Anda di halaman 1dari 36

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Arsitektur Gereja

Menurut Keane (1998), sejarah Arsitektur Kristen Awal dimulai pada

masa kerajaan Romawi dan berkembang secara bertahap pada periode tertentu.

Pada abad ke-1 sampai abad ke-4, ajaran Kristen yang diberitakan Yesus Kristus

di tengah bangsa Yahudi mengalami banyak penolakan yang mengakibatkan para

pengikutNya mati sebagai martir. Karena hidup dalam masa pengejaran, pengikut

Kristen

lalu

mengadakan

kebaktian

dalam

tempat

yang

tersembunyi,

yaitu

katakombe. Katakombe merupakan pemakaman yang terletak di bawah tanah.

Pada tahun 313 SM, Kaisar Konstantin mulai mengakui adanya agama

Kristen melalui Deklarasi Milan. Mulai saat itu agama Kristen menjadi agama

resmi negara dan gedung-gedung ibadah banyak dibangun. Saat itu, bangunan

gereja mengambil bentuk bangunan yang berfungsi sebagai gedung pertemuan

dan gedung kegiatan peribadatan, maka basilica mulai dimodifikasi. Pada masa

ini arsitektur Basilica merupakan arsitektur pertama kali di dunia. Arsitektur ini

ditandain dengan adanya modifikasi pada pilar, dinding, dan apse yang dibuat

berhiaskan mozaik dan fresco Kristiani. Ruang ibadah dibuat menyerupai bahtera

yang disebut naos, gereja menghadap ke timur sebagai pengharapan kedatangan

Mesias. (Keane, 1998).

6

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.1. Basilica of Santa Croce, Florence Sumber: Wikipedia.org Arsitektur Gereja kemudian di lanjutkan dengan

Gambar 2.1. Basilica of Santa Croce, Florence

Sumber: Wikipedia.org

Arsitektur

Gereja

kemudian

dilanjutkan

dengan

munculnya

gaya

arsitektur Romanesque. Gaya arsitektur ini muncul setelah Romawi mengalami

zaman kegelapan selama ratusan tahun. Arsitektur ini berkembang pada tahun

1050 hingga 1200 Menurut Keane (1998), ciri-ciri dari Arsitektur Romanesque

adalah:

Penggunaan

busur

berjajar rapat.

lengkung

sebagai

penghubung

busur berjajar rapat. lengkung sebaga i penghubung antar kolom yang Gambar 2.2. Busur Lengkung Sumber:

antar

kolom

yang

Gambar 2.2. Busur Lengkung

Sumber: Wikipedia.org

7

Universitas Sumatera Utara

Ketinggian ruang cenderung mencolok dibandingkan dengan lebarnya,

Bentuk denah mengadopsi bentuk salib,

Memiliki jendela yang berukuran kecil,

bentuk salib,  Memiliki jendela yang berukuran kecil, Gambar 2.3. Jendela yang berukuran kecil Sumber:

Gambar 2.3. Jendela yang berukuran kecil

Sumber: Wikipedia.org

Dinding-dindingnya dipenuhi ukiran/lukisan yang menggambarkan kisah

dalam Alkitab.

Adanya vault (langit-langit) yang berbentuk melengkung. Vault terdiri dari

tiga jenis, yaitu:

Barrel vault, jenis vault yang paling sederhana dimana terdapat rusuk

yang membagi langit-langit menjadi dua bagian secara horisontal.

8

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.4. Barrel Vault Sumber: Wikipedia.org  Groin vault, dimana terdapat rusuk yang membagi

Gambar 2.4. Barrel Vault

Sumber: Wikipedia.org

Groin

vault,

dimana

terdapat

rusuk

yang

membagi

langit-langit

menjadi empat bagian secara diagonal.

 
 
   
 
 

Gambar 2.5. Groin Vault

 

Sumber: Wikipedia.org

 

Ribbed

vault,

dimana

terdapat

rusuk

yang

membagi

langit-langit

menjadi enam bagian (dua diagonal dan satu horisontal).

 

9

Universitas Sumatera Utara

 Gambar 2.6. Ribbed Vault Sumber: Wikipedia.org Fasad bagian depan pada umumnya minim dekorasi, dan gereja

Gambar 2.6. Ribbed Vault

Sumber: Wikipedia.org

Fasad bagian depan pada umumnya minim dekorasi, dan gereja ini

terdapat menara yang berbentuk lancip.

dan gereja ini terdapat menara yang berbentuk lancip. Gambar 2.7 Katedral Trier di Jerman (kiri) dan
dan gereja ini terdapat menara yang berbentuk lancip. Gambar 2.7 Katedral Trier di Jerman (kiri) dan

Gambar 2.7 Katedral Trier di Jerman (kiri) dan Notre Dame du Mont Cornadore,

Saint Nectaire di Prancis (kanan)

Sumber: Wikipedia.org

Arsitektur Gothic kemudian muncul menggantikan gaya Romanesque.

Jika gaya Romanesque yang berkesan kokoh disebut “Benteng Allah”, maka gaya

Gothic ini terlihat ringan, runcing, tinggi, dan cantik disebut sebagai “istana

surga”. Arsitektur Gothic berkembang dari Perancis sekitar abad 13 hingga 16. Selama

400 tahun, Arsitektur Gothic dianggap sebagai puncak keberhasilan kesenian

arsitektur gereja. Menurut keyakinan umat Kristen, Allah dipahami hadir dimana

10

Universitas Sumatera Utara

saja seperti cahaya. Oleh karena itu, cahaya dihayati sebagai sifat ilahi. Cahaya

matahari kemudian dibiarkan masuk ke dalam interior gereja dan didesain secara

estetis yang disebut dengan struktur diafan, artinya tembus cahaya. Arsitektur

Gothic terkenal dengan konsep cahaya yang memakai kaca bergambar (stained

glass) sebagai pencerahan mistik (Keane, 1998).

Menurut Rachman (2010), Arsitektur Gothic memiliki ciri-ciri, sebagai

berikut:

Bentuk pintu seperti berlapis-lapis dan dari bagian depan ke belakang

semakin kecil. Bagian sisi dan atasnya dihiasi dengan patung dan ukiran.

Bagian sisi dan atas nya dihiasi dengan patung dan ukiran. Gambar 2.8. Fasad Katedral Reims, Prancis

Gambar 2.8. Fasad Katedral Reims, Prancis

Sumber: Wikipedia.org

Pada bagian jendela berbentuk seperti mawar (rose window). Pada jendela

terdapat hiasan berupa ukiran (tracery) dan menggunakan kaca bergambar

(stained glass).

11

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.9. Bentuk jendela seperti mawar pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Gambar 2.10. Bentuk ukiran (
Gambar 2.9. Bentuk jendela seperti mawar pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Gambar 2.10. Bentuk ukiran (
Gambar 2.9. Bentuk jendela seperti mawar pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Gambar 2.10. Bentuk ukiran (
Gambar 2.9. Bentuk jendela seperti mawar pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Gambar 2.10. Bentuk ukiran (
Gambar 2.9. Bentuk jendela seperti mawar pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Gambar 2.10. Bentuk ukiran (

Gambar 2.9. Bentuk jendela seperti mawar pada Gereja

Sumber: Wikipedia.org

jendela seperti mawar pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Gambar 2.10. Bentuk ukiran ( tracery ) pada jendela
jendela seperti mawar pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Gambar 2.10. Bentuk ukiran ( tracery ) pada jendela
jendela seperti mawar pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Gambar 2.10. Bentuk ukiran ( tracery ) pada jendela
jendela seperti mawar pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Gambar 2.10. Bentuk ukiran ( tracery ) pada jendela
jendela seperti mawar pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Gambar 2.10. Bentuk ukiran ( tracery ) pada jendela

Gambar 2.10. Bentuk ukiran (tracery) pada jendela Gereja dan menggunakan kaca patri

bergambar (stained glass)

Sumber: Wikipedia.org

12

Universitas Sumatera Utara

Penggunaan busur lancip (pointed arch), yang merupakan pertemuan dua

pilar yang membentuk lengkung berujung lancip.

pertemuan dua pilar yang membentuk lengkung berujung lancip. Gambar 2.11. Pointed arch pada Gereja  Pada

Gambar 2.11. Pointed arch pada Gereja

Pada

interior

Sumber: Wikipedia.org

gereja

terdapat

ribbed

vault

yang

pada

bagian

langit-

langitnya tampak seperti disokong oleh beberapa rusuk melengkung yang

bertemu pada satu titik di tengah.

rusuk melengkung yang bertemu pada satu titik di tengah. Gambar 2.12. Ribbed vault pada Gereja Sumber:

Gambar 2.12. Ribbed vault pada Gereja

Sumber: Wikipedia.org

Interior gereja dibuat dengan masuknya cahaya matahari secara estetis

dengan sebutan struktur diafan, artinya tembus cahaya.

13

Universitas Sumatera Utara

Memiliki banyak dinding penopang/pilar yang tampak menonjol ke luar.

Adanya buttress pada dinding bagian luar membuat bangunan ini seperti

tersusun

atas

garis-garis

vertikal

dari

kejauhan

bangunan tampak terlihat lebih tinggi.

dari kejauhan bangunan tampak terlihat lebih tinggi. sehingga membuat Gambar 2.13. Dinding penopang ( Buttress )

sehingga

membuat

Gambar 2.13. Dinding penopang (Buttress) pada Gereja

Sumber: Wikipedia.org

Memiliki menara lonceng yang dibuat tinggi agar bunyi lonceng terdengar

lebih jauh. Gereja gotik umumnya memiliki dua menara lonceng yang

terdapat pada bagian kiri dan kanan, namun ada juga yang memiliki satu

atau tiga menara lonceng. Pada bagian puncak menara dibuat meruncing

yang disebut spire.

14

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.14. Menara lonceng pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Pada abad ke-15, arsitektur mulai mengalami peralihan
Gambar 2.14. Menara lonceng pada Gereja Sumber: Wikipedia.org Pada abad ke-15, arsitektur mulai mengalami peralihan

Gambar 2.14. Menara lonceng pada Gereja

Sumber: Wikipedia.org

Pada abad ke-15, arsitektur mulai mengalami peralihan pada masa

Renaissance. Masa Renaissance sering disebut juga masa pencerahan, karena

menghidupkan budaya-budaya klasik, hal ini disebabkan pengaruh dari Yunani

dan Romawi. Menurut Filippo Brunelleschi (1377-1446), arsitektur Renaissance

mempelajari prinsip-prinsip konstruksi Romawi dengan melahirkan model kubah

dengan bata. Pada arsitektur ini menerapkan prinsip-prinsip desain berupa:

Membangun kubah pada rangkaian arah horisontal seperti kubah beton

Pantheon.

Memberikan cangkang ganda untuk mengurangi berat semaksimal mungkin.

Menggunakan konstruksi rusuk Gothic dengan memperpanjang kulit luar

kubah di atas 24 rusuk rangka.

Menerapkan busur lancip untuk mengurangi beban.

Bangunan gereja yang paling menonjol saat itu ialah Gereja St. Petrus di

Roma, Italia, yang dibangun pada tahun 1506 untuk menggantikan sebuah gereja

15

Universitas Sumatera Utara

yang sudah berumur 1200 tahun yang berditi di atas makam St. Petrus (Zaman

Kristen Awal), yang kemudian selesai pada tahun 1626.

(Zaman Kristen Awal), yang kemudian selesai pada tahun 1626. Gambar 2.15. Gereja St. Petrus di Roma,

Gambar 2.15. Gereja St. Petrus di Roma, Italia Sumber: Wikipedia.org

Tiang dan kepala-kepala tiang gereja diambil dari gaya tiang Ionik dan

Korinthia Romawi. Pada bagian atas tiang dipasang balok-balok lurus gaya

Yunani dengan langit-langit lengkung Romawi. Di bagian atas jendela-jendelanya

dibuat melengkung, sedangkan pada langit-langit terbuat dari kaso-kaso kayu

yang dipasang miring, karena langit-langit gaya Romawi sangat tebal dan berat,

tidak kuat ditahan oleh tiang Romawi yang bentuknya ramping.

Arsitektur Renaissance kemudian berakhir dan diganti dengan gaya

Baroque,

yang

memiliki

ciri

khas

berupa

ornamen/ukiran

yang

rumit

dan

memenuhi semua bidang yang ada (Keane, 1998). Arsitektur Baroque muncul

pada akhir abad 16 M sampai pertengahan abad 18 M. Pada arsitektur Baroque,

yang muncul pertama kali di Roma adalah gaya bangunan pada gereja, istana dan

bangunan umum (yang dirancang dalam skala besar). Pada hal tertentu, arsitektur

Baroque

dapat

dikatakan

sebagai

perpanjangan

dari

arsitektur

Renaissance.

Keduanya mempunyai kubah (dome), kolom, pilaster, entablature dan komponen-

16

Universitas Sumatera Utara

komponen

klasik

lainnya.

Yang

berbeda

pada

arsitektur

Baroque

adalah

kebebasan,

kebebasan

dalam

menggabungkan

komponen-komponen

tersebut,

dimana saat Renaisance kebebasan ini tidak dapat diterima (ada aturan-aturan

baku).

ini tidak dapat d iterima (ada aturan-aturan baku). Gambar 2.16. Carlo Maderno Santa Susanna, Roma Sumber:

Gambar 2.16. Carlo Maderno Santa Susanna, Roma Sumber: Wikipedia.org

Pada abad ke-20, Revolusi Industri membawa banyak perubahan dan

perkembangan. Prinsip-prinsip yang digunakan pada arsitektur gereja zaman

modern

memiliki

pertimbangan-pertimbangan

dari

aspek

kegunaan

(utiity),

kesederhanaan (simplicity), keluwesan (flexibility), kedekatan (intimacy), dan

keindahan (beauty) (Keane, 1998).

2.1.1. Perkembangan Arsitektur Gereja di Indonesia

Gereja-gereja

di

Indonesia

yang

dibangun

pada

tahun

1900-1930

cenderung menggunakan gaya eklektik, sesuai dengan langgam yang sedang

digemari di Eropa saat itu. Namun, pada daerah-daerah terpencil, para misionaris

justru berusaha mengadaptasi unsur-unsur tradisional setempat, sehingga muncul

bangunan-bangunan

gereja

yang

menggunakan

bentuk

arsitektur

tradisional

(Priatmojo, 1989:41).

 

17

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.17. Gereja HKBP Hutaraja Dolok Sumber: Wikipedia.org Gereja di kota-kota besar kebanyak an adalah

Gambar 2.17. Gereja HKBP Hutaraja Dolok Sumber: Wikipedia.org

Gereja

di

kota-kota

besar

kebanyakan

adalah

gereja-gereja

yang

dibangun orang-orang Kristen berkebangsaan Eropa yang pada waktu itu banyak

tinggal di ibukota provinsi dan kota-kota besar lainnya, terutama di Jawa.

Salah satu gereja yang menggunakan gaya arsitektur Eropa yaitu gereja

Bleduk yang ada di Semarang. Gereja Bleduk merupakan gereja tertua di Jawa

Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda.

tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda. Gambar 2.18. Gereja Bleduk di Semarang Sumber:

Gambar 2.18. Gereja Bleduk di Semarang Sumber: Wikipedia.org

18

Universitas Sumatera Utara

Sekarang ini masih dapat kita saksikan berupa katedral-katedral yang

terdapat

di

Jakarta,

Bogor,

Bandung,

Surabaya,

dan

lain-lain,

yang

dibangun

antara

tahun

1900-1930.

Kebanyakan

katedral

(gereja)

tersebut

menggunakan gaya Neo-Gotik atau cabang gaya Eklektik lainnya yang sedang

melanda Eropa pada waktu itu.

Eklektik lainnya yang sedang melanda Eropa pada waktu itu. Gambar 2.19. Gereja Katedral Jakarta Sumber:

Gambar 2.19. Gereja Katedral Jakarta Sumber: Wikipedia.org

Gereja di daerah kebanyakan adalah gereja-gereja yang dibangun di

pelosok-pelosok, di tengah jamaah pribumi yang telah berhasil dipermandikan

oleh

para

misionaris

pada

awal

abad

20.

Gereja-gereja

ini

kebanyakan

menggunakan arsitektur tradisional setempat. Sampai sekarang jenis gereja seperti

ini banyak dijumpai di wilayah-wilayah gereja di Indonesia Timur atau di

pelosok-pelosok Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gereja-gereja baru yang dibangun

saat ini mempunyai perbedaan yang cukup mencolok dibandingkan dengan

gereja-gereja yang telah ada sebelumnya. Selain menggunakan bahan bangunan

dan

sistem struktur

modern, juga

dilakukan penyederhanaan tata ruang sesuai

dengan

semangat

pembaruan

gereja.

Gereja

baru

seperti

 

19

Universitas Sumatera Utara

ini jumlahnya

belum

begitu

banyak,

dibangun pada tahun 70-an.

hanya terdapat

di

kota-kota besar, yang

pada tahun 70-an. ha nya terdapat di kota-kota besar, yang Gambar 2.20. Gereja Poh Sarang Kediri

Gambar 2.20. Gereja Poh Sarang Kediri Sumber: Wikipedia.org

2.1.2. Gereja Huria Kristen Batak Protestan

2.1.2.1. Sejarah Singkat Gereja Huria Kristen Batak Protestan

HKBP adalah singkatan dari Huria Kristen Batak Protestan, dimana

Huria diambil dari bahasa batak toba yang artinya jemaat. Pada abad ke-14 orang-

orang Barat mulai sangat aktif menyelidiki Tanah Batak. Dengan surat keputusan

Komisaris Jendral pemerintahan Hindia Belanda tanggal 11 Oktober 1833 No.

310 maka distrik Batak dikuasai oleh pemerintah Belanda secara yuridis. Dalam

keputusan itu disebutkan distrik itu terbatas di selatan sampai ke Rao, utara

sampai ke Singkil. Di bagian barat sampai ke laut, di timur sampai dimana

kekuasaaan Belanda diperluas.Walaupun distrik Batak telah dikuasai tetapi belum

semuanya Tanah Batak dapat dikuasai.

Kedatangan

para

misionaris

untuk

mengembangkan

agama

kristen,

melibatkan

pemerintahan

Hindia

Belanda

terhadap

soal-soal

akibat

pengembangan agama tersebut. Pada tahun 1866 Sisingamangaraja XII melawan

20

Universitas Sumatera Utara

Belanda. Pada mulanya raja tersebut disuruh raja-raja lain untuk menghancurkan

gereja-gereja serta pengikut agama kristen tersebut yang dikembangkan oleh

Nomensen. Tetapi karena terjadi wabah penyakit maka Sisingamangaraja XII

tidak melakukan penyerangan. Perlawanan baru meletus pada tahun 1878.

Buku

karya

Lothar

Schreiner

(2003)

dengan

judul Adat

Dan

Injil

mengungkapkan tentang penggabungan adat batak dan ajaran Kristen. Lothar

mengungkapkan bahwa masyarakat masih sangat tertutup saat Injil masuk ke

tanah Batak. Masyarakat Batak sering kali digambarkan dengan suku bangsa yang

memiliki sifat yang sangat sulit disentuh karena memegang teguh adat dan aturan-

aturannya.

Pelayanan Rheinische Mission dari Jerman dimulai di Tanah Batak

tepatnya pada tanggal 7 Oktober 1861 dan merupakan hari lahirnya Huria Kristen

Batak Protestan (HKBP), ditandai dengan berundingnya empat orang Missionaris,

Pdt. Heine, Pdt. J.C. Klammer, Pdt. Betz dan Pdt. Van Asselt membicarakan

pembagian wilayah pelayanan di Tapanuli.

HKBP berkantor pusat di Pearaja (Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera

Utara). Pearaja merupakan sebuah desa yang terletak di sepanjang jalan menuju

kota Sibolga (ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah). Di kompleks ini juga

Ephorus (sama dengan uskup dalam agama khatolik) sebagai pimpinan tertinggi

HKBP berkantor.HKBP juga mempunyai beberapa gereja di luar negeri, seperti di

Singapura, Kuala Lumpur, Los Angeles, New York, Seattle dan di negara bagian

Kolorado.

21

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.21. Logo HKBP Sumber : HKBP Ada tiga bidang/bangun yang me mbentuk logo HKBP,

Gambar 2.21. Logo HKBP Sumber : HKBP

Ada tiga bidang/bangun yang membentuk logo HKBP, yaitu:

1. Salib: Menggambarkan Yesus Kristus.

2. Lingkaran: Menggambarkan kosmos/dunia

3. Pita dengan tulisan HKBP: Menunjukkan institusi yang terikat sebagai

organisasi yang utuh.

Dengan demikian, logo HKBP secara keseluruhan berarti: HKBP terikat

kepada Yesus Kristus sebagai kepala Gereja yg berkuasa atas dunia.Sedangkan

warna biru mengandung arti perdamaian.

2.1.2.2. Perkembangan Gereja HKBP di Sumatera Utara Dapat dilihat bahwa gereja yang dibangun di pedesaan masih

menggunakan arsitektur sekitar. Para misionaris yang berasal dari Jerman mulai

membangun gereja dengan menerapkan arsitektur tradisional, seperti halnya di

daerah pedesaan Sumatera Utara.

22

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1. Gereja HKBP di Sumatera Utara

No.

Gambar Gereja

Keterangan

1.

1. HKBP Resort Bandar Maratur berdiri pada thun 1861. Gereja ini memiliki satu menara yang berada

HKBP Resort Bandar Maratur berdiri pada thun 1861. Gereja ini memiliki satu menara yang berada di tengah.

2.

2. Gereja HKBP Pearaja Tarutung Tapanuli Utara berd iri pada tahun 1873. Gereja ini menerapkan dua

Gereja HKBP Pearaja Tarutung Tapanuli Utara berdiri pada tahun 1873. Gereja ini menerapkan dua menara.

3.

3. Gereja HKBP Hutaraja berdiri pada tahun 1901. Gereja ini sudah mulai perubahan dengan satu menara

Gereja HKBP Hutaraja berdiri pada tahun 1901. Gereja ini sudah mulai perubahan dengan satu menara di bagian kiri fasad bangunan.

4.

4. Gereja HKBP Dolok Sanggul berdiri pada tahun 1928. Gereja ini masih menerapkan satu menara yang

Gereja HKBP Dolok Sanggul berdiri pada tahun 1928. Gereja ini masih menerapkan satu menara yang berada di tengah.

23

Universitas Sumatera Utara

5.

5. Gereja HKBP Sipinggolpinggol Pematang Siantar berdiri pada tahun 1953. Gereja ini masih menerapkan satu menara

Gereja HKBP Sipinggolpinggol Pematang Siantar berdiri pada tahun 1953. Gereja ini masih menerapkan satu menara yang berada di tengah.

6.

6. Gereja HKBP Paronan Nagodang Laguboti berdiri pada tahun 1997. Gereja ini masih menerapkan satu menara

Gereja HKBP Paronan Nagodang Laguboti berdiri pada tahun 1997. Gereja ini masih menerapkan satu menara yang berada di tengah. Namun gereja ini sudah lebih modern dibanding tahun sebelumnya.

Sumber: Diolah dari Google

2.2. Arsitektur Neo Vernakular

2.2.1. Pengertian Arsitektur Neo Vernakular

Kata “neo” berasal dari bahasa Yunani dan digunakan sebagai fonim

yang berarti baru. Jadi, Neo Vernakular berarti bahasa setempat yang diucapkan

dengan cara baru. Arsitektur Neo Vernakular adalah suatu penerapan elemen

arsitektur yang telah ada, baik fisik maupun non-fisik dengan tujuan melestarikan

unsur-unsur lokal yang telah terbentuk secara empiris oleh sebuah tradisi yang

kemudian sedikit atau banyaknya mangalami pembaruan menuju suatu karya yang

lebih modern atau maju tanpa mengesampingkan nilai-nilai tradisi setempat

(Nauw & Rengkung, 2013).

Arsitektur Neo Vernakular merupakan suatu paham dari aliran Arsitektur

Post-Modern

yang

lahir

sebagai

respon

dan

kritik

atas

modernisme

yang

mengutamakan

nilai

rasionalisme

dan

fungsionalisme

yang

dipengaruhi

 

24

Universitas Sumatera Utara

perkembangan teknologi industri. Arsitektur Neo Vernakular merupakan arsitektur

yang

pada

konsepnya

memiliki

prinsip

mempertimbangkan

kaidah-kaidah

normatif, kosmologis, peran serta budaya lokal dalam kehidupan masyarakat serta

keselarasan antara bangunan, alam, dan lingkungan.

Dalam proses menerapkan pendekatan dalam arsitektur Neo Vernakular

adalah interpretasi desain yaitu pendekatan melalui analisis tradisi budaya dan

peninggalan arsitektur setempat yang dimasukkan kedalam proses perancangan

yang terstruktur yang diwujudkan dalam bentuk termodifikasi sesuai dengan

zaman sekarang, ragam dan corak desain yang digunakan dengan pendekatan

simbolisme,

aturan

dan

tipologi.

Struktur

tradisional

yang

digunakan

mengadaptasi bahan bangunan yang ada di daerah dan menambah elemen estetis

yang diadaptasi sesuai dengan fungsi bangunan (Arifin, 2010).

Arsitektur Neo Vernakular banyak ditemukan bentuk-bentuk yang sangat

modern namun dalam penerapannya masih menggunakan konsep lama daerah

setempat yang dikemas dalam bentuk yang modern. Arsitektur Neo Vernakular ini

menunjukkan suatu bentuk yang modern tapi masih memiliki ciri daerah setempat

walaupun material yang digunakan adalah bahan modern seperti kaca dan logam.

Dalam arsitektur Neo Vernakular, ide bentuk-bentuk diambil dari vernakular

aslinya yang dikembangkan dalam bentuk modern.

2.2.2. Ciri-Ciri Gaya Arsitektur Neo Vernakular

Dari pernyataan Charles Jencks (1984) dalam bukunya “Language of Post-

Modern Architecture” maka dapat dipaparkan ciri-ciri Arsitektur Neo-Vernakular

sebagai berikut :

a Selalu menggunakan atap bumbungan

25

Universitas Sumatera Utara

Atap bumbungan menutupi tingkat bagian tembok sampai hampir ke tanah

sehingga lebih banyak atap yang di ibaratkan sebagai elemen pelidung dan

penyambut dari pada tembok yang digambarkan sebagai elemen pertahanan

yang menyimbolkan permusuhan.

b Batu bata (dalam hal ini merupakan elemen konstruksi lokal)

Bangunan didominasi penggunaan batu bata abad 19 gaya Victorian yang

merupakan budaya dari arsitektur barat.

c Mengembalikan bentuk-bentuk tradisional yang ramah lingkungan dengan

proporsi yang lebih vertikal.

d Kesatuan antara interior yang terbuka melalui elemen yang modern dengan

ruang terbuka di luar bangunan.

e Warna-warna yang kuat dan kontras.

Dari ciri-ciri di atas dapat dilihat bahwa Arsitektur Neo-Vernacular tidak

ditujukan pada arsitektur modern atau arsitektur tradisional tetapi lebih pada

keduanya. Hubungan antara kedua bentuk arsitektur diatas ditunjukkan dengan

jelas dan tepat oleh Neo-Vernacular melalui trend akan rehabilitasi dan

pemakaian kembali.

f Pemakaian atap miring

g Batu bata sebagai elemen local

h Susunan masa yang indah.

Mendapatkan unsur-unsur baru dapat dicapai dengan pencampuran antara

unsur setempat dengan teknologi modern, tapi masih mempertimbangkan

unsur setempat dengan ciri-ciri sebagai berikut :

26

Universitas Sumatera Utara

Bentuk-bentuk menerapkan unsur budaya, lingkungan termasuk iklim

setempat diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural

denah, detail, struktur dan ornamen).

(tata letak

Tidak hanya elemen fisik yang diterapkan dalam bentuk modern, tetapi

juga elemen non-fisik yaitu budaya , pola pikir, kepercayaan, tata letak

yang mengacu pada makro kosmos, religi dan lainnya menjadi konsep

dan kriteria perancangan.

Produk pada bangunan ini tidak murni menerapkan prinsip-prinsip

bangunan

vernakular

melainkan

penampilan visualnya).

karya

baru

(mangutamakan

Tabel 2.2. Perbandingan Arsitektur Tradisional, Vernakular dan Neo Vernakular

Perbandingan

Tradisional

Vernakular

Neo Vernakular

   

Terbentuk

oleh

 

Terbentuk

oleh

tradisi

turun

   

Penerapan

elemen

tradisi

yang

temurun

tetapi

 
   

arsitektur yang sudah

diwariskan

terdapat

pengaruh

 

ada

dan

kemudian

secara

turun–

dari luar baik fisik

Ideologi

 

sedikit atau banyaknya

temurun,

maupun

nonfisik,

 

mengalami pembaruan

berdasarkan

bentuk

menuju

suatu

karya

kultur

dan

perkembangan

 
 

yang modern.

kondisi lokal.

arsitektur

tradisional.

Prinsip

Tertutup

dari

Berkembang setiap

Arsitektur

yang

 

27

Universitas Sumatera Utara

 

perubahan

waktu

untuk

bertujuan melestarikan

zaman,

terpaut

merefleksikan

unsur–unsur

lokal

pada satu kultur

lingkungan, budaya

yang

telah

terbentuk

kedaerahan,

dan

dan

sejarah

dari

secara

empiris

oleh

mempunyai

daerah

dimana

tradisi

dan

peraturan

dan

arsitektur

tersebut

mengembangkannya

norma–norma

berada.

menjadi

suatu

keagamaan yang

Transformasi

dari

langgam yang modern.

kental.

situasi

kultur

Kelanjutan

dari

homogen ke situasi

arsitektur vernakular.

yang

lebih

heterogen.

   

Ornamen

sebagai

 

Lebih

pelengkap,

tidak

mementingkan

meninggalkan

fasad

atau

nilai–nilai setempat

Bentuk

desain

lebih

Ide Desain

bentuk, ornamen

tetapi

dapat

modern.

sebagai

suatu

melayani

aktifitas

keharusan.

masyarakat

di

dalam.

Sumber: Sonny Susanto, Joko Triyono, Yulianto Sumalyo

 

28

Universitas Sumatera Utara

2.3.

Arsitektur Tradisional Batak Toba

2.3.1. Rumah Tradisional Suku Batak

Rumah tradisional Toba adalah sebuah bangunan panggung persegi

panjang, yang dapat dijangkau dengan lima atau tujuh langkah dari bawah. Rumah

terkunci di malam hari dengan pintu perangkap terpasang ke lantai, yang bisa

melesat dari dalam. Di beberapa rumah, pintu ditempatkan di bagian belakang.

Substruktur rumah terdiri dari tiang kayu besar, selebihnya batu datar yang

menyediakan perlindungan efektif terhadap resiko basah (Loebis, 2002).

Tipologi atau bentuk rumah tradisional (Ruma atau Jabu) memiliki

variasi dari satu tempat ke tempat lainnya, namun mereka memiliki beberapa

fitur-fitur yang sama. Ukuran rumah ditentukan oleh sejumlah faktor. Pertama,

jumlah keluarga yang menempati rumah, biasanya rumah tradisional Toba dapat

menampung 4-6 keluarga. Kedua, tersedianya batang pohon yang panjang yang

digunakan terutama untuk papan dan tiang. Karena bahan untuk komponen ini

sebaiknya tidak terhalang dan tidak boleh disambungkan, maka, jumlah pilar tidak

bisa lebih dari 6-8 pada bangunan memanjang yang menggambarkan panjang

papan yang dibutuhkan. Jenis kayu yang dapat digunakan untuk papan terbatas

diantaranya Hariara, Pinasa, Pokki, Bintatar, Baringin dan Maranti. Ketiga,

tersedianya tenaga kerja untuk membangun rumah tradisional tersebut (Loebis,

2002).

29

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.22. Denah Rumah Tradisional Suku Batak Toba Sumber: Loebis (2002) Rumah Batak Toba tidak

Gambar 2.22. Denah Rumah Tradisional Suku Batak Toba

Sumber: Loebis (2002)

Rumah

Batak

Toba

tidak

dibagi

menjadi

ruangan

terpisah

oleh

penghalang permanen, meskipun lebih dari satu keluarga menempati rumah

tersebut.

Ruang

hidup

komunal

terdapat

di

area

tengah-tengah

bangunan.

Sedangkan

area

pada

kedua

sisi

dialokasikan

untuk

setiap

keluarga

yang

sementara

dibagi

pada

malam

hari

dengan

menggantungkan

kain

yang

memastikan masing-masing keluarga memiliki privasi mereka. Namun, siang hari

seluruh ruang rumah terbuka bebas (Loebis, 2002).

30

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.23. Tampak Depan Rumah Tradisional Suku Batak Toba Sumber: Loebis (2002) 2.3.2. Elemen Bangunan

Gambar 2.23. Tampak Depan Rumah Tradisional Suku Batak Toba Sumber: Loebis (2002)

2.3.2.

Elemen Bangunan Rumah Tradisional Suku Batak Toba

Menurut Loebis (2002), elemen-elemen pada bangunan dibagi sebagai

berikut:

1.

Elemen pada bagian depan bangunan:

berikut: 1. Elemen pada bagian depan bangunan: Gambar 2.24. Elemen pada Bagian Depan Bangunan Sumber:

Gambar 2.24. Elemen pada Bagian Depan Bangunan Sumber: Loebis (2002)

31

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.3. Elemen Bagian Depan

 

Elemen Bagian

 

No.

Depan

 

Deskripsi

   

Ulu paung merupakan ornamen yang berbentuk raksasa

1.

Ulu Paung

setengah manusia setengah hewan. Ulu paung sekilas

mirip wajah manusia bertanduk kerbau.

   

Lidah

seperti

papan

tegak

melambangkan

payung

2.

Dilapaung

(Santungsantung)

   

Perisai atau kasau dalam bentuk struktur segitiga atap

3.

Sibombong Ari

pelana, juga disebut Sibombong Anting

4.

Sitindangi

Papan tegak berfungsi untuk menjaga frame tegak

5.

Halang gordang

Pendukung Drum di balkon

6.

Songsong rak

Balok horisontal dari balkon

   

Juga

disebut

Pamoltoki,

bagian

balok

utama

yang

7.

Songsong Boltok

dilambangkan sebagai Perut

 

Tomboman

 

8.

Adopadop

Papan depan terletak di belakang Dorpi Jolo

9.

Dorpi jolo

Sepotong kecil kayu vertikal yang disebut papan tengah

   

Makhluk

mitos

ornamen

yang

menggambarkan

10.

Singasinga

Mangala Bulan

11.

Parhongkom

Papan horisontal sebagai dasar dorpi Jolo

12.

Ture-ture

Pendukung papan lantai, bertopang pada balok.

Sumber: Loebis (2002)

32

Universitas Sumatera Utara

2.

Elemen pada bagian samping bangunan:

2. Elemen pada bagian samping bangunan: Gambar 2.25. Elemen pada Bagian Samping Bangunan Sumber: Loebis (2002)

Gambar 2.25. Elemen pada Bagian Samping Bangunan Sumber: Loebis (2002)

Tabel 2.4. Elemen Bagian Samping

 

Elemen bagian

 

No.

samping

Deskripsi

   

Bagian ini adalah bagian yang paling penting dari

dinding, itu adalah bagian paling tebal dari sisa

1.

Pardingdingan

dinding, itu berdiri di Tureture. Bentuknya mirip

dengan perahu dayung tradisional Toba

   

Papan tengah yang bisa dipindahkan, berdiri di atas

2.

Dorpi Sandesande

Pardingdingan

3.

Dinding Parginjang

Pendukung dari papan tengah tembok

4.

Urur Hodahoda

Kasau

5.

Pangumbari

Balok utama

33

Universitas Sumatera Utara

6.

Sundalap

Balok lintang

 

Niggor

atau

 

7.

Bungkulan

Ring balok

8.

Lais-lais

Rentang reng

9.

Sendal-sendal

Balok Kanopi

10.

Rassang

Papan yang dimasukkan ke dalam kolom

Sumber: Loebis (2002)

2.3.3. Gorga Atau Ornamen

Gorga (ornamen) adalah salah satu perwujudan budaya masyarakat Batak

Toba. Rumah bukan sekedar tempat tinggal manusia. Rumah adalah tempat dan

sumber berkah serta kesejahteraan bagi penghuninya. Agar rumah tetap sanggup

menjalankan

fungsinya

yang

sedemikian,

si

pemilik

rumah

harus

tetap

memperhatikan kekuatan hidup dari rumah yang di huninya. Salah satu cara yang

di tempuh untuk mempertahankan kekuatan hidup rumah tadi,orang batak toba

memberikan hiasan pada rumah dan perangkat isi rumahnya berupa hiasan

bermakna

bukan

hanya

ornamentasi

belaka,

melainkan

juga

sarana-sarana

pendukung daya hidup rumah (ungkap keyakinan).

Warna yang digunakan menghias rumah batak ialah warna khas batak

toba yakni ‘triwarna’ putih, hitam dan merah. Dalam bahasa batak toba triwarna

tersebut dinyatakan sebagai tolubuma: tolu artinya tiga, boma artinya warna

(Wahid dan Alamsyah 2013).

Gorga adalah ukuran dalam bentuk garis spiral pada permukaan kayu.

Bila satu rumah batak dinamai rumah gorga itu berarti bahwa rumah tersebut

34

Universitas Sumatera Utara

penuh dengan gorga. Gorga ini termasuk seni gaya dongson dengan polo-pola

geometris. Gaya dongson adalah salah satu gaya seni bangsa-bangsa proto–

melayu (Wahid dan Alamsyah, 2013). Terdapat beberapa jenis Gorga yaitu:

Tabel 2.5. Jenis-Jenis Gorga

No.

Gambar

Nama

 

Keterangan

 
     

Motif:

Motif

seperti

anyaman.

Motif

gorga

ini

berasal

dari

bentuk ‘tai tompi’ yakni tali rotan

yang di anyam agak lebar dan di

gunakan

sebagai

pengikat

kaki

kerbau.

Letak:

Ditempatkan

pada

tomboman adop-adop, parhokom

sibongbong ari dan tidak pernah

sibongbong ari dan tidak pernah

Gorga

1.

pada

ture–ture

dan

songsong

sitompi

 

boltok.

 

Makna: Gorga sitompi dipakasi

untuk hiasan raja atau orang yang

sanggup

mempersatukan

atau

menjalin

kesatuan

masyarakat

layaknya

menjalin

sebuah

anyaman.

Gorga

ini

melambangkan

 

ikatan

kebudayaan.

 

2.

 

Gorga ipon-

Motif: Motifnya kotak-kotak kecil

35

Universitas Sumatera Utara

   

ipon

yang

tersusun

sepeti

deretan

gigi,kata ipon berarti gigi.

gigi,kata ipon berarti gigi.

Letak: Gorga motif ini biasanya

di tempatkan pada jenggar, ture-

ture

dorpi

jolo

dan

songsong

boltok.

 

Makna:

Gorga

ini

mengisyaratkan

pesan

betapa

pentingnya kemajuan hidup serta

rasa tolong menolong dan saling

melengkapi.

Ataupun

perlambangan

dari

suatu

hasrat

akan

kesuksesan

dan

kemajuan

pribadi

keluarga,

maupun

masyarakat.

 
     

Motif:

Gorga

simeol-meol

merupakan motif gorga yang di

deformasikan

dari

gerakan

tumbuhan lumut yang melenggak

lenggok. Gerak yang dihasilkan

lenggok. Gerak yang dihasilkan

Gorga

3.

memberi

irama

dan

garis

simeol-meol

 

melengkung kedalam dan meliuk

 

keluar.

Sehingga

satu

kesatuan

gorga

ini

terkesan

tampak

mengikuti pola huruf S ataupun

pola angka 8.

 

36

Universitas Sumatera Utara

     

Letak:

Biasanya

di

tempatkan

pada jenggar,ture-ture, dorpi jolo

dan songsong boltok.

 

Makna:

Gorga

simeol-meol

ini

merupakan

simbol

kegembiraan

akan hidup duniawi.

 
     

Motif:

Bentuknya

bebas

merupkan

gambaran

jalinan

mengikat

mengartikan

jalinan

dalihan na tolu yang menuntun

segenap

bentuk

perikatan

kekeluargaan

masyarakat Batak

Gorga Toba.

Gorga

Toba.

4.

dalihan na

Letak: Biasanya di letakan pada

tolu

dorpi jolo.

 
 

Makna:

Sebagai

pengingat

pemilik

rumah

agar

senantiasa

hormat

kepada

pihak

hula-hula

dan sifat membujuk pihak boru

serta

sikap

hati–hati

terhadap

dongan sabutuha.

 
     

Motif:

Iran–iran

adalah

sejenis

alat pemanis wajah manusia agar

Gorga iran-

Gorga iran-

5.

tampak

manis

dan

berwibawa

iran

 

dihadapan orang lain. Gorga iran–

 

iran merupakan bentuk tumbuhan

37

Universitas Sumatera Utara

     

merambat.

 

Letak: Biasanya di letakan pada

songsong boltok.

 

Makna:

Sebagai

simbol

kecantikan atau manis.

 
     

Motif:

Merupakan

tanda

yang

berbentuk visualisasi dari tiruan

putaran air dalam suatu wadah.

putaran air dalam suatu wadah.

Gorga

6.

Letak:

Gorga

ini

ditempatkan

silintong

 

pada dorpi jolo

 

Makna: Mengartikan pusaran air

 

yang indah.

 
     

Motif:

Bentuk

gorga

ini

menyerupai

dua

buah

gorga

simeol–meol

yang

dipasang

berhadapan.

berhadapan.

Gorga

 

7.

Letak:

Gorga

ini

ditempatkan

sitangan

 
 

pada dorpi jolo.

 

Makna:

Kewajiban

tuan

rumah

untuk

ramah,

hormat,

sopan

berhadapan dengan tamu.

     

Motif:

Bentuknya

menyerupai

orang yang sedang menunggangi

orang yang sedang menunggangi

Gorga

8.

kuda.

sihoda-hoda

Letak:

Diletakkan

pada

 

parhongkom dinding samping.

38

Universitas Sumatera Utara

     

Makna:

Pemilik

Rumah

sudah

berhak melaksanakan pesta besar

mangalahat horbo

 
     

Motif: Bentuknya mirip matahari.

Letak: Ditempatkan pada sebelah

Letak: Ditempatkan pada sebelah

9.

Gorga

kiri dorpi jolo.

 

simataniaria

Makna:

Penerangan

kesuburan

dan

kehidupan

bagi

pemilik

 

rumah.

     

Motif: Bentuknya adalah wajah

manusia yang berwibawa dengan

manusia yang berwibawa dengan

lidah

terjulur

sampai

ke

dagu.

Gorga singa-

Kepala beserban dengan kain tiga

10.

singa

kali lilitan dan sikap kaki berlutut.

Letak:

Gorga

ini

diletakan

di

sebelah kan dan kiri dorpi jolo

 

Makna: Berwibawa.

 
     

Motif:

Boraspati (cecak) dapat

menempel

berjalan

di

berbagai

bentuk sisi dan bidang.

bentuk sisi dan bidang.

Gorga

 

11.

Letak:

Dorpi

jolo,parhongkom

boraspati

 

rumah dan pintu sopo.

 
 

Makna:

Kecerdasan,

kebijaksanaan dan perlindungan.

 

39

Universitas Sumatera Utara

     

Motif:

Bentuknya

seperti

gorga

jengger

hanya

berbeda

12.

12. Gorga gaja penempatan nya.  

Gorga gaja

penempatan nya.

 

dompak

Letak:

Santung–santung

atau

pada dorpi jolo.

 

Makna: Simbol Kebenaran.

     

Motif:

Gorga

buah

dada

ini

berjumlah delapan buah yang di

tempatkan di parhongkom,empat

tempatkan di parhongkom,empat

buah

berada

dikiri

dan

empat

Gorga buah

 

13.

buah di kanan.

 

dada

 

Letak:

Diletakan

depan

mulut

boras pati.

 

Makna:

Sebagai

lambang

Kesuburan.

 
     

Motif:

Menyerupai

muka

manusia.

Letak: Gorga ini di tempatkan

Letak:

Gorga

ini

di

tempatkan

Gorga

pada

bagian

tomboman

adop–

14.

jenggar/jorn

adop dan halang gordang.

gom

Makna: Sebagai simbol penjaga

keamanan

yang

akan

menolak

 

segala

bentuk

ancaman

pengganggu.

 

40

Universitas Sumatera Utara

     

Motif: Ulu paung berbentuk muka

raksasa

setengah

manusia

setengah hewan. Ulu paung

setengah

hewan.

Ulu

paung

sekilas

terlihat

mirip

wajah

manusia bertanduk kerbau.

Gorga ulu

 

15.

Letak: Pada bagaian ujung atas

paung

atap.

Makna:

Menggambarkan

 

kekuatan

dan

sebagai

tanda

hagabeon

parhorasan

(banyak

keturunan).

 

Sumber: Wahid Dan Alamsyah (2013)

41

Universitas Sumatera Utara