diterbitkan surat
masyarakat sebagai simpul hambatan adalah apabila teguran yang diperlukan untuk mendukung
masyarakat tidak memiliki kepedulian terhadap upaya penanganan Aparat Hukum Bahwa aparat hukum
penanganan masalah yang ada di kecamatan tersebut, menjadi titik penghambat upaya penanganan masalah
meskipun telah dilakukan upaya untuk motivasi dan apabila masalah stagnan pada tahapan proses di aparat
fasilitasi. hukum, sementara stakeholder lain telah berusaha
untuk mengadvokasi. Misal: Masalah telah dilporkan
Misal: Tidak ada wakil masyarakat yang kepada kepolisian setempat, namun pelaku maupun
bersedia menjadi tim pemantau penanganan, atau saksi belum ada yang dipanggil. Telah dilakukan
adanya sikap apatisme untuk berpartisipasi dalam upaya monitoring dan meminta konfirmasi, tetapi
upaya penanganan masalah. Untuk kondisi demikian, tidak diperoleh keterangan yang jelas. Fasilitator
perbaikan ditunjukkan dengan adanya kepedulian Simpul hambatan ada di Fasilitator apabila dalam
masyarakat dengan mengadakan musyawarah untuk analisa atas hambatan penanganan, akar masalah
tindak lanjut penanganan di berbagai tingkatan kemacetan karena tidak adanya dukungan atau
(kelompok, dusun, desa kecamatan). Simpul fasilitasi Fasilitator yang tidak optimal. Target progres
kemacetan di birokrasi jika birokrasi tidak mau apabila simpul kemacetan ada pada Fasilitator adalah
terlibat mendukung atau bahkan menghambat upaya telah dilakukan pembinaan dan atau teguran terhadap
penanganan sehingga proses menjadi lamban atau Fasilitator yang bersangkutan. Ada perbaikan kinerja
stagnan. Atau Birokrat tidak mau melakukan sesuatu Fasilitator dalam fasilitasi penanganan masalah
padahal berdasarkan analisa masalah akan dapat memiliki agenda dan target penanganan.

152
153 Fokus, Jilid 12, Nomor 2, Maret 2014, hlm. 152-161

Tahap Perencanaan aparat terkait secara berjenjang dari Kecamatan


sampai Pusat, yaitu : (Sumber buku panduan teknis
Perencanaan dilaksanakan dengan tujuan sistem pelaporan PNPM-PISEW Tahun 2012:13-17).
menyusun gambaran umum masalah dan sumber
daya, menyusun rencana atau program kegiatan Pemanfaatan dan Keberlanjutan
prioritas masing-maing bidang, juga perencanaan
dapat dipandang sebagai suatu proses penentuan dan Pemanfaatan yang dimaksudkan dalam
penyusunan program-program kegiatan yang PNPM-PISEW terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu:
dilakukan, berorientasi kemasa depan, spesifik dan pemanfaatan terhadap dokumen perencanaan yang
operasional. Aspek yang diperhatikan yang perlu telah disusun, dan pemanfaatan terhadap infrastruktur
diperhatikan dalam perencanaan menurut Ismail yang sudah dibangun. Dokumen perencanaan yang
(1989 : 97) antara lain : “(a) Harus jelas tujuan dan telah disusun di atas diharapkan dapat
sasaran yang ingin dicapai, (b) Realistis, artinya diinternalisasikan ke dalam proses perencanaan
mengandung harapan-harapan, relevan dengan tujuan pembangunan daerah yang disusun sesuai dengan
memiliki prosedur, metode dan teknik pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
yang tepat dan tetap mempertimbangkan sumber Optimalisasi pemanfaatan dan pengembangan
daya manusianya. (c) Harus terpadu dan sistematis, infrastruktur yang sudah dibangun diharapkan dapat
yakni memperhatikan unsur-unsur insani dan non dilakukan oleh KPP pasca pelaksanaan kegiatan
insani, memiliki tata urutan berdasarkan skala konstruksi fisik. Sedangkan keberlanjutan berkaitan
prioritas”. dengan kegiatan program diharapkan dapat terus
dikembangkan lebih lanjut oleh pemerintah daerah dan
Tahap Pelaksanaan masyarakat meskipun dukungan PNPM-PISEW telah
berakhir. Maksud utama dari kegiatan ini pada intinya
Dalam usaha menilai program, sering pula adalah mendorong masyarakat dan pemerintah daerah
digunakan kriteria atau patokan, yaitu suatu pengertian untuk mempertahankan dan meningkatkan proses
yang dapat dijadikan dasar (standar) menilai atau perencanaan pembangunan yang partisipatif dan
mengukur. Menurut Raka (1981: 22) bahwa : “Pada sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
dasarnya, dapat dibedakan 2 jenis kriteria, yaitu berlaku. Sebagai suatu program, PNPM-PISEW
kriteria internal dan kriteria eksternal. Kriteria internal mempunyai sasaran pelaksanaan yang mencakup
adalah standar­ yang dijabarkan dari dalam rancangan sebagai berikut : (Sumber Buku Panduan umum
program, dan kriteria eksternal adalah standar-standar PNPM-PISEW Tahun 2012:61). Terbangunnya
yang diperoleh dari luar program. Kriteria internal infrastruktur perdesaan yang meliputi pembangunan
suatu program dapat ditinjau dari segi konsistensi, sarana dan infrastruktur: transportasi, produksi
yaitu ketepatan atau kesesuaian antara komponen pertanian, pemasaran pertanian, air bersih dan
yang satu dengan komponen lainnya dalam program sanitasi, pendidikan dan kesehatan. Meningkatnya
tersebut. Kriteria eksternal suatu program, misalnya usaha ekonomi masyarakat. Terbentuknya Kawasan
dapat ditinjau dari: (Sumber Buku Panduan umum Strategis Kabupaten,Kelompok Usaha Masyarakat,
PNPM-PISEW Tahun 2012 :15). a. dan institusi Kelompok Diskusi Sektor (KDS) serta
Mengidentifikasi kesesuaian antara kebijakan umum menguatnya fungsi KDS di lokasi yang telah
dan tujuan program. b. Pemberian pertimbangan memilikinya. Meningkatnya kapasitas pemerintah
dilakukan oleh evaluator yang dipandang ahli dalam dalam berperan sebagai fasilitator dalam
bidangnya harus realistis atau dapat diukur. melaksanakan pembangunan. Meningkatnya
kapasitas masyarakat dalam melaksanakan
Pelaporan pembangunan.
Pelaporan merupakan proses penyampaian Adapun penerima manfaat dari PNPM-
data dan atau informasi mengenai perkembangan PISEW mencakup antara lain: Masyarakat Desa,
atau kemajuan setiap tahapan dari pelaksanaan Lembaga Kemasyarakatan Desa (kelompok yang
program, kendala atau permasalahan yang terjadi, sudah ada seperti karang taruna, PKK, kelompok tani)
penerapan dan pencapaian dari sasaran atau tujuan dan kelompok masyarakat yang mempunyai potensi
program. Mekanisme pelaporan dilakukan melalui usaha di desa, danPemerintah kabupaten, kecamatan
jalur struktural dan jalur fungsional konsultan, dan pemerintah desa. Fungsi tindak lanjut dalam
sebagai upaya untuk mempercepat proses kegiatan evaluasi program pada PNPM adalah
penyampaian data dan atau informasi dari lapangan. mengarahkan dan menuntun agar suatu kegiatan yang
Sistem laporan dari desa agar dibuat sesederhana dilakukan tetap berada dalam bingkai aturan
mungkin, mengingat keterbatasan kemampuan prosedural sesuai mekanisme. Mekanisme dan hasil-
administratif dari pelaksana kegiatan di desa. Materi hasil pelaksanaan program PNPM-PISEW di tingkat
laporan berupa data dan atau informasi yang benar kebupaten dan kecamatan diharapkan dapat terus
dan akurat jauh lebih diutamakan daripada bentuk dikembangkan lebih lanjut oleh pemerintah daerah dan
laporannya. Mekanisme pelaporan ini dilakukan oleh masyarakat meskipun dukungan PNPM-PISEW terlah
Aida Fitriani, Evaluasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat 154

aberakhir. Hail ini bertujuan untuk mendorong pengecualian bagi orang miskin. Pelaksanaan PNPM
masyarakat dan pemerintah daerah dalam berpotensi dan bahkan sudah menimbulkan konflik,
mempertahankan keberlanjutan proses perencanaan seperti konflik antar Desa, antara Pemerintah Desa
pembangunan secara partisipatif. Beberapa kegiatan dengan tim pelaksana kegiatan (TPK), antara TPK
yang diharapkan dapat dilanjutkan di antaranya dengan masyarkat dan antara kelompok pribumi
adalah proses pemilihan KSK, penyusunan MPK untuk dengan pendatang, serta konflik pengadaan barang
kegiatan PSE Kabupaten, penyusunan dokumen dan jasa. Selain terkait dengan kurangnya pemahaman
Renstra Kecamatan, penyusunan dokumen PIK, tentang program, dan oleh karena itu juga kurang
pembentukan KDS, dan pembentukan KPP. Untuk sosialisasi, penyebab lain dari berbagai konflik
meningkatkan keberlanjutan program, Pemda perlu tersebut adalah kurangnya koordinasi dengan atau
melanjutkan program PNPM-PISEW dengan PNPM- pelibatan pihak yang relevan dalam pelaksanaan
PISEW Mandiri dengan sumber dana berasal dari program. Kurangnya koordinasi juga menyebabkan
pemerintah Daerah yang dilaksanakan pasca konflik antara Pemerintah Desa dengan TPK,
pelaksanaan program PNPM-PISEW sementara untuk kasus pribumi dan pendatang, potensi
konflik di picu oleh kecemburuan akibat ketimpangan,
Dampak Yang Diharapkan yaitu daerah transmigrasi lebih maju, sementara
daerah pribumi relatif tertinggal. Karena dalam
Hasil PNPM yang diharapkan dan dapat PNPM disyaratkan adanya swadaya masyarakat,
menjadi suatu program untuk lebih menyentuh sering kali desa yang mendapat program PNPM
langsung ke masyrakat antara lain :(Sumber Buku adalah desa transmigrasi. Hal ini terjadi karena jalan
Panduan Umum PNPM-PISEW desa transmigrasi luas dan para transmigrasi memiliki
2012:11):1. Memperluas kesempatan usaha dan banyak tanah, sehingga ketika mereka diminta
membuka lapangan kerja baru. Dampak signifikan swadaya dalam bentuk tanah, mereka tidak keberatan
terhadap kenaikan belanja rumah tangga pedesaan- memberikannya. Sebaliknya, di desa pribumi jalannya
hasil studi di kecamatan lokasi PNPM Mandiri sempit dan warga tidak mau memberikan tanahnya
Pedesaan menunjukan adanya peningkatan belanja yang memang sempit sehingga mereka tidak
rumah tangga yang cukup besar di banding kecamatan mendapatkan program fisik PNPM.
non-program. Sasaran program yang berpihak pada
orang miskin dan kesetaraan gender. Berdasarkan PNPM belum berhasil memperdayakan
berbagai studi, dampak sosial dan ekonomi, PNPM masyarakat desa karena (Sumber Tim Koordinasi
Mandiri Pedesaan terbukti sukses dalam menentukan PNPM-PISEW 2012:32) a. struktur kekuasaan desa
sasaran dan memberikan bantuan kepada kecamatan yang timpang karena adanya dominasi elite desa
termiskin di Indonesia, dengan sasaran kelompok sehingga warga miskin sangat termarginalkan; b.
masyarakat miskin. Meningkatkan kapasitas, kinerja model permberdayaan PNPM sangat mekanistik:
lokal dan kelembagaan, pembentukan model fasilitator hanya sekedar memastikan terlaksananya
perencanaan dan pembiyaan partisipatif. Rendahnya tahapan-tahapan program, tanpa adanya usaha lebih
tingkat korupsi-Audit independen terhadap PPK yang jauh untuk “menyadarkan” dan “meningkatkan
di laksanakan oleh Moors Rowland menemukan kapasitas” masyarakat terkait tujuan program untuk
penyimpangan proyek desa ini kurang dari 1% dari mendorong terciptanya tata pemerintahan yang baik
total dana yang telah di salurkan. Meningkatkan akses (partisipari, transparansi dan akuntabilitas) serta
ke pasar, puast kota, fasilits pendidikan dan kesehatan, meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat
dan sumber air bersih lebih dari 56% desa termiskin dengan berbasis kemandirian; c. adanya
di seluruh Indonesia. PNPM Mandiri Pedesaan ketidaksesuaian antara mekanisme program dan
(melalui PPK dan PNPM-PPK) telah mendanai lebih karakteristik budaya local: PNPM mendorong
dari 171.466 kegiatan sarana /prasarana pedesaan di partisipasi individual dalam kegiatan maupun dalam
lokasi program di seluruh Indonesia. Tingginya tingkat penyelenggaraan pemerintah desa; d. sebagian
pengembalian investasi. Penghematan biaya dalam fasilitator tidak berkualitas dan tidak berpengalaman,
jumlah signifikan serta sering terjadinya rotasi wilayah bagi fasilitator.
Dampak Yang Tidak Diharapkan METODE

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian


PNPM dinilai tidak banyak perperan kialitatif. Informan adalah sumber utama data
langsung dalam pengentasan kemiskinan. Akibatnya, penelitian, yaitu yang memiliki data mengenai focus
kelompok miskin tidak dijadikan sebagai prioritas penelitian. Informan dipilih dengan teknik purposive.
dalam pelaksanaan program. Hal ini, terlihat dari Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam
perencanaan proyek yang tidak selalu penelitian ini adalah wawancara, observasi dan studi
mempertimbangkan manfaat bagi warga miskin, dokumentasi.Analisis data bersifat kualitatif. Menurut
penargetan tenaga kerja dalam pelaksanaan proyek Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 1995:3)”sebagai
fisik PNPM yang tidak secara khusus menyasar warga prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif
miskin, atau keharusan swadaya bagi warga tanpa berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang
155 Fokus, Jilid 12, Nomor 2, Maret 2014, hlm. 152-161
dan prilaku yang dapat diamati”. Penelitian ini yang akan dilatih di tingkat provinsi bersama tim
dilakukan pada Kantor Camat Sintang. Pemilihan konsultan Kecamatan Sintang. Setelah dilatih di
lokasi tersebut berdasarkan pertimbangan praktis dan tingkat provinsi dan Orientasi di tingkat Kabupaten
metodologis. Sintang, kemudian dilakukan Persiapan Sosialisasi
Kecamatan Sintang dan Pelatihan Fasilitator
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kecamatan Sintang(FD). Persiapannya meliputi
Tahap Perencanaan. perumusan materi sosialisasi, penyebaran undangan,
dan Penetapan calon FD. Kemudian, dilaksanakan
Perencanaan Program Nasional acara sosialisasi kegiatan PNPM-PISEW dan
Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan Pelatihan FD dalam rangka penggalian isu PSE
Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PNPM sebagai masukan untuk penyusunan dokumen PSE
PISEW) berupaya memadukan pendekatan Kecamatan Sintang. Rencana kerja kegiatan di tingkat
partisipatif masyarakat dan pendekatan teknokratik Kecamatan Sintang dijelaskan dan disepakati.
pemerintah daerah. Pendekatan bawah-atas (Bottom
Up) disinergikan dengan pendekatan atas-bawah (Top Tahap selanjutnya adalah Analisis Potensi
Down). Menurut hasil wawancara penulis dengan Pengembangan Kecamatan Sintang dan Kelompok
Camat Sintang, diketahui bahwa Perencanaan Diskusi Sektor (KDS). Kegiatan ini bertujuan untuk
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat menggali informasi dalam rangka perumusan
Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah pengembangan sosial ekonomi Kecamatan Sintang,
(PNPM PISEW) di Kecamatan Sintang dilaksanakan serta mengidentifikasi para pelaku pengembangan
secara berjenjang. Setelah Pemerintah Kabupaten sosial ekonomi sesuai dengan potensi Kecamatan
Sintang menyatakan komitmen terhadap PISEW, Sintang dalam wadah KDS. Pembentukan KDS lebih
maka dibentuklah Tim Koordinasi PNPM-PISEW didasarkan atas kegiatan ekonomi yang dominan di
Kabupaten Sintang termasuk didalamnya Sekretariat Kecamatan Sintang tersebut, sebagai perencana, dan
PNPM-PISEW Kabupaten Sintang dari dinas/badan/ pemanfaat pembangunan. Cakupan KDS adalah
lembaga/kantor terkait dengan cakupan bidang PSE hamparan kegiatan ekonomi homogen bukan batas
yang disahkan oleh Bupati. administrasi. Kemudian, hasil analisis di atas,
disampaikan pada Sosialisasi Desa se Kecamatan
Anggota Tim Koordinasi dan Sekretariat Sintang, yang mempunyai muatan sosialisasi program
PNPM-PISEW disiapkan untuk diutus dalam rangka dan data pengembangan Kecamatan Sintang,
mengikuti Pelatihan Tingkat Pusat. Hasil dari Sosialisasi dan klarifikasi KDS serta Identifikasi
Pelatihan Provinsi adalah Persiapan Orientasi dan Potensi Desa. Fasilitator Kecamatan Sintang
Workshop Kabupaten Sintang untuk mempersiapkan merupakan kader yang akan mendampingi Tim
acara Orientasi Kabupaten Sintang, baik dari sisi Konsultan Kecamatan Sintang dalam pelaksanaan di
materi yang akan disampaikan, kebutuhan peserta tingkat Desa Di Kecamatan Sintang. Identifikasi
yang akan diundang serta substansi acara. Kemudian, Potensi merupakan upaya lebih lanjut dari pengenalan
dilaksanakan Orientasi dan Workshop Kabupaten Kecamatan Sintang yang lebih rinci, sebagai dasar
Sintang untuk mensosialisasikan kegiatan PNPM- penetapan usulan kegiatan. Hasil Sosialisasi
PISEW kepada pemangku kepentingan yang lebih Kecamatan Sintang dan Analisis Potensi
luas, yang disertai Persiapan Tim PNPM-PISEW Pengembangan Kecamatan Sintang menjadi masukan
Kabupaten Sintang sebagai pelaku utama PISEW bagi Penyusunan Profil PSE Kecamatan Sintang untuk
Kabupaten Sintang untuk menetapkan pembagian menggambarkan kondisi PSE Kecamatan Sintang
tugas dan fungsinya. lebih komprehensif.
Setelah tugas dan fungsi Tim PNPM-PISEW Pelatihan Fasilitator Kecamatan Sintang yang
Kabupaten Sintang ditetapkan, kemudian Sekretariat dilakukan setelah sosialisasi untuk mempersiapkan
PNPM-PISEW melaksanakan Persiapan dan Fasilitator Kecamatan Sintang dalam mendampingi
Pelaksanaan Lokakarya PSE Kabupaten Sintang. masyarakat dalam proses kegiatan PNPM-PISEW.
Persiapan yang dilakukan adalah menyusun profil Materi pelatihan ini selain teknis pelaksanaan PNPM-
singkat PSE Kabupaten Sintang, menetapkan tema PISEW sesuai dengan tugasnya, juga diberikan materi
lokakarya serta penjaringan makalah untuk mengisi peningkatan kemampuan dalam memfasilitasi
lokakarya. Selain itu ditetapkan pula peserta kegiatan dan menumbuhkan partisipasi masyarakat.
lokakarya serta agenda pelaksanaan untuk memandu Kegiatan awal Fasilitator Kecamatan Sintang adalah
pelaksanaan. Sebagai tindak lanjut perencanaan di memfasilitasi Penjaringan Aspirasi Masyarakat
tingkat Kabupaten, di tingkat Kecamatan Sintang (Diskusi KDS). Kegiatan ini bertujuan untuk
dilakukan Pembentukan Tim Pokja Kecamatan merumuskan kegiatan-kegiatan yang menjadi
Sintang dan Persiapan Calon Peserta Pelatihan kebutuhan masyarakat dalam lingkup PSE. Rumusan
Provinsi. Tim Pokja Kecamatan Sintang ini terdiri atas kegiatan adalah sesuai dengan hasil penilaian
staf Kecamatan Sintng yang ditunjuk oleh Camat hamparan yang meliputi aspek kekuatan, kelemahan,
sebagai pelaku utama di tingkat Kecamatan Sintang, 156 peluang dan ancaman. Dalam mensinkronkan kegiatan
Aida Fitriani, Evaluasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat 156

antar KDS (karena setiap KDS dapat terdiri dari diperlukan, FK dapat menyusun Daftar Pertanyaan
beberapa bagian Desa) yang kemudian dikembalikan (Kuesioner) atau Check-List untuk keperluan
dalam lingkup Desa Di Kecamatan Sintang, maka kunjungan ke Desa Di Kecamatan Sintang, serta
dilaksanakan Diskusi antar KDS dan Desa Di membahasnya dengan Tim Kunjungan Lapangan
Kecamatan Sintang. Jaring keterkaitan (fungsi, lokasi, (anggota Pokja danTTL). Bersama dengan TTL dan
manfaat) antar kegiatan digunakan dalam analisis ini, Anggota Pokja Kecamatan Sintang, FK kemudian
sehingga menghasilkan kegiatan-kegiatan dalam melaksanakan kunjungan lapangan menuju Desa Di
lingkup Desa Di Kecamatan Sintang. Hasilnya, Kecamatan Sintang. Di dalam setiap kunjungan dan
kemudian dilakukan Finalisasi Usulan Kegiatan pengamatan lapangan yang dilakukan, diadakan
Kecamatan Sintang untuk disampaikan ke beberapa pertemuan atau wawancara dengan para
Musrenbang Desa. Kemudian, di tingkat Kecamatan tokoh atau pemuka, dan masyakarat setempa.Pada
Sintang dilaksanakan Perumusan Renstra Kecamatan akhir kunjungan Tim Kunjungan Lapangan (FK dan
Sintang. Merupakan kegiatan analisis intergrasi Pokja) melakukan perumusan terhadap isu Pokok dan
pengembangan Kecamatan Sintang yang didasarkan Kondisi Awal setiap Desa di Kecamatan Sintang yang
atas Indikator Misi PSE Jangka Menengah yang telah dikunjungi. Penilaian Awal Kondisi Kecamatan
disusun di tingkat Kabupaten Sintang, Potensi Sintang antara lain adalah di dalam penyusunan
Kecamatan Sintang, serta Usulan Kegiatan Rencana dan Jadwal Kerja perlu diperhatikan target
Kecamatan Sintang dari KDS, yang kemudian waktu yang tersedia disesuaikan dengan kondisi
dilakukan penilaian untuk menetapkan prioritas kebiasan masyarakat setempat. Daerah pengamatan
kegiatan Jangka Menengah Pembangunan yang akan dilakukan dengan metode participatory
Kecamatan. KDS yang dibentuk di tingkat Kecamatan planning ini lebih besar dari area yang umumnya
Sintang, disosialisikan di tingkat Kecamatan Sintang diterapkan oleh metode tersebut. Karena itu, perlu
dan diklarifikasi kebenarannya agar KDS benar-benar diperhatikan bahwa dalam melakukan kegiatan
sesuai dengan ketentuan dan kondisi sebenarnya. pengamatan jangan terlalu menyeluruh, tetapi harus
selektif. Walaupun demikian, jangan sampai hal-hal
Kegiatan Identifikasi Potensi Kecamatan yang dianggap penting (masalah krusial atau
Sintang merupakan penilaian awal bagi tinjauan dan kelompok kecil tertentu) terlewatkan dalam
analisis kebutuhan dan potensi masyarakat (lokal) pengamatan ini. Karena daerahnya yang cukup luas
yang bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut karakter (Kecamatan Sintang), maka hasil dari kegiatan ini
Kecamatan Sintang dari perspektif masyarakat, yang harus dapat mengidentifikasi penampakan yang umum
meliputi aspek-aspek sosial-ekonomi masyarakat, serta kepentingan dominan dari (kelompok)
kondisi fisik, serta hal-hal khusus lain yang perlu masyakarat. Langkah kegiatan ini merupakan
mendapat perhatian. Dengan mengetahui kondisi awal kegiatan pertama dimana kontak dengan masyarakat
(kondisi eksisting) serta local knowledge maka akan secara langsung dilakukan. Karena itu, sangat penting
dapat diketahui karakter Kecamatan Sintang tersebut, kiranya ditekankan agar FK dapat memberikan
yang selanjutnya dapat memudahkan dalam gambaran yang benar dari maksud kunjungannya, dan
menangani apabila ada permasalahan yang timbul. mampu untuk membangkitkan interest masyarakat.
Pada kegiatan penilaian awal kebutuhan Kecamatan
Sintang dan Desa Di Kecamatan Sintang, diharapkan Analisis kebutuhan masyarakat dilakukan
teridentifikasinya isu pokok Kecamatan Sintang dan untuk menyusun suatu usulan dan prioritas kegiatan
tergambarnya kondisi awal Desa Di Kecamatan yang didasarkan atas aspirasi kebutuhan masyarakat
Sintang. Kegiatan Pengenalan Kecamatan Sintang ini terkait dengan kondisi sosial ekonomi di wilayahnya.
dilakukan dengan 2 (dua) metode, yaitu forum Karena itu usulannya harus muncul dari masyarakat,
pertemuan dengan masyarakat dan kunjungan kondisi berdasarkan pembahasan oleh masyarakat, dan
lapangan. hasilnya untuk masyarakat. Begitu pula halnya dengan
pembahasan dan pengusulan dalam rangka kegiatan
Penilaian Awal Kondisi Kecamatan Sintang dilakukan PNMP-PISEW. Pembahasan dan pengusulannya
dengan penyusunan Instrumen Pengenalan Kondisi dilakukan melalui KDS dengan bimbingan FD.
Awal. Fasilitator Kecamatan Sintang (FK) Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui dan
mempelajari Hasil Kajian Profil/Gambaran Umum memahami kegiatan perekonomian Kecamatan
Kecamatan Sintang dan menyimpulkan butir-butirnya Sintang dalam perspektif masyarakat, serta melihat
dalam format Kecamatan Sintang serta Mempelajari dan mengidentifikasi permasalahan, peluang dan
Peta Orientasi Kecamatan Sintang. kendalanya. Pada akhirnya berguna di dalam
merumuskan masukan mengenai kebutuhan dan
Fasilitator Kecamatan Sintang kemudian prioritas kegiatan lokal terkait dengan penyusunan
membuat Rencana dan Jadwal Kerja pelaksanaan Renstra Kecamatan Sintang. Selain itu, dari kegiatan
kunjungan identifikasi awal ke Desa. Fasilitator ini diharapkan dapat: Menyempurnakan informasi
Kecamatan Sintang dapat meminta bantuan beberapa awal mengenai pola kegiatan sosioekonomis
anggota Pokja Kecamatan Sintang untuk dapat penduduk, Mendapatkan hasil analisis mengenai
mendampingi pelaksanaan kunjungan ke Desa. Jika “issues” utama dan permasalahan yang dihadapi oleh
157 Fokus, Jilid 12, Nomor 2, Maret 2014, hlm. 152-161
setiap KDS, Mengembangkan alternatif atau skenario Kecamatan Sintang dan TTL (FK dan Ttl) setelah
usulan yang dilihat atau berasal dari perspektif/ terlebih dahulu melakukan analisa potensi unggulan
aspirasi masyarakat dan kondisi geografis Kecamatan Sintang. Dalam
pengorganisasian Program PNPM-PISEW di
Tahap Pelaksanaan. Kecamatan Sintang ada juga Lembaga
Kemasyarakatan Desa (LKD).
Pada pelaksanaan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan Masih ditemukan kesalahan-kesalahan
Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PNPM administrasi pada proses pencairan dana PNPM-
PISEW), ditetapkan bahwa Program Nasional
PISEW baik dari Kecamatan mupun dari Desa yang
Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan
mendapat kegiatan PNPM-PISEW. Hal ini disebabkan
Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PNPM
PISEW) akan menyediakan prasarana dengan para kepala Desa masih banyak yang kurang mau
ketegorisasi terdiri prasarana transportasi pedesaan, berkoordinir dengan Tim Pelaksana PNPM-PISEW
penyehatan lingkungan, ekonomi produktif khususnya dilapangan, sehingga sering terjadi keterlambatan
bidang pertanian. Dengan kebijakan ini, sangat pencairan dana karna kesalahan pada administrasi
diperlukan suatu proses penyedian prasarana dengan saja. LKD Di Kecamatan Sintang yaitu lembaga
kualitas teknis sesuai kaidah dan spesifikasi teknis kemasyarakatan yang sudah ada dan diakui
yang berlaku. Namun demikian disamping keberadaannya oleh masyarakat dan pemerintah Desa
pertimbangan kualitas teknis, juga dipertimbangkan Di Kecamatan Sintang, seperti kelompok
upaya pemberdayaan masyarakat dan penguatan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Karang
kelembagaan daerah dimana keseluruhannya Taruna, PKK, Remaja Mesjid, Remaja Gereja, dan
diharapkan dapat mendukung dan mempercepat proses sebagainya. Setiap LKD harus mempunyai struktur
pembangunan daerah. Dalam kerangka pembangunan organisasi tang terdiri dari Ketua, Bendahara,
daerah, dimana proses penyedian prasarana dengan Sekretaris, Tenaga Teknis, dan anggota. Pengurus
kualitas yang teknis yang tinggi serta Organisasi tersebut sekurang-kurangnya terdiri dari
mempertimbangakannya proses pemberdayaan 5 (lima) orang, dengan minimal satu anggotanya
masyarakat dan penguatan kelembagaan daerah. adalah perempuan atau perwakilan unsur minoritas
Menurut Fasilitator dan pendamping tingkat di Desa Di Kecamatan Sintang.
kecamatan dan desa pengelompokan prasarana yang
dibangun atas sifat penggunaannya adalah Prasarana Dinas Pekerjaan Umum sebagai pemantau
yang sifatnya umum, yaitu prasarana dimana setiap kegiatan PNPM-PISEW sekaligus sebagai penghitung
orang dapat / boleh menggunakannya. Prasarana yang seberapa jauh volume pekerjaan yang telah
bersifat lokal spesifik, dimana hanya kelompok dilaksanakan oleh Tim Pelaksana PNPM-PISEW
tertentu yang dapat memanfaatkan secara terus- bersama masyarakat, apakah sesuai dengan ajuan baik
menerus. Prasarana yang sifatnya individu, dimana dari anggaran dan tempat pelaksanaan pekerjaan.
hanya individu tertentu yang dapat memanfaatkannya. Pada kegiatan PNPM-PISEW Dinas Pekerjaan Umum
Pengelompokan tersebut sangat diminta untuk menjadi pendamping pelaksanaan
mempengaruhi siapa yang menjadi penanggungjawab kegiatan dilapangan, karena hal ini menyangkut segi
dalam proses pelestarian dan pemeliharaan prasarana teknis kegiatan. Pengorganisasian PNPM-PISEW di
tersebut, baik prasarana yang dibangun untuk Kecamatan Sintang juga melalui Kelompok
melayani umum ataupun untuk melayani kelompok. Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) yaitu organisasi
Dalam kegiatan PNPM-PISEW akan melibatkan yang terdiri dari unsur masyarakat yang
berbagai institusi, sesuai dengan komponen kegiatan memanfaatkan dan memelihara hasil kegiatan
yang menjadi tugas pokok dan fungsí serta kompetensi pembangunan prasarana di wilayah nya. KPP
dari berbagai institusi pemerintah baik itu dipusat dibentuk dan ditetapkan melalui Musyawarah Desa
maupun didaerah, dan konsultan/ fasilitator yang akan yang difasilitasi oleh FK, POKJA Kecamatan Sintang
memberikan bantuan teknis kepada masyarakat, dan LK. KPP disah kan oleh Kepala Desa atas
pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pada tingkat sepengetahuan Camat.
Desa Di Kecamatan Sintang, pengelola kegiatan
adalah Pemerintah Desa. Kepala Desa Pelaporan.
bertanggungjawab atas pengendalian dan kelancaran
kegiatan yang dilakukan oleh Kelompok Diskusi Sistem pelaporan pada PNPM-PISEW dibuat
Sektor (KDS) selama tahapan perencanaan, LKD berjenjang mulai dari tingkat desa, kecamatan,
selama tahap pelaksanaan dan kelompok pemanfaatan kabupaten, provinsi sampai ke pusat. Laporan
dan pemeliharaan (KPP) pada tahap pemanfaatan dan dilakukan baik melalui jalur struktural maupun melalui
pemeliharaan serta pemanfaatan kredit mikro oleh jalur fungsional. Mekanisme pelaporan ini dilakukan
KUM. KDS dapat meliputi hanya satu Desa atau oleh aparat terkait secara benjenjang dari Kecamatan
lebih. Pembentukan KDS difasilitasi oleh Pokja sampai Pusat, yaitu :
Aida Fitriani, Evaluasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat 158
A. Jalur Struktural. PNPM-PISEW ditingkat Kecamatan dan
1. Camat dengan dibantu TTL dan Pokja Desa. TTL menyampaikan laporan
Kecamatan menyusun laporan kemajuan mingguan dan bulanan kepada ATK dan
pelaksanaan kegiatan yang meliputi: tahap KMK dengan tembusan ke Pokja Kecamtan.
perencanaan, pelaksanaan, dan Laporan bulanan disampaikan selambat-
pembangunan prasarana. Laporan lambatnya tanggal 5 (lima) bulan
disampaikan setiap bulan kepada Bupati berikutnya. Penanggungjawab laporan
melalui Tim Koordinasi Kabupaten. adalah FK.
2. PPK PISEW Kabupaten menyiapkan laporan 2. Tingkat Kabupaten
rekapitulasi rencana penyerapan dan KMK dan ATK selaku tenaga pendamping
realisasi keuangan, kepada PMU. Laporan di wilayah Kabupaten, menerima,
disampaikan sekali setahun. mengolah, menganalisis, dan
3. Satker Kabupaten menyiapkan laporan menindaklanjuti laporan yang disampaikan
kemajuan fisik berdasarkan dokumen TTL, serta menyusun laporan kegiatan dari
“Sertifikasi Bulanan” untuk BLM lokasi pendampingan dan pengamatan terhadap
KSK dan BLM Kecamatan dari laporan PPK pelaksanaan program PNPM-PISEW
PNPM-PISEW Kabupaten, PJOK KSK dan ditingkat Kabupaten, Kecamatan dan Desa.
PJOK Kecamatan, Rekapitulasi laporan Berdasarkan bahan-bahan tersebut, KMK
tersebut disampaikan kepada Bupati setiap dan ATK masing-masing menyusun laporan
bulan melalui Tim Koordinasi Kabupaten. mingguan dan bulanan yang disampaikan
Disamping itu Satker/PPK juga secara rutin kepada KMP dan KMT provinsi dengan
melaporkan kemajuan melalui E-Mon yang tembuasan Sekretariat PNPM-PISEW
ada di Kementerian Pekerjaan Umum. Kabupaten. Laporan bulanan disampaikan
4. Bupati melalui Tim Koordinasi Kabupaten selambat-lambatnya tanggal 7 (tujuh) bulan
dibantu Sekretariat PNPM-PISEW berikutnya.
Kabupaten dan Satker Kabupaten 3. Tingkat Provinsi
menyampaikan laporan berisi rekapitulasi KMP dan KMT selaku tenaga pendamping
kemajuan pelaksanaan kegiatan, baik tahap di wilayah Provinsi dan sekaligus selaku
persiapan dan perencanaan, pembangunan Koordinator/Team Leader dari Konsultan
prasarana, maupun perencanaan tahun Daerah, menerima, mengolah,
berikutnya, realisasi dan efektivitas menganalisis, dan menindaklanjuti laporan
penggunaan dana PAP, serta pembinaan dan yang disampaikan KMK dan ATK, serta
koordinasi terhadap realisasi kemajuan, menyusun laporan kegiatan dari
kepada Gubernur melalui Tim Koordinasi pendampingan dan pengamatan terhadap
Provinsi. Laporan ini disampaikan 3 (tiga) pelaksanaan program PNPM-PISEW
bulan sekali. ditingkat Provinsi, Kabupaten, Kecamatan
5. Gubernur melalui Tim Koordinasi Provinsi dan Desa. Laporan KMP (bulanan) dan
menyampaikan laporan berisi rekapitulasi KMT (mingguan dan bulanan) yang
kemajuan pelaksanaan kegiatan, baik tahap disampaikan kepada PIU dan KMAP dengan
persiapan dan perencanaan, pembangunan tembusan Tim Koordinasi Provinsi. Laporan
prasarana maupun perencanaan tahun bulanan disampaikan selambat-lambatnya
berikutnya, realisasi dan efektivitas tanggal 12 (dua belas) bulan berikutnya.
penggunaan dana PAP, serta pembinaan dan 4. Tingkat Pusat
koordinasi terhadap realisasi kemajuan KMAP menerima, mengolah, menganalisis,
kegiatan seluruh kabupaten. Laporan dan menindaklanjuti laporan yang
ditujukan kepada Menteri terkait melalui Tim disampaikan oleh KMP, KMT dan KMK/
Pusat c.q PMU, Laporan ini disampaikan 3 ATK (baik dalam bentuk buku maupun
(tiga) bulan sekali. dalam format file softcopy). Selanjutnya
6. PMU menyampaikan laporan setiap bulannya KMAP menyusun dan memberikan laporan
kepada Tim Koordinasi Pusat melalui kepada PMU dengan tembusan kepada
Sekretariat Nasional PNPM-PISEW. Sekretariat PNPM-PISEW Nasional c.q.
B. Jalur Fungsional KPTKP. Selambat-lambatnya tanggal 25
1. Tingkat Kecamatan (dua puluh lima) bulan berikutnya. KPTKP
TTL selaku tenaga pendamping di membuat analisa kebijakan pelaksanaan
Kecamatan, membuat laporan program program secara nasional dan melakukan
PNPM-PISEW berdasarkan laporan pengkajian terhadap perundang-undangan
kemajuan kegiatan pembangunan prasarana dan peraturan-peraturan yang terkait dengan
oleh LKD, serta menyusun laporan program. Selanjutnya KPTKP memberikan
kemajuan kegiatan dari pendampingan dan laporan kepada Tim Koordinasi Pusat
pengamatan terhadap pelaksanaan program melalui Sektrtariat Nasional PNPM-PISEW.
159 Fokus, Jilid 12, Nomor 2, Maret 2014, hlm. 152-161
Pemanfaatan dan Keberlanjutan. menjadi anggota harus mengikuti aturan main yang
telah disepakati. Kaitannya dengan PNPM-PISEW
Dalam pelestarian dan kesinambuangn paling tidak batasan anggota KPP sebagai berikut:
prasarana dan sarana yang telah dibangun, diperlukan Anggota KPP adalah semua warga pemanfaat
adanya Pemanfatan dan Keberlanjutan atau sering prasarana yang dapat diidentifikasi yang berdomisili
disebut sebagai Pemanfataan dan Pemiliharaan di sekitar areal prasarana tersebut, bias berasal dari
secara optimal oleh masyarakat pengguna prasarana satu desa atau antar desa. Keanggotaannya bukan
dengan pendampingan/pembinaan dari Pemerintah perorangan tetapi keluarga. Setiap keluarga yang
Daerah. Pasca pelaksanaan pembangunan konstruksi memanfaatkan prasarana otomatis menjadi KPP.
dibentuk Kelompok Pemanfaatan dan Pemeliharaan Kelompok yang sudah ada seperti halnya Kelompok
(KPP) sebagai wahana masyarakat dalam hal Petani Pemakai Air yang memanfaatkan fasilitas air
pemanfaatan dan pemeliharaan konstruksi yang telah dari saluran irigasi dapat sekaligus berfungsi sebagai
dibangun. Karena itulah diharapkan para KPP benar- kelompok pemanfaat dan pemelihara. Anggota LKD
benar dapat berfungsi dalam melakukan pengoprasian bias menjadi anggota KPP. Monitoring dan evaluasi
dan pemeliharaannya, kedepan KPP diharapkan dapat KPP adalah proses rutin pengumpulan data dan
mengembangkan infrastruktur tersebut. Hal ini pengukuran kemajuan KPP sehingga dapat
penting agar dapat tercapai tujuan berikut ini, yaitu: memberikan suatu penilaian dan evaluasi terhadap
Jaminan berfungsinya prasarana dan sarana yang kinerja KPP, serta mengidentifikasi kekuatan dan
telah dibangun secara berkelanjutan, guna kelemahan berbagai aspek seperti aspek Organisasi,
meningkatkan kualitas hidup dan tingkat Administrasi, Keuangan dan Teknis pemeliharaan
perekonomian masyarakat;Tumbuhnya kemampuan yang memungkinkan Pemerintah Daerah dapat
masyarakat dalam pengelolaan sumber-sumber menyempurnakan secara bertahap kualitas KPP sesuai
pembiayaan untuk pemanfaatan dan dengan situasi, kondisi, dan kemampuan daerah. Hasil
pemeliharaan;Meningkatnya fungsi kelembagaan monitoring dan evaluasi digunakan untuk: Membantu
masyarakat di desa dan kecamatan dalam pengelolaan memetakan dan mengidentifikasi isu dan
hasil kegiatan;Tumbunya rasa memiliki terhadap hasil permasalahan, kemampuan dan kapasitas KPP dalam
kegiatan yang telah dilaksanakan. mengelola organisasinya. Membantu dalam
pengembangan program peningkatan kapasitas dan
Harapan yang digantungkan kepada KPP ini kemampuan KPP dalam pemeliharaan dan
memerlukan pengolahan yang melibatkan berbagai pemanfaatan infrastruktur. Memberi penguatan pada
pihak yang berkepentingan. Pemerintah perlu kegiatan Pelatihan KPP dan penentuan kelayakan KPP
mengadakan campur tangan terhadap KPP sehingga pada proses serah terima dari Pemerintah Daerah.
masyarakat di pedesaan akan menjadi masyarakat
yang berdaya dalam mengelola sumber daya di Dampak Yang Diharapkan
daerahnya. Pemanfaatan dan pemeliharaan adalah
serangkaian kegiatan terencana dan sistematis yang Program Nasional Pemberdayaan
dilakukan secara rutin maupun berkala untuk menjaga Masyarakat Pengembangan Infrastruktur Sosial
agas prasarana dan sarana tetap dapat berfungsi dan Ekonomi Wilayah (PNPM PISEW) menekankan pada
bermanfaat sesuai rencana. Pelibatan masyarakat pemberdayaan melalui pendamping untuk
dalam kegiatan pemanfaatan dan pemeliharan meningkatkan kemampuan masyarakat dan
dilakukan melalui wadah KPP (Kelompok memberikan keleluasaan/kesempatan kepada
Pemanfaatan dan Pemeliharaan). Kelompok masyarakat dalam melakukan pilihan, memberikan
Pemanfaatan dan Pemeliharaan adalah organisasi yang kemampuan dalam bidang manajemen sehingga
terdiri dari unsur masyarakat desa yang pelaksanaanya tepat waktu, pelaporan dilakukan
memanfaatkan dan memelihara hasil kegiatan dengan cepat dan pengendalian yang intensif serta
pembangunan prasarana di wilayahnya. Sesuai mengembangkan control sosial, dimana semua dinilai
dengan Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 sangat bermanfaat bagi masyarakat. Selain
tentang Desa, dalam PNPM-PISEW KPP dapat implementasi program PNPM dalam penelitian ini
dikatagorikan kepada Lembaga Kemasyarakatan, juga menelaah dampak implementasi kebijakan
maka pembentukan KPP difasilitasi oleh Kepala Desa tersebut. Oleh karena itu perlu diuraikan dampak
dibantu oleh Fasilitator Desa (FD), Fasilitator implementasi program PNPM di Kecamatan Sintang
Kecamatan dan Pokja Kecamatan melalui Masyarakat baik yang bersifat positif maupun yang bersifat
Desa. Pembentukan KPP dilakukan pada waktu negative. Dampak yang diharapkan dari pelaksanaan
proses perencanaan atau setelah penandatanganan program PNPM di Kecamatan Sintang secara umum
kontrak pekerjaan dan paling lambat sebelum serah adalah mendukung pembangunan ekonomi regional,
terima pekerjaan dari Lembaga Kemasyarakatan Desa pemerataan pembangunan dan pemberdayaan
(LKD) kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). masyarakat desa serta mengurangi kemiskinan di
Pada dasarnya KPP sebagai sebuah kelompok pedesaan. Secara khusus dampak yang diharapkan
masyarakat, untuk keanggotaannya bersifat terbuka dari program PNPM di Kecamatan Sintang adalah
dan suka rela, yang terpenting adalah siapapun yang meningkatkan kemampuan masyarakat dan
Aida Fitriani, Evaluasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat 160
kelembagaan masyarakat dalam mengelola ruang kelas serta meubelir semua berfungsi sesuai
pembangunan; menciptakan lapangan pekerjaan; dengan kapasitasnya. Berdasarkan indikator
memperkuat kemampuan aparat dalam memfasilitasi penguatan kelembagaan pemerintahan daerah dapat
masyarakat dan mengelola pembangunan; disimpulkan Kegiatan Pelatihan Aparatur Desa
menyediakan prasarana perdesaan; menyediakan dilakukan sebelum dimulainya pelaksanaan kontruksi
prasarana kesehatan; serta menyediakan prasarana fisik Pelatihan yang dilakukan antara lian: pelatihan
ekonomi produktif. tingkat provinsi, pelatihan tingkat kabupaten,
sosialisasi dan pelatihan tingkat kecamatan, pelatihan
Dampak Yang Tidak Diharapkan fasilitator Desa, sosialisasi dan pelatihan tingkat Desa.
Dari indikator pemberdayaan masyarakat dapat
Selain dampak positif dalam implementasi disimpulkan LKD dimasing-masing Desa di
program PNPM di Kecamatan Sintang juga Kecamatan Sintang terlibat aktif baik dari mulai
berpeluang melahirkan dampak negative berupa perencanaan sampai pada proses pelaksanaan
terjadinya konflik sosial (vertikal dan horisontal). Hal kegiatan PNPM-PISEW.
ini disebabkan kebijakan PNPM pada umum terjadinya
konflik dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Dampak kegiatan PNPM-PISEW di
program PNPM-PISEW juga berpotensi melahirkan Kecamatan Sintang Tahun 2014 dapat disimpulkan
kecemburuan antara satu wilayah/desa yang dampak yang diharapkan dari kegiatan PNPM-
mendapat program PNPM-PISEW dengan desa PISEW adalah meningkatkan kemampuan
lainnya yang tidak dilaksanakan program PNPM. masyarakat dan kelembagaan masyarakat dalam
Gambaran tersebut diatas tentu saja bukan untuk mengelola pembangunan; menciptakan lapangan
dikeluhkan dan menjadi apatis, tetapi justru harus pekerjaan; memperkuat kemampuan aparat dalam
menjadi peringatan kepada kita semua pengelola memfasilitasi masyarakat dan mengelola
pembangunan termasuk Pemerintah Daerah untuk pembangunan; menyediakan tempat dibangunnya
mempercepat target penurunan angka kemiskinan di baik itu prasarana perdesaan, kesehatan, dan ekonomi
daerah. PNPM-PISEW sebagai salah satu kegiatan produktif khusus dalam bidang pertanian. Sedangkan
dibawah bendera ‘pengentasan kemiskinan’ harus dampak yang tidak diharapkan adalah menimbulkan
berusaha keras berkontribusi kearah tersebut. konflik sosial (vertikal dan horisontal). Yaitu adanya
Jawabannya berpulang pada kita semua, pada kecemburuan sosial antara satu wilayah/Desa yang
komitmen kita semua, baik sebagai Pemerintah Pusat, mendapatkan kegiatan PNPM-PISEW dengan Desa
Pemerintah Daerah, dunia usaha maupun masyarakat lainnya yang belum mendapatkan kegiatan PNPM-
untuk bertekad demi kesejahteraan rakyat yang PISEW.
sekarang masih menderita akibat belenggu
kemiskinan. Berdasarkan hasil Evaluasi Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Pengembangan
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Infrastruktur Ekonomi Wilayah (PNPM-PISEW) di
KEBIJAKAN Kecamatan Sintang Tahun 2014, disarankan agar
dalam perencanaan kegiatan PNPM-PISEW untuk
Pembangunan, pemanfaatan dan berikutnya supaya masyarakat bisa ambil peran dalam
pengembangan prasarana, dapat disimpulkan penentuan tempat kegiatan sehingga kegiatan PNPM-
prasarana yang dibangun oleh kegiatan PNPM- PISEW bisa merata di perdesaan khususnya di
PISEW di Kecamatan Sintang Tahun 2014 secara Kecamatan Sintang. Dalam mengatasi dampak
keseluruhan dapat berfungsi dan dapat dimanfaatkan yang tidak diharapkan (konflik) maka sebelum
oleh masyarakat. khususnya untuk jalan tanah dapat kegiataan dilaksanakan dilakukan pendekatan secara
berfungsi secara maksimal pada waktu musim panas, persuasip terhadap masyarakat dan kelembagaan
sedangkan untuk jalan sirtu dan rabat beton dapat setempat, sehingga dapat diketahui oleh Tim
berfungsi memperlancar lalu lintas darat masyarakat. Pelaksana apa yang diharapkan oleh masyarakat
Jembatan dan air bersih dapat dimanfaatkan dengan tersebut. Sehingga pada perencanaan untuk tahun
baik juga walaupun ada beberapa sumur bor yang berikutnya dapat meminimalisir konflik antar
kurang volume airnya pada saat musim kemarau yang masyarakat desa yang tidak diharapkan dan tidak
lebih dari satu minggu. Untuk posyandu dan tambahan perlu terjadi.
161 Fokus, Jilid 12, Nomor 2, Maret 2014, hlm. 152-161
DAFTAR PUSTAKA

Arief Zainudin, 2000. Pengertian Monitoring, Tambunan. 1982. Inventarisasi Barang dan
Supervisi, Evaluasi dan Pelaporan Jasa.Jakarta.
Pendidikan Luar Sekolah; Jakarta
Universitas Terbuka. Tim Koordinasi Program Pengembangan Kecamatan.
2007. Tugas dan Tanggung Jawab
Bappenas, 2000. Program Pembangunan Nasional, Pelaku PPK. Jakarta. Departemen
htt p:/ /www. bappe nas.go.i d/bap_ Dalam Negeri.
ind.html (31 Januari 2013).
Tim Koordinasi Program Pengembangan Kecamatan.
Buku Panduan Umum Tim Koordinasi PNPM- 2007. Jenis dan Proses Pelaksanaan
PISEW Pusat. Kegiatan–Kegiatan PPK. Jakarta.
Departemen Dalam Negeri.
Buku Petunjuk Teknis Operasional PNPM Mandiri,
2012. Tim Koordinasi Program Pengembangan Kecamatan.
2007. UPK, Penyaluran Dana dan
Bambang Widianto. Sekretaris Eksekutif TNP2K. Administrasi Kegiatan PPK. Jakarta.
Buku Pedoman Pelaksanaan Program Departemen Dalam Negeri.
PNPM. Jakarta.
Buku Panduan Umum Tim Koordinasi PNPM-
Joni Raka. 1981. Penilaian Program Pendidikan. PISEW Pusat.
P3G. Jakarta.
Buku Petunjuk Teknis Operasional PNPM Mandiri,
Ismail, 1989. Fungsi Perencanaan dalam Lingkup 2012.
Manajemen; Jakarta.
Data Dari Kecamatan Sintang Kegiatan PNPM-
Moleong, LJ. 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif, PISEW Tahun 2014.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya