Anda di halaman 1dari 17

Disusun Oleh

Gadis Fujiastuti

Program Studi : Farmasi


Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta
2012
 PENDAHULUAN
Pada era globalisasi seperti sekarang ini kita membutuhkan sumber daya
manusia yang berkualitas, handal dan professional untuk mendukung dan
memperlancar jalannya pembangunan negara ini agar menjadi Negara yang lebih
maju. Salah satu kunci untuk mendukung pembangunan tersebut adalah dengan
menciptakan generasi muda yang cerdas, professional, dan memiliki inovasi serta
kreativitas yang tinggi. Selain itu penyediaan lembaga pendidikan yang
berkualitas bagi anak bangsa juga sangat penting. Dan salah satu lembaga
pendidikan yang memegang peranan penting dalam menciptakan generasi yang
berkualitas adalah universitas.

Universitas merupakan lembaga pembelajaran formal tertinggi. Dimana


pelajar yang berhasil menyelesaikan masa pendidikannya di SMA dapat
melanjutkan ke universitas untuk mendapatkan gelar sesuai dengan profesi yang
mereka inginkan. Selain itu universitas merupakan tempat dimana para pelajar
dapat memperdalam ilmu yang telah dipelajarinya selama duduk di bangku SMA
dan di lembaga ini pula mereka mendapatkan pelatihan dan bekal kreativitas agar
mampu terjun dan menyesuaikan diri terhadap masalah kehidupan sosial
masyarakat kita saat ini. Di Indonesia banyak universitas-universitas ternama
baik yang menyandang status sebagai universitas negeri maupun swasta yang
menghasilkan mahasiswa yang berkualitas dan professional. Bahkan ada beberapa
universitas yang system perkuliahannya menerapkan system pembelajaran islam
di setiap mata kuliahnya.

Pada awalnya hanya sedikit universitas yang mengembangkan system


perkuliahannya yang berbasis islam. Tapi sekarang sudah banyak universitas-
universitas yang system perkuliahannya menerapkan system pembelajaran
berbasis islam. Bahkan dari beberapa universitas tersebut ada yang sudah
menyandang status sebagai salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang kualitas
lulusannya juga tidak kalah saing dengan beberapa universitas negeri ternama di
Indonesia. Salah satu universitas islam negeri terkemuka di Indonesia adalah UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam essay ini saya akan membahas mengenai
sejarah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan sejarah salah satu fakultas dari
UIN Syarif Hidayatullah yaitu FKIK UIN Syahid beserta organisasi mahasiswa
FKIK atau yang lebih dikenal dengan BEM FKIK UIN Syahid.

 PEMBAHASAN

 SEJARAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pada 1 Juni 2007 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merayakan "golden


anniversary". Selama setengah abad, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah
menjalankan mandatnya sebagai institusi pembelajaran dan transmisi ilmu
pengetahuan, institusi riset yang mendukung proses pembangunan bangsa, dan
sebagai institusi pengabdian masyarakat yang menyumbangkan program-program
peningkatan kesejahteraan sosial. Selama itu pula UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
telah melewati beberapa periode sejarah dari mulai perintisan sampai sekarang
menjadi salah satu universitas islam terkemuka di Indonesia. Secara singkat
sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat dibagi ke dalam beberapa periode,
yaitu periode perintisan, periode fakultas IAIN al-Jami’ah, periode IAIN Syarif
Hidayatullah, dan periode UIN Syarif Hidayatullah.

1. Periode Perintisan

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ditetapkan


berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 031 tahun 2002. Sejarah
pendirian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan mata rantai sejarah
perkembangan perguruan tinggi Islam Indonesia dalam menjawab kebutuhan
pendidikan tinggi Islam modern yang dimulai jauh sebelum Indonesia merdeka.
Pada zaman penjajahan Belanda, Dr. Satiman Wirjosandjojo, salah seorang
Muslim terpelajar, tercatat pernah berusaha mendirikan Pesantren Luhur sebagai
lembaga pendidikan tinggi Islam. Namun, usaha ini gagal karena hambatan dari
pihak penjajah Belanda.
Lima tahun sebelum proklamasi kemerdekaan, Persatuan Guru Agama
Islam (PGAI) di Padang mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI). STI hanya
berjalan selama dua tahun (1940-1942) karena pendudukan Jepang. Umat Islam
Indonesia tidak pernah berhenti menyuarakan pentingnya pendidikan tinggi Islam
bagi kaum Muslim yang merupakan mayoritas pendudukan Indonesia. Pemerintah
pendudukan Jepang kemudian menjanjikan kepada umat Islam untuk mendirikan
Lembaga Pendidikan Tinggi Agama di Jakarta. Janji Jepang itu direspon tokoh-
tokoh Muslim dengan membentuk yayasan di Muhammad Hatta sebagai ketua
dan Muhammad Natsir sebagai sekretaris.

Pada 8 Juli 1945, bertepatan dengan 27 Rajab 1364, yayasan tersebut


mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI). STI berkedudukan di Jakarta dan
dipimpin oleh Abdul Kahar Mudzakkir. Beberapa tokoh Muslim lain ikut berjasa
dalam proses pendirian dan pengembangan STI. Mereka antara lain Drs.
Muhammad Hatta, KH. Kahar Mudzakkir, KH. Wahid Hasyim, KH. Mas Mansur,
KH. Fathurrahman Kafrawi, dan Farid Ma’ruf. Pada 1946, STI dipindahkan ke
Yogyakarta mengikuti kepindahan Ibukota Negara dari Jakarta ke Yogyakarta.
Sejalan dengan perkembangan STI yang semakin besar, pada 22 Maret 1948 nama
STI diubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) dengan penambahan
fakultas-fakultas baru. Sampai dengan 1948, UII memiliki empat fakultas, yaitu
(1) Fakultas Agama, (2) Fakultas Hukum, (3) Fakultas Ekonomi, dan (4) Fakultas
Pendidikan.

Kebutuhan akan tenaga fungsional di Departemen Agama menjadi latar


belakang penting berdirinya perguruan tinggi agama Islam. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut, Fakultas Agama UII dipisahkan dan ditransformasikan
menjadi Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dan sesuai dengan
namanya berstatus negeri. Perubahan ini didasarkan kepada Peraturan Pemerintah
(PP) No. 34 tahun 1950. Dalam konsideran disebutkan bahwa PTAIN bertujuan
memberikan pengajaran studi Islam tingkat tinggi dan menjadi pusat
pengembangan serta pendalaman ilmu pengetahuan agama Islam. Berdasarkan PP
tersebut, hari jadi PTAIN ditetapkan pada 26 September 1950. PTAIN dipimpin
KH. Muhammad Adnan dengan data jumlah mahasiswa per 1951 sebanyak 67
orang. Pada periode tersebut PTAIN memiliki tiga jurusan, yaitu Jurusan
Tarbiyah, Jurusan Qadla (Syari’ah) dan Jurusan Dakwah.

Komposisi mata kuliah pada waktu itu terdiri dari bahasa Arab, Pengantar
Ilmu Agama, Fiqh dan Ushul Fiqh, Tafsir, Hadits, Ilmu Kalam, Filsafat, Mantiq,
Akhlaq, Tasawuf, Perbandingan Agama, Dakwah, Tarikh Islam, Sejarah
Kebudayaan Islam, Ilmu Pendidikan dan Kebudayaan, Ilmu Jiwa, Pengantar
Hukum, Asas-asas Hukum Publik dan Privat, Etnologi, Sosiologi, dan Ekonomi.
Mahasiswa yang lulus bakaloreat dan doktoral masing-masing mendapatkan gelar
Bachelor of Art (BA) dan Doctorandus (Drs). Komposisi mata kuliah PTAIN
tersebut merupakan kajian utama perguruan tinggi Islam yang terus berlanjut
sampai masa-masa yang lebih belakangan. Gelar akademik yang ditawarkan juga
terus bertahan sampai dengan dekade 1980-an.

2. Periode ADIA (1957-1960)

Kebutuhan tenaga fungsional bidang guru agama Islam yang sesuai


dengan tuntutan modernitas pada dekade 1950-an mendorong Departemen Agama
mendirikan Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) di Jakarta. ADIA didirikan pada
1 Juni 1957 dengan tujuan mendidik dan mempersiapkan pegawai negeri guna
mendapatkan ijazah pendidikan akademi dan semi akademi sehingga menjadi
guru agama, baik untuk sekolah umum, sekolah kejuruan, maupun sekolah agama.
Dengan pertimbangan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan kelanjutan dari
ADIA, hari jadi ADIA 1 Juni 1957 ditetapkan sebagai hari jadi atau Dies Natalis
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sama seperti perguruan tinggi pada umumnya,
masa studi di ADIA adalah 5 tahun yang terdiri dari tingkat semi akademi 3 tahun
dan tingkat akademi 2 tahun.

ADIA memiliki tiga jurusan, yaitu Jurusan Pendidikan Agama, Jurusan


Bahasa Arab, dan Jurusan Da’wah wal Irsyad yang juga dikenal dengan Jurusan
Khusus Imam Tentara. Komposisi kurikulum ADIA tidak jauh berbeda dengan
kurikulum PTAIN dengan beberapa tambahan mata kuliah untuk kepentingan
tenaga fungsional. Komposisi lengkapnya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Arab,
Bahasa Inggris, Bahasa Perancis, Bahasa Ibrani, Ilmu Keguruan, Ilmu
Kebudayaan Umum dan Indonesia, Sejarah Kebudayaan Islam, Tafsir, Hadits,
Musthalah Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Tarikh Tasyri’ Islam, Ilmu Kalam/Mantiq,
Ilmu Akhlaq/Tasawuf, Ilmu Fisafat, Ilmu Perbandingan Agama, dan Ilmu
Pendidikan Masyarakat. Kepemimpinan ADIA dipercayakan kepada Prof. Dr. H.
Mahmud Yunus sebagai dekan dan Prof. H. Bustami A. Gani sebagai Wakil
Dekan.

Terdapat dua ciri utama ADIA. Pertama, sesuai dengan mandatnya sebagai
akademi dinas, mahasiswa yang mengikuti kuliah di ADIA terbatas pada
mahasiswa tugas belajar. Mereka diselekasi dari pegawai atau guru agama di
lingkungan Departemen Agama yang berasal dari wakil-wakil daerah di seluruh
Indonesia. Kedua, sesuai dengan mandatnya untuk mempersiapkan guru agama
modern, tanggung jawab pengelolaan dan penyediaan anggaran ADIA berasal dari
Jawatan Pendidikan Agama (Japenda) Departemen Agama yang pada waktu itu
memiliki tugas mengelola madrasah dan mempersiapkan guru agama Islam
modern di sekolah umum.

3. Periode Fakultas IAIN Al-Jami’ah Yogyakarta (1960-1963)

Dalam satu dekade, PTAIN memperlihatkan perkembangan


menggembirakan. Jumlah mahasiswa PTAIN semakin banyak dengan area of
studies yang semakin luas. Mahasiswa PTAIN tidak hanya datang dari berbagai
wilayah Indonesia, tetapi juga datang dari negara tetangga seperti Malaysia.
Meningkatnya jumlah mahasiswa dan meluasnya area of studies menuntut
perluasan dan penambahan, baik dari segi kapasitas kelembagaan, fakultas dan
jurusan maupun komposisi mata kuliah. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut,
ADIA di Jakarta dan PTAIN di Yogyakarta diintegrasikan menjadi satu lembaga
pendidikan tinggi agama Islam negeri. Integrasi terlaksana dengan keluarnya
Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 11 Tahun 1960 tertanggal 24 Agustus
1960 bertepatan dengan 2 Rabi’ul Awal 1380 Hijriyah. Peraturan Presiden RI
tersebut sekaligus mengubah dan menetapkan perubahan nama dari PTAIN
menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) al-Jami’ah al-Islamiyah al-
Hukumiyah. IAIN diresmikan Menteri Agama di Gedung Kepatihan Yogyakarta.

4. IAIN With Wider Mandate

IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu IAIN tertua di


Indonesia yang bertempat di Ibukota Jakarta, menempati posisi yang unik dan
strategis. Ia tidak hanya menjadi "Jendela Islam di Indonesia", tetapi juga sebaga
simbol bagi kemajuan pembangunan nasional, khususnya di bidang pembangunan
sosial-keagamaan. Sebagai upaya untuk mengintegrasikan ilmu umum dan ilmu
agama, lembaga ini mulai mengembangkan diri dengan konsep IAIN dengan
mandat yang lebih luas (IAIN with Wider Mandate) menuju terbentuknya
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Langkah konversi ini mulai
diintensifkan pada masa kepemimpinan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA dengan
dibukanya jurusan Psikologi dan Pendidikan Matematika pada Fakultas Tarbiyah,
serta Jurusan Ekonomi dan Perbankan Islam pada Fakultas Syari’ah pada tahun
akademik 1998/1999. Untuk lebih memantapkan langkah konversi ini, pada tahun
2000 dibuka Program Studi Agribisnis dan Teknik Informatika bekerja sama
dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) serta Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT) dan Program Studi Manajemen dan Akuntansi. Pada tahun
2001 diresmikan Fakultas Psikologi dan Dirasat Islamiyah bekerjasama dengan
Al-Azhar, Mesir. Selain itu dilakukan pula upaya kerjasama dengan Islamic
Development Bank (IDB) sebagai penyandang dana pembangunan kampus yang
modern; McGill University melalui Canadian Internasional Development Agencis
(CIDA); Leiden University (INIS); Universitas Al-Azhar (Kairo); King Saud
University (Riyadh); Universitas Indonesia; Institut Pertanian Bogor (IPB); Ohio
University; Lembaga Indonesia Amerika (LIA); Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT), Bank BNI; Bank Mu’amalat Indonesia (BMI); dan
universitas-universitas serta lembaga-lembaga lainnya.

Langkah perubahan bentuk IAIN menjadi UIN mendapat rekomendasi


pemerintah dengan ditandatanganinya Surat Keputusan Bersama (SKB) antara
Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 4/U/KB/2001 dan Menteri Agama RI
Nomor 500/2001 tanggal 21 Nopember 2001. Selanjutnya melalui suratnya
Nomor 088796/MPN/2001 tanggal 22 Nopember 2001, Direktur Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional memberikan rekomendasi
dibukanya 12 program studi yang meliputi program studi ilmu sosial dan eksakta,
yaitu Teknik Informatika, Sistem Informasi, Akuntansi, Manajemen, Sosial
Ekonomi Pertanian/Agribisnis, Psikologi, Bahasa dan Sastra Inggris, Ilmu
Perpustakaan, Matematika, Kimia, Fisika dan Biologi. Seiring dengan itu,
rancangan Keputusan Presiden tentang Perubahan Bentuk IAIN menjadi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta juga telah mendapat rekomendasi dan pertimbangan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara RI dan Dirjen Anggaran Departemen
Keuangan RI Nomor 02/M-PAN/1/2002 tanggal 9 Januari 2002 dan Nomor S-
490/MK-2/2002 tanggal 14 Februari 2002. Rekomendasi ini merupakan dasar
bagi keluarnya Keputusan Presiden Nomor 031 tanggal 20 Mei Tahun 2002
tentang Perubahan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.

5. Periode UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Mulai 20 Mei 2002)

Dengan keluarnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 031


tanggal 20 Mei 2002 IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta resmi berubah menjadi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Peresmiannya dilakukan oleh Wakil Presiden
Republik Indonesia, Hamzah Haz, pada 8 Juni 2002 bersamaan dengan upacara
Dies Natalis ke-45 dan Lustrum ke-9 serta pemancangan tiang pertama
pembangunan Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui dana Islamic
Development Bank (IDB). Satu langkah lagi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
menambah fakultas yaitu Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (Program
Studi Kesehatan Masyarakat) sesuai surat keputusan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 1338/ D/T/2004 Tahun 2004 tanggal 12 April 2004 tentang ijin
Penyelenggaraan Program Studi Kesehatan Masyarakat (S1) pada Universitas
Islam Negeri dan Keputusan Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam
tentang izin penyelenggaraan Program Studi Kesehatan Masyarakat Program
Sarjana (S1) pada Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Nomor Dj.II/37/2004 tanggal 19 Mei 2004.
Sebagai bentuk reintegrasi ilmu, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak
tahun akademik 2002/2003 menetapkan nama-nama fakultas sebagai berikut:

1. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan


2. Fakultas Adab dan Humaniora
3. Fakultas Ushuluddin
4. Fakultas Syari’ah dan Hukum
5. Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
6. Fakultas Dirasat Islamiyah
7. Fakultas Psikologi
8. Fakultas Ekonomi dan Bisnis
9. Fakultas Sains dan Teknologi
10. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
11. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
12. Sekolah Pascasarjana

Hingga tahun 2008 wisuda ke-85 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah
menghasilkan alumni lebih dari 50.000 orang, baik lulusan Sarjana Strata Satu
(S1) maupun Sarjana Magister (S2) dan Sarjana Doktor (S3). UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta terus berupaya menyiapkan peserta didiknya menjadi
anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang
dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan
keagamaan dan ilmu ilmu terkait lainnya dalam arti yang seluas-luasnya.

 SEJARAH FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam upaya memenuhi kebutuhan terhadap pendidikan tinggi yang sesuai


dengan tuntutan masyarakat, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta membuka jurusan dan program studi baru untuk mendukung
penegmbangan UIN dalam mengintegrasikan aspek keilmuan, keislaman, dan
keindonesiaan.

Untuk mempercepat pengintegrasian tersebut, siding Senat UIN Syarif


Hidayatullah Jakarta pada tanggal 30 Desember 2002 mempertimbangkan
pentingnya pembukaan program bidang studi baru dalam bidang Kedokteran dan
Kesehatan. Forum tersebut merekomendasikan pendirian Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan (FKIK).

Pendirian FKIK ini juga dimaksudkan untuk menjawab tantangan dalam


mewujudkan konsep Indonesia seahat 2010 yang dicanangkan pemerintah yang
membutuhkan lebih banyak tenaga dokter, apoteker, perawat dan tenaga
kesehatan masyarakat. Hal ini sesuai dengan visi UIN “menjadikan UIN Syarif
Hidayatullah sebagai lembaga pendidikan tinggi terkemuka dalam
mengintegrasikan aspek keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan”. Karena itu
pendirian fakultas kedokteran di UIN harus berbeda dengan fakultas kedokteran di
universitas lain, baik secara epistemologis, metodologis maupun subtantif.

Di samping itu, pendirian FKIK adalah untuk menampung para lulusan


Madrasah Aliyah dan Pesantren yang berada dalam rural area yang selalu
termaginalisasikan karena kalah bersaing, baik secara ekonomi maupun prestasi,
untuk memasuki program studi umum pada Universitas Negeri/Perguruan Tinggi
Negeri.

Berdasarkan keputusan Senat tersebut, penyusunan proposal empat


Program Studi yang bernaung di bawah FKIK mulai dirintis, yaitu; Program Studi
Pendidikan Dokter, Kesehatan Masyarakat, Farmasi dan Ilmu Keperawatan.Para
perintis yang ikut dalam rencana pembukaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah Prof. Dr. Sularto (Alm), Prof.
Dr. Achmad Sofyan, Dr. Utarini, Prof. dr. M.K. Tadjudin, dr. Alis Sularto, Prof.
Dr. Azyumardi Azra, MA., Prof. Dr. Suwito, MA., Prof. Abuddin Nata, MA.,
Prof. Dr. Does Sampoerno, Drs. H. Achmad Gholib, M.A., Drs. H. Abdul
Shomad, dr. Jauhari dan lain-lain. Tim penyusun proposal pendirian FKIK
diketuai oleh Prof. dr. M. K. Tadjudin, Sp.And. dari Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia yang juga sekaligus berperan sebagai Fakultas Pembina.

Dalam pengembangannya dan sesuai Rencana Strategis (Renstra) Fakultas


Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta dalam Lima tahun kedepan (2010-2015), diarahkan pada
penciptaan Fakultas yang Unggul dan Kompetitif sebagai pentahapan menuju
Fakultas Riset, yang didasarkan pada keunggulan-keunggulan yang kompetitif
secara nasional aupun internasional.

Untuk mendukung dalam perwujudan Fakultas yang unggul dan kompetitif,


FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui pemerintah RI (Departemen
Agama) mendapatkan bantuan dari pemerintahan Jepang dalam hal ini Japan
Bank For Internasional Cooperation (JBIC). Bantuan dimaksud dalam bentuk
fellowship yaitu pengembangan dosen untuk melanjutkan studi ke Program S2
dan S3 di Jepang serta pembangunan gedung perkuliahan, gedung laboratorium
dan peralatannya, gedung asrama mahasiswa (doormitory) dan gedung rumah
sakit pendidikan (teaching hospital).

FKIK UIN Jakarta mulai berdiri tahun 2004. Sementara pembangunan


gedung dimulai pada awal Januari 2009 dengan biaya dari pinjaman lunak (soft
loan) JICA senilai 26 juta dollar AS atau Rp 2,6 triliun. Gedung dengan tinggi
lima lantai tersebut berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar dan luas bangunan
15.000 meter persegi. Fasilitas gedung meliputi ruang belajar, perkantoran,
perpustakaan, laboratorium serta gedung dormitory (asrama mahasiswa). Fasilitas
tersebut belum ditambah pembangunan gedung rumah sakit pendidikan (teaching
hospital university) yang direncanakan akan dibangun tahun 2011 mendatang.
Hingga akhir 2010 ini total mahasiswa FKIK mencapai 1.615 orang, sedangkan
tenaga dosen berjumlah 99 orang dan tenaga administrasi 25 orang.

A. Visi dan Misi

Visi

Visi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam


Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta adalah: “Menjadikan FKIK-UIN Syarif
Hidayatullah sebagai lembaga pendidikan tinggi kedokteran dan ilmu kesehatan
terkemuka dalam mengintegrasikan aspek keilmuan kedokteran dan kesehatan,
keislaman dan keindonesiaan”
Misi

Berdasarkan visi tersebut, misi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah:

1. Menghasilkan Dokter, Tenaga Kesehatan Masyarakat, Apoteker dan Ners


yang memiliki keunggulan kompetitif dan komperatif dalam persaingan
global.
2. Melakukan reintegrasi ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan dengan nilai-
nilai keIslaman dan keIndonesiaan

1. Memberikan landasan moral terhadap pengembangan ilmu dan teknologi


kedokteran dan kesehatan serta melakukan pencerahan dalam pembinaan
iman dan taqwa.
2. Mengikuti secara aktif dan berperan serta dalam pengembangan ilmu dan
teknologi kedokteran dan kesehatan melalui kegiatan penelitian.
3. Memberikan kontribusi bermakna dalam pembangunan bangsa melalui
upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat.

B. Tujuan umum

1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki


kemampuan akademik-profesional yang dapat menerapkan,
mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran dan kesehatan serta ilmu pengetahuan agama Islam secara
integrative.
2. Menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan
dan teknologi kedokteran dan kesehatan serta ilmu agama Islam secara
integrative serta mengupayakan pemanfaatannya untuk meningkatan taraf
kehidupan masyarakat dan dalam upaya pembangun karakter bangsa.

C. Tujuan khusus

1. Terwujudnya Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan yang dapat


mengintegrasikan nilai-nilai Islam serta menjadi bagian dari
pengembangan budaya melalui karya dan pembentukan kepribadian
bangsa.
2. Dihasilkannya pemikiran yang memperkokoh pengembangan watak, moral
dan etika bangsa.
3. Terselenggaranya peran aktif penggerak pembangunan dibidang
kesehatan, melalui konsep pembaharuan dan konsep perencanaan ke masa
depan.
4. Dihasilkannya tenaga ahli yang terampil dibidang kedokteran da ilmu-ilmu
kesehatan, berimtqq tinggi, professional, berwawasan nasional dan
internasional, serta memiliki integritas yang tinggi.
5. Dihasilkannya karya ilmiah dibidang kedokteran dan ilmu kesehatan yang
bermutu tinggi.
6. Terselenggaranya peran aktif dalam pembangunan nasional, khususnya
dibidang kedokteran dan ilmu-ilmu kesehatan.
7. Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang didasarkan pada pengamalan
ilmu.

 PROFIL BEM FKIK

Di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah


terdapat sebuah lembaga pemerintahan mahasiswa yang lebih dikenal dengan
sebutan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM FKIK). Lembaga ini merupakan
wadah yang menampung aspirasi mahasiswa FKIK di lingkungan civitas
akademika dan wadah yang menampung kegiatan mahasiswa FKIK baik
keilmuan, keorganisasian, keseniaan maupun olahraga.

Dalam menjalankan roda pemerintahannya, BEM FKIK memiliki


komponen kestrukturan yang membantu jalannya roda pemerintahan tersebut,
komponen tersebut adalah sebagai berikut :

1. Badan Pengurus Harian

Badan ini bertugas mengurusi mengenai pelaksanaan kegiatan harian BEM


FKIK. Badan pengurus harian terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris dan
bendahara. Ketua bertugas mengatur pelaksanaan kegiatan BEM FKIK
sedangkan Wakil Ketua bertugas mendampingi dan menggantikan tugas ketua
BEM FKIK apabila Ketua sedang berhalangan dalam menjalankan
tugasnya.Sekretaris bertugas mengurusi masalah administrasi BEM FKIK secara
terpusat. Bendahara BEM FKIK bertugas mengurusi masalah keuangan BEM
FKIK secara terpusat

2. Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Organisasi


(PSDMO)

Departemen ini bertugas mengurusi bidang pengembangan kemampuan


organisasi pengurus BEM FKIK dan memberikan penilaian terhadap kinerja
pengurus BEM FKIK.

3. Departemen Kemahasiswaan (Kemahasiswaan)

Departemen ini bergerak dibidang pengembangan kemampuan


kepemimpinan dan organisasi serta mengatur alur kaderisasi mahasiswa.

4. Departemen Kajian Strategis (Kastrat)

Departemen ini bergerak di bidang kajian isu strategis baik internal


maupun eksternal mahasiswa dan melaksanakan manajmen aksi mahasiswa

5. Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes)

Departemen ini bergerak di bidang pengembangan kemampuan penelitian


mahasiswa dan kreatifitas kewirasusahaan.

6. Departemen Kesenian dan Olahraga (Kesor)

Departemen ini bergerak dibidang pengembangan kemampuan seni dan


olahraga mahasiswa.

7. Departemen Informasi dan Komunikasi (Infokom)


Departemen ini bergerak dibidang penyeberluasan informasi kepada
mahasiswa dan mengadakan hubungan komunikasi antar lembaga FKIK.

8. Departemen Sosial (Depsos)

Merupakan departemen yang bergerak dibidang pengembangan jiwa sosial


dan kepedulian mahasiswa.

 VISI & MISI BEM FKIK

Dalam menjalankan tugasnya BEM FKIK berpegang teguh terhadap visi


dan misi BEM FKIK. Berikut ini adalah perincian dari visi dan misi BEM FKIK.

 Visi
Menjadikan BEM FKIK yang sinergis, progresif dan kontributif. Berikut
ini adalah makna dari visi dari BEM FKIK
o FKIK yang SINERGIS mengandung arti bahwa BEM FKIK berusaha
menciptakan hubungan antar lembaga yang sinergis di lingkungan FKIK,
menyiapkan kader-kader BEM FKIK yang mampu bekerjasama sehingga
mampu menjadi tauladan bagi mahasiswa ke empat prodi di FKIK serta
mendukung implementasi nilai-nilai interprofesionalisme education.
o FKIK yang PROGRESIF mengandung arti bahwa BEM FKIK bergerak
maju melaksanakan fungsi-fungsi manajemen (planning,
organizing,actuating, controling dan evaluation) secara terukur demi
terciptanya perubahan ke arah yang lebih baik dari waktu-ke waktu.
o FKIK yang KONTRIBUTIF mengandung arti bahwa BEM FKIK berusaha
menciptakan dan mendorong mahasiswa FKIK untuk berkontribusi
mengamalkan tridarma universitas yaitu pendidikan, penelitian dan
pengabdian masyarakat.

 Misi
1. Menanamkan perilaku organisasi BEM FKIK UIN yang profesional
berlandaskan asas kekeluargaan.
2. Membangun relasi dan jaringan koordinasi antarlembaga di FKIK UIN yang
harmonis demi kemajuan bersama.
3. Menampung aspirasi dan meningkatkan fungsi advokasi mahasiswa FKIK
UIN demi kesejahteraan bersama.
4. Mengembangkan potensi, minat, dan bakat mahasiswa dalam bidang
keilmuan, kesenian dan keolahragaan di lingkungan FKIK UIN.
5. Meningkatkan apresiasi dan produktivitas mahasiswa FKIK UIN dalam
berkarya.
6. Memperkuat kepedulian sosial agama dalam diri mahasiswa FKIK yang
terwujud dalam kontribusi nyata di lingkungan internal maupun eksternal
FKIK.

 PENUTUP
Berdasarkan penjabaran di atas dapat kita simpulkan bahwa proses
pendirian Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tidak lepas dari
pengaruh para tokoh-tokoh islam pada masa penjajahan Belanda namun pada
masa itu pendirian sebuah pesantren islam gagal karena hambatan dari pemerintah
Belanda. Tapi pada masa kependudukan Jepang tokoh-tokoh islam kita berhasil
mendirikan sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi Agama. Setelah mengalami
beberapa revolusi akhirnya sekarang berhasil menjadi salah satu universitas islam
terkemuka di Indonesia. Selain itu UIN syarif hidayatullah Jakarta juga baru-baru
ini mendirikan fakultas Kedokteran yang bertujuan untuk mengembangkan system
pengobatan yang berpegang teguh dengan landasan islam sehingga mampu
melahirkan para tenaga medis yang handal dan professional baik dalam bidang
medis maupun bidang agama.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.uinjkt.ac.id/index.php/tentang-uin.html

http://fkik.uinjkt.ac.id/index.php/profile/sejarah-tentang-fkik

http://chirpstory.com/li/15678