Anda di halaman 1dari 5

PERUBAHAN IKLIM

Perubahan iklim merupakan fenomena alam yang terjadi dibumi dewasa ini, keadaan ini
harus kita waspadai karena dampaknya yang dapat merugikan bagi kehidupan dimuka bumi
ini. Oleh sebab itu, kita harus berupaya untuk menjaga dan melestarikan bumi ini agar tidak
terjadi lagi kerusakan yang parah yang bisa menyebabkan perubahan iklim. Dan inilah tulisan
pengertian perubahan iklim serta penyebab dan dampaknya bagi kehidupan dibumi.

Pengertian Perubahan Iklim

Pengertian perubahan iklim menurut Wikipedia adalah perubahan yang terjadi secara
signifikan mengenai pola cuaca yang dihitung berdasarkan angka statistik dalam rentang
waktu puluhan hingga ratusan tahun lamanya. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadi
perubahan iklim seperti proses biologis, radiasi sinar matahari, tekanan tektonik, erupsi
gunung berapi, dan masih banyak lagi.

Sedangkan pengertian perubahan iklim menurut Enviromental Protection Agency (EPA)


adalah perubahan iklim secara signifikan yang terjadi pada periode waktu tertentu. Dengan
kata lain, perubahan iklim juga bisa diartikan sebagai perubahan suhu yang drastis, curah
hujan, pola angin, dan lain sebagainya. Perlu diketahui bahwa suhu bumi perubah satu derajat
dalam tempo 100 tahun terakhir.

Penyebab Perubahan Iklim

Terjadinya peristiwa perubahan iklim bukan terjadi secara tiba-tiba, ini dikarenakan ada
faktor-faktor penyababnya baik itu karena fenomena alam maupun karena tingkah laku
manusia. Dan inilah beberapa penyebab perubahan iklim:

 Aktivitas manusia seperti penebangan hutan secara liar.


 Terjadinya fenomena pemanasan global
 Terjadinya peristiwa efek rumah kaca.
 Terjadinya El Nino dan El Nina dilautan.
 Menipisnya lapisan ozon di atmosfir bumi.

Dampak Perubahan Iklim

Dampak perubahan iklim merupakan sesuatu yang dikhawatirkan bagi penduduk bumi.
Bagaimana tidak, dampak perubahan iklim sangat mengerikan karena bisa mengancam
kehidupan umat manusia. Dan inilah beberpa dampak perubahan iklim:

 Sarana prasaran (infrastruktur) menjadi rusak.


 Merebaknya wabah penyakit terutama pernapasan.
 Kekeringan dan kekurangan sumber air.
 Terjadinya bencana alam dimana-mana.
 Harga pangan menjadi semakin meningkat (mahal).
 Udara menjadi semakin kotor.
Nah itulah pembahasan singkat mengenai pengertian perubahan iklim serta penyebab dan
dampaknya yang terjadi dimuka bumi ini. Mengingat dampak perubahan iklim yang begitu
luar biasa mengerikan, maka kita harus bisa manjaga dan melestarikan bumi yang kita cintai
ini. Kita bisa memulai dengan hal-hal sederhana terlebih dahulu seperti menanam pohon dan
bersepda.

UPAYA MENGATASI PERUBAHAN IKLIM

1. Upaya Pemerintah Mengatasi Kerusakan Lingkungan

Terjadinya pemanasan global akibat meningkatnya gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh
penggunaan bahan bakar fosil terutama oleh industri dan kendaraan bermotor seperti CO2,
CFC, CH4, O3 dan N2O berdampak mencairnya es dikutub sehingga muka laut makin naik,
yang meningkatkan laju intrusi dan menenggelamkan desa-desa pantai dan meningkatkan
abrasi pantai. Hujan asam akan terjadi yang akan merusak lingkungan yang tidak toleran,
menurunkan usia bangunan dan jembatan yang terbuat dari semen karena larut oleh asam
secara kimiawi. Walaupun tidak menurunkan hasil peranian secara nyata namun bila bahan
beracun tersebut masuk kedalam rantai makanan dan secara periodik dikonsumsi manusia,
bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Yang pasti dewasa ini dipermukaan bumi telah
muncul bermacam penyakit aneh baik manusia maupun hewan dan tanaman, yang masih
diselidiki penyebabnya.

Arah angin nampaknya perlu dipertimbangkan dalam AMDAL sebelum lokasi Industri
disetujui, agar polutan tidak terbawa oleh angin ke lokasi pemukiman. Artinya data dan hasil
pengamatan BMG semestinya dimanfaatkan dalam menyusun AMDAL. Badan Meteorologi
dan Geofisika telah memiliki 37 stasiun pemantau kualitas udara yang tersebar di 26 propinsi
diseluruh Indonesia. Satu diantaranya merupakan jaringan Stasiun Global Atmospheric
Watch (GAW) berlokasi di Bukit Koto Tabang Bukittinggi yang mampu menjangkau
pengamatan ASEAN, 31 stasiun merupakan jaringan stasiun regional disebut Background Air
Pollution Monitoring Network (BAPMon), dan 5 stasiun merupakan jaringan stasiun
lokal/perkotaan. Dalam upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan
pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan, seperti telah diberlakukan UU RI No 23
thn 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, PP No 27 tahun 1997 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan, Keputusan Menteri Negara LH No 30 tahun 1999 tentang
Panduan Penyusunan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup. Secara praktis langkah-
langkah untuk mengatasi dampak pembangunan terhadap kondisi iklim dan atmosfir dapat
diusulkan sebagai berikut :

a. Secara berahap mengganti CFC dengan bahan lain seperti Helium untuk keperluan AC,
lemari es dan penyemprot aerosol.

b. Menyaring asap dari industri dengan alat tertentu untuk mengelakkan Efek Rumah Kaca
yan menyebabkan kenaikan suhu dan hujan asam.

c. Penggunaan bahan bakar untuk kendaraan yang tidak mengandung timah hitam (Pb).

d. Gunakan kendaraan elektronik.

e. Cegah pembalakan hutan, lakukan reboisasi.


f. Gunakan unsur iklim terutama arah dan kecepatan angin dalam merancang lokasi pabrik,
agar emisi gas buangan tidak mencemari perkotaan dan pemukiman.

2. Kebijakan Perubahan Iklim

Sasaran kebijakan adalah memperkuat peran sektor pembangunan untuk mencapai target dan
tujuannya melalui koordinasi antar sektor. Upaya Mitigasi dan Adaptasi perubahan iklim
membutuhkan kerjasama yang kuat diantara sektor-sektor pembangunan. Kedua upaya
tersebut membutuhkan sumber dana yang cukup besar (upaya ini akan terasa lebih kecil jika
dibandingkan dengan dampak bencana yang ditimbulkan). Agar pendanaan pembangunan
saat ini berjalan secara optimal dan pembangunan yang akan dilakukan berpengaruh terhadap
sektor lain maka dibutuhkan suatu lembaga yang dapat mengkoordinasikannya.

Untuk mencapai kepada kondisi tersebut pada tahun 1990, telah dibentuk Komisi Nasional
Perubahan Iklim (melalui Kepmen No. 07/MENKLH/1/1990 tentang Pembentukan Komite
Pemantauan dan Evaluasi Dampak Perubahan Iklim pada Lingkungan). Pada Tahun 1992
komite tersebut dibubarkan dan diganti berdasarkan Kepmen No. 35/MENKLH/8/1992
tentang Pembentukan Kelompok Kerja Komite Nasional Iklim dan Lingkungan yang
bertujuan untuk meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas-tugas di bidang lingkungan
hidup dan dampaknya. Bulan April 2003, Kementrian Negara Lingkungan Hidup kembali
membentuk Komisi Nasional dan Tim Teknis Perubahan Iklim (Kepmen No. 53 Tahun 2003)
dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim di tingkat nasional dan koordinasi serta
kerjasama berbagai pemangku kepentingan.

Adanya keterbatasan bentuk dari lembaga yang ada maka efektifitas pelaksanaan perubahan
iklim masih jauh dari harapan. Dengan dibentuknya Dewan Nasional Perubahan Iklim yang
diketuai langsung oleh Presiden Republik Indonesia Soesilo Bambang Yudhoyono
menandakan bahwa persoalan perubahan iklim diakui sebagai persoalan ancaman utama
pembangunan yang harus segera memperoleh perhatian prioritas dari pilihan-pilihan strategi
pembangunan. Pembangunan yang meletakkan etika lingkungan dalam politik pembangunan
menjadi prasyarat berjalannya koordinasi pembangunan yang memiliki perspektif perubahan
iklim.

3. Mengatasi Perubahan Iklim dengan Liberalisasi Barang dan Jasa Lingkungan

Pemanasan global telah dianggap sebagai ancaman nyata bagi kehidupan manusia. Protokol
Kyoto untuk perubahan iklim menunjukkan cara dengan mengikat komitmen negara-negara
maju yang meratifikasi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca minimal 5 persen dalam
periode 2008 – 2012. Sedangkan AS, negara yang mengeluarkan emisi 36 persen dari total
emisi tahun 1990, menolak untuk meratifikasi.

Tapi, AS punya cara sendiri dalam menangani pemanasan global, misalnya dengan
menawarkan liberalisasi perdagangan produk ramah lingkungan. Menjelang Konferensi
Perubahan Iklim PBB di Bali yang dimulai 3 Desember 2007, Amerika Serikat (AS) dan Uni
Eropa (UE) meluncurkan proposal bersama, yang menyarankan perlunya liberalisasi pada
barang dan jasa lingkungan yang relevan dalam upaya mengatasi perubahan iklim.
Namun, proposal bersama dikritik keras oleh delegasi Brazil. Roberto Azevedo, salah
seorang juru runding dari Brazil mengatakan proposal tersebut ‘sederhana, bias dan
proteksionis’. Dia mengatakan “apa yang tidak mereka (AS-UE) produksi, tidak terdapat
dalam daftar”.

Azevedo menjelaskan mengapa, dia berpendapat proposal tersebut sederhana, karena


cakupannya yang sangat terbatas. Sambil menunjukan bahwa produk-produk organic terdapat
dalam daftar yang perlu mendapat keistimewaan karena diproduksi untuk tujuan lingkungan.
Selain, produk-produk yang terdapat dalam daftar usulan AS-UE juga hanya memiliki sedikit
dampak positif pada lingkungan. Karena itu menimbulkan pertanyaan mengenai niat yang
sesungguhnya dari pengusul berkaitan dengan lingkungan.

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan oleh Komisi Eropa, proposal tersebut terdiri atas dua
bagian. Bagian pertama merupakan usulan untuk meliberalisasikan minimal 43 barang-
barang yang ramah lingkungan. Beberapa produk yang masuk antara lain, panel surya, turbin
angin dan produk yang berkaitan; kompor dengan panel surya, dan produk lainnya.

Produk-produk usulan tersebut, diambil dari daftar yang disusun berdasarkan penelitian Bank
Dunia. Dalam penelitiannya mengenai perdagangan dan perubahan iklim, Bank Dunia
menyebutkan bahwa dengan menghilangkan penghalang tarif dan non tarif pada barang
dengan teknologi kunci, dapat menaikkan volume perdagangan 7 – 14 persen per tahun.
Penelitian juga menghasilkan kesimpulan, liberalisasi dalam teknologi yang ramah
lingkungan juga akan memfasilitasi lebih banyak investasi dalam teknologi tinggi

Proposal bersama itu menawarkan pendekatan dua lapis (two tiers) dalam meliberalisasi
barang dan jasa lingkungan. Produk yang diliberalisasi dalam lapis pertama adalah yang
menurut Bank Dunia ditulis sebagai ’memiliki kaitan langsung dalam mengatasi perubahan
iklim, dan memberikan manfaat lingkungan yang jelas’. Barang-barang tersebut termasuk
solar collectors; system controllers; wind turbines parts and components, hydrogen fuel
cells.

Menurut rilis tersebut, daftar yang dimasukkan dalam lapis pertama bukanlah daftar mati
yang tidak bisa berubah. Tetapi hanya sebagai awal, daftar lain bisa ditambahkan oleh
negara-negara anggota lain. Sementara untuk jasa lingkungan yang dimasukkan dalam lapis
pertama, adalah jasa yang termasuk ‘memberikan kontribusi pada negara’ dalam mengatasi
perubahan iklim seperti jasa pengendalian iklim dan polusi udara; jasa-jasa yang terkait
dengan energi.

Proposal menekankan pentingnya melakukan liberalisasi barang lingkungan dan jasa-jasa


lingkungan secara paralel. Karena misalnya jasa merancang gedung ramah lingkungan, akan
membutuhkan panel surya untuk pemanas.

Tingkatan kedua, dari proses liberalisasi yang ditawarakan oleh proposal bersama AS – UE
adalah keinginan adanya “Kesepakatan Barang dan Jasa Lingkungan atau Environmental
Goods and Services Agreement.” Ini akan mencakup minimal semua negara maju dan sekitar
30 an negara berkembang, untuk menerapkan formula penurunan tariff standar dalam
negosiasi produk-produk industri. Tidak seperti dalam lapis pertama, negera-negara miskin
dalam kelompok LDCs (least developed countries) dan negara berkembang lainnya akan
dikecualikan dari menyusun komitmen.
Cakupan yang lebih luas dalam jenis barang lingkungan yang akan dicatat dalam liberalisasi
di bawah usulan kesepakatan ini di dasarkan tas daftar yang disusun oleh kelompok ‘friends
of the environmental group’, yang beranggotakan negara maju (lihat tulisan Perubahan Iklim
dan Perundingan Perdagangan). Untuk produk-produk ini, proposal AS UE menyerukan
negera-negara peserta untuk “menghilangkan tariff dan melakukan tindakan yang cukup
untuk mengidentifikasi dan mengatasi hambatan non tariff ‘. Untuk lapis kedua ini, tidak
disebutkan batas waktu yang spesifik.

Sedangkan dalam jasa-jasa yang disarankan dalam liberalisasi lapis kedua adalah seperangkat
jasa yang berkaitan dengan lingkungan dan iklim secara luas, termasuk jasa energy,
konstruksi, arsitektur. Dalam ringkasannya, proposal ini diusulkan untuk membuat perubahan
substansial dan kongkrit dalam kontribusi untuk mendukung tujuan iklim nasional dan global.