Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam literatur fiqih klasik, masalah istishna' mulai mencuat setelah menjadi
bahan bahasan mazhab Hanafl seperti yang dikemukakan dalam Majullat al
Ahkarn al-adliya. Akademi Fiqh Islami pun menjadikan masalah ini sebagai salah
satu bahasan khusus. Karena itu, kajian akad bai 'al istishna' ini didasarkan pada
ketentuan yang dkembangkan oieh fiqih Hanafi dan perkembangan fiqih
selanjutnva, dilakukan fuqaha kontemporer.

Akad istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan
barangtertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu. Istishna dapat dilakukan
langsung antaradua belah pihak antara pemesan atau penjual seperti, atau melalui
perantara. Jika dilakukanmelalui pearantara maka akad disebut dengan akad
istishna paralel. Walaupun istishna adalah akad jual beli, tetapi memiliki
perbedaan dengan salammaupun dengan murabaha. Istishna lebih ke kontrak
pengadaan barang yang ditangguhkan dandapat di bayarkan secarra tangguh pula.
Istishna menurut para fuqaha adalah pengembangan dari salam, dan di izinkan
secarasyari’ah. Untuk pengakuan pendapatan istishna dapat dilakukan melalui
akad langsung danmetode persentase penyelesaian. Di mana metode persentase
penyelesaian yang digunakanmiris dengan akuntansi konvensional, kecuali
perbedaan laba yang di pisah antara margin labadan selisih nilai akad dengan nilai
wajar.

Tujuan mempelajari akutansi istishna itu sendiri adalah untuk memhami apa itu
yang dimaksud denga akutansi istishna, selain itu juga untuk mempelajari jenis-
jenis dari istishna, serta menganalisis ruang lingkup dari istishna itu sendiri.

1
B. Rumusan Masalah

a. Apa pengertian istishna?


b. Apa ketentuan syariah mengenai istishna?
c. Rukun dan syarat istishna
d. Mekanisme dan prosedur istishna
e. Isthisna paralel
f. Contoh kasus istishna
g. Istishna dalam akuntansi

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. BA’I Al-ISTISHNA’
1. DEFINISI BA’I Al-ISTISHNA’

Istishna' (‫ )استصناع‬adalah bentuk ism mashdar dari kata dasar istashna'a-


yastashni'u(‫ يستصنع‬- ‫)اتصنع‬. Artinya meminta orang lain untuk membuatkan
sesuatu untuknya.Dikatakan : istashna'a fulan baitan, meminta seseorang untuk
membuatkan rumah untuknya. Sedangkan menurut sebagian kalangan ulama dari
mazhab Hanafi, istishna' adalah (‫)عقد على مبيع في الذمة شرط فيه العمل‬. Artinya, sebuah
akad untuk sesuatu yang tertanggung dengan syarat mengerjakaannya. Sehingga
bila seseorang berkata kepada orang lain yang punya keahlian dalam membuat
sesuatu,"Buatkan untuk aku sesuatu dengan harga sekian dirham", dan orang itu
menerimanya, maka akad istishna' telah terjadi dalam pandangan mazhab ini.

Senada dengan definisi di atas, kalangan ulama mazhab Hambali


menyebutkan (‫)بيع سلعة ليست عنده على وجه غير السلم‬. Maknanya adalah jual-beli
barang yang tidak (belum) dimilikinya yang tidak termasuk akad salam. Dalam
hal ini akad istishna' mereka samakan dengan jual-beli dengan pembuatan ( ‫بيع‬
‫)بالصنعة‬.
Namun kalangan Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah mengaitkan akad istishna'
ini dengan akad salam. Sehingga definisinya juga terkait, yaitu ( ‫الشيء المسلم للغير من‬
‫)الصناعات‬, yaitu suatu barang yang diserahkan kepada orang lain dengan cara
membuatnya.
Jadi secara sederhana, istishna' boleh disebut sebagai akad yang terjalin antara
pemesan sebagai pihak 1 dengan seorang produsen suatu barang atau yang serupa
sebagai pihak ke-2, agar pihak ke- 2 membuatkan suatu barang sesuai yang
diinginkan oleh pihak 1 dengan harga yang disepakati antara keduanya.

3
2. DASAR HUKUM BA’I AL-ISTISHNA’ (Masyru'iyah)

Akad istishna' adalah akad yang halal dan didasarkan secara syar'i di atas
petunjuk Al-Quran, As-Sunnah dan Al-Ijma' di kalangan muslimin.
a. Al-Quran
ِّ ‫َّللاُ ْالبَ ْي َع َو َح َّر َم‬
‫الربا‬ َّ ‫َوأَ َح َّل‬
Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. (Qs. Al Baqarah:
275)
Berdasarkan ayat ini dan lainnya para ulama' menyatakan bahwa hukum
asal setiap perniagaan adalah halal, kecuali yang nyata-nyata diharamkan dalam
dalil yang kuat dan shahih.
b. As-Sunnah
‫َّللا ص َكانَ َع ْن‬
َّ ‫ى‬ َّ ‫ب إلَى ْال َع َجم فَقي َل لَهُ إ َّن ْال َع َج َم الَ َي ْق َبلُونَ إالَّ كت َابًا َع َليْه أَن ٍَس رضي هللا عنه أَ َّن نَب‬ َ ُ ‫أ َ َرادَ أ َ ْن َي ْكت‬
َ ‫ص‬
‫طنَ َع خَاتَ ًما م ْن‬ ْ ‫ فَا‬.‫ رواه مسلم خَات ٌم‬.‫ظ ُر إلَى بَيَاضه فى يَده‬ ُ ‫ َكأَنِّى أ َ ْن‬:َ‫قَال‬.ٍ‫ضة‬ َّ ‫ف‬
Dari Anas RA bahwa Nabi SAW hendak menuliskan surat kepada raja non-Arab,
lalu dikabarkan kepada beliau bahwa raja-raja non-Arab tidak sudi menerima
surat yang tidak distempel. Maka beliau pun memesan agar ia dibuatkan cincin
stempel dari bahan perak. Anas menisahkan: Seakan-akan sekarang ini aku dapat
menyaksikan kemilau putih di tangan beliau." (HR. Muslim)
Perbuatan nabi ini menjadi bukti nyata bahwa akad istishna' adalah akad yang
dibolehkan.
c. Al-Ijma'
Sebagian ulama menyatakan bahwa pada dasarnya umat Islam secara de-
facto telah bersepakat merajut konsensus (ijma') bahwa akad istishna' adalah akad
yang dibenarkan dan telah dijalankan sejak dahulu kala tanpa ada seorang sahabat
atau ulamakpun yang mengingkarinya. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk
melarangnya.
d. Kaidah Fiqhiyah
Para ulama di sepanjang masa dan di setiap mazhab fiqih yang ada di
tengah umat Islam telah menggariskan kaedah dalam segala hal selain ibadah:
‫األصل في األشياء اإلباحة حتى يدل الدليل على التحريم‬
Hukum asal dalam segala hal adalah boleh, hingga ada dalil yang menunjukkan
akan keharamannya.

4
e. Logika
Orang membutuhkan barang yang spesial dan sesuai dengan bentuk dan
kriteria yang dia inginkan. Dan barang dengan ketentuan demikian itu tidak di
dapatkan di pasar, sehingga ia merasa perlu untuk memesannya dari para
produsen. Bila akad pemesanan semacam ini tidak dibolehkan, maka masyarakat
akan mengalamai banyak kesusahan. Dan sudah barang tentu kesusahan semacam
ini sepantasnya disingkap dan dicegah agar tidak mengganggu kelangsungan
hidup masyarakat.

B. RUKUN BA’I AL-ISTISHNA’ DAN SYARAT ISTISHNA’


SERTA HAL-HAL SEPUTAR AKAD ISTISHNA’.

1. RUKUN BA’I AL-ISTISHNA’


Akad istishna' memiliki 3 rukun yang harus terpenuhi agar akad itu benar-
benar terjadi : [1] Kedua-belah pihak, [2] barang yang diakadkan dan [3] shighah
(ijab qabul).
a. Kedua-belah pihak
Kedua-belah pihak maksudnya adalah pihak pemesan yang diistilahkan
dengan mustashni' (‫ )المستصنع‬sebagai pihak pertama. Pihak yang kedua adalah
pihak yang dimintakan kepadanya pengadaaan atau pembuatan barang yang
dipesan, yang diistilahkan dengan sebutan shani' (‫)الصانع‬.
b. Barang yang diakadkan
Barang yang diakadkan atau disebut dengan al-mahal (‫ )المحل‬adalah rukun
yang kedua dalam akad ini. Sehingga yang menjadi objek dari akad ini semata-
mata adalah benda atau barang-barang yang harus diadakan. Demikian menurut
umumnya pendapat kalangan mazhab Al-Hanafi.
Namun menurut sebagian kalangan mazhab Hanafi, akadnya bukan atas
suatu barang, namun akadnya adalah akad yang mewajibkan pihak kedua
untuk mengerjakan sesuatu sesuai pesanan. Menurut yang kedua ini, yang
disepakati adalah jasa bukan barang.

5
c. Shighah (ijab qabul)
Ijab qabul adalah akadnya itu sendiri. Ijab adalah lafadz dari pihak
pemesan yang meminta kepada seseorang untuk membuatkan sesuatu untuknya
dengan imbalan tertentu. Dan qabul adalah jawaban dari pihak yang dipesan untuk
menyatakan persetujuannya atas kewajiban dan haknya itu.

2. SYARAT PADA AKAD ISTISHNA’


Dengan memahami hakekat akad istishna', kita dapat pahami bahwa akad
istishna' yang dibolehkan oleh Ulama mazhab Hanafi memiliki beberapa
persyaratan, sebagaimana yang berlaku pada akad salam diantaranya:
a. Penyebutan & penyepakatan kriteria barang pada saat akad dilangsungkan,
persyaratan ini guna mencegah terjadinya persengketaan antara kedua
belah pihak pada saat jatuh tempo penyerahan barang yang dipesan.
b. Tidak dibatasi waktu penyerahan barang. Bila ditentukan waktu
penyerahan barang, maka akadnya secara otomastis berubah menjadi akad
salam, sehingga berlaku padanya seluruh hukum-hukum akad salam,
demikianlah pendapat Imam Abu Hanifah.Akan tetapi kedua muridnya
yaitu Abu Yusuf, dan Muhammad bin Al Hasan menyelisihinya, mereka
berdua berpendapat bahwa tidak mengapa menentukan waktu penyerahan,
dan tidak menyebabkannya berubah menjadi akad salam, karena
demikianlah tradisi masyarakat sejak dahulu kala dalam akad istishna'.
Dengan demikian, tidak ada alasan untuk melarang penentuan waktu
penyerahan barang pesanan, karena tradisi masyarakat ini tidak
menyelisihi dalil atau hukum syari'at.
c. Barang yang dipesan adalah barang yang telah biasa dipesan dengan akad
istishna'. Persyaratan ini sebagai imbas langsung dari dasar dibolehkannya
akad istishna'. Telah dijelaskan di atas bahwa akad istishna' dibolehkan
berdasarkan tradisi umat Islam yang telah berlangsung sejak dahulu kala.
Dengan demikian, akad ini hanya berlaku dan dibenarkan pada barang-barang
yang oleh masyarakat biasa dipesan dengan skema akad istishna'. Adapun
selainnya, maka dikembalikan kepada hukum asal. Akan tetapi, dengan merujuk
dalil-dalil dibolehkannya akad istishna', maka dengan sendirinya persyaratan ini

6
tidak kuat. Betapa tidak, karena akad istishna' bukan hanya berdasarkan tradisi
umat islam, akan tetapi juga berdasarkan dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah. Bila
demikian adanya, maka tidak ada alasan untuk membatasi akad istishna' pada
barang-barang yang oleh masyarakat biasa dipesan dengan skema istishna' saja.

3. MEKANISME DAN PROSEDUR


Mekanisme
Mekanisme pembayaran transaksi akad istishna’ di sepakati di bagi menjadi
tiga yakni :
a. Pembayaran Dimuka Secara Keseluruhan
Proses pembayaran ini dilakukan dengan cara keseluruhan harga barang
pada saat akad sebelum aktivita istishna’ yang dipesan pada pembelian akhir. Cara
pembayaran seperti ini sama dengan pembayaran dalam transaksi salam.
b. Pembayaran Secara Angsuran Selama Proses Pembuatan
Proses pembayaran dilakukan oleh pemesan secara bertahap atau secara
angsuran selama proses pembuatan barang. Cara pembayaran memungkinkan
adanya pembayaran dalam beberapa termin sesuai dengan perkembanga proses
pembuatan aktiva istishna’.
c. Pembayaran Setelah Penyelesaian Barang
Prosese pembayaran dilakukan oleh pemesan kepada lembaga keuangan
syaria’ah setelah aktiva istishna’ yang dipesan diserahkan kepada pembeli akhir,
baik pembayaran secara keseluruhan maupun pembayaran secara angsuran. Cara
pembayaran istishna’ seperti ini sama dengan cara pembayaran transaksi
murabahah.
Prosedur
 Harus memenuhi syarat dan rukun
 Ada kesepakatan antar dua belah pihak
 Sesuai dengan spesifikasi pemesanan
 Harus di ketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, teknis,
kualitas,dan kuantitas nya.
 Di perboleh kan melaksanakan seluruh transaksi kecuali yang di larang

7
Penghentian Kontrak Ba’i al Istishna'
Kontrak ba'i al istishna' bisa dihentikan berdasarkan kondisi- kondisi berikut ini:
1. Dipenuhinya kewajiban secara normal oleh kedua belah pihak.
2. Persetujuan bersama kedua belah pihak untuk menghentikan kontrak.
3. Pembatalan hukum kontrak. Ini jika muncul sebab yang masuk akal untuk
mencegah dilaksanakannya kontrak atau penyelesai- annya, dan masing-
masing pihak bisa menuntut pembatalannya.

C. ISTISHNA’ PARALEL & APLIKASINYA PADA PERBANKAN DAN


LEMBAGA KEUANGAN SYARI’AH
Dalam sebuah kontrak bai’ al-istishna’, bisa saja pembeli mengizinkan
pembuat menggunakan subkontrakator untuk melaksanakan kontrak tersebut.
Dengan demikian, pembuat dapat membuat kontrak istishna’ kedua untuk
memenuhi kewajibannya kepada kontrak pertama. Kontrak baru ini di kenal
sebagai istishna’ pararel. Istishna’ pararel dapat dilakukan dengan syarat:(a) akad
kedua antara bank dan subkontraktor terpisah dari akad pertama antara bank dan
pembeli akhir dan (b) akad kedua di lakukan setelah akad pertama sah.

Akad istishnayang digunakan dalam bank syariah adalah istishna parallel,


aplikasinya dipergunakan pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi yang
pembayarannya dapat dilakukan dalam waktu yang relatif lama. Sehingga
pembayaran dapat dilakukan sekaligus atau bertahap.Ada beberapa konsekuensi
saat bank Islam menggunakan kontrak pararel. Diantaranya sebagai berikut.

1. Bank Islam sebagai pembuat kontrak pertama tetap merupakan satu-


satunya pihak yang bertanggung jawab terhadap pelaksaaan kewajibannya.
Istishna’ pararel atau subkontrak untuk sementara harus di anggap tidak
ada. Dengan demikian sebagai shani’ pada kontrak pertama, bank tetap
bertanggung jawab atas setiap kesalahan, kelalaian atau pelanggaran
kontrak yang berasal dari kontrak pararel.
2. Penerima subkontrak pembuatan pada istishna’ pararel bertanggung jawab
terhadap Bank Islam sebagai pemesan. Dia tidak mempunyai hubungan

8
hukum secara langsung dengan nasabah pada kontrak pertama akad. Bai’
al-istishna’ kedua merupakan kontrak pararel, tetapi bukan merupakan
bagian atau syarat untuk kontrak pertama. Dengan demikian kedua kontrak
tersebut tidak memunyai kaitan hukum sama sekali.
3. Bank sebagai shani’ atau pihak yang siap untuk membuat atau
mengadakan barang, bertanggungjawab kepada nasabah atas pelaksanaan
subkontraktor dan jaminan yang timbul darinya. Kewjiban inilah yang
membenarkan keabsahan istishna’ pararel, juga menjadi dasar bahwa bank
boleh memungut keuntungan kalau ada.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia selalu berinteraksi dengan


sesamanya untuk mengadakan berbagai transaksi ekonomi, salah satunya adalah
jual beli yang melibatkan dua pelaku, yaitu penjual dan pembeli. Biasanya penjual
adalah produsen , sedangkan pembeli adalah konsumen konsumen. Pada
kenyataannya, konsumen kadang memerlukan barang yang belum di hasilkan
sehingga konsumen melakukan transaksi jual beli dengan produsen dengan cara
pesanan. Di dalam perbankan syariah, jual beli Istishna’ lazim di tetapkan pada
bidang konstruksi dan manufaktur.

Contoh Kasus Istishna’ :


CV. Selayang Pandang yang bergerak dalam bidang pembuatan dan penjualan
sepatu memperoleh order untuk memebuat sepatu anak sekolah SMU senilai Rp.
60.000.000,-.dan mengajukan permodalan kepada Bank Syariah Plaju. Harga
perpasang sepatu yang di ajukan adalah Rp.85.000,- dan pembayarannya di angsur
selama tiga bulan. Harga perpasang sepatu di pasaran sekitar Rp. 90.000,-. Dalam
hal ini Bank Syariah Plaju tidak tahu berapa biaya pokok produksi. CV.Selayang
Pandang hanya memberikan keuntungan Rp. 5.000,- perpasang atau keuntungan
keseluruhan adalah RP. 3.529.412,-yang diperoleh dari hitungan Rp.
60.000.000/Rp. 85.000xRp. 5.000 = Rp. 3.529.412.
Bank Syariah Plaju dapat menawar harga yang diajukan oleh CV. Selayang
Pandang dengan harga yang lebih murah, sehingga dapat dijual kepada
masyarakat dengan harga yang lebih murah pula. Katakanlah misalnya Bank

9
Syariah Plaju menawar harga Rp. 86.000,-per pasang, sehingga masih untung Rp.
4.000,- perpasang dengan keuntungan keseluruhan adalah:
Rp. 60.000.000/Rp. 86.000xRp. 4.000 = Rp. 2.790.697

Isthisha dalam akuntansi

Pengakuan & Pengukuran


Menurut PSAK 104, pada pihak penjual, biaya Istishna terdiri dari biaya
langsung dan biaya tidak langsung. Biaya pra akad diakui sebagai biaya
ditangguhkan dan diperhitungkan sebagai biaya istishna untuk akad yang
ditandatangani, tetapi jika akad tidak jadi ditandatangani maka biaya tersebut
dibebankan pada periode berjalan. Biaya istishna yang terjadi selama periode
laporan keuangan, diakui sabagai aktiva istishna dalam penyelesaian pada saat
terjadinya.
Biaya stishna paralel terdiri dari biaya perolehan barang pesanan, biaya
tidak langsung dan (jika ada) semua biaya akibat sub-kontraktor tidak dapat
memenuhi kewajibannya. Biaya istishna paralel diakui sabagai aktiva istishna
dalam penyelesaian pada saat diterimanya tagihan dari subkontraktor sebesar
jumlah tagihan. Tagihan setiap termin kepada pembeli akhir diakui sebagai
piutang istishna dan sebagai termin istishna (istishna billing) pada pos lawannya.
Jika pembeli melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo dan
penjual memberikan potongan, maka potongan tersebut sebagai pengurang
pendapatan istishna. Pengakuan Pendapatan dapat diakui dengan 2 metode:
a. Metode persentase penyelesaian
Sistem pengakuan pendapatan yang dilakukan seiring dengan proses
penyelesaian berdasarkan akad istishna, nilai akad sebanding dengan pekerjaan
yang telah diselesaikan diakui sebagai pendapatan istishna pada periode yang
bersangkutan.
b. Metode akad selesai
Sistem pengakuan pendapatan yang dilakukan ketika proses pekerjaan
telah diselesaikan. Pendapatan diakui berdasarkan persentase akad yang telah
diselesaikan, biasanya menggunakan dasar persentase pengeluaran biaya

10
dibandingkan dengan total biaya, kemudian persentase tersebut dikalikan dengan
nilai akad.

Ketentuan Pembayaran
a) Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang,
atau manfaat
b) Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan
c) Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.

Ketentuan Barang
a) Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sbg hutang
b) Harus dapat dijelaskan spesifikasinya
c) Penyerahnnya dilakukan kemudian
d) Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan
kesepakatan
e) Pembeli (mustashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
f) Tidak boleh menukar barang kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan
g) Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sdengan kesepakatan, pemesan
memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan
akad.
Jurnal transaksi istishna’
a) Jurnal penyerahan dana dari pemilik modal ke bank syariah
Kas xxx
Hutang istishna’ xxx

b) Jurnal penyerahan dana dari bank syariah ke kontraktor


Aktiva istishna’ dalam penyelesaian xxx
Kas xxx
c) Jurnal penyerahan aktiva dari kontraktor ke bank syariah
Persediaan istishna xxx
Aktiva istishna dlm peny. Xxx

11
d) Jurnal penyerahan aktiva dari bank syariah ke pemilik modal
Hutang istishna xxx
Persediaan xxx
Keuntungan istishna’ xxx

Akuntansi Istishna
Contoh kasus: untuk membangun sebuah bagunan
Transaksi istishna pertama: antara nasabah dengan bank
Harga bangunan: Rp. 150.000.000
Termin pembayaran: 5 termin sebesar @ 30.000.000

Transaksi istishna kedua: antara bank dengan pemasok (kontraktor)


Harga bangunan: Rp. 130.000.000
Termin pembayaran: 3 termin sebesar: 20%= 26.000.000 dan 30%= 39.000.000
dan 50%= 65.000.000

1. Untuk keperluan survey bank telah mengeluarkan sejumlah dana, hal yang
demikian di kemudian hari akan diakui sebagai biaya overhead sebagai
penambah jumlah harga perolehan barang istishna
Beban pra akad yang ditangguhkan Rp. 2 jt
Kas Rp.2 jt
Saat penandatangan akad sebagai bentuk jadinya akad diteruskan
Biaya istishna Rp. 2 jt
Beban praakad yang ditangguhka Rp. 2 jt

2. Saat menerima barang dari pemasok, karena pemasok telah menyelesaikan


20% pembangunan, dan diakui dengan hutang
Asset istisna dalam penyelesaian Rp. 26 juta
Utang Rp. 26 juta
Pembayaran barang kepada pemasok
Utang istishna Rp. 26 juta
Kas Rp. 26 juta

12
Pengakuan pendapatan istishna
Asset istishna dalam penyelesaian Rp. 4 juta
Harga pokok istishna Rp. 26 juta
Pendapatan margin istishna Rp. 30 juta

3. Saat menerima barang dari pemasok, karena pemasok telah menyelesaikan


30% pembangunan, dan diakui dengan hutang
Asset istisna dalam penyelesaian Rp. 39 juta
Utang istishna Rp. 39 juta
Pembayaran barang kepada pemasok
Utang istishna Rp. 39 juta
Kas Rp. 39 juta
Pengakuan pendapatan istishna
Asset istishna dalam penyelesaian Rp. 6 juta
Harga pokok istishna Rp. 39 juta
Pendapatan margin istishna Rp. 45 juta
4. Saat menerima barang dari pemasok, karena pemasok telah menyelesaikan
50% pembangunan, dan diakui dengan hutang
Asset istisna dalam penyelesaian Rp. 65 juta
Utang istishna Rp. 65 juta
Pembayaran barang kepada pemasok
Utang istishna Rp. 65 juta
Kas Rp. 65 juta
Pengakuan pendapatan istishna
Asset istishna dalam penyelesaian Rp. 10 juta
Harga pokok istishna Rp. 65 juta
Pendapatan margin istishna Rp. 75 juta
5. Penagihan piutang istishna dan menerima pembayaran piutang istishna dari
pembeli (nasabah) selama 5 kali termin, maka sebenarnya jurnal ini dibut
sebanyak 5 kali sesuai tanggal terminnya, namun disini dilakukan
penyingkatan menjadi Satu
Piutang istishna Rp. 30 juta

13
Termin istishna Rp. 30 juta
Menerima pembayaran termin istishna dari pembeli (5 kali jurnal sesuai
termin)
Kas Rp. 30 juta
Piutang istishna Rp. 30 juta
Termin istishna Rp. 30 juta
Asset istishna dalam penyelesaian Rp. 30 juta

Contoh kasus ke dua

Dengan menggunakan kasus UJKS TIJARAH yang melakukan pesanan


pembangunan SDIT Anak Soleh.

Tahun pertama penyelesaian: Harga jual Rp. 750.000.000,-

Harga Pokok Rp. 300.000.000,-

Keuntungan Rp. 450.000.000,-

Sesuai informasi diatas maka tahun pertama mengeluarkan biaya Rp.


200.000.000,- dan tahun kedua Rp. 100.000.000,-, dengan begitu perhitungannya
sebagai berikut:

Tahun ke-1 Tahun ke-2

Persentase Penyelesaian 200/300 x 100% 100/300 x 100%


=66,66% =33,33%

Pencatatan Penerimaan Harga ke 750 x 66,66% =500jt 750 x 33,33% =250jt


Pembeli Akhir

Pendapatan Istishna yang diakui 450 x 66,66% =300jt 450 x 33,33% = 150jt
(Margin/Keuntungan istishna)

Atas perhitungan diatas maka jurnal yang dibuat oleh UJKS TIJARAH adalah
sebagai berikut:

Tahun ke-1 Tahun ke-2

Harga Pokok Istishna Rp. 200.000.000,- Rp. 100.000.000,-

Aktiva Istishna dalam Rp. 300.000.000,- Rp. 150.000.000,-

14
Penyelesaian

Nilai Kontrak Istishna Rp. 500.000.000,- Rp. 250.000.000,-

Pada saat UJKAS TIJARAH menerima gedung yang selsesai dibangun, jurnalnya
sebagai berikut:

Persediaan Rp. 300.000.000,-

Aktiva Istishna dalam penyelesaian Rp. 300.000.000,-

Pada saat penyelesaian akad dan penyerahan barang dari UJKS TIJARAH kepada
SDTI Anak Sholeh sebagai pembeli akhir, jurnal yang dibuat adalah:

Termin Istishna Rp. 300.000.000,-

Persediaan Rp. 300.000.000,-

2. Metode Akad Selesai

 Tidak ada pendapatan istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan tersebut
selesai;
 Tidak ada harga pokok istishna yang diakui sampai dengan pekerjaan tersebut
selesai;
 Tidak ada bagian keuntungan yang diakui dalam istishna ndalam penyelesaian
sampai dengan pekerjaan tersebut selesai;
 Pengakuan pendapatan istishna, harga poko istishna, dan keuntungan dilakukan
hanya pada akhir penyelesaian pekerjaan.

Jika menggunakan kasus UJKS TIJARAH maka metode akad selesai bisa
digunakan untuk melakukanperhitungan sebagai berikut:

1. Pada tahun pertama tidak terdapat perhitungan pendapatan

2. Pada tahun kedua terdapat pengakuan biaya dan pendapatan pada saat
selsainya akad yang ditandai dengan penyelesaian barang pesanan. Jurnal yang
dibuat UJKS TIJARAH adalah:

Harga Pokok Istishna Rp. 300.000.000,-

Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian Rp. 450.000.000,-

Nilai Kontrak Istishna Rp. 750.000.000,-

15
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
istishna' adalah akad yang terjalin antara pemesan sebagai pihak 1 dengan
seorang produsen suatu barang atau yang serupa sebagai pihak ke-2, agar pihak
ke- 2 membuatkan suatu barang sesuai yang diinginkan oleh pihak 1 dengan harga
yang disepakati antara keduanya.Akad istishna' adalah akad yang halal dan
didasarkan secara syar'i di atas petunjuk Al-Quran, As-Sunnah dan Al-Ijma' di
kalangan muslimin.Akad istishna' memiliki 3 rukun yang harus terpenuhi agar
akad itu benar-benar terjadi yaitu Kedua-belah pihak, barang yang diakadkan dan
shighah (ijab qabul).Mekanisme pembayaran transaksi akad istishna’ di sepakati
di bagi menjadi tiga yakni Pembayaran Dimuka Secara Keseluruhan ,Pembayaran
Secara Angsuran Selama Proses Pembuatan , Pembayaran Setelah Penyelesaian
Barang. Istishna’ pararel dapat dilakukan dengan syarat:(a) akad kedua antara
bank dan subkontraktor terpisah dari akad pertama antara bank dan pembeli akhir
dan (b) akad kedua di lakukan setelah akad pertama sah. Akad istishnayang
digunakan dalam bank syariah adalah istishna parallel, aplikasinya dipergunakan
pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi yang pembayarannya dapat
dilakukan dalam waktu yang relatif lama. Sehingga pembayaran dapat dilakukan
sekaligus atau bertahap. dan semua transaksi yang mngenai ishtishna’ dapat di
lakuakn kecuali yang di larang.

16
DAFTAR PUSTAKA
Sarwat, Ahmad., Lc; Ebook: Fiqih Muamalah
Antonio, Muhammad Syafi’I, Bank Syariah wacana Ulama dan Cendekiawan,
Jakarta : Tazkia Institute. 1999
http://rudiirawantofeuh.blogspot.co.id/2014/01/psak-104-akuntansi-istishna.html
https://senyummu13.wordpress.com/2012/03/26/akuntansi-transaksi-istishna/

17