Anda di halaman 1dari 4

PERTEMUAN 3

“PROTOZOOLOGI”

1. PERKEMBANGBIAKAN PROTOZOA
Protozoa mempunyai dua cara reproduksi yaitu:
1) Cara aseksual,
2) Cara seksual.
 Cara aseksual (berkembang biak tanpa perkawinan)
Apabila keadaan lingkungan baik, maka Protozoa akan mengadakan pembelahan diri
yang dimulai dari kariosom, nukleus dan seterusnya sitoplasma. Biasanya dari satu
parasit menjadi dua dan seterusnya. Cara ini disebut pembelahan biner (binary fission)
dan cara ini hanya terjadi pada bentuk Trofozoit (vegetatif).
Cara perkembang biakan satu sel menjadi dua ini disebut juga sebagai endodiogenik,
yaitu satu inti akan membelah menjadi dua, lalu diikuti oleh sitoplasma.
Ada lagi perkembangbiakan yang disebut dengan endopoligenik, yaitu inti
membelah menjadi banyak, lalu diikuti oleh sitoplasma. Dalam hal ini, salah satu sel akan
berkembangbiak menjadi beberapa sel baru. Pembelahan ini teratur dan sitoplasma juga
mengikuti pembelahan ini secara teratur. Pada pembelahan inti menjadi banyak tapi tidak
teratur tiap belahan akan diikuti oleh sitoplasma dan terjadi beberapa sel baru yang
bentuknya kurang teratur, maka pembelahan ini disebut splitting. Hal ini biasanya terjadi
pada proses infeksi yang sangat akut. Perkembangbiakan dimana satu ini membelah
menjadi banyak dan diikuti pembelahan sitoplasma, hingga terbentuk merozoit yang
banyak, perkembangbiakan ini disebut skizogoni.
 Cara seksual
Pada pembiakan secara seksual berupa perkawinan antara mikrogamet dan makrogamet.
Setelah terjadi perkawinan akan menhasilkan zigot (zygosis = menjadi satu), lalu
terbentuk ookinet lalu menjadi ookista yang di dalamnya terbentuk sporozoit, proses ini
disebut sporogoni.
2. PENULARAN PROTOZOA

PARASIT HOSPES HOSPES

MAKANAN DAN
VEKTOR
AIR

KISTA / TROFOZOIT (BAGI YANG TIDAK PUNYA


STADIUM KISTA)

Lingkaran hidup dan penyebaran protozoa usus dan jaringan relatif sederhana. Parasit
berpindah dari hospes ke hospes secara langsung atau melalui makanan dan air setelah
parasit berada di luar tubuh hospes. Pada umumnya kista yang memang lebih tesisten
terhadap segala penagruh buruk lingkungan mempunyai peranan yang besar dalam
penyebaran parasit, karena kista merupakan bentuk infektif dari semua protozoa patogen
yang memiliki stadium kista, seperti ; Entamoeba histolytica, Balantidium coli, Giardia
lamblia. Kecuali protozoa yang tidak memiliki stadium kista, bentuk infektifnya adalah
stadium trofozoitnya itu sendiri, seperti contoh ; Trichomonas vaginasli. Pada parasit
darah dan jaringan seperti Plasmodium sp, penularan terjadi dari satu hospes ke hospes
yang lain melalui vektor. Makhluk hidup yang berperan sebagai vektor biasanya
serangga, jadi Plasmodium sp hidup di dua hospes secara bergantian yaitu tubuh nyamuk
sebagai vektor sampai terbentuk stadium infektif yang siap berpindah ke dalam tubuh
manusia sebagai hospes definitifnya melalui gigitan nyamuk yang mengandung sporozoit
(bentuk infektif dari Plasmodium sp).

3. DIAGNOSIS PROTOZOA
Diagnosis klinis dapat dibuat berdasarkan gejala klinis yang khas, tetapi untuk gejala
yang tidak khas agak sulit, dan diagnosis laboratorium mutlak harus dilakukan. Diagnosis
laboratorium ditegakkan dengan menemukan parasit pada sampel yang diperiksa.
Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan langsung apda feses
(Amoebiasis), urine atau sekret vagina (Trikomoniasis), darah (malaria,
tripanososmiasis), atau dengan cara tes serologi (Toxoplasmosis).
4. PERAN MENGUNTUNGKAN DAN MERUGIKAN PROTOZOA
 PERAN MENGUNTUNGKAN:
 Mengendalikan populasi bakteri, sebagian protozoa memangsa bakteri
sebagai makanannya, sehingga dapat mengontrol jumlah populasi bakteri
di alam.
 Sumber makanan ikan, di perairan sebagian protozoa berperan sebagai
plankton (zooplankton) dan benthos yang menjadi makanan hewan air,
terutama udang kepiting, ikan, dll.
 Indicator minyak bumi, fosil Foraminifera menjadi petunjuk sumber
minyak, gas, dan mineral.
 Bahan penggosok, endapan Radiolaria di dasar laut yang membentuk
tanah radiolarian, dapat dijadikan sebagai bahan penggosok.
 PERAN MERUGIKAN :
Protozoa Jenis penyakit
Entamoeba hystolitica Disentri
Balantidium coli Diare
Trypanosoma gambiense Penyakit tidur (Afrika)
Trypanosoma rhodesiense
Toxoplasma gondii Toksoplasmosis (kematian janin)
Plasmodium vivax Malaria tertian
Plasmodium malariae Malaria quartana
Plasmodium falciparum Malaria tropika
Leishmania donovani / visceral Kala azar
Trypanosoma evansi Surra (hewan ternak)
Trichomonas vaginalis Keputihan / gatal
DAFTAR PUSTAKA

Natadisastra, Djaenudin, Agoes, Ridad. 2009. Parasitologi Kedokteran: Ditinjau Dari Organ
Tubuh yang Diserang”.

Supriatin, Y. (2006). Diktat dan Petunjuk Praktikum Protozoologi Medik. Hal ; 4. Bandung :
Akademi Analis Kesehatan Bakti Asih

Dwi, C. F. 2013. Peranan Protozoa