Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS

Dosen Pengampu :
1. Maliha Amin, SKM, M.Kes
2. Rehana, S.Pd, S.Kep, M.Kes

Tingkat : I.B
Kelompok : 6 (Enam)
Disusun oleh :
1. Dezvy Ramadhani
2. Faris Juliansyah
3. Gressela Monica
4. Indah Wahyuni

Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Palembang


Tahun 2016-2017
A.Konsep Keperawatan Komunitas
Keperawatan komunitas adalah suatu sintesa ilmu dan praktik kesehatan
masyarakat, yang diimplementasikan melalui penggunaan proses keperawatan
yang sistematis, dirancang untuk mempromosikan kesehatan dan mencegah
penyakit pada kelompok populasi (Clark, 1999). Dimana sebagai pelayanan
keperawatan profesional diberikan komprehensif ditujukan kepada individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat yang dipengaruhi oleh lingkuangan (bio,
psiko, sosio, mental dan spiritual) mempengaruhi status kesehatan
masyarakat.Pada praktik keperawatan komunitas itu sendiri rangkaian prosesnya
dimulai dari awal tahap pengkajian sampai evaluasi, dimana diharapkan terjadi
alih peran sehingga peran perawat yang lebih banyak berangsur-angsur berkurang
digantikan meningkatnya kemandirian masyarakat sebagai klien .Terwujudnya
kemandirian masyarakat untuk menyelesaikan masalah kesehatan dapat dicapai
dengan pengorganisasian masyarakat karena peran serta masyarakat didalamnya
akan meningkat oleh karena itu, dalam proses keperawatan komunitas ada tahap-
tahap yang perlu dilaksanakan perawat (Depkes RI, 1993), yaitu:
1. Tahap pesiapan: Memilih area atau daerah yang menjadi prioritas, menentukan
cara untuk berhubungan dengan masyarakat, mempelajari serta bekerjasama
dengan masyarakat.
2. Tahap pengorganisasian;persiapan pembentukan kelompok dan penyesuaian
pola dalam masyarakat dilanjutkan dengan pemilihan ketua kelompok dan
pengurus inti.
3. Tahap pendidikan dan pelatihan kelompok masyarakat: kegiatan pertemuan
teratur dengan kelompok masyarakat, melakukan pengkajian, membuat program
berdasarkan masalah atau diagnosa keperawatan, melatih kader kesehatan yang
akan membina masyarakat dilingkungannya dan pelayanan keperawatan langsung
terhadap individu, keluarga dan masyarakat.
4. Tahap formasi kepemimpinan : memberi dukungan latihan dan pengembangan
keterampilan kepemimpinan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pergerakan, dan pengawasan kegiatan pemeliharaan kesehatan.
5. Tahap koordinasi intersektoral: kerjasama dengan sector terkait dalam upaya
memandirikan masyarakat.
6. Tahap akhir: supervise bertahap, evaluasi serta umpan balik untuk perbaikan
kegiatan kelompok kerja berikutnya.

B. Model Keperawatan Komunitas


Teori keperawatan berkaitan dengan kesehatan masyarakat menjadi acuan dalam
mengembangkan model keperawatan komunitas adalah teori Betty Neuman
(1972) dan Model Keperawatan Comunity as Partner (2000). Model Neuman
memandang klien sebagai sistem yang terdiri dari berbagai elemen meliputi
sebuah struktur dasar, garis kekebalan, garis pertahanan normal dan garis
pertahanan fleksibel (Neuman, 1994). Model intervensi keperawatan yang
dikembangkan oleh Betty Neuman melibatkan kemampuan masyarakat untuk
bertahan atau beradaptasi terhadap stressor yang masuk kedalam garis pertahanan
diri masyarakat. Kondisi kesehatan masyarakat ditentukan oleh kemampuan
masyarakat dalam menghadapi stressor. Intervensi keperawatan dilakukan bila
masyarakat tidak mampu beradaptasi terhadap stressor yang masuk kedalam garis
pertahanan (Clark, 1999).
1. Garis Pertahanan
2. Struktur Dasar
3. kegaris pertahanan
4. Garis pertahanan normal Garis
5. Penetrasi sensor kegaris
6. Pertahanan fleksibel
Dasar pemikiran dalam keperawatan komunitas adalah komunitas adalah sebuah
sistem. Pada awalnya Anderson dan McFarlane(1996) menggunakan model
“comunity as client”. Pada tahun 2000 model disempurnakan menjadi
“community as partner”. Model comunity as partner mempunyai makna sesuai
dengan filosofi PHC, yaitu fokus pada pemberdayaan masyarakat. Model tersebut
membuktikan ada hubungan yang sinergi dan setara antara perawat dan klien.
Pengkajian komunitas mempunyai 2 bagian utama yaitu core dan 8 subsistem.
Pengkajian core/inti adalah core: komunitas, sejarah/riwayat, data demografi, jenis
rumah tangga, vital statistik, value, belief, religion dan status pernikahan.
Pengkajian 8 subsistem komunitas adalah pengkajian fisik, pelayanan kesehatan
dan sosial, ekonomi, keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan,
komunikasi, pendidikan dan rekreasi(Wahit Iqbal Mubarak, 2009). Model
comunity as partner menekankan pada terjadinya stressor yang dapat mengganggu
keseimbangan sistem: pertahanan fleksibel, normal dan resisten. Tehnik
pengumpulan data dalam model tersebut adalah melalui winshield survey
(pengamatan langsung ke masyarakat dengan berkeliling wilayah dan
menggunakan semua panca indra), hasil wawancara, kuesioner dan data
sekunder(data statistik, laporan puskesmas, laporan kelurahan dan lain-lain).

C. Asuhan Keperawatan Komunitas


Pelayanan dalam asuhan keperawatan komunitas sifatnya berkelanjutan dengan
pendekatan proses keperawatan sebagai pedoman dalam upaya menyelesaikan
masalah kesehatan komunitas. Proses keperawatan komunitas meliputi
pengkajian, analisa dan diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi:
1. Pengkajian
Pengkajian komunitas adalah untuk mengidentifikasi faktor (positif dan negatif)
yang berhubungan dengan kesehatan dalam rangka membangun strategi untuk
promosi kesehatan. Dimana menurut model Betty Neuman (Anderson and Mc
Farlane, 2000) yang dikaji meliputi demografi, populasi, nilai keyakinan dan
riwayat kesehatan individu yang dipengaruhi oleh sub system komunitas yang
terdiri dari lingkungan fisik, perumahan, pendidikan, keselamatan dan
transportasi, politik pemerintahan, kesehatan, pelayanan sosial, komunikasi,
ekonomi dan rekreasi. Aspek-aspek tersebut dikaji melalui pengamatan langsung,
data statistik, angket dan wawancara.
2. Analisa dan diagnosa keperawatan komunitas
Data-data yang dihasilkan dari pengkajian kemudian dianalisa seberapa besar
stresor yang mengancam masyarakat dan seberapa berat reaksi yang timbul dalam
masyarakat tersebut. Kemudian dijadikan dasar dalam pembuatan diagnosa atau
masalah keperawatan. Diagnosa keperawatan menurut Muecke (1995) terdiri dari
masalah kesehatan, karakteristik populasi dan lingkungan yang dapat bersifat
aktual, ancaman dan potensial. Prioritas Masalah Komunitas( Ekasari, 2006)
No Masalah Kesehatan
ABCDEFGHIJKL
Keterangan Huruf:
A= sesuai dengan peran CHN
B= sesuai dengan program pemerintah
C= sesuai dengan intervensi pendidikan kesehatan
D= Risiko terjadi
E= Risiko parah
F= Minat masyarakat
G= kemudahan untuk diatasi
H= tempat
I= dana
J= Waktu
K= fasilitas
L= petugas
Keterangan angka:
1=Sangat rendah
2= Rendah
3= Cukup
4= Tinggi
5=Sangat tinggi

3. Perencanaan
Perencanaan merupakan tindakan pencegahan primer, sekunder, tersier yang
cocok dengan kondisi klien (keluarga, masyarakat) yang sesuai dengan diagnosa
yang telah ditetapkan. Proses didalam tahap perencanaan ini meliputi penyusunan,
pengurutan masalah berdasarkan diagnosa komunitas sesuai dengan prioritas
(penapisan masalah), penetapan tujuan dan sasaran, menetapkan strategi
intervensi dan rencana evaluasi.
4. Pelaksanaan (Implementasi)
Pelaksanaan kegiatan komunitas berfokus pada tiga tingkat pencegahan
(Anderson dan Mcfarlene, 1985), yaitu:
a. Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah pencegahan sebelum sakit atau disfungsi dan
diaplikasikan ke populasi sehat pada umumnya, mencakup pada kegiatan
kesehatan secara umum dan perlindungan khusus terhadap suatu penyakit.
Misalnya, kegiatan penyuluhan gizi, imunisasi, stimulasi dan bimbingan dini
dalam kesehatan keluarga.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder adalah kegiatan yang dilakukan pada saat terjadinya
perubahan derajat kesehatan masyarakat dan ditemukannya masalah kesehatan.
Pencegahan sekunder ini menekankan pada diagnosa dini dan inervensi yang tepat
untuk menghambat proses penyakit atau kelainan sehingga memperpendek waktu
sakit dan tingkat keparahan. Misalnya mengkaji dan memberi intervensi segera
terhadap tumbuh kembang anak usia bayi sampai balita.
c. Pencegahan tersier Pencegahan tersier adalah kegiatan yang menekankan pada
pengembalian individu pada tingkat fungsinya secara optimal dari
ketidakmampuan keluarga. Pencegahan ini dimulai ketika terjadinya kecacatan
atau ketidakmampuan yang menetap bertujuan untuk mengembalikan ke fungsi
semula dan menghambat proses penyakit.
5. Evaluasi
Evaluasi perbandingan antara status kesehatan klien dengan hasil yang
diharapkan. Evaluasi terdiri dari tiga yaitu evaluasi struktur, evaluasi proses dan
evaluasi hasil. Tugas dari evaluator adalah melakukan evaluasi, menginterpretasi
data sesuai dengan kriteria evaluasi, menggunakanpenemuan dari evaluasi untuk
membuat keputusan dalam memberikan asuhan keperawatan.
D. Contoh Asuhan Keperawatan Komunitas
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DI RW 01 KELURAHAN
BEKONANG DUKUH MOJOSARI KOTA SUKOHARJO.
Dalam rangka mengaplikasikan ilmu kepearwatan di komunitas dan untuk
menerapkan konsep-konsep dalam memberikan asuhan keperawatan dalam
konteks keperawatan dasar, maka kelompok mendapatkan tugas keperawatan
komunitas di wilayah kelurahan Bekonang, Dukuh Mojosari RW 01 Sukoharjo,
mulai tanggal 07 Juni 2013.
Tahap kegiatan, kelompok kerja komunitas yang akan dilaporkan meliputi tahap-
tahap sebagai berikut : pengkajian, Intervensi, Implementasi dan evaluasi serta
rencana tindak lanjut.
I. PENGKAJIAN KOMUNITAS PENGKAJIAN TAHAP I
Geografi
Keadaan tanah : tanah kering namun tidak berdebu
Luas daerah : 8 Ha
Batas wilayah
Utara : desa Demakan
Barat : desa Wirun
Selatan : RT 1 RW 2
Timur : desa Demakan
Demografi
Jumlah KK : 47 KK
Jumlah penduduk : 508 jiwa
Mobilitas penduduk : penduduk jarang di rumah ketika pagi dan siang hari
karena bekerja, sedangkan anak-anak pada sekolah.
Julah keluarga : 47 keluarga
Kepadatan penduduk: padat
Tingkat pendidikan :
– Perguruan tinggi : 10 orang
– TK : 17 – 20 orang
– SMA : 16 orang
– SMP : 15 orang
– SD : 20 orang
Pekerjaan:
– PNS : 10% jumlah penduduk
– Buruh : 10% jumlah penduduk
– Pedagang : 70% jumlah penduduk
– IRT : 10% jumlah penduduk

Pendapatan rata-rata:
– Rp 800.000,- : 20%
– Rp 800.000,- s/d Rp 2.000.000.- : 50%
– > Rp 2.000.000,- : 30%
Tipe masyarakat: Masyarakat niaga
Agama: 100% Islam
II. PENGKAJIAN TAHAP II
a. Lingkungan fisik
- Perumahan : permanen dan rata-rata dalam kategori baik
- Penerangan : di lingkungan penerangan pada malam hari sudah
cukup, tapi banyak rumah warga yang kurang pencahayaannya pada
siang hari
- Sirkulasi udara: lingkungan sejuk karena banyak pohon yang ditanam
warga sekitar tetapi banyak perumahan warga yang ventilasi rumahnya
kurang memadahi seperti kurangnya jumlah jendela dan dekatnya jarak
antar rumah.
- Kepadatan penduduk: Tergolong padat.
b. Edukasi
Status pendidikan: SMA sederajat, yang terdiri dari:
– Perguruan tinggi: 10 orang
– TK : 17 – 20 orang
– SMA : 16 orang
– SMP : 15 orang
– SD : 20 orang
Sarana pendidikan: terdapat 1 taman kanak-kanak
Keamanan dan Transportasi
Pemadam kebakaran: tidak ada
Polisi : tidak ada namun terdapat siskamling secara rutin
Sarana transportasi : sepeda onthel, motor dan mobil pribadi
Keadaan jalan : jalanan sudah diaspal dan ramai akan kendaraan bermotor
Pemilihan ketua RT/ RW dengan cara foting bersama
Struktur Pemerintahan
Masyarakat swadaya yang terdiri dari 1 RW dan 4 RT
Pamong desa : 1 orang
Kader desa : 5 orang
PKK: ada dan masih berjalan aktif tiap bulan
Kontak tani: tidak ada
Karang taruna: ada dan berjalan aktif tiap bulan
Kumpulan agama : ada dan aktif di masyarakat
Sarana dan Fasilitas Kesehatan
Pelayanan kesehatan : Tidak terdapat praktik bidan swasta maupun praktik klinik
swasta yang lain.
Tenaga kesehatan : 2 perawat dan 1 bidan
Tempat ibadah : terdapat masjid dan mushola
Sekolah : terdapat 1 taman kanak-kanak
Panti social : tidak terdapat
Pasar : tidak ada, namun terdapat banyak toko kelontong yang
menyediakan banyak kebutuhan dari masyarakat sekitar
Tempat pertemuan: terletak di rumah ketua RW dalam setiap acara yang diadakan
oleh lokasi setempat
Posyandu: terdapat posyandu lansia (tiap minggu ke 2) dan posyandu balita (tiap
minggu pertama) berjalan aktif setiap sebulan sekali.
Hygiene perumahan: sanitasi warga RW 1 dalam kategori baik
1. Sumber air bersih: air sumur galian
Pembuangan air limbah: dialirkan lancar ke selokan dan tidak
menggenangJamban: 80% sudah mempunyai jamban di rumah masing-
masingSarana MCK: semua dilakukan di kamar mandi masing masing dan
hampir tidak ada yang di sungaiPembuangan sampah: dibuang dan
dikumpulkan di TPS dekat makam setempat
Sumber polusi: air selokan
Sumber vektor: nyamuk penular seperti aedes aegypty
2. Komunikasi
Terdapat infrastruktur komunikasi yang memadai dan modern seperti
internet, ponsel, koran, majalah, radio dan televisi. Masyarakat juga bisa
menggunakan alat-alat komunikasi tersebut. Untuk papan informasi untk
nenyampaikan kabar berita dari desa maupun dari yang, disediakan
tempat di dekat rumah pak RW.
3. Ekonomi
Keadaan ekonomi masyarakat RW 1 desa Bekonang dalam kategori baik
dan diatas garis kemiskinan. Warga masyarakat juga tidak yang
menganggur di rumah. Rata-rata pekerjaan warga setempat adalah
pedagang, baik di rumah maupun masyarakat.
4. Rekreasi
Karang taruna dari wilayah setempat sering mengadakan wisata bersama-
sama ke suatu tempat. Kelompok khusus seperti anggota kader juga sering
mengadakan rekreasi bersama yang diharapkan dapat mengurangi stresor
dan beban pikiran.

DISTRIBUSI PENYAKIT DI MASYARAKAT


Dari rekapitulasi data bulan Maret-Mei di puskesmas mojolaban ada 1.439 orang
yang bekunjung/periksa. Dari jumlah tersebut ada 5 penyakit dengan distribusi
terbesar yaitu:
Influensa akut: 251 orang atau sekitar 17%
Demam : 169 orang atau sekitar 11%
Hipertensi : 63 orang atau sekitar 4%
Diare : 69 orang atau sekitar 4%
Atritis : 65 orang atau sekitar 4%
Dari hasil di atas di dapatkan jumlah terbesar penderita penyakit terbesar yaitu
Influenza dengan jumlah 251 orang di bulan maret sampai mei. Kemudian
pemeriksaan epidemiologi dari 40 rumah warga RW 01 dukuh mojosari yang di
pilih secara acak, di dapatkan 8 rumah warga yang masih terdapat jentik di
tempat penampungan air.

Dari data kesehatan di RW 1 didapatkan data bahwa :

Jumlah lansia keseluruhan :


Jumlah lansia dengan hipertensi : 67 0rang atau 75%
Jumlah lansia dengan DM : +10 orang atau 12%
Jumlah penderita TBC : 6 orang
Jumlah balita keseluruhan : 44 balita
Jumlah balita lahir meninggal :–
Jumlah warga yang menderita DBD : 1 orang dan 1 tersangka
Jumlah penderita ISPA : + 20% /jumlah penduduk RW I

II. ANALISA DATA


1.DS: Dari hasil wawancara dengan ketua RW 1 mengatakan bahwa rata-rata
lansia menderita hipertensi
2.DO: Berdasarkan data dari puskesmas mojolaban pada bulan Maret sampai
bulan Mei di kelurahan bekonang dukuh mojosari RW 1
Jumlah lansia keseluruhan :
hipertensi 75%
Resiko tinggi peningkatan angka kejadian hipertensi pada lansia Kurangnya
pengetahuan masyarakat
2DS : Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua RW 1 mengatakan bahwa
perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat mojosari kurang begitu
diperhatikan.
DO :terdapat 1 orang yang terkena DB dan 1 orang menjadi
tersangkarumah yang padat, lembab dan Pembuangan sampah masih di
dekat pekaranganDari pemeriksaan epidemiologi di 40 rumah di
dapatkan 8 rumah warga yang masih terdapat jentik nyamuk.Resiko
tinggi peningkatan angka kejadian penyakit Demam
BerdarahLingkungan yang kurang memadahi, ditandai dengan
Pembuangan sampah yang masih dekat dengan pekarangan
3.DS : Berdasarkan hasil wawancara dengan ketua RW 1 dukuh mojosari,
Mengatakan bahwa dari penduduk yang berjumlah 508 jiwa terdapat
20% orang yang menderita ISPA dan yang meninggal 2 orang
DO :
Ventilasi rumah kurang memadahi
Pencahayaannya kurang
Jumlah penduduk sangat padat
Terdapat 60% Pemuda dan bapak-bapak merokok
Terdapat 10% Ibu-ibu yang merokok
Resiko penularan angka kejadian ISPA (infeksi saluran pernapasan atas)
Lingkungan yang kurang mendukung,ditandai dengan: lingkungan yang
padat dan sanitasi rumah

III. URUTAN MASALAH


Masalah kesehatan
Kreteria penapisan
Jumlah score
a

c
d

Tersedia sumber

DBD
5

5
5
8
ISPA
3

32

Hipertensi
4

4
4

40

Berdasarkan urutan masalah dapat disusun masalah keperawatan komunitas


sebagai berikut :
Resiko tinggi peningkatan angka kejadian penyakit Demam Berdarah b.d
Lingkungan yang kurang memadahi, ditandai dengan Pembuangan sampah
yang masih dekat dengan pekaranganResiko tinggi peningkatan angka kejadian
hipertensi pada lansia b.d Kurangnya pengetahuan masyarakat
Resiko penularan angka kejadian ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) b.d
Lingkungan yang kurang mendukung,ditandai dengan: lingkungan yang padat
dan sanitasi rumah

IV. RENCANA TINDAKAN


Dalam membuat perencanaan kegiatan keperawatan komunitas
melibatkan peran serta masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk
membangun kesadaran masyarakat untuk menolong dirinya sendiri di
bidang kesehatan.
Perumusan tujuan disesuaikan dengan masalah yang akan
ditindaklanjuti dengan rumusan tujuan jangka panjang yang berorientasi
pada perubahan perilaku baik secara kognitif, afektif dan psikomotor serta
rumusan tujuan jangka pendek yang merupakan tujuan antara untuk
mencapai tujuan jangka panjang serta hasil yang diharapkan ada setiap
akhir kegiatan tertentu. Rencana kegiatan yang dirumuskan dalam
mengatasi masalah kesehatan masyarakat Kelurahan Bekonang Dukuh
Mojosari RW 0I Kota Sukoharjo dengan melibatkan masyarakat yang
diwakili oleh Kader antara lain:
1. Tanggal 5 juni 2013 Melakukan pencarian data di Puskesmas Mojolaban
dan mencari tempat yang tepat untuk masalah yang masih aktual saat ini.
2. Tanggal 8 Juni 2013 melakukan Pengkajian di Dukuh Mojosari RW 0I
3. Tanggal 10 Juni 2013 Musyawarah dengan KADER untuk
dilaksanakannya kegiatan MMD (musyawarah Masyarakat Desa)
4. Tanggal 13 juni 2013 penyebaran surat undangan untuk masing-masing
perwakilan tiap RT, TOGA, TOMA dan KADER yang ada di RW 0I
Dukuh Mojosari Kelurahan Bekonang.
5. Tanggal 15 juni 2013 Persiapan Mahasiswa untuk melakukan kegiatan
MMD untuk memnentukan Prioritas Diagnosa dan didapatkan masalah
yang paling aktual yaitu DBD.
6. Tanggal 17 juni 2013 Melakukan pengkajian di rumah warga yang positif
terkena DBD dan melakukan pemeriksaan jentik nyamuk di 20 rumah
warga yang terletak disekitar rumah penderita
7. Tanggal 18 juni 2013 melakukan penyebaran surat undangan kepada
warga yang ada di RW 0I Dukuh Mojosari untuk melakukan penyuluhan
tentang DBD
8. Tanggal 19 juni 2013 Melakukan penyuluhan kepada warga tentang
penyakit DBD

E. TAHAP IMPLEMENTASI
Implementasi merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan keperawatan yang
telah disusun. Implementasi diberikan secara langsung maupun tidak langsung
kepada masyarakat dan kebutuhan masyarakat. Pada umumnya tindakan
keperawatan komunitas yang dilakukan RW 0I Dukuh Mojosari sesuai dengan
teori yaitu berfokus pada upaya meningkatkan, mempertahankan, memperbaiki
kesehatan, mencegah penyakit dan rehabilitasi dengan menggunakan strategi yaitu
proses kelompok, health promotion dan patnership.
Tindakan pelaksanaan atau implementasi yang diperlukan untuk mengatasi
masalah-masalah keperawatan komunitas adalah hasil kerja sama dengan
masyarakat.
Implementasi untuk masalah kesehatan lingkungan yang diangkat adalah Demam
Berdarah di RW 0I Dukuh Mojosari berhubungan dengan Lingkungan yang
kurang memadahi. Kegiatan dimulai dengan memberikan penyuluhan tentang
Demam Berdarah Dengue (DBD) pada hari Rabu, 19 Juni 2013 di RW 0I Dukuh
Mojosari Kelurahan Bekonang. Kemudian kegiatan di lanjutkan dengan
pemeriksaan jentik – jentik nyamuk pada setiap tandon air yang ada di RW 0I
Dukuh Mojosari Kelurahan Bekonang yang di lakukan pada hari Senin, 17 Juni
oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)./Pelaksanaan
kegiatan komunitas berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
Pemberian tindakan pendidikan kesehatan atau penyuluhan kepada RW 0I Dukuh
Mojosari Kelurahan Bekonang Kota Sukoharjo. Perubahan yang dapat dinilai
sebatas tahap perubahan pengetahuan. Perubahan yang dapat dinilai karena
berdasarkan faktor yang mempermudah perubahan perilaku baru terjadi
perubahan pengetahuan, sikap, dan kepercayaan.

F. TAHAP EVALUASI
Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang digunakan
untuk menilai keberhasilan dari pemecahan masalah keperawatan komunitas yang
ada. Dari evaluasi yang dilaksanakan dapat diketahui masalah keperawatan
komunitas dapat terpecahkan seluruh, sebagian, atau tidak terpecahkan tetapi
menimbulkan masalah baru. Kegiatan evaluasi yang dilakukan adalah mengukur
keberhasilan mengumpulkan data dan menganalisa. Kegiatan ini dilakukan
bersama dengan masyarakat.
Evaluasi hasil kegiatan telah dilakukan untuk menilai efektifitas kegiatan
sesaat setelah kegiatan dilakukan dan evaluasi yang dilakukan pada akhir program
untuk menilai aktifitas jangka panjang yang akan dilakukan sebagai rencana
tindak lanjut di RW 0I Dukuh Mojosari Kelurahan Bekonang Kota Sukoharjo.
Evaluasi secara umum dilakukan setelah mahasiswa selesai melaksanakan
kegiatan yang direncanakan.
Pelaksanaaan kegiatan yang telah dilakukan berjalan lancar, sesuai rencana dan adanya
peran serta KADER dan mayarakat setempat. Selama dilakukan kegiatan tidak
ditemukan hambatan yang berarti.Hasil evaluasi tindakan untuk mengatasi masalah DBD
dengan melakukan Penyuluhan Kesehatan yang dihadiri oleh warga RW 0I Dukuh
Mojosari, Terdapat bapak-bapak dan Ibu- Ibu yang aktif bertanya dan mendengarkan
materi yang diampaikan.