Anda di halaman 1dari 4

1.

Pendidikan dan Pengajaran


Perguruan tinggi idaman harusnya mempunyai sistem pendidikan dan pengajaran yang up to date.
Maksud dari up to date adalah, pendidikan di PT baik dari kurikulum, mata kuliah hingga cara belajar
harus menyesuaikan dengan kondisi riil yang sedang berkembang di masyarakat. Misalnya, untuk
mengatasi masalah pengangguran maka salah satu solusinya adalah wirausaha, artinya disini
perguruan tinggi harus menyediakan porsi khusus contohnya dari mata kuliahnya yang menempa
mahasiswanya untuk menyelami seluk beluk wisarusaha. Ini tidak hanya berlaku untuk fakultas
ekonomi dan program studi ilmu sosial, tapi juga mesti diberikan pada mahasiswa eksak, humaniora
dan sebagainya. Adapun penempaan wirausaha ini tidak hanya terbatas pada teori, namun juga
membimbing mahasiswa dalam aplikasinya, salah satunya melalui tugas kuliah yang diberikan.
Lebih lanjut, dari sistem atau cara belajarnya, peguruan tinggi idaman mesti menerapkan pola atau
sistem 4 arah yakni antara ilmu, dosen, mahasiswa dan realitas. Artinya, adanya eksplorasi yang
mendalam terhadap ilmu dan pengetahuan yang diajarkan di kelas. Disinilah kemudian diskusi di
dalam kelas menjadi penting. Mahasiswa harus dituntut untuk aktif di ruang kuliah. Adapun terkait
dengan realitas atau kita pahami sebagai kondisi riil yang ada, ilmu yang diajarkan mesti
dikonfirmasikan dengan situasi yang berkembang di masyarakat, dengan begitu mahasiswa tidak
menerima transfer ilmu secara mentah dari dosennya, tapi juga mendapatkan pemahaman karena
dibenturkan langsung dengan kondisi dan situasi yang sedang berkembang. Effeknya nanti,
diharapkan sang mahasiswa dapat menerapkan ilmu yang didapatnya dengan mudah di luar kampus.
2. Penelitian
Perguruan tinggi idaman harus memiliki database hasil penelitian dosen dan mahasiswa dalam
jumlah yang banyak, minimal 50 % dari jumlah penghuni kampus. Dengan asumsi, per 2 orang
melakukan 1 penelitian. Namun, ukurannya kemudian tidak hanya dari kuantitas atau jumlah
penelitian semata, tapi juga dari kualitas penelitiannya. Kualitas ini, diukur dari sejauh mana proses
dan hasil penelitian yang bersangkutan berguna bagi masyarakat dan lingkungan.
Disinilah kegunaan penelitian menjadi penting sebagai orientasi sebuah penelitian. Artinya kemudian,
penelitian bukan hanya dilakukan untuk mengejar nilai (IPK) ataupun untuk kepentingan jabatan dan
gaji untuk dosen. Khusus penelitian dari mahasiswa, penelitian tidak hanya dilakukan pada skripsi
atau tugas akhir semata. Namun, sedari semester 1 hingga sementar akhir, mahasiswa diberi tugas
untuk melakukan penelitian baik itu penelitian skala kecil maupun skala besar. Penelitian disini pada
hakekatnya harus dipahami sebagai sebuah upaya untuk menghasilkan solusi atas berbagai
permasalahan yang ada, baik di lingkungan pendidikan maupun di luar kampus. Karena perguruan
tinggi adalah center of knowledge atau pusat pengetahuan. Segala persoalan yang ada misalnya di
negeri dan bangsa ini, harus bisa diselesaikan secara keilmuan oleh perguruan tinggi. Peguruan
tinggi idaman adalah yang benar-benar menjadi center of knowledge!
Sedikit menyingggung fakta yang ada sekarang, kebanyakan perguruan tinggi justru malah
menciptakan persoalan baru, menciptakan pengangguran dengan tingkat resistensi yang tinggi.
Sarjana yang menganggur tentunya akan memiliki effek sosial dan ekonomi yang lebih tinggi
daripada lulusan SMA yang menganggur. Disinilah kemudian harusnya perguruan tinggi idaman
memiliki solusi terhadap masalah seperti ini. Baik solusi yang dijalankan langsung maupun yang bisa
direkomendasikan pada Departeman Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan pihak-pihak terkait,
pemikiran ini tentunya bisa hadir dari penelitian.
3. Pengabdian Kepada Masyarakat
Perguruan tinggi idaman adalah perguruan tinggi yang memberikan kontribusi positif untuk
masyarakat. Pengabdian disini kemudian harus dilihat bukan hanya dari seberapa banyak perguruan
tinggi yang bersangkutan melakukan bakti sosial, donor darah dan bantuan materi lainnya, tapi dari
hal-hal yang lebih penting dan menjadi spesialisasinya.
Seperti yang diulas sebelumnya, pengabdian kepada masyarakat yang lebih penting adalah ikut
menyelesaikan persoalan pelik yang ada di masyarakat dari mulai masalah ekonomi, sosial,
penegakan hukum dan sebagainya. Perguruan tinggi selain menjadi center of knowledge juga harus
bisa menempatkan diri sebagai center of social problems solutions. Dari sini kemudian istilah agent
perubahan, agen inovasi dsb, berfungsi dengan baik.
PERANAN MAHASISWA DALAM MEMAJUKAN PERGURUAN
TINGGI
Kematangan sebuah Perguruan Tinggi bukanlah dilihat dari usianya, tetapi harus dilihat dari
kesanggupan untuk bisa memenuhi dan mewujudkan secara nyata tanggung jawab kelembagaan
kepada masyarakat. Akreditasi yang baik bukan hanya ditentukan oleh Badan Akreditasi Nasional
Perguruan Tinggi, tetapi juga ditentukan oleh publik atau yang lebih dikenal dengan Akuntability
Publik. Perguruan tinggi harus mampu menjadi lembaga penyelenggaraan pendidikan tinggi yang
sanggup mengantarkan lulusannya memiliki kemampuan untuk dapat diterima dan berkiprah ditengah
masyarakat.
Implementasi TriDharma di atas menjadi alat ukur untuk menentukan perguruan tinggi layak disebut
idaman atau tidak, bisa masuk kategori perguruan tinggi terbaik atau tidak. Karena alat ukur bernama
Tri Dharma ini menurut dan bagi saya sangat layak dikedepankan dibanding faktor fasilitas atau hal-
hal bersifat teknis dan materi lainnya. Selain karena Tri Dharma ini merupakan amanat undang-
undang, juga karena fungsinya yang bisa mencetak lulusan perguruan tinggi yang berkualitas.
Ketika fungsi Tri Dharma itu dijalankan maka kualitas lulusan dari perguruan tinggi dipastikan akan
lebih menjanjikan dibanding yang menjalankan Tri Dharma dengan ala kadarnya. Lulusan dari
perguruan tinggi idaman (yang secara tepat mengimplementasikan Tri Dharma), saya yakin akan
memiliki kualitas keilmuan yang mengakar pada realitas dan juga aplikatif. Lulusan dengan
kemampuan (skill) yang bisa bersaing, inovatif dan memiliki mental serta kepekaan sosial yang baik
dan tinggi
Untuk mewujudkan peran Perguruan Tinggi seperti yang diungkapkan di muka maka dalam proses
belajar mengajar di Perguruan Tinggi perlu dikembangkan kultur kebebasan mimbar (academic
freedom culture).
Pengembangan kultur kebebasan mimbar tersebut diupayakan untuk meningkatkan kepekaan
mahasiswa. Dalam kehidupan Perguruan Tinggi, pemanfaatan mimbar ilmiah dalam meningkatkan
kepekaan mahasiswa adalah tidak terlepas dari karakter khas dan fungsi Perguruan Tinggi itu sendiri
yaitu membentuk insan akademik intelektualis yang dapat mempertanggungjawabkan kualitas
keilmuannya dan membentuk insan akademis yang mengabdi (sensitif/involve) terhadap masyarakat.
Jadi ada dua manfaat yang mendasar dari mimbar ilmiah, pertama untuk meningkatkan kepekaan
kualitas intelektual mahasiswa, dan kedua untuk meningkatkan kepekaan mahasiswa terhadap
masyarakat (lingkungannya).
Upaya mendasar agar aplikasi pemanfaatan mimbar ilmiah itu bisa terselenggara maka harus tercipta
kultur kebebasan mimbar (academic freedom culture) yang didukung oleh semua komponen
Perguruan Tinggi. Kultur kebebasan mimbar bisa terwujud jika didukung adanya kebebasan belajar
(freedom to learn) dan kebebasan berkomunikasi (freedom to communication). Kedua kebebasan ini
merupakan sisi dari kebebasan mimbar dan merupakan upaya yang tepat dalam meningkatkan
kepekaan mahasiswa.
KEBEBASAN BELAJAR
Oleh karena implikasi Perguruan Tinggi tidak terlepas dari pengabdian masyarakat, maka kebebasan
belajar (freedom to learn) harus diartikan secara luas, yaitu tidak hanya terbatas pada dinding-dinding
kampus, akan tetapi juga kebebasan untuk mempelajari persoalan-persoalan yang ada di luar
dinding-dinding kampus (masalah riil dalam masyarakat). Dan kebebasan untuk mempelajari masalah
riil dalam masyarakat ini adalah fokus yang terlebih penting dalam mencetak mahasiswa yang betul-
betul berurusan dengan masyarakatnya.
Adanya kebebasan belajar yang berimplikasi sosial (masyarakat), dilihat dari pengembangan
intelektual adalah sangat menguntungkan. Hal ini dikarenakan ramuan ilmu yang dikonsumir oleh
mahasiswa sebagian dari dunia luar yang kondisinya lain dengan apa yang ada dalam masyarakat
Indonesia. Sebagai konsekwensinya apabila konsep-konsep serta teori yang datang dari luar tersebut
mau digunakan untuk memecahkan problem-problem kemasyarakatan Indonesia maka memerlukan
modifikasi dan penyesuaian seperlunya.
Dengan demikian mahasiswa dalam pengembangan intelektualnya tidak bisa berpaling dari masalah
kemasyarakatan. Dan apabila keterlibatan mahasiswa dalam memahami masalah kemasyarakatan
tidak dikembangkan maka ilmu-ilmu yang diterima di bangku kuliah akan menjadi pisau analisa yang
tumpul. Alasan ini ditunjang oleh GBHN bahwa usaha pembinaan mahasiswa diarahkan agar berjiwa
penuh pengabdian sera memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan
negara, sehingga bermanfaat bagi usaha-usaha nasional dan pembangunan daerah.
KEBEBASAN BERKOMUNIKASI
Setelah adanya kebebasan belajar (freedom to learn) sebagai langkah awal dari cara mempelajari
persoalan-persoalan yang ada di lingkungan kampus dan masyarakat, maka untuk lebih
meningkatkan kepekaan mahasiswa dalam memperluas cakrawalan pemikiran dan penalaran,
menumbuhkan sikap dinamis, kritis, terbuka dan mempunyai kemampuan untuk memilih alternatif
terbaik diperlukan terciptanya cultur kebebasan berkomunikasi (freedom to communication).
Kebebasan berkomunikasi yang baik adalah adanya peluang mahasiswa untuk berpendapat,
bertanya, berhak untuk melontarkan gagasan ilmiah secara obyektif serta kebebasan untuk
penyebaran ilmu pengetahuan dan publikasi hasil-hasil penelitian kepada seluruh komponen
Perguruan Tinggi dan terhadap lingkungan masyarakatnya.
Dalam rangka terwujudnya kebebasan berkomunikasi ini, maka perlu adanya hubungan kerjasama
antara mahasiswa dengan komponen-komponen di lingkungan Perguruan Tinggi untuk mengadakan
kegiatan-kegiatan ilmiah seperti seminar, diskusi, Pers, dan sebagainya. Sebab menciptakan kultur
kebebasan mimbar ilmiah adalah merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika Perguruan
Tinggi. Barangkali dengan pengertian freedom to learn dan freedom to communication tersebut
mimbar ilmiah benar-benar dapat bermanfaat dalam meningkatkan kepekaan mahasiswa untuk
mewujudkan peran Tri Dharma Perguruan Tinggi.
AKHIRUL KATA
SETELAH saya pikir dan mungkin juga Saudara-saudara “merenungkan”, kita tidak bisa menitipkan
harapan kepada orang perorang dan kepada tokoh, sebab manusia ataU MAHASISWA dengan
segala nafsu keserakahannya akan kekuasan dan seringkali mahasiswa akan diperalat untuk
mewujudkan harapannya. Titipan dan harapan itu diberikan BUKAN kepada orang, tetapi kapada
aturan main, kepada sistem yang bekerja secara impersonal dan objektif.
Saya pikir, dengan segala kekurangannya Prinsip Dasar Tridharma Perguruan Tinggi, Pendidikan,
Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat merupakan pilihan terbaik harus diaplikasikan dalam
dunia nyata kehidupan mahasiswa. Namun, apa boleh buat, mahasiswa kita telah “ terbius” oleh
slogan kosong, ‘mahasiswa wajib melawan’ maka merekapun tanpa berpikir dalam bertindak. MAKA
apa yang terjadi, kembali lagilah mahasiswa menjadi “ajang permainan” para pemimpinnya, dan
upaya untuk melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi pun terbang terbawa angin.
UNTUK itulah, saya pikir diskusi kita amat penting hari ini. Saat ini, kita semua ‘’bukanlah orang
penting” dan bahkan saya pun merasakan bahwa pokok-pokok pikiran ini belum menawarkan solusi
apa-apa.Memang tidak ada yang sempurna, kecuali buatan Allah Swt. Saya hanya berharap pokok-
pokok pikiran ini bisa memancing diskusi kita hari ini sebagai bagian dari upaya melahirkan sikap
‘kejujuran akademik’ yang lebih baik di masa depan. Semoga dan Salam Sukses Untukmu Semua.
(@TM)