Anda di halaman 1dari 47

TEKNIK BUDIDAYA MAKROALGA (Caulerpa racemosa)

DENGAN METODE LONGLINE


DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU JEPARA

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG

ANDHIKA PRIYANDINI
230110150098

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2017

1
TEKNIK BUDIDAYA MAKROALGA (Caulerpa racemosa)
DENGAN METODE LONGLINE
DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU JEPARA

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG

Diajukan untuk menempuh mata kuliah PKL

ANDHIKA PRIYANDINI
230110150098

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2017

2
JUDUL : TEKNIK BUDIDAYA MAKROALGA (Caulerpa racemosa)
DENGAN METODE LONGLINE DI BALAI BESAR
PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BBPBAP) JEPARA
PENULIS : ANDHIKA PRIYANDINI
NPM : 230110150098

Jatinangor, Desember 2017


Menyetujui

Komisi Pembimbing

Drs. Herman Hamdani, M.Si.


NIP 195708051986011002

3
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat, hikmah serta hidayahnya sehingga saya dapat
menyelesaikan laporan Praktik Kerja Lapang yang berjudul “Teknik
Budidaya Makroalga (Caulerpa racemosa) Di Balai Besar Perikanan
Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara”. Tujuan penulisan laporan ini
adalah untuk memenuhi syarat Praktik Kerja Lapang yang diadakan oleh
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.
Tersusunnya laporan Praktik Kerja Lapang ini tidak terlepas dari
bantuan berbagai pihak, oleh karena itu saya tidak lupa mengucapkan
terima kasih kepada :
1.Dr. Ir. H. Iskandar, M.Si selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Padjadjaran.
2. Prof. Dr. Ir. Junianto, MP selaku Ketua Program Studi Perikanan
Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Padjadjaran.
3. Drs. Herman Hamdani, M.Si selaku dosen wali yang telah memberikan
arahan, nasihat dan bimbingan kepada penulis.
4. Sugeng Raharjo, A.Pi selaku Kepala Balai di Balai Besar Perikanan
Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara yang telah memberikan izin
melaksanakan PKL.
5. Endang Soetanti,A.Pi, S.Pi, Bapak Suyoto, Bapak Bunyamin, dan
Bapak Puspito selaku pembimbing lapangan di BBPBAP Jepara serta
seluruh staff karyawan BBPBAP Jepara.
6. Elly Winarningsih, S.Pd selaku orang tua, Muhammad Shakti Prabowo
S.Par dan Muhammad Hary Akbar Firmansyah selaku kakak dan adik
dan seluruh keluarga besar penulis yang telah mendo’akan dan
memberi dukungan dalam menyelesaikan laporan PKL ini.
7. Teman – teman seperjuangan dari Unpad yaitu Basma Emeralda
Hasibuan, Fadhila Larasanti, Nabilah Putri Komara, Nadya Putri Utami,

ii
Tanti Rinjani, Angga Nugraha, Evanaudri M., M. Reza Gumanthi yang
telah menemani hari – hari saya selama PKL.
Demikianlah harapan saya, semoga laporan praktik kerja lapang ini
dapat bermanfaat bagi saya dan juga pembaca tentunya. Adanya saran
yang membangun dari pembaca untuk perbaikan laporan praktikum
selanjutnya sangat dihargai, saya ucapkan terima kasih.

Jatinangor,

Andhika Priyandini

iii
DAFTAR ISI

BAB Halaman
DAFTAR GAMBAR ....................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................... viii
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................. 10
1.2 Tujuan ............................................................................... 11
1.3 Ruang Lingkup .................................................................. 11

II PROFIL INSTANSI
2.1 Letak Geografis BBPBAP Jepara ..................................... 13
2.2 Sejarah BBPBAP Jepara .................................................. 14
2.3 Visi dan Misi BBPBAP Jepara........................................... 15
2.4 Tugas Pokok dan Fungsi BBPBAP Jepara ....................... 16
2.5 Struktur Organisasi BBPBAP Jepara ................................ 17
2.6 Sarana dan Prasarana BBPBAP Jepara ........................... 18
2.6.1 Sarana BBPBAP Jepara ................................................... 18
2.6.2 Prasarana BBPBAP Jepara ............................................. 21
2.7 Sarana dan Prasarana Tambak ........................................ 22
2.7.1 Sarana Tambak ................................................................ 22
2.7.2 Prasarana Tambak ........................................................... 24

III KEGIATAN SELAMA PKL


4.1 Pemilihan Lokasi Budidaya .............................................. 29
4.2 Pelaksanaan Budidaya C. racemosa ................................ 30
4.2.1 Persiapan Tambak ............................................................ 30
4.2.2 Cara Memperoleh Bibit dan Pemeliharaan Bibit yang baik 31
4.2.3 Penanaman C. Racemosa ................................................ 34
4.3 Parameter Kualitas Air ...................................................... 34
4.3.1 Parameter Fisik ................................................................. 34
4.3.2 Parameter Kimia ............................................................... 37
4.4 Pemeliharaan C. racemosa .............................................. 40
4.5 Penanganan Hama dan Penyakit ..................................... 41
4.6 Pemanenan....................................................................... 42

IV KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ....................................................................... 42
5.2 Saran ................................................................................ 42

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................... 44


KESAN DAN PESAN PKL ............................................................ 45
LAMPIRAN .................................................................................... 46

iv
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman


1. Pintu Masuk BBPBAP jepara .............................................. 14
2. Struktur Organisasi BBPBAP Jepara .................................. 18
3. Tambak Budidaya ............................................................... 23
4. Pompa Air ........................................................................... 24
5. RJT (Rumah Jaga Tambak) ................................................ 24
6. Perakitan Patok Bambu ...................................................... 31
7. Bibit C. racemosa ................................................................ 33
8. Penanaman C.a racemosa ................................................. 34
9. Grafik Hasil Pengukuran Suhu (oC)Tambak........................ 35
10. Grafik Hasil Pengukuran Kecerahan Tambak ..................... 36
11. Grafik Hasil Pengukuran ph Tambak .................................. 38
12. Grafik Hasil Pengukuran Salinitas (ppt) Tambak ................ 39
13. Pemeliharaan C. racemosa................................................. 41
14. Ubur-ubur Pada Tambak..................................................... 42
15. Proses Pemanenan C. racemosa ....................................... 42

v
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman


1. Logbook .............................................................................. 47
2. Alat ...................................................................................... 48
3. Bahan.................................................................................. 49
4. Dokumentasi Kegiatan ........................................................ 50
5. Kualitas Air Selama PKL ..................................................... 51
6. Sertifikat .............................................................................. 52

vi
ABSTRAK

Andhika Priyandini (Dibimbing oleh : Drs. Herman Hamdani, M.Si.)


2017. Teknik Budidaya Makroalga (Caulerpa racemosa) dengan
Metode Longline Di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau
(BBPBAP) Jepara,Jawa Tengah.

Praktik Kerja Lapang ini dilaksanakan di Balai Besar Perikanan


Budidaya Air Payau (BBPBAP), Jepara pada tanggal 10 Juli – 8 Agustus
2017. Budidaya makroalga di Indonesia mempunyai potensi yang sangat
tinggi karena didukung oleh perairan laut yang sesuai untuk budidaya, hal
tersebut diharapkan dapat menunjang hasil produksi makroalga sebagai
salah satu komoditas usaha perikanan ekonomi masyarakat. Makroalga
adalah sumber daya yang harus diperhitungkan nilai ekonomisnya jika
dibandingkan dengan sumber daya pesisir yang lain karena sekarang ini
makroalga adalah komoditas perikanan kedua setelah udang. Makroalga
memiliki berbagai macam manfaat antara lain adalah penghasil agar-agar
dan karaginan. Keberhasilan budidaya makroalga ini tergantung dari
teknik atau metode budidaya, lokasi budidaya, parameter kualitas air, dan
pengendalian hama penyakit. Budidaya makroalga di BBPBAP Jepara
memiliki 2 metode yang berbeda yaitu metode sebar dan gantung atau
longline. Pada metode gantung jarak antar keranjang plastik dengan
keranjang plastik lainnya yaitu 30 cm dan jarak dari tali atas sampai
keranjang sekitar 60 cm. Maksud dari praktik kerja lapangan ini adalah
untuk mendapatkan pengalaman dalam usaha budidaya makroalga C.
racemosa adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi laju
pertumbuhan dan juga keadaan kualitas air yang baik untuk budidaya
makroalga C. racemosa.

Kata Kunci : Praktik Kerja Lapangan, Budidaya Makroalga Caulerpa


racemosa, Metode Longline, Jepara

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia sebagai negara maritim mempunyai prospek yang cukup
cerah untuk mengembangkan dan memberdayakan sumber hayati
kelautan. Salah satu komponen biota yang merupakan sumberdaya hayati
kelautan adalah makroalga. Indonesia memiliki keanekaragaman jenis
baik yang bersifat “well crop” maupun beberapa yang telah dibudidayakan.
Makroalga merupakan salah satu produsen pantai dan jenis-jenis yang
ditemukan di pantai berbatu karang umumnya dari kelas Chlorophyta,
Pheophyta, dan Rhodophyta. Salah satu makroalga dari kelas
Chlorophyta yaitu Caulerpa sp. yang merupakan sumberdaya hayati
kelautan.
Kelas Chlorophyta mengandung klorofil dalam jumlah banyak
sehingga alga ini berwarna hijau, memiliki holdfast, thallus ada yang
berbentuk lembaran, stolon, silindris ataupun struktur tubuhnya
bersegmen, ada yang mengandung kapur serta percabangan,
dichotomus, dan trinomus. Makroalga dari kelas ini biasanya ditemukan
tumbuh di area yang lebih dekat dengan daratan sehingga kondisinya
menjadi lebih rentan. Kerentanan yang dimaksud karena adanya
gangguan dari aktivitas manusia pada habitat seperti, misalnya aktivitas
pariwisata, aktivitas transportasi dan lain sebagainya, akibatnya jumlah
dari jenis makroalga ini relatif lebih sedikit daripada kelas Rhodophyta
walaupun relung hidupnya lebih luas.
C. racemosa merupakan salah satu jenis makroalga yang cukup
potensial untuk dibudidayakan karena telah dikenal dan digemari oleh
sebagian masyarakat. Jepang dan filipina, telah menjadikan C. racemosa
sebagai salah satu komoditas perikanan budidaya. Budidaya makroalga
C. racemosa belum banyak dilakukan di Indonesia. Biasanya

10
11

masyarakat hanya mengambil langsung dari alam sehingga


keberadaannya di alam semakin berkurang. Usaha budidaya C. racemosa
perlu dilakukan guna meningkatkan produksinya.
C. racemosa cukup potensial untuk dibudidayakan di beberapa daerah
karena makroalga ini sudah lama dikenal dan digemari. C.racemosa
menjadi komoditas yang mempunyai nilai ekonomi di pasar lokal serta
menjadi sajian khas sejumlah restoran, misalnya di Kabupaten Jepara. C.
racemosa merupakan salah satu makroalga yang dimanfaatkan
masyarakat secara langsung sebagai lalapan dan sayuran pelengkap
nasi. Penggunaan makroalga khususnya alga hijau masih mengandalkan
pengambilan dari alam. Meningkatnya eksploitasi makroalga dari populasi
di alam secara terus menerus, akan membahayakan kelestarian populasi
oleh karena itu untuk menanggulangi masalah tersebut, perlu diadakan
pengembangan melalui kegiatan budidaya.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui teknik budidaya makroalga C.racemosa di BBPBAP
Jepara dengan menggunakan metode longline
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
makroalga C. racemosa di BBPBAP Jepara
3. Mengetahui syarat parameter kualitas air bagi budidaya makroalga C.
racemosa yang berkualitas baik di tambak dan laut

1.3 Ruang Lingkup


Ruang lingkup Praktik Kerja Lapangan mengenai teknik budidaya
makroalga (C. racemosa) dengan menggunakan metode longline di
BBPBAP diantaranya yang dipelajari sebagai berikut :
a. Persiapan Lokasi
b. Persiapan bibit makroalga
c. Pembuatan metode longline
d. Penanaman dan pemeliharaan
12

e. Pemanenan
f. Pengukuran kualitas air yang meliputi parameter fisika yaitu kecerahan,
kecepatan arus dan suhu dan parameter kimia yaitu Suhu, pH, salinitas,
dan Kecerahan

1.4 Tempat dan Waktu Kegiatan

Kegiatan Praktik Kerja Lapangan mengenai teknik budidaya


makroalga (C. racemosa) dilaksanakan dari tanggal 10 Juli sampai
dengan 8 Agustus (22 hari kerja) 2017 bertempat di Balai Besar Perikanan
Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah (Lampiran 1).
BAB II
PROFIL INSTANSI

2.1 Letak Geografis BBPBAP Jepara


Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara Jawa
Tengah merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal
Perikanan. BBPBAP terletak di Jalan Cik Lanang No.1 Desa Bulu,
Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Secara
geografis, BBPBAP Jepara terletak pada 110°39’11” BT dan 6°33” LS.
BBPBAP Jepara memiliki batas – batas wilayah diantaranya sebelah barat
berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah selatan berbatasan dengan Pantai
Kartini, sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Demaan dan sebelah
utara berbatasan dengan Kelurahan Kauman. Lokasi BBPBAP Jepara
memiliki luas 94 Ha yang terdiri dari perkantoran, perumahan, asrama,
unit pembenihan, laboratorium, lapangan olahraga, tambak budidaya
udang, tambak budidaya ikan bandeng, tambak budidaya Makroalga serta
bak kultur pakan alami.
Kondisi topografi BBPBAP Jepara adalah pantai dengan perairan
berkarang, berbatu, pasir landai dan diantaranya tanah liat dengan
ketinggian 0,5 – 3 meter di atas permukaan laut, dengan suhu mencapai
26 – 30°C serta salinitas perairan berkisar 28 – 35 ppt. BBPBAP Jepara
dan daerah sekitarnya merupakan daerah yang memiliki iklim tropis
dengan musim kemarau terjadi sekitar bulan Juli – Oktober, musim
pancaroba terjadi sekitar bulan April – Juni dan musim hujan terjadi sekitar
bulan November – Maret.

13
14

2.2 Sejarah BBPBAP Jepara

Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara


dalam perkembangannya sejak didirikan telah mengalami beberapa kali
perubahan (Gambar 1.). Pada awal berdirinya tahun 1971, lembaga ini
diberi nama Research Center Udang (RCU) dan secara hirarki berada di
bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Departemen
Pertanian. Sasaran utamanya adalah meneliti siklus hidup udang windu
(Penaeus monodon) dari proses kematangan telur (gonad),
perkembangan larva hingga dewasa secara terkendali untuk selanjutnya
dibudidayakan di tambak.

Gambar 1. Pintu Masuk BBPBAP Jepara

Tahun 1978 berdasarkan SK Menteri Pertanian RI No:


306/Kpts/Org/5/1978 tentang susunan organisasi dan tata laksana balai,
telah diatur dan ditetapkan lembaga yang semula bernama Research
Center Udang menjadi Balai Budidaya Air Payau (BBAP). BBAP Jepara ini
merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah
Kementerian Kelautan dan Perikanan.
15

Periode ini BBAP Jepara telah berhasil menorehkan prestasi


gemilang, menjadi pendorong bagi perkembangan industri udang
nasional. Keberhasilan tersebut diantaranya adalah penerapan teknik
pematangan gonad induk udang dengan cara ablasi mata yang dapat
mengatasi kesulitan penyediaan induk matang telur, yang pada masa itu
merupakan masalah yang serius. Selain keberhasilan dalam hal teknik
ablasi mata, BBAP Jepara juga telah berhasil melaksanakan penerapan
teknologi pembenihan udang skala rumah tangga (backyard hatchery)
yang merupakan suatu bentuk usaha yang dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat pesisir di wilayah Indonesia.
Sejak Mei 2001, status BBAP Jepara ditingkatkan menjadi Eselon II
dengan nama Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP)
Jepara dibawah naungan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,
Departemen Kelautan dan Perikanan. Pada tanggal 3 Februari 2014,
berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 6 Tahun
2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Perikanan
Budidaya Air Tawar, Perikanan Budidaya Air Payau dan Perikanan
Budidaya Laut diubah menjadi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau
(BBPBAP) Jepara mempunyai tugas melaksanakan uji terap teknik dan
kerjasama, pengelolaan produksi, pengujian laboratorium (mutu pakan,
residu, kesehatan ikan dan lingkungan) serta bimbingan teknis perikanan
budidaya air payau. Selain itu, BBPBAP Jepara juga mempunyai tugas
sebagai pusat induk unggul (broodstock center) perikanan budidaya dan
sebagai laboratorium acuan kesehatan ikan dan lingkungan.

2.3 Visi dan Misi BBPBAP Jepara


Adapun Visi dan Misi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau
Jepara adalah sebagai berikut :
Visi : “Mewujudkan Perikanan Budidaya Tangguh, Mandiri, Berkelas Dunia
dan Berkelanjutan”.
16

Misi :

1. Memanfaatkan sumberdaya perikanan budidaya secara optimal dan


berkelanjutan.
2. Menerapkan teknologi inovatif adaptif untuk meningkatkan produksi
atau produktivitas.
3.Meningkatkan pemberdayaan masyarakat pembudidaya.
4. Meningkatkan harmonisasi kerjasama berbagai pihak dan daya dukung
lingkungan budidaya.

2.4 Tugas Pokok dan Fungsi BBPBAP Jepara


Tugas pokok dari BBPBAP Jepara adalah “Melaksanakan uji terap
teknik dan kerjasama, pengelolaan produksi, pengujian laboratorium, mutu
pakan, residu, kesehatan ikan dan lingkungan, serta bimbingan teknis
perikanan budidaya air payau”.
Fungsi dari BBPBAP Jepara adalah sebagai berikut :
a. Identifikasi dan penyusunan rencana program teknis dan anggaran,
pemantauan dan evaluasi serta laporan;
b. Pelaksanaan uji terap teknik perikanan budidaya air payau;
c. Pelaksanaan penyiapan bahan standarisasi perikanan budidaya air
payau;
d. Pelaksanaan sertifikasi sistem perikanan budidaya air payau;
e. Pelaksanaan kerjasama teknis perikanan air payau;
f. Pengelolaan dan pelayanan sistem informasi dan publikasi perikanan
budidaya air payau;
g. Pelaksanaan layanan pengujian laboratorium persyaratan kelayakan
teknis perikanan budidaya air payau;
h. Pelaksanaan pengujian mutu pakan, residu, kesehatan ikan dan
lingkungan budidaya air payau;
i. Pelaksanaan bimbingan teknis laboratorium pengujian;
j. Pengelolaan produksi induk unggul, benih bermutu dan sarana produksi
perikanan budidaya air payau;
17

k. Pelaksanaan bimbingan teknis perikanan budidaya air payau; dan


l. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

2.5 Struktur Organisasi BBPBAP Jepara


Struktur organisasi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau
(BBPBAP) Jepara berdasarkan Peraturan MPK No.6/Petmen-KP/2014
pada tanggal 7 Februari 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja BBPBAP
Jepara terdiri dari :
1. Kepala Balai
2. Bagian Tata Usaha, terdiri dari:
a. Bagian Kepegawaian
b. Bagian Keuangan dan Umum

3. Bidang Uji Terap Teknik dan Kerjasama, terdiri dari:


a. Seksi Uji Terap Teknik
b. Seksi Kerjasama dan Informasi
4. Bidang Pengujian dan Dukungan Teknis, terdiri dari:
a. Seksi Dukungan Teknis
b. Seksi Produksi dan Pengujian
5. Perekayasa
6. Litkayasa
7. Pengawas perikanan
8. Pengawas hama penyakit ikan
9. Pustakawan
10. Arsiparis
11. Pranata humas dan
12. Pranata computer
Struktur organisasi di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau
(BBPBAP) Jepara (Gambar 2.).
18

Gambar 2. Struktur Organisasi BBPBAP Jepara

2.6 Sarana dan Prasarana BBPBAP Jepara


Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara telah
banyak melaksanakan revitalisasi di bidang sarana dan prasarana pada
tahun anggaran 2014. Penambahan fasilitas fisik, rekontruksi serta
kelengkapan peralatan ditujukan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan
peningkatan produksi serta kegiatan perekayasaan.
19

2.6.1 Sarana BBPBAP Jepara


Sarana merupakan segala sesuatu yang dipakai sebagai alat
dalam mencapai maksud atau tujuan. BBPBAP Jepara memiliki sarana
yang mampu menunjang pelaksanaan kegiatan diantaranya :
A. Hatchery
Dalam melaksanakan kegiatan pembenihan (ikan dan udang), yang
meliputi kegiatan pemeliharaan induk dan larva, penyediaan pakan alami
dan buatan serta kesehatan ikan dan lingkungan tersedia bak, hatchery
indoor dan outdoor. Hatchery indoor terdiri dari bak larva udang (10 unit),
bak besar induk udang (4 unit), bak kecil induk udang (9 unit), bak tower
air laut (2 unit), bak penampungan kotak (4 unit), bak penampungan bulat
(1 unit) dan bak bulat induk kerapu (3 unit). Sarana pembenihan meliputi
bak induk udang (5 unit), bak induk kerapu atau kakap (14 unit), bak
plankton outdoor (7 unit), bak induk kerapu (4 unit), bak induk abalon (1
unit), bak larva abalon (1 unit), bak pembenihan ikan atau kepiting (12
unit), bak tower (1 unit), bak penampungan bulat (6 unit), bak induk ikan (6
unit), sand filter (2 unit) dan bak limbah (2 unit).
Sarana hatchery outdoor udang terdiri dari bak pengendapan air
laut (2 unit), bak sand filter air laut (2 unit), bak sterilisasi air laut (2 unit),
bak tower air laut dan air tawar (3 unit), bak mini hatchery dan bak larva
udang (12 unit), bak artemia dewasa (10 unit), bak bulat induk udang (3
unit), bak kotak induk udang (9 unit), bak pemijahan induk udang (5 unit),
dan bak besar pemijahan induk udang (2 unit). Sarana penunjang
laboratorium pakan basah terdiri atas bak fiber kotak kecil, bak fiber bulat,
bak penampungan pakan buatan dan bak beton pakan buatan. Sarana
laboratorium pakan alami terdiri dari bak bulat kecil, bak bulat sedang, bak
bulat besar, bak kotak dan akuarium. Sarana laboratorium hama dan
penyakit meliputi bak bulat sedang, bak fiber oval, akuarium kecil,
akuarium sedang dan akuarium besar. Sarana laboratorium fisika kimia
20

lingkungan terdiri dari bak fiber kotak besar, bak fiber kotak kecil dan bak
beton.
B. Tambak
Kegiatan penerapan teknologi budidaya atau pembesaran ikan,
udang dan komoditas lain tersedia petakan tambak dengan rincian seperti
tandon (8,18 Ha), tambak produksi (25,14 Ha), saluran (1,64 Ha), jalan
(5,55 Ha), pematang/talud (9,49 Ha), dan tambak non produktif (9,82 Ha)
sedangkan sarana penunjang operasional tambak berupa pompa air (33
unit), kincir ganda (46 unit) dan pompa diesel (20 unit).

C. Jaringan Listrik

Listrik merupakan sarana vital dan salah satu pendukung utama


kegiatan balaisecara umum. Listrik diperlukan secara terus menerus
selama 24 jam. Pembangkit tenaga listrik yang digunakan berasal dari
jaringan PLN dengan daya terpasang sebesar 147 KVA dan 197 KVA
dengan panjang jaringan 5000 m, 6 buah genset masing – masing dengan
daya 150 KVA (2 buah), 80 KVA (1 buah/rusak ringan), 250 KVA (1 buah),
125 KVA (1 buah) yang digunakan untuk menanggulangi sewaktu – waktu
aliran listrik PLN mengalami gangguan atau padam.

D. Jaringan Air Tawar dan Air Laut


Air tawar dan air laut merupakan kebutuhan utama dalam kegiatan
pembenihan dan pembesaran. BBPBAP Jepara memiliki jaringan air tawar
dalam komplek pembenihan, perkantoran dan rumah tangga sepanjang
1.000 m dengan tandon air dan pompa. Jaringan air laut digunakan untuk
mensuplai kebutuhan di pembenihan serta laboratorium sepanjang 2.500
m yang dilengkapi dengan tandon, tower serta jaringan aerasi.

E. Sistem Aerasi
Aerasi berfungsi untuk meningkatkan kandungan oksigen yang larut
dalam air dan mempercepat proses penguapan gas – gas beracun seperti
H2S dan NH3. Kebutuhan oksigen dapat terpenuhi dengan menggunakan
21

blower sejumlah 4 unit yang berkekuatan 10 HP. Ke empat blower


beroperasi secara bergantian selama 12 jam sekali, setiap 2 unit bekerja
pada siang dan 2 unit pada malam hari.

F. Pompa
Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara
menggunakan 2 buah pompa untuk penyediaan air laut yaitu pompa
primer dan pompa sekunder. Pompa primer berkekuatan 300 HP. Pompa
berfungsi menyedot air laut secara langsung dengan debit pengeluaran 15
liter/detik, sedangkan pompa sekunder berkekuatan 3 HP yang berfungsi
untuk medistribusikan air dari bak tandon sekunder ke bak pemeliharaan
larva dan pakan alami dengan debit pengeluaran sebesar 1,5 liter/detik.

2.6.2 Prasarana BBPBAP Jepara


Prasarana merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu
proses. Beberapa prasarana yang dimiliki oleh BBPBAP Jepara adalah
sebagai berikut :
A. Bangunan dan Prasarana Lain

Bangunan yang dimiliki oleh BBPBAP Jepara adalah berupa


gedung perkantoran, ruang kuliah, auditorium, garasi, asrama, guest
house, rumah dinas dan pos satpam. Gedung perkantoran meliputi
gedung utama (2 lantai), yang digunakan untuk perpustakaan, ruang
rapat, ruang para pejabat struktural, fungsional perekayasa, pengawas
dan litkayasa. Prasarana lain berupa lapangan tenis, lapangan bola voli
yang digunakan kegiatan olahraga oleh karyawan dan gedung Waserda
KPRI budidaya mina yang menyediakan barang – barang kebutuhan
rumah tangga karyawan serta mesjid sebagai sarana beribadah.

B. Laboratorium
Beberapa unit laboratorium digunakan sebagai penunjang
pencapaian produksi dan penerapan teknik budidaya berwawasan
lingkungan. Laboratorium tersebut meliputi laboratorium pakan hidup,
22

laboratorium pakan buatan, laboratorium hama dan penyakit, serta


laboratorium fisika-kimia lingkungan.

C. Jalan dan Transportasi

BBPBAP Jepara terletak di sebelah utara lokasi tempat wisata


Pantai Kartini. Oleh karena itu, sarana pendukung untuk kelancaran
budidaya seperti jalan raya sudah tersedia. Selaian itu jarak BBPBAP
Jepara dengan jalan raya sekitar 1 kilometer, untuk menuju jalan besar
dihubungkan dengan jalan desa yang sudah beraspal. Transportasi yang
diperlukan untuk pengangkutan hasil produksi yang akan dipasarkan
sangat mudah karena BBPBAP Jepara memiliki akses jalan yang besar
dan dekat dengan kota.

D. Sistem Informasi dan Komunikasi


Sistem informasi yang tersedia di BBPBAP Jepara adalah website
resmi dan brosur, sedangkan sistem komunikasi yang digunakan adalah
telepon, faksimili dan juga email. Sistem komunikasi yang digunakan
untuk mendukung dan mempermudah setiap aktivitas di BBPBAP Jepara
baik di dalam maupun di luar balai.

2.7 Sarana dan Prasarana Tambak Budidaya Makroalga Caulerpa


racemosa
2.7.1 Tambak
Tambak budidaya makroalga C. racemosa di BBPBAP Jepara
memiliki sarana yang mampu menunjang pelaksanaan kegiatan,
diantaranya:
a. Tambak Budidaya
Tambak makroalga C. racemosa di BBPBAP Jepara terdapat Blok K
dimana terdapat 4 petak tambak budidaya dantaranya ada 1 tambak
budidaya makroalga C. racemosa, 1 tambak budidaya Gracilaria sp, 1
tambak budidaya makroalga Gracilaria sp dengam metode longline, dan 1
tambak budidaya makroalga Gracillaria sp metode dasar serta sebagai
tendon (Gambar 3.).
23

Gambar 3. Tambak Budidaya


b. Saluran utama
Sumber air yang digunakan untuk kegiatan resirkulasi air tambak
diperoleh dari air laut yang disalurkan melalui saluran utama, saluran
utama adalah sungai besar yang terhubung langsung dengan laut.
Saluran utama disalurkan ke saluran sekunder, saluran sekunder
berhubungan langsung dengan tambak yang biasanya digunakan sebagai
tandon air laut lalu disalurkan ke tambak.
c. Peralatan
Tambak budidaya makroalga C. racemosa di BBPBAP Jepara
dilengkapi dengan berbagai peralatan untuk menunjang kegiatan
budidaya. Peralatan tersebut diantaranya seser ikan, jaring, cool box,
timbangan digital, caping, pisau tetelan, gayung, dan ember.
Alat Ukur kualitas air meliputi refraktometer, pH meter, DO meter, dan
termometer. Peralatan pendukung seperti ember, gudang penyimpanan
dan tempat penampungan air tawar (Lampiran 2).
d. Pompa Air
Pompa air adalah rangkaian alat yang digunakan untuk pergantian air
di tambak (sirkulasi air) dan juga penambahan air dalam kolam budidaya
Makroalga, berfungsi sebagai sumber oksigen dan pengaduk air media
pemeliharaan Makroalga agar pemerataan cahaya dan meratakan unsur
hara (Gambar 4.). Pompa air dilakukan lebih dari satu kali dalam sehari
apabila diperlukan agar makroalga tidak menghasilkan lendir terlalu
banyak dan oksigen menyebar secara merata ke dalam tambak
pemeliharaan.
24

Gambar 4. Pompa Air


2.7.2 Pra Sarana Tambak
Tambak budidaya makroalga C. racemosa Di BBPBAP Jepara
dilengkapi dengan peralatan untuk menunjang kegiatan budidaya dan
monitoring. Prasarana tersebut diantaranya tempat penampungan air
tawar, secchi disk, jaring ukuran 4x4 𝑚2 dan 2x2 𝑚2 , bak hitam,
refraktometer, ember, gayung, timbangan digital, DO meter, pH meter,
termometer, dan gudang tempat penyimpanan pupuk dan alat lainnya
(Gambar 5).

Gambar 5. RJT (Rumah Jaga Tambak)

Tambak budidaya makroalga C. racemosa juga dilengkapi dengan


RJT (Rumah Jaga Tambak) RJT berfungsi sebagai tempat istirahat
penjaga tambak sehari-hari, penyimpanan perlengkapan yang dibutuhkan
pada saat di tambak, serta sebagai tempat untuk berteduh pada saat jam
istirahat.
BAB III
KEGIATAN SELAMA PKL

4.1 Pemilihan Lokasi Budidaya

Pemilihan lokasi adalah salah satu faktor terpenting dalam


keberhasilan budidaya makroalga. Hal ini dikarenakan sulitnya membuat
perlakuan tertentu terhadap kondisi ekologi perairan laut yang dinamis.
Pertumbuhan makroalga sangat ditentukan oleh kondisi ekologi dimana
budidaya dilakukan, sehingga besarnya produksi makroalga di beberapa
daerah sangat bervariasi (Juneidi, 2004). Pemilihan lokasi yang tepat
untuk digunakan sebagai media dalam budidaya C. racemosa harus
sesuai dengan karakteristik hidup di alam sehingga menjadi faktor
penentu keberhasilan budidaya makroalga tersebut.
Widyorini (2010) menyatakan bahwa beberapa kriteria untuk
tambak yang akan digunakan sebagai lokasi budidaya C. racemosa
adalah sebagai berikut :
a. Lokasi tambak budidaya berada di daerah pasang surut dan dekat
dengan sumber air tawar agar memudahkan untuk pergantian air atau
sirkulasi dan untuk menurunkan ataupun menaikan kadar garam dalam
air.
b. Subtrat dasar tambak pasir berlumpur.
c. Area tambak landai.
d. Arus yang ditimbulkan oleh angin dalam tambak tidak terlalu besar.
e. Lokasi budidaya bebas dari limbah pencemaran (jauh dari lokasi
industri).
f. Kadar garam (salinitas) antara 30-45 ppt dan optimal pada salinitas 35-
45 ppt.
g. Suhu air berkisar antara 20-28oC.
h. pH berkisar antara 6-9.

29
27

i. Mendapatkan izin dari pemerintah setempat.


j. Dekat dengan pemukiman penduduk dan jalan raya.
Lahan konstruksi sarana budidaya rumput telah disiapkan untuk
dilakukan penanaman. Setiap petakan tambak budidaya memiliki pintu
pemasukan dan pengeluaran air yang berfungsi untuk sirkulasi air
sehingga akan menjaga kualitas air dalam tambak. Pergantian air dapat
dibantu dengan pompa air.
Tambak yang dipilih sebagai tempat budidaya C.racemosa memliki
luas 2.408 m2 dan merupakan tempat yang jauh dari cemaran limbah
rumah tangga maupun industri yang dapat mengganggu pertumbuhan C.
racemosa. Lokasi tambak yang dipilih dekat dengan saluran perairan,
sehingga memudahkan dalam proses pergantian air tambak.

4.2 Pelaksanaan Budidaya Caulerpa racemosa


4.2.1 Persiapan Tambak
Tekstur dasar tambak yang digunakan dalam budidaya makroalga
C. racemosa ini adalah lumpur. Kategori tambak yang baik untuk
digunakan sebagai media pertumbuhan C.racemosa yaitu bersih dari
lumut. Umumnya, lumut banyak tumbuh di sisi-sisi tambak, oleh sebab itu
hal pertama yang dilakukan yaitu pembersihan lumut-lumut yang ada
pada tambak. Lumut yang ada pada tambak sangat mempengaruhi
pertumbuhan makroalga yang dibudidaya.
Menurut Pongarrang (2013), makroalga yang hidup tanpa lumut
dapat memperoleh asupan cahaya yang cukup untuk fotosintesis.
Kompetisi antara makroalga dan lumut dalam memperoleh nutrisi juga
bisa dikurangi dengan keberadaan bandeng yang memakan lumut
tersebut. Makroalga C. racemosa dan Gracilaria verrucosa berperan
dalam proses penyediaan oksigen dan sebagai penyerap karbondioksida
yang diharapkan dapat membantu meningkatkan kelangsungan hidup ikan
bandeng.
28

Menyiapkan air untuk budidaya adalah tahap berikutnya pada


budidaya makroalga. Air tersebut berasal dari kanal yang berada didekat
tambak yang kemudian dipompa dan dialirkan ke tambak. Langkah
selanjutnya yaitu pemupukan dengan menggunakan pupuk organik
petroganik sebanyak 3 kg dan molase 5 kg. Manfaat dari pemupukan
yang dilakukan pada tahap persiapan adalah untuk memperkaya bahan
organik dalam perairan yang berfungsi sebagai nutrisi bagi Makroalga C.
racemosa (Lampiran 3).
Pembuatan tali untuk tempat budidaya dengan metode longline
yang terbuat dari dua buah bambu panjang yang diikat pada ke dua sisi
tambak (berhadapan) untuk mengikat tali race yang akan digunakan untuk
menggantung Makroalga (Gambar 6.). Tali race tersebuat dibuat
sebanyak 5 buah. Jarak antar tali race 30 cm.

Gambar 6. Perakitan Patok Bambu

4.2.2 Cara Memperoleh Bibit dan Pemilihan Bibit yang Baik


Bibit C. racemosa yang digunakan di Balai Besar Perikanan
Budidaya Air Payau Jepara diperoleh melalui sistem pembibitan berkala
yaitu bibit pertama diperoleh dengan membeli bibit C. racemosa dari
petani tambak yang sudah melakukan budidaya C. racemosa, untuk
tahun-tahun selanjutnya dilakukan pembibitan sendiri. Teknik pemanenan
29

C. racemosa yang secara bertahap mingguan bahkan harian, tetapi dalam


kurun waktu 5 tahun bibit yang ada diganti total dengan bibit C. racemosa
yang baru.
Widyorini (2010) menyatakan bahwa pemilihan bibit yang baik
untuk budidaya C. racemosa memiliki ciri dan syarat diantaranya ciri-ciri
bibit yang baik adalah diambil dari tanaman yang relatif masih muda (usia
3-4 minggu) dan sehat, didapat dengan memotong atau memetik dari
rumpun tanaman yang sehat dengan panjang sekitar 5-10 cm sehingga
perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Thallus yang dipilih masih segar dan cukup elastis.
2. Thallus memiliki banyak cabang dan pangkalnya relatif lebih besar dari
cabangnya.
3 .Ujung thallus warnanya lebih cerah.
4. Bila thallus digigit/ dipotong tidak berlendir.
5. Bibit C. racemosa didapatkan dari pembudidayaan dengan kadar garam
5 ppt.
Kualitas dan kuantitas produk budidaya C. racemosa ditentukan
oleh bibitnya, sehingga kegiatan penyediaan dan pemilihan bibit
merupakan faktor penting yang dapat menentukan keberhasilan budidaya
makroalga. Bibit yang digunakan dalam praktik umum ini merupakan
thallus muda yang bercabang banyak, rimbun dan berujung runcing, bibit
tanaman harus sehat dan tidak terdapat bercak, luka atau terkelupas
seperti akibat terserang penyakit bercak putih atau terkena polutan seperti
minyak, bibit terlihat segar dan berwarna cerah yaitu coklat cerah atau
hijau cerah, bibit harus seragam dan tidak tercampur dengan bibit jenis
lain (Gambar 7.).
30

Gambar 7. Bibit C. racemosa


4.2.3 Penanaman Caulerpa racemosa
Penanaman C. racemosa menggunakan keranjang plastik kecil
sebanyak 100 buah dan yang digantungkan pada setiap line (Gambar 8.).
Keranjang diberi tali pada ke empat sisinya sehingga dapat digantungkan
pada tali race yang telah dibuat. Setiap tali race atau line terdapat 3 buah
keranjang C. racemosa dengan bobot masing-masing 150 gr. Setelah itu
untuk membuat C. racemosa tetap mengapung dipermukaan perairan
diberi pelampung yang terbuat dari botol minum bekas 600 ml dengan
jarak antar keranjang sekitar 30-50 cm (Lampiran
Makroalga C. racemosa yang ditanam dengan metode longline
umumnya ditanam tanpa menggunakan wadah namun hanya digantung
langsung dengan tali. Juneidi (2004) menyatakan bahwa C. racemosa
yang digantung dengan menggunakan wadah pertumbuhannya lebih baik
dibandingan dengan C. racemosa yang hanya digantung dengan tali. C.
racemosa yang telah mencapai umur tertentu akan memiliki thallus yang
memanjang, dengan diberinya wadah maka C. racemosa yang terus
tumbuh tersebut tidak akan terurai kedasar perairan. Jika C. racemosa
yang diikat dengan tali, thallus yang panjang mudah terlepas dan terurai
ke dasar perairan sehingga mengurangi bobot pada saat sampling.
31

Gambar 8. Penanaman C. racemosa


4.3 Parameter Kualitas Air
Gambaran tentang kualitas air laut yang diperlukan untuk budidaya
makroalga C. racemosa penting untuk diketahui agar menunjang
keberhasilan usaha budidaya makroalga C. racemosa. Kualitas air yang
meliputi parameter fisika, kimia, maupun biologi dijadikan sebagai
penunjang keberhasilan dari budidaya makroalga (Soenarjo, 2011).
Pengamatan kualitas air di BBPBAP Jepara dilakukan dengan
mempertimbangkan parameter fisika dan kimia. Parameter yang meliputi
suhu, pH, salinitas, dan kecerahan dilakukan dua kali dalam sehari yaitu
pada pagi dan sore hari bertujuan untuk mengetahui keadaan perairan
sebelum dan sesudah fotosintesis (Lampiran 5).

4.3.1 Parameter Fisika


A. Suhu
Dalam Praktik Kerja Lapangan dilakukan pengukuran suhu selama
30 hari di lokasi tambak budidaya C. racemosa dengan menggunakan
termometer. Pengukuran suhu ini dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pada
pagi hari dan pada sore hari. Hal ini dilakukan agar mengetahui tingkat
fluktuasi suhu saat pagi hari dan sore hari (Gambar 9).
32

35.00
S 30.00
u
25.00
h
20.00
u
15.00
Pagi
(

⁰ 10.00
C 5.00 Sore
)

0.00

8/2/2017
8/4/2017
8/6/2017
8/8/2017
7/15/2017

7/19/2017
7/11/2017
7/13/2017

7/17/2017

7/21/2017
7/23/2017
7/25/2017
7/27/2017
7/29/2017
7/31/2017
Tanggal Pengambilan Data

Gambar 9. Grafik Suhu (⁰C) Tambak Selama PKL

Hasil pengukuran suhu pada hari pertama sampai hari ke-28


menunjukan kisaran antara 25,8-30,54⁰C. Suhu pada hari ke-1 pada pagii
hari 25,90⁰C sedangkan pada sore hari 28,20⁰C, hari ke-7 suhu pada pagi
hari 26,1⁰C sedangkan pada sore hari 29,6⁰C. suhu pada hari ke-14 pada
pagi hari 25,8⁰C sedangkan pada sore hari 29,6⁰C. suhu pada hari ke-21
pada pagi hari 28,0⁰C sedangkan pada sore hari 30,1⁰C. Suhu pada hari
ke-28 pada pagi hari 28,0⁰C sedangkan pada sore hari 30,8⁰C.
Suhu memiliki peranan penting dalam mendukung pertumbuhan
suatu organisme. Suhu berperan dalam proses metabolisme dan
fotosintesis. Meningkatnya suhu akan diiringi dengan meningkatnya
metabolisme. Meningkatnya metabolisme akan semakin banyak unsur
hara yang dubutuhkan untuk membantu proses pertumbuhan Makroalga.

B. Kecerahan
Kecerahan merupakan tingkat penetrasi cahaya yang masuk ke
perairan. Kecerahan memiliki peranan penting makroalga untuk
pertumbuhan dan fotosintesis. Menurut Sallata (2012), kecerahan perairan
berhubungan erat dengan penetrasi cahaya matahari yang masuk ke
perairan yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis. Pengukuran
33

kecerahan perairan di tambak BBPBAP Jepara ini dilakukan sebanyak 2


kali yaitu pada pagi dan sore hari dengan menggunakan Luxmeter.
Kecerahan air sangat penting bagi pertumbuhan makroalga.
Kekeruhan air akan mempengaruhi masuknya intensitas cahaya. Air yang
keruh mengandung banyak partikel-partikel atau endapan dan dapat
menutupi permukaan tubuh sehingga mengurangi kecepatan tumbuh
(Lideman 2010) (Gambar 10).

200.00
K
e 150.00
c
(

e L 100.00
r u
Pagi
a x 50.00
Sore
)

h
0.00
a
n

Tanggal Pengambilan Data

Gambar 10. Grafik Kecerahan Tambak Selama PKL

Berdasarkan grafik diatas didapatkan hasil pengukuran kecerahan


di tambak budidaya Makroalga C. racemosa berkisar antara 163,6 lux
sampai dengan 187 lux. Pada hari pertama pagi hari 187 lux sedangkan
pada sore harir 163,6 lux. Hari ke-4 pagi hari 166,8 luxsedangkan pada
sore hari 164,5 lux. Hari ke-8 pagi hari 166,7 lux sedangkan pada sore
hari 168,6 lux. Hari ke-12 pagi hari 166,6 lux dan pada sore hari 166,6 lux.
Hari ke-14 pagi hari 166,9 lux sedangkan pada sore hari 166,8 lux.
Penurunan dan kenaikan tingkat kecerahan pada perairan tambak
C. racemosa disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah hujan
dan cuaca mendung. Menurut Indriani dan Nurhayati (2013) , adanya
intensitas cahaya atau sinar yang diterima secara sempurna oleh thallus
merupakan faktor utama dalam proses fotosintesis, namun apabila adanya
34

cahaya matahari yang diterima oleh tahllus berlebihan akan


mengakibatkan tanaman menjadi putih, karena hilangnya protein.
4.3.2 Parameter Kimia
A. Derajat keasaman (pH)
Pengukuran pH dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi dan
juga sore hari dengan menggunakan pH meter. Hal ini dilakukan agar
mengetahui tingkat fluktuasi pH saat pagi dan sore hari (Gambar 11).
9.20
9.00
8.80

p 8.60
H 8.40
8.20 Pagi

8.00 Sore
7.80
7/25/2017

8/2/2017
8/4/2017
8/6/2017
8/8/2017
7/11/2017
7/13/2017
7/15/2017
7/17/2017
7/19/2017
7/21/2017
7/23/2017

7/27/2017
7/29/2017
7/31/2017

Tanggal Pengambilan Data

Gambar 11. Grafik pH Tambak Selama PKL

Hasil pengukuran pH pada hari ke1 sampai dengan hari ke-28 8,5
sedangkan pada sore hari yaitu sebesar 8,8. pH pada hari ke-7 pagi hari
8,8 dan pada sore hari 8,8. pH pada hari ke-14 pagi hari 8,7, sedangkan
pada sore hari 8,5.ph pada hari ke-21 pada pagi hari 8,6, sedangkan pada
sore hari 8,9. pH pada hari ke-28 pagi hari 8,1 sedangkan pada sore hari
8,9.
Hasil pengukuran pH terjadi penurunan dan peningkatan pH
walaupun tidak ekstrim dan masih dalam standar baku mutu budidaya C.
racemosa. Kemungkinan yang menyebabkan tingginya pH karena
kurangnya CO2 yang digunakan makroalga untuk fotosintesis. Hal ini
sesuai dengan pendapat Doty (1988) dalam Armita (2011) bahwa fluktuasi
pH dalam air biasanya berkaitan erat dengan aktifitas fitoplankton dan
35

tanaman air lainnya dalam menggunakan CO2 dalam air selama


berlangsungnya proses fotosintesis . Sebaliknya rendahnya pH dalam
perairan dapat menimbulkan kandungan bahan organik yang terlalu cukup
besar sehingga proses pembusukan dan penguraian bahan organik oleh
dekomposer akan menghasilkan CO2.
B. Salinitas
Pengukuran salinitas dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi
hari dan sore hari dengan menggunakan refraktrometer. Hal ini dilakukan
agar mengetahui tingkat fluktuasi salinitas perairan tambak saat pagi hari
dan sore hari (Gambar 12).

45.00
S
40.00
a
35.00
l
30.00
(

i p
25.00
n p
20.00
i t
15.00 Pagi
)

t
10.00 Sore
a
5.00
s
0.00

Tanggal Pengambilan Data

Gambar 12. Grafik Salinitas (ppt) Tambak Selama PKL

Hasil pengukuran salinitas pada hari pertama sampai dengan hari


ke-28 menunjukan kisaran antara 30,1ppt-36,7ppt. salinitas pada hari ke-1
pagi hari 36,7ppt sedangkan pada sore hari 30,1ppt. salinitas pada hari
ke-7 pagi hari 34,1ppt sedangkan pada sore hari 35ppt. salinitas pada hari
ke-14 pagi hari 33,3ppt sedangkan pada sore hari 34,1ppt. salinitas pada
hari ke-21 pagi hari 35ppt sedangkan pada sore hari 33,4ppt. salinitas
pada hari ke-28 pagi hari 35 ppt sedangkan pada sore hari 36,7ppt.
Kisaran salinitas yang terjadi selama masa budidaya makroalga
masih tergolong dalam keadaan stabil. Menurut Mastuti (2013) bahwa
36

pengaruh salinitas pada tumbuhan sangat kompleks. Salinitas


menyebabkan stress ion, stres osmotik dan stres sekunder.

4.4 Pemeliharaan Caulerpa racemosa


Pertumbuhan makroalga C. racemosa yang baik dapat dilihat dari
kenaikan bobot serta kesehatan C.racemosa yang mempengaruhi tingkat
pertumbuhannya. Untuk mendapat C. racemosa dengan kualitas baik
dilakukan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas Makroalga tersebut.
Pemeliharaan dilakukan secara rutin dua kali seminggu. Dalam
pelaksanaan pemeliharaan setiap keranjang yang berisi C. racemosa
digoyang berulang kali dipermukaan air dengan tujuan untuk
menyingkirkan kotoran, lumut atau kerang-kerangan yang menempel pada
makroalga.
Selama dalam pemeliharaan, hal-hal yang perlu diperhatikan antara
lain
a. Pembersihan tanaman dari lumpur, tanaman penggangu dan
kompetitor yang melekat pada tanaman
b. Perbaikan bangunan budidaya, seperti halnya tali atau jaring yang
putus, tiang-tiang pancang yang tercabut dan bambu atau kayu yang
patah (Gambar 13.).

Gambar 13. Pemeliharaan C. racemosa


37

4.5 Penanganan Hama dan Penyakit


Budidaya C. racemosa. yang dilakukan di BBPBAP Jepara tidak
terdapat penyakit yang berarti, namun terdapat hama yang sering muncul
yaitu berupa kerang atau teritip yang menempel pada thallus yang dapat
membuat thallus menjadi berwarna putih dan patah. Teritip/kerang
tersebut dapat diambil secara manual pada saat pemeliharaan C.
racemosa.
Pada kolam budidaya C. racemosa ditemukan ubur-ubur yang
merupakan kompetitor bagi makroalga karena ubur-ubur mengambil
nutrisi dan zat hara yang dimanfaatkan oleh C. racemosa sehingga
apabila populasi ubur-ubur ditambak mendominasi maka akan
mengganggu dan mempengaruhi pertumbuhan makroalga. Ubur-ubur
muncul ketika konsentrasi salinitas diperairan tinggi dan juga beracun.
Untuk menanggulangi invasi ubur-ubur di tambak perlu
dilakukanpembersihan tambak dari ubur-ubur secara manual (Gambar
14).

Gambar 14. Ubur-ubur Pada Tambak

4.6 Pemanenan
Waktu yang dibutuhkan untuk mendapat C. racemosa yang baik
yaitu saat berumur 40-60 hari. Pada kegiatan PKL di BBPBAP Jepara, C.
racemosa yang ditanam belum mencapai umur panen sehingga belum
dapat melakukan pemanenan. Menurut Tim Perikanan WWF-Indonesia
dkk (2014) pemanenan C. racemosa dilakukan setelah C. racemosa
38

berumur 40 - 60 hari untuk mendapatkan kadar agar dan kekuatan gel


yang optimal. Pemanenan dilakukan dengan mengangkat makroalga dari
dasar tambak kemudian C. racemosa dicuci dengan air tambak sebelum
dimasukkan ke perahu untuk selanjutnya diangkut ke darat (Gambar 15).
Panen makroalga sebaiknya dilakukan pada pagi hari agar penjemuran
langsung bisa dilakukan. Waktu untuk melakukan pemanenan dilakukan
pada saat langit cerah, karena apabila pada saat hujan dapat menurunkan
kualitas makroalga.

Gambar 15. Proses Pemanenan C. racemosa


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil setelah mengikuti praktik
kerja lapangan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara,
diantaranya:
1. Metode yang digunakan untuk budidaya makroalga C. racemosa di
BBPBAP Jepara yaitu metode longline (metode apung), dengan dasar
perairan berlumpur dan mendapatkan hasil produktivitas yang cukup
baik.
2. Masalah yang timbul selama dilakukannya budidaya C. racemosa di
Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara adalah
hama dan kompetitor yang menyerang C. racemosa ke dua hal tersebut
dapat ditangani dengan pergantian air tambak, pengontrolan kualitas
air, pemeliharaan secara rutin.
3. Parameter kualitas air pada budidaya makroalga C. racemosa telah
optimal selama proses budidaya berlangsung.

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan pada praktik kerja lapang ini adalah
diperlukan alat pengukuran kualitas air (fisika dan kimia) guna
memudahkan pekerja tambak mengetahui ataupun mengontrol kualitas air
tambak sehingga bila terjadi gagal panen, pekerja tambak mengetahui
kesalahannya.

43
DAFTAR PUSTAKA

Armita, D. 2011. Analisis Perbandingan Kualitas Air di Daerah Budidaya


Rumput Laut Dengan Daerah Tidak Ada Budidaya Rumput Laut.
Di Dusun Malelaya, Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang,
Kabupaten Takalar. Skripsi. Universitas Hassanudin, Makassar

Juneidi, Akh. Wahid. 2004. Teknik Budidaya Makroalga. Departemen


Pendidikan Nasional. Jakarta.

Lideman. 2010. Laporan Kultur Jaringan (Budidaya Jaringan) Rumput


Laut. Dirjen Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan
Perikanan.

Mastuti, R. 2013. Kultur Jaringan Tumbuhan. Fakultas MIPA Universitas


Brawijaya, Malang.

Nurhayati, A. 2013. Analisis Potensi Lestari Perikanan Tangkap Lesati di


Kawasan Pangandaran. Jurnal Akuatika. 6 (2) : 195-209.

Pongarrang, Dedy., A. Rahman., W. Iba. 2013. Pengaruh Jarak Tanam


Dan Bobot Bibit Terhadap Pertumbuhan Rmput Laut Dengan
Metode Vertikultur. Jurnal Mina Laut. 3 (12) 94-112.

Sallata, AE. 2007. Kajian Poensi Sumberdaya Untk Pengelolaan Budidaya


Rmput Laut dan Ikan Kerapu Di Wilayah Pesisir Kecamatan
Ampibado, Kabupaten Perigi Moutng, Sulawesi Tengah. Tesis
Institut Pertanian Bogor.

Soenardjo, N. 2011. Aplikasi Budidaya Rumput Laut Dengan Metode


Longline Lepas Dasar (Net Bag) Model Cidaun. Buletin
Oseanografi Marina. Vol 1 hal : 36-44

Widyorini, Niniek. 2010. Analisisi Pertumbuhan Gracilaria sp. di Tambak


Udang Ditinjau dari Tingkat Sedimentasi. al Saintek Perikanan, 6
(1): 30-36.

WWF-Indonesia. 2014. Budidaya Makroalga - Gracilaria sp. di Tambak.


Jakarta. WWF-Indonesia

44
KESAN DAN PESAN SELAMA PKL

Kesan
Selama PKL mendapatkan banyak pengalaman baru terutama
dalam bidang budidaya Makroalga, seperti pemilihan atau penyeleksian
bibit Makroalga yang baik untuk dibudidayakan kembali dan mana yang
tidak bisa dibudidayakan. Di Jepara mendapatkan teman-teman baru yang
berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti dari Aceh, Bangka
Belitung, Kupang, Malang, Bali. Di Balai mendapatkan keluarga baru
terutama pada komoditas makroalga. Para pegawai di BBPBAP Jepara
juga sangat ramah terhadap anak-anak PKL yang ada disana. Terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada pembimbing lapangan yaitu Bapak
Yoto, Bapak Bunyamin, Bapak Puspito, dan juga Ibu Endah yang sudah
membimbing dengan sabar, menjelaskan secara detail segala sesuatu
tentang budidaya makroalga.

Pesan
Semoga pertemanan dan juga rasa kekeluargaan selama di Jepara
terus berlanjut dan silaturahmi tetap akan selalu dijaga. Semoga ilmu yang
telah didapatkan di BBPBAP Jepara dapat bermanfaat.

45
LAMPIRAN
Lampiran 1. Logbook
No Tanggal Kegiatan
Melihat beberapa kolam bak tempat bibit C.
1 11 Juli 2017 racemosa
2 12 Juli 2017 Menimbang C. racemosa pada tiap kolam bak
3 13 Juli 2017 Pemberian pupuk di kolam bak
4 14 Juli 2017 Mempersiapkan media utuk penanaman di tambak
5 15 Juli 2017 Libur
6 16 Juli 2017 Libur
Menimbang gracilaria sp untuk sampling metode
7 17 Juli 2017
longine
8 18 Juli 2017 Penanaman sampel di tambak
9 19 Juli 2017 Pengecekan pertumbuhan C. racemosa
10 20 Juli 2017 Panen latoh di tambak dan kuliah umum
11 21 Juli 2017 Senam bersama dan panen latoh di tambak
12 22 Juli 2017 Panen latoh di kolam bak
13 23 Juli 2017 Panen latoh di tambak
14 24 Juli 2017 Sampling C. racemosa dengan metode longline
15 25 Juli 2017 Sampling C. racemosa di kolam bak
16 26 Juli 2017 Membersihkan sampling & pemberian pupuk
Kuliah umum oleh Bapak Yoto (Pembimbing
17 27 Juli 2017 lapangan)
Senam bersama & panen C. racemosa di tambak
18 28 Juli 2017 E3
19 29 Juli 2017 Libur
20 30 Juli 2017 Libur
21 31 Juli 2017 Sampling C. racemosa minggu ke-2
1 Agustus
22 2017 Seleksi makroalga untuk ditebar di tambak
2 Agustus
23 2017 Pengecekan pertumbuhan C. racemosa
3 Agustus
24 2017 Membersihkan sampling & pemberian pupuk
4 Agustus
25 2017 Upacara, jalan santai, makan bersama
5 Agustus
26 2017 Panen latoh di tambak
6 Agustus
27 2017 Panen latoh di tambak
7 Agustus
28 2017 Sampling C. racemosa minggu ke-3
8 Agustus
29 2017 Kepulangan
46
Lampiran 2. Alat

Bambu Tali Tambang

Tali Rapia Botol Plastik Bekas

Timbangan Keranjang Plastik

47
Pisau Cutter Lux Meter

Ph Meter Refraktometer

Termometer

48
Lampiran 3. Bahan

Bibit Caulerpa racemosa Pupuk Petroganik

Molase

49
Lampiran 4. Dokumentasi Kegiatan

Pemasangan Pasok Bambu Penyeleksian Bibit C. racemosa

Penanaman C. racemosa Pemeliharaan C. racemosa

Pemupukan C. racemosa Pemanenan C. racemosa

50
Lampiran 5. Kualitas Air Selama PKL
Tanggal Waktu Suhu (⁰C) pH Salinitas (ppt) Kecerahan (Lux)
7/11/2017 Pagi 25.9 8.53 36.72 187.08
Sore 28.2 8.84 30.16 163.61
7/12/2017 Pagi 26.6 8.60 38.43 166.73
Sore 30.4 8.78 35.01 147.04
7/20/2017 Pagi 28.2 8.64 34.16 169.96
Sore 31.3 8.80 35.01 161.35
7/21/2017 Pagi 26.3 8.84 33.31 153.93
Sore 31.4 8.86 30.74 171.04
7/22/2017 Pagi 28.5 8.74 31.60 166.84
Sore 31.2 8.92 36.72 164.58
7/23/2017 Pagi 27.7 8.87 41.85 169.21
Sore 30.2 8.52 31.60 151.56
7/24/2017 Pagi 27.6 8.82 35.01 168.56
Sore 31.5 8.85 35.01 166.95
7/25/2017 Pagi 26.1 8.83 34.16 163.51
Sore 29.6 8.83 35.01 166.95
7/26/2017 Pagi 26.2 8.84 35.68 166.74
Sore 29.5 8.95 35.87 168.67
7/27/2017 Pagi 26.4 8.86 33.31 159.20
Sore 27.1 8.86 32.03 158.12
7/28/2017 Pagi 25.9 8.82 30.77 166.62
Sore 29.6 8.83 30.77 166.73
7/29/2017 Pagi 27.6 8.19 31.59 166.84
Sore 30.9 8.91 31.59 166.62
7/30/2017 Pagi 28.1 8.83 35.86 166.62
Sore 31.5 8.94 31.59 166.62
7/31/2017 Pagi 26.7 8.76 33.20 165.03
Sore 31.5 8.96 31.59 166.84
8/1/2017 Pagi 25.8 8.78 33.30 166.94
Sore 29.6 8.85 34.16 166.84
8/2/2017 Pagi 26.3 8.52 32.45 166.73
Sore 31.6 8.78 33.28 166.84
8/3/2017 Pagi 26.0 8.55 34.16
Sore 31.5 8.73 34.16
8/4/2017 Pagi 27.0 8.45 33.84
Sore 30.0 8.86 34.16
8/5/2017 Pagi 25.5 8.42 27.33
Sore 31.3 8.91 28.18
8/6/2017 Pagi 27.1 8.63 31.60
Sore 31.9 8.92 31.60
8/7/2017 Pagi 26.3 8.60 33.31
Sore 30.5 8.79 32.84
8/8/2017 Pagi 28.0 8.66 35.01
Sore 30.1 8.91 33.45
8/9/2017 Pagi 26.8 8.36 34.16
Sore 30.3 8.94 32.45
8/10/2017 Pagi 26.9 8.71 33.31
Sore 29.5 8.93 32.45
8/11/2017 Pagi 26.4 8.78 33.31
Sore 31.3 8.91 34.16
8/12/2017 Pagi 27.4 8.84 29.89
Sore 31.3 8.91 30.74
8/13/2017 Pagi 28.6 8.84 35.87
Sore 31.3 8.92 35.01
8/14/2017 Pagi 27.9 8.78 35.87
Sore 30.8 8.90 35.87
8/15/2017 Pagi 28.0 8.19 35.01
Sore 30.8 8.90 36.72

51
Lampiran 6. Sertifikat

52