Anda di halaman 1dari 22

Kata Pengantar

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat
dan karuniannya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai waktu yang
ditentukan. Serta Shalawat dan salamtak lupa kita curahkan kepada baginda Rasulullah
Muhammad SAW yang telah menuntun manusia dari jalan kesesatan menuju jalan
kebenaran.
Adapun judul makalah ini adalah “Pentingnya Pendidikan Agama dan Bagaimana
Kedudukan PAI Di Perguruan tinggi”. Penulis menyusun makalah ini guna menyelesaikan
salah satu tugas mata kuliah AGAMA II, semoga dengan adanya makalah ini menjadi
salah satu penambatan wawasan keilmuan kita.

Karena keterbatasan kemampuan dari penulis, sudah barang tentu makalah ini
terdapat kekurangan disana-sini. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari berbagai
pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah kami.
Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini,
kami ucapkan terima kasih.

Jambi,01 Februari 2018

Kelompok I

i
Daftar Isi
Kata Pengantar.................................................................................................................................. i
Daftar Isi ............................................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................................. 2
1.3 Tujuan Penyusun ................................................................................................................... 2
BAB II ............................................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN ............................................................................................................................... 3
2.1 Pentingnya Pendidikan Agama ............................................................................................. 3
A. Peran Pentingnya Pendidikan agama ................................................................................. 4
B. Hadits dan Dalil Tentang Pentingnya Pendidikan Agama ................................................. 7
2.2 Kedudukan Pendidikan Agama Islam Dalam Perguruan Tinggi.................................... 11
A. Problem dan Jalan Keluarnya Pada Pendidikan agama .................................................... 12
BAB III ............................................................................................................................................ 19
PENUTUP ....................................................................................................................................... 19
3.1. Kesimpulan .......................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Agama sebagai system kepercayaan dalam kehidupan umat manusia dapat di kaji
melalui berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang telah berkembang selamat
empat belas abad lebih menyimpan banyak masalah yang perlu di teliti baik itu
menyangkut ajaran dan pemikiran keagamaan maupun realitas sosial, politik,ekonomi dan
budaya.Pada dasarnya tujuan dari hidup seorang muslimah adalah unyuk mengabdi pada
Allah SWT karena pengabdian adalah bentuk realisasi dari keimanan dan di aplikasikan
dalam setiap sendi-sendi kehidupan dan itu adalah menjadi tujuan dari pendidikan islam.
Agama adalah pelajaran yang sangat penting yang harus di pelajari .pelajaran
agama suatu ajaran yang baik untuk menjadikan kita sebagai orang yang beriman dan
bertaqwa . dengan mempelajari agama kita dapat mengetahui mana perilaku yang baik dan
mana perilaku yang buruk. mana perang dan mana perbuatan yang harus di kerjakan.
Bahkan pelajaran agama wajib dalam kurikulum sekolah dasar hingga perguruan
tinggi. Namun, pelajaran itu sepertinya tidak berdampak pada perilaku tawuran
antarpelajar, pemakaian narkoba, dan gejala seks bebas di kalangan muda. Bahkan
diperhadapkan dengan problem nasional yang lebih luas seperti pertikaian antaretnis,
pertikaian antarumat, kekerasan horizontal, teror, dan budaya korupsi, kita patut bertanya-
tanya ”Apakah efek pendidikan agama?”. Semua imoralitas itu berlangsung kian intensif
berbarengan dengan infertilitas pendidikan agama di sekolah. Fenomena pendidikan
agama itu tidak lain cerminan problem hidup keberagamaan di Tanah Air yang telah
terjebak ke dalam formalisme agama. Peran ilmu keagamaan dalam menyikapi masuknya
kebudayaan luar dalam menanggapi pengaruh kebudayaan luar dalam era globalisasi ini.
Kita tidak dapat mengisolasi diri. Hal ini disebabkan oleh adanya kemajuan teknologi dan
komunikasi.
Informasi yang datang dari luar dapat dengan mudah kita terima, misalnya melalui
internet, tv, dan lain-lain. Keadaan semacam inilah yang disebut modernisasi yang akan
berkembang terus hingga melahirkan era globalisasi .kelahiran globalisasi tentunya
membawa pengaruh bagi umat muslim. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh
positif dan pengaruh negatif. Kita lihat saja masuknya teknologi intrernet.Internet
merupakan teknologi yang mampu memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses
oleh siapa saja. Apalagi bagi anak muda, internet sudah menjadi santapan mereka sehari-
hari jika digunakan semestinya tentunya kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi
jika tidak, kita akan mendapat kerugian.
Pemerintah merasa puas sudah mensyaratkan agama sebagai wajib dalam
kurikulum. Guru agama / dosen merasa puas sudah mengajarkan materi pelajaran sesuai
kurikulum. Peserta didik merasa sudah beragama dengan menghafal materi pelajaran
agama. Semua pihak merasa puas dengan obyektifikasi agama dalam bentuk kurikulum
dan nilai rapor atau nilai mata kuliah.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Mengapa pendidikan agama penting ?
2. Bagaimana semestinya Pendidikan Agama Islam diajarkan di bangku perkuliahan ?

1.3 Tujuan Penyusun


1. Menambah khazanah intelektual mahasiswa tentang peranan pendidikan agama Islam
di perguruan tinggi.
2. Mengkaji mengenai kedudukan pendidikan agama Islam di perguruan tinggi.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pentingnya Pendidikan Agama


Pendidikan secara etimologi pengertiannya ialah proses mengembangkan
kemampuan diri sendiri dan kekuatan individu,sedangkan menurut kamu besar bahasa
indonesia (KBBI) pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan.
Apa tujuan pendidikan? Berdasarkan UU No 2 tahun 1985 yang berbunyi bahwa tujuan
pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang
seutuhnya yaitu yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berbudi
pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan. Agama
merupakan sebuah kepercayaan yang dianut oleh seseorang. Pengertian agama sendiri
ialah sebuah ajaran atau sistem yang mengatur tata cara peribadatan kepada Tuhan dan
hubungan antar manusia. Dan pengertian pendidikan agama menurut para ahli Pendidikan
agama adalah bimbingan jasmani rohani berdasarkan hukum hukum agama islam menuju
terbentuknya kepribadian utama menuju ukuran islam( Marimban 1926;27) dan menurut
zuhairini dkk(1983;27) pendidikan agama adalah usaha secara sistematis dalam
membentuk anak didik agar supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran islam. Dan
sebagaimana yang tertulis dalam buku MPK-PAI UNJA yang disusun oleh tim dosen PAI
Universitas Jambi bahwa agama dan manusia adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat
dipisahkan antara satu dengan yang lain. Manusia hidup memerlukan agama sebagai
tempat mencari ketenangan dan keridhaan Tuhan dan agama hadir untuk menjadi petunjuk
bagi umat manusia. Menurut Islam, agama berarti suatu peraturan atau penetapan Tuhan
yang membimbing manusia kepada aqidah yang benar, ibadah yang baik dan mu’amalah
yang baik pula. Sedangkan manusia adalah hayawan al-nathiq (makhluk yang berpikir),
yang pada hakikatnya adalah makhluk pencari kebenaran.

Agama sering kali hanya dijadikan sebagai suatu pendamping atau sekedar hiasan
semata di dalam kehidupan. Sikap demikian muncul akibat pemahaman keagamaan yang
tidak sempurna berawal dari kuranganya pengatahuan agama yang didapatkan. Oleh
karena itu pendidikan agama sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Demikian
pentingnya agama dalam kehidupan manusia, sehingga diakui atau tidak sesungguhnya
manusia sangatlah membutuhkan agama dan sangat dibutuhkanya agama oleh manusia.
Tidak saja di massa premitif dulu sewaktu ilmu pengetahuan belum berkembang tetapi
juga di zamanAgama sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Demikian pentingnya
agama dalam kehidupan manusia, sehingga diakui atau tidak sesungguhnya manusia
sangatlah membutuhkan agama dan sangat dibutuhkanya agama oleh manusia. Tidak saja
di massa premitif dulu sewaktu ilmu pengetahuan belum berkembang tetapi juga di zaman
modern sekarang sewaktu ilmu dan teknologi telah demikian maju. Akhlak yang tinggi dan
budi pekerti yang luhur merupakan cita – cita pendidikan Indonesia dari zaman ke zaman.
Oleh karena itu, pendidikan agama sudah ada sejak lama di Indonesia sebelum

3
kemerdekaan, namun baru setelah merdeka, pendidikan agama memperoleh status formal
sebagai mata pelajaran di sekolah – sekolah negeri walaupun pada awalnya hanya
merupakan mata pelajaran pilihan. Kemudian dengan tumbangnya komunis di Indonesia
pada tahun 1966, MPRS telah menetapkan pendidikan agama sebagai mata pelajaran wajib
di semua sekolah dan perguruan tinggi.Dengan demikian, pendidikan agama di Indonesia
mempunyai status yang kuat sebagai mata pelajaran wajib bagi semua jalur, jenjang dan
jenis pendidikan.
A. Peran Pentingnya Pendidikan agama

Pendidikan Agama sangat berperan penting dalam mendukung tujuan umum


Pendidikan Nasional. Hal tersebut tercantum dalam rumusan Undang-undang sistem
pendidikan Nasional no.20 tahun 2003 bab II pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan
nasional.
Dari perumusan tersebut Pentingnya pendidikan agama harus berperan sebagai berikut :

1. Membentuk watak serta peradaban bangsa dalam rangka membangun manusia


seutuhnya dan masyarak Indonesia seluruhnya, maka pendidikan agama berperan
sebagai berikut:
a. dalam aspek individu, untuk membentuk manusia yang beriman dan
bertakwa.
b. dalam aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, untuk membimbing
warga negara Indonesia menjadi warga negara yang baik sekaligus umat
yang taat menjalankan ibadahnya.
2. Menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, maksudnya adalah manusia yang
selalu tunduk dan taat terhadap apa-apa yang diperintahkan oleh Allah swt, dan
menjauhi segala larangannya.
3. Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri. Maksudnya adalah
sikap utuh dan seimbang antara kekuatan intelektual dan kekuatan spiritual yang
secara langsung termanifestasikan dalam bentuk akhlak mulia.
4. Menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, maksudnya
adalah perwujudan dari iman dan takwa itu dimanifestasikan dalam bentuk
kecintaan terhadap tanah air.
Tanpa agama hidup tak akan ada tujuan hidup didunia ini tujuannya hanya satu
yaitu mengerjakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya. Dengan belajar agama
dapat memberikan tuntunan untuk mengerjakan apasaja yang harus dikerjakan dan apasaja
yang tidak boleh dikerjakan.Dengan belajar agama dapat memberikan tuntunan untuk
mengerjakan apasaja yang harus di kerjakan dan apa yang tidak boleh di kerjakan karna di
dunia sangat banyak godaan syeitan untuk melakukan sesuatu yang dilarang Allah SWT.
Ajaran agama mengandung unsur-unsur yang positif bagi kehidupan didunia. Tanpa
adanya ajaran agama, bagi hidup tanpa arah dan tujuan. Agama menjadi diri pribadi yang
baik yang selalu menuntun kearah yang benar. Makanya, belajar agama itu sangat penting
sekali bagi kehidupan. Setelah kita mempelajari ajaran-ajaran agama, dapat memberikan
manfaat positif bagi kehidupan kita.Berikut ini sebagian dari bukti-bukti mengapa agama
itu sangat penting dalam kehidupan manusia. :

4
a) Agama merupakan sumber moral
Manusia sangatlah memerlukan akhlaq atau moral, karena moral sangatlah penting
dalam kehidupan. Moral adalah mustika hidup yang membedakan manusia dari hewan.
Manusia tanpa moral pada hakekatnya adalah binatang dan manusia yang membinatang ini
sangatlah berbahaya, ia akan lebih jahat dan lebih buas dari pada binatang buas sendiri.
Tanpa moral kehidupan akan kacau balau, tidak saja kehidupan perseorangan tetapi juga
kehidupan masyarakat dan negara, sebab soal baik buruk atau halal haram tidak lagi
dipedulikan orang. Dan kalau halal haram tidak lagi dihiraukan. Ini namanya sudah
maehiavellisme. Machiavellisme adalah doktrin machiavelli “tujuan menghalalkan cara
kalau betul ini yang terjadi, biasa saja kemudian bangsa dan negara hancur binasa.
Ahmad Syauqi, 1868 – 1932 seorang penyair Arab mengatakan “bahwa keberadaan
suatu bangsa ditentukan oleh akhlak, jika akhlak telah lenyap, akan lenyap pulalah bangsa
itu”.
Dalam kehidupan seringkali moral melebihi peranan ilmu, sebab ilmu adakalanya
merugikan. “kemajuan ilmu dan teknologi mendorong manusia kepada kebiadapan”
Demikian dikatakan oleh Prof. Dr. Alexis Carrel seorang sarjana Amerika penerima
hadiah nobel 1948 “moral dapat digali dan diperoleh dalam agama, karena agama adalah
sumber moral paling teguh. Nabi Muhammad Saw di utus tidak lain juga untuk membawa
misi moral, yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
W.M. Dixo dalam “The Human Situation” menulis “ Agama betul atau salah
dengan ajarannya percaya kepada Tuhan dan kehidupan akherat yang akan datang, adalah
dalam keseluruhannya kalau tidak satu-satunya peling sedikit kita boleh percaya,
merupakan dasar yang paling kecil bagi moral”.
Dari tulisan W.M. Dixon di atas ini dapat diketahui bahwa agama merupakan
sumber dan dasar (paling kuat) bagi moral, karena agama menganjurkan kepercayaan
kepada Tuhan dankehidupan akherat. Pendapat Dixon ini memang betul. Kalau orang betul
beriman bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan yang ada itu maha mengetahui kepada tiap orang
sesuai dengan amal yang dikerjakannya, maka keimanan seperti ini merupakan sumber
yang tidak kering-keringnya bagi moral. Itulah sebabnya ditegaskan oleh Rasulullah Saw.
Yang artinya : ”Orang mukmin yang paling sempurna imanya ialah orang mukmin yang
paling baik akhlaqnya” (Riwayat Tirmizi)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pentingnya agama dalam kehidupan
disebabkan oleh sangat diperlukannya moral oleh manusia, karena agama bersumber dari
agama. Dan agama menjadi sumber moral, karena agama menganjurkan iman kepada
Tuhan dan kehidupan akherat, dan selain itu karena adanya perintah dan larangan dalam
agama.
b). Agama merupakan petunjuk kebenaran
Salah satu hal yang ingin diketahui oleh manusia ialah apa yang bernama
kebenaran. Masalah ini masalah besar, dan menjadi tanda tanya besar bagi manusia sejak
zaman dahulu kala. Apa kebenaran itu, dan dimana dapat diperoleh manusia dengan akal,
dengan ilmu dan dengan filsafatnya ingin mengetahui dan mencapainya dan yang menjadi
tujuan ilmu dan filsafat tidak lain juga untuk mencari jawaban atas tanda tanya besar itu,

5
yaitu masalah kebenaran. Tetapi dapat disayangkan, sebagaimana telah disebutkan dalam
uraian terdahulu, sebegitu jauh usaha ilmu dan filsafat untuk mencapai kemampuan ilmu
dan filsafat hanyalah sampai kepada kebenaran relatif atau nisbi, padahal kebenaran relatif
atau nisbi bukanlah kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang sesungguhnya ialah
kebenaran mutlak dan universal, yaitu kebenaran yang sungguh-sungguh benar, absolut
dan berlaku untuk semua orang.
Tampakya sampai kapanpun masalah kebenaran akan tetap merupakan misteri bagi
manusia, kalau saja manusia hanya mengandalkan alat yang bernama akal, atau ilmu atau
juga filsafat. Kebenaran itu dalam sekali letaknya tidak terjangkau semuanya oleh
manusia. Penganut-penganut sufisme, yaitu aliran baru dalam filsafat Yunani yang timbul
pada pertengahan abad ke-5 menegaskan pula”. Kebenaran yang sebenar-benarnya tidak
tercapai oleh manusia. Kemudian Bertrand Rossel seorang Failosuf Inggris termasyur juga
berkata “apa yang tidak sanggup dikerjakan oleh ahli ilmu pengetahuan, ialah menentukan
kebajikan (haq dan bathil). Segala sesuatu yang berkenaan dengan nilai-nilai adalah di luar
bidang ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

Yang artinya “Sesungguhnya telah kami turunkan al-Kitab kepadamu dengan membawa
kebenaran agar kamu memberi kepastian hukum di antara manusia dengan apa yang telah
ditunjukkan oleh Allah kepadamu” (an-Nisa’, 105)

Yang artinya “Kebenaran itu adalah dari tuhanmu, sebab itu jangan sekali-sekali kamu
termasuk orang-orang yang ragu”. (Al-Baqarah’, 147)

c). Agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika


Sebagai sumber informasi metafisika, agama menyajikan rahasia metafisika, hal-hal
yang ghaib seperti masalah hidup setelah mati, Tuhan, akhirat, syurga, neraka dan hal-hal
yang berada di balik alam nyata ini. Sesungguhnya persoalan metafisika hanya Allah SWT
yang maha mengetahui segalanya, sedangkan manusia hanya dibekali akal dengan segala
keterbatasannya.
Firman Allah SWT :

Yang artinya “ Katakanlah : ‘’Tidak ada seorangpun dilangit dan di bumi yang
mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui bila mereka
akan dibangkitkan”. (An-Naml’, 65)
Namun ada beberapa pendapat para ahli mengenai masalah metafisika :

6
Prof Arnoid Toynbee memperkuat pernyataan yang demikian ini. Menurut ahli
sejarah Inggris kenamaan ini tabir rahasia alam semesta juga ingin di singkap oleh
manusia. Dalam bukunya “An Historian’s Aproach to religion” dia menulis, “ Tidak ada
satu jiwapun akan melalui hidup ini tanpa mendapat tantantangan-rangsangan untuk
memikirkan rahasia alam semesta”.
Ibnu Kholdum dalam kitab Muqaddimah-nya menulis “akal ada sebuah timbangan
yang tepat, yang catatannya pasti dan bisa dipercaya. Tetapi mempergunakan akal untuk
menimbang hakekat dari soal-soal yang berkaitan dengan keesaan Tuhan, atau hidup
sesudah mati, atau sifat-sifat Tuhan atau soal-soal lain yang luar lingkungan akal, adalah
sebagai mencoba mempergunakan timbangan tukang emas untuk menimbang gunung, ini
tidak berarti bahwa timbangannya itu sendiri yang kurang tepat. Soalnya ialah karena akal
mempunyai batas-batas yang membatasinya. Berhubungan dengan itu persoalan yang
menyangkut metafisika masih gelap bagi manusia dan belum mendapat penyelesaian
semua tanda tanya tentang itu tidak terjawab oleh akal.
d). Agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia
Hidup manusia di dunia yang pana ini kadang-kadang suka tapi kadang-kadang
juga duka. Maklumlah dunia bukanlah surga, tetapi juga bukan neraka. Jika dunia itu
surga, tentulah hanya kegembiraan yang ada, dan jika dunia itu neraka tentulah hanya
penderitaan yang terjadi. Kenyataan yang menunjukan bahwa kehidupan dunia adalah
rangkaian dari suka dan duka yang silih berganti. Firman Allah Swt yang artinya : “Setiap
jiwa pasti akan merasakan kematian, dan engkau kami coba dengan yang buruk dan
dengan yang baik sebagai ujian” (al-Ambiya, 35).
Dalam masyarakat dapat dilihat seringkali orang salah mengambil sikap menghadapi
cobaan suka dan duka ini. Misalnya dikala suka, orang mabuk kepayang dan lupa daratan.
Bermacam karunia Tuhan yang ada padanya tidak mengantarkan dia kepada kebaikan
tetapi malah membuat manusia jahat.
Berdasarkan uraian di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa sikap yang salah juga
sering dilakukan orang sewaktu di rundung duka. Misalnya orang hanyut dalam himpitan
kesedihan yang berkepanjangan. Dari sikap yang keliru seperti itu dapat timbul gangguan
kejiwaan seperti lesu, murung, malas, kurang gairah hidup, putus asa dan merasa tidak
berguna bagi orang lain.
B. Hadits dan Dalil Tentang Pentingnya Pendidikan Agama
Adapun beberapa hadist dan dalil yang menerangkan tentang pentingnya pendidikan
agama yaitu :

Telah menceritakan kepada kami Bakr bin Khalaf Abu Bisyr berkata, telah menceritakan
kepada kami Abdul A'la dari Ma'mar dari Zuhri dari Sa'id Ibnul Musayyabdari Abu
Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa

7
dikehendaki Allah untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikan pemahaman
kepadanya tentang agama."

Artinya: Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan
kepada kami dari Al-A’masi dari Abi Shalih, dari Abi Hurairah berkata : Rasulullah saw
bersabda : Barangsiapa berjalan di suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan
memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. AL- Tirmidzi)
Hadis di atas memberikan motivasi orang yang berupaya menuntut ilmu baik ilmu
agama maupun ilmu umum dimudahkan jalannya masuk surga yakni diberikan
pertolongan jalan masuk surga, dengan cara mengamalkan ilmunya itu dalam bentuk amal
saleh. Kedua ilmu agama dan umum bisa dijadikan jalan masuk surga. Ilmu umum seperti
biologi, ilmu alam, astronomi, geologi, kimia dan vulkanologi misalnya dapat mengenal
kekuasaan Allah dan mempertebal tauhid serta keimanan kepada Sang Pencipta. Demikian
juga ilmu agama yang diamalkan mempunyai makna yang sangat tinggi untuk
mendekatkan diri kepada Allah.

Artinya: dari Abu Hurairah r.a. berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “
ingatlah, bahwa dunia ini terkutuk, dan semua yang ada di dalamnya terkutuk, kecuali
dzikrullah dan sesuatu yang dicintaiNya, orang alim (orang yang berilmu) dan orang yang
belajar ilmu”. (HR. Al- Turmudzi dan dia berkata hadis ini hasan).

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda“Apabila manusia itu
meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu
yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akan kepadanya”. (HR. Muslim)

8
Dari Ibnu Abbas R.A Ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Carilah ilmu sekalipun di
negeri Cina, karena sesungguhnya mencari ilmu itu wajib bagi seorang muslim laki-laki
dan perempuan. Dan sesungguhnya para malaikat menaungkan sayapnya kepada orang
yang menuntut ilmu karena ridho terhadap amal perbuatannya. (H.R Ibnu Abdul Barr)

Artinya:“Ibnu Mas’ud RA berkata: kalian mesti berilmu (menguasai ilmu) sebelum mati
menjemput. Maka demi “dzat” yang menguasai diri yang menyayangi seseorang yang
meninggal di jalan Allah dengan mati syahid. Sesungguhnya Allah akan
membangkitkannya (ulama) karena kemuliaannya. Sesungguhnya seorang dilahirkan tanpa
ilmu dan ilmu bisa di dapat melalui dipelajari”. (H.R. Tirmidzi)

Dari Abu Darda’ R.A, beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :
Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu maka Allah memudahkan
baginya jalan menuju surga, dan sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya bagi
penuntut ilmu yang ridho terhadap apa yang ia kerjakan, dan sesungguhnya orang yang
alim dimintakan ampunan oleh orang-orang yang ada di langit dan orang-orang yang ada
di bumi hingga ikan-ikan yang ada di air, dan keutamaan yang alim atas orang yang ahli
ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang, dan sesungguhnya ulama’ adalah
pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak
mewariskan dirham, melainkan mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengabilnya
maka hendaklah ia mengambil dengan bagian yang sempurna. (H.R Abu Daud dan
Tirmidzi)

9
Artinya: “Dari Abi Hurairah RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: siapa yang
memberi petunjuk ke jalan yang baik (dengan ilmunya) maka ia akan mendapat pahala
seperti yang di dapatkan oleh orang yang mengikutinya tanpa kurang sedikit pun”. (H.R.
Muslim)

Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberikan peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya”. (At-Taubah’. 122)

Artinya: “ (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang
beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab)
akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang
yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ sesungguhnya orang yang
berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Az-Zumar’, 9)

Artinya: “ Musa berkata kepada Khidir: “ Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara-antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan
kepadamu’ (Al-Kahf’, 66)

10
2.2 Kedudukan Pendidikan Agama Islam Dalam Perguruan Tinggi
Berbagai krisis multidimensional yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia
memang tidak bisa hanya dilihat dan diatasi melalui pendekatan mono-dimensial. Namun
demikian, karena segala krisis tersebut berpangkal dari krisis ahlak atau moral, maka
pendidikan agama dipandang memiliki peranan yang sangat vital dalam membangun
watak dan peradaban bangsa yang bermartabat. Untuk itu, diperlukan pengembangan
pendidikan agama terutama di dalam Perguruan Tinggi Umum (PTU).
Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum (PTU) merupakan
kelanjutan dari pengajaran yang diterima oleh peserta didik mulai dari Tingkat Dasar,
Sekolah Menegah Pertama dan Atas. Namun berbagai persoalan muncul dalam proses
pembelajaran PAI. Materi yang diajarkan boleh dikatakan sama secara nasional.
Banyaknya materi ajar dan kurang berfariasinya pengajar dalam menyampaikannya,
ditambah lagi dengan alokasi waktu yang kurang memadai, menjadikan peserta didik
(mahasiswa) kurang bergairah dalam menyerap perkuliahan. Kesan yang sering muncul di
kalangan mahasiswa adalah mata kuliah “wajib lulus” ini seakan berubah menjadi “wajib
diluluskan” karena kalau tidak lulus akan menjadi hambatan bagi mata kuliah di atasnya.
Secara sederhana bisa juga dikatakan bahwa mahasiswa “wajib lulus” dan sang dosen
“wajib meluluskan”. Tentu ini menjadi masalah yang cukup serius. Sepanjang yang telah
diketahui, sudah sering dilakukan upaya peningkatan mutu PAI di PTU, baik bagi staf
pengajarnya, materi kurikulum dan usulan penambahan jumlah SKS-nya. Namun selalu
terkendala dilapangan oleh berbagai faktor, misalnya staf pengajar yang belum seragam
dalam pendekatan pembelajaran PAI karena perbedaan latar belakang disiplin ilmu
masing-masing dalam bidang keagamaan. Materi kurikulum yang ditetapkan secara
nasional sering kali membuat staf pengajar tidak mampu melakukan improfisasi sehingga
tidak jarang kelas menjadi monoton. Dilihat dari jumlah tatap muka sudah jelas tidak
memadai hanya dengan 2 sks. Berbagai upaya dilakukan untuk menambah jam pelajaran
PAI, namun jawaban yang sering didengar adalah “sudah begitu banyak beban mata kuliah
masiswa yang harus diselesaikan, terutama mata kuliah Jurusan, sehingga tidak perlu
diberi beban tambahan”. Melihat perubahan pola pikir mahasiswa dan berkembangnya
ilmu pengetahuan, perlu berbagai upaya untuk untuk mengoptimalkan buku IDI (Islam dan
Disiplin Ilmu), perlu pengembangan PAI melalui pendekatan ilmu yang ditekuni oleh
masing-masing program studi mahasiswa dengan melihat masing-masing sub pokok
bahasan melalui disiplin ilmu tertentu sebagai pengayaan PAI di PTU. Untuk mahasiswa,
hal ini dirasakan masih belum memadai dan perlu dikembangkan.
Pendidikan agama merupakan upaya sadar untuk mentaati ketentuan Allah sebagai
guidance dan dasar para peserta didik agar berpengetahuan keagamaan dan handal dalam
menjalankan ketentuan-ketentuan Allah secara keseluruhan. Sebagian dari ketentuan-
ketentuan Allah itu adalah memahami hukum-hukum-Nya di bumi ini yang disebut dengan
ayat-ayat kauniyah. Ayat-ayat kauniyah itu dalam aktualisasinya akan bermakna
Sunanatullah (hukum-hukum Tuhan) yang terdapat di alam semesta. Dalam ayat-ayat
kauniyah itu terdapat ketentuan Allah yang berlaku sepenuhnya bagi alam semesta dan
melahirkan ketertiban hubungan antara benda-benda yang ada di alam raya.Untuk
memahami hukum-hukum Tuhan itu, manusia perlu menggunakan akalnya yang
dibimbing oleh tauhid sebagai pembeda manusia dengan makhluk lain, Karena itu pula
hanya manusia yang dipersiapkan oleh Allah menjadi khalifah di muka bumi

11
Peran penting agama atau nilai-nilai agama dalam bahasan ini berfokus pada
lingkungan lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Salah satu mata kuliah
dalam lembaga pendidikan di perguruan tinggi, yang sangat berkaitan dengan
perkembangan moral dan perilaku adalah Pendidikan Agama. Mata kuliah Pendidikan
Agama pada perguruan tinggi termasuk ke dalam kelompok MKU (Mata Kuliah Umum)
yaitu kelompok mata kuliah yang menunjang pembentukan kepribadian dan sikap sebagai
bekal mahasiswa memasuki kehidupan bermasyarakat. Mata kuliah ini merupakan
pendamping bagi mahasiswa agar bertumbuh dan kokoh dalam moral dan karakter
agamaisnya sehingga ia dapat berkembang menjadi cendekiawan yang tinggi moralnya
dalam mewujudkan keberadaannya di tengah masyarakat.
Tujuan mata kuliah Pendidikan Agama pada Perguruan Tinggi ini amat sesuai
dengan dasar dan tujuan pendidikan nasional dan pembangunan nasional. GBHN 1988
menggariskan bahwa pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila “bertujuan untuk
meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin,
bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, terampil serta sehat jasmani dan
rohani… dengan demikian pendidikan nasional akan membangun dirinya sendiri serta
bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”.

A. Problem dan Jalan Keluarnya Pada Pendidikan agama


Pada kenyataannya, harapan terhadap pendidikan agama demikian besar, sementara
durasi waktu yang dinyatakan dalam beban akademik di pendidikan tinggi sangat minim.
Atas dasar itu, pendidikan agama belum memberikan arti fungsional yang signifikan bagi
mahasiswa. Selain itu, pendidikan agama dalam prakteknya hanya sebagai pelengkap dan
menempati posisi pinggiran (peripheral) dan teralienasi dari sistem pembelajaran karena
masih dianggap bukan mata kuliah keahlian, bahkan dianggap tidak penting karena
diasumsikan sebagai mata kuliah yang tidak menentukan kelulusan mahasiswa.
Oleh karena itu, diperlukan pengembangan program pembelajaran, bukan hanya
berdasarkan jumlah SKS yang diajarkan di kelas pada semester ganjil atau genap, akan
tetapi butuh pengembangan pada materi atau kurikulum yang disesuaikan dengan
spesifikasi atau program studi yang dipelajari oleh mahasiswa (kurikuler) serta dalam
bentuk pengembangan program ko-kurikuler dan ekstra-kurikuler.
Pengembangan ko-kurikuler adalah bentuk kegiatan program tambahan pendidikan
agama dilaksanakan di luar kelas yang terkait secara langsung dengan penilaian
pembelajaran di kelas. Sedangkan kegiatan ekstra-kurikuler adalah kegiatan-kegiatan
mahasiswa yang terkait dengan peningkatan wawasan keagamaan yang diselenggarakan di
dalam atau di luar kampus dengan tetap dalam koordinasi dosen pendidikan agama
maupun pihak pimpinan lembaga atau institusi pendidikan tinggi tempat mereka belajar.
Sehubungan dengan itu, ada beberapa aspek yang perlu dikembangkan, agar
pembelajaran pendidikan agama dapat berlangsung sebagaimana yang diharapkan, yaitu:
Pertama, perlu pemahaman yang lebih komprehensif tentang proses alih nilai
dengan kegiatan belajar mengajar. Pemahaman ini amat menentukan bagaimana

12
kompetensi para pendidik atau dosen pendidikan agama dalam mengembangkan kegiatan
belajar-mengajar agar dapat memberikan bobot yang memadai bagi terjadinya pendidikan
nilai kepada mahasiswa.
Kedua, perlu peningkatan kemampuan penjabaran kurikulum dalam kegiatan
belajar-mengajar yang terkait dengan wawasan dan nilai-nilai agama sesuai dengan
pendekatan fungsional kualitatif yaitu pendekatan yang menitikberatkan pada substansi
kegiatan pembelajaran sebagai wahana proses alih nilai. Penekanan pendekatan ini adalah
pada intensitas pendidikan nilai setiap mata pelajaran yang ada secara integratif dan
proporsional. Dari berbagai mata kuliah yang ada, dapat dikembangkan proses alih nilai
yang berkaitan dengan pendidikan agama.
Ketiga, perlu pemahaman mengenai kontekstualisasi nilai-nilai agama dalam
kehidupan sehari-sehari di tengah arus informasi dan globalisasi. Pemahaman ini
diperlukan mengingat sistem nilai dalam suatu masyarakat bersifat dinamis, seiring
perkembangan masyarakat yang ada. Pemahaman kontekstualisasi nilai ini memungkinkan
dosen melakukan pendekatan yang tepat dalam mengembangkan kegiatan belajar-
mengajar maupun dalam melakukan interaksi dengan mahasiswa.
Keempat, peran iklim kampus yang kondusif bagi kelangsungan pendidikan
agama juga sangat menentukan dalam proses pembelajaran. Kampus beserta kumunitasnya
merupakan suatu masyarakat kecil. Intensitas interaksi sesama warga dan sivitas akademik
akan mempengaruhi proses pendidikan nilai melalui mekanisme pembiasaan, penghayatan,
peneladanan dan pelembagaan. Untuk menciptakan iklim kondusif tersebut, kegiatan intra
(kurikuler & ko-kurikuler) dan ekstra kurikuler juga merupakan wahana yang intensif
untuk menciptakan proses alih nilai pendidikan agama.
Kualitas manusia yang ingin dicapai adalah kualitas seutuhnya yang mencakup
tidak saja aspek rasio, intelek atau akal budinya dan aspek fisik atau jasmaninya, tetapi
juga aspek psikis atau mentalnya, aspek sosial yaitu dalam hubungannya dengan sesama
manusia lain dalam masyarakat dan lingkungannya, serta aspek spiritual yaitu dalam
hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta. Pendidikan Tinggi
merupakan arasy tertinggi dalam keseluruhan usaha pendidikan nasional dengan tujuan
menghasilkan sarjana-sarjana yang profesional, yang bukan saja berpengetahuan luas dan
ahli serta terampil dalam bidangnya, serta kritis, kreatif dan inovatif, tetapi juga beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berkepribadian nasional yang kuat,
berdedikasi tinggi, mandiri dalam sikap hidup dan pengembangan dirinya, memiliki rasa
solidaritas sosial yang tangguh dan berwawasan lingkungan. Pendidikan nasional yang
seperti inilah yang diharapkan akan membawa bangsa kita kepada pencapaian tujuan
pembangunan nasional yakni “…masyarakat adil dan makmur yang merata material dan
spiritual...”.
Namun materi pendidikan agama yang diajarkan sepatutnya bukan hanya
didasarkan pada landasan normatif, akan tetapi juga menggunakan pendekatan filosofis.
pendekatan filosofis ini akan memperkaya khasanah intelektual mahasiswa tentang agama.
Untuk itu, Informasi tentang pembaruan pemahaman agama sebagai adaptasi terhadap
kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu diberikan di
pendidikan tinggi. Informasi semacam ini akan menyadarkan bahwa agama tidaklah
bersifat statis dan dapat mengikuti perkembangan zaman.

13
Dengan demikian, pendidikan agama dapat memberi solusi terhadap segala
masalah yang dihadapi oleh umat manusia serta menjadi landasan moral spiritual dalam
melakukan segala aktivitasnya sebagai khalifah Allah swt., untuk melaksanakan
pembangunan di segala bidang kehidupan. Untuk mewujudkan hal tersebut, dosen
pendidikan agama di pendidikan tinggi berperan besar dalam proses pembinaan
mahasiswa. Dosen memiliki wilayah garapan yang sangat luas sebagai inspirator, inisiator,
serta manajer dalam pembinaan, pelayanan bidang agama di kampus. Dosen pendidikan
agama Islam misalnya bukan sekadar mengajar dan memberikan perkuliahan pada
kegiatan kurikuler di kelas, tetapi mereka juga berfungsi sebagai fasilitator yang dapat
menciptakan peluang bagi timbulnya aktivitas keagamaan serta dapat menjadi katalisator,
yaitu memiliki kemampuan untuk membangkitkan potensi yang ada, baik tenaga maupun
sarana untuk diarahkan menjadi sebuah aktivitas keagamaan, sekaligus sebagai tempat
mahasiswa atau orang lain bertanya mengenai berbagai masalah agama di kampus.
Dalam era global dan teknik informasi yang sarat dengan masalah-masalah etis dan
moral ini, masyarakat Indonesia khususnya kaum muda memerlukan pengenalan yang
benar akan nilai-nilai kemanusiaan diri. Lee Kuan Yew mengatakan “Kita telah
meninggalkan masa lalu dan selalu ada kekhawatiran bahwa tak akan ada sesuatu yang
tersisa dalam diri kita yang merupakan bagian dari warisan masa silam”. Selain
pengenalan yang benar akan kemanusiaan diri orang muda juga membutuhkan suatu
pendasaran moral yang benar untuk pembentukan tingkah laku. Perlu ada perobahan sikap
mental yang drastis dalam masyarakat Indonesia yang yang penuh dengan pelbagai krisis
moral, etis, dan spiritual. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah agama. Kebudayaan
nasional modern Indonesia sekarang haruslah didasarkan kepada prinsip-prinsip dan nilai-
nilai agama yang spiritual dan religious. Seperti dikemukakan sebelumnya, jati diri dan
pendasaran moral yang benar tentunya berasal dari agama dan pendidikan agama.
Pendidikan Agama di perguruan tinggi seharusnya merupakan pendamping pada
mahasiswa agar bertumbuh dan kokoh dalam karakter agamaisnya sehingga ia dapat
tumbuh sebagai cendekiawan yang tinggi moralnya dalam mewujudkan keberadaannya di
tengah masyarakat. Tetapi kenyataan sekarang ini, lembaga-lembaga pendidikan tinggi
belum sepenuhnya berhasil dalam tugas pembentukan tenaga profesional yang spiritual.
Setelah era reformasi muncul “kesadaran baru” bahwa pendidikan secara umum dan
pendidikan agama khususnya “kurang berhasil” dalam pengembangan moral dan
pembentukan perilaku mahasiswa, dalam mengantisipasi masalah-masalah etis dan moral
era global dan teknik informasi. Tidak terlihat indikasi terjadinya perubahan yang
signifikan antara pengetahuan yang tinggi, tingkat kedewasaan menurut usianya dan
pengaruhnya pada perkembangan moralnya. Kenyataan secara faktual banyak mahasiswa
memiliki masalah-masalah moral, antara lain:
 VCD porno dua orang mahasiswa di Bandung,
 aksi tawuran,
 perkelahian,
 tindak kriminalitas yang tinggi (seperti pembunuhan yang dilakukan mahasiswa
terhadap pacarnya yang sedang hamil),
 Dan menurut laporan yang dicetak oleh Kompas Cyber Media, pada tgl. 5 Februari
2001, dari dua juta pecandu narkoba dan obat-obat berbahaya, 90% adalah generasi
muda, termasuk di antaranya 25.000 mahasiswa.

14
Kenyataan tersebut di atas mendorong pihak-pihak yang perduli akan pendidikan
untuk mencari paradigma-paradigma baru yang sesuai dengan tuntutan jaman. Tidak
mengherankan jika salah satu topik yang ramai dibicarakan dalam bidang pendidikan baik
di Indonesia maupun dunia adalah exellent school educatioan, yang tidak saja
mengevaluasi ulang materi pembelajaran, sumber daya manusia dalam memberi
pembelajaran, tetapi juga metode pembelajaran. Bahkan komisi internasional dunia yaitu
The International Commission on Education for the Twenty First Century, dipimpin oleh
Jacques Delors, lewat laporannya yang berjudul “Learning the Treasure Within”,
merekomendasikan agar proses pembelajaran di seluruh dunia pada abad ini ini
diselenggarakan berdasarkan 4 pilar. Keempat pilar itu adalah:
 learning to know,
 learning to do,
 learning to be,
 dan learning to live together.
Rekomendasi ini sangat mempengaruhi restrukturisasi kurikulum pendidikan di Indonesia
yang dibutuhkan demi terjadinya suatu pembenahan. SK Mendiknas No.232/U/2000 dan
No.045/U/2002 memperlihatkan terjadinya restrukturisasi yang dimaksud. Dalam
kurikulum ini Pendidikan Agama menjadi salah satu mata kuliah dalam kelompok MPK
(Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian). Dan dalam kurikulum yang direstrukturisasi
ini dipergunakan pendekatan baru yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi
yang sangat mengedepankan kompetensi setiap mata kuliah di perguruan tinggi. Dalam SK
No.43/DIKTI/Kep. 2006 tercantum rambu-rambu pelaksanaan MPK ini di Perguruan
Tinggi, khususnya rumusan visi, misi, standar kompetensi, dan kompetensi dasar. Visi dan
misi MPK memberi penekanan kepada pemantapan kepribadian mahasiswa sebagai
manusia Indonesia seutuhnya, yang secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar
keagamaan dan kebudayaan. Kompetensi dasar Pendidikan Agama adalah menjadi
ilmuwan :
 yang professional,
 beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
 berakhlak mulia,
 memiliki etos kerja,
 berkepribadian dewasa, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan.

B. Prospek Pendidikan Agama Islam


Beranjak dari beberapa problem yang ada maka terdapat terobosan baru terhadap
pendidikan agama di perguruan tinggi dari pihak-pihak yang peduli akan pendidikan.
Beberapa terobosan tersebut antara lain:
1. Paradigma Baru Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama
Pada Perguruan Tinggi Umum terdapat perbedaan pengembangan
pendidikan Agama Islam. Perbedaan model ini muncul karena adanya perbedaan
pemikiran dalam memahami aspek-aspek kehidupan. Apakah agama merupakan

15
bagian dari aspek kehidupan, sehingga hidup beragama berarti menjalankan salah
satu aspek dari berbagai aspek kehidupan, ataukah agama merupakan sumber nilai-
nilai dan operasional kehidupan, sehingga agama akan mewarnai segala aspek
kehidupan itu sendiri?1 Maka dalam konteks ini muncullah model dikotomis,
model mekanisme dan model organism/sistemik.

Model dikotomis memandang segala sesuatu hanya dilihat dari dua sisi
yang berlawanan, seperti laki-laki dan perempuan, ada dan tidak ada, bulat dan
tidak bulat, pendidikan agama dan pendidikan non agama, demikian seterusnya.
Pandangan dikotomis tersebut pada gilirannya dikembangkan dalam memandang
aspek kehidupan dunia dan akhirat, kehidupan jasmani dan rohani, sehingga
pendidikan agama Islam hanya diletakkan pada aspek kehidupan akhirat saja atau
kehidupan rohani saja. Sedangkan model mekanisme memandang kehidupan terdiri
atas berbagai aspek, dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan
pengembangan seperangkat nilai kehidupan, yang masing-masing bergerak dan
berjalan menurut fungsinya, bagaikan sebuah mesin yang terdiri dari beberapa
komponen atau elemen-elemen, yang masing-masing menjalankan fungsinya
sendiri-sendiri, dan antara satu dengan lainnya bisa saling berkonsultasi atau tidak.

Model organism/sistemik dalam konteks pendidikan Islam bertolak dari


pandangan bahwa aktifitas kependidikan merupakan suatu sistem yang terdiri atas
komponen-komponen yang hidup bersama dan bekerja sama secara terpadu menuju
tujuan tertentu, yaitu terwujudnya hidup yang religius atau dijiwai oleh ajaran dan
nilai-nilai agama. Pandangan semacam itu menggaris bawahi pentingnya kerangka
pemikiran yang dibangun dari fundamental doctrines dan fundamental value yang
tertuang dan terkandung dalam al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber pokok.
Ajaran dan nilai-nilai Ilahididudukkan sebagai sumber konsultasi yang bijak,
sementara aspek-aspek kehidupan lainnya didudukkan sebagai nilai-nilai insan
yang mempunyai hubungan vertikal-linier dengan nilai keagamaan.

Dari ketiga model tersebut maka model organism/sistemik yang paling ideal
jika disandingkan dengan Visi dan Misi PAI di perguruan tinggi umum. Hal ini
sudah tergambar dalam Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas RI No.

16
43/DIKTI/Kep/2006. Jika hal ini dapat terealisasi, maka pendidikan agama Islam di
perguruan tinggi umum akan cerah prospeknya di masa yang akan datang.

2. Integrasi Inklusivitas Islam dalam Pendidikan Agama Islam.


Dadan Muttaqien dalam Prospek Pendidikan Agama Islam di Tengah
Perubahan Zaman menawarkan paradigma yang hampir senada dengan yang telah
diuraikan. Paradigma tersebut dalam bentuk Integrasi Inklusivitas Islam dalam
Pendidikan Agama Islam. Pemaparannya dalam hal ini yaitu:Jika masih ingin eksis
dan survive, semangat inklusivitas ajaran Islam harus benar-benar integral dalam
materi ajar dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam.

Namun yang perlu menjadi catatan jangan sampai terjebak oleh inklusivitas
menurut retorika Barat dalam hal-hal teori tentang pluralisme, HAM dan lain-
lainnya, karena semua itu harus dikembalikan kepada sumbernya yang asli yaitu al-
Qur’an dan as-Sunnah meskipun tetap dengan semangat yang mengkritisi setiap
interpretasi terhadap kedua sumber tersebut. Sikap Islam terhadap pluralitas
misalnya, merupakan sikap pertengahan di antara dua kutub ekstrim pandangan
manusia terhadap pluralitas yang menolak pluralitas mentah-mentah dan yang
menerima pluralitas mentah-mentah.

Pandangan manusia yang menolak pluralitas mentah-mentah adalah


pandangan yang menganggap pluralitas sebagai sebuah bencana yang membawa
pada perpecahan sehingga pluralitas harus dihilangkan dan keseragaman mutlak
harus dimunculkan.2 Hal tersebut dapat dilihat pada “totaliterisme Barat” yang
diwakili oleh Uni Soviet saat itu. Pandangan manusia yang menerima pluralitas
mentah-mentah adalah pandangan yang menganggap pluralitas sebagai sebuah
bentuk kebebasan individu yang tidak ada keseragaman sedikit pun. Hal ini terlihat
pada model “liberalisme Barat” di banyak negara. Sikap Islam yang moderat, yang
menerima pluralitas sekaligus menerima keseragaman, dapat dilihat dari
penerimaan Islam terhadap beragam mazhab fikih, tetapi tetap dalam kerangka
kesatuan atau keseragaman syariat Islam.

Pernyataan di atas juga relevan dalam upaya memprotek mahasiswa yang


cenderung ‘darah muda’ yang gampang berapi-api dan labil. Terutama dalam

17
menerima paham-paham dengan atas nama agama, seperti paham-paham Negara
Islam Indonesia (NII) yang marak akhir-akhir ini. Disamping itu konsep integrasi
inklusivitas ini sangat tepat jika diterapkan pada Perguruan Tinggi Umum yang
masih menyajikan Pendidikan Agama Islam hanya 2 SKS. Karena ada juga
beberapa perguruan tinggi umum yang menyajikan mata kuliah Pendidikan Agama
lebih dari 2 SKS.

18
BAB III

PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Agama sebagai pranata social berperan sangat penting dalam mempengaruhi
perilaku para penganutnya dalam kehidupan sehari-hari. Peranan penting agama dan
nilai-nilai agama ini antara lain terlihat dalam mata kuliah Pendidikan Agama. Mata
kuliah ini merupakan mata kuliah pendamping yang penting bagi seseorang individu
khususnya mahasiswa .
Perjalanan panjang kebijakan yang menunjukan eksistensi Pendidikan Agama
Islam di Perguruan Tinggi Umum bukanlah hal yang mudah. Karena telah dikeluarkan
keputusan dirjen dikti tentang rambu-rambu Pelaksanaan Mata Kuliah Pengembangan
Keperibadian di Perguruan tinggi. Maka PAI telah mengalami pergeseran yang cukup
signifikan. Ada nuansa integrasi antara mata kuliah Pendidikan Agama dengan mata
kuliah lainnya. Dinamaika ini telah melalui pergolakan berbagai kepentingan, baik
kepentingan secara politik,social, budaya, ekonomi dan emosi (sentiment) keagamaan
turut ikut serta didalamnya.
Jika proses pengajaran dan pendidikan pendidikan Agama Islam di perguruan tinggi
Umum terintegrasi secara kontekstual maka akan menghadirkan cendikiawan muda
yang bukan hanya memiliki nilai, tetapi juga bermental spiritual yang dapat diandalkan
untuk pembangunan masyarakat bahkan pembangunan peradaban manusia di masa
yang akan dating.

19
DAFTAR PUSTAKA

Anshori, Zainal, Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum: Studi Historis dan
Realitas Pendidikan Agama Islamdi Perguruan Tinggi Umum, Edu Islamika:The
IndonesianJournal of Education and Islamic Sciencies, Vol. 4 No. 12012

Tim Dosen PAI Universitas Jambi.2017.Pendidikan Agama Islam Berbasis Karakter:


Buku Daras Untuk Mahasiswa Muslim PTU, Ciputat:Gaung Persada Press Group

20