Anda di halaman 1dari 4

MALAM ITU

Putri

Di balik jendela kaca yang berembun itu aku melihat hal yang mengerikan saat
hujan. Apakah itu hayalanku saja? aku terlalu takut untuk mengakuinya sebagai
kenyataan. Sejak aku pindah ke Bandung kejadian mengerikan itu menghantui hidupku.
Aku pindah ke sebuah desa yang tidak begitu besar, namun aku selalu menghubungkan
kejadian yang ku lihat itu dengan rumahku yang letaknya bersebrangan dengan kuburan
desa.

Hal ini berawal ketika aku mulai merapikan barang-barangku sesaat setelah
pindahan di rumah itu. Hujan menemani awal kepindahan kami bak menyambut
kedatangan kami. Malam itu aku menikmati rintihan hujan yang terus mengguyur desa
tempat tinggalku yang baru. Melalui jendela kamarku, aku mengamati pekarangan rumah
baruku. Seketika aku melihatnya, aku tertegun, bulu kudukku merinding dan bahkan
membuatku menahan napas. Aku mencoba mengamatinya lagi dengan lebih teliti tapi
justru membuatku lebih takut, segera aku menutup gorden jendela kamarku. Aku duduk
termenung di atas ranjangku memikirkan semua kemungkinan apa yang baru saja aku
lihat.

“Apa aku salah lihat? Atau itu hanya bayangan pohon saja? tapi itu terlalu nyata,”
berkali-kali aku bergumam sendiri.

“Tok.. tok.. tok..,” tiba-tiba suara pintu kamarku berbunyi mengagetkanku dan
membuyarkan pikiranku.

“Putri... kamu sedang apa? Kok tiba-tiba kikuk gitu lihat mama?” Kata mamaku
tiba-tiba masuk kamarku.

“E...Gak lagi ngapa-ngapain kok Ma. Cuma baru liat pekarangan rumah kita aja,”
kataku agak gagu.

“Oh.. ini mama bawakan cemilan. Emang ada yang menarik ya di luar? Kamu
lihat apa saja?” sambil menaruh cemilan dan akan membuka gorden.

“Jangan ma, jangan dibuka..!” Kataku setengah berteriak.


Langkah mamaku untuk membuka gorden terhenti. Tapi mendengar kata-kataku
lebih membuatnya menjadi penasaran apa yang ada dibalik gorden itu. Ia pun
membukanya tanpa ragu dan membuatku menundukkan kepala karena takut akan melihat
apa yang aku lihat tadi.

“Hmmm.. kamu kenapa takut gitu Putri. Gak ada apa-apa kok. Cuma hujan aja.”
Kata mamaku dengan tenangnya.

Seketika aku langsung melihat keluar jendela, mengamati dengan cermat sesuatu
yang kulihat tadi. Tapi, tidak ada! Kemana? Sesuatu yang kulihat tadi tidak ada. Aku
termenung sejenak, berpikir bagaimana menjelaskannya ke mamaku. Mamaku terlihat
keheranan melihat sikapku yang aneh.

“Kamu kenapa Put? Kamu sakit?” Kata mamaku dengan khawatir.

“Nggak kok Ma, mungkin cuma kecapean aja.” Kataku agar melegakannya.

“Ya sudah, kamu istirahat dulu. Besok saja lanjutkan beres-beresnya. Mama
tinggal dulu ya.” Kata mama sambil berjalan keluar kamarku.

“emm... Ma.” Aku memanggil mama tiba-tiba.

“Iya kenapa Put?” Mama kembali bertanya.

“Hmm.. gak jadi deh Ma. Besok aja deh.”

Aku mengurungkan niatku untuk memberi tahu mama, aku bertekad untuk
menyelidikinya besok. Malam itu terasa panjang dan mimpi-mimpiku juga aneh, apakah
ini hanya pengaruh karena di tempat yang baru atau memang ini pertanda. Setelah
kejadian malam itu, aku selalu waspada, berprasangka dan memikirkan hal-hal yang aneh.

Keesokan paginya aku keluar rumah, di halaman aku melakukan srtreching ringan
sambil menghirup udara segar pedesaan. Sungguh nikmat dan terasa sekali perbedaannya
dengan kota yang udaranya penuh dengan polusi. Seketika aku lagi-lagi terpaku pada
tempat yang aku lihat kemarin malam. Sekilas tampak tidak ada yang aneh dan terasa
normal-normal saja. Tempat itu di seberang rumahku dibatasi pagar dan penuh timbunan
tanah, tempat persemayaman terakhir warga yang telah meninggal di desa itu. Aku
mencoba mendekati tempat itu dan mengamati sekitarnya, aku mendapati tanah-tanah
yang becek berantakan seperti bekas jejak-jejak kaki orang. Itu dia!! Jejak itu! Batin dan
pikiranku bergabung menjadi satu berprasangka bahwa jejak itu ada kaitannya dengan
kejadian kemarin malam. Malam ini aku bertekad untuk menyelidikinya.

Pada malam harinya, aku telah mengambil tempat di depan jendela kamar dan
berancang-ancang untuk mengamati tempat kejadian itu dijam yang sama. Satu jam, dua
jam berlalu tak sekalipun kualihkan pandanganku dari tempat itu, tapi tidak terjadi apa-
apa. Aku merasa bosan hingga mulai berpikir bahwa apa yang aku lihat tadi malam hanya
hayalanku saja. Seminggu berlalu sejak kepindahanku, semenjak malam itu tak pernah
lagi kulihat hal mengerikan yang mungkin hanya bayanganku saja. Tapi terkadang aku
masih merasa terganggu dengan bayangan itu.

Suatu malam tepatnya ba’da magrib, aku disuruh oleh mama untuk membeli gula
putih di warung. Jaraknya dari rumah lumayan jauh tapi aku cukup berjalan untuk sampai
di sana. Ketika hendak kembali ke rumah, awan yang mendung sejak sore tadi akhirnya
tak mampu membendung air yang ditampungnya hingga hujan mulai menghujami
tubuhku dan aku mulai berlari kecil agar tidak basah kuyup. Ketika hampir sampai rumah
dan melewati kuburan, tiba-tiba kakiku tersandung dan dalam sekejap badanku telah
bersatu dengan aspal jalan. Saat hendak bangkit aku melihat langkah kaki dibarengi
cangkul yang mengiringinya. Aku mulai ketakutan, tanpa pikir panjang akupun berteriak.

“aaahhhhhhhh....... tolong, tolong!”

“Neng, neng kenapa neng?” Tiba-tiba suara asing terdengar dari dekat.

“Tolong jangan bunuh saya, tolong!” Pintaku sambil menunduk dan menutup
mata dengan posisi badan masih menyatu dengan aspal.

Tiba-tiba tangan menyentuh lenganku dan berusaha membangkitkanku. Rasanya


tubuhku telah kehilangan nyawa dan tak mampu melawan ataupun membuka mata.

“Neng, neng gak pa-pa? Ayok saya bantu bangun, kok bisa jatuh di sini?” suara
itu terdengar lagi.

Suara itu tidak terdengar seperti orang jahat. Aku berusaha membuka mata dan
mendapati sosok separuh baya dihadapanku dengan tatapan cemas. Aku masih termenung
entah bagaimana harus bereaksi.
“Ba.. bapak orang baik kan?” Spontan itu yang keluar dari mulutku.

“Oalah.. tenang aja neng. Bapak penjaga kuburan di sini, kebetulan lagi hujan jadi
bapak harus buat aliran air hujan supaya tanahnya gak longsor.” Katanya menjelaskan.

“Jadi, bapak penjaga kuburan ya pak.” Aku mulai merasa lega.

Akupun berterima kasih pada bapak penjaga kubur itu karena telah membantuku.
Setelah di rumah, aku pun sadar semuanya hanya salah paham jadi selama ini kejadian
malam itu bukan seperti apa yang aku pikirkan, cangkul itu bukan untuk membunuh tapi
membuat aliran air hujan. Aku merasa konyol dengan diriku karena telah memikirkan
yang tidak-tidak. Ketakutan yang kulalui selama ini karena pikiranku sendiri. Seharusnya
aku bisa berpikir lebih positif dan tidak berprasangka buruk.

Putri Mayasari, kelahiran Surabaya 29 Juni 1997. Domisili Alas, Sumbawa NTB.
Mahasiswa semester V Pendidikan Matematika, FKIP Universitas Mataram. Hobi
mendengar musik dan salah satu impian ingin menjadi penulis terkenal, Aamiin 

Email : nala.putrimayasari@gmail.com
Idline : putriy29
No. Hp/ WA : 085237997825