Anda di halaman 1dari 10

F.4.

Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Laporan Kegiatan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer (PMKP) dan


Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)
F4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

PENYULUHAN GARAM BERYODIUM


DI SDN 46 DUAMPANUA

Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menempuh


Program Dokter Internsip Indonesia

Oleh:
dr. Andi Fajar Apriani

Pendamping:
dr. H. Ramli Yunus, M.Kes

PUSKESMAS LAMPA
KABUPATEN PINRANG
PROVINSI SULAWESI SELATAN
2017

1
F.4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa:


Nama : dr. Andi Fajar Apriani
Wahana Internship : Puskesmas Lampa, Pinrang, Sulawesi Selatan
Judul : Penyuluhan Garam Beryodium di SDN 46
Duampanua
Telah menyelesaikan tugas dalam rangka laporan kegiatan internship di
Puskesmas Lampa Kabupaten Pinrang.

Pinrang, Februari 2017

Peserta Pendamping

( dr. Andi Fajar Apriani ) ( dr. H. Ramli Yunus )

2
F.4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... 1


LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................ 2
DAFTAR ISI ................................................................................................. 3
ISI
A. Latar Belakang ................................................................................... 4
B. Permasalahan di Masyarakat .............................................................. 5
C. Pemilihan Intervensi........................................................................... 6
D. Pelaksanaan ........................................................................................ 6
E. Evaluasi………….............................................................................. 6
F. Dokumentasi .................................................................................... 8

LAPORAN KEGIATAN............................................................................. 9

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………. 10

3
F.4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN MASYARAKAT


UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT

PENYULUHAN GARAM BERYODIUM

A. LATAR BELAKANG
Yodium adalah mineral yang terdapat di alam, baik di tanah maupun di
air yang merupakan zat gizi mikro yang diperlukan oleh tubuh manusia untuk
membentuk hormon Tiroksin yang berfungsi untuk mengatur pertumbuhan
dan perkembangan fisik serta kecerdasan.1,2,3 Yodium adalah merupakan
salah satu mineral yang esensial sehingga keadaan kekurangan akan
mengganggu kesehatan dan pertumbuhan. Kekurangan yodium tidak saja
menyebabkan pembesaran kelenjar gondok melainkan berbagai macam
gangguan lain, maka penyakit tersebut dinamakan GAKY (Gangguan Akibat
Kurang Yodium).4
GAKY merupakan sekumpulan gejala yang ditimbulkan akibat tubuh
mengalami kekurangan yodium dalam jangka waktu yang lama. Risiko
terjadinya GAKY pada seseorang sebenarnya dapat dimulai dari masa
kehamilan hingga orang dewasa. Keadaan kekurangan pada ibu yang sedang
mengandung dapat berakibat abortus, bayi lahir mati, kelainanan bawaan pada
bayi, meningkatnya angka kematian perinatal, melahirkan bayi kretinisme,
dan sebagainya. Kekurangan yodium yang diderita oleh orang dewasa dapat
mengkibatkan pembesaran kelenjar gondok, hipotiroidisme, dan gangguan
mental. Sedangkan pada anak-anak dapat menyebabkan pembesaran kelenjar
gondok, gangguan fungsi mental dan perkembangan fisik sehingga
kecerdasan dan prestasi belajar dapat menurun.4,5,6
Garam beryodium merupakan istilah yang biasa digunakan untuk garam
yang telah difortifikasi (ditambah) dengan yodium. Di Indonesia, yodium
ditambahkan dalam garam sebagai zat aditif atau suplemen dalam bentuk
kalium yodat (KIO3). Penggunaan garam beryodium dianjurkan oleh WHO
untuk digunakan di seluruh dunia dalam menanggulangi GAKY. Cara ini

4
F.4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

dinilai lebih alami, lebih murah, lebih praktis dan diharapkan dapat lestari di
kalangan masyarakat.5

B. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
GAKY merupakan masalah besar bagi kesehatan masyarakat di dunia
termasuk di Indonesia. Resiko terkena GAKY dari jumlah penduduk dunia
ada 38%. Data dari WHO tahun 2005, tercatat 130 negara yang mengalami
masalah GAKY dan 48% ada di Afrika, di Asia Tenggara ada 41% dan 11%
di Eropa dan Pasifik Barat. Tahun 1982-1990 penurunan prevalensi GAKY
dari 37%-27,7%, dan pada tahun 1998 menjadi 9,8%, dan tahun 2003
prevalensi GAKY meningkat sedikit menjadi 11,1% hal tersebut terlihat dari
penduduk yang masih menderita penyakit hipotiroid yang tersebar hampir
merata di seluruh Indonesia.6
Berdasarkan hasil survei nasional tahun 2003 melalui proyek
intensifikasi penanggulangan gangguan akibat kekurangan yodium (IP-
GAKY), persebaran GAKY di Indonesia dikelompokan berdasarkan
kabupaten, yaitu terdapat 35,8% kabupaten yang endemis ringan, 13,1%
kabupaten endemis sedang, dan 8,2% kabupaten endemis berat yang tersebar
di beberapa provinsi di Indonesia.6
Hasil RISKESDAS 2007 menunjukkan bahwa cakupan konsumsi
garam beryodium masih jauh dari target USI (Universal Salt Iodizasion).
Saat ini, cakupan rumah tangga dengan garam standar atau cukup yodium
rata-rata baru mencapai 62,3%, sedangkan target USI harus mencapai 90%
dari seluruh wilayah Indonesia.4,6
Salah satu studi pendahuluan yang dilakukan pada awal September 2007
di salah satu kecamatan di Jakarta didapatkan hasil dari sejumlah 71 siswa
yang berusia 9-12 tahun, ditemukan 22 siswa yang mengalami pembesaran
tiroid, 24 siswa stunted, dan sisanya tidk mempunyai gejala klinis. Data
tersebut dikonfirmasi berdasarkan survey status gizi yang menyebutkan
bahwa hamper 50% anak memiliki tubuh yang sangat pendek akibat
kekurangan yodium.4

5
F.4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

C. PEMILIHAN INTERVENSI
Berdasarkan permasalahan yang telah disebutkan di atas, maka kami
bermaksud mengadakan penyuluhan mengenai garam beryodium dengan
tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam permasalahan gizi agar
dapat menghindari terjadinya penyakit-penyakit akibat kekurangan mineral
yodium, terutama pada anak-anak usia sekolah. Adapun materi yang
disampaikan pada penyuluhan ini, meliputi: pengertian garam beryodium,
bahan-bahan makanan sumber yodium, gejala dan tanda kekurangan yodium,
penyakit-penyakit yang dapat muncul akibat kekurangan yodium,
pencegahan kurangnya yodium, dan demonstrasi pengecekan kadar yodium
pada garam dapur.

D. PELAKSANAAN
Penyuluhan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 20 Desember 2016
bertempat di SDN 46 Duampanua, kec. Duampanua, Kab. Pinrang. Materi
yang disampaikan pada penyuluhan ini adalah pengertian garam beryodium,
bahan-bahan makanan sumber yodium, gejala dan tanda kekurangan yodium,
penyakit-penyakit yang dapat muncul akibat kekurangan yodium, dan
pencegahan kurangnya yodium. Pada penyuluhan ini juga dilakukan
demonstrasi pengecekan kadar beryodium pada setiap siswa kelas 6 yang
membawa sampel garam rumah mereka, dengan meneteskan reagen sebanyak
2-3 tetes pada sampel sambil mengamati perubahan warna yang terjadi pada
garam, sehingga, dapat diketahui apakah garam yang mereka konsumsi
selama ini mengandung kadar yodium yang cukup atau tidak, serta diberikan
edukasi tambahan jika garam yang mereka gunakan tidak mengandung kadar
yodium yang cukup.

E. EVALUASI
Penyuluhan ini diikuti oleh siswa-siswi kelas 6, yang berjumlah 21
orang. Dari hasil pemeriksaan kadar yodium pada sampel garam dapur yang
dilakukan, ada 1 sampel garam yang tidak mengandung kadar yodium, ada 3
sampel garam yang kurang mengandung yodium, dan ada 17 sampel garam

6
F.4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

yang cukup mengandung yodium. Siswa/siswi yang membawa sampel garam


rumah yang tidak mengandung kadar yodium serta yang kurang mengandung
yodium diberikan edukasi tambahan mengenai pentingnya mengkonsumsi
garam beryodium dan mengganti garam rumah yang di gunakan dengan
garam yang terbukti mengandung cukup yodium.
Tampak para siswa/siswi ini antusias mengikuti penyuluhan ini. Hal ini
terlihat dari banyaknya siswa/siswi yang bertanya mengenai dampak
kekurangan yodium pada anak usia sekolah seperti mereka. Diharapkan
penyuluhan ini dapat mengurangi angka kejadian dan morbiditas akibat
defisiensi yodium di masyarakat kecamatan Duampanua, khususnya pada
kalangan anak usia sekolah. Penyuluhan mengenai garam beryodium ini
diharapkan dapat terus dilakukan terutama di sekolah-sekolah, posyandu,
puskel atau tempat-tempat lain di daerah-daerah lainnya yang tercatat atau
beresiko memiliki angka kejadian/morbiditas kekurangan yodium yang
tinggi.

7
F.4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

F. DOKUMENTASI

8
F.4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

LAPORAN KEGIATAN

Nama Peserta dr. Andi Fajar Apriani Tanda tangan:

Nama Pendamping dr. H. Ramli Yunus Tanda tangan:

Nama Wahana Puskesmas Lampa


Tujuan Pelaksanaan Melakukan Penyuluhan Garam Beryodium
Hari/Tanggal Selasa/ 20 Desember 2016
Waktu 09.00 WITA
Tempat SDN 46 Duampanua, Kec. Duampanua
Jumlah Peserta 21 Orang

9
F.4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

1. Almatsier, sunita ., 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia : Jakarta Standar
Antropometri. World Health Organization (WHO). 2005
2. Guyton, Arthur C , 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC : Jakarta
3. Pudjiati, S. 2000. Ilmu gizi klinis pada anak. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
4. Djokomoeldjanto, R. 1993. Hipotiroid di Daerah Defisiensi Iodium.
Kumpulan Naskah Simposium GAKI. Hal. 35-46. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang.
5. Picauly, Intje. Iodium dan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium. Program
Pasca Sarjana IPB. Bogor. Nopember 2002. http://rudyct.com/PPS702-
ipb/05123/intje_picauly.htm.
6. DepKes RI. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium dan Garam Beriodium .
Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat. Jakarta. 1996.

10