Anda di halaman 1dari 2

Tugas 1

MANAJEMEN RISIKO DAN ASURANSI


ADBI4211

silakan teman-teman membaca modul 3 kegiatan belajar 2 Pengendalian risiko.

Langkah ketiga dari program manajemen risiko adalah memilih teknik yang tepat untuk
menangani kerugian. Jelaskan metode-metode yang digunakan untuk menangani kerugian
potensial.

Jawaban:

Setelah mempelajari modul 3, kegiatan belajar 2, tentang Pengendalian Risiko, dapat


diketahui bahwa terdapat beberapa metode utama untuk menangani kerugian potensial yaitu
penghindaran, pengendalian kerugian, retensi, transfer nonasuransi, dan asuransi. Beberapa
metode tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Penghindaran
Penghindaran merupakan satu metode untuk menangani satu kerugian potensial.
Sebagai contoh, pembegalan di area yang tingkat kriminalitasnya tinggi dapat dihindari
dengan menjauhi area tersebut, contoh lainnya adalah kerugian dari penjualan rumah
pada pasar real estate yang minus (miskin) adalah dengan menyewakannya sebagai
ganti membeli.

2. Pengendalian kerugian
Pengendalian kerugian mengacu pada aktivitas yang menurunkan baik frekuensi
maupun nilai dari kerugian. Sebgaia contoh, kecelakaaan dalam mengemudi dapat
dihindari dengan mengemudi di bawah kecepatan , mengambilk kursus mengemudi
yang aman, dan mengemudi dengan berhati-hati. Contoh lainnya adalah pencurian
kendaraan dapat dicegah dengan mengunci pintu mobil, memindahkan kunci dari
kontak, dan memasang peralatan anti pencuri.
Pengendalian kerugian juga bertujuan untuk mengurangi nilai kerugian. Contohnya
adalah, memakai helm untuk mengurangi keparahan dari luka pada kepala akibat
kecelakaan sepeda motor. Memakai sabuk pengaman mengurangi keprahan dari luka
pada kecelakaan mobil, memiliki alat pemadam kebakaran sebagai alasan untuk
mengurangi kehebatan kebakaran.

3. Retensi
Retensi berarti bahwa kita meretensi sebagian atau keseluruhan dari kerugian jika
peristiwa itu akan terjadi. Retensi risiko dapat menjadi aktif atau pasif. Retensi risiko
aktif berarti kita mengetahui risiko dan merencanakan untuk meretensi sebagian atau
keseluruhan dari resiko tersebut. Sebagai contoh, kerugian tabrakan yang kecil terhadap
mobil kita dengan membeli polis asuransi tabrakan dengan cara deductible. Demikian
juga, kita dapat meretensi sebagian kerugian terhadap rumah atau harta benda pribadi
dengan membeli polis kepemilikan deductible.
Risiko juga dapat diretensi secara pasif karena ketidaktahuan, sikap acuh tak acuh,
atau kemalasan. Perbuatan ini berbahaya jika retensi risiko dapat mengahsilkan
kerugian bencana besar. Sebagai contoh, banyak pekerja tidak diasuransikan terhadap
risiko kelumpuhan jangka panjang, meskipun konsekuensi keuangan yang merugikan
dari kelumpuhan permanen jangka panjang biasanya lebih memberatkan daripada
konsekuensi keuangan daripada kematian dini. Jadi, pekerja yang tidak diasuransikan
terhadap risiko ini menggunaka metode retensi yang sangat berbahaya, apalagi dengan
cara yang tidak sesuai.

4. Transfer non asuransi


Transfer non asuransi merupakan metode selain asuransi, dimana risiko murni
ditransfer pada pihak lain selain asuransi. Sebgai contoh, risiko darikerusakan
persewaan harta benda dapat ditransfer pada penyewa dengan mengharuskan membayar
uang tanggungan kerusakan dan dengan memasukkan ketentuan pertanggungjawaban
penyewa terhadap terhadap kerusakan dalam kepemilikan sewa menyewa. Demikian
juga, risiko dari televisi yang cacat dapat ditransfer pada epngecer dengan membeli
kontrak jaminan yang diperpanjang yang membuat pengecer bertanggungjawab
terhadap pekerja dan perbaikan setelah jaminan berakhir.

5. Asuransi.
Dalam manajemen risiko pribadi, sebagian besar orang lebih mempercayakan pada
asuransi sebagai metode utama menangani resiko.

Eko Hariadi Kurniawan


NIM. 023737616