Anda di halaman 1dari 25

Case Report

Apendisitis Akut

Disusun oleh:

Qorry Welendri
1102013238

Dosen Pembimbing:

dr. Yeppy Arief Nurzaman, SpB, FINaCS, MM

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Bedah


Rumah Sakit Umum Daerah Soreang Kabupaten Bandung
2017
0
BAB 1

LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
Nama : Tn. Herman

Usia : 59 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Islam

Alamat : Cikalong

Pendidikan Terakhir : SMA

Status perkawinan : Menikah

No. RM : 601297

Tanggal Pemeriksaan : 19 Agustus 2017

B. Anamnesis
Keluhan Utama :

Pasien datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah yang semakin terasa sejak 12 jam SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke IGD RSUD Soreang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah yang dirasakan
memberat sejak 12 jam SMRS. Nyeri perut dirasakan terus menerus. Awalnya pasien merasakan
nyeri di ulu hati yang menjalar ke perut kanan atas dan kiri atas. Pasien mengeluh mual dan muntah,
muntah 4×/hari yang berisi cairan dan makanan. Pasien belum BAB selama 2 hari. BAK dalam batas
normal. Pasien mengalami batuk dan sesak. Demam dan pilek disangkal. Pasien punya riwayat
penyakit hipertensi dan asma. Pasien rutin mengonsumsi Amlodipin 1×10 mg untuk mengobati
hipertensi. Riwayat penyakit DM dan jantung disangkal.

1
Riwayat Penyakit Dahulu :

Tekanan darah tinggi, Asma, TBC Disangkal, Gastritis Disangkal, DM disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :

C. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Sakit sedang

Kesadaran : Compos mentis

Vital sign

Tekanan Darah : 130/90 mmHg

Nadi : 105 x/menit

Respirasi :24 x/menit

Suhu : 37 oC

Status generalis : Dalam batas normal

Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Leher : Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening, JVP tidak meningkat

Thorax Depan

Inspeksi : Bentuk dan gerakan simetris, tidak adanya sikatrik, pasien terlihat sesak

Palpasi : Trakea tidak deviasi, Vesicular breathing sound kanan = kiri, Fremitus taktil dan
fremitus vocal kanan = kiri.

Perkusi : Sonor kiri kanan, batas paru hepar ICS V linea midclaviculris dextra

Auskultasi: Vesicular breathing sound kanan = kiri, Ronkhi -/- wheezing -/-

Cor

Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat

2
Palpasi : Iktus cordis teraba di ICS V linea midclavicula sinistra

Perkusi : Pekak, batas jantung kesan normal

Auskultasi : Bunyi jantung S1-S2 murni, regular, murmur (-) gallop (-)

Abdomen

Inspeksi : Datar

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Palpasi : Nyeri tekan epigastrium, Nyeri tekan Mc Burney, Hepar dan lien tidak teraba
pembesaran, psoas sign (+), rovsing sign (+)

Perkusi : Timpani pada seluruh kuadran

Ekstremitas : Akral hangat, tidak ada edema.

D. Status Lokalis
Nyeri perut kanan bawah yang dirasakan memberat sejak 12 jam SMRS. Nyeri perut dirasakan terus
menerus. Awalnya pasien merasakan nyeri di ulu hati yang menjalar ke perut kanan atas dan kiri atas.
E. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium (Darah Rutin), USG

Gambar: Hasil Pemeriksaan Laboratorium

3
Gambar: Hasil USG

4
Gambar: Hasil USG

F. Resume
Pasien datang ke IGD RSUD Soreang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah yang dirasakan
memberat sejak 12 jam SMRS. Nyeri perut dirasakan terus menerus. Awalnya pasien merasakan
nyeri di ulu hati yang menjalar ke perut kanan atas dan kiri atas. Pasien mengeluh mual dan
muntah, muntah 4×/hari yang berisi cairan dan makanan. Pasien belum BAB selama 2 hari. BAK
dalam batas normal. Pasien mengalami batuk dan sesak. Demam dan pilek disangkal. Pasien
punya riwayat penyakit hipertensi dan asma. Pasien rutin mengonsumsi Amlodipin 1×10 mg
untuk mengobati hipertensi. Riwayat penyakit DM dan jantung disangkal. Riwayat penyakit
keluarga disangkal. Status generalis dalam batas normal, pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri
tekan epigastrium (+), nyeri tekan Mc Burney (+), Psoas sign (+), rovsing sign (+). Untuk
menegakkan diagnose dilakukan pemeriksaan Darah Rutin dan USG.

G. Diagnosa dan diagnosa banding

5
Diagnosa Kerja :

Suspek Apendisitis Akut

Diagnosa Banding :

Kolesistitis Akut, Pankreatitis, Gastroenteritis

H. Penatalaksanaan

1. RL 30 gtt
2. Ketorolac 3×1 (IV)
3. Ranitidine 2×1 (IV)
4. Ondansetron 3×1 (IV)
5. Ceftriakson 1×2 gr (IV)
6. Metronidazole 3×1 (IV) hasil konsul dr. Henry
7. Rencana USG

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

6
2.1 Anatomi Appendiks Vermiformis
Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 3-15
cm), dan berpangkal di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian
distal. Namun demikian, pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan
menyempit kearah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insidens
apendisitis pada usia itu. Pada 65% kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu
memungkinkan apendiks bergerak, dan ruang geraknya bergantung pada panjang
mesoapendiks penggantungnya (De Jong, Syamsuhidajat, 2010).
Pada kasus selebihnya, apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di
belakang kolon asendens, atau tepi lateral kolon asendens. Gejala klinis apendisitis
ditentukan oleh letak apendiks (De Jong, Syamsuhidajat, 2010).
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri
mesenterika superior dan arteri apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari
nervus torakalis X. Oleh karena itu, nyeri visceral pada apendisitis bermula di sekitar
umbilicus (De Jong, Syamsuhidajat, 2010).
Perdarahan apendiks berasal dari arteri apendikularis yang merupakan arteri tanpa
kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena thrombosis pada infeksi, apendiks akan
mengalami gangren (De Jong, Syamsuhidajat, 2010).
.

Gambar 1: Anatomi Makroskopik Apendiks Vermiformis

7
Gambar 2: Variasi Letak Apendiks Vermiformis

Gambar 3: Anatomi Mikroskopik Apendiks Vermiformis

2.2 Fisiologi Apendiks Vermiformis


Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir di muara apendiks tampaknya
berperan pada patogenesis apendisitis. Lendir itu normalnya dicurahkan kedalam lumen dan
selanjutnya mengalir ke sekum. Lendir dalam apendiks bersifat basa mengandung amilase
dan musin. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymphoid
Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk apendiks, ialah IgA.
Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian,
pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan
limfe disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan diseluruh
tubuh. Jaringan limfoid pertama kali muncul pada apendiks sekitar 2 minggu setelah lahir.

8
Jumlahnya meningkat selama pubertas, dan menetap saat dewasa dan kemudian berkurang
mengikuti umur. Setelah umur 60 tahun, tidak ada jaringan limfoid lagi di apendiks dan
terjadi penghancuran lumen apendiks komplit. Immunoglobulin sekretorius dihasilkan
sebagai bagian dari jaringan limfoid yang berhubungan dengan usus untuk melindungi
lingkungan anterior (De Jong, Syamsuhidajat, 2010).

2.3 Definisi Apendisitis Akut


Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini mengenai semua umur baik laki-laki maupun
perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10 sampai 30 tahun (Mansjoer,
2000). Sedangkan menurut Smeltzer C. Suzanne (2001), Apendisitis adalah penyebab paling
umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari rongga abdomen dan merupakan
penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat.
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak
umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang
peritonieum lokal. Gajala apendisitis akut nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan
nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan
kadang muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah
ketitik McBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga
merupakan nyeri somatik setempat.

2.4 Epidemiologi Apendisitis Akut


Insidens apendisitis akut di negara maju lebih tinggi dari pada di negara berkembang.
Namun, dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun secara bermakna. Hal ini
diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanana berserat dalam menu sehari-
hari. Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari 1 tahun
jarang dilaporkan. Insidens tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun.
Insidens pada lelaki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun,
ketika insidens pada lelaki lebih tinggi (De Jong, Syamsuhidajat, 2010).
Di Amerika Serikat setiap tahunnya terdapat 250.000 kasus apendisitis. Insiden
apendisitis paling tinggi pada usia 10-30 tahun, dan jarang ditemukan pada anak usia kurang
dari 2 tahun. Setelah usia 30 tahun insiden apendisitis menurun, tapi apendisitis bisa terjadi
pada setiap umur individu. Pada remaja dan dewasa muda rasio perbandingan antara laki-laki
dan perempuan sekitar 3:2. Setelah usia 25 tahun, rasionya menurun sampai pada usia
pertengahan 30 tahun menjadi seimbang antara laki-laki dan perempuan Sekitar 20-30%
kasus apendisitis perforasi terjadi di Afrika, sedangkan di Amerika sebanyak 38,7% insidensi
apendisitis perforasi terjadi pada laki-laki dan 23,5% pada wanita.

2.5 Etiologi Apensisits Akut


Apendidistis akut merupakan infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai faktor
pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor
pencetus. Di samping hyperplasia jaringan limf, fekalit, tumor apendiks, dan cacing askaris

9
dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan
apendisitis ialah erosi mukosa apendiks akibat parasit seperti E. histolytica.
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan
pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan menaikkan tekanan
intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya
pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya
apendisitis akut.

Gambar 4: Hal yang mempermudah timbulnya apendisitis akut

2.6 Patofisiologi Apendisitis Akut


Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia
folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan
sebelumnya atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi
mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun
elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan
tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang
mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi
apendistis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus terus
berlanjut, tekanan akan terus meningkat, hal tersebut akan menyebabkan obstruksi
vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul
meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah
kanan bawah, keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian
aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan
gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah
rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.

10
Gambar 5: Patofisiologi Apendisitis

2.7 Manifestasi Klinis Apendisitis Akut


Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh terjadinya
peradangan mendadak pada umbai cacing yang memberikan tanda setempat, baik disertai
maupun tidak disertai dengan rangsang peritoneum local. Gejala klasik apendisitis ialah nyeri
samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri visceral di daerah epigastrium di sekitar
umbilicus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya, nafsu makan
menurun. Dalam beberapa jam, nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik McBurney. Di
sini, nyeri dirasa lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatic
setempat. Kadang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita
merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan itu dianggap berbahaya karena bisa
mempermudah terjadinya perforasi. Bila terdapat perangsangan peritoneum, biasanya pasien
mengeluh sakit perut bila berjalan atau batuk.

11
Bila apendiks terletak retrosekal retroperitoneal, tanda nyeri perut kanan bawah tidak
begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal karena apendiks terlindung oleh
sekum. Rasa nyeri lebih kearah perut sisi kanan atau nyeri timbul pada saat berjalan karena
kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari dorsal.
Radang pada apendiks yang terletak di rongga pelvis dapat menimbulkan gejala dan
tanda rangsangan sigmoid atau rectum sehingga peristalsis meningkat dan pengosongan
rectum menjadi lebih cepat serta berulang. Jika apendiks tadi menempel ke kandung kemih,
dapat terjadi peningkatan frekuensi kencing akibat rangsangan apendiks terhadap dinding
kandung kemih.
Gejala apendisitis akut pada anak tidak spesifik. Pada awalnya, anak sering hanya
menunjukkan gejala rewel dan tidak mau makan. Anak sering tidak bisa melukiskan rasa
nyerinya. Beberapa jam kemudian, anak akan muntah sehingga menjadi lemah dan letargik.
Karena gejala yang tidak khas tadi, apendisitis sering baru diketahui setelah terjadi perforasi.
Pada bayi, 80-90% apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi.

Gambar 6: Manifestasi Klinis Apendisitis Akut

Pada beberapa keadaan, apendisitis agak sulit didiagnosis sehingga tidak ditangani
pada waktunya dan terjadi komplikasi. Misalnya, pada orang berusia lanjut, gejalanya sering
samar-samar saja sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah
perforasi.

Pada kehamilan, keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut, mual, dan muntah. Hal
ini perlu dicermati karena pada kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual dan
muntah. Pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga
keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih di regio lumbal kanan.

2.8 Diagnosis Apendisitis Akut

12
Demam biasanya ringan dengan suhu sekitar 37,5-38,5oC. Bila suhu lebih tinggi,
mungkin sudah terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksilar dan rektal sampai 1°C.
Pada inspeksi perut, tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada
penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada
massa atau abses periapendikuler.

Pada palpasi, didapatkan nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai nyeri
lepas. Defans muskuler menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale. Nyeri tekan
perut kanan bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah, akan
dirasakan nyeri di perut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing". Pada apendisitis
retrosekal atau retroileal, diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri.

Karena terjadi pergeseran sekum ke kraniolaterodorsal oleh uterus, keluhan nyeri pada
apendisitis sewaktu hamil trimester ll dan III akan bergeser ke kanan sampai ke pinggang
kanan. Tanda pada kehamilan trimester I tidak berbeda dengan pada orang tidak hamil karena
itu perlu dibedakan apakah keluhan nyeri berasal dari uterus atau apendiks. Bila penderita
miring ke kiri, nyeri akan berpindah sesuai dengan pergeseran uterus, terbukti proses bukan
berasal dari apendiks.

Peristalsis usus sering normal tetapi juga dapat menghilang akibat adanya ileus paralitik
pada peritonitis generalisata yang disebabkan oleh apendisitis perforata.

Pemeriksaan colok dubur menyebabkan nyeri bila daerah infeksi dapat dicapai dengan
jari telunjuk, misalnya pada apendisitis pelvika.

Pada apendisitis pelvika, tanda perut sering meragukan; maka, kunci diagnosis adalah
nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator
merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Uji psoas
dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi
aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang
menempel di otot psoas mayor, tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Uji obturator
digunakan untuk melihat bilamana apendiks yang meradang bersentuhan dengan otot
obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Gerakan fleksi dan endorotasi
sendi panggul pada posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada apendisitis pelvika.

Diagnosis

Meskipun pemeriksaan dilakukan dengan cermat dan teliti, diagnosis klinis apendisitis
akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus. Kesalahan diagnosis lebih sering
terjadi pada perempuan dibandingkan dengan lelaki. Hal ini dapat disadari mengingat pada
perempuan, terutama yang masih muda, sering timbul gangguan yang menyerupai apendisitis

13
akut. Keluhan itu berasal dari genitalia interna karena ovulasi, menstruasi, radang di pelvis,
atau penyakit ginekologik lain.

Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis apendisitis akut. bila diagnosis


meragukan, sebaiknya pcnderita diobservasi di rumah sakit dengan frekuensi seriap l-2 jam.

Foto barium kurang dapat dipcrcaya. Ultrasonografi dapat meningkatkan akurasi


diagnosis. Demikian pula laparoskopi pada kasus yang meragukan.

Gambar 7: Pemeriksaan Fisik Apendisitis

14
Gambar 8: Skor Alvarado

Laboratorium

a. Leukosit Darah
Pemeriksaan laboratorium rutin sangat membantu dalam mendiagnosis apendisitis
akut, terutama untuk mengesampingkan diagnosis lain. Pemeriksaan laboratorium
yang rutin dilakukan adalah jumlah leukosit darah. Jumlah leukosit darah biasanya
meningkat pada kasus apendisitis. Hitung jumlah leukosit darah merupakan
pemeriksaan yang mudah dilakukan dan memiliki standar pemeriksaan terbaik. Pada
kebanyakan kasus terdapat leukositosis, terlebih pada kasus dengan komplikasi berupa
perforasi. Penelitian yang dilakukan oleh Guraya SY menyatakan bahwa peningkatan
jumlah leukosit darah yang tinggi merupakanindikator yang dapat menentukan derajat
keparahan apendisitis. Tetapi, penyakit inflamasi pelvik terutama pada wanita akan
memberikan gambaran laboratorium yang terkadang sulit dibedakan dengan apendisitis
akut.

15
Terjadinya apendisitis akut dan adanya perubahan dinding apendiks
vermiformis secara signifikan berhubungan dengan meningkatnya jumlah leukositdarah.
Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah leukosit berhubungan dengan
peradangan mural dari apendiks vermiformis, yang merupakan tanda khas pada
apendisitis secara dini. Beberapa penulis menekankan bahwa leukosit darah polimorfik
merupakan fitur penting dalam mendiagnosis apendisitis akut. Leukositosis ringan,
mulai dari 10.000 - 18.000 sel/mm, biasanya terdapat pada pasien apendisitis akut.
Namun, peningkatan jumlah leukosit darah berbeda pada setiap pasien apendisitis.
Beberapa pustaka lain menyebutkan bahwa leukosit darah yang meningkat >12.000
sel/mm pada sekitar tiga-perempat dari pasien dengan apendisitis akut. Apabila
jumlah leukosit darah meningkat >18.000 sel/mmmenyebabkan kemungkinan
terjadinya komplikasi berupa perforasi.

b. Pemeriksaan urin dengan hasil sedimen dapat normal atau terdapat leukosit dan
eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang menempel pada ureter atau
vesika. Pemeriksaan leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi
tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. Pada apendisitis akut dan perforasi
akan terjadi leukositosis yang lebih tinggi lagi. Hb (hemoglobin) nampak normal.
Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. Urin rutin
penting untuk melihat apakah terdapat infeksi pada ginjal.

Pemeriksaan Radiologi

a. Apendikogram
Apendikogram dilakukan dengan cara pemberian kontras BaS04 serbuk halus yang
diencerkan dengan perbandingan 1:3 secara peroral dan diminum sebelum
pemeriksaan kurang lebih 8-10 jam untuk anak-anak atau 10-12 jam untuk dewasa,
hasil apendikogram dibaca oleh dokter spesialis radiologi.

b. Ultrasonografi (USG)
USG dapat membantu mendeteksi adanya kantong nanah. Abses subdiafragma harus
dibedakan dengan abses hati, pneumonia basal, atau efusi pleura

Dlagnosis Banding

Pada keadaan tertentu, beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding.

1. Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual, muntah, clan diare mendahului rasa nyeri. Nyeri perut sifatnya
lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Sering dijumpai adanya hiperperistalsis. Panas dan
leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan apendisitis akut.
2. Demam dengue

16
Demam dengue“ dapat dimulai dengan nyeri perut mirip peritonitis. Pada penyakit ini,
didapatkan hasil tes positif untuk Rumpel Leede, trombositopenia, clan peningkatan
hematokrit.
3. Limfadenitis mesenterika
Limfadenitis mesenterika yang biasa didahului oleh enteritis atau gastroenteritis, ditandai
dengan nyeri perut, terutama perut sebelah kanan, serta perasaan mual dan nyeri tekan
perut yang sifatnya samar, terutama perut sebelah kanan.
4. Kelainan ovulasi
Folikel ovarium yang pecah pada ovulasi dapat menimbulkan nyeri pada perut kanan
bawah di tengah siklus menstruasi. Pada anamnesis, nyeri yang sama pernah timbul lebih
dahulu. Tidak ada tanda radang, dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam, tetapi
mungkin dapat mengganggu selama dua hari.
5. Infeksi panggul
Salpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan apendisitis akut. Suhu biasanya lebih
tinggi daripada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah perut lebih difus. Infeksi
panggul pada wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Pada colok vagina,
akan timbul nyeri hebat di panggul jika uterus diayunkan. Pada gadis dapat dilakukan
colok dubur jika perlu untuk diagnosis banding.
6. Kehamilan di luar kandungan
Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang tidak menentu. Jika ada
ruptur tuba atau abortus kehamilan di luar rahim dengan pcrdarahan, akan timbul nyeri
yang mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. Pada
pemeriksaan vagina, didapatkan nyeri dan penonjolan rongga Douglas dan pada kuldo
sentesis didapatkan darah.
7. Kista ovarium terpuntir
Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan teraba massa dalam rongga
pelvis pada pemeriksaan perut, colok vagina, atau colok rektal. Tidak terdapat demam.
Pemeriksaan ultrasonografi dapat menentukan diagnosis.
8. Endometriosis eksterna
Endometrium di luar rahim akan menimbulkan nyeri di tempat endometriosis berada, dan
darah menstruasi terkumpul di tempat itu karena tidak ada jalan ke luar.
9. Urolitiasis pielum/ureter kanan
Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut yang menjalar ke inguinal kanan merupakan
gambaran yang khas. Eritrosituria sering ditemukan. Foto polos perut atau urografi
intravena dapat memastikan penyakit tersebut. Pielonefritis sering disertai dengan demam
tinggi, menggigil, nyeri kostovertebral di sebelah kanan, dan piuria.
10. Penyakit saluran cerna lainnya
Penyakit lain yang perlu dipikirkan adalah peradangan di perut, seperti divertikulitis
Meckel, perforasi tukak duodenum atau lambung, kolesistitis akut, pankreatitis,
divertikulitis kolon, obstruksi usus awal, perforasi kolon, demam tifoid abdominalis,
karsinoid, dan mukokel apendiks.

2.9 Penatalaksanaan Apendisitis Akut

17
Setelah penegakan diagnosis apendisitis dilakukan, tata laksana utama pada apendisitis
adalah Apendektomi. Tata laksana mulai diarahkan untuk persiapan operasi untuk
mengurangi komplikasi pasca-operasi dan meningkatkan keberhasilan operasi.

Medikamentosa
Persiapan operasi dilakukan dengan pemberian medikamentosa berupa analgetik dan
antibiotik spektrum luas, dan resusitasi cairan yang adekuat. Pasien apendisitis seringkali
datang dengan kondisi yang tidak stabil karena nyeri hebat sehingga analgetik perlu
diberikan. Antibiotik diberikan untuk profilaksis, dengan cara diberikan dosis tinggi, 1-3 kali
dosis biasanya. Antibiotik yang umum diberikan adalah cephalosporin generasi 2 / generasi 3
dan Metronidazole. Hal ini secara ilmiah telah dibuktikan mengurangi terjadinya komplikasi
post operasi seperti infeksi luka dan pembentukan abses intraabdominal. Pilihan antibiotik
lainnya adalah ampicilin-sulbactam, ampicilin-asam klavulanat, imipenem, aminoglikosida,
dan lain sebagainya. Waktu pemberian antibiotik juga masih diteliti. Akan tetapi beberapa
protokol mengajukan apendisitis akut diberikan dalam waktu 48 jam saja. Apendisitis dengan
perforasi memerlukan administrasi antibiotik 7-10 hari.

Apendektomi
Sampai saat ini, penentuan waktu untuk dilakukannya apendektomi yang diterapkan adalah
segera setelah diagnosis ditegakkan karena merupakan suatu kasus gawat-darurat. Beberapa
penelitian retrospektif yang dilakukan sebenarnya menemukan operasi yang dilakukan dini
(kurang dari 12 jam setelah nyeri dirasakan) tidak bermakna menurunkan komplikasi post-
operasi dibanding yang dilakukan biasa (12-24 jam). Akan tetapi ditemukan bahwa setiap
penundaan 12 jam waktu operasi, terdapat penambahan risiko 5% terjadinya perforasi.
Teknik yang digunakan dapat berupa, (1) operasi terbuka, dan (2) dengan Laparoskopi.
Operasi terbuka dilakukan dengan insisi pada titik McBurney yang dilakukan tegak lurus
terhadap garis khayalan antara SIAS dan umbilikus. Di bawah pengaruh anestesi, dapat
dilakukan palpasi untuk menemukan massa yang membesar. Setelah dilakukan insisi,
pembedahan dilakukan dengan identiifkasi sekum kemudian dilakukan palpasi ke arah
posteromedial untuk menemukan apendisitis posisi pelvik. Mesoapendiks diligasi dan
dipisahkan. Basis apendiks kemudian dilakukan ligasi dan transeksi. Apendektomi dengan
bantuan laparoskopi mulai umum dilakukan saat ini walaupun belum ada bukti yang
menyatakan bahwa metode ini memberikan hasil operasi dan pengurangan kejadian
komplikasi post-operasi. Apendekotmi laparoskopi harus dilakukan apabila diagnosis masih
belum yakin ditegakkan karena laparoskopi dapat sekaligus menjadi prosedur diagnostik.
Sampai saat ini penelitian-penelitian yang dilakukan masih mengatakan keunggulan dari
metode ini adalah meningkatkan kualitas hidup pasien. Perbaikan infeksi luka tidak terlalu
berpengaruh karena insisi pada operasi terbuka juga sudah dilakukan dengan sangat minimal.
Komplikasi pasca-operasi dari apendektomi adalah terjadinya infeksi luka dan abses
inttraabdomen. Infeksi luka umumnya sudah dapat dicegah dengan pemberian antibiotik
perioperatif. Abses intra-abdomen dapat muncul akibat kontaminasi rongga peritoneum.

18
Sumber Lain
Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan metupakan satu-satunya
pilihan yang baik adalah apendektomi. Pada apendisitis tanpa komplikasi, biasanya tidak
perlu diberikan antibiortik, kecuali pada apendisitis gangrenosa atau apendisitis perforata.
Penundaan tindak bedah sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau
perforasi.
Apendektomi bisa dilakukan secara terbuka atau dengan laparoskopi. Bila apendektomi
terbuka, insisi McBurney paling banyak dipilih oleh ahli bedah. Pada penderita yang
diagnosisnya tidak jelas, sebaiknya dilakukan observasi terlebih dulu. Pemeriksaan
laboratorium dan ultrasonografi dapat dilakukan biia dalam observasi masih terdapat
keraguan. Bila tersedia laparoskop, tindakan laparoskopi diagnostik pada kasus meragukan
dapat segera menentukan akan dilakukan operasi atau tidak.

Gambar 9: Penatalaksanaan Apendisitis Akut

19
Gambar 10: Laparoskopik Apendektomi

2.10 Komplikasi Apendisitis Akut


Komplikasi yang paling membahayakan adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas
maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami pendindingan sehingga berupa
massa yang terdiri atas kumpulan apendiks, sekum, dan lekuk usus halus.

1. Massa Permpendikuler
Massa apendiks terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau
dibungkus oleh omentum dan/atau lekuk usus halus. Pada massa periapendikuler
dengan pembentukan dinding yang belum sempurna, dapat terjadi penyebaran pus
keseluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti oleh peritonitis purulenta
generalisata. Oleh karna itu, massa periapendikuler yang masih bebas (mobile)
sebaiknya segera dioperasi untuk mencegah penyulit tersebut. Selain itu, operasinya
masih mudah. Pada anak, dipersiapkan operasi dalam waktu 2-3 hari saja. Pasien
dewasa dengan massa periapendikuler yang terpancang dengan pendindingan yang
sempurna sebaiknya dirawat terlebih dahulu dan diberi antibiotik sambil dilakukan
pemantauan terhadap suhu tubuh, ukutan massa, serta luasnya peritonitis. Bila sudah
tidak ada demam, massa periapendikuler hilang, dan leukosit normal, penderita boleh
pulang dan apendektomi efektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan
akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. Bila terjadi perforasi, akan
terbentuk abses apendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi,
bertambahnya nyeri, dan teraba pembengkakan massa, serta bertambahnya angka
leukosit.

20
Gambar 11: Perjalanan Alami Apendisitis Akut

Riwayat klasik apendisitis akut, yang diikuti dengan adanya massa yang nyeri di
regio iliaka kanan dan disertai demam, mengarahkan diagnosis ke massa atau abses
periapendikuler. Kadang keadaan ini suiit dibedakan dari karsinoma sekum, penyakit
Crohn, dan amuboma. Petlu juga disingkirkan kemungkinan aktinomikosis intestinal,
enteritis tubetkulosa, dan keiainan ginekologik sebelum. memastikan diagnosis massa
apendiks. Kunci diagnosis biasanya terletak pada anamnesis yang khas.

Apendektomi dilakukan pada iniiltrat periapendikuler tanpa pus yang telah


ditenangkan. Sebelumnya, pasien diberi antibiodk kombinasi yang aktif terhadap
kuman aerob dan anaerob. Baru setelah keadaan tenang, yaitu sekitar 6-8 minggu
kemudian, dilakukan apendektomi. Pada anak kecil, wanita hamil, dan penderita usia
lanjut, jika secara konservatif tidak membaik atau berkembang menjadi abses,
dianjurkan operasi secepatnya.

Bila sudah terjadi abses, dianjurkan drainase saja; apendektomi dikerjakan setelah
6-8 minggu kemudian. Jika, pada saat dilakukan drainase bedah, apendiks mudah
diangkat, dianjurkan sekaligus dilakukan apendektomi.

2. Apendisitis perforate
Adanya fekalit di dalam lumen, umur (orang tua atau anak kecil), dan
keterlambatan diagnosis, merupakan faktor yang berperanan dalam terjadinya
perforasi apendiks. Insidens perforasi pada pcnderita di atas usia 60 tahun dilaporkan
sekitar 60%. Faktor yang memengaruhi tingginya insidens perforasi pada orang tua
adalah gejalanya yang samar, keterlambatan berobat, adanya perubahan anatomi
apendiks berupa penyempitan lumen, dan arteriosklerosis. Insidens tinggi pada anak
disebabkan oleh dinding apendiks yang masih tipis, anak kurang komunikatif

21
sehingga memperpanjang waktu diagnosis, dan proses pendindingan kurang
sempurna akibat perforasi yang berlangsung cepat dan omentum anak belurn
berkembang.
Perforasi apendiks akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang ditandai
dengan demam tinggi, nyeri makin hebat yang meliputi seluruh perut, dan perut
menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan defans muskuler terjadi di seluruh
perut, mungkin disertai dengan pungtum maksimum di regio iliaca kanan peristalsis
usus dapat menurun sampai menghilang akibat adanya ileus paralitik. Abses rongga
peritoneum dapat terjadi bila pus yang menyebar terlokalisasi di suatu tempat, paling
sering di rongga pelvis dan subdiafragma. Adanya massa intraabdomen yang nyeri
disertai demam harus dicurigai sebagai abses. Ultrasonograli dapat membantu
mendeteksi adanya kantong nanah. Abses subdiafragma hams dibedakan dengan
abses hati, pneumonia basal, atau efusi pleura. Ultrasonografi dan foto Rontgen dada
akan membantu membedakannya.
Perbaikan keadaan umum dengan infus, pemberian antibiotik untuk kuman Gram
negatif dan positif serta kuman anaerob, dan pemasangan pipa nasogastrik perlu
dilakukan sebelum pembedahan. Perlu dilakukan laparatomi dengan insisi yang
panjang, supaya dapat dilakukan pencucian rongga peritoneum dari pus maupun
pengeluaran fibrin yang adekuat secara mudah serta pembersihan kantong nanah.
Akhir-akhir ini, mulai banyak dilaporkan pengelolaan apendisitis perforasi secara
laparoskopi apendektomi. Pada prosedur ini, rongga abdomen dapat dibilas dengan
mudah. Hasilnya dilaporkan tidak. berbeda jauh dibandingkan dengan laparatomi
terbuka, tetapi keuntungannya adalah lama rawat lebih pendek dan secara kosmetik
lebih baik. Karena terdapat kemungkinan terjadi infeksi luka operasi, sebaiknya
dilakukan pemasangan penyalir subfasia; kulit dibiarkan terbuka dan nantinya akan
dijahit bila sudah dipastikan tidak ada infeksi. Pemasangan penyalir intraperitoneal
tidak perlu dilakukan pda anak karena justru lebih sering menyebabkan komplikasi
infeksi.

3. Apendisitis Kronik
Ditegakkan bila semua syarat ini dipenuhi:
a. Riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu
b. Terbukti terjadi radang kronik appendiks baik secara makroskopik maupun
mikroskopik
c. Keluhan menghilang pasca appendektomi
d. Kriteria mikroskopik:
 Fibrosis menyeluruh pada dinding apendiks
 Sumbatan parsial atau total pada lumen apendiks
 Adanya jaringan parut dan ulkus lama di mukosa
 Infiltrasi sel inflamasi kronik

2.11 Prognosis Apendisitis Akut

22
Angka kematian dipengaruhi oleh usia pasien, keadekuatan persiapan prabedah,
serta stadium penyakit pada waktu intervensi bedah. Apendisitis tidak berkomplikasi
membawa mortalitas kurang dari 0,1%, gambaran yang mencerminkan perawatan
prabedah, bedah dan pascabedah yang tersedia saat ini. Angka kematian pada
apendisitis berkomplikasi telah berkurang dramatis menjadi 2 sampai 5 persen,
tetapi tetap tinggi dan tak dapat diterima (10-15%) pada anak kecil dan orang tua.
Pengurangan mortalitas lebih lanjut harus dicapai dengan intervensi bedah lebih dini

DAFTAR PUSTAKA

Alwi.2015. Penatalaksanaan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam Panduan Praktik Klinis. Penerbit:
Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.

23
De Jong. W, Sjamsuhidajat. R. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Keyzer, Caroline. 2011. Imaging of Acute Appendicitis in Adults and Children. Newyork
https://books.google.co.id/books?
id=YIokLeXZkJcC&printsec=frontcover&dq=appendicitis+acute&hl=id&sa=X&ved=0ah
UKEwio4uiz8bzWAhUFtY8KHfjKDGsQ6AEILTAB#v=onepage&q=appendicitis
%20acute&f=false

Setiati S.2014. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 6. Jakarta: Pusat penerbitan ilmu penyakit
dalam.

Sudiona, Janti. 2001. Penuntun Praktikum Patologi Anatomi. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
https://books.google.co.id/books?id=PgTdKvlA-
noC&printsec=frontcover&dq=Penuntun+Praktikum+Patologi+Anatomi&hl=id&sa=X&v
ed=0ahUKEwiZqsy18rzWAhUHT48KHXJFBq0Q6AEIJjAA#v=onepage&q=Penuntun
%20Praktikum%20Patologi%20Anatomi&f=false

24