Anda di halaman 1dari 20

Tugas Akhir Pidana

Kelas Hukum Pidana B - Semester Genap 2011


oleh Salma Izzatii, 1006688256
Instruksi

Buatlah sebuah analisis kasus dengan teori-teori yang sudah diajarkan.

Kasus
KRIMINALITAS
Dua Orang Pemuda Bunuh Satu Keluarga
Palangkaraya, Kompas – MJ (53) dan AF (40) akhirnya ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan
atas satu keluarga yang terdiri sari suami, istri dan anak. Pembunuhan sebenarnya terjadi pasa
2003, tetapi baru terungkap bulan ini karena semua saksi peristiwa itu diancam akan dibunuh
oleh tersangka.
Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah (Polda) Kalteng Ajun Komisaris besar Terr
Pratiknyo di Palangkaraya, Selasa (19/4) menuturkan, ketiga korban tewas itu adalah Taiwan,
istrinya, hernema, serta anak mereka, Oro Aro. Saat pembunuhan terjadi, Taiwan berumur 53
tahun, Hernema 35 tahun, dan Oro 5 tahun.
Pembunuhan bermula dari perebutan gerobak antara MJ dengan Taiwan. Perebutan
berlanjut menjadi pertengkaran lali menghebat menjadi perkelahian yang kemudian melibatkan
AF, kawan MJ. Saat itu, MJ dan AF bersenjata parang, sementara Taiwan hanya memegang kayu.
Taiwan akhirnya tewas karena bacokan parang MJ dan AF.
Istri dan anak korban yang kebetulan berada di tempat kejadian perkara lalu melarikan
diri, tetapi dikejar oleh MJ dan AF dan dibunuh pula. Kejadian itu berlangsung di Jalan
Palangkaraya – Tumbang Talaken, Desa Fajar Harapan.
Oleh MJ dan AF, para korban lalu dikubur dalam sebuah lubang di lahan eks pengusahaan
hutan sekitar 650 meter dari tempat kejadian. Ketika itu ada tiga orang yang sempat melihat
pembunuhan itu, yakni UI (60), PJ (25), dan ES (23), tetapi mereka juga diancam akan dibunuh jika
mebeberkan peristiwa itu.
“Kami baru menerima laporan mengenai kasus tersebut tahun 2009 dari keluarga korban.
Pihak keluarga berani melapor karena saksi-saksi sudah mau memberikan keterangan,” kata Terr.
Pekan lalu polisi sudah membongkar tempat pemakaman para korban guna penelitian
lebih lanjut. Adapun MJ dan AF yang sebelumnya sudah ditahan dalam kasus ijazah palsu, kini
diperiksa secara intensif.

Analisis

Pelaku kejahatan dalam hal ini dapat dikenakan pasal 338 jo. 65 KUHP dan Pasal 181 KUHP.

Pasal 338 KUHP berbunyi:

“Barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan, dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.”

Pasal 65 KUHP berbunyi:

“(1) Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan
yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan, yang diancam
dengan pidana pokok yang sejenis, maka hanya dijatuhkan satu pidana.

Page 1 of 20
(2) Maksimum pidana yang dijatuhkan ialah jumlah maksimum pidana yang diancamkan
terhadap perbuatan itu, tetapi tidak boleh lebih dari maksimum pidana yang terberat
ditambah sepertiga.”

Pasal 181 KUHP berbunyi:

“Barangsiapa mengubur, menyembunyikan, kematian atau kelahirannya, diancam dengan


pidana penjara paling lama sembilan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah.”

Uraian unsur-unsur:

Pasal 338 KUHP

1. Barangsiapa
Barangsiapa berarti menunjuk pada subjek hukum. Subjek hukum adalah
pengemban hak dan kewajiban hukum. Subjek hukum dapat berupa orang (naturlijk
person) ataupun badan hukum.
Dalam kasus ini, subjek hukum adalah MJ dan AF. Jadi, unsur ini terpenuhi.
2. Sengaja
“Sengaja” memilki dua unsur, yaitu willen (menghendaki) dan wetens (mengetahui).
Menghendaki berarti si pelaku menghendaki akibat dari perbuatannya itu (contoh:
membunuh berakibat hilangnya nyawa orang lain). Mengetahui berarti si pelaku
mengetahui bahwa perbuatannya adalah dilarang oleh undang-undang (UU).
Ada dua teori sengaja, yaitu:
i. Teori kehendak (Wils theorie)
Opzet ada apabila perbuatan dan akibat suatu delik dikehendaki si pelaku.
ii. Teori bayangan (Voorstellings theorie)
Opzet ada apabila si pelaku pasa waktu mulai melakukan perbuatan, ada
bayangan yang terang bahwa akibat yang bersangkitan akan tercapai, maka
dari itu ia menyesuaikan perbuatannya dengan akibat itu.

“Sengaja” dibagi dalam tiga macam:

i. Sengaja sebagai maksud/tujuan


Apa yang dilakukan dan menjadi akibat pelaku memang adalah tujuannya.
Perbuatan tidak akan dilakukan apabila si pelaku tahu akibat perbuatannya
tidak akan terjadi.
Contoh: A mencekik B sampai mati dan menyebabkan kematian B.
ii. Sengaja sebagai kesadaran kepastian
Si pelaku yakin bahwa akibat yang dimaksudkannya tidak akan tercapai yanpa
terjadinya akibat yang tidak dimaksud.
Contoh: Demi menadapatkan uang insuransi kapal, A harus meledakkan
kapalnya dan mencelakakan awak kapal. Mencelakakan awak kapal ini adalah
sengaja sebagai kesadaran kepastian.

Page 2 of 20
iii. Sengaja sebagai kesadaran kemungkinan
Si pelaku menyadari perbuatannya mungkin akan menimbulkan akibat ini.
Contoh: A ingin meracun B yang suka makan bersama C. A akhirnya meracun
B, dan C yang ikut makan bersama B pun ikut keracunan.
Ada dua macam sengaja sebagai keinsyafan kemungkinan:
a. Sengaja dengan kemungkinan sekali terjadi
b. Dolus eventualis
Si pelaku bersedia mengambil resiko yang terlalu besar.

Dalam kasus ini, MJ dan AF menghendaki terbunuhnya Taiwan, Hernema dan Oro
Aro dan mengetahui pembunuhan adalah dilarang oleh UU. MJ dan AF juga
memenuhi ‘sengaja sebagai tujuan’ karena MJ dan AF memang bertujuan
membunuh Taiwan, Hernema dan Oro Aro. Jadi, unsur ini terpenuhi.

3. Merampas nyawa orang lain


Ini berarti menghilangkan nyawa orang lain. MJ dan AF menghilangkan nyawa
Taiwan, Hernema, dan Oro Aro.
Jadi, unsur ini terpenuhi.

Jadi, MJ dan AF dapat dikenakan Pasal 338 KUHP.

Pasal 65 KUHP:

1. Perbarengan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang


berdiri sendiri-sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan
MJ dan AF telah melakukan tiga pembunuhan. Tiap pembunuhan itu: pembunuhan
terhadap Taiwan, pembunuhan terhadap Hernema dan pembunuhan terhadap Oro
Aro dianggap sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri.
2. Yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis
Pembunuhan diancam dengan pidana penjara.

Pasal 65 KUHP termasuk dalam ajaran Penggabungan Tindak Pidana.

Penggabungan tindak pidana berarti penggabungan beberapa tindak pidana, yang


dilakukan dengan satu atau lebih dari satu perbuatan, dan di antara beberapa tindak
pidana itu belum ada putusan hakim, dan beberapa tindak pidana itu akan diadili
sekaligus.

Dalam KUHP ada 3 pengelompokkan penggabungan tindak pidana:

1. Concursus idealis
Satu perbuatan melanggar beberapa pasal.
Contoh: Memperkosa perempuan di taman dapat dikenakan pasal pemerkosaan dan
penggangguan ketertiban umum.
2. Perbarengan tindakan berlanjut

Page 3 of 20
Antara perbuatan-perbuatan tersebut ada hubungan sedemikian rupa sehingga
harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.
Contoh: Mencuri TV dengan mengambil parts-nya.
3. Concursus realis
Perbuatannya tidak hanya satu, tapi perbuatan-perbuatan itu belum disidangkan.

Dalam kasus ini, MJ dan AF melakukan tiga pembunuhan, maka ini termasuk dalam
kategori concursus realis.

Concursus realis, menurut doktrin, dibagi menjadi dua:

1. Concursus realis homogenius


Melakukan beberapa perbuatan dan perbuatan-perbuatan tersebut melanggar suatu
ketentuan pidana beberapa kali.
2. Concursus realis heterogenius
Melakukan beberapa perbuatan dan perbuatan-perbuatan tersebut melanggar
beberapa ketentuan pidana yang berbeda.

Dalam kasus ini, MJ dan AF melakukan tiga pembunuhan, maka termasuk dalam
concursus realis homogenius.

Jadi, kasus ini memenuhi unsur pasal 65 KUHP penggabungan tindak pidana karena MJ
dan AF membunuh tiga orang dan di antara tindak-tindak pidana itu belum ada
keputusan hakim dan ancaman pidananya adalah sama yaitu penjara.

Penyertaan dalam perbuatan pidana

Penyertaan dalam perbuatan pidana atau deelneming adalah ajaran umum yang dibuat
untuk menuntut perbuatan mereka yang memungkinkan pelaku melakukan tindak pidana.
Mereka tetap dimintakan pertanggungjawaban karena tanpa adanya bantuan mereka,
tindak pidana tersebut tidak akan terjadi, walaupun mereka tidak memenuhi semua unsur
tindak pidana.

Penyertaan diatur dalam Bab V KUHP:

Melakukan (Pleger)

Menyuruh melakukan (Doenpleger)


Pasal 55 KUHP (dianggap sebagai pelaku)
Turut serta melakukan (Medepleger)

Penyertaan Membujuk melakukan (Uitlokker)

Sengaja memberi bantuan saat kejahatan


dilakukan
Pasal 56 KUHP (pembantu lakuan)
sengaja memberi kesempatan, sarana, atau
keterangan untuk melakukan kejahatan

Page 4 of 20
Penyertaan yang dianggap sebagai pelaku:

1. Melakukan (pleger)
Adalah orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi semua unsur tindak
pidana.
2. Menyuruh melakukan (doen pleger)
Melakukan perbuatan pidana dengan perantaraan orang lain sebagai “alat”. Yang
menyuruh disebut ‘pelaku tidak langsung’ atau ‘aktor intelektual’. Yang disuruh
adalah ‘pelaku langsung’ atau ‘manus ministra’.
Persyaratan:
i. Alat yang dipakai adalah manusia
ii. Orang tersebut melakukan
iii. Orang tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban
iv. Kehendak ada di penyuruh
v. Penyuruh yang dimintakan pertanggungjawaban

Orang yang disuruh tidak dapat dipidana dan yang menyuruh dianggap sebagai
pelaku, seolah-olah dia melakukan tindak pidana itu sendiri.

Tidak dapat dipertangungjawabkan: Pasal 44, 45, 48, 51 (2), Avas, Putatif delict.

Contoh: A memiliki niat melakukan tindak pidana kepada B karena dendam. A


menyuruh B melakukannya dan B ini tidak dapat dimintakan
pertanggungjawabannya (mengira perintah jabatan yang sah, lemah akal, gila).
3. Turut serta melakukan (medepleger)
Dengan sengaja turut mengerjakan sesuatu yang dilarang menurut UU.
Turut melakukan suatu tindak pidana:
i. Mereka memenuhi semua rumusan delik
ii. Salah satu memenuhi semua rumusan delik
iii. Masing-masing hanya memenuhi sebagian rumusan delik.

Syarat:

i. Kerjasama secara sadar (bewuste samenwerking): mengetahui dan


merencanakan bersama.
a. Menyadari akan niat melakukan tindak pidana
b. Menyadari akan melakukannya bersama sama
c. Kesadaran tidak perlu timbul jauh sebelum tindak pidana, tetapi dapat timbul
saat terjadinya peristiwa.
ii. Pelaksanaan secara fisik: pembagian-pembagian tugas.
Semua anggota memiliki andil, meskipun tidak perlu semua peserta
memenuhi unsur tindak pidana.
iii. Tujuan bersama

Page 5 of 20
4. Membujuk melakukan (uitlokker)
Orang yang membujuk orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana dengan
menggunakan saran yang ditentukan oleh UU.
Syarat:
i. Kesengajaan untuk membujuk orang lain melakukan tindak pidana.
ii. Upaya pembujukan limitative ditentukan dalam pasal 55 (2)
iii. Kehendak pelaku timbul akibat bujukan
iv. Pelaku melakukan perbuatan mana yang dikehendaki oleh pembujuk.
v. Pelaku harus dapat dipertanggungjawabkan.
Cara-cara menggerakan:
i. Memberikan sesuatu
ii. Memberikan janji
iii. Menyalahgunakan kekuasaan atau martabat
iv. Kekerasan (walaupun dalam tahap ringan)
v. Ancaman atau penyesatan
vi. Kesempatan
vii. Sarana
viii. Keterangan

Pembujukan menurut doktrin:

i. Pembujukan sampai taraf percobaan


Sudah dilakukan, tetapi sampai tahap percobaan saja.
ii. Percobaan yang gagal
Yang terbujuk mengurungkan niatnya.
iii. Pembujukan tanpa akibat:
Pelaku sama sekali tidak terbujuk untuk melakukan delik.

Tanggungjawab pembujuk (pasal 55 (2)):

Pembujuk hanya bertanggungjawab atas perbuatan yang dibujuk olehnya dan


akibat-akibatnya.

Dalam kasus ini, MJ adalah Pelaku (pleger) dan AF adalah Pelaku turut serta melakukan
(medepleger).

MJ memenuhi semua unsur perumusan delik.

AF dengan sengaja turut melakukan sesuatu yang dilarang oleh UU, yaitu dalam kasus ini
adalah membunuh. AF dengan sadar bekerja sama dengan MJ membunuh Taiwan, Hernema
dan Oro Aro dan ia turut melakukannya secara fisik, daan memiliki tujuan bersama yaitu
membunuh Taiwan, hernema, dan Oro Aro.

Page 6 of 20
Tempus delicti

Kenapa tempus delicti penting?

1. Kaitannya dengan Pasal 1 KUHP


Untuk menetukan apakah sudah adanya aturan yang mengatur suatu tindakan
pidana sebelum tindak pidana itu dilakukan.
2. Kaitannya dengan aturan tentang daluwarsa
Untuk menentukan kapan tenggang daluwarsanya.
3. Kaitannya denga ketentuan mengenai pelaku tindak pidana anak: Pasal 45, 46, 47
KUHP atau UU Pengadilan Anak

Teori tempus delicti:

1. Teori perbuatan fisik


Menentukan waktu terjadinya kasus menurut perbuatan fisik yang dilakukan. Sering
dipakai di delik formiel.
2. Teori bekerjanya alat yang digunakan
Menentukan waktu terjadinya kasus menurut waktu bekerjanya alat yang digunakan.
3. Teori akibat
Menentukan waktu terjadinya delik menurut waktu timbulnya akibat. Sering dipakai
di delik materiel.
4. Teori waktu yang jamak
Menentukan waktu terjadinya delik ketika ada 3 pilihan waktu di atas, hakim harus
memilih satu.

Dalam kasus ini, pembunuhan adalah delik materiel sehingga dipakai tempus delicti teori
akibat. Taiwan, Hernema dan Oro Aro meninggal pada tahun 2003, jadi ditetapkan waktu
delik adalah 2003.

Locus delicti

Locus delicti adalah penting untuk menentukan hukum mana yang diberlakukan dan
kewenangan relative antara pengadilan wilayah satu dengan lainnya.

Teori locus delicti:

1. Teori perbuatan fisik


Menentukan tempat terjadinya kasus menurut perbuatan fisik yang dilakukan. Sering
dipakai di delik formiel.
2. Teori bekerjanya alat yang digunakan
Menentukan tempat terjadinya kasus menurut waktu bekerjanya alat yang
digunakan.
3. Teori akibat

Page 7 of 20
Menentukan tempat terjadinya delik menurut waktu timbulnya akibat. Sering
dipakai di delik materiel.
4. Teori tempat yang jamak
Menentukan tempat terjadinya delik ketika ada 3 pilihan tempat di atas, hakim harus
memilih satu.

Dalam kasus ini, pembunuhan adalah delik materiel sehingga dipakai locus delicti teori
akibat. Taiwan, Hernema dan Oro Aro meninggal di Jalan Palangkaraya – Tumbang Talaken,
Desa Fajar Harapan, jadi ditetapkan waktu delik adalah Jalan Palangkaraya – Tumbang
Talaken, Desa Fajar Harapan..

Jenis delik:

1. Delik kejahatan dan delik pelanggaran


Pembunuhan diatur dalam buku II KUHP tentang Kejahatan, sehingga pembunuhan
termasuk dalam kejahatan.
2. Delik materiil dan delik formil
Pembunuhan adalah delik yang menitikberatkan pada akibat, yaitu hilangnya nyawa
orang lain, sehingga termasuk dalam delik materiil.
Delik formiel adalah yang dititikberatkan pada perbuatan fisiknya, delik dianggap
selesai saat perbuatan fisik dilakukan. Contoh: pemerkosaan.
3. Delik komisi dan delik omisi
Delik komisi adalah delik yang dilakukan dengan cara berbuat, sehingga
pembunuhan termasuk dalam delik komisi.
Delik omisi adalah delik yang dilakukan dengan cara tidak berbuat, contohnya tidak
menolong orang yang memerlukan pertolongan.
4. Delik dolus dan delik culpa
Dolus berarti sengaja, dalam kasus ini AF dan MJ sengaja membunuh Taiwan,
Hernema dan Oro Aro.
5. Delik biasa dan delik aduan
Delik biasa adalah delik yang bisa dilaporkan oleh siapa saja dan kemudian ditindak
lanjuti oleh pihak berwenang. Pembunuhan adalah delik biasa.
Delik aduan adalah delik yang hanya bisa ditindaklanjuti oleh pihak berwenang
apabila ada aduan dari korban.
6. Delik yang berdiri sendiri dan delik berlanjut
Pembunuhan adalah delik yang berdiri sendiri, sehingga kasus ini merupakan delik
yang berdiri sendiri.
Delik berlanjut adalah delik yang mengambil beberapa rentang waktu untuk selesai,
contoh penculikan.
7. Delik tunggal dan delik berangkai
Delik tunggal adalah delik yang terdiri dari satu tindak pidana, kasus ini adalah delik
tunggal.

Page 8 of 20
Delik berangkai terdiri dari beberapa tindak pidana yang saling berkaitan.
8. Delik sederhana dan delik berkualifikasi atau berprivilege
Pasal 338 yang dikenakan terhadap MJ dan AF adalah delik sederhana.
Delik berkualifikasi adalah delik yang ditambah syarat untuk diperberat, contoh pasal
340 KUHP. Delik berprivilege adalah delik yang diringankan.
9. Delik propia dan delik komun
Delik propia adalah delik yang hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu.
Delik komun adalah delik yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Pembunuhan dalam hal
ini adalah delik komun.
10. Delik politik dan delik komun
Delik politik adalah delik yang melibatkan unsur politik.
Delik komun adalah delik yang tidak berhubungan dengan unsur politik.
Pembunuhan dalam hal ini tidak berhubungan dengan unsur politik sehingga
merupakan delik komun.

Pengulangan tindak pidana (recidive)

Recidive menurut KUHP:

 tidak diatur secara umum dalam Buku I, tetapi diatur secara khusus untuk
sekelompok tindak pidana tertentu baik dalam buku II maupun buku III

 Pemberatan pidana karena Recidive hanya dikenakan pada pengulangan jenis2


tindak tertentu saja dan yg dilakukan dalam tenggang waktu tertentu.

1. Recidive Kejahatan

a. Recidive terhadap kejahatan-kejahatan tertentu yang “sejenis”

Diatur secara tersebar dalam pasal 137 (2), 144 (2), 155 (2), 157 (2), 161 (2), 163 (2),
208 (2), 216 (3), 321 (2), 393 (2) dan 303 bis (2).

Pada umumnya pasal-pasal tersebut mensyaratkan :

1) kejahatan yang diulangi harus sama atau sejenis dengan kejahatan yang
terdahulu;

2) harus sudah ada putusan hakim berupa pemidanaan yang telah berkekuatan
hukum tetap;

3) melakukan kejahatan sebagai mata pencaharian (khusus ps 216, 303 bis dan 393
syarat ini tidak ada);

4) dilakukan dalam tenggang waktu tertentu sesuai pasal yang bersangkutan :

Page 9 of 20
a) 2 tahun sejak adanya keputusan hakim tetap (khuss psl 137, 144, 208, 216,
303 bis dan 321); atau

b) 5 tahun sejak adanya keputusan hakim tetap (pasl 155, 157, 161, 163 dan 393)

Mengenai Pemberatan pidana, berbeda – beda :

1) diberikan pidana tambahan

2) pidana ditambah sepertiga (pasal 216)

3) pidana penjara dilipatkan 2 kali (psl 393)

b. Recidive terhadap kejahatan-kejahatan tertentu yg dalam “kelompok Jenis”

Diatur dalam pasal 486, 487 dan 488 KUHP.

Pada umumnya pasal-pasal tersebut mensyaratkan :

1) kejahatan yang diulangi harus dalam satu kelompok jenis;

2) harus sudah ada putusan hakim berupa pemidanaan yang berkekuatan hukum
tetap.

3) Pidana terdahulu harus berupa penjara.

4) Dalam tenggang wakt tertentu:

a) belum lewat 5 tahun

-sejak menjalani seluruh atau sebagian pidana penjara yg dijatuhkan


terdahulu;

-sejak pidana penjara tersebbut sama sekali dihapuskan;

b) belum lewat daluwarsa kewenangan menjalankan pidana

Pidana : Maksimal ancaman pid ditambah 1/3

-Untuk pasal 486 dan 487 pemberatan hanya terhadap pidana penjara

-Untuk pasal 488 bisa terhadap semua jenis pidana

Kelompok kenis yg dimaksud adalah :

a) dalam pasal 486 (berupa kejahatan terhadap harta benda dan pemalsuan)

Page 10 of 20
pemalsuan mata uang (244-248), pemalsuan surat (263-264), pencurian (362,
363, 365), pemerasan (368), Pengancaman (369), penggelapan (372, 374, 375),
penipan (378), kejahatan jabatan (415, 417,425, 432), penadahan (480,481).

b) dalam pasal 487

penyerangan dan makar (131,140,141), pembunhan (338,339,340) pembunuhan


anak (341,342), eutanasia (344) abortus (347,348) penganiayaan (351, 33,
354,355), pembajakan (438-443), insbordinasi (459-460).

c) dalam pasal 488

penghinaan thd Pres/Wapres (134-137), penghinaan kpl negr sahabat (142-144),


penghinaan penguasa (207-208), penghinaan umum (310-321), kej penerbitan
(483-484).

2. Recidive Pelanggaran

Ada 14 jenis pelanggaran : psl 489, 492, 495, 501, 512, 516, 517, 530, 536, 540, 541, 544,
545, dan 549.

Umumnya memuat syarat :

a. pelanggaran harus sama / sejenis;

b. Sudah ada putusan hakim berupa PEMIDANAAN yg telah berkekuatan tetap;

c. Tenggang waktu pengulangan :

-1 tahun utk psl 489, 492, 495, 536, 540, 541, 544, 545, dan 549.

-2 tahun utk psl 501, 512, 516, 517, dan 530.

Catatan :

-perhatikan aturan dalam psl 536, 492 (2), 540 (2), dan 541 (2).

-Bentuk pemberatan mengikuti aturan tiap2 psl ybs. Namun umumnya denda
ditingkatkan menjadi kurungan, atau pidana dilipatkan 2 kali.

Dalam kasus ini, MJ dan AF tidak dapat dikenakan recidive. Karena, MJ dan AF belum pernah
memiliki riwayat kejahatan pembunuhan sebelumnya (tidak disebutkan dalam kasus), yaitu
belum pernah ada kejahatan pembunuhan yang sudah mendapat keputusan hakim yang
bekekuatan hukum tetap.

Page 11 of 20
Gugurnya Hak Menuntut

Diatur dalam KUHP:

1. Umum:
i. Ne bis in idem (Pasal 76)
Menurut asas “nemo debet bis vexari” orang tidak dapat dituntut untuk kali
keduanya karena satu perbuatan (feit) yang telah dilakukannya dan terhadap
perbuatan yang telah dijatuhkan keputusan hakim yang tidak dapat diubah
atau ditiadakan.
Syarat:
1. Perbuatannya satu
2. Orangnya tertentu
3. Sudah ada keputusan hakim yang tetap

Mengapa ada ne bis in idem?

Menurut Van Bemmelen, untuk menghindari diganggunya suatu kepentingan


hukum yang sama dengan cara yang sama.

Catatan: Ne bis in idem tidak berlaku bagi penyertaan.

Dalam kasus ini, Ne bis in idem tidak berlaku karena pembunuhan-


pembunuhan itu belum mendapat keputusan hakim yang tetap.

Seandainya MJ diadili terlebih dahulu, asas ne bis in idem juga tidak berlaku
terhadap AF karena ne bis in idem tidak berlaku bagi penyertaan.

ii. Meninggalnya terdakwa (Pasal 77)


MJ dan AF masih hidup sehingga mereka masih bisa dituntut.
iii. Daluwarsa penuntutan (pasal 78-81)
Tenggang daluwarsa bagi kejahatan percetakan: 1 tahun; bagi denda,
kurungan dan penjara yang kurang dari 3 tahun: 6 tahun; bagi penjara lebih
dari 3 tahun: 12 tahun; bagi hukuman mati atau penjara seumur hidup: 18
tahun; dan bagi anak yang di bawah 18 tahun saat melakukan tindak pidana:
dikurangi tenggang daluwarsanya menjadi 2⁄3.
Cara menghitung daluwarsa (pasal 79): Batas waktu untuk seseorang
mengajukan penuntutan.
1. Sejak sehari setelah perbuatan dilakukan (bagi delik formiel dan materiel
sama)
2. Kecuali: pemalsuan dan perusakan uang, tenggang daluwarsa dihitung
sehari setelah penggunaannya.
3. Pasal 328, 329, 330 dan 333, tenggang daluwarsa dihitung setelah korban
dibebaskan atau meninggal.

Page 12 of 20
4. Pasal 556-558a, tenggang daluwarsa dihitung sehari sesudah daftar-
daftar dipindah ke kantor tersebut.

Daluwarsa untuk tindak pidana percobaan: sehari setelah dilakukannya


perbuatan fisik, tidak dibedakan dengan delik yang selesai.

Dalam kasus ini, daluwarsa untuk MJ dan AF adalah:

Pasal 338 KUHP yang dilanggar oleh AF dan MJ memiliki pidana penjara lebih
dari 3 tahun, sehingga daluwarsanya adalah 12 tahun:

2003 + 12 tahun = 2015

Jadi, MJ dan AF masih dapat dituntut terhadap pembunuhan terhadap


Taiwan, Hernema dan Oro Aro sekarang.

Pasal 181 KUHP yang dilanggar oleh MJ dan AF memiliki pidana penjara
kurang dari 3 tahun, sehinggan tenggang daluwarsanya adalah 6 tahun:

2003 + 6 = 2009

Jadi, MJ dan AF sudah tidak bisa ditunut terhadap penyembunyian mayat


Taiwan, Hernema dan Oro Aro sekarang.

iv. Penyelesaian di luar sidang (pasal 82)


Ini hanya berlaku untuk pelanggaran dan tindak pidana yang mempunyai
hukuman denda. Yaitu, bayar denda maksimal + ongkos perkara kepada
pegawai berwenang.
Tindakan yang MJ dan AF lakukan adalah kejahatan dan bukan pelanggaran
dan tidak bisa diganti dengan denda.
2. Khusus: Tidak adanya aduan dalam delik aduan (pasal 72-75)
Pembunuhan termasuk dalam delik laporan, sehingga dapat dilaporkan oleh siapa
saja, tidak tergantung oleh korban.

Page 13 of 20
Diatur di luar KUHP:

Grasi

Pertimbangan MA

Rehabilitasi
Presiden (pasal 14
UUD amandemen
ke-1)
Amnesti

Pertimbangan DPR

Abolisi

Grasi (UU No. 2/2002):

Grasi biasanya diberikan untuk hukuman mati, diganti hukumannya. Grasi diberikan sesudah
ada putusan. Ini adalah pengampunan kepada terpidana oleh Presiden:

1. Peringanan/perubahan jenis pidana


2. Pengurangan jumlah pidana
3. Penghapusan pelaksanaan pidana

Amnesty:

Amnesty diberikan sesudah/sebelum putusan Pernyataan terhadap orang banyak yang


terlibat dalam suatu tindak pidana.

Abolisi:

Abolisi diberikan sebelum dijatuhkan putusan. Abolisi menghentikan pengusutan dan


pemeriksaan suatu perkara.

Rehabilitasi:

Rehabilitasi tergantung pada pandangan masyarakat dan bukan UU. Presiden


mengembalikan hak seseorang (nama baik) yang telah hilang karena putusan hakim.

Tujuan diadakannya peninjauan kembali: meringankan terdakwa.

Dalam kasus ini, baik MJ maupun AF tidak mendapat grasi, amnesty, abolisi atau
rehabilitasi.

Page 14 of 20
Gugurnya Hak Menjalankan Pidana

Pasal 84 ayat (2):

Gugurnya hak menjalankan pidana seseorang, sejak keputusan hakim ditetapkan, bagi
pelanggaran: 2 tahun; kejahatan percetakan: 5 tahun, dan yang lainnya: tenggang daluwarsa
+ 1⁄3.

Pasal 85 ayat (1):

Penghitungan tenggang menjalankan pidana dimulai sejak sehari setelah putusan hakim
dijalankan.

Pasal 84 ayat (3):

Tidak ada daluwarsa untuk pidana mati.

Penghentian daluwarsa (Pasal 80):

1. Tiap-tiap tindakan penuntutan menghentikan –stuiten- daluwarsa, asal tindakan itu


diketahui oleh orang yang dituntut.
2. Sesudah dihentikan, dimulai tenggang daluwarsan baru.

Penangguhan daluwarsa (pasal 81):

Penundaan penuntutan berhubungan dengan perselisihan prayudisial, menunda daluwarsa.

Perselisihan prayudisial:

1. Pertikaian yang harus ditentukan terlebih dahulu yang berupa tindakan


2. Pertikaian yang harus ditentuka terlebih dahulu yang berupa putusan

Dalam kasus ini, tenggang hak menjalankan pidana AF dan MJ adalah:

Dengan Pasal 84 ayat (2):

12 tahun (tenggang daluwarsa untuk tindak pidana diancam dengan penjara lebih dari 3
tahun) + 1/3 dari tenggang daluwarsa = 16 tahun

Jadi, tenggang hak menjalankan pindana AF dan MJ adalah 16 tahun sejak keputusan hakim
dijalankan.

Dasar peringan dan pemberat pidana

Dasar peringan:

1. Pasal 47 KUHP(telah dicabut oleh UU peradilan anak): bagi anak yang belum berusia
16 tahun, maksimum pidana pokoknya adalah dikurangi sepertiga dan untuk tindak

Page 15 of 20
pidana yang diancam dengan pidana mati maksimum pidana pokoknya adalah 15
tahun dan tidak ada pencabutan hak-hak serta pengumuman hakim.
2. Pasal 53 KUHP: bagi percobaan tindak pidana, maksimum pidana pokok adalah
dikurangi sepertiga dan untuk perbuatan yang diancam dengan pidana mati
maksimum penjara adalah 15 tahun dan pidana tambahan adalah sama dengan
tindakan selesai.
3. Pasal 57 KUHP: bagi pembantu tindak kejahatan, maksimum pidana pokok dikurang
sepertiga dan bagi tindakan yang diancam dengan pidana mati pidana pokoknya
menjadi 15 tahun dan pidana tambahan bagi pembantuan adalah sama dengan
kejahatannya sendiri.
4. Pasal 308 KUHP: seorang ibu yang meninggalkan anaknya karena takut ketahuan
tentang kelahiran anaknya, maksimum pidana pokok ada di pasal 305 dan 306
dikurangi separo.

Dasar pemberat:

Pasal 343 KUHP: Orang yang membantu menghilangkan nyawa anak seseorang tanpa atau
dengan rencana sebelumnya, dianggap sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan
rencana.

Dalam kasus ini, pasal 338 yang dikenakan terhadap MJ tidak terdapat dalam daftar dasar
pemberat maupun peringan.

Dasar penghapusan pidana

Dasar penghapusan pidana berarti hal-hal/keadaan yang mengakibatkan seseorang yang


telah melakukan perbuatan yang dengan jelas dan diberikan sanksi hukuman oleh UU
namun tidak dapat dihukum karena: 1. Orang itu tidak dapat mempertanggungjawabkan
perbuatannya atau 2. Tidak ada unsur melawan hukum.

Pasal 44: cacat dalam


tumbuhnya atau
terganggu karena
penyakit
Diri pelaku

Pasal 45: Di bawah 16


tahun

Umum Pasal 48: Daya paksa

Pasal 49: Bela paksa


Penghapusan pidana
(KUHP)
Di luar diri pelaku

Pasal 50: Melakukan


ketentuan UU
Pasal 166, 221 (2), 310
Khusus
(3) dan 367 (1)
Pasal 51: Melaksanakan
perintah jabatan

Page 16 of 20
Hak mengawas dan
mendidik, contoh: Guru
yang memukul tangan
muridnya yang mencontek.

Hak jabatan, contoh: Dokter


Penghapusan pidana yang membuat pasien
(Doktrin) merasa sakit dengan
suntikan.

Ijin dari korban, contoh:


olah raga bela diri

Sifatnya:

1. Tidak ada sifat melawan hukum dalam arti materiel


2. Tidak ada kesalahan dalam arti materiel (AVAS)

Contoh: Pasal 283 (memperlihatkan alat kontrasepsi ke anak bawah umur)

Alasan pembenar: menitikberatkan pada perbuatannya. Perbuatan dibenarkan dan sifat


melawan hukum ditiadakan. Contoh:

1. Pasal 48: Daya paksa


Overmacht: Dorongan yang tak bisa dilawan baik dengan psikis maupun
dengan fisik manusia.
Paksaan:i. vis absoluta: paksaan absolute. Manusia hanya sebagai alat
dinamakan manus ministra)
ii. vis complusiva: paksaan berupa psikis. Manusia sebagai alat
dinamakan manus domina.
Harus memenuhi asas subsidaritas (tidak ada jalan lain, harus dilakukan) dan
proporsionalitas (serangan dan tindakan seimbang)
2. Pasal 49 (1): Bela paksa
Syarat serangan:
i. Melawan hukum
ii. Seketika
iii. Ditujukan pada diri sendiri atau orang lain terhadap benda,
kehormatan atau badan.

Syarat pembelaan:

i. Seketika
ii. Memenuhi asas subsidaritas dan proporsionalitas

Page 17 of 20
3. Pasal 50: Melaksanakan perintah UU, contoh: algojo, eksekutor hukuman mati
4. Pasal 51: Melaksanakan perintah jabatan, contoh: perintah yang dikeluarkan oleh
pemerintah yang sah dan perintah yang sah pula.

Alasan pemaaf: menitikberatkan pada pelakunya, unsur melawan hukum tetap ada, tetapi
unsur kesalahan dihapuskan. Contoh:

1. Pasal 44: Cacat dalam tumbuh dan gangguan kesehatan


2. Pasal 48: Daya paksa
Keadaan darurat: pelaku melakukan suatu delik yang oleh keadaan yang di
luar dirinya membuat pelaku harus memilih.
Terjadi pertentangan anatara kepentingan hukum, kewajiban hukum.
3. Pasal 49 (2): Bela paksa lampau batas
Harus dibuktikan:
1. Adanya goncangan jiwa yang sekonyong-konyong
2. Goncangan terjadi karena paksaan

Unsur:

1. Melampaui batas yang perlu


2. Terbawa suasana hati
3. Adanya hubungan kausal antara perasaan dan serangan
4. Pasal 51 (2): Mengira suruhan itu adalah dengan wewenangnya dengan iktikad baik.
Syarat:
1. Bawahannya tidak tahu
2. Dalam batasan lingkungan perintah
3. Ada hubungan atasan dan bawahan

Dalam kasus ini, MJ dan AF tidak memiliki sakit mental, tidak dalam keadaan terpaksa, tidak
melaksanakan UU dan tidak dalam perintah jabatan, maka MJ dan AF tidak mempunyai
dasar penghapus pidana.

Seandainya MJ adalah orang yang memiliki sakit mental, maka terhadapnya tidak dapat
dijatuhkan hukuman karena memenuhi pasal 44 yang termasuk dalam dasar pemaaf. MJ
akan dapat bebas dari segala tuntutan hukum (ontslag). Namun begitu, jika AF tidak
memiliki sakit mental, AF masih dapat dikenakan hukuman karena alasan pemaaf bersifat
individual dan bukan kolektif.

Seandainya MJ adalah seorang petugas pemerintah yang bertugas membunuh Taiwan,


Hernema dan Oro Aro dengan perintah yang sah dari pemerintah yang sah pula, maka MJ
bebas dari segala tuntutan hukum atau vrijspraak. Dan AF juga tidak dapat dihukum karena
alasan pembenar bersifat kolektif, sehingga AF juga bebas dari segala tuntutan hukum.

Page 18 of 20
Teori-teori pemidanaan

1. Teori Absolut atau Pembalasan (retributive)


Pidana dijatuhkan semata-mata karena orang telah melakukan suatu kejahatan atau
tindak pidana (quia peccatum est).
Penganut teori ini adalah :
a. Immanuel Kant (Philosophy of Law)
Seseorang harus dipidana oleh Hakim karena ia telah melakukan kejahatan
(Kategorische Imperiatief)
b. Hegel
Pidana merupakan keharusan logis sebagai konsekuensi dari adanya kejahatan.
Kejahatan adalah pengingkaran terhadap ketertiban hukum negara yang merupakan
perwujudan dari cita-susila, maka pidana merupakan Negation der Negation
(pengingkaran terhadap pengingkaran).
Teori Hegel ini dikenal sebagai quasi mahte-matics, yaitu :
1) wrong being (crime) is the negation of right
2) punishment is the negation of that negation
Menurut Nigel Walker, penganut teori retributif dibagi dalam beberapa golongan:
i. Penganut teori retributif murni (the pure retributivist). Pidana harus
sepadan dengan kesalahan.
ii. Penganut teori retributif tidak murni, dapat dibagi :
a. Penganut teori retributif yang terbatas (the limiting retributivist)
Pidana tidak harus sepadan dengan kesalahan, namun tidak melebihi
batas kesepadanan dengan kesalahan terdakwa. Kebanyakan KUHP
disusun sesuai dengan teori ini yaitu dengan menetapkan pidana
maksimum sebagai batas atas tanpa mewajibkan pengadilan untuk
mengenakan batas maksimum tersebut.
b. Penganut teori retributif yang distributif.
Pidana jangan dikenakan pada orang yang tidak bersalah, tetapi tidak
harus sepadan dan dibatasi oleh kesalahan X strict liability
2. Teori Relatif atau Tujuan (Utilitarian)
Penjatuhan pidana tidak untuk memuaskan tuntutan absolut (pembalasan) dari
keadilan, tetapi pembalasan itu sebagai sarana untuk melindungi kepentingan
masyarakat, teori itu disebut :
a. Teori perlindungan masyarakat (the theory of social defence) ; atau
b. Teori reduktif (untuk mengurangi frekuensi kejahatan) ;atau
c. Teori tujuan (utilitarian theory), pengimbalan mempunyai tujuan tertentu yang
bermanfaat.
Pidana dijatuhkan bukan quia peccatum est (orang berbuat kejahatan) melainkan ne
peccetur (agar orang tidak melakukan kejahatan).
Seneca:
Nemo prudens punit quia peccatum est, sed ne peccetur (No reasonable man
punishes because there has been a wrong doing, but in order that there should be
no wrong doing : Tidak seorang pun layak dipidana karena telah melakukan suatu
perbuatan jahat, tetapi ia dipidana agar tidak ada perbuatan jahat).
Tujuan Pidana untuk pencegahan kejahatan :
a. Prevensi spesial / pencegahan spesial (special deterrence)

Page 19 of 20
Pengaruh pidana terhadap terpidana (Bedakan : tersangka, terdakwa, terpidana,
narapidana)
b. Prevensi general / pencegahan umum (general deterrence)
Pengaruh pidana / pemidanaan terhadap masyarakat pada umumnya
3. Teori Gabungan
Pembalasan sebagai asas pidana dan beratnya pidana tidak boleh melampaui
pembalasan yang adil. Dalam ajaran ini diperhitungkan adanya pembalasan, prevensi
general, serta perbaikan sebagai tujuan pidana. Penganut teori ini : Pellegrino Rossi,
Binding, Merkel, Kohler, Richard Schmid dan Beling.

Tujuan Pidana (Pemidanaan) :

a. To prevent recidivism (mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana)


b. To deter other from the performance of similar acts (mencegah orang lain melakukan
perbuatan yang sama seperti yang dilakukan si terpidana)
c. To provide a channel for the expression of retaliatory motives (menyediakan saluran untuk
mewujudkan motif-motif balas dendam)
d. To avoidance of blood feuds (untuk menghindari balas dendam)
e. The educational effect (adanya pengaruh yang bersifat mendidik)
f. The peace-keeping function (mempunyai fungsi memelihara perdamaian)
g. To create a possibility for the release of emotions that are aroused by the crime
(menciptakan kemungkinan bagi pelepasan emosi-emosi yang ditimbulkan atau diguncang-
guncangkan adanya kejahatan)
h. A ceremonial reaffirmation of the societal values that are violated and challenged by the
crime (penegasan kembali nilai-nilai kemasyarakatan yang telah dilanggar dan dirubah oleh
adanya kejahatan)
i. To reinforcing social values (memperkuat kembali nilai-nilai social)
j. To allaying public fear of crime (menentramkan rasa takut masyarakat terhadap kejahatan)
k. To conflict resolution (penyelesaian konflik)
l. To influencing offenders and possibility other than offenders toward more or less Law-
conforming behavior (mempengaruhi para pelanggar dan orang lain ke arah perbuatan yang
kurang lebih sesuai dengan hukum).

Dalam kasus ini, bagi MJ dan AF berlaku teori gabungan.


Hukuman penjara yang diberikan adalah dari teori balas dendam (absolute)
Hukuman diumumkannya tindak pidana mereka adalah dari teori pencegahan (relative).

Page 20 of 20