Anda di halaman 1dari 49

BAB I

STATUS PASIEN

1.1 Identitas
1.1.1 Data Keluarga
Nama Kepala Keluarga Arpan (almarhum)
Alamat RT 03 Kel. Olak Kemang
Agama Islam
Bahasa sehari-hari Jambi Melayu
Jarak Yankes terdekat Puskesmas Olak Kemang
Alat transportasi Motor

1.1.2 Data Anggota Keluarga :


Hub dgn Pendidikan
No Nama JK Pekerjaan
KK terakhir
1. Rudi Anak ♂ SMA Swasta
2. Maria Anak ♀ Sarjana Tidak bekerja
3. Herman Anak ♂ SMA -

1.1.3 Data Individu yang sakit :


1. Nama : Rohaya
2. Umur : 53 tahun
3. Agama : Islam
4. Pekerjaan : Petani sawah
1.2 Latar Belakang Sosio-ekonomi-demografi-lingkungan-keluarga
1. Jumlah anak : 4 orang, satu sudah berkeluarga dan
tinggal bersama suaminya.
2. Status ekonomi keluarga :
- Status ekonomi keluarga cukup
- Pasien bekerja sebagai petani di sawah
- Penghasilan di dapat dari hasil tani dan anaknya

1
- Pasien tinggal dengan 3 orang anaknya
3. Kondisi Rumah :
- Rumah panggung, dinding dan lantai dari kayu papan jendela
beberapa buah di bagian depan dan samping, bagian belakang
tidak memiliki jendela. Terdapat 1 pintu bagian depan dan 1
pintu bagian belakang yang jarang dibuka.
- Kamar tidur 4 buah, pasien memakai kamar di belakang dekat
dapur.
- Rumah dihuni oleh 4 orang (pasien dan 3 orang anaknya).
- Sumber penerangan: PLN
- Sumber air: PDAM dan sumur (untuk memasak, minum, dan
mandi).
- Jamban leher angsa dengan septic tank satu buah.
- Pembuangan sampah dengan cara dikumpulkan dalam ember
lalu dibakar.
Kesan :
o Pencahayaan di rumah bagian belakang kurang
o Sanitasi cukup

4. Kondisi Lingkungan Keluarga :


- Pasien tinggal di lingkungan yang tidak terlalu padat penduduk,
jarak antara rumah tidak terlalu dekat.
- Warga di sekitar lingkungan pasien sangat ramah dan hidup
kekeluargaan di tempat ini cukup baik.

1.3 Aspek Psikologis di Keluarga :


1. Hubungan pasien dengan anaknya sangat baik.

1.4 Riwayat Penyakit Sekarang


1. Keluhan Utama
Batuk + 2 bulan dan memberat sejak 1 bulan yang lalu.

2
2. Riwayat Perjalanan Penyakit : (autoanamnesis )
Pasien mengeluh batuk - batuk hilang timbul yang sudah dialami
selama 2 bulan yang lalu. Batuk berdahak warna putih kental ± 1/2 sendok
teh tiap kali batuk, darah (-), Sesak (-), demam (-), mual (-), muntah (-),
nafsu makan menurun (+), keringat pada malam (+). Pasien mengatakan
batuk dirasakan memberat saat sore dan malam hari. BAK dan BAB biasa.
Pasien tidak pergi berobat dan hanya istirahat saja di rumahnya.
1 bulan terakhir, pasien mengeluh batuk semakin parah dan dahak
menjadi berwarna merah kecoklatan. Awalnya didahului dengan batuk
keras yang tidak tertahankan terus menerus. Awalnya warna darah yang
dibatukkan merah segar bercampur buih, tetapi lama kelamaan warna darah
menjadi lebih tua atau kecoklatan. Banyaknya darah ± 1/2 sendoh teh.
Pasien merasa badannya lemas dan napas terasa sesak. sesak tidak
dipengaruhi oleh cuaca maupun aktivitas. pasien sering mengalami demam
dan berkeringat pada malam hari. Nafsu makan sangat menurun (+) dan
pasien merasa badannya semakin kurus dan baju terasa longgar.
Karena sesak dan lemas semakin memberat, pasien kemudian
berobat ke RS Arafah dan mendapat perawatan selama 1 minggu, pasien
dilakukan pemeriksaan BTA dan rontgen dada dan kemudian didiagnosis
menderita TB paru, pasien selanjutnya di rujuk balik ke Puskesmas Olak
Kemang untuk mendapatkan pengobatan OAT.

1.5 Riwayat Penyakit Dahulu dan Keluarga


1. Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama.
2. Tidak ada anggota keluarga yang mengkonsumsi obat 6 bulan.
3. Teman pasien yang juga bertani disawah sedang manjalani pengobatan
OAT selama 3 bulan terakhir.

1.6 Riwayat Kebiasaan


Sebelum sakit, pasien sehari – hari bertani disawah bersama petani yang
lainnya. Pasien mengatakan bahwa salah satu teman sesama petani sedang

3
menjalani pengobatan paru paru sejak 3 bulan yang lalu. Pasien tidak terlalu
mengetahui tentang penyakit temannya tersebut. Pasien mengaku sering
berbincang bincang dengan temannya tersebut saat istirahat sejenak jika lelah
setelah bekerja. Pasien mengatakan temennya tersebut tidak pernah memakai
masker selama bekerja.

1.7 Pemeriksaan Fisik :


Keadaan Umum
1. Keadaan sakit : Tampak sakit sedang
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Suhu : 36,7°C
4. Nadi : 86x/menit
5. Tekanan Darah : 120/80 mmHg
6. Pernafasan
- Frekuensi : 22x/menit
- Irama : Reguler, Vesikuler
- Tipe : Thorakobdominal
7. Tinggi badan : 153 cm
8. Berat badan : 39 Kg
9. Status gizi : Normal / Ideal
Body Mass Index : (BB) / (TB)2
: (63/ (1,63)2
: 16,66 (underweight )
Patokan BMI :
BMI < 18.5 = berat badan kurang (underweight)
BMI 18.5 – 24 = normal
BMI 25 – 29 = kelebihan berat badan (overweight)
BMI >30 = obesitas
10. Kulit
- Turgor : baik
- Lembab / kering : lembab

4
- Lapisan lemak : ada

Pemeriksaan Organ
1. Kepala Bentuk : normocephal
Ekspresi : biasa
Simetri : simetris
2. Mata Exopthalmus/enophtal: (-)
Kelopak : normal
Conjungtiva : anemis (-)
Sklera : ikterik (-)
Kornea : normal
Pupil : bulat, isokor,
reflex cahaya +/+
Lensa : normal, keruh (-)

3. Hidung : tak ada kelainan


3. Telinga : tak ada kelainan
4. Mulut Bibir : lembab
Bau pernafasan : normal
Gigi geligi : lengkap
Palatum : deviasi (-)
Gusi : warna merah muda,
perdarahan (-)
Selaput Lendir : normal
Lidah : putih kotor, ulkus (-)
5. Leher KGB : tak ada pembengkakan
Kel.tiroid : tak ada pembesaran
JVP : 5 - 2 cmH2O
6. Thorax Bentuk : simetris
Pergerakan dinding dada : tidak ada yang
tertinggal

5
Pulmo
Pemeriksaan Kanan Kiri
Inspeksi Simetris
Palpasi Stem fremitus normal Stem fremitus normal
Perkusi Sonor Sonor
Batas paru-hepar :ICS
VI kanan
Auskultasi Wheezing (-), rhonki Wheezing (-), rhonki
(+) pada apex : basah, (+) pada apex : basah,
kasar kasar

Jantung
Inspeksi Ictus cordis terlihat di ICS V linea midclavicula
kiri
Palpasi Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicula
kiri
Perkusi Batas-batas jantung :
Atas : ICS II kiri
Kanan : linea sternalis kanan
Kiri : ICS VI linea midclavicula kiri
Auskultasi BJ I/II regular, murmur (-), gallop (-)

7. Abdomen
Inspeksi Datar, skar (-), venektasi (-), spidernevi (-)
Palpasi Hepar dan lien tak teraba
Perkusi Timpani
Auskultasi Bising usus (+) normal

8. Ekstremitas Atas : Akral hangat


Ekstremitas bawah : Akral hangat, Edem (-) / (-)

6
1.8 Pemeriksaan Penunjang :
Pemeriksaan sputum (SPS)  BTA (++)
Pemeriksaan rontgen thoraks  kesan TB paru aktif

1.9 Diagnosa :
TB Paru kasus baru

1.10 Manajemen
1. Preventif :
- Kalau batuk jangan buang dahak sembarangan, dahak sebaiknya
ditampung dalam kaleng yang sudah diberikan baiklin/antiseptik, lalu
dibuang dalam jamban atau di kubur.
- Menutup mulut ketika batuk, memakai masker.
- Membuat ventilasi rumah dengan baik
- Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makan makanan yang bergizi,
istirahat yang cukup, dan olahraga teratur

2. Promotif :
- Menunjuk keluarga pasien sebagai PMO bagi pasien untuk menunjang
keberhasilan pengobatan pasien.
- Memberikan pengertian dan pengetahuan pada pasien maupun keluarga
mengenai penyakit dan pentingnya keteraturan pengobatan serta evaluasi
pengobatan.
- Mengedukasi pasien dan keluarga pasien tantang resiko penularan, dan
pentingnya untuk deteksi dini.

3. Kuratif :
- Non Medikamentosa
o Istirahat yang cukup
o Makan makanan bergizi

7
- Medikamentosa :
Pemberian Obat 4 FDC
o Rifampisin 450 mg
o INH 300 mg
o Etambutol 500 mg
o Pirazinamid 500 mg
BB pasien (KG) Jumlah tablet (Hari)
30-70 2
38-54 3
50-70 4
>71 5

- Anjuran:
o Makan makanan yang bergizi, dan istirahat yang cukup
o Kontrol dan tambah obat setiap 1 minggu
o Setelah 2 bulan pengobatan, diperiksa BTA sputum
o Apabila hasil negatif, maka pengobatan dilanjutkan ke fase lanjutan
o Apabila hasil positif, maka pengobatan ditambah 28 hari
o 1 bulan menjelang pengobatan selesai/ bulan ke 5, kembali di periksa
BTA sputum
o Apabila hasil negatif, maka pengobatan dilanjutkan sampai bulan ke
6 dan pasien dinyatakan bebas TB
o Apabila hasil positif, maka akan dianggap kasus gagal pengobatan
dan berpindah ke OAT kategori 2
o Membawa keluarga ke pusat keseahan untuk dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut sehingga diberikan profilaksis TB atau apabila pada hasil
pemeriksaan menunjukkan hasil (+) TB paru maka dapat diberikan
terapi TB paru.

4. Evaluasi :
- Batuk darah tidak ada lagi

8
- Batuk sudah mulai berkurang.
- Demam dan berkeringat malam tidak ada lagi
- Nafsu makan telah mulai meningkat.
- Tiap batuk disediakan tempat khusus dahak dengan antiseptik.
- Jika batuk pasien menutup mulutnya/menggunakan masker.
- Kamar tidur pasien dibersihkan tiap hari dan jendela dibuka setiap sehari.
- Keluarga mulai mengerti tentang deteksi dini dengan memeriksakan diri
ke puskesmas jika anggota keluarga mengalami batuk lama.

DATA PENUNJANG KELUARGA


Sanitasi Lingkungan
- Tipe Rumah : panggung
- Ventilasi : baik
- Pencahayaan rumah : cukup baik
- Saluran buang limbah : baik
- Sumber air bersih : PDAM
- Tempat sampah tertutup : tidak

PHBS di Rumah Tangga


- Menggunakan air bersih untuk makan,minum dan kebersihan diri : ya
- Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun : ya
- Tersedia tempat pembuangan sampah : ya
- Menjaga lingkungan rumah tampak bersih : ya
- Mengkonsumsi lauk dan pauk dan sayuran tiap hari : ya
- Memberantas jentik di rumah seminggu sekali : tidak
- Makan buah setiap hari : tidak
- Melakukan aktifitas fisik tiap hari : ya
- Tidak merokok di dalam rumah : ya

9
KEMAMPUAN KELUARGA MELAKUKAN TUGAS PEMELIHARAAN
KESEHATAN ANGGOTA KELUARGANYA

 Adakah anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan atau


sakit saat ini : tidak ada
 Apakah ada anggota keluarga yang pernah terkena masalah kesehatan
yang sama dengan pasien sebelumnya : tidak
 Siapa yang membantu jika ada anggota keluarga yang menderita sakit :
semua anggota keluarga
 Adakah perhatian keluarga kepada anggota keluarga yang menderita
sakit : ada
 Apakah keluarga mengetahui masalah kesehatan yang dialami pasien :
ya
 Apakah keluarga mengetahui masalah penyebab masalah kesehatan
yang dialami pasien : ya
 Apakah keluarga mengetahui tanda dan gejala masalah kesehatan yang
dialami pasien : ya
 Apakah keluarga mengetahui akibat masalah kesehatan yang dialami
pasien bila tidak diobati/dirawat : ya
 Pada siapa keluarga biasa mengggali informasi tentang masalah
kesehatan keluarganya : petugas kesehatan
 Keyakinan keluarga tentang masalah kesehatan tersebut : perlu berobat
ke fasilitas pelayanan kesehatan
 Apakah keluarga melakukan upaya peningkatan kesehatan anggota
keluarga secara aktif : ya
 Apakah keluarga mampu memelihara atau memodifikasi lingkungan
yang mendukung kesehatan anggota keluarga yang megalami masalah
kesehatan : ya

KESIMPULAN TINGKAT KEMANDIRIAN KELUARGA

- Menerima petugas puskesmas dengan baik

10
- Menerima pelayanan kesehatan sesuai rencana
- Memanfaatkan fasilitas kesehatan sesuai anjuran
- Melakukan tindakan pencegahan secara aktif
- Melakukan tindakan promotif secara aktif

11
Permasalahan
13 Januari 2018 : Jam 14.00
Keluhan Pem. Fisik Terapi dan Masalah Pembinaan
/Diagno & Pem. saran
sis Penunjang
TB paru Kesadaran Terapy  - Pintu belakang - Menjelaskan pada
: CM - 4 FDC rumah dekat pasien pintu dan
TD : 120/ Saran  kamar pasien jendela harus dibuka
90 mmHg - Rutin jarang dibuka pada siang hari saat
N : 86 x/i minum pasien ada dirumah.
RR : 22x/i obat - Menjelaskan kepada
Pem. Fisik - Minum pasien agar
organ : dbn obat pagi - Pasien tidak menggunakan masker
BTA (++) hari setelah menggunakan saat aktifitas di luar
bangun masker rumah
tidur dan - Menjelaskan kepada
sebelum pasien cara
sarapan - Pasien membuang dahak
- Konsumsi membuang - Menjelaskan kepada
makanan dahak di kamar pasien cara/etiket
bergizi mandi. yang baik saat batuk.
- Pasien tidak
menutup mulut
saat batuk.

16 Januari 2018 : Jam 13.00


Masalah Pem. Fisik Perkembangan Masalah baru Pembinaan yang
Minggu & Pem. diberikan
lalu Penunjang
- Jendela Kesadaran : - Jendela - Menjelaskan
rumah CM masih - anak pasien kembali peranan
jarang TD : 110/ sering tidak membuka jendela

12
dibuka 80 mmHg tertutup melakukan cek dalam pada
- N : 87 x/i BTA. kesehatan keluarga.
- RR : 20x/i
- Pem. Fisik
- organ : dbn
- - Pasien - Pasien - Memberikan masker
tidak belum kepada pasien dan
menggu menggunak menjelaskan cara
nakan an masker penggunaan masker
masker - Dahak yang benar.
- - Pasien dibuang di - Menjelaskan
membua dalam kembali fungsi
ng dahak lubang memberikan
di kamar jamban dan antiseptik/bayclin
mandi. langsung dan mengubur dahak
disiram - Mengajarkan
- Saat batuk kembali etiket batuk
- - Pasien pasien yang benar.
tidak sudah mulai - Menyarankan
menutup menutup keluarga pasien
mulut mulut untuk dilakukan
saat namun pemeriksaan BTA
batuk masih
sering lupa

22 Januari 2018, Jam 13.00


Masalah Pem. Fisik Perkembangan Masalah baru Pembinaan yang
Minggu & Pem. diberikan
lalu Penunjang
- -Jendela Kesadaran : - Jendela dan - Pasien mulai - Menyarankan pasien
rumah CM pintu merasa malas membeli masker di

13
jarang TD : 110/ belakang mengkonsumsi apotik sementara
dibuka 70 mmHg sudah mulai obat karena waktu
- N : 78 x/i sering keluhan mual - Mengingatkan
- - Pasien RR : 20x/i dibuka akibat efek kembali etiket batuk
tidak Pem. Fisik samping obat. yang benar.
menggu organ : dbn - Pasien - Menjelaskan
nakan sudah pentingnya
masker menggunak pemeriksaaan BTA
an masker kepada keluarga
yang pasien terutama
- - Pasien diberikan yang memiliki
sudah - Saat batuk keluhan batuk lama
mulai pasien dan penurunan berat
menutup sudah mulai badan.
mulut menutup - Menjelaskan
saat mulut pentingnya tidak
batuk namun menghentikan OAT
namun masih tanpa sepengetahuan
masih sering lupa dokter dan
sering menyarankan
lupa - anak pasien keluarga pasien
- - anak belum menjadi PMO
pasien melakukan - Menjelaskan kepada
tidak cek BTA pasien dan keluarga
melakuk dengan
an menggunakan brosur
pemeriks
aan BTA

14
26 Januari 2018, Jam 14.00

Masalah Pem. Fisik Perkembangan Masalah baru Pembinaan yang


Minggu & Pem. diberikan
lalu Penunjang
- -Jendela Kesadaran : - Jendela - Menjelaskan
rumah jarangCM sudah kembali peranan
dibuka TD : 120/ sering membuka jendela
80 mmHg dibuka dalam pada
N : 85 x/i kesehatan keluarga.
- -Pasien RR : 20x/i - Pasien - Memberikan masker
tidak Pem. Fisik selalu kepada pasien dan
menggu organ : dbn menggunak menjelaskan cara
nakan an masker penggunaan masker
masker - Dahak yang benar.
- dibuang di - Menjelaskan
- - Pasien kloset kembali fungsi
tidak jamban dan memberikan
membua langsung antiseptik dalam
ng dahak disiram tampungan dahak
disembar - Saat batuk atau menguburnya
ang pasien atau langsung
tempat sudah menyiram dalam
sering kloset jambang
menutup - Mengajarkan
- - Pasien mulut kembali etiket batuk
sudah - Pasien yang benar.
mengerti sudah - Memberikan
etiket memahami apresiasi kepada
batuk akibat pasien dan keluarga

15
namun menghentik
masih an
sering pengobatan
lupa OAT tanpa
dalam sepengetah
praktekn uan dokter
ya. - Anak
- - Pasien perempuan
merasa pasien
malasme menjadi
ngkonsu PMO
msi obat
karena
keluhan
mual
akibat
efek
samping
obat

16
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Penyakit tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman Mycobacterium tuberculosis
menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya. Penyakit ini
merupakan infeksi bakteri kronik yang ditandai oleh pembentukan granuloma
pada jaringan yang terinfeksi dan reaksi hipersensitivitas yang diperantarai sel
(cell mediated hypersensitivity). Penyakit tuberkulosis yang aktif bisa menjadi
kronis dan berakhir dengan kematian apabila tidak dilakukan pengobatan yang
efektif.1,2
Klasifikasi penyakit tuberkulosis berdasarkan organ tubuh yang diserang
kuman Mycobacterium tuberculosis terdiri dari tuberkulosis paru dan tuberkulosis
ekstra paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru,
tidak termasuk pleura (selaput paru). Sedangkan tuberkulosis ekstra paru adalah
tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru misalnya, pleura,
selaput otak, selaput jantung (perikardium), kelenjar limfe, tulang, persendian,
kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain3.
2.2 Kuman tuberkulosis
Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri batang tipis lurus berukuran sekitar
0,4 x 3 µm4

Gambar 2.1 Mycobacterium tuberculosis pada pewarnaan tahan asam

17
Gambar di atas adalah Mycobacterium tuberculosis yang dilihat dengan
pewarnaan tahan asam dan berwarna merah. Sebagian besar bakteri ini terdiri atas
asam lemak (lipid), peptidoglikan dan arabinoman. Lipid inilah yang
menyebabkan kuman mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada
pewarnaan sehingga disebut pula sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA)2.
Di dalam jaringan Mycobacterium tuberculosis hidup sebagai parasit
intraseluler yakni dalam sitoplasma makrofag. Sifat lain bakteri ini adalah aerob,
sehingga bagian apikal merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis 5
2.3 Cara penularan
Sumber penularan adalah melalui pasien tuberkulosis paru BTA (+). Pada
waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
droplet (percikan dahak). Kuman yang berada di dalam droplet dapat bertahan di
udara pada suhu kamar selama beberapa jam dan dapat menginfeksi individu lain
bila terhirup ke dalam saluran nafas. Kuman tuberkulosis yang masuk ke dalam
tubuh manusia melalui pernafasan dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh
lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran pernafasan,
atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya 3.
2.4 Risiko penularan
Risiko penularan tiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection = ARTI)
di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-3 %. Pada daerah
dengan ARTI sebesar 1% mempunyai arti bahwa pada tiap tahunnya diantara
1000 penduduk, 10 orang akan terinfeksi. Sebagian besar orang yang terinfeksi
tidak akan menderita tuberkulosis, hanya sekitar 10% dari yang terinfeksi yang
akan menjadi penderita tuberkulosis3
2.5 Patogenesis tuberkulosis
2.5.1 Infeksi primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman
tuberkulosis. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat
melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus dan terus berjalan sampai ke
alveolus dan menetap di sana. Infeksi dimulai saat kuman tuberkulosis berhasil
berkembang biak dengan cara membelah diri di paru yang mengakibatkan radang
dalam paru. Saluran limfe akan membawa kuman ke kelenjar limfe di sekitar hilus

18
paru, dan ini disebut kompleks primer. Waktu terjadinya infeksi sampai
pembentukan kompleks primer adalah 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat
dibuktikan dengan terjadi perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya
respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya respon daya tahan
tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman tuberkulosis. Meskipun
demikian, ada beberapa kuman menetap sebagai kuman persisten atau dormant
(tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu menghentikan
perkembangan kuman. Akibatnya dalam beberapa bulan yang bersangkutan akan
menjadi pasien tuberkulosis. Masa inkubasi mulai dari seseorang terinfeksi
sampai menjadi sakit, membutuhkan waktu sekitar 6 bulan3
2.5.2 Tuberkulosis pasca primer (post primary tuberculosis)
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau
tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun
akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari
tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan
terjadinya kavitas atau efusi pleura 3.
2.6 Diagnosis tuberkulosis
Diagnosis TB paru ditegakkan berdasarkan diagnosis klinis, dilanjutkan
dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologis.
2.6.1 Diagnosis klinis
Diagnosis klinis adalah diagnosis yang ditegakkan berdasarkan ada atau
tidaknya gejala pada pasien. Pada pasien TB paru gejala klinis utama adalah batuk
terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih. Gejala tambahan yang
mungkin menyertai adalah batuk darah, sesak nafas dan rasa nyeri dada, badan
lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan
(malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan dan demam/meriang lebih
dari sebulan 3
2.6.2 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan pertama pada keadaan umum pasien mungkin ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris),
badan kurus atau berat badan menurun. Pada pemeriksaan fisik pasien sering tidak

19
menunjukkan suatu kelainan terutama pada kasus-kasus dini atau yang sudah
terinfiltrasi secara asimtomatik. Pada TB paru lanjut dengan fibrosis yang luas
sering ditemukan atrofi dan retraksi otot-otot interkostal. Bila TB mengenai
pleura, sering terbentuk efusi pleura sehingga paru yang sakit akan terlihat
tertinggal dalam pernapasan, perkusi memberikan suara pekak, auskultasi
memberikan suara yang lemah sampai tidak terdengar sama sekali. Dalam
penampilan klinis TB sering asimtomatik dan penyakit baru dicurigai dengan
didapatkannya kelainan radiologis dada pada pemeriksaan rutin atau uji tuberkulin
yang positif5.
2.6.3 Pemeriksaan radiologis
Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis untuk
menemukan lesi TB. Dalam beberapa hal pemeriksaan ini lebih memberikan
keuntungan, seperti pada kasus TB anak-anak dan TB milier yang pada
pemeriksaan sputumnya hampir selalu negatif. Lokasi lesi TB umumnya di daerah
apex paru tetapi dapat juga mengenai lobus bawah atau daerah hilus menyerupai
tumor paru. Pada awal penyakit saat lesi masih menyerupai sarang-sarang
pneumonia, gambaran radiologinya berupa bercak-bercak seperti awan dan
dengan batas-batas yang tidak tegas. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka
bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas yang tegas dan disebut
tuberkuloma 3
Pada kalsifikasi bayangannya tampak sebagai bercak-bercak padat dengan
densitas tinggi. Pada atelektasis terlihat seperti fibrosis yang luas dengan
penciutan yang dapat terjadi pada sebagian atau satu lobus maupun pada satu
bagian paru. Gambaran tuberkulosa milier terlihat berupa bercak-bercak halus
yang umumnya tersebar merata pada seluruh lapangan paru. Pada TB yang sudah
lanjut, foto dada sering didapatkan bermacam-macam bayangan sekaligus seperti
infiltrat, garis-garis fibrotik, kalsifikasi, kavitas maupun atelektasis dan
emfisema5.
Sebagaimana gambar TB paru yang sudah lanjut pada foto rontgen dada di bawah
ini :

20
Gambar 2.25 Tuberkulosis Yang Sudah Lanjut Pada Foto Rontgen Dada
2.6.4 Pemeriksaan bakteriologis
a. Sputum
Tuberkulosis paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya
BTA positif pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan
dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga pemeriksaan dahak SPS
(Sewaktu-Pagi-Sewaktu) BTA hasilnya positif 3
Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut
yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang. 1). Kalau hasil
rontgen mendukung tuberkulosis, maka penderita didiagnosis sebagai penderita
TB BTA positif. 2). Kalau hasil rontgen tidak mendukung TB, maka pemeriksaan
dahak SPS diulangi.
Bila ketiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas
(misalnya, Kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1-2 minggu. Bila tidak ada
perubahan, namun gejala klinis mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan dahak SPS.
1). Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita tuberkulosis BTA
positif. 2). Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan pemeriksaan foto rontgen dada,
untuk mendukung diagnosis TB.
a. Bila hasil rontgen mendukung TB, didiagnosis sebagai penderita TB BTA
negatif rontgen positif
b. Bila hasil rontgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan TB.

Diagnosis TB paru sesuai alur yang dibuat oleh Depkes RI (2006),


sebagaimana bisa dilihat dibawah ini :

21
Tersangka
Penderita TB
(suspek TB)

Periksa Dahak Sewaktu, Pagi, Sewaktu (SPS)

Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA

+++ +-- ---


++-
Periksa Rontgen
Beri Antibiotik
Dada
Spektrum Luas

Hasil Hasil Tidak


Mendukung Mendukung Tidak Ada Ada
TB TB Perbaikan Perbaikan

Ulangi Periksa Dahak SPS

Penderita Hasil BTA Hasil BTA


Tuberkulosis BTA
Positif +++ ---

++-

Periksa Rontgen Dada


Hasil
Rontge
Hasil n
Mendukun Negatif
g TB

TB BTA Bukan
Negatif TBC,
Rontgen Penyakit
Positif Lain
Gambar 2.3

Alur Diagnosis TB paru

22
Gambar 2.4 Alur Diagnosis TB paru1

23
Gambar : Alur diagnosis TB8

24
Gambar 2.5 Diagnosis TB pada ODHA1

Berdasarkan diagnosis di atas WHO pada tahun 1991 memberikan kriteria


pada pasien TB paru menjadi : a). Pasien dengan sputum BTA positif adalah
pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis ditemukan BTA,
sekurang kurangnya pada 2 kali pemeriksaan/1 sediaan sputumnya positif disertai
kelainan radiologis yang sesuai dengan gambaran TB aktif /1 sediaan sputumnya
positif disertai biakan yang positif. b). Pasien dengan sputum BTA negatif adalah
pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak ditemukan
BTA sama sekali, tetapi pada biakannya positif5.

25
b. Darah
Pada saat TB baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit
meninggi dengan pergeseran hitung jenis ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah
normal. Laju endap darah (LED) mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh,
jumlah leukosit kembali ke normal dan jumlah limfosit masih tinggi, LED mulai
turun ke arah normal lagi. Hasil pemeriksaan darah lain juga didapatkan: anemia
ringan dengan gambaran normokrom normositer, gama globulin meningkat, dan
kadar natrium darah menurun3
c. Tes Tuberkulin
Pemeriksaan ini masih banyak dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis
TB terutama pada anak-anak (balita). Sedangkan pada dewasa tes tuberkulin
hanya untuk menyatakan apakah seorang individu sedang atau pernah mengalami
infeksi Mycobacterium tuberculosis atau Mycobacterium patogen lainnya3.
Tes tuberkulin dilakukan dengan cara menyuntikkan 0,1 cc tuberkulin P.P.D
(Purified Protein Derivative) secara intrakutan. Dasar tes tuberkulin ini adalah
reaksi alergi tipe lambat. Setelah 48-72 jam tuberkulin disuntikkan, akan timbul
reaksi berupa indurasi kemerahan yang terdiri dari infiltrat limfosit yakni reaksi
persenyawaan antara antibodi seluler dan antigen tuberkulin. Cara penyuntikan tes
tuberkulin dapat dilihat pada gambar di bawah ini5:

(Bahar, 2007)
Gambar 2.4
Penyuntikan Tes Tuberkulin
Berdasarkan indurasinya maka hasil tes mantoux dibagi dalam (Bahar, 2007):
a). Indurasi 0-5 mm (diameternya) : Mantoux negatif = golongan no sensitivity. Di
sini peran antibodi humoral paling menonjol. b). Indurasi 6-9 mm : Hasil

26
meragukan = golongan normal sensitivity. Di sini peran antibodi humoral masih
menonjol. c). Indurasi 10-15 mm : Mantoux positif = golongan low grade
sensitivity. Di sini peran kedua antibodi seimbang. d). Indurasi > 15 mm :
Mantoux positif kuat = golongan hypersensitivity. Di sini peran antibodi seluler
paling menonjol.
Biasanya hampir seluruh penderita TB paru memberikan reaksi mantoux yang
positif (99,8%). Kelemahan tes ini adalah adanya positif palsu yakni pada
pemberian BCG atau terinfeksi dengan Mycobacterium lain, negatif palsu pada
pasien yang baru 2-10 minggu terpajan tuberkulosis, anergi, penyakit sistemik
serta (Sarkoidosis, LE), penyakit eksantematous dengan panas yang akut (morbili,
cacar air, poliomielitis), reaksi hipersensitivitas menurun pada penyakit hodgkin,
pemberian obat imunosupresi, usia tua, malnutrisi, uremia, dan penyakit
keganasan. Untuk pasien dengan HIV positif, tes mantoux ± 5 mm, dinilai positif
5

Pemeriksaan khusus
Salah satu masalah dalam mendiagnosis pasti tuberkulosis adalah
lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembiakan kuman tuberkulosis
secara konvensional. Dalam perkembangan kini ada beberapa teknik yang
lebih baru yang dapat mengidentifikasi kuman tuberkulosis secara lebih
cepat.
1. Pemeriksaan BACTEC
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah metode
radiometrik. M tuberculosis memetabolisme asam lemak yang kemudian
menghasilkan CO2 yang akan dideteksi growth indexnya oleh mesin ini.
Sistem ini dapat menjadi salah satu alternatif pemeriksaan biakan secara
cepat untuk membantu menegakkan diagnosis dan melakukan uji
kepekaan (dikutip dari 13)
Bentuk lain teknik ini adalah dengan menggunakan Mycobacteria
Growth Indicator Tube (MGIT).
2. Polymerase chain reaction (PCR):
Pemeriksaan PCR adalah teknologi canggih yang dapat mendeteksi DNA,
termasuk DNA M.tuberculosis. Salah satu masalah dalam pelaksanaan

27
teknik ini adalah kemungkinan kontaminasi. Cara pemeriksaan ini telah
cukup banyak dipakai, kendati masih memerlukan ketelitian dalam
pelaksanaannya. Hasil pemeriksaan PCR dapat membantu untuk
menegakkan diagnosis sepanjang pemeriksaan tersebut dikerjakan dengan
cara yang benar dan sesuai standar internasional.
Apabila hasil pemeriksaan PCR positif sedangkan data lain tidak ada yang
menunjang ke arah diagnosis TB, maka hasil tersebut tidak dapat dipakai
sebagai pegangan untuk diagnosis TB
Pada pemeriksaan deteksi M.tb tersebut diatas, bahan / spesimen
pemeriksaan dapat berasal dari paru maupun ekstraparu sesuai
dengan organ yang terlibat.
3. Pemeriksaan serologi, dengan berbagai metoda a.1:
a. Enzym linked immunosorbent assay (ELISA)
Teknik ini merupakan salah satu uji serologi yang dapat mendeteksi
respons humoral berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Beberapa
masalah dalam teknik ini antara lain adalah kemungkinan antibodi
menetap dalam waktu yang cukup lama.
b. ICT
Uji Immunochromatographic tuberculosis (ICT tuberculosis) adalah uji
serologi untuk mendeteksi antibodi M.tuberculosis dalam serum. Uji
ICT merupakan uji diagnostik TB yang menggunakan 5 antigen spesifik
yang berasal dari membran sitoplasmaM.tuberculosis, diantaranya antigen
M.tb 38 kDa. Ke 5 antigen tersebut diendapkan dalam bentuk 4 garis
melintang pada membran immunokromatografik (2 antigen diantaranya
digabung dalam 1 garis) disamping garis kontrol. Serum yang akan
diperiksa sebanyak 30 ml diteteskan ke bantalan warna biru, kemudian
serum akan berdifusi melewati garis antigen. Apabila serum mengandung
antibodi IgG terhadap M.tuberculosis, maka antibodi akan berikatan
dengan antigen dan membentuk garis warna merah muda. Uji dinyatakan
positif bila setelah 15 menit terbentuk garis kontrol dan minimal satu dari
empat garis antigen pada membran.
c. Mycodot

28
Uji ini mendeteksi antibodi antimikobakterial di dalam tubuh manusia.
Uji ini menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM) yang direkatkan
pada suatu alat yang berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini kemudian
dicelupkan ke dalam serum pasien, dan bila di dalam serum tersebut
terdapat antibodi spesifik anti LAM dalam jumlah yang memadai sesuai
dengan aktiviti penyakit, maka akan timbul perubahan warna pada sisir
dan dapat dideteksi dengan mudah
d. Uji peroksidase anti peroksidase (PAP)
Uji ini merupakan salah satu jenis uji yang mendeteksi reaksi serologi
yang terjadi. Dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan serologi yang
diperoleh, para klinisi harus hati hati karena banyak variabel yang
mempengaruhi kadar antibodi yang terdeteksi.
e. Uji serologi yang baru / IgG TB
Uji IgG adalah salah satu pemeriksaan serologi dengan cara mendeteksi
antibodi IgG dengan antigen spesifik untukMycobacterium
tuberculosis. Uji IgG berdasarkan antigen mikobakterial rekombinan
seperti 38 kDa dan 16 kDa dan kombinasi lainnya akan menberikan
tingkat sensitiviti dan spesifisiti yang dapat diterima untuk diagnosis. Di
luar negeri, metode imunodiagnosis ini lebih sering digunakan untuk
mendiagnosis TB ekstraparu, tetapi tidak cukup baik untuk diagnosis TB
pada anak.
Saat ini pemeriksaan serologi belum dapat dipakai sebagai pegangan
untuk diagnosis.

2.7 Komplikasi tuberkulosis


Tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan
komplikasi. Komplikasi dini antara lain dapat timbul pleuritis, efusi pleura,
empiema, laringitis, usus Poncet’s arthropathy. Sedangkan komplikasi lanjut
dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas, kerusakan parenkim paru, kor
pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru, dan sindrom gagal napas (sering terjadi
pada TB milier dan kavitas TB) 5

29
2.8 Tipe penderita tuberkulosis
Tipe penderita tuberkulosis berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya,
yaitu :
a. Kasus baru
Kasus baru adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah
pernah mengkonsumsi OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian).
b. Kambuh (relaps)
Kambuh (relaps) adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapat pengobatan tuberkulosa dan telah dinyatakan sembuh, kemudian
kembali lagi berobat dengan pemeriksaan dahak BTA positif.
c. Pindahan (transfer in)
Pindahan (transfer in) adalah pasien yang sedang mendapat pengobatan di
suatu kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita
pindahan tersebut harus membawa surat rujukan / pindah (form TB. 09).
d. Setelah lalai (pengobatan setelah default / drop out)
Setelah lalai (pengobatan setelah default / drop out) adalah pasien yang sudah
berobat paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang
kembali berobat. Umumnya penderita tersebut kembali dengan hasil pemeriksaan
dahak BTA positif.
e. Gagal
Gagal adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi
positif pada akhir bulan kelima (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau pada
akhir pengobatan. Atau penderita dengan hasil BTA negatif rontgen positif pada
akhir bulan kedua pengobatan.
f. Kasus kronis
Kasus kronis adalah pasien dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif
setelah selesai pengobatan ulang kategori II dengan pengawasan yang baik.
g. Tuberkulosis resistensi ganda
Tuberkulosis resistensi ganda adalah tuberkulosis yang menunjukkan resistensi
terhadap Rifampisin dan INH dengan/tanpa OAT lainnya3.

30
2.9 Pengobatan Tuberkulosis Paru
2.9.1 Prinsip pengobatan
Terdapat 2 macam aktifitas/sifat obat terhadap TB yaitu aktivitas
bakterisid di mana obat bersifat membunuh kuman–kuman yang sedang
tumbuh (metabolismenya masih aktif) dan aktivitas sterilisasi, obat bersifat
membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya lambat (metabolismenya
kurang aktif). Aktivitas bakterisid biasanya diukur dari kecepatan obat
tersebut membunuh/melenyapkan kuman sehingga pada pembiakan akan
didapatkan hasil yang negatif (2 bulan dari permulaan pengobatan). Aktivitas
sterilisasi diukur dari angka kekambuhan setelah pengobatan dihentikan.
Hampir semua OAT mempunyai sifat bakterisid kecuali Etambutol dan
Tiasetazon yang hanya bersifat bakteriostatik dan masih berperan untuk
mencegah resistensi kuman terhadap obat. Rifampisin dan Pirazinamid
mempunyai aktivitas sterilisasi yang baik, sedangkan INH dan Streptomisin
menempati urutan lebih bawah (Bahar & Amin, 2007).
2.9.2 Kemoterapi TB
Program nasional pemberantasan TB di Indonesia sudah dilaksanakan
sejak tahun 1950-an. Ada 6 macam obat esensial yang telah dipakai yaitu
Isoniazid (H), Para Amino Salisilik Asid (PAS), Streptomisin (S), Etambutol
(E), Rifampisin (R) dan Pirazinamid (Z). Sejak tahun 1994 program
pengobatan TB di Indonesia telah mengacu pada program Directly observed
Treatment Short-course (DOTS) yang didasarkan pada rekomendasi WHO,
strategi ini memasukkan pendidikan kesehatan, penyediaan OAT gratis dan
pencarian secara aktif kasus TB. Pengobatan ini memiliki 2 prinsip dasar :
Pertama, terapi yang berhasil memerlukan minimal 2 macam obat yang
basilnya peka terhadap obat tersebut dan salah satu daripadanya harus
bakterisidik. Obat anti tuberkulosis mempunyai kemampuan yang berbeda
dalam mencegah terjadinya resistensi terhadap obat lainnya. Obat H dan R
merupakan obat yang paling efektif, E dan S dengan kemampuan mencegah,
sedangkan Z mempunyai efektifitas terkecil. Kedua, penyembuhan penyakit
membutuhkan pengobatan yang baik setelah perbaikan gejala klinisnya,

31
perpanjangan lama pengobatan diperlukan untuk mengeleminasi basil yang
persisten (Bahar & Amin, 2007).
Regimen pada pengobatan sekitar tahun 1950-1960 memerlukan waktu
18-24 bulan untuk jaminan menjadi sembuh. Dengan metode DOTS
pengobatan TB diberikan dalam bentuk kombinasi dari berbagai jenis OAT,
dalam jumlah yang cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan, supaya semua
kuman dapat dibunuh. Pengobatan diberikan dalam 2 tahap, tahap intensif dan
tahap lanjutan. Pada tahap intensif penderita mendapat obat baru setiap hari
dan diawasi langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua
jenis OAT terutama Rifampisin. Bila pengobatan tahap intensif tersebut
diberikan secara tepat, biasanya penderita menular menjadi tidak menular
dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita tuberkulosis BTA
positif menjadi BTA negatif pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan ketat
dalam tahap ini sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan obat.
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit tetapi dalam
jangka waktu yang lebih lama. Tahap ini bertujuan untuk membunuh kuman
persisten (dormant) sehingga dapat mencegah terjadinya kekambuhan (Bahar
& Amin, 2007; Depkes RI, 2006).

2.9.3 Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


Obat-obat TB dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis regimen, yaitu obat
lapis pertama dan obat lapis kedua. Kedua lapisan obat ini diarahkan ke
penghentian pertumbuhan basil, pengurangan basil dormant dan pencegahan
resistensi. Obat-obatan lapis pertama terdiri dari Isoniazid, Rifampisin,
Pirazinamid, Etambutol dan Streptomisin. Obat-obatan lapis dua mencakup
Rifabutin, Ethionamid, Cycloserine, Para-Amino Salicylic acid, Clofazimine,
Aminoglycosides di luar Streptomycin dan Quinolones. Obat lapis kedua ini
dicadangkan untuk pengobatan kasus-kasus multi drug resistance. Obat
tuberkulosis yang aman diberikan pada perempuan hamil adalah Isoniazid,
Rifampisin, dan Etambutol (Bahar & Amin, 2007).
Jenis OAT lapis pertama dan sifatnya dapat dilihat pada tabel di bawah
ini:

32
Tabel 2.1 Jenis dan Sifat OAT3,5
Jenis OAT Sifat Keterangan

Isoniazid Bakterisid Obat ini sangat efektif terhadap kuman


(H) dalam keadaan metabolik aktif, yaitu
Terkuat kuman yang sedang berkembang.
Mekanisme kerjanya adalah menghambat
cell-wall biosynthesis pathway

Rifampisin Bakterisid Rifampisin dapat membunuh kuman semi-


(R) dormant (persistent) yang tidak dapat
dibunuh oleh Isoniazid. Mekanisme
kerjanya adalah menghambat polimerase
DNA-dependent ribonucleic acid (RNA)
M. Tuberculosis

Pirazinamid Bakterisid Pirazinamid dapat membunuh kuman yang


(Z) berada dalam sel dengan suasana asam.
Obat ini hanya diberikan dalam 2 bulan
pertama pengobatan.

Streptomisin Bakterisid obat ini adalah suatu antibiotik golongan


(S) aminoglikosida dan bekerja mencegah
pertumbuhan organisme ekstraselular.

Etambutol Bakteriostatik -
(E)

2.9.4 Regimen pengobatan (metode DOTS)


Pengobatan TB memerlukan waktu sekurang-kurangnya 6 bulan agar
dapat mencegah perkembangan resistensi obat, oleh karena itu WHO telah
menerapkan strategi DOTS dimana petugas kesehatan tambahan yang
berfungsi secara ketat mengawasi pasien minum obat untuk memastikan
kepatuhannya. Oleh karena itu WHO juga telah menetapkan regimen
pengobatan standar yang membagi pasien menjadi 4 kategori berbeda menurut
definisi kasus tersebut, seperti bisa dilihat pada tabel di bawah ini5:

33
Tabel 2.2 Berbagai Paduan Alternatif Untuk Setiap Kategori Pengobatan5,6
Kategori Paduan pengobatan TB
pengobatan alternatif
TB Pasien TB
Fase awal Fase lanjutan
(setiap hari / 3 x
seminggu)

I Kasus baru TB paru 2 EHRZ 6 HE


dahak positif; kasus baru (SHRZ)
TB paru dahak negatif 4 HR
dengan kelainan luas di 2 EHRZ
(SHRZ) 4 H3 R3
paru; kasus baru TB
ekstra-pulmonal berat
2 EHRZ
(SHRZ)

II Kambuh, dahak positif; 2 SHRZE / 1 5 H3R3E3


pengobatan gagal; HRZE
pengobatan setelah 5 HRE
terputus 2 SHRZE / 1
HRZE

III Kasus baru TB paru 2 HRZ atau 6 HE


dahak negatif (selain 2H3R3Z3
dari kategori I); kasus
baru TB ekstra- 2 HRZ atau
2H3R3Z3 2 HR/4H
pulmonal yang tidak
berat
2 HRZ atau
2H3R3Z3
2 H3R3/4H

IV Kasus kronis (dahak TIDAK DIPERGUNAKAN


masih positif setelah
menjalankan pengobatan (merujuk ke penuntun WHO
ulang) guna pemakaian obat lini kedua
yang diawasi pada pusat-pusat
spesialis)

Sesuai tabel di atas, maka paduan OAT yang digunakan untuk program
penanggulangan tuberkulosis di Indonesia adalah5:
Kategori I : 2HRZE (S) / 6HE.

34
Pengobatan fase inisial regimennya terdiri dari 2HRZE (S) setiap hari selama
2 bulan obat H, R, Z, E atau S. Sputum BTA awal yang positif setelah 2 bulan
diharapkan menjadi negatif, dan kemudian dilanjutkan ke fase lanjutan 4HR atau
4 H3 R3 atau 6 HE. Apabila sputum BTA masih positif setelah 2 bulan, fase
intensif diperpanjang dengan 4 minggu lagi tanpa melihat apakah sputum sudah
negatif atau tidak.

Kategori II : 2HRZES/1HRZE/5H3R3E3
Pengobatan fase inisial terdiri dari 2HRZES/1HRZE yaitu R dengan H, Z, E,
setiap hari selama 3 bulan, ditambah dengan S selama 2 bulan pertama. Apabila
sputum BTA menjadi negatif fase lanjutan bisa segera dimulai. Apabila sputum
BTA masih positif pada minggu ke-12, fase inisial dengan 4 obat dilanjutkan 1
bulan lagi. Bila akhir bulan ke-2 sputum BTA masih positif, semua obat
dihentikan selama 2-3 hari dan dilakukan kultur sputum untuk uji kepekaan, obat
dilanjutkan memakai fase lanjutan, yaitu 5H3R3E3 atau 5 HRE.

Kategori III : 2HRZ/2H3R3


Pengobatan fase inisial terdiri dari 2HRZ atau 2 H3R3, yang dilanjutkan
dengan fase lanjutan 2HR atau 2 H3R3.

Kategori IV : Rujuk ke ahli paru atau menggunakan INH seumur hidup


Pada pasien kategori ini mungkin mengalami resistensi ganda, sputumnya
harus dikultur dan dilakukan uji kepekaan obat. Seumur hidup diberikan H saja
sesuai rekomendasi WHO atau menggunakan pengobatan TB resistensi ganda
(MDR-TB).
Selain 4 kategori di atas, disediakan juga paduan obat sisipan (HRZE).
Obat sisipan akan diberikan bila pasien tuberkulosis kategori I dan kategori II
pada tahap akhir intensif pengobatan (setelah melakukan pengobatan selama 2
minggu), hasil pemeriksaan dahak/sputum masih BTA positif 3

2.9.5 Dosis obat

35
Tabel di bawah ini menunjukkan dosis obat yang dipakai di Indonesia secara
harian maupun berkala dan disesuaikan dengan berat badan pasien5

:
Tabel 2.3 Dosis Obat yang Dipakai di Indonesia3,5
Jenis Dosis

Isoniazid (H)  harian : 5mg/kg BB


 intermiten : 10 mg/kg BB 3x seminggu
Rifampisin (R) harian = intermiten : 10 mg/kgBB

Pirazinamid (Z)  harian : 25mg/kg BB


 intermiten : 35 mg/kg BB 3x seminggu

Streptomisin (S)  harian = intermiten : 15 mg/kgBB


 usia sampai 60 th : 0,75 gr/hari
 usia > 60 th : 0,50 gr/hari
Etambutol (E)  harian : 15mg/kg BB
 intermiten : 30 mg/kg BB 3x seminggu

36
2.9.6 Kombinasi obat
Pada tahun 1998 WHO dan IUATLD merekomendasikan pemakaian obat
kombinasi dosis tetap 4 obat sebagai dosis yang efektif dalam terapi TB untuk
menggantikan paduan obat tunggal sebagai bagian dari strategi DOTS. Paduan
OAT ini disediakan dalam bentuk paket dengan tujuan memudahkan pemberian
obat dan menjamin kelangsungan pengobatan sampai selesai. Tersedia obat
Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) untuk paduan OAT kategori I dan II. Tablet
OAT-KDT ini adalah kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam 1 tablet. Dosisnya
(jumlah tablet yang diminum) disesuaikan dengan berat badan pasien, paduan ini
dikemas dalam 1 paket untuk 1 pasien dalam 1 masa pengobatan. Dosis paduan
OAT-KDT untuk kategori I, II dan sisipan dapat dilihat pada tabel di bawah ini3:

Tabel 2.4 Dosis Paduan OAT KDT Kategori I : 2(RHZE)/4(RH)3


Berat badan Tahap Intensif tiap hari Tahap Lanjutan 3x seminggu
selama 56 hari selama 16 minggu
RHZE (150/75/400/275) RH (150/150)

30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 4KDT

38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT

55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT

> 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT

Tabel 2.5 Dosis Paduan OAT KDT Kategori II: 2(RHZE)S/(RHZE)/5(HR)3E3

Berat Tahap Intensif tiap hari Tahap Lanjutan3x seminggu


RHZE (150/75/400/275)
badan +S RH (150/150) + E (400)

Selama 58 hari Selama 28 hari Selama 2 Minggu

30 – 37 kg 2 tab 4KDT + 500mg 2 tab 4KDT 2 tab 2KDT + 2


tab Etambutol
Streptomisin inj

38 – 54 kg 3 tab 4KDT + 750mg 3 tab 4KDT 3 tab 2KDT + 3


tab Etambutol
Streptomisin inj

37
55 – 70 kg 4 tab 4KDT + 1000mg 4 tab 4KDT 4 tab 2KDT + 4
tab Etambutol
Streptomisin inj

> 71 kg 5 tab 4KDT + 1000mg 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 5


tab Etambutol
Streptomisin inj

Tabel 2.6 Dosis OAT untuk Sisipan

Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari


RHZE (150/75/400/275)

30 – 37 kg 2 tablet 4KDT

38 – 54 kg 3 tablet 4KDT

55 – 70 kg 4 tablet 4KDT

≥ 71 kg 5 tablet 4KDT

2.9.7 Efek samping pengobatan


Dalam pemakaian OAT sering ditemukan efek samping yang mempersulit
sasaran pengobatan. Bila efek samping ini ditemukan, mungkin OAT masih dapat
diberikan dalam dosis terapeutik yang kecil, tapi bila efek samping ini sangat
mengganggu OAT yang bersangkutan harus dihentikan dan pengobatan dapat
diteruskan dengan OAT yang lain (Bahar & Amin 2007).
Efek samping yang dapat ditimbulkan OAT berbeda-beda pada tiap pasien,
lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2.7 Efek Samping Pengobatan dengan OAT3,5


Jenis Obat Ringan Berat

Isoniazid (H) tanda-tanda keracunan Hepatitis, ikhterus


pada syaraf tepi,
kesemutan, nyeri otot dan
gangguan kesadaran.
Kelainan yang lain
menyerupai defisiensi
piridoksin (pellagra) dan

38
kelainan kulit yang
bervariasi antara lain
gatal-gatal.

Rifampisin (R) gatal-gatal kemerahan Hepatitis, sindrom


kulit, sindrom flu, sindrom respirasi yang ditandai
perut. dengan sesak nafas,
kadang disertai dengan
kolaps atau renjatan
(syok), purpura, anemia
hemolitik yang akut, gagal
ginjal

Pirazinamid (Z) Reaksi hipersensitifitas : Hepatitis, nyeri sendi,


demam, mual dan serangan arthritis gout
kemerahan

Streptomisin (S) Reaksi hipersensitifitas : Kerusakan saraf VIII


demam, sakit kepala, yang berkaitan dengan
muntah dan eritema pada keseimbangan dan
kulit pendengaran

Etambutol (E) Gangguan penglihatan Buta warna untuk warna


berupa berkurangnya merah dan hijau
ketajaman penglihatan

Untuk mencegah terjadinya efek samping OAT perlu dilakukan


pemeriksaan kontrol, seperti 5
a. Tes warna untuk mata, bagi pasien yang memakai Etambutol
b. Tes audiometri bagi pasien yang memakai Streptomisin
c. Pemeriksaan darah terhadap enzim hepar, bilirubin, ureum/kreatinin,
darah perifer dan asam urat (untuk pasien yang menggunakan
Pirazinamid)

39
Tabel 2.8. Mengobati efek yang tidak diinginkan OAT1

40
2.10 Hasil pengobatan tuberkulosis
World Health Organization (1993) menjelaskan bahwa hasil pengobatan
penderita tuberkulosis paru dibedakan menjadi :
a. Sembuh: bila pasien tuberkulosis kategori I dan II yang BTA nya negatif
2 kali atau lebih secara berurutan pada sebulan sebelum akhir
pengobatannya.
b. Pengobatan lengkap: pasien yang telah melakukan pengobatan sesuai
jadwal yaitu selama 6 bulan tanpa ada follow up laboratorium atau hanya
1 kali follow up dengan hasil BTA negatif pada 2 bulan terakhir
pengobatan.
c. Gagal: pasien tuberkulosis yang BTA-nya masih positif pada 2 bulan dan
seterusnya sebelum akhir pengobatan atau BTAnya masih positif pada
akhir pengobatan.
Pasien putus berobat lebih dari 2 bulan sebelum bulan ke-5 dan BTA
terkhir masih positif.
Pasien tuberkulosis kategori II yang BTA menjadi positif pada bulan ke-
2 dari pengobatan.
d. Putus berobat/defaulter: pasien TB yang tidak kembali berobat lebih dari
2 bulan sebelum bulan ke-5 dimana BTA terakhir telah negatif.
e. Meninggal: penderita TB yang meninggal selama pengobatan tanpa
melihat sebab kematiannya.

41
Tabel 2.9 : Definisi Hasil Pengobatan1

2.11 Evaluasi pengobatan


Bayupurnama (2007) menjelaskan bahwa terdapat beberapa metode
yang bisa digunakan untuk evaluasai pengobatan TB paru :
a. Klinis: biasanya pasien dikontrol dalam 1 minggu pertama, selanjutnya 2
minggu selama tahap intensif dan seterusnya sekali sebulan sampai
akhir pengobatan. Secara klinis hendaknya terdapat perbaikan keluhan-

42
keluhan pasien seperti batuk berkurang, batuk darah hilang, nafsu
makan bertambah, berat badan meningkat dll.
b. Bakteriologis: biasanya setelah 2-3 minggu pengobatan sputum BTA
mulai menjadi negatif. Pemeriksaan kontrol sputum BTA dilakukan
sekali sebulan. WHO (1991) menganjurkan kontrol sputum BTA
langsung dilakukan pada akhir bulan ke-2, 4 dan 6. Pemeriksaan
resistensi dilakukan pada pasien baru yang BTA-nya masih positif
setelah tahap intensif dan pada awal terapi bagi pasien yang
mendapatkan pengobatan ulang (retreatment). Bila sudah negatif,
sputum BTA tetap diperiksakan sedikitnya sampai 3 kali berturut-turut.
Bila BTA positif pada 3 kali pemeriksaan biakan (3 bulan), maka pasien
yang sebelumnya telah sembuh mulai kambuh lagi.

c. Radiologis: bila fasilitas memungkinkan foto kontrol dapat dibuat pada


akhir pengobatan sebagai dokumentasi untuk perbandingan bila nanti
timbul kasus kambuh. Jika keluhan pasien tidak berkurang (misalnya
tetap batuk-batuk), dengan pemeriksaan radiologis dapat dilihat
keadaan TB parunya atau adakah penyakit lain yang menyertainya.
Karena perubahan gambar radiologis tidak secepat perubahan
bakteriologis, evaluasi foto dada dilakukan setiap 3 bulan sekali7

43
BAB III
ANALISA KASUS

Hubungan anamnesis dan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan


sekitar:
 Pasien tinggal dirumah semi permanen, dinding dan lantai semen jendela
4 buah dengan 2 pintu. Kamar tidur 2 buah, 1 kamar tidak mempunyai
jendela. Rumah dihuni oleh 7 orang (pasien, orang tua dan saudaranya).
Sumber penerangan menggunakna PLN. Sumber air: PDAM dan sumur
(untuk memasak, minum, dan mandi). Jamban leher angsa dengan septic
tank satu buah. Pembuangan sampah dengan cara dibuang ke tempat
pembuangan sampah. Pencahayaan dan sanitasi kurang
 Tidak ada hubungan antara keadaan rumah pasien dengan penyakit yang
diderita pasien

Hubungan diagnosis dengan keluarga dan hubungan keluarga:


 Pasien tinggal bersama dengan orang tua dan saudaranya. Hubungan dengan
anggota keluarga baik.
 Tidak ada hubungan antara keadaan keluarga dengan penyakit yang diderita
pasien.

Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan lingkungan


sekitar:
 ± 6 bulan yang lalu, pasien mengaku baru keluar dari lapas, dimana di dalam
kamar lapas yang dihuninya tersebut terdapat pasien batuk-batuk lama.
Semenjak itu pasien mengaku mulai mengalami keluhan batuk-batuk
 Ada hubungan, dimana kemungkinan pasien mendapat paparan bakteri TB dari
penghuni lapas yang berada di kamar yang sama tersebut karena pasien berada
di sana cukup lama sekitar 2 tahun dan hampir setiap hari kontak.
Analisis kemungkinan berbagai faktor risiko atau etiologi penyakit pada pasien
ini:

44
 Adanya kemungkinan paparan bakteri TB dari seorang penghuni lapas yang
satu kamar dengan pasien, dimana pasien berada di sana cukup lama sekitar 2
tahun. Dan kontak langsung saat beraktivitas sehari-hari.
 Daya tahan tubuh menurun karena faktor kelelahan, stress, ditambah lagi
lingkungan lapas dengan beragam jenis penyakit infeksius

Analisis untuk mengurangi paparan:


 Menjaga keseimbangan nutrisi dengan makanan bergizi serta banyak
minum air putih 1500-2000 ml sehari.
 Menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal pasien.
 Pasien tidur cukup 6 – 8 jam sehari.
 Hindari paparan asap termasuk asap rokok (berhenti merokok)
 Hindari tinggal di lingkungan yang tidak sehat (kumuh) dan berdempetan
 Hindari kontak dengan orang yang sedang sakit terutama sakit dengan
batuk-batuk disertai demam
 Cegah penularan dengan:
- Memakai masker
- Kalau batuk jangan buang dahak sembarangan, dahak sebaiknya
ditampung dengan tisu/kertas, lalu sampah tisu/kertas dikubur atau
dibakar.
- Menutup mulut ketika batuk

45
DAFTAR PUSTAKA

1. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis.


Kementrian Kesehatan 2013. Jakarta
2. Daniel, M. Thomas. 1999. Harrison : Prinsip-Prinsip Ilmu penyakit dalam
Edisi 13 Volume 2. Jakarta : EGC : 799-808
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis Edisi 2 Cetakan Pertama. Jakarta.
4. Brooks, G.F., Butel, J. S. and Morse, S. A., 2004. “Jawetz, Melnick &
Adelbergh’s: Mikrobiologi Kedokteran”. Buku I, Edisi I, Alih bahasa:
Bagian Mikrobiologi FKU Unair, Jakarta : Salemba Medika.
5. Bahar, A., 2007. Tuberkulosis Paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid III, Edisi V. Jakarta : BPFKUI;2230-2239.
6. Crofton, John. 2002. Tuberkulosis Klinis Edisi 2. Jakarta : Widya Medika.
7. Bayupurnama, Putut. 2007. Hepatoksisitas karena Obat dalam Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, Edisi IV. Jakarta : BPFKUI;471-474.
8. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta 2014

46
Lampiran kunjungan awal

Rumah bagian depan (jendela tertutup) Rumah bagian dalam

Pintu belakang jarang dibuka Dapur (jendela jarang dibuka)

Tempat mencuci Kamar Mandi

Pasien tidak pakai masker Rontgen thoraks

47
Lampiran evaluasi

Jendela depan sudah dibuka Kamar pasien (jendela terbuka)

Dapur (pencahayan baik) Pintu belakang sudah sering dibuka

Pasien menggunakan masker Edukasi menggunakan brosur

48
49