Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

LANDASAN SOSIOLOGIS PENDIDIKAN

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Landasan Pendidikan

Disusun Oleh Kelompok 7 (2-C)

Anggota :

Anita Martiana (1608711)

Laila Nur Fitria (1608771)

Shafira Qurratunainy (1608820)

Tata Santika (1608828)

Tita Octaviani (1608830)

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

PRODI DIII KEPERAWATAN

Jl. Mayor Abdurahman No.211, Kotakaler, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Jawa
Barat 45621
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Swt. berkat rahmat-Nya kita dapat
menyelesaikan makalah ini. Serta salam semooga tercurah limpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW.
Makalah berjudul "Landasan Sosiologis Pendidikan" ini disusun untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Landasan Pendidikan. Dalam penyusunannya, kami banyak memperoleh
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami sebagai penyusun mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang sudah membantu dalam penyusunan makalah.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih ada berbagai kesalahan. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan kepada kita
semua. Aamiin yarabal alamin..

Sumedang, Februari 2018


DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana


belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian , kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (Undang-
undang Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Manusia hakikatnya adalah makhluk bermasyarakat dan berbudaya, dan
masyarakat menuntut setiap individu mampu hidup demikian. Namun karena manusia
tidak secara otomatis mampu hidup bermasyarakat dan berbudaya, maka masyarakat
melakukan pendidikan atau sosialisi (socialization) dan atau enkulturasi
(enculturation). Dengan demikian diharapkan setiap individu mampu hidup
bermasyarakat dan berbudaya sehingga tidak terjadi penyimpangan tingkah laku
terhadap sistem nilai dan norma masyarakat. (Drs. Babang Robandi, M.Pd.
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA.
2005).

B. Tujuan Penulisan
Dalam pembuatan makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami tentang :
1. Landasan Sosiologis Pendidikan
2. Teori Sosiologis Pendidikan
3. Pengertian Sosiologis Pendidikan
4. Dalil Sosiologis Pendidikan
5. Hukum Sosiologis Pendidikan
6. Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
C. Manfaat Penulisan
Memahami tentang Sosiologis dalam pendidikan. Selain itu dapat ,megetahui
bagaimana pendidikan dan sosial saling berkaitan satu sama lain.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

1. Konsep Landasan Sosiologi Pendidikan

Masyarakat di definisikan sebagai setiap kelompok manusia yang telah hidup dan
bekerjasama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka sebagai satu
kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. (Ralph Linton).
Di dalam masyarakat terdapat struktur sosial, dan dalam struktur sosial tersebut
setiap individu menduduki status dan peranan tertentu. Dalam rangka memenuhi
kebutuhan atau untuk mencapai tujuannya, setiap indivdu maupun kelompok melakukan
interaksi sosial, adapun dalam interaksi sosialnya mereka melakukan tindakan sosial.
Tindakan sosial yang dilakukan individu hendaknya sesuai dengan status dan
perananya yang mengacu pada sistem nilai dan norma yang berlaku di dalam masyarakat,
atau secara umum harus sesuai dengan kebudayaan pada masyarakatnya. Masyarakat
menuntut demikian agar terjadi conformity. Jika tidak seperti itu, idividu akan dipandang
melakukan penyimpangan tingkah laku terhadap nilai dan norma masyarakat (deviant
behavior).
Manusia hakikatnya adalah makhluk bermasyarakat dan berbudaya, dan masyarakat
menuntut setiap individu mampu hidup demikian. Namun karena manusia tidak secara
otomatis mampu hidup bermasyarakat dan berbudaya, maka masyarakat melakukan
pendidikan atau sosialisi (socialization) dan atau enkulturasi (enculturation).
Dengan demikian diharapkan setiap individu mampu hidup bermasyarakat dan berbudaya
sehingga tidak terjadi penyimpangan tingkah laku terhadap sistem nilai dan norma
masyarakat.
Berbagai pandangan atau teori antropologi dan sosiologi yang menggambarkan fungsi
atau peranan pendidikan dalam hubungannya dengan masyarakat dan kebudayaannya
antara lain: pandangan Superorganik dan Konseptualis (antropologi); sedangkan teori
sosiologis meliputi : teori Struktural Fungsional, Konflik, Interaksi Simbolik, dan teori
Labeling.
2. Teori Landasan Sosiologis Pendidikan

Sejak manusia lahir, ia sudah belajar tentang berbagai hubungan manusia


yang satu dengan yang lainnya di masyarakat. Hubungan itu dimulai dari keluarga
sampai ke lingkungan sekitarnya. Didalam hubungan sosial terdapat proses
pengenalan yang mencakup budaya, nilai, norma yang berbeda, sehingga timbul
berbagai ragam kehidupan masyarakat dan berbagai permasalahan yang berbeda.
Pada abad ke-19 terjadi perubahan sosial yang sangat cepat dikarenakan
adanya revolusi industri di Negara Inggris. Sehingga timbul pencetus studi baru
tentang Sosiologi Pendidikan, gagasan itu timbul dengan ide tentang evolusi sosial
yang realistik dan memimpin perencanaan kehidupan pemerintahan. (Vembrianto,
1993).
Sosiologi pendidikan adalah suatu disiplin ilmu yang belum banyak
berkembang. Atas dasar tersebut menimbulkan beberapa kecenderungan yang berbeda
pada para ahli Sosiologi Pendidikan, diantaranya :
a. Golongan yang terlalu menitikberatkan pandangan pendidikan daripada
sosiologinya.
b. Golongan applied educational, terdiri dari ahli sosiologi yang
memberikan dasar pengertian sosio kultural untuk pendidikan.
c. Golongan yang terutama menitikberatkan pada pandangan teoritik.

Teori-teori Sosiologi :

a. Teori Struktural Fungsional


Salah satu teori komunikasi yang masuk kedalam kelompok teori
umum atau general theories (Littlejohn, 1999). Ciri-ciri teori ini adalah
adanya kepercayaan pandangan tentang berfungsinya secara nyata struktur
yang berada diluar diri pengamat.
b. Teori Konflik
Teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui
proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat
adanya konflik yang menghasilkan kompromi yang berbeda dengan kondisi
semula dan didasarkan pada pemilikan sarana-sarana produksi sebagai unsur
pokok pemisahan kelas dalam masyarakat.

c. Teori Fenomenologi
Memahami makna atau peristiwa serta interaksi pada orang-orang
biasa dalam situasi tertentu. Pendekatan ini menghendaki adanya sejumlah
asumsi yang berlainan dengan cara yang digunakan untuk mendekati perilaku
orang dengan maksud menemukan "fakta" atau "penyebab".
d. Teori Interaksi Simbol
Titik tolak pemikiran interaksi simbolik berasumsi bahwa realitas
sosial sebagai proses dan bukan suatu yang bersifat statis. Masyarakat
dipandang sebagai individu-individu yang ada didalamnya
e. Teori Labeling
Bisa juga disebut sebagai penjulukan/pemberian cap. Menurut Lemert
(dalam Sunart, 2004) Teori Labeling adalah penyimpangan yang disebabkan
oleh pemberian cap atau label dari masyarakat kepada seseorang yang
kemuadian cenderung akan melanjutkan penyimpangan tersebut.

2.1 Pengertian Landasan Sosiologis Pendidikan

Landasan sosiologis pendidikan adalah acuan atau asumsi dalam penerapan


pendidikan yang bertolak pada interaksi antar dua individu (pendidik dan peserta
didik). Bahkan dua generasi yang memungkinkan generasi muda untuk
mengembangkan diri. Pengembangan diri tersebut dilakukan dalam kegiatan
pendidikan. Oleh karena itu, kegiatan pendidikan dapat berlangsung di lingkungan
keluarga, tempat menimba ilmu dan masyarakat.
Terdapat hubungan antara pendidikan dengan masyarakat dan kebudayaannya.
Kebudayaan menentukan arah, isi dan proses pendidikan. Sedangkan pendidikan
memiliki fungsi konservasi dan fungsi kreasi (perubahan, inovasi) bagi masyarakat
dan kebudayaannya.
Pendidikan keluarga sangatlah penting, karena keluarga merupakan lembaga
sosial yang pertama bagi setiap manusia. Proses sosialisasi dimulai dari keluarga
dimana anak mulai mengembangkan diri. Dalam keluarga itulah dimulai tanamkan
nilai dan sikap yang dapat mempengaruhi perkembangan anak. Nilai-nilai agama,
nilai-nilai moral, budaya dan keterampilan perlu dikembangkan dalam pendidikan
keluarga.

2.2 Dalil Sosiologis Pendidikan

Para sosiolog meyakini bahwa keluarga memiliki peran penting dalam


menentukan kemajuan suatu bangsa, sehingga mereka berteori bahwa keluarga adalah
unit yang penting sekali dalam masyarakat, Oleh karena itu para sosiolog yakin,
segala macam kebobrokan masyarakat merupakan akibat lemahnya institusi keluarga.
Keluarga merupakan tempat yang paling awal dan efektif untuk menjalankan
fungsi departemen kesehatan , pendidikan adan kesejahteraan. Jika keluarga gagal
untuk megajarkan kejujuran, semangat, keinginan untuk menjadi yang terbaik, dan
menguasai kemampuan- kemampuan dasar, maka akan sulit sekali bagoi institusi lain
untuk memperbaiki kegagalannya. Karena kagagalan keluarga dalam membentuk
karakter anak akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang berkarakter buruk
atau tidak berkarakter.
Oleh karena itu setiap keluarga harus memiliki kesadaran bahwa karakter
bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak di rumah.Dalampendidikan
Islam agar anak menjadi pribadi yang shaleh, taat beragama perintah pertama
Rasulullah adalah menyayangi sang anak, menampakkan wajah segirang kepada
anak-anaknya. Sebagainya sabda Rasul, yang artinya “Ya Allah sayangilah keduanya,
karena sesungguhnya aku menyayangi keduanya” (HR. Bukhari).
Orang tua sebagai pendidikan di rumah tangga adalah:
a. Membiasakan anak supaya mengingat keagungan dan nikmat Allah swt serta
menunjukkan dalil-dalil agama.
b. Menampakkan keteguhan sikap di hadapan anak dalam menghadapi berbagai
bencana.
c. Di dalam keluarga harus terjalin interaksi yang Islami, kondusif, suami-istri
tidak tengkar.
d. Menerapkan budaya yang Islami, seperti membaca al-qur’an, shalat berjamat
dan sebagainya.
Dalam kehidupan masyarakat pendidikan Islam memandang bahwa
masyarakat muslim itu satu ikatan dan satu kehidupan. Ini didasarkan pada hadits
Rasulullah: “engkau melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai dan
menyayanginya seperti satu tubuh; jika salah satu anggotanya terserang penyakit
maka seluruh tubuh akan tidak dapat tidun dan merasa deman”.
Hadits ini mengabarkan kepada sesama umat muslim untuk saling membantu.
Implikasi edukatifnya mewajibkan masyarakan untuk membantu saudara seagama
yang miskin agar bisa mengenyam pendidikan juga. Bukan sebaliknya, malah
melecehkan mereka dan memandang mereka sebelah mata.
Allah berfirman di dalam al-Qur’an: “… dan janganlah sekali-kali
kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-
menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”.
Berdasarkan ayat di atas, pendidikan Islam hendak mengenyampingkan rasa
egois dan acuh terhadap kaum lemah. Pendidikan bukan hanya milik mereka yang
kaya, yang ber IQ tinggi melainkan juga milik segenap manusia. Konsep pendidiakan
Islam selanjutanya adalah tolong menologn antara sesama manusia. Mereka yang
terpuruk pendidikan lantaran persoalan ekonomi harus diangkis bareng-bareng oleh
masyarakat yang lebih mampu.

3. Hukum Sosiologis Pendidikan

3.1 UU Nomor 20 Tahun 2003

Dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional


penyelenggaraan pendidikan wajib memegang beberapa prinsip , yakni pendidikan
diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan
menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan
kemajemukan bangsa dengan satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan
multimakna. Selain itu dalam penyelenggaraan juga harus dalam suatu proses
pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang
hayat dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan
kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran melalui mengembangkan budaya
membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat memberdayakan
semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan
pengendalian mutu layanan pendidikan.
Dalam undang-undang pasal 1 ini yang dimaksud dengan:
1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
2. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan
Undang - 2 Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap
terhadap tuntutan perubahan zaman.
3. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang
saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
4. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan
jenis pendidikan tertentu.
5. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan
diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
6. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen,
konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan
sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam
menyelenggarakan pendidikan.
7. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk
mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai
dengan tujuan pendidikan.
8. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan
tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan
kemampuan yang dikembangkan.
9. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan
pendidikan suatu satuan pendidikan.
10. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal
pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.
11. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang
yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan
tinggi.
12. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang
dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
13. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
14. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan
kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan
melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam
memasuki pendidikan lebih lanjut.
15. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari
pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui
teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.
16. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan
berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat
sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat.
17. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem
pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
18. Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh
warga negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah
daerah.
19. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,
dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu
20. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
21. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan
penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada
setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk
pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.
22. Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan
pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
23. Sumber daya pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam
penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat,
dana, sarana, dan prasarana.
24. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai
unsur masyarakat yang peduli pendidikan. 3
25. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang
tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli
pendidikan.
26. Warga negara adalah warga negara Indonesia baik yang tinggal di wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun di luar wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
27. Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia nonpemerintah yang
mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.
28. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.
29. Pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, atau
pemerintah kota.
30. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan
nasional.

3.2 UU Nomor 14 Tahun 2005 (pasal 1)

Adapula di UUD Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, di pasal 1 yang
berbunyi :

1. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,


membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah.
2. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama
mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan
pengabdian kepada masyarakat.
3. Guru besar atau profesor yang selanjutnya disebut profesor adalah jabatan
fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan
pendidikan tinggi.
4. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan
menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian,
kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu
serta memerlukan pendidikan profesi.
5. Penyelenggara pendidikan adalah Pemerintah, pemerintah daerah, atau
masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur pendidikan formal.
6. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan pada jalur pendidikan formal dalam setiap
jenjang dan jenis pendidikan.
7. Perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama adalah perjanjian tertulis
antara guru atau dosen dengan penyelenggara pendidikan atau satuan
pendidikan yang memuat syarat-syarat kerja serta hak dan kewajiban para
pihak dengan prinsip kesetaraan dan kesejawatan berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
8. Pemutusan hubungan kerja atau pemberhentian kerja adalah pengakhiran
perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama guru atau dosen karena
sesuatu hal yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara guru
atau dosen dan penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
9. Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus
dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan
pendidikan formal di tempat penugasan.
10.Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang
harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan.
11.Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen.
12.Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan
kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional.
13.Organisasi profesi guru adalah perkumpulan yang berbadan hukum yang
didirikan dan diurus oleh guru untuk mengembangkan profesionalitas guru.
14.Lembaga pendidikan tenaga kependidikan adalah perguruan tinggi yang diberi
tugas oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan program pengadaan guru pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau
pendidikan menengah, serta untuk menyelenggarakan dan mengembangkan
ilmu kependidikan dan nonkependidikan.
15.Gaji adalah hak yang diterima oleh guru atau dosen atas pekerjaannya dari
penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan dalam bentuk finansial
secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
16.. Penghasilan adalah hak yang diterima oleh guru atau dosen dalam bentuk
finansial sebagai imbalan melaksanakan tugas keprofesionalan yang
ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi dan mencerminkan
martabat guru atau dosen sebagai pendidik profesional.
17.Daerah khusus adalah daerah yang terpencil atau terbelakang; daerah dengan
kondisi masyarakat adat yang terpencil; daerah perbatasan dengan negara lain;
daerah yang mengalami bencana alam, bencana sosial, atau daerah yang
berada dalam keadaan darurat lain.
18.Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia nonpemerintah yang
mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.
19.Pemerintah adalah pemerintah pusat.
20.Pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, atau
pemerintah kota.
21.Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan dalam bidang
pendidikan nasional.

4. Ruang Lingkup dan Fungsi Sosiologi Pendidikan

Para ahli Sosiologi dan ahli Pendidikan sepakat bahwa, sesuai dengan
namanya, Sosiologi Pendidikan atau Sociology of Education (juga Educational
Sociology) adalah cabang ilmu Sosiologi, yang pengkajiannya diperlukan oleh
professional dibidang pendidikan (calon guru, para guru, dan pemikir
pendidikan) dan para mahasisiwa serta professional sosiologi.
Mengenai ruang lingkup Sosiologi Pendidikan, Brookover
mengemukakan adanya empat pokok bahasan berikut:

1. Hubungan sistem pendidikan dengan sistem social lain


2. Hubungan sekolah dengan komunitas sekitar,
3. Hubungan antar manusia dalam sistem pendidikan
4. Pengaruh sekolah terhadap perilaku anak didik (Rochman Natawidjaja,
et. Al., 2007: 81).
Sosiologi Pendidikan diharapkan mampu memberikan rekomendasi
mengenai bagaimana harapan dan tuntutan masyarakat mengenai isi dan proses
pendidikan itu, atau bagaimana sebaiknya pendidikan itu berlangsung menurut
kacamata kepentingan masyarakat, baik pada level nasional maupun lokal.

Sosiologi Pendidikan secara operasional dapat defenisi sebagai cabang


sosiologi yang memusatkan perhatian pada mempelajari hubungan antara
pranata pendidikan dengan pranata kehidupan lain, antara unit pendidikan
dengan komunitas sekitar, interaksi social antara orang-orang dalam satu unit
pendidikan, dan dampak pendidikan pada kehidupan peserta didik (Rochman
Natawidjaja, et. Al., 2007: 82).

Sebagaimana ilmu pengetahuan pada umumnya, Sosiologi Pendidikan


dituntut melakukan tiga fungsi pokok, yaitu :

1. Fungsi eksplanasi, yaitu menjelaskan atau memberikan pemahaman


tentang fenomena yang termasuk ke dalam ruang lingkup
pembahasannya. Untuk diperlukan konsep-konsep, proposisi-proposisi
mulai dari yang bercorak generalisasi empirik sampai dalil dan hukum-
hukum yang mantap, data dan informasi mengenai hasil penelitian
lapangan yang actual, baik dari lingkungan sendiri maupun dari
lingkungan lain, serta informasi tentang masalah dan tantangan yang
dihadapi. Dengan informasi yang lengkap dan akurat, komunikan akan
memperoleh pemahaman dan wawasan yang baik dan akan dapat
menafsirkan fenomena – fenomena yang dihadapi secara akurat.
Penjelasan-penjelasan itu bisa disampaikan melalui berbagai media
komunikasi.
2. Fungsi prediksi, yaitu meramalkan kondisi dan permasalahan
pendidikan yang diperkirakan akan muncul pada masa yang akan datang.
Sejalan dengan itu, tuntutan masyarakat akan berubah dan berkembang
akibat bekerjanya faktor-faktor internal dan eksternal yang masuk ke
dalam masyarakat melalui berbagai media komunikasi. Fungsi prediksi
ini amat diperlukan dalam perencanaan pengembangan pendidikan guna
mengantisipasi kondisi dan tantangan baru.
3. Fungsi utilisasi, yaitu menangani permasalahan-permasalahan yang
dihadapi dalam kehidupan masyarakat seperti masalah lapangan kerja
dan pengangguran, konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan lain-lain
yang memerlukan dukungan pendidikan, dan masalah penyelenggaraan
pendidikan sendiri.

Jadi, secara umum Sosiologi Pendidikan bertujuan untuk


mengembangkan fungsi-fungsinya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman
eksplanasi, prediksi, dan utilisasi) melalui pengkajian tentang keterkaitan
fenomena-fenomena siosial dan pendidikan, dalam rangka mencari model-
model pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan masyarakat. Secara
khusus, Sosiologi Pendidikan berusaha untuk menghimpun data dan informasi
tentang interaksi sosial di antara orang-orang yang terlibat dalam institusi
pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik, tentang hubungan antara
lembaga pendidikan dan komunitas sekitarnya, dan tentang hubungan antara
pendidikan dengan pranata kehidupan lain.
BAB III

IMPLEMENTASI DALAM PENDIDIKAN INDONESIA

Mempelajari sosiologi akan semakin terasa manfaatnya apabila ilmu


pengetahuan dalam sosiologi itu dapat dikaji dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-
hari. Bentuk – bentuk penerapan dari berbagai pengetahuan sosiologi itu bisa dalam
banyak bidang kehidupan kita, antara lain sebagai berikut :
1. Penerapan Pengetahuan Sosiologi dalam Interaksi Sosial
Dalam kajian sosiologi, interaksi sosial merupakan bentuk hubungan
dan pengaruh timbal balik antar manusia, baik secara individual maupun secara
kelompok. Dalam melaksanakan interaksi sosial sebagai perwujudan peran
sosial yang kita miliki harus didasarkan pada nilai dan norma yang berlaku
dalam masyarakat. Oleh karena itu, penerapan sosiologi dalam interaksi sosial
perlu dilakukan karena adanya bentuk - bentuk nyata dari interaksi sosial
berikut ini :
a. Interaksi di dalam keluarga harus memerhatikan norma - norma keluarga
dan kekerabatan.
b. Interaksi dalam lingkungan masyarakat berpedoman pada adat dan istiadat
dan sistem norma yang berlaku.
c. Interaksi dalam lingkungan kedinasan (bagi para pegawai /karyawan) harus
memerhatikan norma – norma hukum yang berlaku.
d. Interaksi sosial dalam masyarakat luas juga harus memerhatikan sistem tata
kelakuan dan hubungan yang berlaku dalam kalangan masyarakat luas
tersebut.
Penerapan pengetahuan sosiologi tentang interaksi dan peran sosial dapat
membantu keberhasilan seseorang menjalankan peran sosialnya berhubungan dengan
anggota masyarakat yang lain. Misalnya, seseorang yang memerhatikan kaidah atau
norma yang menjadi aturan di tempat kerjanya, maka ia akan diterima baik sebagai
anggota dari mereka yang berada di lingkungan kerja tersebut.
2. Penerapan Pengetahuan Sosiologi dalam Proses Sosialisasi dan Pembentukan
Kepribadian
Sebagaimana kita ketahui bahwa proses sosialisasi itu berlansung
sepanjang hidup dan akan terus berpengaruh terhadap corak kepribadian
individu. Bertolak dari hal tersebut, maka sebaiknya proses sosialisasi bagi
seorang anak harus diperhatikan secara baik agar tidak menyerap nilai – nilai
perilaku yang menyimpang dalam proses sosialisasi yang dilakukannya. Ini
berarti bahwa tindakan antisipasi dalam proses sosialisasi mutlak diperlukan
bagi orang tua maupun pendidik untuk mengawasi perkembangan kepribadian
bagi anak/anak didiknya. Penerapan pengetahuan sosiologi tentang proses
sosialisasi dan pembentukan kepribadian membantu seseorang untuk memahami
bagaimana ia harus bersosialisasi dalam masyarakat agar mempunyai
kepribadian yang baik.

3. Penerapan Pengetahuan Sosiologi tentang Nilai dan Norma


Nilai dan norma pada dasarnya merupakan perangkat pengatur aktivitas
individu dalam masyarakat. Tiap – tiap masyarakat yang memiliki struktur
budaya tertentu akan memiliki sistem nilai dan norma yang berbeda pula.
Dengan demikian, nilai dan norma dari suatu masyarakat tidak dapat dipaksakan
untuk diberlakukan pada daerah lain yang mempunyai struktur budaya yang
berbeda. Misalnya, kebiasaan bersalaman dan mencium tangan orang yang lebih
tua di masyarakat Jawa akan menjadikan anak tersebut sebagai anak yang tahu
bertata krama. Penerapan pengetahuan sosiologi tentang nilai dan norma sosial
dapat membantu keberhasilan seseorang dalam kedudukannya sebagai anggota
masyarakat dalam struktur sosial dimana ia berada.

4. Penerapan Pengetahuan Sosiologi tentang Perilaku Menyimpang dan


Pengendalian Sosial
Perilaku menyimpang merupakan fenomena sosial yang selalu terjadi di
masyarakat. Apabila prilaku menyimpang terjadi dalam jumlah dan skala yang
besar, maka keamanan dan ketertiban masyarakat dapat terganggu. Oleh karena
itu, diperlukan langkah-langkah sosial. Langkah langkah tersebut dinamakan
pengendalian sosial. Pengendalian sosial ini dapat dilakukan dengan berbagai
macam cara, sesuai dengan tingkat dan jenis penyimpangan perilaku yang
dilakukan. Pengetahuan sosiologi tentang munculnya perilaku menyimpang
yang dapat mengganggu keteraturan sosial akan memberikan pengetahuan
tentang upaya pengendalian sosial. Upaya pengendalian sosial diciptakan agar
keteraturan sosial dapat dibangun dan terus terjaga didalam masyarakat.
Misalnya, banyaknya penyalahgunaan narkotika dikalangan remaja. Akibat
yang ditimbulkan dari tindakan ini yaitu ketidakstabilan fisik dan mental,
bahkan gengguan ketenangan umum. Oleh karena itu, dapat diupayakan
pengendalian sosial dengan cara memberikan penyuluhan dan meningkatkan
kesigapan aparat penegak hukum dalam mewujudkan keteraturan sosial.

5. Penerapan Pengetahuan Sosiologi dalam Penyesuaian terhadap Perubahan


Sosial
Perubahan sosial adalah sesuatu yang pasti terjadi pada setiap
masyarakat, tidak ada satu masyarakat pun yang berhenti dari perubahan dan
dinamika. Namun, harus dimengerti bahwa tidak selamanya perubahan sosial
yang terjadi dalam masyarakat itu mengarah pada perbaikan dan
penyempurnaan kualitas hidup. Adakalanya justru sebaliknya. Pada setiap
perubahan sosial pasti ada pihak-pihak yang diuntungkan dan ada pihak-pihak
yang dirugikan. Untuk menerapkan pengetahuan tentang perubahan sosial dapat
dilakukan dengan memerhatikan hal-hal berikut ini.
a. Apabila kita berkedudukan sebagai pemimpin atau sebagai agen
perubahan sosial (agent of change), yaitu pihak yang menghendaki
perubahan, maka setiap kali merencanakan suatu perubahan harus
mempertimbangkan matang-matang hasil atau pengaruh perubahan
tersebut. Sedapat mungkin, perubahan yang terjadi dapat memperbaiki
suasana serta lebih banyak menguntungkan masyarakat luas daripada
justru memunculkan kegelisahan dan penderitaan.
b. Apabila bertindak sebagai member of change, yaitu pihak yang dikenal
proses perubahan, maka kita harus berhati-hati untuk menentukan sikap
apakah kita mengikuti perubahan atau menentang arus perubahan. Apabila
perubahan yang terjadi itu menguntungkan, maka sebaiknya kita
mengikuti arus perubahan itu dengan baik sehingga tidak menjadi bagian
dari pihak yang dirugikan. Sebaliknya, apabila perubahan itu bersifat tidak
menguntungkan, maka sebaiknya kita berada pada posisi defensif, artinya
lebih bersifat melihat dan menunggu, mencari peluang-peluang yang lebih
baik untuk menghindari perubahan itu.
BAB IV

KESIMPULAN

Secara umum Sosiologi Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsi-


fungsinya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, dan utilisasi)
melalui pengkajian tentang keterkaitan fenomena-fenomena siosial dan pendidikan,
dalam rangka mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan
masyarakat.
Secara khusus, Sosiologi Pendidikan berusaha untuk menghimpun data dan
informasi tentang interaksi sosial di antara orang-orang yang terlibat dalam institusi
pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik, tentang hubungan antara lembaga
pendidikan dan komunitas sekitarnya, dan tentang hubungan antara pendidikan dengan
pranata kehidupan lain.
DAFTAR PUSTAKA

Adiwikarta, Sudardja, (1988), Sosiologi Pendidikan, Isyu dan Hipotesis tentang


Hubungan Pendidikan dan Masyarakat, P2LPTK Dirjen Dikti Depdikbud,
Jakarta.

Drs. Babang Robandi, M.Pd. Program Akta Mengajar Iv Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia.2005.

Kamanto, Sunarto, (1993), Pengantar Sosiologi, Lembaga Penerbitan Fakultas Ilmu


Ekonomi Universitas Indonesia.

Manan, Imran, (1989), Dasar-Dasar Sosial Budaya Pendidikan, P2LPTK Dirjen Dikti
depdikbud, Jakarta