Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH ALAT KONTRASEPSI INTRA UTERINE

DEVICES (IUD)

OLEH :
KELOMPOK IV
KELAS I.E

UMMU KALSUM
HINDRAWATI
PUTI PUSPA SERUNI
ROSNIA
CITRINA FARIDA

AKADEMI KEBIDANAN PELITA IBU KENDARI


TAHUN AJARAN 2013 / 2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini
membahas tentang “(INTRA UTERINE DEVICES = IUD)”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah


Pelayanan KB yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan pembuatan
makalah selanjutnya.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini. Semoga Tuhan Yang Maha
Esa senantiasa memberikan kelancaran dan kemudahan bagi kita semua.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB 1. PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG................................................................... 4
2. RUMUSAN MASALAH................................................................5
3. TUJUAN..........................................................................................5

BAB II. ISI

1. Pengertian kontrasepsi Intrauterine Device (IUD)........................6


2. Jenis-jenis kontrasepsi IUD.............................................................6
3. Cara kerja IUD..................................................................................9
4. Keuntungan dan Kerugian IUD.......................................................9
5. Indikasi dan kontara indikasi KB IUD...........................................10
6. Cara pemasangan IUD......................................................................13
7. Cara pelepasan IUD...........................................................................15

BAB III. PENUTUP

1. KESIMPULAN..................................................................................17
2. SARAN................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................18
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan dan informasi keluarga berencana merupakan suatu intervensi
kunci dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan keluarga dan
masyarakat, serta merupakan hak asasi manusia.
Telah terjadi perkembangan yang berarti dalam tekhnologi kontrasepsi,
misalnya transisi dari estrogen dosis tinggi ke dosisi rendah pada pil
kombinasi, atau dari AKDR inert ke AKDR yang mengeluarkan
levonorgestrel. Perkembangan ini telah menghasilkan pilihan lebih banyak
tentang metode kontrasepsi yang lebih aman dan efektif. Salah satu alat
kontrasepsi yang akan di bahas pada makalah ini adalah tentang IUD / AKDR (
alat kontrasepsi dalam rahim ).
Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah visinya
dari mewujudkan norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS) menjadi
visi untuk mewujudkan”keluarga berkualitas tahun 2015”. Keluarga yang
berkualitas adalah yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak
yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan Bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa (Saefuddin, 2003).

Berdasarkan visi dan misi tersebut, program keluarga berencana nasional


mempunyai kontribusi penting dalam upaya meningkatkan kualitas penduduk.
Dalam kontribusi tersebut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) telah mewujudkan keberhasilannya selain berhasil menurunkan
angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk, juga terpenting adalah
keberhasilan mengubah sikap mental dasar perilaku masyarakat dalam upaya
membangun keluarga berkualitas.

Sebagai salah satu bukti keberhasilan program tersebut. Antara lain dapat
diamati dari semakin meningkatnya angka pemakaian kontrasepsi(prevalensi).
Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1997 memperlihatkan
proporsi peserta KB yang terbanyak adalah suntik(21,1%), pil(19,4%),
AKDR(18,1%), Norplan(16%), Sterilisasi wanita(3%), Kondom(0,7%),
Sterilisasi pria(0,4%), dan sisanya merupakan peserta KB tradisonal yang
masing-masing menggunakan cara tradisional seperti pantang berkala maupun
senggama terputus.

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa AKDR / IUD berada diposisi
ketiga. Sedangkan dalam program BKKBN memberikan penekanan pada
kontasepsi AKDR terutama adalah CuT380 A yang menjadi primadona
BKKBN. Namun begitu tidak semua klien berminat terhadap alat kontrasepsi
AKDR dikarenakan berbagai alasan yang berbeda-beda seperti takut efek
samping, takut proses pemasangan , dilarang oleh suami, dan kurang
mengetahui tentang KB AKDR. Maka dari itu penulis ingin mencoba
membahas makalah dengan judul “Kontrasepsi IUD “.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah:

1. Apa pengertian kontrasepsi Intrauterine Device (IUD)?


2. Apa saja jenis-jenis kontrasepsi IUD?
3. Bagaimana cara kerja IUD?
4. Apa saja Keuntungan dan Kerugian IUD?
5. Apa indikasi dan kontara indikasi KB IUD?
6. Bagaimana cara pemasangan IUD?
7. Bagaimana cara pelepasan IUD?

C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu:

8. Mengetahui pengertian kontrasepsi Intrauterine Device (IUD)?


9. Mengetahui jenis-jenis kontrasepsi IUD?
10. Mengetahui bagaimana cara kerja IUD?
11. mengetahui Keuntungan dan Kerugian IUD?
12. mengetahui indikasi dan kontara indikasi KB IUD?
13. mengetahui cara pemasangan IUD?
14. Mengetahui cara pelepasan IUD?
BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian

 IUD (Spiral) adalah Suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam


rahim terbuat dari plastik halus (Polyethelen) untuk mencegah terjadinya
konsepsi atau kehamilan. (BKKBN, 2003).
 IUD (intrauterine device) yaitu alat yang terbuat dari plastik yang
dimasukkan ke dalam rahim dan mencegah kehamilan dengan cara menganggu
lingkungan rahim dan menghalangi terjadinya pembuahan maupun
implantasi (ILUNI FKUI, 2010).
 AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) atau spiral, atau dalam bahasa
Inggrisnya Intra-Uterine Devices, disingkat IUD adalah alat yang dibuat dari
polietilen dengan atau tanpa metal/steroid yang ditempatkan di dalam rahim.
Pemasangan ini dapat untuk 3-5 tahun dan bisa dilepaskan setiap saat bila klien
berkeinginan untuk mempunyai anak. AKDR ini bekerja dengan mencegah
pertemuan sperma dengan sel telur (Kusumaningrum, 2009)
 Pemakaian IUD adalah seorang wanita yang menggunakan alat kontrasepsi
IUD mencegah atau menghindari kehamilan (BKKBN, 2003).

D. Jenis-jenis
Jenis IUD yang dipakai di Indonesia antara lain adalah :
1. Copper-T

IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen dimana pada bagian


vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan tembaga halus ini
mempunyai efek anti fertilitas (anti pembuahan) yang cukup baik (Imbarwati,
2009)
2. Copper-7

IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan.


Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan
gulungan kawat tembaga luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama dengan
lilitan tembaga halus pada IUD Copper-T (Imbarwati, 2009)

3. Multi load

IUD ini terbuat dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan
berbentuk sayap yang fleksibel. Panjang dari ujung atas ke ujung bawah 3,6
cm. Batang diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2
atau 375 mm2 untuk menambah efektifitas. Ada tiga jenis ukuran multi load
yaitu standar, small, dan mini (Imbarwati, 2009)
4. Lippes loop

Terbuat dari polyethelen, berbentuk spiral atau huruf S bersambung. Untuk


memudahkan kontrol diberi benang pada ekornya. Lippes Loop mempunyai
angka kegagalan yang rendah, keuntungan lain dari AKDR/IUD jenis ini
adalah jarang terjadi luka atau porforasi, sebab terbuat dari bahan plastik
(Maryani, 2004).

Spiral bisa bertahan dalam rahim dan menghambat pembuahan sampai 10


tahun lamanya. Setelah itu harus dikeluarkan dan diganti. Bahan spiral yang
paling umum digunakan adalah plastic atau plastic bercampur tembaga.
Terdapat dua jenis IUD yaitu IUD dengan tembaga dan IUD dengan hormon
(dikenal dengan IUS = Intrauterine System). IUD tembaga (copper)
melepaskan partikel tembaga untuk mencegah kehamilan sedangkan IUS
melepaskan hormon progestin (Kusmarjadi, 2010).

Spiral jenis copper T (melepaskan tembaga) mencegah kehamilan dengan cara


menganggu pergerakan sperma untuk mencapai rongga rahim dan dapat
dipakai selama 10 tahun. Progestasert IUD (melepaskan progesteron) hanya
efektif untuk 1 tahun dan dapat digunakan untuk kontrasepsi darurat (ILUNI
FKUI, 2010)
C. Cara kerja IUD
Cara kerja kontrasepasi spiral yaitu:
1. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii
2. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
3. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun
AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan
mengurangi sperma untuk fertilisasi (Muhammad, 2008).

D. Keuntungan
1. Efektivitasnya tinggi  0,6 – 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam tahun
pertama, 1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan.
2. Dapat efektif segera setelah pemasangan.
3. Metode jangka panjang (10 th).
4. Sangat efektif (tidak perlu mengingat-ingat).
5. Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
6. Tidak ada efek samping hormonal.
7. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
8. Dapat dipasang segera setelah melhirkan/sesudah abortus.
9. Dapat digubakan sampai dengan menopause.
10. Tidak ada interaksi dengan obat-obat.
11. Membantu mencegah kehamilan ektopik.

E. Kerugian

1. Efek samping yang umum terjadi :


 Perubahan siklus haid. (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan
berkurang setelah 3 bulan)
 Haid lebih lama dan banyak.
 Perdarahan antar menstruasi (spotting).
 Saat haid lebih sakit
2. Komplikasi lain
 Merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan
 Perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan
penyebab anemia
 Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar)

3. Tidak mencegah IMS.

4. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS/perempuan yang


sering bergantian pasangan.

5. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai


AKDR, PRP dapat memicu infertilitas

6. Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam


pemasangan IUD

7. Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan


IUD. Biasanya menghilang dalam 1 – 2 hari

8. Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas kesehatan
terlatih yang harus melepas AKDR

9. Mungkin IUD keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila
IUD dipasang segera setelah melahirkan)

10. Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi IUD


mencegah kehamilan normal

11. Perempuan harus memeriksa posisi benang IUD dari waktu ke waktu.
F. Indikasi

1. Usia reproduktif

2. Keadaan nulipara

3. Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang


4. Perempuan menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi

5. Setelah melahirkan dan tidak menyusui

6. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi

7. Risiko rendah dari IMS

8. Tidak menghendaki metoda hormonal

9. Tidak menyukai mengingat-ingat minum pil setiap hari

10. Tidak menghendaki kehamilan setelah 1 – 5 hari senggama

11. Perokok

12. Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terluhat adanya
infeksi

13. Gemuk ataupun kurus

14. Penderita tumor jinak payudara

15. Penderita kanker payudara

16. Pusing-pusing, sakit kepala

17. Tekanan darah tinggi

18. Varises di tungkai atau di vulva

19. Diabetes

20. Setelah kehamilan ektopik


G. Kontra indikasi
Yang tidak diperkenankan menggunakan IUD adalah
1. Sedang hamil
2. Perdarahan vagina yang tidak diketahui
3. Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis)
4. Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau
abortus septik
5. Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yangdapat
mempengaruhi kavum uteri
6. Penyakit trofoblas yang ganas
7. Diketahui menderita TBC pelvik
8. Kanker alat genital
9. Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm

H. Waktu Penggunaan
1. Setiap waktu dalam siklus haid (dipastikan tidak hamil).
2. Hari 1 – 7 siklus haid.
3. Segera setelah melahirkan, (48 jam pertama/ 1 bulan pasca salin).
4. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak
ada gejala infeksi
5. Selama 1 – 5 hari setelah senggama tidak terlindungi.

I. Petunjuk Bagi Klien

1. Kembali memeriksakan diri setelah 4 – 6 minggu pasca pemasangan


AKDR.

2. Selama 1 bulan pertama penggunaan AKDR, periksalah benang AKDR


secara rutin terutama setelah haid

3. Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksa keberadaan


benang setelah haid apabila mengalami:
 Kram/kejang perut bagian bawah.
 Perdarahan (spotting) diantara haid/setelah senggama.
 Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak nyaman
selama melakukan hubungan seksual

4. Masa copper T 380A perlu dilepas 10 tahun pemasangan, tetapi dapat


dilakukan lebih awal apabila diinginkan

5. Kembali ke klinik apabila:


 Tidak dapat meraba benang AKDR.
 Merasakan bagian keras dari AKDR.
 Adanya infeksi.
 AKDR terlepas.
 Siklus terganggu.
 Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan
J. Pemasangan IUD
Prosedur sebelum pemasangan
1. Lakukan prosedur asepsis secara ketat selama pemasangan .
2. Lihatlah serviks dengan speculum dan bersihkan dengan larutan antiseptic .
Pegang bibir anterior dengan tenakulum . Menarik tenakulum dengan hati-hati
mengurangi sudut antara kanalis servikalis dan rongga uterus dan memudahkan
pemasangan sonda uterus. Tenakulum harus tetap terpasang sealama
memasang Nova T supaya serviks tetap tertarik.
3. Masukkan sonda uterus melalui kanalis serviks ke dalam rongga uterus
sampai mencapai fundus. Setelah menentukan arah serta panjang kanalis
servikalis dan rongga uterus, siapkan Nova T untuk dipasang.
4. Lakukan pemasangan sesuai langkah 1-6.

 Langkah 1
Setelah uterus diukur, buka separuh dari kemasan .
Pegang kedua ujung benang dan tarik alat secara hati-hati kedalam tabung
insersi sampai knop di ujung lengan horizontal menutupi lubang tabung. Knop
tidak perlu ditarik ke dalam tabung. Benang bisa putus kalaau ditarik terlalu
keras.

 Langkah 2
Luruskan flens berwarna kuning dengan satu tangan, tarik tabung insersi
sampai ujung bawah flens menunjukkan ukuran yang didapat dari sonda uterus.
Pegang benang lurus di dalam tabung dengan satu tangan, masukkan plunger
(alat penghisap) ke dalam tabung insersi. Ini untuk memastikan bahwa benang
tidak tertekan pada alat oleh plunger.
Sebelum dipasang, tabungg dapat ditekuk untuk disesuaikan dengan posisi
uterus. Tetukan harus dilakukan ketika alat masih berada dalam kemasan steril
setelah memasukkan plunger kedalam tabung insersi.

 Langkah 3
Pastikan bahwa flens menunjukkan arah lengan horizontal akan membuka di
dalam uterus.
Keluarkan tabung insersi yang telah terisi dari kemasan .
Masukkan tabung insersi ke dalam uterus melalui kanalis servikalis sampai
flens menyentuh os servikal.

 Langkah 4
Perhatikan bagian plunger yang kasar. Pegang plunger dengan erat dan
lepaskan lengan horizontal dari alat dengan menarik tabung insersi ke bawah
sampai ujungnya menyentuh bagian yang kasar.
Jarak antara flens dan os servikal sekarang sekitar 1,5 cm.

 Langkah 5
Pegang tabung dan plunger secara bersamaan, tekan alat secara hati- hati
sampai flens menyentuh os servikal lagi.

 Langkah 6
Pegang plunger dengan erat, keluarkan alat dari tabung insersi seluruhnya
dengan menarik tabung ke bawah sampai cincin dari plunger.
Supaya alat tidak bergeser dari posisi fundus, pertama-tama lepaskan plunger
sambil terus menahan tabung insersi, kemudian keluakan tabung insersi.
Gunting benang sampai tersisa 2-3 cm terlihat di luar serviks.
K. Cara pelepasan IUD

1. Petugas harus siap ditempat

2. Harus ada permintaan dan persetujuan dari calon peserta.

3. Ruang pemeriksaan yang tertutup, bersih, dan cukup ventilasi.

4. Alat-alat yang harus tersedia lengkap sesuai dengan standart yang


ditentukan :
 Meja dengan alas duk steril.
 Sarung tangan kanan dan kiri
 Lidi kapas, kapas first aid secukupnya.
 Cocor bebek / speculum
 Tampon tang
 Tutup duk steril
 Bengkok
 Lampu
 Timbangan berat badan
 Tensimeter
 Stetoskop
Langkah-langkah :
1. Memberi penjelasan kepada calon peserta mengenai keuntungan, efek
samping dan cara menanggulangi efek samping.
2. Melaksanakan anamnese umum, keluarga, media dan kebidanan.
3. Melaksanakan pemeriksaan umum meliputi timbang badan, mengukur
tensimeter.
4. Siapkan alat-alat yang diperlukan.
5. Mempersilakan calon peserta untuk berbaring di bed gynaecologi dengan
posisi Lithomi.
6. Bersihkan vagina dengan Lysol
7. Melaksanakan pemeriksaan dalam untuk menentukan keadaan dan posisi
uterus.
8. Pasang speculum sym.
9. Mencari benang IUD kemudian dilepas dengan tampon tang
10. Setelah IUD berhasil dilepas, alat-alat dibereskan
11. Pasien dirapikan kembali
12. Memberi penjelasan kepada peserta gejala-gejala yang mungkin terjadi /
dialami setelah AKDR dilepas dan kapan harus control
13. Menyerahkan nota pelayanan dan menerima pembayaran sesuai dengan
nota
14. Mencatat data pelayanan dalam kartu dan buku catatan, register KB untuk
dilaporkan ke bagian Rekam Medik (Imbarwati, 2009).
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, kesimpulan umum yang dapat diambil tentang
AKDR/IUD adalah sebagai berikut :
 AKDR merupakan alat kontrasepsi modern
 AKDR merupakan alat kontrasepsi jangka panjang
 AKDR bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan yang benar
 AKDR dapat keluar dari uterus secara spontan, khususnya selama
beberapa bulan pertama
 Kemungkinan terjadi perdarahan atau spoting beberapa hari setelah
pemasangan
 Perdarahan menstruasi biasanya akan lebih banyak dan lama
 AKDR tidak melindungi diri terhadap IMS termasuk Virus AIDS
B. Saran
1. Bagi pengguna alat kontrasepsi AKDR
Pengguna hendaknya mengetahui terlebih dahulu alat kontrasepsi yang akan di
pakai dengan cara bertanya hal yang ingin diketahui ke tenaga kesehatan.

2. Bagi tenaga kesehatan


a. Sebagai tenaga kesehatan hendaknya meningkatkan keterampilannya
memasang AKDR yang baik dan sesuai prosedur.
b. Sebelum memasang AKDR pada klien jangan lupa untuk melakukan
infomconsent pada klien
3. Bila Anda ingin menghentikan pemakaian spiral, segera kunjungi pekerja
kesehatan yang memasangnya, atau yang terlatih. Jangan mencoba
mencopot spiral sendiri di rumah
DAFTAR PERTANYAAN DARI KELOMPOK LAIN :

1. Rafeyfa Asila
Apakah ada dampak jika ada sisa patahan IUD dalam rahim ibu yang
menggunakannnya,jika ada jelaskan bagiaman cara menanganinya?
Jawab : Yang terjadi pada ibu adalah yang disebut sebagai infertilitas sekunder.
Kalau mau hamil (lagi) ya diperiksa sama seperti pemeriksaan kemandulan yaitu
analisis sperma, siklus haid, USG (kalau2 ada massa yg menekan kavum uteri
atau tuba), HSG dan kadar progesteron. Patahan IUD-nya tidak perlu diangkat,
karena terbuat dari bahan plastik yang tidak menimbulkan reaksi apa-apa di
dalam badan dan terbuat dari bahan inert artinya tdk aktif. Kalaupun yg ada
tembaganya tdk masalah cuma tdk ada efek kontrasepsi saja. Isi tembaganya
sdh habis, makanya kalau KB normal kan ada jangka waktu harus diganti kalau
tidak bisa hamil, itu sebabnya, bukan karena bahaya.

2. Linda Reza Riski


Jelaskan bagaimana proses pemasangan IUD yang bisa mencegah
kehamilan ektopik?
Jawab : Mohon maaf disni pertanyaan saudari Linda melenceng sedikit
dari materi mungkin ini juga kesalahan dari kami yang membuat Power
Point yang kurang memerhatikan,jadi kb IUD tidak bisa mencegah
kehamilan ektopik tetapi hanya h kehamilan normal (menghambat
masuknya sperma ke tubafalopii)
3. Hamra
Kenapa setelah di pasangi IUD selalu keluar darah / flek tetapi diluar
waktu haid? Apakah itu normal:
Jawab : Itu adalah hal yang normal bagi pengguna kb IUD termasuk hal yang
wajar bagi rahim melakukan proses adaptasi karena ada ‘benda baru’ di
dalamnya. Masa proses adaptasinya berbeda-beda pada setiap akseptor.
Biasanya adaptasi ini ditandai dengan keluarnya bercak darah atau kadang juga
flek. Dan itu terjadi di luar waktu haid yang biasa terjadi. Jadi , anda tidak perlu
khawatir dengan kejadian tersebut. kecuali jika flek atau bercak darahnya sudah
sangat banyak, di sarankan coba konsultasikan saja ke dokter untuk dilakukan
pemeriksaan kondisi rahim.
DAFTAR PUSTAKA
 Prawirohardjo Sarwono. 2010. Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal.
Yayasan Bina Pustaka : Jakarta.

 BKKBN. 2003. Kamus Istilah Kependudukan, KB dan Keluarga Sejahtera.


Jakarta : BKKBN.

 ILUNI FKUI. 2010. Keluarga Berencana

 Imbarwati. 2009. Beberapa Faktor yang Berkaitan dengan Penggunaan KB


IUD Pada Peserta KB Non IUD

 Maryani, Heti. 2004. Cara Tepat Memilih Alat Kontrasepsi Keluarga


Berencana Bagi Wanita, (internet). 5th October.

 Kusmarjadi, Didi. 2010. KB IUD

 Riswindarto http://pendidikan-dan-kesehatan.blogspot.com/2012/05/makalah-
pelayanan-kb-iud.html Diakses tanggal 28 Maret 2013 Pukul 14.00 WIB