Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pendahuluan
FILSAFAT dan filosof berasal dari kata Yunani “philosophia” dan “philosophos”.
Menurut bentuk kata, seorang philosphos adalah seorang pencinta kebijaksanaan.
Sebagian lain mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran. Filsafat sering
pula diartikan sebagai pandangan hidup. Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai
peranan yang sangat besar. Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup iku
menentukan arah dan tujuan proses pendidikan.
Oleh karena itu, filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat.
Sebab, pendidikan sendiri pada hakikatnya merupakan proses pewarisan nilai-nilai
filsafat, yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang
lebih baik atau sempurna dari keadaan sebelumnya.
Dalam pendidikan diperlukan bidang filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan
sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian
terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Jadi jika ada masalah
atas pertanyaan-pertanyaan soal pendidikan yang bersifat filosofis, wewenang filsafat
pendidikanlah untuk menjawab dan menyelesaikannya.
Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus
menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan
hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam
masyarakatnya. Dengan demikian, muncullah filsafat pendidikan yang menjadi dasar
bagaimana suatu bangsa itu berpikir, berperasaan, dan berkelakuan yang menentukan
bentuk sikap hidupnya. Adapun proses pendidikan dilakukan secara terus menerus
dilakukan dari generasi ke generasi secara sadar dan penuh keinsafan.
Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran sesorang atau beberapa ahli filsafat tentang
sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah terdapat pebedaan di
dalam penggunaan cara pendekatan, hal ini melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang
berbeda pula, walaupun masalah yang dihadapi sama. Perbedaan ini dapat disebabkan
pula oleh factor-faktor lain seperti latar belakangpribadi para ahli tersebut, pengaruh
zaman, kondisi dan alam pikiran manusia di suatu tempat.
Ajaran filsafat yang berbada-beda tersebut, oleh para peneliti disusun dalam suatu
sistematika dengan kategori tertentu, sehingga menghasilkan klasifikasi. Dari sinilah

1
kemudian lahir apa yang disebut aliran (sistem) suatu filsafat. Tetapi karena cara dan
dasar yang dijadikan criteria dalam menetapkan klasifikasi tersebut berbeda-beda,
maka klasifikasi tersebut berbeda-beda pula.
Seorang ahli bernama Brubacher membedakan aliran-aliran filsafat pendidikan
sebagai: pragmatis-naturalis; rekonstruksionisme; romantis naturalis;
eksistensialisme; idealisme; realisme; rasional humanisme; scholastic realisme;
fasisme; komunisme; dan demokrasi. Pengklasifikasian yang dilakukan oleh
Brubracher sangat teliti, hal ini dilakukan untuk menghindari adanya overlapping dari
masing-masing aliran.
Sebagian ahli mengklasifikasikan aliran filsafat pendidikan ke dalam tiga kategori.
Yaitu, kategori filsafat pendidikan akademik skolastik, kategori filsafat religious
theistic, dan kategori filsafat pendidikan social politik. Filsafat pendidikan akademik
skolastik meliputi dua kelompok yang tradisonal meliputi aliran perenialisme,
esensialisme, idealisme, dan realisme, dan progresif meliputi progresivisme,
rekonstruksionisme, dan eksistensialisme. Filsafat religious theistik meliputi segala
macam aliran agama yang paling tidak terdiri dari empat besar agama di dunia ini,
dengan segala variasi sekte-sekte agama masing-masing. Sedangkan filsafat
pendidikan sosial politik terdiri dari humanisme, nasionalisme, sekulerisme, dan
sosialisme.

B. Masalah
Apa itu konsep Ontologi , mengapa dipelajari?

C. Sistematika uraian
1. Pengertian Idealisme dan Realisme Secara Filsafat
2. Pragmatisme.
3. Positivisme.
4. Hakekat ilmu perspektif islam.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Aliran Idealisme/Spritualisme, yang mengajarkan bahwa ide atau spirit manusia


yang menentukan hidup dan pengertian manusia dan Aliran Realisme, yang
menggambarkan bahwa ajaran materialis dan idealisme yang bertentangn itu, tidak sesuai
dengan kanyataan. Sesungguhnya, realitas kesemestaan, terutama kehidupan bukanlah
benda (materi) semata–mata. Realitas adalah perpaduan benda materi dan jasmaniah
dengan yang nonmateri (spiritual, jiwa, dan rohani).

A. Pengertian Idealisme dan Realisme Secara Filsafat


I. Aliran Filsafat Idealisme
Pandangan idealisme menyatakan bahwa realitas yang tampak oleh indera
manusia adalah bayangan dari ide atau idea yang merupakan realitas yang
fundamental. Implikasi dari pandangan ini ialah adanya kecenderungan dari
kelompok yang mengikutinya untuk menghormati budaya dan tradisi serta hal-hal
yang bersifat spiritual.
Idealisme berpandangan bahwa pengetahuan itu sudah ada dalam jiwa kita.
Untuk membawanya pada tingkat kesadaran perlu adanya proses introspeksi.
Tujuan pendidikan aliran ini membentuk karakter manusia. Idealisme adalah aliran
filsafat yang berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian
dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang diketahui manusia itu terletak di
luarnya.
Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), murid Sokrates. Aliran
idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa.
Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa
terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh
panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu
dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah
idea. Idea sendiri selalu tetap atau tidak mengalami perubahan serta penggeseran,
yang mengalami gerak tidak dikategorikan idea.
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang
asli hanya dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah
gambaran dari dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang

3
dimaksud dengan idea adalah hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat
absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material.
Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang tidak berbentuk
demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang dikatakan dunia
idea.
Plato yang memiliki filsafat beraliran idealisme yang realistis
mengemukakan bahwa jalan untuk membentuk masyarakat menjadi stabil adalah
menentukan kedudukan yang pasti bagi setiap orang dan setiap kelas menurut
kapasitas masin-masing dalam masyarakat sebagai keseluruhan. Mereka yang
memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang cukup dapat menduduki posisi yang
tinggi, selanjutnya berurutan ke bawah. Misalnya, dari atas ke bawah, dimulai dari
raja, filosof, perwira, prajurit sampai kepada pekerja dan budak. Yang menduduki
urutan paling atas adalah mereka yang telah bertahun-tahun mengalami pendidikan
dan latihan serta telah memperlihatkan sifat superioritasnya dalam melawan
berbagai godaan, serta dapat menunjukkan cara hidup menurut kebenaran tertinggi.
Mengenai kebenaran tertinggi, dengan doktrin yang terkenal dengan istilah
ide, Plato mengemukakan bahwa dunia ini tetap dan jenisnya satu, sedangkan ide
tertinggi adalah kebaikan. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam
menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan
mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk
mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari.
Prinsipnya, aliran idealisme mendasari semua yang ada. Yang nyata di alam
ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak sama
dengan alam nyata seperti yang tampak dan tergambar. Sedangkan ruangannya
tidak mempunyai batas dan tumpuan yang paling akhir dari idea adalah arche yang
merupakan tempat kembali kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan
Tuhan, arche,sifatnya kekal dan sedikit pun tidak mengalami perubahan.
Inti yang terpenting dari ajaran ini adalah manusia menganggap roh atau
sukma lebih berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan materi bagi kehidupan
manusia. Roh itu pada dasarnya dianggap suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga
benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma. Aliran
idealisme berusaha menerangkan secara alami pikiran yang keadaannya secara
metafisis yang baru berupa gerakan-gerakan rohaniah dan dimensi gerakan tersebut
untuk menemukan hakikat yang mutlak dan murni pada kehidupan manusia.

4
Plato dalam mencari jalan melalui teori aplikasi di mana pengenalan
terhadap idea bisa diterapkan pada alam nyata seperti yang ada di hadapan
manusia. Sedangkan pengenalan alam nyata belum tentu bisa mengetahui apa di
balik alam nyata. Memang kenyataannya sukar membatasi unsur-unsur yang ada
dalam ajaran idealisme khususnya dengan Plato. Ini disebabkan aliran Platonisme
ini bersifat lebih banyak membahas tentang hakikat sesuatu daripada
menampilkannya dan mencari dalil dan keterangan hakikat itu sendiri. Oleh karena
itu dapat kita katakan bahwa pikiran Plato itu bersifat dinamis dan tetap berlanjut
tanpa akhir. Tetapi betapa pun adanya buah pikiran Plato itu maka ahli sejarah
filsafat tetap memberikan tempat terhormat bagi sebagian pendapat dan buah
pikirannya yang pokok dan utama.
Antara lain Betran Russel berkata: Adapun buah pikiran penting yang
dibicarakan oleh filsafat Plato adalah: kota utama yang merupakan idea yang
belum pernah dikenal dan dikemukakan orang sebelumnya. Yang kedua,
pendapatnya tentang idea yang merupakan buah pikiran utama yang mencoba
memecahkan persoalan-persoalan menyeluruh persoalan itu yang sampai sekarang
belum terpecahkan. Yang ketiga, pembahasan dan dalil yang dikemukakannya
tentang keabadian. Yang keempat, buah pikiran tentang alam/cosmos, yang kelima,
pandangannya tentang ilmu pengetahuan (Ali, 1990:28).

II. Aliran Filsafat Realisme


Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan proses
mengenal. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu contoh (paradigma)
bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada inderawi yang selalu berubah dan
dunia idea yang tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yang obyektif, tidak
diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya memberikam dua pengenalan.
Pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yang sebenarnya. Pengenalan
yang dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat,
teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum
sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat), dan
bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dengan panca
indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar
filsafat pra-socratik yaitu pandangan panta rhei-nya Herakleitos dan pandangan
yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu

5
berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi. Memang jiwa Plato
berpendapat bahwa jika itu baka, lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea.
Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi.
Sebelum bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami pra eksistensi dimana
ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori
bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis)
terhadap idea-idea yang telah dilihat pada waktu pra-eksistansi. Ajaran Plato
tentang jiwa manusia ini bisa disebut penjara. Plato juga mengatakan, sebagaimana
manusia, jagat raya juga memiliki jiwa dan jiwa dunia diciptakan sebelum jiwa-
jiwa manusia. Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar
adalah usahanya membuka sekolah yang bertujuan ilmiah.

III. Pendidikan Menurut Aliran Idealisme dan Realisme


a. Aliran Filsafat Idealisme dalam Pendidikan
Pandangan idealisme menyatakan bahwa realitas yang tampak oleh
indera manusia adalah bayangan dari ide atau idea yang merupakan realitas
yang fundamental. Implikasi dari pandangan ini ialah adanya kecenderungan
dari kelompok yang mengikutinya untuk menghormati budaya dan tradisi serta
hal-hal yang bersifat spiritual.
Idealisme berpandangan bahwa pengetahuan itu sudah ada dalam jiwa
kita. Untuk membawanya pada tingkat kesadaran perlu adanya proses
introspeksi. Tujuan pendidikan aliran ini membentuk karakter manusia.
Idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak
lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang
diketahui manusia itu terletak di luarnya. Konsep filsafat menurut aliran
idealisme adalah:
1) Metafisika-idealisme; Secara absolut kenyataan yang sebenarnya
adalah spiritual dan rohaniah, sedangkan secara kritis yaitu adanya
kenyataan yang bersifat fisik dan rohaniah, tetapi kenyataan rohaniah
yang lebih dapat berperan.
2) Humanologi-idealisme; Jiwa dikarunai kemampuan berpikir yang
dapat menyebabkan adanya kemampuan memilih.
3) Epistemologi-idealisme; Pengetahuan yang benar diperoleh melalui
intuisi dan pengingatan kembali melalui berpikir. Kebenaran hanya

6
mungkin dapat dicapai oleh beberapa orang yang mempunyai akal
pikiran yang cemerlang; sebagian besar manusia hanya sampai pada
tingkat berpendapat.
4) Aksiologi-idealisme; Kehidupan manusia diatur oleh kewajiban-
kewajiban moral yang diturunkan dari pendapat tentang kenyataan atau
metafisika.
Menurut pandangan idealisme, nilai itu absolut. Apa yang dikatakan
baik, benar, salah, cantik, atau tidak cantik, secara fundamental tidak berubah
dari generasi ke generasi. Pada hakikatnya nilai itu tetap. Nilai tidak
diciptakan manusia, melainkan merupakan bagian dari alam semesta.
Plato mengemukakan bahwa kehidupan yang baik hanya mungkin
terjadi dalam masyarakat yang baik dan ideal yang diperintah oleh “the
Philopher Kings”, yaitu kaum intelektual, para ilmuwan atau cendekiawan
(Kneller, 1971:33). Dia juga mengemukakan bahwa jika manusia tahu apa
yang dikatakannya sebagai hidup baik, mereka tidak akan berbuat hal-hal yang
bertentangan dengan moral. Kejahatan terjadi karena orang tidak tahu bahwa
perbuatan tersebut jahat. Jika seseorang menemukan sesuatu yang benar, maka
orang tersebut akan berbuat salah. Namun yang menjadi masalah adalah
bagaimana hal itu dapat dilakukan jika manusia memiliki pandangan yang
sangat berbeda dalam pikirannya tentang hidup yang baik (Sadulloh, 2007:99).
Menurut Power (1982), implikasi filsafat pendidikan idealisme adalah
sebagai berikut:
1) Tujuan: untuk membentuk karakter, mengembangkan bakat atau
kemampuan dasar, serta kebaikkan sosial.
Tujuan program pendidikan pertama-tama harus difokuskan pada
pembentukan karakter atau kepribadian peserta didik. Pada tahap
selanjutnya program pendidikan tertuju kepada pengembangan bakat dan
kebaikan sosial. Peserta didik digali potensinya untuk tampil sebagai
individu berbakat/berkemampuan yang akan memiliki nilai guna bagi
kepentingan masyarakat.
2) Kurikulum: pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan dan
pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan.
Kurikulum pendidikan dikembangkan dengan memadukan pendidikan
umum dan pendidikan praktis. Kurikulum diarahkan pada upaya

7
pengembangan kemampuan berpikir melalui pendidikan umum. Di samping
itu kurikulum juga dikembangkan untuk mempersiapkan keterampilan
bekerja untuk keperluan memperoleh mata pencaharian melalui pendidikan
praktis
3) Metode: diutamakan metode dialektika, tetapi metode lain yang efektif
dapat dimanfaatkan.
Metode pendidikan dalam program pendidikan disusun menggunakan
metode pendidikan dialektis. Meskipun demikian setiap metode yang
dianggap efektif mendorong belajar dapat pula digunakan. Pelaksanaan
pendidikan cenderung mengabaikan dasar-dasar fisiologis dalam belajar.
4) Peserta didik bebas untuk mengembangkan kepribadian, bakat dan
kemampuan dasarnya.
Peserta didik bebas mengembangkan bakat dan kepribadiannya. Pendidikan
bekerjasama dengan alam dengan proses pengembangan kemampuan
ilmiah.
5) Pendidik bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan
pendidikan melalui kerja sama dengan alam.
Tugas utama tenaga pendidik adalah menciptakan lingkungan yang
memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan efisien dan efektif.

b. Aliran Filsafat Realisme dalam Pendidikan


Aliran realisme berpandangan bahwa hakikat realitas adalah fisik dan ruh,
bersifat dualistis. Tujuan pendidikannya membentuk individu yang mampu
menyesuaikan diri dalam masyarakat dan memiliki rasa tanggung jawab
kepada masyarakat.
Aliran filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah
ambaran yang baik dan tepat dari kebenaran. Konsep filsafat menurut aliran
realisme adalah:
1) Metafisika-realisme; Kenyataan yang sebenarnya hanyalah kenyataan
fisik (materialisme); kenyataan material dan imaterial (dualisme), dan
kenyataan yang terbentuk dari berbagai kenyataan (pluralisme)
2) Humanologi-realisme; Hakekat manusia terletak pada apa yang dapat
dikerjakan. Jiwa merupakan sebuah organisme kompleks yang
mempunyai kemampuan berpikir

8
3) Epistemologi-realisme; Kenyataan hadir dengan sendirinya tidak
tergantung pada pengetahuan dan gagasan manusia, dan kenyataan
dapat diketahui oleh pikiran. Pengetahuan dapat diperoleh melalui
penginderaan. Kebenaran pengetahuan dapat dibuktikan dengan
memeriksa kesesuaiannya dengan fakta.
4) Aksiologi-realisme; Tingkah laku manusia diatur oleh hukum-hukum
alam yang diperoleh melalui ilmu, dan pada taraf yang lebih rendah
diatur oleh kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat yang telah teruji
dalam kehidupan.
Penganut aliran realisme sependapat dengan penganut idealis bahwa
nilai yang mendasar adalah pada dasarnya permanen, tapi mereka berbeda
diantara mereka sendiri dan alasan mereka. Realis klasik sependapat dengan
Aristoteles bahwa ada undang-undang moral universal, tersedia untuk
berbagai alasan dan mengikat pada eluruh rasional manusia.
Realist sepakat bahwa guru harus menjadi bagian dalam merumuskan
nilai-nilai tertentu. Moral dasar dan standar keindahan yang diajarkan pada
siswa yang tidak berdampak pada isu terkini. Anak-anak harus memahami
secara jelas mengenai sifat dasar kebenaran dan salah, memberikan perhatian
pada tujuan yang baik dan indah berdasarkan pada perubahan moral dan
keindahan mode.
Menurut Power (1982), implikasi filsafat pendidikan realisme adalah
sebagai berikut:
a. Tujuan: penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial.
Tujuan program pendidikan terfokus agar peserta didik dapat
menyesuaikan diri secara tepat dalam hidup. Disamping itu, peserta didik
diharapkan dapat melaksanakan tanggung jawab sosial dalam hidup
bermasyarakat.
b. Kurikulum: komprehensif mencakup semua pengetahuan yang berguna
berisi pentahuan umum dan pengetahuan praktis.
Kurikulum komprehensif yang berisi semua pengetahuan yang berguna
dalam penyesuaian diri dalam hidup dan tanggung jawab sosial. Kurikulum
berisi unsur-unsur pendidikan umum untuk mengembangkan kemampuan
berpikir dan pendidikan praktis untuk kepentingan bekerja.

9
c. Metode: Belajar tergantung pada pengalaman baik langsung atau tidak
langsung.
Metodenya harus logis dan psikologis. Metode pontiditioning
(Stimulua-Respon) adalah metode pokok yang digunakan. Semua kegiatan
belajar berdasarkan pengalaman baik langsung maupun tidak langsung.
Metode mengajar hendaknya bersifat logis, bertahap dan berurutan.
Pembiasaan (pengkondisian) merupakan sebuah metode pokok yang dapat
dipergunakan dengan baik untuk mencapai tujuan pendidikan.
d. Peran peserta didik adalah menguasai pengetahuan yang handal dapat
dipercaya.
Dalam hal disiplin, peraturan yang baik adalah esensial dalam belajar.
Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang baik.
Dalam hubungannnya dengan pengajaran, peranan peserta didik adalah
penguasaan pengetahuan yang handal sehingga mampu mengikuti
perkembangan Iptek. Dalam hubungannya dengan disiplin, tatacara yang baik
sangat penting dalam belajar. Artinya belajar dilakukan secara terpola
berdasarkan pada suatu pedoman. Peserta didik perlu mempunyai disiplin
mental dan moral untuk setiap tingkat kebaikan.
e. Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik
mengajar dan dengan keras menuntut prestasi peserta didik.
Peranan pendidik adalah menguasai pengetahuan, keterampilan teknik-
teknik pendidikan dengan kewenangan untuk mencapai hasil pendidikan.

B. Pengertian Pragmatisme
Menurut Kamus Ilmiah Populer, Pragmatisme adalah aliran filsafat yang
menekankan pengamatan penyelidikan dengan eksperimen (tindak percobaan), serta
kebenaran yang mempunyai akibat – akibat yang memuaskan. Sedangkan, definisi
Pragmatisme lainnya adalah hal mempergunakan segala sesuatu secara berguna.
Sedangkan menurut istilah adalah berasal dari bahasa Yunani “ Pragma” yang
berarti perbuatan ( action) atau tindakan (practice). Isme sendiri berarti ajaran atau
paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa
pemikran itu menuruti tindakan.
Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja hanya membawa akibat
praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima

10
sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang
bermanfaat. Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup
praktis”. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah”
atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila
membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it
works).
Kata pragmatisme sering sekali diucapkan orang. Orang-orang menyebut kata ini
biasanya dalam pengertian praktis. Jika orang berkata, Rencana ini kurang pragmatis,
maka maksudnya ialah rancangan itu kurang praktis. Pengertian seperti itu tidak
begitu jauh dari pengertian pragmatisme yang sebenarnya, tetapi belum
menggambarkan keseluruhan pengertian pragmatisme.
Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria
kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.
Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. Mungkin sesuatu
konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat
tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu
dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua.
1. Tokoh-tokoh Filsafat Pragmatisme
a. Charles Sanders Peirce
Charles mempunyai gagasan bahwa suatu hipotesis (dugaan sementara/
pegangan dasar) itu benar bila bisa diterapkan dan dilaksanakan menurut
tujuan kita. Horton dan Edwards di dalam sebuah buku yang berjudul
Background of American literary thought(1974) menjelaskan bahwa peirce
memformulasikan (merumuskan) tiga prinsip-prinsip lain yang menjadi dasar
bagi pragmatisme sebagai berikut :
1) Bahwa kebenaran ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lebih daripada
kemurnian opini manusia.
2) Bahwa apa yang kita namakan “universal “ adalah yang pada akhirnya
setuju dan mnerima keyakinan dari “community of knowers “
3) Bahwa filsafat dan matematika harus di buat lebih praktis dengan
membuktikan bahwa problem-problem dan kesimpulan-kesimpulan
yang terdapat dalam filsafat dan matematika merupakan hal yang nyata
bagi masyarakat(komunitas).
b. William James
11
William selain menamakan filsafatnya dengan “pragmatisme”, ia juga
menamainya “empirisme radikal”.
Menurut James, pragatisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa yag
benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan
perantaraan yang akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini
bersedia menerima segala sesuatu asal saja membawa akibat praktis,
misalnya pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistik, semuanya bisa
diterima sebagai kebenaran, dan dasar tindakan asalkan membawa akibat
yang praktis yang bermanfaat.
Sedangkan empirisme radikal adalah suatu aliran yang harus tidak
menerima suatu unsur alam bentuk apa pun yang tidak dialami secara
langsung.
Dalam bukunya The Meaning of The Truth, James mengemukakan tidak ada
kebenaran mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri
sendiri dan terlepas dari segala akal yang mengenal, melainkan yang ada
hanya kebenaran-kebenaran ‘plural’. Yang dimaksud kebenaran-kebenaran
plural adalah apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus yang
setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.
Menurut James, ada dua hal kebenaran yang pokok dalam filsafat yaitu
Tough Minded dan Tender Minded. Tough Minded dalam mencari kebenaran
hanya lewat pendekatan empirirs dan tergantung pada fakta-fakta yang dapat
ditangkap indera.Sementara, Tender Minded hanya mengakui kebenaran
yang sifatnya berada dalam ide dan yang bersifat rasional.
Menurut James, terdapat hubungan yang erat antara konsep
pragmatisme mengenai kebenaran dan sumber kebaikan. Selama ide itu
bekerja dan menghasilkan hasil-hasil yang memuaskan maka ide itu bersifat
benar. Suatu ide dianggap benar apabila dapat memberikan keuntungan
kepada manusia dan yang dapat dipercayai tersebut membawa kearah
kebaikan.
Disamping itu pula, William James mengajukan prinsip-prinsip dasar
terhadap pragmatisme, sebagai berikut:
1) Bahwa dunia tidak hanya terlihat menjadi spontan, berhenti dan tak
dapat di prediksi tetapi dunia benar adanya.

12
2) Bahwa kebenaran tidaklah melekat dalam ide-ide tetapi sesuatu
yang terjadi pada ide-ide daam proses yang dipakai dalam situasi
kehidupan nyata.
3) Bahwa manusia bebas untuk meyakini apa yang menjadi
keinginannya untuk percaya pada dunia, sepanjang keyakinannya
tidak berlawanan dengan pengalaman praktisny maupun penguasaan
ilmu pengetahuannya.
4) Bahwa nilai akhir kebenaran tidak merupakan satu titik ketentuan
yang absolut, tetapi semata-mata terletak dalam kekuasaannya
mengarahkan kita kepada kebenaran-kebenaran yang lain tentang
dunia tempat kita tinggal didalamnya (Horton dan Edwards,
1974:172).
c. John Dewey
Dewey adalah seorang pragmatis, namun ia lebih suka menyebut
sistemnya dengan istilah Instrumentalis. Menurutnya, tujuan filsafat adalah
untuk mengatur kehidupan dan aktivitas manusia secara lebih baik, untuk
didunia dan sekarang. Tegasnya, tugas fiilsafat yang utama ialah memberikan
garis-garis pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Oleh karena
itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang
tiada faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman (experience) , dan
menyelidiki serta mengolah pengalaman itu secara aktif kritis. Dengan
demikian, filsafat akan dapat menyusun suatu system norma-norma dan nilai.
Instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang
logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan
penyimpulan
penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam itu dengan cara
utama menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran berfungsi dalam penemuan-
penemuan yang berdasarkan pengalaman-penglaman yang berdasarkan
pengalaman yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan.
Sehubungan hal diatas, menurut Dewey, penyelidikan adalah
transformasi yang terawasi atau terpimpin dari suatu keadaan yang tak
menentu menjadi suatu keadaan yang tertentu. Oleh karena itu, penyelidakan
dengan penilainnya adalah alat( instrumental) . jadi yang di maksud dengan
instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis

13
dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-
penyimpulandalam bentuknya yag bermacam-macam. Menurut Dewey, kita
hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaanya. Sikap Dewey dapat
dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meniliti tiga aspek dari yang kita
namakan instrumentalisme.
• Pertama, kata temporalisme yang berarti ada gerak dan kemajuan nyata
dalam waktu.
• Kedua, kata futurisme, mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak
pada hari kemarin.
• Ketiga, milionarisme, berarti bahwa dunia dapat dibuat lebih baik dengan
tenaga kita. Pandangan ini juga dianut oleh wiliam James.
2. Analisis Kritis atas Kekuatan dan Kelemahan Pragmatisme
a. Kekuatan Pragmatisme
1) kemunculan pragmatis sebagai aliran filsafat dalam kehidupan
kontemporer, khususnya di Amerika Serikat, telah membawa
kemajuan-kemnjuan yang pesat bagi ilmu pengetahuan maupun
teknologi.Pragmatisme telah berhasil membumikan filsafat dari corak
sifat yang Tender Minded yang cenderung berfikir metafisis, idealis,
abstrak, intelektualis, dan cenderung berfikir hal-hal yang
memikirkan atas kenyataan, materialis, dan atas kebutuhan-kebutuhan
dunia, bukan nnati di akhirat. Dengan demikan, filsafat pragmatisme
mengarahkan aktivitas manusia untuk hanya sekedar mempercayai
(belief) pada hal yang sifatnya riil, indriawi, dan yang memanfaatnya
bisa di nikmati secara praktis-pragmatis dalam kehidupan sehari-hari.
2) Pragmatisme telah berhasil mendorong berfikir yag liberal, bebas dan
selalu menyangsikan segala yang ada. Barangkali dari sikap skeptis
tersebut, pragmatisme telah mampu mendorong dan memberi
semangat pada seseorang untuk berlomba-lomba membuktikan suatu
konsep lewat penelitian-penelitian, pembuktian-pembuktian dan
eksperimen-eksperimen sehingga munculllah temuan-temuan baru
dalam dunia ilmu pengetahuan yang mampu mendorong secara
dahsyat terhadap kemajuan di badang sosial dan ekonomi.
3) Sesuai dengan coraknya yang sekuler, pragmatisme tidak mudah
percaya pada “kepercayaan yang mapan”. Suatu kepercyaan yang

14
diterim apabila terbukti kebenarannya lewat pembuktian yang praktis
sehingga pragmatisme tidak mengakui adanya sesuatu yang sakral
dan mitos, Dengan coraknya yang terbuka, kebanyakan kelompok
pragmatisme merupakan pendukung terciptanya demokratisasi,
kebebasan manusia dan gerakan-gerakan progresif dalam masyarakat
modern.
b. Kelemahan Pragmatisme
1) Karena pragmatisme tidak mau mengakui sesuatu yang bersifat
metafisika dan kebenaran absolute (kebenaran tunggal), hanya
mengakui kebenaran apabila terbukti secara alamiah, dan percaya
bahwa duna ini mampu diciptakan oleh manusia sendiri, secara tidak
langsung pragmatisme sudah mengingkari sesuatu yang transcendental
(bahwa Tuhan jauh di luar alam semesta). Kemudian pada
perkembangan lanjut, pragmatisme sangat mendewakan kemepuan akal
dalam mencapai kebutuhan kehidupan, maka sikap-sikap semacam ini
menjurus kepada ateisme.
2) Karena yang menjadi kebutuhan utama dalam filsafat pragmatisme
adalah sesuatu yang nyata, praktis, dan langsung dapat di nikmati
hasilnya oleh manusia, maka pragmatisme menciptkan pola pikir
masyarakat yang matrealis. Manusia berusaha secara keras untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat ruhaniah. Maka dalam
otak masyarakat pragmatisme telah di hinggapi oleh penyakit
matrealisme.
3) Untuk mencapai matrealismenya, manusia mengejarnya dengan
berbagai cara, tanpa memperdulikan lagi dirinya merupakan anggota
dari masyarakat sosialnya. Ia bekerja tanpa mengenal batas waktu
sekedar memenuhi kebutuhan materinya, maka dalam struktur
masyarakatnya manusipa hidup semakin egois individualis. Dari sini,
masyarakat pragmatisme menderita penyakit humanisme.

C. POSITIVISME
Positivisme (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan
juga neo-positivisme) adalah sebuah filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada
tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti

15
rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat
untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki
arti sama sekali.
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai
satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan
dengan metafisika. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data
empiris. Positivismemerupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai
kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan
pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat
menjadi pengetahuan.
Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz
Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper, meski awalnya
tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama
terhadap pendekatan neo-positivis ini.
Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap
sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau
metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan
inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini
mendukung teori-teori paham realisme, materialisme , naturalisme,
filsafat dan empirisme.

1. Ajaran Pokok Positivsme logis


pernyataan-pernyataan metafisik tidak bermakna. Pernyataan itu tidak dapat
diverifikasi secara empiris dan bukan tautologi yang berguna. Tidak ada cara yang
mungkin untuk mentukan kebenarannya ( atau kesalahannya ) dengan mengacu pada
pengalaman. Tidak ada pengalaman yang mungkin yang pernah dapat mendukung
pertanyaan-pertanyaan metafisik seperti : “ Yang tiada itu sendiri tiada” ( The
nothing it self nothing- Das Nichts selbst nichest, Martin Heidegger ), “ yang mutlak
mengatasi Waktu”, “ allah adalah Sempurna “, ada murni tidak mempunyai ciri “,
pernyataan-pernyataan metafisik adalah semu. Metafisik berisi ucapan-ucapan yang
tak bermakna.
Auguste Comte ( 1798-1857 ) ia memiliki peranan yang sangat penting dalam
aliran ini. Istilah “positivisme” ia populerkan. Ia menjelaskan perkembangan
pemikiran manusia dalam kerangka tiga tahap. Pertama,tahap teologis. Disini ,

16
peristiwa-peristiwa dalam alam dijelaskan dengan istilah-istilah kehendak atau
tingkah dewa-dewi. Kedua, tahap metafisik. Disini, peristiwa-peristiwa tersebut
dijelaskan melalui hukum-hukum umum tentang alam. Dan ketiga, tahap
positif.Disini, peristiwa-peristiwa tersebut dijelaskan secara ilmiah.
Upaya-upaya kaum positivis untuk mentransformasikan positivisme menjadi
semacam “agama baru”,cendrung mendiskreditkan pandangan-pandangannya.
Tetapi tekanan pada fakta-fakta, indentifikasi atas fakta-fakta dengan pengamatan-
pengamatan indera,dan upya untuk menjelaskan hukum-hukum umum dengan
induksi berdasarkan fakta,diterima dan de ngan cara berbeda-beda diperluas oleh J.S
Mill ( 1806-1873 ).E.Mach (1838-1916 ), K.Pierson ( 1857-1936 ) dan P.Brdgeman
( 1882-1961 ).

2. TOKOH-TOKOH YANG MENGANUT PAHAM POSITIVISME


a. Auguste Comte ( 1798 – 1857 )
Bernama lengkap Isidore Marrie Auguste Francois Xavier Comte, lahir di
Montepellier, Perancis (1798). Keluarganya beragama khatolik yanga
berdarah bangsawan. Dia mendapat pendidikan di Ecole Polytechnique di
Paris dan lama hidup disana. Dikalangan teman-temannya Auguste Comte
adalah mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak, yang
meninggalkan Ecole sesudah seorang mahasiswa yang memberontak dalam
mendukung Napoleon dipecat. Auguste Comte memulai karier
professionalnya dengan memberi les dalam bidang Matematika
b. John Stuart Mill ( 1806 – 1873 )
Ia adalah seorang filosof Inggris yang menggunakan sistem positivisme
pada ilmu jiwa, logika, dan kesusilaan. John Stuart Mill memberikan
landasan psikologis terhadap filsafat positivisme. Karena psikologi
merupakan pengetahuan dasar bagi filsafat. Seperti halnya dengan kaum
positif, Mill mengakui bahwa satu-satunya yang menjadi sumber
pengetahuan ialah pengalaman. Karena itu induksi merupakan metode yang
paling dipercaya dalam ilmu pengetahuan.
3. H. Taine ( 1828 – 1893 )
Ia mendasarkan diri pada positivisme dan ilmu jiwa, sejarah, politik, dan kesastraan.
4. Emile Durkheim (1852 – 1917 )
Ia menganggap positivisme sebagai asas sosiologi.

17
D. ILMU DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN FILSAFAT ILMU
Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Hal ini ditegaskan dalam
sabda Nabi yang disampaikan oleh Anas bin Malik,
1. Keutamaan Ilmu
Dalam Al-Quran

Al-Ghazali (2004: 1: 14) dalam kitabnya Ihya Ulum al-Din mencantumkan salah satu
bahasannya tentang “Fadhilah al-‘Ilmi”, yaitu tentang keutamaan ilmu. Berkaitan dengan
keutamaan ilmu ini, al-Ghazali mencamtumkan beberapa ayat Alquran, diantaranya yaitu:

ِ ‫َّللاُ أَنههُ ََل إِلَهَ إِ هَل ه َُو َو ْال َم ََلئِ َكةُ َوأُولُو ْال ِع ْل ِم قَائِ ًما بِ ْال ِقس‬
18 :‫ْط (ال عمران‬ ‫ش ِهدَ ه‬
َ )

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah),
Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan
yang demikian itu).

ٍ ‫َّللاُ الهذِينَ آ َمنُوا ِم ْن ُك ْم َوا هلذِينَ أُوتُوا ْال ِع ْل َم دَ َر َجا‬


11 :‫ت (المجادلة‬ ‫) َي ْرفَعِ ه‬

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat

9 :‫)قُ ْل ه َْل يَ ْست َ ِوي الهذِينَ يَ ْعلَ ُمونَ َوالهذِينَ ََل يَ ْعلَ ُمونَ (الزمر‬

Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”

8 :‫َّللاَ ِم ْن ِعبَا ِد ِه ْالعُلَ َما ُء (فاطر‬


‫) ِإنه َما يَ ْخشَى ه‬

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama

Dalam Hadis

Banyak hadits-hadits Nabi yang menjelaskan fadhilah ilmu, diantaranya disebutkan oleh Al-
Qurthubi dalam kitabnya Jami’ bayan al-‘Ilmi wa Fadhluhu sebagai berikut:

23 :2003 ،‫ضةٌ َعلَى ُك ِل ُم ْس ِل ٍم (القرطبي‬


َ ‫طلَبُ ْال ِع ْل ِم فَ ِري‬
َ ”“ : ‫سله َم‬ ‫صلهى ه‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫ قَا َل َر‬: ‫) َع ْن أَن َِس ب ِْن َمالِكٍ قَا َل‬
‫سو ُل ه‬
َ ِ‫َّللا‬

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulallah saw bersabda: “Mencari ilmu merupakan
kewajiban bagi setiap muslim”. (Al-Qurthubi, 2003: 23)

18
‫ “ما من رجل يسلك طريقًا يلتمس فيها عل ًما إَل سهل هللا له‬:‫ صلى هللا عليه وسلم‬,‫ قال رسول هللا‬:‫ قال‬،‫عن أبي هريرة‬
33 :2003 ،‫ “(القرطبي‬،‫)طري ًقا إلى الجنة‬

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulallah saw bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki yang
menempuh jalan untuk mencari ilmu melainkan Allah akan memudahkan baginya jalan
menuju ke surga”. (Al-Qurthubi, 2003: 33)

Pandangan Sahabat Nabi

Banyak pernyataan para sahabat Nabi yang menjelaskan betapa pentingnya mencari,
mempelajari dan mengajarkan ilmu. Diantaranya yaitu:

‫ وعلموه الناس وتعلموا له الوقار والسكينة وتواضعوا لمن تعلمتم منه‬،‫ «تعلموا العلم‬:‫ رضي َّللا عنه‬-‫قال عمر بن الخطاب‬
2975 :7 :‫ دون السنة‬،‫(حميد و غيره‬.‫ وَل تكونوا جبابرة العلماء فَل يقوم جهلكم بعلمكم‬،‫)ولمن علمتموه‬

Umar bin al-Khathab berkata, “Hendaklah kalian belajar ilmu, dan ajarkanlah ilmu itu
kepada orang-orang. Hendaklah kalian belajar ketenangan dan ketentraman bagi ilmu.
Hendaklah kalian tawadhu kepada guru dan murid kalian.

‫ العلم يحرسك وأنت تحرس‬،‫ العلم خير من المال‬:‫ يا كميل‬:‫ لرجل من أصحابه‬-‫ رضي َّللا عنه‬-‫قال علي بن أبي طالب‬
2975 :7 :‫ دون السنة‬،‫ والعلم يزكو باإلنفاق(حميد و غيره‬،‫ والمال تنقصه النفقة‬،‫ والعلم حاكم والمال محكوم عليه‬،‫)المال‬

Ali bin Abi Thali berkata kepara seorang laki-laki dari sahabatnya, “Wahai Kamil, ilmu itu
lebih baik daripada harta, ilmu itu menjagamu sedangkan kamu menjaga harta. Ilmu itu
sebgai hakim, sedangkan harta itu mahkum bih. Harta itu akan berkurang dengan diinfakan,
sedangkan ilmu akan tumbuh dengan diinfakan.

Pandangan Ulama

Ilmuan muslim juga menjelaskan fadhilah ilmu, diantara mereka yaitu:

2980 :7 :‫ دون السنة‬،‫ طلب العلم أفضل من صَلة النافلة (حميد و غيره‬:‫ رحمه َّللا تعالى‬-‫)قال اإلمام الشافعي‬

Imam Syafi’i –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Mencari ilmu lebih utama daripada
shalat sunnah”

19
‫ ألن الرجل يحتاج إلى الطعام‬.‫ الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب‬:-‫ رحمه َّللا تعالى‬-‫قال اإلمام أحمد‬
2980 :7 :‫ دون السنة‬،‫ وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه (حميد و غيره‬،‫)والشراب في اليوم مرة أو مرتين‬

Imam Ahmad berkata, “Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makan dan minum.
Karena seseorang membutuhkan makan dan minum sehari satu atau dua kali, sedangkan
kebutuhannya kepada ilmu sepanjang nafasnya”.

Descrates seorang sarjana ilmu pengetahuan yang membedakan antara nyawa dengan badan
dalam (Anshari, 1987: 60) menjelaskan bahwa mempelajari ilmu pengetahuan agar supaya
mengetahui bagaimana membedakan antara benar dan palsu hingga sejelas-jelasnya.

Sementara itu menurut Fudyartanta menyebutkan ada empat macam fungsi ilmu
pengetahuan, yaitu:

 Fungsi deskriptif: menggambarkan, melukiskan dan memaparkan suatu obyek atau


masalah sehingga mudah dipelajari oleh peneliti.
 Fungsi pengembangan: melanjutkan hasil penemuan yang lalu dan menemukan hasil
ilmu pengetahuan yang baru
 Fungsi prediksi: mengamalkan kejadian-kejadian yang besar kemungkinan terjadi
sehingga manusia dapat mengambil tindakan-tindakan yang perlu dalam usaha
menghadapinya.
 Fungsi control: berusaha mengendalikan peristiwa-peristiwa yang tidak dikehendaki.

Tegasnya: Fungsi ilmu pengetahuan ialah untuk kebutuhan hidup manusia di dalam pelbagai
bidangnya (Anshari, 1987: 60-61).

20
21
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Ide/Spirit manusia adalah sesuatu yang menentukan hidup dan pengertian manusia
yang dibahas dalam aliran filsafat Idealisme: yang menekankan ”idea" (dunia roh)
sebagai objek pengertian dan sumber pengetahuan. Idealisme berpandangan
bahwa segala sesuatu yg dilakukan oleh manusia tidaklah selalu harus berkaitan
dgn hal2 yg bersifat lahiriah, tetapi harus berdasarkan prinsip kerohanian (idea).
Oleh sebab itu, Idealiseme sangat mementingkan perasaan dan fantasi manusia
sebagai sumber pengetahuan.
2. Realitas adalah hakekat kesemestaan, termasuk makhluk hidup dan manusia yang
merupakan perpaduan ide dan materi yang dibahas dalam aliran filsafat Realisme
yang menggambarkan bahwa ajaran materialis dan idealisme yang bertentangn itu,
tidak sesuai debngan kanyataan.Sesungguhnya, realitas kesemestaan, terutama
kehidupan bukanlah benda (materi) semata – mata. Realitas adalah perpaduan
benda (materi dan jasmaniah) dengan yang nonmateri (spiritual, jiwa, dan rohani).

22
DAFTAR PUSTAKA

Bagus Lorenz, Kamus Filsafat penerbit Gramedia Pustaka.


http://haqiqie.wordpress.com/2007/02/27/positivis-logis/ .Diunduh pada tanggal 04 April
2013.

Farihin. 2012 (April, 14). Positivisme, tokoh-tokoh Positivisme.


http://farihinoceans.blogspot.com/2012/04/positivisme-tokoh-tokoh-positivisme.html.
Diunduh pada tanggal 04 April 2013.

Zakia, Estrella. 2011 (April, 19). Filsafat


Positivisme.http://zakiacuteharrier.blogspot.com/2011/04/filsafat-
positivisme.html.Diunduh pada tanggal 04 April 2013.

23