Anda di halaman 1dari 123

PENGALAMAN PERAWAT INSTALASI GAWAT DARURAT DALAM

MENANGANIPASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF


(CONGESTIVE HEART FAILURE) DIRUMAH SAKIT
Dr. MOEWARDI

SKRIPSI

“Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Sarjana Keperawatan”

Oleh :

Sri Ayu Setyaningsih

NIM S11038

PROGRAM STUDI S
S-1
1 KEPERAWATAN
STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2015

i
ii
iii
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Segala puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, karena

atasrahmat dan karunia-Nya, akhirnya peneliti dapat menyelesaikanskripsi

denganjudul “Pengalaman Perawat Instalasi Gawat Darurat Dalam

Menangani Pasien Gagal Jantung Kongestif (Congestive Heart Failure) di

Rumah Sakit Dr. Moewardi”.Penelitian ini disusun sebagai salah satu

persyaratan dalam menempuh mata ajar skripsi di Program Studi Ilmu

Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta. Dalam penyusunanskripsi ini,

peneliti banyak mendapat bimbingan, arahan dan dukungan dari berbagaipihak,

oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih

danpenghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Dra. Agnes Sri Harti, M.Si, selaku ketua STIKes Kusuma Husada Surakarta.

2. Wahyu Rima Agustin, S.Kep., Ns., M.Kep, selaku Ketua Program Studi S1

Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta..

3. bc. Yeti Nurhayati, M.Kes. selaku pembimbing utama yang telah

memberikan bimbingan, arahan dan saran selama penyusunan skripsi.

4. Alfyana Nadya R.,S.Kep., Ns., M.Kep. selaku pembimbing II yang juga telah

memberikan bimbingan, masukan dan dukungan selama penyusunan proposal

skripsi.

5. Wahyuningsih Safitri, S.Kep.,Ns., M.Kep. selaku penguji.

iv
v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

LEMBAR PENGESAHAN ii

SURAT PERNYATAAN iii

KATA PENGANTAR iv

DAFTAR ISI vi

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN xi

ABSTRAK xii

ABSTRACT xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Rumusan Masalah 4

1.3. Tujuan 4

1.4. Manfaat 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teori 7

2.1.1 Konsep Gagal Jantung Kongestif 7

vi
2.1.1. Konsep Asuhan Keperawatan CHF 16

2.1.2. Pengalaman 28

2.1.3. Perilaku 29

2.1.4. Konsep Emosi 31

2.1.5. Konsep Perawat 33

2.2. Kerangka Teori 37

2.3. Fokus Penelitian 38

2.4. Keaslian Penelitian 39

BAB III METODELOGI PENELITIAN

3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian 40

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian 40

3.3. Populasi dan Sampel 41

3.4. Instrumen dan Prosedur Pengumpulan Data 43

3.5. Analisa Data 48

3.6. Keabsahan Data 49

3.7. Etika Penelitian 53

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Tempat Penelitian 55

4.2 Karakteristik Partisipan di IGD RS Dr Moewardi Surakarta 56

4.3 Karakteristik Partisipan 56

4.4 Tema Hasil Penelitian 57

4.5 Analisa Tematik 58

vii
BAB V PEMBAHASAN

5.1 Pengkajian pada pasien gagal jantung kongestif 71


5.2 Pegalaman perawat dalam menetapkan diagnosa keperawatan pada

pasien gagal jantung kongestif 78

5.3 Intervensi Keperawatan untuk pasien gagal jantung kongestif 82

5.4 Implementasi pada pasien gagal jantung kongestif 90

5.5 Evaluasi keperawatan pada pasien gagal jantung kongestif 94

5.6 Dampak emosi yang timbul pada partisipaan saat menangani

pasien gagal jantung kongestif 96

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan 102

6.2 Saran 105

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

viii
DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Judul Tabel Halaman

2.1 Keaslian Penelitian 39

ix
DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar Judul Gambar Halaman

2.1 Kerangka Teori 37

2.3 Kerangka Konsep 38

x
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran Keterangan

1. Surat Ijin Studi Pendahuluan

2. Surat Jawaban Ijin Studi Pendahuluan

3. Surat Ijin Penelitian

4. Surat Jawaban Ijin Penelitian

5. Surat Ethical Clearance

6. Lembar Permohonan Menjadi Partisipan

7. Lembar Persetujuan Menjadi Partisipan

8. Data Demografi

9. Pedoman Wawancara

10. Analisis Data Tematik

11. Transkip Wawancara

12. Bukti Penelitian

13. Lembar Konsultasi

14. Jadwal Penelitian

15. Lembar Oponent Ujian Sidang Proposal Skripsi

xi
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2015

Sri Ayu Setyaningsih

PengalamanPerawatInstalasi Gawat Darurat Dalam Menangani Pasien


Gagal Jantung Kongestif (Congestive Heart Failure) di Rumah Sakit Dr.
Moewardi

Abstrak

Pasien dengan gagal jantung kongestif memerlukan tindakan keperawatan


yang cepat dan tepat. Keterlambatan tindakan keperawatan pasien gagal jantung
kongestif dapat menyebabkan kematian.Penanganan dari perawat pada
penanganan pasien gawat darurat yang memanjang dapat menurunkan usaha
penyelamatan pasien.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
pengalaman perawat dalam penanganan gagal jantung kongestifdiInstalasi Gawat
DaruratRS Dr. Moewardi.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan fenomenologis deskriptif. Teknik sampling yang digunakan dalam
penelitian ini adalah purposive samplingdengan sample 4 Perawat IGD RS
Dr.Moewardi. Penelitian ini menggunakan tehnik indepth interview, dengan
menggunakan tujuh analisis modelColaizziyangmenghasilkan 11 tema yaitu
primary survey, secondary survey, dasar perumusan diagnosa, jenis diagnosa,
intervensi mandiri perawat, intervensi kolaborasi, implementasi mandiri perawat,
implementasi kolaborasi, tipe evaluasi, respon emosional perawat,dan prinsip
penanganan pasien.
Fokus pengkajian pada pasien gagal jantung kongestif yang dipersepsikan
partisipan yaitu pengkajian Airway, Breathing, danCirculation. Tindakan
keperawatan dalam kasus gagal jantung kongestif yaitu pemberian posisi semi
fowler. Pemberian obat diuretik dan analgetik sebagai tindakan kolaborasi. Tahap
evaluasi terdiri dari evaluasi obyektif dan subyektif. Respon emosional yang
timbul ialah empati, kasihan, rasa bersalah, rasa tanggung jawab, kepuasan diri.
Prinsip penanganan pasien gagal jantung kongestif yaitu cepat dan tepat.
Hasil penelitian ini diharapkan bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan
ketrampilan perawat melalui pelatihan dan diharapkan pelayanan kepada pasien
gawat darurat meningkat.

Kata Kunci : Pengalaman, perawat, penanganan, gagal jantung kongestif


Daftar pustaka : 50(2000-2014).

xii
BACHELOR PROGRAM IN NURSING SCIENCE
KUSUMA HUSADA HEALTH SCIENCE COLLEGE OF SURAKARTA
2015

Sri Ayu Setyaningsih


Emergency Installation Nurses’ Experience in Congestive Heart Failure
Management at Dr. Moewardi General Hospital of Surakarta

ABSTRACT

Congestive heart failure patients need a quick and accurate nursing


intervention. The delay of nursing intervention onthe congestive heart failure
patients can cause death. The nurses’ prolonged emergency patient management
can lower the patient rescue efforts. The objective of this research is to investigate
the emergency installation nurses’ experience in the congestive heart
failuremanagement at Dr. Moewardi General Hospital of Surakarta.
This research used the qualitative method with the phenomenological
descriptive approach. The samples of research were 4 nurses employed at the
Emergency Installation of Dr. Moewardi General Hospital and were taken by
using the purposive sampling. The data of research were collected through in-
depth interview and analyzed by using the Collaizi’s method which produced 11
themes namely: primary survey, secondary survey, basic formulation of diagnosis,
diagnosis, type of diagnosis, intervention ofself-nurses, collaborative intervention,
implementation of self-nurses, implementation of collaboration, type of
evaluation, nurses’emotional responsesand patient management principles.
This study focused on the congestive heart failure patients perceived by
participants was airway, breathing, and circulation. Nursing action in the case of
congestive heart failure was the administration of semi fowler position. The
diuretic and analgesic medicines were administered as acollaboration intervention.
Evaluation stages consisted of objective and subjective evaluations. The
emotional responsesarising were empathy, pity, guilty, sense of responsibility,
self-satisfaction. The management principles of congestive heart failure patients
were quick and accurate.
Thus, the medical workers must improve the nursing skills through
training, and the services to the emergency patients are increased.

Keywords: Experience, nurses, management, congestive heart failure


References: 50(2000-2014).

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk

memompa darah ke seluruh tubuh. Resiko Congestive Heart Failure

(CHF) akan meningkat pada orang lanjut usia (lansia) karena penurunan

fungsi ventrikel akibat penuaan. CHF ini dapat menjadi kronik apabila

disertai dengan penyakit-penyakit seperti: hipertensi, penyakit katub

jantung, kardiomiopati dan lain-lain. CHF juga dapat menjadi kondisi akut

dan berkembang secara tiba-tiba pada miokard infark (Kasron, 2012).

Gagal jantung terutama merupakan penyakit usia lanjut. Gagal

jantung terjadi pada 2% pasien berusia dibawah 50 tahun, namun lebih

dari 10% pasien berusia di atas 65 tahun. Harapan hidup 5 tahun < 50%.

Penyakit jantung iskemik dan hipertensi merupakan faktor resiko utama

(Aaronson, 2010).

Menurut World Health Organization (WHO, 2004) jumlah

penderita CHF di seluruh dunia pada tahun 2004 adalah 5,7 Juta kasus.

Asia Tenggaramerupakan wilayah yangmemiliki jumlah penderitaCHF

merupakan penyebab paling umum hospitalisasi pada orang yang berusia

lebih dari 65 tahun. Bahkan di Indonesia, penyakit ini telah menjadi

pembunuh nomor satu. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia dari tahun

ke tahun semakin meningkat.Dengan perkiraan 4,9juta kasus, biaya

14
2

perawatan pasien yang menderita penyakit ini $18 miliar setahun,

diperkirakan 50-60% dari 875.000 hospitalisasi setiap tahun dapat

dihindari dengan penatalaksanaan pasien yang lebih baik. Terapi modalitas

mencakup medikasi, penatalaksanaan cairan, perubahan diet, modifikasi

gaya hidup, dan pemantauan tindak lanjut yang intensif. Pendidikan pasien

dan kepatuhan merupakan aspek penting untuk hasil yang baik (Marreli,

2008).

Gagal jantung kongestif disebabkan oleh beberapa faktor, sebuah

hasil penelitiandi Indonesia menunjukan gambaran dari faktor resiko

penyakit Gagal Jantung Kongestif, yaitu faktor keturunan terdapat 15

orang (50%), pasien yang berjenis kelamin perempuan 16 orang(53,3%),

pasien yang berusia 40-59 tahun 15 orang (50%), yang memiliki pola

makan yang tidakbaik 29 orang (96,67%), yang memilki kebiasaan

merokok 16 orang (53,3%), yang memiliki riwayatObessitas 13 orang,

yang memiliki riwayat DM 15 orang (50%), pasien yang kurang

melakukanaktifitas fisik 27 orang (90%), yang memilki riwayat Hipertensi

20 orang (66,7%) (Nurhayati, 2009).

Pasien gagal jantung kongestif membutuhkan pelayanan yang

komprehensif , holistik dan paripurna. Perawat merupakan orang pertama

yang berinteraksi dengan pasien dan betanggungjawab untuk

mengidentifikasikan masalah dan memberikan tindakan dengan tetap

memandang manusia secara holistik baik fisik, psikologis, sosial dan

spiritual. Dalam International Journal of Nursing menyatakan bahwa


3

penggunaankata kesiapan (readiness) dalam literaturkeperawatan tidaklah

didefinisikan denganpasti dan dikembangkan sebagai suatukonsep.

Terdapat beberapa perspektifyang berbeda, tergantung dari sisi

manamereka memaknai kesiapan (readiness)tersebut. Selanjutnya mereka

mengartikankesiapan menjadi empat tema pokok yaitu: mempunyai

kemampuan dasar umumdan kemampuan untuk menangani hal-halyang

bersifat khusus, memberikanperawatan yang aman kepada klien,mampu

menghadapi atau bertahandengan kenyataan sekarang dankemungkinan-

kemungkinan ke depan,serta mempunyai keseimbangan

antarapelaksanaan, pengetahuan dan berpikir(Wolff, 2010).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Dr. Moewardi

pada tahun 2014, jumlah penderita gagal jantung kongestif yang di rawat

di rumah sakit sebanyak 1081 orang dan yang meninggal adalah 185 orang

(17,1%). Rumah Sakit Dr. Moewardi adalah rumah sakit tipe A yang

menjadi rujukan bagi rumah sakit lain di Surakarta dalam penanganan

kasus gawat darurat dimana pelayanan selalu menjadi hal yang utama

diberikan pada pasien khususnya pada kasus kardiovaskuler yang

memerlukan penanganan cepat, tepat dan holistik. Jika tidak ditangani

dengan segera maka dapat mengancam jiwa pasien.

Ketepatan dan kecepatan pertolongan yang diberikan oleh perawat

pada pasien yang datang ke IGD memerlukan kompetensi sehingga

menjamin suatu penanganan di Instalasi Gawat Darurat dengan

penanganan yang tepat oleh perawat. (Kristanty, 2002).


4

Berdasarkan fenomena di atas seorang perawat IGD dalam

merawat pasien dengan gagal jantung merupakan hal yang perlu

dieksplorasi secara lebih mendalam, membuat peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan rancangan kualitatif melalui pendekatan

studi fenomenologi yang berjudul “Pengalaman perawat IGD dalam

menangani pasien gagal jantung kongestif (congestive heart failure) di

Rumah Sakit Dr. Moewardi.

1.2 Rumusan masalah

Bagaimanakah pengalaman perawat IGD dalam menangani pasien

gagal jantung kongestif (congestive heart failure) di Rumah Sakit Dr.

Moewardi?

1.3 Tujuan penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman perawat

IGD dalam menangani pasien gagal jantung kongestif di Rumah

Sakit Dr. Moewardi.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini yaitu:

a) Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam melakukan

pengkajian pada pasien gagal jantung kongestif


5

b) Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam menetapkan

diagnosa keperawatan pada pasien gagal jantung kongestif.

c) Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam merencanakan

tindakan keperawatan pada pasien gagal jantung kongestif.

d) Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam melakukan

implementasi tindakan pada pasien gagal jantung kongestif.

e) Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam melakukan evaluasi

tindakan pada pasien gagal jantung kongestif.

f) Mengidentifikasi dampak emosi perawat dalam menejemen

kasus gagal jantung kongestif.

1.4 Manfaat penelitian

1.4.1 Manfaat bagi peneliti

Untuk menambah pengetahuan peneliti tentang pengalaman

perawat dalam menangani pasien dengan gagal jantung kongestif.

1.4.2 Manfaat bagi institusi pendidikan

Hasil penelitian dapat menjadi informasi bagi mahasiswa

keperawatan dan institusi pendidikan keperawatan tentang

pengalaman perawat IGD dalam menangani pasien gagal jantung

kongestif di Rumah Sakit Dr. Moewardi.


6

1.4.3 Manfaat bagi rumah sakit

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kepada

masyarakat, khususnya perawat dalam penanganan gagal jantung

kongestif.

1.4.4 Manfaat bagi penelitian selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi dan data

tambahan dalam penelitian keperawatan untuk pengembangan

penelitian selanjutnya dalam ruang lingkup yang sama.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori

2.1.1 Konsep Gagal Jantung Kongestif

1. Pengertian Gagal Jantung Kongestif

Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung

untuk memompakan darah yang adekuat untuk memenuhi

kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi. Istilah gagal jantung

kongestif sering digunakan kalau terjadi gagal jantung sisi kiri dan

kanan (Kasron, 2012). Pada gagal jantung, curah jantung tidak

cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, atau dapat memenuhi

kebutuhan hanya dengan peningkatan tekanan pengisian (preload).

Mekanisme kompensasi mungkin mampu untuk mempertahankan

curah jantung saat istirahat, namun mungkin tidak cukup selama

menjalani latihan fisik. Fungsi jantung akhirnya menurun, dan

gagal jantung menjadi berat (dekompensata) (Aaronson, 2010).

2. Klasifikasi

Jenis gagal jantung ada bermacam-macam, menurut Kasron tahun

2012, jenis gagal jantung antara lain:

a. Gagal jantung akut-kronik

1) Gagal jantung akut terjadinya secara tiba-tiba, ditandai

dengan penurunan kardiak output dan tidak adekuatnya

7
8

perfusi jaringan. Ini dapat mengakibatkan edema paru dan

kolaps pembuluh darah.

2) Gagal jantung kronik terjadinya secara perlahan ditandai

dengan penyakit jantung iskemik, penyakit paru kronis. Pada

gagal jantung kronik terjadi retensi air dan sodium pada

ventrikel sehingga menyebabkan hipervolemia, akibatnya

ventikel dilatasi dan hipertrofi.

b. Gagal jantung kanan-kiri

1) Gagal jantung kiri terjadi karena ventrikel gaga; untuk

memompa darah secara adekuat sehingga menyebabkan

kongesti pulmonal, hipertensi dan kelainan pada katub

aorta/mitral.

2) Gagal jantung kanan, disebabkan peningkatan tekanan pulmo

akibat gagal jantung kiri yang berlangsung cukup lama

sehingga cairan yang terbendung akan berakumulasi secara

sistemik

c. Gagal jantung sistolik-diastolik

1) Sistolik terjadi karena penurunan kontraktilitas ventrikel kiri

sehingga ventrikel kiri tidak mampu memompa darah

akibatnya kardiak output menurun dan ventrikel hipertrofi.

2) Diastolik karena ketidakmampuan ventrikel dalam pengisian

darah akibatnya stroke volume cardiac output turun.


9

3. Etiologi

Menurut Kasron tahun 2012, ada beberapa etiologi/penyebab dari

gagal jantung, yaitu:

a. Kelainan Otot Jantung

Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung,

disebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang

mendasari penyebab kelainan fungsi otot mencakup

aterosklerosis koroner, hipertensi atrial, dan penyakit degeneratif

atau inflamasi.

b. Aterosklerosis Koroner

Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi otot jantung

karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi

hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark

miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului

terjadinya gagal jantung. Peradangan dan penyakit otot jantung

degeneratif, berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi

yang secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan

kontraktilitas menurun.

c. Hipertensi Sistemik Atau Pulmonal

Meningkatnya beban kerja jantung dan pada gilirannya

mengakibatkan hipertropi serabut otot jantung.

d. Peradangan dan Penyakit Miokardium Degeneratif


10

Sangat berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini

secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan

kontraktilitas menurun.

e. Penyakit Jantung Lain

Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang

sebenarnya, yang secara langsung mempengaruhi jantung.

Mekanisme biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah

yang masuk jantung untuk mengisi darah (tamponade,

perikardium, perikarditif konstriktif, atau stenosis AV),

peningkatan mendadak afterload.

f. Faktor sistemik

Terdapat sejumlah faktor yang berperan dalam perkembangan

dan beratnya gagal ginjal. Meningkatnya laju metabolisme,

hipoksia dan anemia memerlukan peningkatan curah jantung

untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik. Hipoksia dan

anemia juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung.

Asidosis respiratorik atau metabolik dan abnormalitas elektronik

dapat menurunkan kontraktilitas jantung.

4. Manifestasi klinis

Menurut Kasron tahun 2012, tanda dominan gagal jantung adalah

meningkatnya volume intravaskuler. Kongesti jaringan terjadi

akibat turunnya curah jantung pada kegagalan jantung.


11

Ventrikel kanan dan kiri dapat mengalami kegagalan secara

terpisah. Gagal ventrikel kiri paling sering mendahului gagsal

ventrikel kanan. Kegagalan salah satu ventrikel dapat

mengakibatkan penurunan perfusi jaringan, tetapi manifestasi

kongesti dapat berbeda tergantung pada kegagalan ventrikel mana

yang terjadi.

a. Gagal jantung kiri

Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri karena

ventrikel kiri tidak mampu memompa darah yang datang dari

paru. Manifestasi klinisnya sebagai berikut:

1) Dispneu

2) Batuk

3) Mudah lelah

4) Kegelisahan dan kecemasan

5) Sianosis

6) Gagal jantung kanan

7) Kongestif jaringan perifer dan viseral .

8) Edema ekstremitas bawah, pitting edema, penambahan berat

badan

9) Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas

abdomen terjadi akibat pembesaran vena di hepar.

10) Anorexia dan mual, terjadi akibat pembesaran vena dan statis

vena dalam rongga abdomen.


12

11) Nokturia

12) Kelemahan

Menurut New York Heart Assosiation (NYHA) membuat

klasifikasi fungsional CHF dalam 4 kelas yaitu:

a. Kelas I : bila pasien dapat melakukan aktifitas berat tanpa

keluhan.Kelas II : bila pasien tidak dapat melakukan aktifitas

lebih berat dari aktifitas dari aktifitas sehari-hari tanpa

keluhan.

b. Kelas III : bila pasien tidak dapat melakukan aktifitas sehari-

hari tanpa keluhan.

c. Kelas IV : bila pasien sama sekali tidak dapat melakukan

aktifitas apapun dan harus tirah baring.

5. Komplikasi

a. Syok kardiogenik

b. Episodetromboemboli karena pembentukan bekuan vena karena

statis darah

c. Efusi dan tamponade perikardium.

d. Toksisitas digitalis akibat pemakaian obat-obatan digitalis

(Kasron, 2012).

6. Pemeriksaan diagnostik

a. EKG

Mengetahui hipertrofi atrial atau ventrikuler, infark,

penyimpanan aksis, kekurangan oksigen dan kerusakan pola.


13

b. Tes Laboratorium Darah

Enzym hepar : meningkat dalam gagal jantung/kongesti

Elektrolit : kemungkinan berubah karena perpindahan cairan,

penurunan fungsi ginjal.

Oksimetri nadi : kemungkinan situasi oksigen rendah

AGD: gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik

ringan atau hipoksemia dengan peningkatan PCO2

Albumin : mungkin menurun sebagai akibat penurunan masukan

protein.

c. Radiologis

Sonogram ekokardiogram, dapat menunjukkan pembesaran bilik

perubahan dalam struktur bentuk katup, penurunan kontraktilitas

ventrikel.

Scan jantung, tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan

gerakan dinding.

Rontgen dada : menunjukkan pembesaran jantung, bayangan

menunjukkan dilatasi atau hipertrofi bilik atau perubahan dalam

pembuluh darah atau peningkatan tekanan pulmonal (Kasron,

2012).

7. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan berdasarkan kelas NYHA :


14

a. Kelas I : non farmakologi, meliputi diet rendah garam, batasi

cairan, menurunkan berat badan, menghindari alkohol dan rokok,

aktifitas fisik, managemen stress.

b. Kelas II dan III : terapi pengobatan meliputi, diuretik,

vasodilator, acinhibitor, digitalis, dopamineroit. Oksigen.

c. Kelas IV : kombinasi diuretik, digitalis, dan acinhibitor seumur

hidup.

Menurut Kasron tahun 2012 penatalaksanaan CHF Meliputi :

a. Non farmakologis

1) CHF kronik

a) Meningkatkan oksigenasi dengan pemberian oksigen dan

menurunkan oksigen melalui istirahat atau pembatasan

aktifitas

b) Diet pembatasan natrium (<4 gr/hari) untuk menurunkan

edema

c) Menghentikan obat-obatan yang memperparah seperti

NSAIDs karena efek prostaglandin pada ginjal

menyebabkan retensi air dan natrium.

d) Pembatasan cairan (kurang lebih 1200-1500cc/hari)

e) Olahraga secara teratur

2) CHF akut

a) Oksigenasi (ventilasi mekanik)

b) Pembatasan cairan (< 1,5liter/hari).


15

b. Farmakologis

Tujuan: untuk mengurangi afterload dan preload

1) First line drugs : deuretik

Tujuan : mengurangi afterload dan disfungsi sistolik dan

mengurangi kongesti pulmonal pada disfungsi diastolik.

Obatnya adalah: thiazide diuretics untuk CHF sedang, loop

deuretik, metolazon (kombinasi loop diuretik) untuk

meningkatan pengeluaran cairan), kalium-sparing diuretik.

2) Second line drugs : ACE Inhibitor

Tujuan: membantu meningkatkan COP dan menurunkan

kerja jantung.

Obatnya adalah :

a) Digoxin : meningkatkan kontraktilitas. Obat ini tidak

digunakan untuk kegagalan diastolik yuang mana

dibutuhkan ngembangan ventrikel untuk relaksasi.

b) Hydralazin : menurunkan afterload pada disfungsi sistolik

c) Isobarbide dinitrat: mengurangi preload dan afterload

untuk disfungsi sistolik, hindari vasodilator pada

disfungsi sistolik.

d) Calsium cannel blocker : untuk kegagalan diastolik,

meningkatkan relaksasi dan pengisian ventrikel (jangan

dipakai pada CHF kronik).


16

e) Beta Blocker : sering dikontraindikasikan karena

menekan respon miokard. Digunakan pada disfungi

diastolik untuk mengurangi heart rate, mencegah iskemi

miokard, menurunkan tekanan darah, hipertrofi ventrikel

kiri.

c. Pendidikan Kesehatan

1) Informasikan pada klien, keluarga dan pemberi perawatan

tentang penyakit dan penanganannya.

2) Informasi difokuskan pada monitoring berat badan setiap hari

dan intake natrium.

3) Diet yang sesuai untuk lansia CHF: pemberian makanan

tambahan yang mengandung kalium seperti: pisang, jeruk

dan lain-lain

4) Teknik konservasi energi dan latihan aktifitas yang dapat

ditoleransi dengan bantuan terapis.

2.1.2 Konsep Asuhan Keperawatan Gagal Jantung Kongestif

1. Pengkajian

a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

1) Riwayat hipertensi

2) Ketidakpatuhan terhadap diet

3) Kebiasaan merokok

4) Kebiasaan minum obat yang dibeli di warung.


17

b. Pola nutrisi metabolik

1) Anoreksia

2) Penurunan BB

3) Mual, muntah.

c. Pola eliminasi

1) Nokturia

2) Perubahan pola berkemih.

3) Konstipasi

d. Pola aktivitas dan latihan

1) Fatigue

2) Penurunan toleransi beraktivitas.

3) Sesak napas.

e. Pola tidur dan istirahat

1) Gangguan pola tidur karena dyspnea dan nokturia.

2) Paroxymal nokturia, dyspnea

f. Pola kognitif dan persepsi sensori

1) Kurang pengetahuan tentang masalah dan perawatan.

2) Pengenalan terhadap lingkungan sekitar, orientasi tempat

dan waktu.

g. Pola persepsi dan konsep diri

1) Gangguan body image, berhubungan dengan edema.

2) Kecemasan.

h. Pola peran dan hubungan dengan sesama


18

1) Kesulitan memenuhi tanggung jawab karena fatigue.

2) Pola reproduksi dan seksual

3) Penurunan libido dan impotensi berhubungan dengan fatigue

dan pengobatan.

i. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres.

1) Kecemasan b.d dyspnea.

2) Kecemasan b.d penyakit kronis.

3) Berduka karena kehilangan peran dan fungsi.

4) Kesiapan menghadapi kematian.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Penurunan cardiac output b.d penurunan kontraktilitas gangguan

irama jantung overload cairan atau peningkatan after load.

b. Kelebihan volume cairan b.d penurunan perfusi ginjal.

c. Intoleransi beraktivitas b.d penurunan cardiac output, Hb yang

meningkat.

d. Kurang pengetahuan b.d proses penyakit dan perawatan.

e. Ansietas b.d dyspnea, takut kematian.

f. Gangguan pola tidur b.d nokturnal, dyspnea, ketidakmampuan

menyesuaikan posisi yang tidak nyaman.

3. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Rencana keperawatan


19

Keperawatan/ Tujuan dan Intervensi


Masalah Kolaborasi Kriteria Hasil
a. Penurunan curah NOC : NIC :
jantung b/d Cardiac Pump 1. Evaluasi adanya
gangguan irama effectiveness nyeri dada
jantung, stroke Circulation Status 2. Catat adanya
volume, pre load Vital Sign Status disritmia jantung
dan afterload, Tissue perfusion: 3. Catat adanya
kontraktilitas perifer tanda dan gejala
jantung. Setelah dilakukan penurunan
DO/DS: asuhan cardiac putput
Aritmia, takikardia, selama………pen 4. Monitor status
bradikardia urunan kardiak pernafasan yang
Palpitasi, oedem output klien menandakan
Kelelahan teratasi dengan gagal jantung
Peningkatan/penuru kriteria hasil: 5. Monitor balance
nan JVP - Tanda Vital cairan
Distensi vena dalam rentang 6. Monitor respon
jugularis normal pasien terhadap
Kulit dingin dan (Tekanan efek pengobatan
lembab darah, Nadi, antiaritmia
Penurunan denyut respirasi) 7. Atur periode
nadi perifer - Dapat latihan dan
Oliguria, kaplari mentoleransi istirahat untuk
refill lambat aktivitas, menghindari
Nafas pendek/ sesak tidak ada kelelahan
nafas kelelahan 8. Monitor
Perubahan warna - Tidak ada toleransi
kulit edema paru, aktivitas pasien
Batuk, bunyi perifer, dan 9. Monitor adanya
jantung S3/S4 tidak ada dyspneu, fatigue,
Kecemasan asites tekipneu dan
- Tidak ada ortopneu
penurunan 10. Anjurkan untuk
kesadaran menurunkan
- AGD dalam stress
batas normal 11. Monitor TD,
- Tidak ada nadi, suhu, dan
distensi vena RR
leher 12. Monitor VS saat
- Warna kulit pasien berbaring,
normal duduk, atau
berdiri
13. Auskultasi TD
pada kedua
lengan dan
20

bandingkan
14. Monitor TD,
nadi, RR,
sebelum, selama,
dan setelah
aktivitas
15. Monitor jumlah,
bunyi dan irama
jantung
16. Monitor
frekuensi dan
irama
pernapasan
17. Monitor pola
pernapasan
abnormal
18. Monitor suhu,
warna, dan
kelembaban
kulit
19. Monitor sianosis
perifer
20. Monitor adanya
cushing triad
(tekanan nadi
yang melebar,
bradikardi,
peningkatan
sistolik)
21. Identifikasi
penyebab dari
perubahan vital
sign
22. Jelaskan pada
pasien tujuan
dari pemberian
oksigen
23. Sediakan
informasi untuk
mengurangi
stress
24. Kelola
pemberian obat
anti aritmia,
inotropik,
nitrogliserin dan
21

vasodilator
untuk
mempertahankan
kontraktilitas
jantung
25. Kelola
pemberian
antikoagulan
untuk mencegah
trombus perifer
26. Minimalkan
stress
lingkungan

b. Kelebihan Volume NOC : NIC :


Cairan Electrolit and 1. Pertahankan
Berhubungan acid base balance catatan intake
dengan : Fluid balance dan output yang
Mekanisme Hydration akurat
pengaturan Setelah dilakukan 2. Pasang urin
melemah tindakan kateter jika
Asupan cairan keperawatan diperlukan
berlebihan DO/DS : selama 3. Monitor hasil lab
Berat badan ….Kelebihan yang sesuai
meningkat pada volume cairan dengan retensi
waktu yang singkat teratasi dengan cairan (BUN ,
Asupan berlebihan kriteria: Hmt ,
dibanding output - Terbebas dari osmolalitas urin
Distensi vena edema, efusi, )
jugularis anaskara 4. Monitor vital
Perubahan pada - Bunyi nafas sign
pola nafas, bersih, tidak 5. Monitor indikasi
dyspnoe/sesak ada retensi /
nafas, orthopnue, dyspneu/ortop kelebihan cairan
suara nafas neu (cracles, CVP ,
abnormal (Rales - Terbebas dari edema, distensi
atau crakles), , distensi vena vena leher,
pleural effusion jugularis, asites)
Oliguria, azotemia - Memelihara 6. Kaji lokasi dan
Perubahan status tekanan vena luas edema
mental, kegelisahan, sentral, 7. Monitor
kecemasan tekanan masukan
kapiler paru, makanan / cairan
output jantung 8. Monitor status
dan vital sign nutrisi
DBN 9. Berikan diuretik
22

- Terbebas dari sesuai interuksi


kelelahan, 10. Kolaborasi
kecemasan pemberian obat
atau bingung 11. Monitor berat
badan
12. Monitor
elektrolit
13. Monitor tanda
dan gejala dari
odema

c. Intoleransi NOC : NIC :


aktivitas Self Care : 1. Observasi
Berhubungan ADLsToleransi adanya
dengan : aktivitas pembatasan
Tirah Baring atau Konservasi energi klien dalam
imobilisasi Setelah dilakukan melakukan
Kelemahan tindakan aktivitas
menyeluruhKetidak keperawatan 2. Kaji adanya
seimbangan antara selama …. Pasien faktor yang
suplei oksigen bertoleransi menyebabkan
dengan kebutuhan terhadap aktivitas kelelahan
Gaya hidup yang dengan Kriteria 3. Monitor nutrisi
dipertahankan. Hasil : dan sumber
DS: - Berpartisipasi energi yang
Melaporkan secara dalam adekuat
verbal adanya aktivitas fisik 4. Monitor pasien
kelelahan atau tanpa disertai akan adanya
kelemahan. peningkatan kelelahan fisik
Adanya dyspneu tekanan darah, dan emosi secara
atau nadi dan RR berlebihan
ketidaknyamanan - Mampu 5. Monitor respon
saat beraktivitas melakukan kardivaskuler
DO : aktivitas terhadap
Respon abnormal sehari hari aktivitas
dari tekanan darah (ADLs) secara (takikardi,
atau nadi terhadap mandiri disritmia, sesak
aktifitas - Keseimbanga nafas,
Perubahan ECG : n aktivitas dan diaporesis,
aritmia, iskemia istirahat pucat, perubahan
hemodinamik)
6. Monitor pola
tidur dan
lamanya
tidur/istirahat
23

pasien
7. Kolaborasikan
dengan Tenaga
Rehabilitasi
Medik dalam
merencanakan
progran terapi
yang tepat.
8. Bantu klien
untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang
mampu
dilakukan
9. Bantu untuk
memilih
aktivitas
konsisten yang
sesuai dengan
kemampuan
fisik, psikologi
dan sosial
10. Bantu untuk
mengidentifikasi
dan
mendapatkan
sumber yang
diperlukan untuk
aktivitas yang
diinginkan
11. Bantu untuk
mendpatkan alat
bantuan aktivitas
seperti kursi
roda, krek
12. Bantuuntuk
mengidentifikasi
aktivitas yang
disukai
13. Bantu klien
untuk membuat
jadwal latihan
diwaktu luang
14. Bantu
pasien/keluarga
untuk
24

mengidentifikasi
kekurangan
dalam
beraktivitas
15. Sediakan
penguatan
positif bagi yang
aktif beraktivitas
16. Bantu pasien
untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
17. Monitor respon
fisik, emosi,
sosial dan
spiritual

d. Kurang NOC: NIC :


Pengetahuan Kowlwdge : 1. Kaji tingkat
Berhubungan disease process pengetahuan
dengan : Kowledge : health pasien dan
keterbatasan Behavior keluarga
kognitif, interpretasi Setelah dilakukan 2. Jelaskan
terhadap informasi tindakan patofisiologi dari
yang salah, keperawatan penyakit dan
kurangnya selama …. pasien bagaimana hal
keinginan untuk menunjukkan ini berhubungan
mencari informasi, pengetahuan dengan anatomi
tidak mengetahui tentang proses dan fisiologi,
sumber-sumber penyakit dengan dengan cara
informasi. kriteria hasil: yang tepat.
DS: Menyatakan - Pasien dan 3. Gambarkan
secara verbal keluarga tanda dan gejala
adanya masalah menyatakan yang biasa
ketidakakuratan pemahaman muncul pada
mengikuti instruksi, tentang penyakit, dengan
perilaku tidak sesuai penyakit, cara yang tepat
kondisi, 4. Gambarkan
prognosis dan proses penyakit,
program dengan cara
pengobatan yang tepat
- Pasien dan 5. Identifikasi
keluarga kemungkinan
mampu penyebab,
melaksanakan dengan cara
25

prosedur yang yang tepat


dijelaskan 6. Sediakan
secara benar informasi pada
- Pasien dan pasien tentang
keluarga kondisi, dengan
mampu cara yang tepat
menjelaskan 7. Sediakan bagi
kembali apa keluarga
yang informasi
dijelaskan tentang
perawat/tim kemajuan pasien
kesehatan dengan cara
lainnya yang tepat
8. Diskusikan
pilihan terapi
atau penanganan
9. Dukung pasien
untuk
mengeksplorasi
atau
mendapatkan
second opinion
dengan cara
yang tepat atau
diindikasikan
10. Eksplorasi
kemungkinan
sumber atau
dukungan,
dengan cara
yang tepat

e. Kecemasan NOC : NIC :


berhubungan Kontrol Anxiety Reduction
dengan kecemasan (penurunan
Faktor keturunan, Koping kecemasan)
Krisis situasional, Setelah dilakukan 1. Gunakan
Stress, perubahan asuhan selama pendekatan yang
status kesehatan, ……………klien menenangkan
ancaman kematian, kecemasan 2. Nyatakan
perubahan konsep teratasi dgn dengan jelas
diri, kurang kriteria hasil: harapan terhadap
pengetahuan dan - Klien mampu pelaku pasien
hospitalisasi mengidentifik 3. Jelaskan semua
DO/DS: asi prosedur dan apa
Insomnia danmengungk yang dirasakan
26

Kontak mata kurang apkan gejala selama prosedur


Kurang istirahat cemas 4. Temani pasien
Berfokus pada diri - Mengidentifik untuk
sendiri asi, memberikan
Iritabilitas mengungkapk keamanan dan
Takut an dan mengurangi
Nyeri perut menunjukkan takut
Penurunan TD dan tehnik untuk 5. Berikan
denyut nadi mengontol informasi faktual
Diare, mual, cemas mengenai
kelelahan - Vital sign diagnosis,
Gangguan tidur dalam batas tindakan
Gemetar normal prognosis
Anoreksia, mulut - Postur tubuh, 6. Libatkan
kering ekspresi keluarga untuk
Peningkatan TD, wajah, bahasa mendampingi
denyut nadi, RR tubuh dan klien
Kesulitan bernafas tingkat 7. Instruksikan
Bingung aktivitas pada pasien
Bloking dalam menunjukkan untuk
pembicaraan berkurangnya menggunakan
Sulit berkonsentrasi kecemasan tehnik relaksasi
8. Dengarkan
dengan penuh
perhatian
9. Identifikasitingk
atkecemasan
10. Bantu pasien
mengenal situasi
yang
menimbulkan
kecemasan
11. Dorong pasien
untuk
mengungkapkan
perasaan,
ketakutan,
persepsi
12. Kelola
pemberian obat
anti cemas.
27

f. Gangguan pola NOC: NIC :


tidur berhubungan Anxiety Control Sleep Enhancement
dengan: Comfort Level 1. Determinasi
Psikologis : usia Pain Level efek-efek
tua, kecemasan, Rest : Extent and medikasi
agen biokimia, suhu Pattern terhadap pola
tubuh, pola Sleep : Extent ang tidur
aktivitas, depresi, Pattern 2. Jelaskan
kelelahan, takut, Setelah dilakukan pentingnya tidur
kesendirian. tindakan yang adekuat
Lingkungan : keperawatan 3. Fasilitasi untuk
kelembaban, selama …. mempertahankan
kurangnya gangguan pola aktivitas
privacy/kontrol tidur pasien sebelum tidur
tidur, pencahayaan, teratasi dengan (membaca)
medikasi (depresan, kriteria hasil: 4. Ciptakan
stimulan),kebisinga - Jumlah jam lingkungan yang
n tidur dalam nyaman
Fisiologis : Demam, batas normal 5. Kolaborasi
mual, posisi, - Pola pemberian obat
urgensi urin. tidur,kualitas tidur
DS: dalam batas
Bangun lebih normal
awal/lebih lambat - Perasaan fresh
Secara verbal sesudah
menyatakan tidak tidur/istirahat
fresh sesudah tidur - Mampu
DO : mengidentifik
Penurunan asi hal-hal
kemempuan fungsi, yang
Penurunan proporsi meningkatkan
tidur REM, tidur
Penurunan proporsi
pada tahap 3 dan 4
tidur.
Peningkatan
proporsi pada tahap
1 tidur,
Jumlah tidur kurang
dari normal sesuai
usia.
28

2.1.3 Pengalaman

a. Pengertian Pengalaman

Pengalaman kerja adalah proses pembetukan pengetahuan atau

ketrampilan tentang metode suatu pekerjaan karena keterlibatan

karyawan tersebut dalam pelaksanaan tugas pekerjaan (Manulang,

1984). Sedangkan Knoers & Hadinoto tahun 1999 mengartikan

pengalaman sebagai suatu proses pembelajaran dan pertambahan

perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal

maupun non formal atau bisa diartikan sebagai proses yang membawa

seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi. Suatu

pembelajaran juga mencakup perubahan yang relatif tepat dari perilaku

yang diakibatkan pengalaman, pemahaman dan praktek.

b. Indikator dari Pengalaman

Indikator pengalaman kerja yaitu lama waktu atau masa kerja,

tingkat pengetahuan dan keteramprilan yang dimiliki, pengetahuan

merujuk pada konsep, prisip, prosedur, kebijakan atau informasi lain

yang dibutuhkan oleh karyawan, penguasaan terhadap pekerjaan dan

peralatan (Foster,2001).

Ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh

oleh seseorang dapat memahami tugas-tugas suatu pekerjaan dan telah

melaksanakan dengan baik. Pengetahuan juga mencakup kemampuan

untuk memahami dan menerapkan informasi pada tanggung jawab

pekerjaan. Sedangkan ketrampilan merujuk pada memapuan fisik yang


29

dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu tugas atau

pekerjaan. Tingkat penguasaan seseorang dalam pelaksanaan aspek-

aspek teknik peralatan dan teknik pekerjaan (Efendi & Makhfudh,

2009).

Perawat dituntut untuk memiliki kompetensi dalam menangani

korban yang membutuhkan bantuan hidup dasar. Salah satu upaya dalam

peningkatan kompetensi tersebutdilakukan melalui pelatihan bantuan

hidup dasar. Latihan ini merupakan pelatihan dasar bagi perawat dalam

menangani korban yang memerlukan bantuan hidup dasar akibat trauma

dan gangguan kardiovaskuler. Penanganan masalah tersebut ditujukan

untuk memberikan bantuan hidup dasar sehingga dapatmenyelamatkan

nyawa dan meminimalisir kerusakan organ serta kecacatan penderita

(Yanti Bala, 2014).

2.1.4 Perilaku

1. Pengertian Perilaku

Perilaku adalah aksi seorang individu terhadap reaksi rangsangan

tertentu dari hubungan dengan lingkungan (Suryani dalam Susilo

2011). Perilaku adalah suatu perbuatan atau tindakan seseorang

terhadap suatu respon dan dijadikan kebiasaan karena adanya nilai

yang diyakini (Mubarak, 2012). Dari kedua definisi perilaku tersebut,

maka dapat disimpulkan bahwa perilaku adalah suatu respon yang

didapat dari lingkungan dan menjadi kebiasaan seseorang, baik diamati


30

secara sadar maupun tidak sadar, sehingga respon yang didapat dari

seseorang dalam berperilaku bermacam-macam.

2. Pengukuran perilaku

Cara mengukur perilaku ada dua cara (Notoatmodjo, 2005), yaitu

perilaku dapat diukur secara langsung yaitu wawancara terhadap

kegiatan-kegiatan yang telah dapat memahami tugas-tugas suatu

pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik. Pengetahuan juga

mencakup kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi

pada tanggung jawab pekerjaan. Sedangkan ketrampilan merujuk pada

kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai dan menjalankan

suatu tugas atau pekerjaan. Tingkat penguasaan seseorang dalam

pelaksanaan aspek-aspek teknik peralatan dan teknik pekerjaan (Efendi

& Makhfudh, 2009).

Perawat dituntut untuk memiliki kompetensi dalam menangani

korban yang membutuhkan bantuan hidup dasar. Salah satu upaya dalam

peningkatan kompetensi tersebutdilakukan melalui pelatihan bantuan

hidup dasar. Latihan ini merupakan pelatihan dasar bagi perawat dalam

menangani korban yang memerlukan bantuan hidup dasar akibat trauma

dan gangguan kardiovaskuler. Penanganan masalah tersebut ditujukan

untuk memberikan bantuan hidup dasar sehingga dapatmenyelamatkan

nyawa dan meminimalisir kerusakan organ serta kecacatan penderita

(Yanti Bala, 2014).


31

2.1.5 Emosi

1. Pengertian emosi

Istilah emosi berasal dari kata emotus atau emovere atau mencerca

(to stir up) yang berarti sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu,

missal emosi gembira mendorong untuk tertawa, atau dengan perkataan

lainemosi didefinisikan sebagai suatu keadaan gejolak penyesuaian diri

yangberasal dari dalam dan melibatkan hamper keseluruhan diri

individu(Sujiono, 2005). Menurut Sarlito Wirawan Sartono berpendapat

bahwaemosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang

disertai warnaafekti. Yang dimaksud warna efektif ini adalah perasaan-

perasaan tertentuyang dialami pada saat menghadapi (menghayati)

suatu situasi tertentucontohnya: gembira, bahagia, takut dan lain-lain.

Sedangkan menurutGoleman Bahasa emosi merujuk pada suatu

perasaan atau pikiran. Pikirankhasnya, suatu keadaan biologis dan

psikologis serta rangkaiankecenderungan untuk bertindak (Syamsu,

2008).

Berdasarkan pendapat dari para ahli di atas maka dapatdisimpulkan

bahwa emosi adalah suatu keadaan yang kompleksi dapat berupa

perasaan / pikiran yang di tandai oleh perubahan biologis yang muncul

dari perilaku seseorang.

2. Pengelompokan Emosi

Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu emosisensoris

dan emosi kejiwaan (psikis).


32

a. Emosi Sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan

dariluar terhadap tubuh, seperti rasa dingin, manis, sakit, lelah,

kenyangdan lapar.

b. Emosi Psikis, yaitu emosi yang mempunyai alasan – alasan

kejiwaan.

Yang termasuk emosi jenis ini diantaranya adalah :

1) Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut

denganruang lingkup kebenaran. Perasaan ini diwujudkan dalam

bentuk:

a) Rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu hasil karya ilmiah

Rasa gembira karena mendapat suatu kebenaran

Rasa puas karena dapat menyelesaikan persoalan –

persoalanilmiah yang harus dipecahkan.

2) Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut

hubungandengan orang lain, baik bersifat perorangan maupun

kelompok.Wujud perasaan ini seperti :

a) Rasa solidaritas

b) Persaudaraan (ukhuwah)

c) Simpati

d) Kasih sayang, dan sebagainya.

3) Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-

nilai baik dan buruk atau etika (moral). Contohnya :

a) Rasa tanggung jawab (responsibility)


33

b) Rasa bersalah apabila melanggar norma

c) Rasa tentram dalam mentaati norma

4) Perasaan Keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan

eratdengan keindahan dari sesuatu, baik bersifat kebendaan

ataupunkerohanian

5) Perasaan Ketuhanan, yaitu merupakan kelebihan manusia

sebagaimakluk Tuhan, dianugrahi fitrah (kemampuan atau

perasaan) untukmengenal Tuhannya. Dengan kata lain, manusia

dianugerahiinsting religius (naluri beragama). Karena memiliki

fitrah ini, makamanusia di juluki sebagai “Homo Divinans” dan

“Homo Religius”atau makluk yang berke-Tuhan-an atau

makhluk beragama (Syamsu, 2008).

2.1.6 Perawat

1. Definisi Perawat

Menurut ICN (International Council of Nursing) 1965

(Widyawati, 2012) perawat adalah seseorang yang telah

menyelesaikan pendidikan keperawatan yang memenuhi syarat

serta berwenang di negeri bersangkutan untuk memberikan

pelayanan keperawatan yang bertanggung jawab untuk

meningkatkan pelayanan kesehatan.

Menurut UU RI. No.23 tahun 1992 (Widyawati, 2012),

perawat adalah merekan yang memiliki kemampuan dan


34

kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu

yang dimiliki diperoleh melalui pendidikan keperawatan.

2. Klasifikasi

Menurut UU RI No. 34 Tahun 2014 tentang Keperawatan, jenis

perawat terdiri atas perawat profesional dan perawat vokasional.

Perawat profesional adalah seseorang yang lulus dari pendidikan

tinggi keperawatan dan terakreditasi, terdiri dari ners generalis, ners

spesialis dan ners konsultan.Perawat vokasional adalah seseorang

yang telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Perawat Kesehatan

(SPK) dan lulusan Program Diploma 3 Keperawatan.

3. Peran Perawat

Peran adalah tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap

kedudukan dalam suatu sistem. Jika seorang perawat, peran yang

dijalankan harus sesuai dengan lingkup kewenangan perawat. Peran

menggambarkan otoritas seseorang yang diatur dalam sebuah aturan

yang jelas, peran perawat yang utama adalah sebagai pelaksana,

pengelola, pendidik, dan peneliti (Asmadi, 2008).

a. Sebagai pemberi asuhan keperawatan

Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan

keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui

pemberian pelayanan keperawatan pemberian asuhan

keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan

kompleks.
35

b. Sebagai advokat klien

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga

dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi

pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas

tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam

mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien meliputi :

1) Hak atas pelayanan sebaik-baiknya

2) Hak atas informasi tentang penyakit

3) Hak atas privacy

4) Hak untuk menentukan nasibnya sendiri

5) Hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.

c. Sebagai edukator (pendidik)

Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan

pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang

diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah

dilakukan pendidikan kesehatan.

d. Sebagai koordinator

Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, perencanaan serta

mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga

pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan

kebutuhan klien.

e. Sebagai kolabolator
36

Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim

kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi, dan lain-

lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan

yang diperlukan.

f. Sebagai konsultan

Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan

perencanaan, kerja sama, perubahan yang sistematis dan terarah

sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.

g. Sebagai pembantu

Perawat mengadakan perencanaan, kerja sama, perubahan yang

sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian

pelayanan keperawatan.
37

2.2 Kerangka Teori

Konsep CHF

1. Definisi Penanganan gagal


2. Klasifikasi CHF jantung kongestif
3. Etiologi CHF di IGD
4. Manifestasi klinis CHF
5. Pemeriksaan
diagnostik
6. Penatalaksanaan CHF

Pengalaman

Perawat

Gambar 2.1 kerangka teori


Sumber: (Kasron, 2012)
38

2.3 Kerangka Konsep

CHF

1. Pengkajian CHF
2. Penegakan diagnosa
Pengalaman CHF
3. Intervensi CHF
Perawat 4. Implementasi CHF
5. Evaluasi CHF

Gambar 2.2 kerangka konsep


39

2.4 Keaslian Penelitian

No. Nama Pengarang Judul Penelitian Jenis Hasil


Penelitian /
Desain
1. Hj.Euis Gambaran Deskriptif Keturunan, jenis
Nurhayati,Dra.,M. Faktor Resiko kuantitatif kelamin, usia,
Kes dan Isni Pada Pasien dengan alat pola makan yang
Nuraini Penyakit Gagal bantu tidak baik,
Jantung kuesioner merokok,
Kongestif di Obessitas, DM ,
Ruang X.A kurang
RSUP Dr. melakukan
Sadikin aktifitas fisik,
Bandung Hipertensi
merupakan faktir
yang
berhubungan
dengan penyakit
Gagal Jantung
Kongestif.

2. Angela C. Wolff, New graduate Deskriptif Pandangan


Barbara Pesut, nurse practice kuantitatif tentang kesiapan
Sandra Regan readiness: perawat lulusan
Perspectives on baru, sampai
the context batas tertentu,
shaping didasarkan atas
our ijazah derajat dan
understanding profesional-teknis
and expectations debat perawat

Tabel 2.1 keaslian penelitian


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan rancangan penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan

pendekatan fenomenologis. Penelitian kualitatif efektif digunakan untuk

memperoleh informasi yang spesifik mengenai nilai, opini, perilaku dan

konteks sosial menurut keterangan populasi. Pendekatan fenomenologis

merupakan pendekatan yang berusaha untuk memahami makna dari berbagai

peristiwa dan interaksi manusia di dalam situasinya yang khusus.

Fenomenologi menggambarkan riwayat hidup serta pengalaman suatu

peristiwa yang di alaminya (Sutopo, 2006). Dalam penelitian ini juga

bermaksud untuk memahami fenomena yang sesungguhnya terjadi

pengalaman perawat dalam menangani pasien gagal jantung kongestif.

3.2 Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah

Sakit Dr. Moewardi. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Februari –

Maret 2015.

40
41

3.3 Populasi dan sampel

3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti

(Setiadi, 2007). Populasi pada penelitian ini dalam kasus CHF adalah

perawat yang bekerja di ruang IGD Rumah Sakit Dr. Moewardi yang

berjumlah 33 orang perawat. Peran perawat sangat dominan dalam

melakukan penangangan kasus CHF. Ketepatan dan kecepatan

penanganan CHF adalah bentuk dari terapi yang dilakukan oleh

perawat dalam menangani kasus gawat darurat, oleh karena itu populasi

pada penelitian ini adalah perawat yang bekerja di ruang IGD RS Dr.

Moewardi.

3.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari keseluruhan obyek yang diteliti dan

dianggap mewakili seluruh populasi (Setiadi, 2007). Sampel pada

penelitian ini dibutuhkan teknik sampling dan kriteria informan sesuai

dengan kebutuhan peneliti. Sampel terdiri dari bagian populasi

terjangkau yang dapat dipergunakan sabagai subjek penelitian melalui

sampling. Sampel sebanyak 1 – 10 orang hingga tercapai saturasi

(Afiyanti, 2014). Peneliti mengambil partisipan perawat IGD yang

pernah menangani kasus gagal jantung kongestif sebanyak 4 partisipan.

Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode purposive

sampling yaitu sampel yang dipilih berorientasi pada tujuan penelitian

individu diseleksi atau dipilih secara sengaja karena memiliki


42

pengalaman yang sesuai dengan fenomena yang diteliti sampel ini

menetapkan terlebih dahulu kriteria – kriteria inklusi yang telah

ditetapkan. Sedangkan sampling adalah proses menyeleksi porsi dari

populasi yang dapat mewakili populasi yang ada (Nursalam, 2011).

Wawancara akan dihentikan oleh peneliti ketika semua jawaban dari

partisipan sudah mencapai saturasi. Saturasi adalah ketika semua

jawaban sudah dikatakan benar sama atau jenuh (Sutopo, 2006). Teknik

sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive

sampling yaitu metode pemilihan partisipan dalam suatu penelitian

dengan menentukan terlebih dahulu kriteria yang akan dimasukkan

dalam penelitian, dimana partisipan yang diambil dapat memberikan

informasi yang berharga bagi penelitian. Sampel yang di ambil pada

partisipan sesuai kriteria penelitian adalah :

1. Perawat yang bekerja di IGD Rumah Sakit Dr. Moewardi.

2. Telah bekerja lebih dari 3 tahun di IGD

3. Bersedia menjadi partisipan

4. Pendidikan minimal Diploma III Keperawatan

5. Pernah mengikuti pelatihan gawat darurat (BTCLS) , PPGD dll

6. Pernah menangani pasien gagal jantung kongestif.


43

3.4 Instrumen dan prosedur pengumpulan data

3.4.1 Instrumen

Dalam penelitian ini menggunakan dua instrumen penelitian yaitu:

1. Inti dari penelitian pengalaman perawat dalam menanggani pasien

gagal jantung kongestif di IGD Rumah Sakit Dr. Moewardi adalah

peneliti itu sendiri. Pada penelitian kualitatif yang menjadi alat

penelitian adalah peneliti itu sendiri (Sugiyono, 2012). Peneliti

adalah seorang mahasiswi dari program studi S-1 Keperawatan

STIKes Kusuma Husada Surakarta yang ingin melakukan penelitian

dan ingin mengeksplorasi tentang pengalaman perawat dalam

menangani kasus gagal jantung kongestif di Rumah Sakit Dr.

Moewardi.

2. Penunjang penelitian

Supaya hasil dapat terekam dengan baik dan peneliti memiliki

barang bukti telah melakukan wawancara kepada informan atau

sumber data, maka dalam penelitian ini dibutuhkan alat penunjang

penelitian sebagai berikut :

Pengumpulan data dilakukan dengan tiga teknik yaitu:

a. Wawancara mendalam

Sumber data yang sangat penting dalam penelitian

kualitatif adalah berupa manusia yang dalam posisi sebagai

partisipan. Informasi dari sumber data ini dikumpulkan

dengan teknik wawancara, dalam penelitian kualitatif


44

khususnya dilakukan dalam bentuk yang disebut wawancara

mendalam (in-depth interviewing) yaitu wawancara yang

dilakukan untuk menemukan permasalahan secara lebih

terbuka dimana partisipan yang diwawancara diminta

pendapat, ide-idenya, peneliti mencatat apa yang dikemukakan

oleh partisipan (Sugiyono, 2013). Wawancara akan dihentikan

oleh peneliti ketika semua jawaban dari partisipan jenuh

(Sutopo, 2006).Wawancara mendalam dalam penelitian ini

menggunakan:

a. Lembar Informed Consent berfungsi sebagai bukti

persetujuan dari partisipan dalam penelitian yang

dilakukan oleh peneliti.

b. Pedoman wawancara yang berisi 7 pertanyaan tentang

penanganan gagal jantung kongestif berfungsi untuk

pedoman dalam melakukan wawancara penelitian.

c. Voice Recorderdengansmartphoneberfungsi untuk

merekam suara semua percakapan yang dilakukan peneliti

dan partisipan.

b. Observasi tersamar

Teknik observasi tersamar yaitu peneliti melakukan

observasi tanpa diketahui partisipan sehingga data yang

didapatkan lebih natural (Sugiyono, 2013). Teknik ini

digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa


45

dokumen asuhan keperawatan pasien gagal jantung kongestif

yang telah diarsipkan pihak rekam medis. Observasi dalam

penelitian menggunakan lembar catatan lapangan yang

berfungsi untuk catatan peneliti dalam penelitian yang telah

dilakukan.

Observasi dapat dilakukan secara langsung ataupun

tidak langsung (Sutopo, 2006). Alasan peneliti melakukan

observasi adalah untuk menyajikan gambaran realitis perilaku

atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan dan untuk evaluasi

melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu serta

melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut

(Sumantri, 2011).Peneliti melakukan observasi terus terang

atau tersamar yaitu peneliti menyatakan terus terang kepada

sumber data bahwa peneliti sedang melakukan penelitian

sehingga sumber mengetahui sejak awal sampai akhir tentang

aktivitas peneliti, namun dalam suatu saat peneliti juga tidak

berterus terang atau tersamar dalam observasi untuk

menghindari adanya suatu data yang masih dirahasiakan

(Sugiyono, 2013).

c. Dokumentasi

Studi dokumen adalah teknik pengumpulan data

dengan mempelajari catatan-catatan mengenai suatu data.


46

Dokumen tertulis merupakan sumber data yang memiliki

posisi penting dalam penelitian kualitatif (Sutopo, 2006).

Sumber data dan dokumen pada penelitian ini diperoleh dari

buku dan jurnal yang membahas mengenai penanganan gagal

jantung kongestif.Dari data sumber tersebut kemudian

dianalisis sehingga dapat memperkuat hasil penelitian peneliti.

Dokumentasi penelitian ini menggunakan :

1. Lembar data demografi mengenai kode, nomer partisipan,

usia,jenis kelamin, pendidikan terakhir, pengalaman lama

kerja di Instalasi Gawat Daruratdan pelatihan yang pernah

diikuti.

2. Alat tulis berfungsi untuk menulis dan mencatat segala

sesuatu yang penting dalam penelitian.

3. Bukti penelitian mengenai inisial perawat dan tanda tangan

partisipan.

4. Camera berfungsi untuk mendokumentasikan pembicaraan

antara peneliti dengan informan / sumber data. Dengan

adanya foto ini, maka dapat meningkatkan keabsahan

penelitian akan lebih terjamin, karena peneliti betul-betul

melakukan pengumpulan data. Camera yang digunakan

adalah camera handphone 13 megapixel.


47

3.4.2 Pengumpulan data

1. Data

Data yang dihasilkan dari penelitian ini berupa data verbal

atau transkrip verbatim yang didapatkan dari hasil wawancara

mendalam dengan teknik semistruktur kepada perawat yang pernah

menangani kasus gagal jantung di Rumah Sakit Dr. Moewardi.

Hasil yang didapatkan selama proses wawancara kemudian

ditransfer ke dalam laptop berupa file MP3 dan didengarkan terus-

menerus untuk ditulis dalam bentuk transkip wawancara. Hal

tersebut dilakukan pada semua data yang sudah dalam bentuk

transkip kemudian dibaca berulang kali untuk diinterpretasikan

menjadi sebuah hasil penelitian.

2. Prosedur pengumpulan data

a. Tahap persiapan

Pengumpulan data dimulai setelah peneliti menyelesaikan

ujian proposal dan diperbolehkan melakukan pengambilan data

di lapangan. Peneliti mengurus surat ijin pengambilan data

mengenai kriteria inklusi partisipan yang dikeluarkan oleh

Program Studi S-1 Keperawatan STIKes Kusuma Husada

kepada Direktur serta bagian diklat RS. Dr. Moewardi.

Partisipan yang memenuhi kriteria inklusi kemudian diberikan

penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian serta


48

dampak yang mungkin terjadi pada proses pengumpulan data.

Peneliti memberi tahu kepada partisipan bahwa akan dilakukan

perekaman wawancara dan pengambilan gambar mengenai

pengalaman perawat dalam menangani kasus gagal jantung

kongestif. Setelah diberikan penjelasan partisipan diminta

kesediaannya untuk menandatangani lembar persetujuan

menjadi partisipan. Selanjutnya peneliti dan partisipan

membuat kontrak waktu dan tempat untuk proses pengambilan

data.

b. Tahap pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan peneliti menyiapkan instrumen inti

dan penunjang. Instrumen inti ini disiapkan dengan melatih

ketrampilan peneliti dalam melakukan wawancara kepada

perawat yang bukan menjadi partisipan, yaitu wawancara

kepada kakak tingkat yang telah bekerja di RSI Klaten pada

tanggal 11 April 2015 pukul 10.00 WIB, kemudian peneliti

melakukan pengembangan diri terhadap proses wawancara.

Instrumen penunjang yang disiapkan meliputi buku, catatan,

bolpoint, pedoman pertanyaan dan kamera untuk

mendokumentasikan gambar pada saat wawancara. Alat

perekam yang sudah dipastikan dapat digunakan kembali

diperiksa dengan baik. Lembar observasi, buku catatan dan


49

bolpoint disiapkan dengan baik kemudian peneliti bertemu

dengan partisipan.

Peneliti datang sesuai dengan waktu dan tempat yang telah

disepakati sebelumnya dengan partisipan. Peneliti melakukan

wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan

semistruktur. Peneliti menggunakan pedoman pertanyaan yang

berisi garis besar pertanyaan yang diajukan kepada partisipan,

pertanyaan wawancara dikembangkan dari jawaban partisipan

tetapi tidak keluar dari pedoman yang telah dibuat. Wawancara

dilakukan 1 kali pada setiap partisipan. Partisipan diberikan

kebebasan untuk memberikan informasi selengkapnya dan

seluas mungkin. Sehingga pertanyaan dan hasil wawancara

yang diperoleh bervarisasi untuk setiap partisipan.

c. Tahap terminasi

Tahap terminasi adalah tahap akhir dari pengumpulan data

yang dilakukan terminasi dengan melakukan validasi terhadap

data yang telah ditemukan kepada informan. Setelah dilakukan

pengambilan data wawancara selanjutnya akan dilakukan

observasi guna menyajikan gambaran realistis perilaku atau

kejadian, dan untuk memvalidasi hasil wawancara dengan hasil

observasi apakah sama dan akan memberikan umpan balik

terhadap pengambilan data yang telah dilakukan. Peneliti

memperlihatkan hasil transkip wawancara dan intrepetasi


50

peneliti kepada informan, jika informan mengatakan apa yang

ditulis peneliti telah sesuai dengan apa yang dimaksud oleh

partisipan dan dilakukan terminasi dengan pemberian ucapan

terimakasih telah bersedia berpartisipasi dalam penelitian dan

menyampaikan bahwa proses penelitian telah selesai. Namun,

jika data belum lengkap peneliti dapat melakukan kontrak

waktu lagi dengan informan hingga data yang dibutuhkan

sudah lengkap.

3.5 Analisa data

Analisa data merupakan proses pengumpulan data, mengajukan

pertanyaan-pertanyaan dari peneliti dan menulis catatan singkat sepanjang

penelitian (Creswell, 2013). Teknik analisa yang tepat yang dapat digunakan

pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode collazi (Creswell,

2013). Berikut ini langkah-langkah analisa adalah sebagai berikut :

3.5.1 Membuat deskripsi informan tentang fenomena dari informan dalam

bentuk narasi yang bersumber dari wawancara

3.5.2 Membaca kembali secara keseluruhan deskripsi informasi dari

informan untuk memperoleh perasaan yang sama seperti pengalaman

informan. Peneliti melakukan 3-4 kali membaca transkip untuk

merasakan hal yang sama seperti informan.


51

3.5.3 Mengidentifikasi kata kunci melalui penyaringan pernyataan informan

signifikan dengan fenomena yang diteliti. Pernyataan-pernyataan yang

merupakan dan mengandung makna yang sama atau mirip maka

pernyataan ini diabaikan.

3.5.4 Memformulasikan arti dari kata kunci dengan cara mengelompokkan

kata kunci yang sejenis. Peneliti sangat berhati-hati agar tidak membuat

penyimpangan dari pernyataan informan dengan merujuk kembali pada

pernyataan yang signifikan. Cara yang perlu dilakukan adalah menelaah

kalimat satu dengan yang lain.

3.5.5 Mengorganisasikan arti-arti yang telah teridentifikasi dalam beberapa

kelompok tema. Setelah tema-tema terorganisir, peneliti menvalidasi

kembali kelompok tema tersebut.

3.5.6 Mengintegrasikan semua hasil penelitian ke dalam suatu narasi yang

menarik dan mendalam sesuai dengan topik penelitian.

3.5.7 Mengembalikan semua hasil penelitian pada masing-masing informan

lalu diikutsertakan pada diskripsi hasil penelitian.

3.6 Keabsahan data

Dalam pengujian keabsahan data pada penelitian ini dicapai dengan

melakukan pengecekan keabsahan temuan untuk menjamin kepercayaan hasil

penelitian. Pada penelitian kualitatif menurut Polit dan Beck (2010)

mengemukakan yang dapat dicapai untuk mendapat kepercayaan tertentu


52

dengan 4 prinsip, meliputi uji creadibility, transferability (validitas eksternal),

dependability (reliabilitas), dan confirmability (obyektivitas).

3.6.1 Creadibility (kepercayaan data)

Kredibilitas data atau ketepatan dan keakuratan suatu data yang

dihasilkan dari studi kualitatif menjelaskan derajat atau nilai kebenaran

dari data yang dihasilkan termasuk proses analisis data tersebut dari

penelitian yang dilakukan. Suatu hasil penelitian dikatakan memiliki

kredibilitas yang tinggi atau baik ketika hasil-hasil temuan pada

penelitian tersebut dapat dikenali dengan baik oleh partisipannya dalam

konteks sosial mereka.

Pada penelitian ini kredibilitas dicapai dengan melakukan validasi

kembali hasil wawancara dan catatan lapangan untuk dilihat dan dibaca

partisipan apakah ada diantara ungkapan dan pernyataan tidak sesuai

dengan maksud partisipan. Partisipan juga diberi kesempatan untuk

memberi gambaran yang sebenarnya dirasakan oleh partisipan. Peneliti

juga berkonsultasi dengan pembimbing terkait hasil pengumpulan data

yang diperoleh. Prinsip ini untuk mengetahui apakah kebenaran hasil

penelitian kualitatif dapat dipercaya dalam mengungkapkan kenyataan

yang sesungguhnya antara konsep peneliti dengan konsep partisipan.

3.6.2 Transferability (keteralihan data)

Seberapa mampu suatu hasil penelitian kualitatif dapat

diaplikasikan dan dialihkan pada keadaan suatukonteks lain atau

kelompok ataupartisipan lainnya merupakan pertanyaan untuk menilai


53

kualitas tingkat keteralihannya atau transferabilitas. Penilaian

keteralihan suatu hasil penelitian kualitatif ditentukan oleh para

pembaca. Istilah transferabilitas dapat dipakai pada penelitian kualitatif

untuk menggantikan konsep generalisasi telah banyak dibahas dan

direspon oleh para peneliti, baik kuantitatif maupun kualitatif.

Penulis melibatkan pembimbing dalam penulisan dan pelaporan

hasil agar mudah dipahami oleh pembaca, selain itu peneliti membuat

uraian yang diteliti dan secermat mungkin sehingga menghasilkan

diskripsi yang padat dan dapat digunakan pada setting lain dengan

konsep dan karakteristik yang sama.

3.6.3 Dependability (ketergantungan)

Dependabilitas mempertanyakan tantang konsistensi dan reabilitas

suatu instrumen yang digunakan lebih dari sekali penggunaan. Masalah

yang ada pada studi kualitatif adalah instrumen penelitian dan peneliti

sendiri sebagai manusia memiliki sifat-sifat manusia yang sepenuhnya

tidak pernah dapat konsisten dan dapat diulang walaupun dengan

kondisi dan keadaan yang sama dan sangat dipengaruhi oleh latar

belakang peneliti terutama berkaitan dengan apa saja yang

diintrepetasikan dan disimpulkan oleh peneliti tersebut. Peneliti sebagai

instrumen kunci dapat membuat kesalahan dalam menginterpretasikan

data sehingga timbul ketidakpercayaan pada peneliti. Agar penelitian

ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, peneliti melibatkan

seseorang yang berkompeten di bidangnya yaitu selalu melibatkan


54

pembimbing selama penelitian, analisa data dan penulisan hasil

penelitian untuk menjaga dependabilitas hasil penelitian (Afiyanti,

2014).

3.6.4 Confirmability

Konfirmabilitas menggantikan aspek objektivitaspada penelitian

kualitatif, namun tidak persis sama arti dari keduanya, yaitu kesediaan

peneliti untuk mengungkap secara terbuka proses dan elemen-elemen

penelitiannya. Aspek confirmability dipenuhi peneliti dengan

melakukan konfirmasi kembali terhadap hasil interpretasi kepada

partisipan dan pembimbing serta mengintregasikan dengan catatan

lapangan dan hasil observasi.

Strategi yang digunakan untuk memperoleh keabsahan data pada

penelitian ini adalah dengan melakukan triangulasi (Denzin & Lincoln,

2005 di dalam Rachmawati & Afiyanti, 2014). Triangulasi yang dapat

dilakukan peneliti antara lain:

1. Triangulasi data

Teknik triangulasi data, yaitu peneliti menggunakan berbagai

sumber data yang dapat digunakan selama riset dilakukan. Data

yang didapatkan dari partisipan kemudian divalidasi dengan

menggunakan dokumentasi keperawatan yaitu Asuhan

Keperawatan pada Pasien Gagal Jantung Kongestif di ruang

IGD RS Dr. Moewardi.

2. Triangulasi peneliti
55

Teknik triangulasi peneliti, yaitu peneliti bekerja sama dengan

peneliti lain untuk mengurangi potensial bias dari satu riset

dengan dilakukannya uji validitas. Pada penelitian ini peneliti

menggunakan jurnal penelitian yang membahas masalah yang

sama dengan penelitian yang peniliti lakukan, hasil skripsi dan

tesis dari universitas lainnya. Pandangan dan tafsir yang

dilakukan oleh beberapa peneliti terhadap semua informasi

yang berhasil digali dan dikumpulkan yang berupa catatan,

bahkan sampai dengan simpulan sementara, diharapkan bisa

terjadi pertemuan pendapat yang pada akhirnya bisa lebih

memantapkan hasil akhir penelitan.

3. Triangulasi teori

Teknik triangulasi teori, yaitu peneliti menggunakan berbagai

perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan

yang dikaji. Peneliti menggunakan beragam teori yang

membahas mengenai gagal jantung kongestif, pengalaman dan

peran perawat.

3.7 Etika penelitian

3.7.1 Informed Consent (lembar persetujuan)

Merupakan cara persetujuan antara peneliti dengan informan

dengan memberikan lembar persetujuan manjadi informan. Tujuannya

agar informan mengetahui maksud dan tujuan peneliti serta dampak


56

yang diteliti selama pengmpulan data. Jika informan setuju, maka

diminta untuk menandatangani lembar persetujuan.

3.7.2 Anonimity (tanpa nama)

Merupakan masalah etika dngan tidak memberikan nama informan

pada alat bantu penelitian, cukup dengan kode yang hanya dimengerti

oleh peneliti.

3.7.3 Confidentially (Kerahasiaan)

Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan

kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah

lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin

kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan

dilaporkan pada riset (Hidayat, 2011).


BAB IV

HASIL PENELITIAN

Pada bab ini akan dijelaskan hasil penelitian mengenai pengalaman

perawat dalam menangani pasien dengan gagal jantung kongestif di IGD RS Dr.

Moewardi Surakarta. Batasan dalam bab ini akan dibagi menjadi tiga bagian, yatu

batasan tentang karakteristik partisipan dan hasil dari analisis tematik. Pada

penelitian ini telah ditemukan tema-tema yang memberikan sebuah gambaran

mengenai pengalaman perawat dalam menangani pasien dengan gagal jantung

kongestif.

4.1 Deskripsi Tempat Penelitian

RS Dr. Moewardi merupakan salah satu Rumah Sakit Negeri tipe A

terbesar yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang berada di

daerah surakarta. RS Dr. Moewardi terletak di jalan Kolonel Sutarto No. 132

Surakarta. Angka kejadian gagal jantung yang terjadi pada tahun 2013 sampai

2014 di RS Dr. Moewardi sebanyak 1081 pasien. Berdasarkan data survei, di

IGD RS Dr. Moewardi memiliki 4 statse pelayanan pasien yang terdiri dari

Ruang Periksa, yaitu penanganan pasien mulai dari triage, pemerikasaan,

observasi dan tindakan, kamar operasi (OK minor), kamar operasi mayor,

HCU, dan ruang obsgyn. sumber daya manusia di IGD terdiri dari Dokter

Spesialis (on site) ada dua yaitu satuan medik fungsional, anak, dan obsgyn,

Dokter Umum sebanyak 13 orang, non medis sebanyak 28 orang dan perawat

71
72

sebanyak 33 orang. Perawat dengan S1 Keperawatan berjumlah 9 orang, D3

Keperawatan sebanyak 22 orang dan D4 Keperawatan ada 2 orang. Instalasi

Gawat Darurat memiliki jam kerja yang dibagi menjadi 3 shift, yaitu pagi,

siang dan malam dan terdiri dari satu shift 7 jam kerja dan 6 perawat yang

bertugas.

4.2 Karakteristik Partisipan di IGD RS Dr Moewardi Surakarta

Partisipan dalam penelitian ini yaitu perawat IGD RS Dr. Moewardi

Surakarta. Wawancara dilakukan pada tanggal 14-17 April 2015. Peneliti

mengambil 4 partisipan, 1 perawat laki-laki dan 3 perawat perempuan dan

berkisar antara umur 26-46 tahun dan masing-masing telah mempunyai

pengalaman dalam bekerja dan para perawat di ruang IGD mempunyai

berbagai pengalaman pelatihan untuk pembaharuan ilmu-ilmu baru tentang

IGD.

4.3 Karakteristik Partisipan

4.3.1 Partisipan 1 (P1)

Tn. S berusia 35 tahun, pendidikan terakhir S1 Keperawatan. Tn. S

bekerja menjadi Pegawai Negeri Sipil selama 10 tahun di RS Dr. Moewardi

Surakarta dan telah mengikuti pelatihan PPGD, BLS, GADAR. Wawancara

kepada partisipan 1 ini dilakukan pada tanggal 14 April 2015 pada pukul

11.15 – 11.30 WIB


73

4.3.2 Partisipan 2 (P2)

Ny. F berusia 32 tahun, pendidikan terakhir D3 Keperawatan. Ny.

F bekerja menjadi pegawai tetap selama 10 tahun di RS Dr. Moewardi

Surakarta dan telah mengikuti pelatian BTCLS, PPGD, Patient Safety.

Wawancara pada partisipan 2 ini dilakukan pada tanggal 15 April 2015

pada 13.20 – 13.35 WIB.

4.3.3 Partisipan 3 (P3)

Ny. N berusia 41 tahun, pendidikan terakhir S1 Keperawatan.

Ny.N bekerja menjadi pegawai tetap selama 10 tahun di RS Dr. Moewardi

Surakarta dan telah mengikuti pelatihan PPGD, BTCLS, KAD. Wawancara

pada partisipan 3 ini dilakukan pada tanggal 16 April 2015 pada 14.10 –

14.30 WIB.

4.3.4 Partisipan 4 (P4)

Ny.S berusia 37 tahun, pendidikan terakhir D3 Keperawatan. Ny.S

bekerja menjadi pegawai tetap selama 13 tahun di RS Dr. Moewardi

Surakarta dan telah mengikuti pelatihan PPGD, BTCLS. Wawancara pada

partisipan 4 ini dilakukan pada tanggal 17 April 2015 pada 13.20 – 13 35

WIB.

4.4 Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil wawancara terhadap 4 partisipan dari perawat

IGD diketahui pengalaman perawat dalam menangani pasien dengan gagal

jantung kongestif. Wawancara dilakukan selama kurang lebih 10-20 menit,


74

waktu dan tempat yang sudah disepakati oleh partisipan sebelumnya dan

saat wawancara dipilih tempat yang jauh dari keramaian supaya partisipan

dapat mengungkapkan jawaban kepada peneliti secara mendalam dan

terbuka mengenai pengalaman, tindakan dan respon emosional partisipan

dalam menangani pasien dengan gagal jantung kongestif.

Penelitian ini menghasilkan 11 tema berdasarkan hasil analisis

tematik yang dilakukan, yaitu: 1) primary survey, 2) secondary survey, 3)

dasar perumusan diagnosa, 4) jenis diagnosa, 5) intervensi mandiri

perawat, 6) intervensi kolaborasi, 7) implementasi mandiri perawat, 8)

implementasi kolaborasi, 9) tipe evaluasi, 10) respon emosional perawat,

11) prinsip penanganan pasien.

4.5 Analisa Tematik

4.5.1 Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam melakukan

pengkajian pada pasien gagal jantung kongestif.

Mengidentifikasi bagaimana perawat melakukan

pengkajian pada pasien gagal jantung kongestif di dapatkan dua

tema yaitu 1) primary survey dan 2) secondary surveydari tema di

atas didapatkan dua katergori yaitu pengkajian airway, breathing,

circulation dan perekaman EKG.

a. Primary surveydisusun oleh pengkajian airway, breathing,

circulation. Pengkajian airway, breathing,

circulationdiungkapkan oleh ketiga partisipan seperti berikut:


75

“...yang penting ABC dulu, Airway Breathing,


Circulation...” (P1)
“...Biasanya sih pasien sesek dilihat pola nafas, ABC nya di
lihat...” (P2)
“...Yang kita kaji pertama kali itu pernapasan...” (P4)

Ungkapan partisipan tersebut menunjukkan bahwa pengkajian

airway, breathing, circulationadalah keluhan pasien terhadap

kondisi yang dirasakan.

b. Seconday survey disusun oleh pengkajian EKG. Pengkajian

EKG yang diungkapkan oleh ketiga partisipan seperti berikut

ini:

“...kedua dari bacaan EKG nya juga bisa...” (P1)


“...sama yo lihat ekg nya juga to, gambaran EKG yang
muncul apa...” (P2)
“...melakukan perekaman EKG...” (P3)
Ungkapan para partisipan tersebut diatas menyatakan bahwa

pengkajian EKG adalah tindakan perekaman EKG untuk

mengetahui irama yang normal atau yang tidak normal pada

pasien.

4.5.2 Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam menetapkan diagnosa

keperawatan pada pasien gagal jantung kongestif.

Mengidentifikasi bagaimana perawat menegakkan diagnosa

keperawatan pada pasien gagal jantung kongestif didapatkan dua

tema yaitu 1) dasar perumusan diagnosa dan 2) jenis diagnosa dari

tema diatas didapatkan empat kategori yaitu data subyektif, data

obyektif, diagnosa aktual dan diagnosa prioritas.


76

a. Dasar perumusan diagnosa disusun oleh data subyektif dan data

obyektif. Data subyektif yang diungkapkan oleh keempat

partisipan seperti berikut:

“....jadi kan kita tanya riwayat penyakitnya...” (P1)


“...Ya... dilihat dari anamnesanya..” (P2)
“....berdasarkan keluhan pasien pada saat itu...” (P3)
“...lihat kondisinya pasien, keluhannya apa aja...” (P4)
Ungkapan para partisipan tersebut menunjukkan bahwa

data subyektif merupakan data yang kita peroleh dari hasil

anamnesa pasien misalkan riwayat penyakitnya yang diungkapkan

saat partisipan melakukan anamnesa.

Selain kategori data subyektif tema dasar perumusan

diagnosa juga disusun oleh kategori data obyektif yang

diungkapkan oleh keempat partisipan sebagai berikut:

“...kedua dari bacaan EKG nya juga bisa...”(P1)


“....kita lihat hasil EKGnya bagaimana...”(P2)
“...keringat dingin, dilihat vital sign nya, RR naik, nadinya
juga dilihat...” (P2)
“...pasiennya mestinya ada dyspneu, sesak napas itu, trus
nyeri dada juga..” (P3)
Ungkapan partisipan tersebut menunjukkan bahwa data obyektif

merupakan data yang kita peroleh dari observasi kondisi pasien.

b. Jenis diagnosa disusun oleh diagnosa aktual dan diagnosa

prioritas. Diagnosa aktual yang telah diungkapkan oleh

keempat partisipan sebagai berikut:

“...kebanyakan biasanya gangguan perfusi jaringan


jantungnya yang pertama, trus pola nafasnya tidak efektif,
kemudian biasanya terjadi nyeri, intoleransi aktivitas...”
(P1)
77

“...pola nafas tidak efektif, nyeri dada, bersihan jalan nafas


tidak efektif juga bisa, intoleransi aktivitas juga bisa masuk,
tergantung kondisi pasiennya juga..” (P2)
“....pola napas tidak efekif yang paling sering mucul...”(P3)
“...pola napas tidak efektif, rasa tidak nyaman, cemas,
intoleransi aktivitas...” (P4)

Ungkapan partisipan tersebut menunjukkan bahwa dalam

merumuskan diagnosa harus mengetahui jenis diagnosa,

terutama diagnosa pada pasien gagal jantung kongestif dengan

melihat pola nafas , nyeri dan gambaran EKG nya.

Selain kategori diagnosa actual, jenis diagnosa juga disusun

oleh kategori diagnosa prioritas yang diungkapkan oleh empat

partisipan sebagai berikut:

“...yang kita prioritaskan pola nafasnya tidak efektif...”


(P1)
“...pola nafas tidak efektif yang pertama..” (P2)
“....pola napas tidak efekif yang paling atas...”(P3)
“...pertama pola napas tidak efektif...” (P4)
Ungkapan partisipan tersebut menyatakan bahwa diagnosa

prioritas merupakan diagnosa yang paling diprioritaskan adalah

diagnosa pola nafas tidak efektif yang dilihat dari penapasan

pasien dengan gagal jantung kongestif.

4.5.3 Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam merencanakan

tindakan keperawatan pada pasien gagal jantung kongestif.

Mengidentifikasi bagaimana perawat melakukan intervensi

pada pasien gagal jantung kongestif di dapatkan dua tema yaitu 1)

intervensi mandiri perawat dan 2) intervensi kolaborasi. Dari tema


78

di atas didapatkan tiga kategori yaitu mengatur posisi pasien,

kolaborasi oksigen dan kolaborasi obat.

a. Intervensi mandiri perawat disusun oleh mengatur posisi

pasien. Mengatur posisi pasien yang diungkapkan oleh keempat

partisipan sebagai berikut:

“...pertama tetep posisi nyaman dulu...” (P1)


“...trus beri posisi yang nyaman...” (P2)
“...nursingnya kita bisa kita beri posisi nyaman...”(P3)
“...atur posisi semi fowler..” (P4)
Ungkapan para partisipan tersebut menyatakan bahwa

pemberian posisi yang nyaman kepada pasien merupakan

intervensi mandiri perawat yang dilakukan pada pasien gagal

jantung kongestif.

b. Intervensi kolaborasi disusun oleh kolaborasi oksigen dan

kolaborasi obat. Kolaborasi oksigen diungkapkan oleh keempat

partisipan sebagai berikut:

“...Kita kasih oksigen..” (P1)


“...Misal sesek ya kita kasih oksigen. O2 nya itu bisa nasal
atau NRM..”(P2)
“...pemberian oksigen kalau untuk yang tadi apa namanya
kolaborasi dengan dokter...” (P3)
“...berikan oksigen dengan nasal kanul...” (P4)
Ungkapan para patisipan tersebut menyatakan bahwa

kolaborasi oksigen merupakan penanganan atau tindakan yang

dilakukan oleh partisipan saat pasien mengalami sesak napas.

Tindakan tersebut diantaranya adalah memberikan bantuan

oksigen.
79

Selain kategori kolaborasi oksigen, tema intervensi kolaborasi

juga disusun oleh kategori kolaborasi obat yang diungkapkan

oleh kedua partisipan seperti berikut:

“...Trus kolaborasi dengan dokter misalnya pemberian


furosemid misalnya...” (P1)
“...Trus bisa dikasih kolaborasi pemberian analgetik
misalkan pasiennya nyeri banget trus pemberian diuretik
dan obat lainnya seperti itu...” (P2)
Ungkapan para partisipan tersebut menunjukkan bahwa

kolaborasi obat merupakan pemberian obat-obatan pada pasien

gagal jantung kongestif contohnya furosemid.

4.5.4 Tujuan khusus 4 : Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam

melakukan implementasi tindakan pada pasien gagal jantung

kongestif.

Mengidentifikasi bagaimana perawat melakukan

implementasi pada pasien gagal jantung kongestif

didapatkan dua tema yaitu 1) implementasi mandiri perawat

dan 2) implementasi kolaborasi dari tema di atas didapatkan

dua kategori yaitu mengatur posisi pasien dan pemberian

obat.

a. Implementasi mandiri perawat disusun oleh satu

kategori yaitu mengatur posisi pasien yang telah

diungkapkan oleh ketiga partisipan seperti berikut:

“...Pasien datang yang penting yang pertama pasti


kita atur posisi senyaman mungkin ...” (P1)
“...memberikan posisi nyaman pasien...” (P3)
80

“...memberikan posisi nyaman...”(P4)


Ungkapan para partisipan tersebut menyatakan bahwa

pemberian posisi yang nyaman kepada pasien

merupakan implementasi mandiri perawat yang

dilakukan pada pasien gagal jantung kongestif.

b. Implementasi kolaborasi disusun oleh satu kategori

yaitu pemberian obat. Pemerian obat pada pasien gagal

jantung kongestif diungkapkan oleh dua partisipan

seperti berikut:

“...memberikan obat kolaborasi dokter...”´(P2)


“...kemudian ya kalau ada terapi dari dokter ya kita
memberikan terapi dokter sesuai dengan advise,
misalkan dia meberikan terapi injeksi misalnya
furosemid ya kita berikan...” (P3)
Ungkapan para partisipan tersebut menunjukkan bahwa

kolaborasi obat merupakan implementasi kolaborasi

dengan memberikan obat-obatan pada pasien gagal

jantung kongestif contohnya furosemid

4.5.5 Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam melakukan evaluasi

tindakan pada pasien gagal jantung kongestif.

Mengidentifikasi bagaimana perawat melakukan evaluasi

pada pasien gagal jantung kongestif telah didapatkan satu tema

yaitu tipe evaluasi, dari tema tersebut didapatkan dua kategori yaitu
81

evaluasi obyektif dan evaluasi subyektif. Evaluasi obyektif yang

dilakukan diungkapkan oleh keempat partisipan seperti berikut:

“...jadi kita evaluasi kira-kira tadi misalnya pasiennya yang


sesak tadi RR nya berapa sekarang jadi berapa bisa
dievaluasi..” (P1)
“...kita bandingkan sudah ada perbedaan apa belum,
membaik atau meburuk...” (P2)
“...ya apa yang sudah kita berikan tadi ya kita konsulkan
lagi ke bagian jantung...” (P3)
“...Tanda-tanda vital, kondisi pasien, KU nya pasien trus
apa ya.. ya kita lihat juga hasil laborat menunjukkan hasil
yang bagaimana...”(:P4)

Ungkapan para partisipan tersebut menunjukkan bahwa

evaluasi obyektif merupakan pemerikasaan vital sign untuk

mengetahui perkembangan pasien.

Selain kategori evaluasi obyektif, tema tipe evaluasi juga

disusun oleh kategori evaluasi subyektif yang telah diungkapkan

oleh satu partisipan seperti berikut:

“...bisa ditanyakan ke pasiennya kalau pasiennya sadar


sudah merasa enakan apa belum...” (P2)
Ungkapan partisipan tersebut menunjukkan bahwa evaluasi

subyektif merupakan keadaan dimana pasien mengungkapkan

keadaan yang dirasakan misalkan perasaan saat ini atau sudahkah

hilang nyeri yang dirasakan pasien.

4.5.6 Mengidentifikasi dampak emosi perawat dalam menejemen kasus

gagal jantung kongestif.

Mengidentifikasikan segala respon emosi yang dirasakan

pasien saat menangani pasien gagal jantung kongestif telah


82

didapatkan dua tema yaitu respon emosional dan prinsip

penanganan pasien. Dari tema diatas telah didapatkan tujuh

kategori yaitu empati, kasihan, rasa bersalah, rasa tanggung jawab,

kepuasan diri, cepat dan tepat.

a. Tema respon emosional disusun oleh lima kategori yaitu,

empati, kasihan, rasa bersalah, rasa tanggung jawab dan

kepuasan diri. Empati diungkapkan oleh satu pertisipan seperti

berikut:

“...ya harus berempati lah pada pasien itu tapi kita harus
profesional. Jadi yang penting kita segera lakukan tindakan
walaupun kita juga berempati pada keluarganya...” (P1)
Ungkapan dari partisipan tersebut menunjukkan bahwa

empati adalah perasaan iba dimana partisipan seolah-olah juga

ikut merasakan apa yang dirasakan oleh pasien.

Selain itu tema respon emotional juga disusun oleh kategori

kasihan yang telah diungkapkan oleh ketiga partisipan seperti

berikut:

“...Kalau kasihan sih iya tapi kan kita juga harus


profesional dalam melakukan tindakan soalnya
menyangkut keselamatan pasien toh..” (P2)
“...ya walapun kasihan melihat pasien seperti itu kita
harus tetap tenang...” (P3)
“...Ya merasa kasihan tapi harus tenang tidak boleh
panik walapun sedang menangani pasien yang gawat
darurat...” (P4)
Ungkapan dari para partisipan tersebut menunjukkan bahwa

kasihan adalah perasaan iba yang timbul saat menangani pasien

gagal jantung kongestif.


83

Selain itu tema respon emotional juga disusun oleh kategori

rasa bersalah yang telah diungkapkan oleh ketiga partisipan

seperti berikut:

“....kalau pasiennya tidak terselamatkan rasa bersalah


pasti ada...” (P1)
“...ada rasa bersalah juga kalau pasiennya
meninggal...”(P2)
“...ya kalau kita sudah memberikan yang terbaik tetapi
pasien tidak tertolong mungkin itu takdir, tapi saya pribadi
tetap ada rasa bersalah, kalau saja bisa memberikan yang
lebih baik dan lebih cepat pasti saya berikan...”(P3)
Ungkapan para partisipan tersebut menunjukkan adanya

rasa bersalah kepada pasien dengan gagal jantung kongestif

yang tidak tertolong.

Selain itu tema respon emotional juga disusun oleh kategori

rasa tanggung jawab yang telah diungkapkan oleh ketiga

partisipan seperti berikut:

“....ya merasa ikut bertanggung jawab, kalau kita saja kita


bisa lebih cepat melakukan tindakan kemungkinan pasien
akan tertolong...” (P4)
Ungkapan dari partisipan tersebut menunjukkan rasa

tanggung jawabnya terhadap profesinya sebagai perawat yang

profesional pada pasien dengan gagal jantung kongestif yang

tidak tertolong.

Selain itu tema respon emotional juga disusun oleh kategori

kepuasan diri yang telah diungkapkan oleh ketiga partisipan

seperti berikut:

“...bisa menyelamatkan pasien itu ya kesenangan


tersendiri, seperti itu..” (P2)
84

“.. kalau kita bisa memberikan asuhan keperawatan dengan


baik dan semaksimal mungkin kemudian pasien bisa
membaik aja udah senang apalagi kalo bisa pulang dengan
sehat gitu ya senang sekali hehehe..” (P1)
“...perasaannya ya senang dong..” (P3)
“... rasanya ya senang, pasiennya bisa selamat aja udang
senang apalagi kalau bisa sembuh..” (P4)
Ungkapan dari para partisipan di atas menunjukkan bahwa

kepuasan diri merupakan perasaan senang dan senang sekali

saat menyelamatkan pasien dengan gagal jantung kongestif.

b. Prinsip penanganan pasien disusun oleh cepat dan tepat.

Kategori cepat diungkapkan oleh dua partisipan seperti berikut:

“...ya harus segera ditangani, di igd kan harus serba cepat


dan tepat...” (P2)
“...Ya kita harus menangani pasien yang datang ke IGD
sesegera mungkin..” (P4)
Ungkapan partisipan tersebut menunjukkan bahwa cepat

adalah prinsip tindakan dalam melakukan penanganan pasien

dengan gagal jantung kongestif.

Selain itu, tema prinsip penanganan pasien juga disusun

oleh kategori tepat yang telah diungkapkan oleh satu partisipan

seperti berikut:

“...ya harus segera ditangani, di igd kan harus serba


cepat dan tepat...” (P2)
Ungkapan partisipan tersebut menunjukkan bahwa tepat

adalah prinsip tindakan dalam melakukan penanganan pasien

dengan gagal jantung kongestif.


BAB V

PEMBAHASAN

5.1 Pengkajian pada pasien gagal jantung kongestif

5.1.1 Primary Survey

Hasil penelitian menunjukkan bahwa primary survey yang

dilakukan oleh beberapa partisipan merupakan pengkajian airway,

breathing dan circulation. Pada pengkajian airway partisipan

mengkaji jalan napas pasien. Pada pengkajian breathing partisipan

mengkaji sesak napas yang dirasakan pasien. Sedangkan pada

pengkajian circulation partisipan melakukan pengkajian berupa

resusitasi cairan atau perbaikan volume.

Primary survey adalah kegiatan yang komprehensif dan

menghasilkan kumpulan data mengenai status kesehatan klien,

kemampuan klien untuk mengelola kesehatan dan perawatan

terhadap dirinya sendiri, serta hasil konsultasi medis (terapis) atau

profesi kesehatan lainnya (Taylor Lillis dan LeMone, 1996 dalam

Nursalam, 2008)

Dalam sumber lain menyatakan primary survey merupakan

pendekatan pada klien sehingga ancaman kehidupan segera dapat

secara cepat diidentifikasi dan tertanggulangi dengan efektif. Pada

primary surveyada tahapan yang harus dilakukan yaitu airway,

breathing, circulation, disability dan eksposure (Kristanty, 2002).

71
72

Pertolongan kepada pasien gawat darurat dilakukan dengan

terlebih dahulu melakukan survey primer untuk mengidentifikasi

masalah-masalah yang mengancam hidup pasien, barulah

selanjutnya dilakukan survei sekunder. Tahapan pengkajian primer

meliputi : A: Airway, mengecek jalan nafas dengan tujuan menjaga

jalan nafas disertai control sevical; B: Breathing, mengecek IPPA,

yaitu imspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi dengan tujuan

mengelola pernafasan agar oksigen adekuat; C: Circulation ,

pemerikasaan syok, memeriksa nadi pasien, mengecek sistem

sirkulasi disertai kontrol perdarahan, perbaikan volume cairan; D:

Disability, mengecek status neurologis seperti GCS yang meliputi

pemeriksaan respon buka mata, respon verbal dan respon motorik;

E: Exporsure, enviromental control, buka baju penderita tapi cegah

hipotermia (Holder, 2002).

American Heart Association (2012) menjelaskan

pengkajian primary surveypada pasien gagal jantung konngestif

didapatkan pada pengkajian Airway yaitu Batuk persisten atau

mengi ini disebabkan oleh penumpukan cairan di paru akibat aliran

balik balik darah ke paru-paru, Breathing yaitu kesulitan bernafas

atau sesak nafas saat melakukan kegiatan atau saat beristirahat

dengan posisi supinasi. Hal ini disebabkan karena aliran balik darah

di vena pulmonalis ke paru-paru karena jantung tidak mampu

menyalurkannya. Hal ini menyebabkan bendungan darah di paru-


73

paru, Circulation yaitu Edema disebabkan oleh aliran darah yang

keluar dari jantung melambat, sehingga darah yang kembali ke

jantung melalui pembuluh darah terhambat. Hal tersebut

mengakibatkan cairan menumpuk di jaringan.Kerusakan ginjal

yang tidak mampu mengeluarkan natrium dan air

jugamenyebabkan retensi cairan dalam jaringan. Penumpukan

cairan di jaringanini dapat terlihat dari bengkak di kaki maupun

pembesaran perut.Peningkatan denyut nadi dapat teramati dari

denyut jantung yang berdebar-debar (palpitasi). Hal ini merupakan

upaya kompensasi jantungterhadap penurunan kapasitas memompa

darah (AHA, 2012).

Pengkajian primary survey pada pasien gagal jantung

kongestif pada geriatri didapatakan data sesak saat istirahat atau

beraktivitas, peningkatan JVP, edema perifer dan retensi cairan

seperti kongesti paru atau edema pergelangan kaki (Imaligy, 2014).

Pernyataan mengenai primary survey yang dilakukan

partisipan didapatkan 3 pengkajian yaitu pengkajian airway,

breathing dan circulation. Namun menurut teori terdapat 5

pengkajian pada tahap primary survey, meliputi: Airway,

Breathing, Circulation, Disability dan Exporsure. Berarti pada

tahap ini partisipan belum melakukan tindakan secara menyeluruh

untuk primary survey. Akibat dari primary survey tidak dilakukan

secara menyeluruh adalah pasien dapat mengalami trauma kapitis


74

terutama apabila ada penurunan kesadaran jika tidak dilakukan

pengkajian pada tahap Disability, selanjutnya jika pengkajian

Exposure tidak dilakukan pasien dapat mengalami perdarahan

intrakranial yang menyebabkan kematian dengan sangat cepat

karena memerlukan pemeriksaan evaluasi keadaan neurologis

selain itu melepas baju pasien juga dilakukan untuk evaluasi

kelainan atau injury tapi diusahakan pasien terjaga kehangatannya

agar tidak mengalami hipotermia. (Kristanty, 2002).

5.1.2 Secondary Survey

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secondary survey

merupakan pengkajian EKG. Pemeriksaan EKG dilakukan saat

kita melakukan pengkajian pasien CHF untuk mengetahui adakah

irama jantung yang tidak normal.

Secondary survey merupakan aktivitas lain dimana perawat

gawat darurat dapat mengantisipasi termasuk insersi gastic tube

untuk dekompresi saluran pernafasan untuk mencegah muntah

dan aspirasi dan analisa laboratorium darah, tim resusitasi juga

melakukan suatu pengkajian head to toe yang lebih komprehensif

(Krisanty, 2002).

Pada sumber lain mengatakan secondary survey merupakan

penanganan lanjutan setelah dilakukannya primary survey.

Pemeriksaan secara lengkap dilakukan secara head to toe, dari


75

depan hingga belakang. Secondary survey hanya dilakukan

setelah kondisi pasien mulai stabil, dalam artian tidak mengalami

syok atau tanda-tanda syok telah mulai membaik. (Nursalam,

2011).

Secondary survey (penilaian rinci atau fokus) adalah

pemeriksaan sistematis head to toe dari setiap bagian dari tubuh

pasien, termasuk meniilai tanda-tanda vital dan memperoleh

riwayat pasien, perawat melakukan secondary survey untuk

memastikan kondisi medis atau identifikasi trauma. Hal ini akan

memungkinkan indentifikasi perubahan kondisi pasien. (Holder,

2002).

Pemeriksaan secondary survey dibagi menjadi beberapa

tahap yaitu F: Full set of vital sign, perawat melakukan

pemeriksaan vital sign, lima intervensi (monitor jantung,

pemasangan NGT, pemasangan kateter urin, pemeriksaan

laboratorium darah, monitoring saturasi oksigen), mensupport

sistem dari keluarga, G: Give comfort measure, pada tahap ini

dilakukan tindakan farmakologi dan non farmakologis untuk

pengurang nyeri dan kecemasan pasien, H: History of head to toe,

di sini tindakan yang dilakukan adalah history menggunakan

prinsip SAMPLE yaitu S : Subyektif (keluhan utama), Allergies

(adakah alergi terhadap makanan atau obat-obatan), M:

Medication (obat-obatan yang sedang dikonsumsi), P: Past


76

medical history (riwayat penyakit), L:Last oral intake (masukan

oral terakhir, apakah benda padat atau cair), E: Event (riwayat

masuk rumah sakit) (Price, 2005)

Menurut Antonius, dkk (2009) pengkajian penunjang

sebagai langkah pengkajian secondary survey harus dilakukan

perekaman EKG untuk melihat adanya hipertrofi atrium/ ventrikel

dan gangguan irama misalnya takikardi supra ventrikular.

Pemeriksaan penunjang lain yang harus dilakukan antara lain foto

thoraks untuk mengenali adanya kardiomegali, ekokardiografi

untuk melihat kelainan anatomis dan kontraktilitas jantung, darah

rutin, elektrolit dan analisa gas darah. Perekaman EKG digunakan

dalam mendiagnosis penyakit gagal jantung kongestif. Hasil

perekaman EKG yang dapat mengidentifikasi gagal jantung

kongestif dilihat adanya Hipertrofi atrial atau ventrikuler,

penyimpangan aksis, iskemia, disritmia, takikardi, fibrilasi atrial

(Austaryani, 2012).

Penegakan diagnosis harus didukung dengan adanya

pemeriksaan diagnostik EKG 12 sadapan dengan tujuan untuk

menilai irama jantung menentukkan keberadaan hipertropi

ventrikel kiri atau riwayat infark miokard (ada atau tidak adanya

Q wave) (Imaligy, 2014).

Pengkajian secondary survey dilakukan pemeriksaan EKG

dengan hasil Hipertropi atrial atau ventrikuler, penyimpangan


77

aksis, iskemia, disritmia,takikardi, fibrilasi atrial. Pada

elektrokardiografi 12 lead didapatkan gambaranabnormal pada

hampir seluruh penderita dengan gagal jantung,

meskipungambaran normal dapat dijumpai pada 10% kasus.

Gambaran yang seringdidapatkan antara lain gelombang Q,

abnormalitas ST – T, hipertrofi ventrikelkiri, bundle branch block

dan fibrilasi atrium. Bila gambaran EKG dan foto dadakeduanya

menunjukkan gambaran yang normal, kemungkinan gagal

jantungsebagai penyebab dispneu pada pasien sangat kecil

kemungkinannya (Budiyarti, 2013).

Pada penelitian ini partisipan menyatakan bahwa secondary

survey merupakan kegiatan pemeriksaan EKG. Namun menurut

teori secondary survey merupakan pemeriksaan secara lengkap

secara subyektif yaitu F: Full set of vital sign, G: Give comfort

measure, H:History and head to toe.

5.2 Pegalaman perawat dalam menetapkan diagnosa keperawatan pada

pasien gagal jantung kongestif

5.2.1 Dasar perumusan diagnosa

Hasil penelitian menyatakan bahwa dasar perumusan

diagnosa merupakan hasil dari anamnesa yang dirumuskan pada


78

permasalahan-permasalahan yang tuimbul pada pasien. Selain itu

salah satu partisipan juga mengungkapkan bahwa dasar perumusan

diagnosa didapatkan menurut riwayat dahulu pada pasien gagal

jantung kongestif, riwayat penyakit dahulu didapatkan atas dasar

anamnesa pada pasien tersebut. Pada penilitian ini didapatkan

dasar perumusan diagnosa dari data subyektif dan data obyektif.

Dasar perumusan diagnosa merupakan hasil dari pengkajian

yang dilakukan saat wawancara kepada pasien, pengkajian fisik,

observasi, review rekam medic atau keperawatan, dan hasil

diagnostik serta kolaborasi dengan teman sejawat, sehingga data

yang diperoleh digunakan untuk dasar perumusan diagnosa pasien.

Dengan adanya dasar perumusan diagnosa, perawat akan lebih

jelas menentukan tindakan (Nursalam, 2011).

Dasar perumusan diagnosa terdiri atas bagian respons klien.

Di dalam bukunya Stole hanya menampilkan diagnosa

keperawatan dengan respon klien saja karena kondisi spesifik klien

yang timbul dari kondisi klien yang nyata karena tidak

diidentifikasi. Apabila perawat dapat mengidentifikasi kondisi

yang mempengaruhi respons klien, maka dapat dituliskan dua

diagnosa yang terdiri dari data obyektif dan data subyektif. Data

subyektif berisi data dari pasien melalui anamnesis (wawancara)

yang merupakan ungkapan langsung sedangkan data obyektif

berisi sata dari hasil observasi melalui fisik pasien (Stole, 2004).
79

Dasar perumusan diagnosa diambil dari hasil pengkajian

data subjektif dan objektif baik dari primary survey atau secondary

survey serta pemeriksaan penunjang hasil lab seperti AGD, EKG,

dan rontgen (Budiyarti, 2013).

Partisipan dalam penelitian ini menyatakan bahwa dasar

perumusan diagnosa merupakan mengkaji data subyektif dan data

obyektif yang didapat dari menganamnesa pasien saat masuk IGD.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa

dasar perumusan diagnosa merupakan wawancaryang didapat dari

menganamnesa pasien saat masuk IGD. Hasil penelitian ini sesuai

dengan teori yang menyatakan bahwa dasar perumusan diagnosa

merupakan wawancara kepada pasien, pengkajian fisik sampai

riwayat pasien sehingga data yang diperoleh dapat dijadikan acuan

partisipan untuk menjadi dasar merumuskan diagnosa.

5.2.2 Jenis diagnosa

Hasil penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa

dalam mendiagnosa pasien dengan gagal jantung kongestif

memiliki berbagai jenis diagnosa salah satunya adalah pola

nafas tidak efektif yang ditandai oleh frekuensi nafas yang

melebihi batas normal. Salah satu partisipan juga

mengungkapkan bahwa nyeri dan kekurangan oksigen dapat

dijadikan jenis diagnosa pada pasien gagal jantung kongestif.


80

Pada penelitian ini didapatkan dua jenis diagnosa yaitu diagnosa

actual dan diagnosa prioritas. Pada diagnosa ketidakefektifan

pola nafas dapat dimasukan ke dalam diagnosa prioritas.

Jenis diagnosa merupakan pernyataan yang menguraikan

respon actual dan potensial terhadap masalah kesehatan yang

perawat mempunyai izin dan berkompeten untuk mengatasinya

(Carpenito, 2000).

Jenis diagnosa di sini di bagi dua yaitu diagnosa aktual

dan diagnosa resiko. Diagnosa aktual adalah diagnosis yang

telah divalidasikan melaui batasn karakteristik mayor yang

diidentifikasi atau menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai

dengan data klinik yang ditemukan. Sedangkan diagnosa resiko

merupakan keputusan klinis tentang individu, keluarga atau

komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah

dibandingkan individu atau menjelaskan masalah kesehatan

nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi (Carpenito,

2000).

Penentuan prioritas diagnosis ditentukan dengan

manifestasi gagal jantung yang utama yaitu sesak napas dan rasa

lelah, yang membatasi kemampuan melakukan kegiatan fisik

sehingga diagnosis yang utama adalah pola nafas tidak efektif

(Setiawati & Nafrialdi, 2007).


81

Keluhan utama pada pasien dengan gagal jantung

kongestif adalah sesak nafas dan kelemahan saat beraktivitas.

Data keluhan utama tersebut menjadi sumber penentuan priortas

diagnosa yang aktual dan menjadi prioritas pertama yaitu pola

nafas tidak efektif (Mutaqqin, 2009).

Gagal jantung merupakan suatu kegagalan kerja jantung

dalam memompa darah dan menghantarkan oksigen dan nutrisi

kesuluruh jaringan tubuh. Gagal jantung dapat berakibat suplai

oksigen ke sel tubuh menjadi berkurang sehingga ketika sel paru

kekurangan oksigen maka tanda klinis yang dirasakan adalah

sesak nafas dan jika seluruh tubuh mengalami kekurangan

oksigen maka tubuh akan merasa lemas dan mudah lelah saat

melakukan aktivitas. Prioritas masalah pada pasien gagal

jantung adalah pola nafas tidak efektif ( Roni, dkk, 2010).

Pengelompokan data pengkajian dan analisi data,

diperoleh diagnosa keperawatan pola napas tidak efektif,

penurunan curah jantung, kelebihan volume cairan, dan

intoleransi aktivitas. Pengambilan diagnosa disesuaikan dengan

hasil data yang diperoleh seperti adanya rasa sesak nafas,

kelemahan, edema pergelangan kaki serta mudah lelah dan sesak

saat beraktivitas (Budiyarti, 2013).

Dalam penelitian ini partisipan menyatakan bahwa dalam

merumuskan diagnosa harus mengetahui jenis diagnosa,


82

terutama diagnosa pada pasien gagal jantung kongestif dengan

melihat pola nafas, nyeri dan gambaran EKG nya seihingga

diprioritaskan adalah diagnosa pola nafas tidak efektif yang

dilihat dari penapasan pasien dengan gagal jantung kongestif.

Pernyataan partisipan sesuai dengan teori yang menyatakan

bahwa diagnosis yang utama pada pasien gagal jantung

kongestif adalan pola nafas tidak efektif.

5.3 Intervensi Keperawatan untuk pasien gagal jantung kongestif

5.3.1 Intervensi mandiri perawat

Hasil penelitian menyatakan bahwa intervensi mandiri perawat

merupakan keadaan diamana partisipan menentukan rencana

tindakan secara mandiri. Para partisipan mengungkapan bahwa

memberikan posisi nyaman pada pasien ialah sebagai intervensi

mendiri perawat yang dapat dimasukan dalam intervensi

keperawatan khususnya pada pasien gagal jantung kongestif.

Tindakan umum yang dapat dilakukan oleh perawat dalam

menangani masalah gagal jantung kongestif yaitu dengan tirah

baring dan posisi setengah duduk sehingga dapat memberikan aruh

balik yang lebih rendah pada posisi jantung dan memperbaiki suplai

oksigen dan nutrisi pada jantung itu sendiri (Antonius, dkk, 2009).

Intervensi posisi tirah baring serta pembatasan aktivitas dapat

mengrangi beban kerja jantung sehingga dapat membantu jantung


83

untuk tidak bekerja dengan berat dan suplai oksigen dapat

dihantarkan keseluruh sel, termasuk dalam sel jantung itu sendiri

(Mutaqqin, 2009).

Menurut Smeltzer dan Bare (2002) intervensi keperawatan pada

pasien gagal jantung adalah meningkatkan istirahat pasien,

menghilangkan kecemasan, memperbaiki perfusi jaringan dan

pemahaman perawatan diri serta tidak terjadi komplikasi.

Pemberian posisi high fowler bertujuan untuk mengurangi

kongesti pulmonal dan mengurangi sesak napas. Kaki pasien sebisa

mungkin tetap diposisikan dependen atau tidak dielevasi, meski kaki

pasien edema karena elevasi kaki dapat meningkatkan venous return

yang akan memperberat beban awal jantung (Black & Hawks, 2009).

Para partisipan menyatakan bahwa pemberian posisi yang

nyaman kepada pasien merupakan intervensi mandiri perawat yang

dilakukan pada pasien gagal jantung kongestif salah satunya posisi

setengah duduk. Beberapa sumber menerangkan bahwa posisi yang

paling baik adalah posisi nyaman yang dirasakan pasien seperti tirah

baring atau posisi lainya serta adanya pembatasan aktivitas yang

dapat menurunkan beban kerja jantung sehingga mencegah teradinya

peningkatan kerja jantung yang dapat berakibat menurunnya suplai

oksigen ke seluruh jaringan dan sel tubuh. Sehingga posisi yang

dianjurkan adalah posisi nyaman yang dirasakan oleh pasien atau

posisi yang membuat pasien merasa rileks.


84

5.3.2 Intervensi kolaborasi

Hasil penelitian menyatakan bahwa intervensi kolaborasi

merupakan keadaan dimana partisipan melakukan kolaborasi obat

dan kolaborasi oksigen. Hal ini dilakukan untuk mengurangi sesak

nafas yang dirasakan pada pasien gagal jantung kongestif. Selain itu

kolaborasi pemberian obat turut dilakukan pada saat intervensi

kolaborasi, beberapa obat diberikan diantaranya yaitu obat analgetik

dan diuretik.

Intervensi kolaborasi merupakan suatu proses di dalam

pemecahan masalah yang merupakan awal tentang suatu apa yang

dilakukan, bagaiman dilakukan, kapan dilakukan, siapa yang

melakukan dari semua tindakan keperawatan (Dermawan, 2012).

Intervensi kolaborasi pada pasien gagal jantung kongestif

adalah dengan pemberian oksigen serta obat fenorbarbital 2-3

mg/kg/dosis tiap 8 jam selama 1-2 hari. Pengobatan tersebut

diberikan sebagai upaya sedasi dalam mengurang kerja jantung

untuk mensuplai oksigen dan nutrisi kejaringan lain untuk

melakukan proses metabolisme. Keadaan sedasi dapat mendorong

jaringan untuk tidak melakukan metabolisme secara aktif dan sering

sehingga suplai oksigen dan nutrisi dapat diminimalkan keseluruh

jaringan tetapi dapat dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan

pada jaringan jantung (Advani, 2006).


85

Pengobatan jantung meliputi inotropik untuk meningkatkan

kontraktilitas miokard, diuretik untuk mengurangi preload atau

volume diastolik akhir, dan vasodilator untuk mengurangi afterload

atau tahanan yang dialami saat ejeksi ventrikel (Bohn, 2006)

Intervensi kolaborasi pertama dalam menangani masalah gagal

jantung kongestif adalh pemberian oksigen. Pemberian oksigen

diharapkan dapat membantu menghantar atau mencukupi kebutuhan

oksigen pada setiap sel tubuh sehingga sel tubuh dapat

bermetabolisme dengan lancar sebab dalam keadaan gagal jantung,

jantung tidak mampu menghantarkan oksigen secara maksimal sebab

terjadi gangguan pada proses preload yang menyebabkan suplai

darah tidak terpompa secara maksimal atau volume sekuncup tidak

maksimal sehingga oksigen yang dihantarkan menjadi berkurang

(Mutaqqin, 2009).

Penatalaksanaan terhadap pasien gagal jantung harus dilakukan

agar tidakterjadi perburukan kondisi. Tujuan pentalaksanaan adalah

untuk menurunkankerja otot jantung, meningkatkan kemampuan

pompa ventrikel, memberikanperfusi adekuat pada organ penting,

mencegah bertambah parahnya gagal jantungdan merubah gaya

hidup (Black & Hawks, 2009). Penatalaksanaan dasar padapasien

gagal jantung meliputi dukungan istirahat untuk mengurangi beban

kerjajantung, pemberian terapi farmakologis untuk meningkatkan

kekuatan dan efisienkontraksi jantung, dan pemberian terapi diuretik


86

untuk menghilangkanpenimbunan cairan tubuh yang berlebihan

(Smeltzer & Bare, 2002).

Penatalaksanaan pasien gagal jantung dapat diterapkan

berdasarkan dari tujuanyang ingin dicapai, yaitu : Penurunan kerja

otot jantung dilakukan dengan pemberian diuretik, vasodilator dan

beta-adrenergic antagonis (beta bloker). Diuretik merupakanpilihan

pertama untuk menurunkan kerja otot jantung. Terapi ini

diberikanuntuk memacu ekskresi natrium dan air melalui ginjal

(Smeltzer & Bare,2002). Diuretik yang biasanya dipakai adalah loop

diuretic, seperti furosemid,yang akan menghambat reabsorbsi

natrium di ascending loop henle. Haltersebut diharapkan dapat

menurunkan volume sirkulasi, menurunkanpreload, dan

meminimalkan kongesti sistemik dan paru (Black & Hawks,2009).

Efek samping pemberian diuretik jangka panjang dapat

menyebabkanhiponatremi dan pemberian dalam dosis besar dan

berulang dapatmengakibatkan hipokalemia (Smeltzer & Bare, 2002).

Hipokalemia menjadi efek samping berbahaya karena dapat memicu

terjadinya aritmia (Black & Hawks, 2009).

Pemberian vasodilator atau obat-obat vasoaktif dapat

menurunkankerja miokardial dengan menurunkan preload dan

afterload sehinggameningkatkan cardiac output (Black & Hawks,

2009; Smeltzer & Bare,2002). Sementara itu, beta bloker digunakan

untuk menghambat efek sistemsaraf simpatis dan menurunkan


87

kebutuhan oksigen jantung (Black & Hawks,2009). Pemberian terapi

diatas diharapkan dapat menurunkan kerja otot jantung sekaligus.

Mengurangi retensi cairan dapat dilakukan dengan mengontrol

asupan natrium dan pembatasan cairan. Pembatasan natrium

digunakan digunakandalam diet sehari-hari untuk membantu

mencegah, mengontrol, danmenghilangkan edema. Restriksi natrium

<2 gram/hari membantu diuretikbekerja secara optimal. Pembatasan

cairan hingga 1000 ml/haridirekomendasikan pada gagal jantung

yang berat (Black & Hawks, 2009;Smeltzer & Bare, 2002; Davis,

Hobbs, dan Lip, 2004).

Penggunaan adrenergic agonist atau obat inotropik merupakan

salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan kemampuan

pompaventrikel jantung. Obat-obatan ini akan meningkatkan

kontraktilitas miokardsehingga meningkatkan volume sekuncup.

Salah satu inotropik yang seringdigunakan adalah dobutamin.

Dobutamin memproduksi beta reseptor betayang kuat dan mampu

meningkatkan curah jantung tanpa meningkatkankebutuhan oksigen

otot jantung atau menurunkan aliran darah koroner.Pemberian

kombinasi dobutamin dan dopamin dapat mengatasi sindroma low

cardiac output dan bendungan paru (Black & Hawks, 2009;

DiklatPelayanan Jantung Terpadu Rumah Sakit DR. Cipto

Mangunkusumo, 2008).
88

Pemberian oksigen dengan nasal kanula bertujuan untuk

mengurangi hipoksia, sesak napas dan membantu pertukaran oksigen

dan karbondioksida.Oksigenasi yang baik dapat meminimalkan

terjadinya gangguan iramajantung, salah satunya aritmia. Aritmia

yang paling sering terjadi pada pasiengagal jantung adalah atrial

fibrilasi (AF) dengan respon ventrikel cepat.Pengontrolan AF

dilakukan dengan dua cara, yakni mengontrol rate danrithm (Black

& Hawks, 2009; Diklat Pelayanan Jantung Terpadu RumahSakit DR.

Cipto Mangunkusumo, 2008).

Angiotensin Converting Enzyme inhibitor atau ACE inhibitor

terbukti dapatmemperlambat proses remodeling pada gagal jantung.

ACE inhibitormenurunkan afterload dengan memblok produksi

angiotensin, yangmerupakan vasokonstriktor kuat. Selain itu, ACE

inhibitor jugameningkatkan aliran darah ke ginjal dan menurunkan

tahanan vaskular ginjalsehingga meningkatkan diuresis. Hal ini akan

berdampak pada peningkatancardiac output sehingga mencegah

remodeling jantung yang biasanyadisebabkan oleh bendungan di

jantung dan tahanan vaskular. Efek lain yangditimbulkan ACE

inhibitor adalah menurunkan kebutuhan oksigen danmeningkatkan

oksigen otot jantung (Black & Hawks, 2009; Diklat

PelayananJantung Terpadu Rumah Sakit DR. Cipto Mangunkusumo,

2008).
89

Perubahan gaya hidup menjadi kunci utama untuk

mempertahankan fungsi jantung yang dimiliki dan mencegah

kekambuhan. Penelitian Subroto(2002) mendapatkan hubungan yang

bermakna antara faktor ketaatan diet,ketaatan berobat, dan intake

cairan dengan rehospitalisasi kliendekompensasi kordis. Bradke

(2009) mengidentifikasi faktor-faktorpenyebab terjadinya rawat inap

ulang pada pasien gagal jantung kongestifantara lain kurangnya

pendidikan kesehatan tentang bagaimana perawatandiri di rumah,

penggunaan obat-obatan yang tidak tepat, kurang komunikasi dari

pemberi pelayanan kesehatan, dan kurangnya perencanaan tindak

lanjutsaat pasien pulang dari rumah sakit. Oleh karena itu, penting

bagi perawatsebagai bagian pelayann kesehatan untuk memberikan

pendidikan kesehatan. Pasien perlu diberikan pendidikan kesehatan

terkait penyakitnya danperubahan gaya hidup sehingga mampu

memonitor dirinya sendiri. Latihanfisik secara teratur, diit,

pembatasan natrium, berhenti merokok dan minumalkohol

merupakan hal yang harus dilakukan oleh pasien (Suhartono,

2011).Selain itu, penanaman pendidikan tentang kapan dan perlunya

berobat jalan juga menjadi hal yang harus disampaikan pada pasien

yang akan keluar dari rumah sakit. Hal tersebut dilakukan untuk

mencegah kekambuhan pasien gagal jantung dengan merubah gaya

hidup melalui pendidikan keseatan.


90

Intervensi kolaborasi di sini dibagi menjadi dua tahapan yaitu

kolaborasi oksigen dan kolaborasi obat. Pada kondisi seperti ini

partisipan melakukan tindakan sesuai dengan arahan dokter untuk

menanggulangi komplikasi-komplikasi yang muncul pada pasien

gagal jantung kongestif. Menurut teori intervensi kolaborasi

merupakan suatu pemecahan masalah yang dilakukan oleh beberapa

tenaga kesehatan lainnya. Dalam hal ini ungkapan partisipan sesuai

dengan teori intervensi kolaborasi. Pemberian oksigen dan obat-

obatan dapat membantu meringkan kerja jantung sehingga keluhan

sesak nafas yang menjadi keluhan utama dapat diatasi.

5.4 Implementasi pada pasien gagal jantung kongestif

5.4.1 Implementasi mandiri perawat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi mandiri

merupakan tindakan mandiri partisipan dalam memberikan dan

mengatur posisi pasien senyaman mungkin. Posisi setengah duduk

merupakan intervensi mandiri perawat yang dilakukan dalam

menanganani masalah gagal jantung kongestif.

Implementasi yang dilakukan pertama kali untuk

menangani masalah gagal jantung kongestif yaitu dengan posisi

setengah duduk sehingga dapat memposisikan jantung terletak

lebih rendah dari badan sehingga kerja jantung lebih ringan untuk
91

menyebarkan nutrisi dan oksigen pada organ bawah dan arus balik

yang kuat dari organ badan bagian atas (Advani, 2006).

Implementasi keperawatan untuk mengatasi diagnosa pola

napas bertujuan supaya jalan napas klien paten yaitu memberikan

klien posisinyaman baring (semifowler/ high semifowler.

Penurunan curah jantung meliputi memonitoring TTV terutama

tekanan darah dan nadi, kaji akral dan CRT, auskultasi nadi apikal,

palpasi nadi perifer dan menganjurkan untuk istirahat (Budiyarti,

2013).

Implementasi pada pasien dengan gagal jantung kongestif

adalah posisi tirah baring dengan pembatasan aktivitas. Hal ini

bertujuan untuk mengurangi aktivitas sel-sel sehingga kebutuhan

untuk bermetabolisme menjadi menurun dan kebutuhan oksigen

dalam hal proses metabolisme juga menjadi menurun. Kebutuhan

oksigen yang tidak banyak akan membuat kerja jantung menjadi

lebih ringan sebab jantung hanya menghantarkan oksigen sesuai

dengan kebutuhan sel tersebut. Penurunan bebab kerja jantung

dapat membuat jantung mensuplai lebih banyak oksigen pada sel

jantung itu sendiri melalui pembuluh darah arteri coronarius.

Pemenuhan oksigen yang berlebih pada sel jantung dimaksudkan

untuk memperbaiki sel-sel atau jaringan-jaringan pada jantung

sehingga kerja jantung menjadi optimal lagi.


92

Para partisipan mengungkapkan bahwa melakukan tindakan

mandiri yaitu memberikan posisi senyaman mungkin pada pasien

gagal jantung kongestif. Implementasi mandiri perawat

memberikan posisi setengah duduk dengan tujuan meringankan

kerja jantung sehingga suplai darah dapat terhantarkan dengan baik

keseluruh sel tubuh dan sel jantung.

5.4.2 Implementasi kolaborasi

Hasil penelitian menyatakan bahwa implementasi

kolaborasi merupakan kolaborasi dengan dokter pemberian obat

furosemid untuk diuretik. Pemberian analgetik juga perlu untuk

mengurangi nyeri. Furosemid diberikan sebagai upaya untuk

antihipertensi sehingga menurunkan kerja jantung sedangkan

analgesik digunakan untuk mencegah adanya rasa cemas yang

ditimbulkan dari rasa nyeri yang dapat berakibat dalam

peningkatan frekuensi detak jantung.

Implementasi kolaborasi merupakan tindakan keperawatan

atas dasar kerjasama tim keperawatan atau dengan tim kesehatan

lainnya sperti dokter. Contohnya dalam pemberian obat oral, obat

injeksi, infus, keter urine dan lain-lain. Serta respon klienb setelah

pemberian merupakan tanggung jawab dan menjadi perhatian

perawat (Haryanto, 2007).


93

Dalam buku Carpenito (2000), menyatakan bahwa

implementasi kolaborasi merupakan tindakan perawat dalam

pemberian obat karena perawat merupakan mata rantai terakhir

dalam proses keperawatan.

Pengobatan jantung meliputi inotropik untuk meningkatkan

kontraktilitas miokard, diuretik untuk mengurangi preload atau

volume diastolik akhir, dan vasodilator untuk mengurangi afterload

atau tahanan yang dialami saat ejeksi ventrikel (Bohn, 2006)

Pengobatan yang diberikan pada pasien gagal jantung

antara lain obat diuretik yang memiliki efek antihipertensi sehingga

menurunkan frekuensi pompa jantung dan dapat memaksimalkan

volume sekuncup waktu proses preload. Obat digitalis digunakan

untuk memperlambat frekuensi ventrikel dan meningkatkan

kekuatan kontraksi serta meningkatkan efisiensi jantung sehingga

dapat memaksimalkan curah jantung (Mutaqqin, 2009).

Para partisipan mengungkapkan bahwa implementasi

kolaborasi yang dilakukan adalah tindakan pemberian obat-obatan

pada pasien gagal jantung kongestif. Pemberian obat pada pasien

gagal jantung dimaksudkan dapat membantu kerja jantung

sehingga kerja jantung menjadi lebih ringan dan lebih optimal

dalam menghantarkan darah dan oksigen keseluruh tubuh.


94

5.5 Evaluasi keperawatan pada pasien gagal jantung kongestif

5.5.1 Tipe evaluasi

Dalam penelitian ini partisipan menyatakan bahwa dalam

evaluasi mereka melakukan tindakan yaitu mengobservasi ulang

dengan tindakan vital sign untuk mengetahui perkembangan

pasien. Menurut teori menyatakan bahwa evaluasi merupakan

proses pembuatan keputusan yang dilakukan perawat untuk

menetapkan apakah tujuan sudah tercapai atau mempertimbangkan

rencana baru.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe evaluasi

merupakan observasi ulang kepada pasien dan mengkaji vital sign

apakah ada perkembangan. Tipe evaluasi merupakan kriteria

pencapaian yang diharapkan dan merupakan kegiatan penting pada

pasien (Urden, 2000).

Tipe evaluasi terdapat dua jenis yaitu evaluasi obyektif dan

evaluasi subyektif. Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi

yang telah dilaksanakan adalah pengertian dari evaluasi obyektif.

Brammer dan Mc.Donald (1996) menyatakan bahwa meminta

klien untuk menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan

merupakan sesuatu yang sangat berguna pada tahap ini. Pengertian

evaluasi subyektif merupakan menanyakan perasaan klien setelah

berinteraksi dengan perawat (Sears, 2004).


95

Tipe evaluasi adalah langkah terakhir dalam proses

pembuatan keputusan. Perawat mengumpulkan, menyortir dan

menganalisa data untuk menetapkan apakah tujuan sudah tercapai,

rencana memerlukan modifikasi atau alternatif baru yang harus

dipertimbangkan (Hidayat, 2008).

Evaluasi dilakukan dengan cara mengkaji respon pasien

sehingga didapatkan data subjektif dan obyektif sesuai dengan

diagnosa yang sudah diteggakkan, respon subjektif meliputi

perasaan sudah tidak sesak dan tidak mudah lelah, respon obyektif

seperti frekuensi nafas, tidak adanya edema di pergelangan kaki,

JVP dalam batas normal (Budiyarti, 2013).

Evaluasi atau hasil yang diharapkan setelah implementasi

dilakukan dapat dilihat dari respon subyektif seperti anamnesa dan

obyektif seperti tanda-tanda vital respon subyektif meliputi

berkurangnya sesak nafas yang dirasakan sedangkan respon

obyektif meliputi frekuensi nafas dalam batas normal, frekuensi

nadi dalam batas normal, tidak ditemukan suara abnomal

pernafasan seperti mengi (whezing), ronki, cracles (Susan,dkk,

2005).
96

5.6 Dampak emosi yang timbul pada partisipaan saat menangani pasien

gagal jantung kongestif

5.6.1 Respon emosional

Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon emosional

yang rasa empati yaitu rasa iba kepada pasien gagal jantung

kongestif jika tidak cepat ditolong. Faktor yang mempengaruhi

respon emosional adalah empati,kasihan, rasa bersalah, rasa

tanggung jawab dan kepuasan diri.

Respon emosional seseorang yang muncul dipengaruhi

berbagai faktor seperti organbiologis, psikoedukatif dan

sosiokultural. Respon emosi bergerak dari emosional responsive

sampai depresi. Perasaan yang muncul pada partisipan. Respon

emosional pada umumnya disifatkan sebagai keadaan yang ada

pada individu atau organisme pada suatu waktu. Dengan kata lain,

respon emosional disifatkan sebagai suatu keadaan kejiwaan pada

organisme atau individu sebagai akibat adanya peristiwa atau

persepsi yang dialami oleh organisme tertentu (Walgito, 2003).

Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang

bersifat individual. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang

berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya.

Makin tinggi penilaian terhadap kegiatan dirasakan sesuai dengan

keinginan individu, maka makin tinggi kepuasannya terhadap

kegiatan tersebut. Jadi secara garis besar kepuasan kerja dapat


97

diartikan sebagai hal yang menyenangkan atau yang tidak

menyenangkan yang mana pegawai memandang pekerjaannya

(Hasibuan, 2006).

Menurut Niven (2002) bahwa dukungan keluarga dapat

membantu meningkatkan mekanisme koping individu dengan

memberikan dukungan emosi dan saran-saran mengenai strategi

alternatif yang didarkan pada pengalaman sebelumnya dan

mengajak orang lain berfokus pada aspek-aspek yang lebih positif.

selain mendapat dukungan dari keluarga, pasien gagal jantung

kongestif yang mengalami kecemasan sedang dapat melakukan

penndekatan religius dengan cara berdzikir , bedo’a sesuai dengan

keyakinan masing-masing dan melakukan sholat meskipun dengan

berbaring. Kebanyakan pasien dapat merasakan ketenanagan batin

sehingga mampu mengendalikan kecemasannya dan melakukan

mekanisme koping adaftif.

Di sini respon emosional berhubungan dengan kepuasan

partisipan yang diartikan sebagai persepsi terhadap produk atau

jasa yang telah memenuhi harapannya. Kepuasan merupakan

model kesenjangan antara harapan (standar kinerja yang

seharusnya) dengan kinerja aktual yang diterima pelanggan

(Nursalam,2011).
98

5.6.2 Prinsip penanganan pasien

Hasil penelitian menyatakan bahwa prinsip penanganan

pasien didasari pada kemampuan para partisipan. Partisipan

menjelaskan bahwa kemapuan masing-masing partisipan adalah

modal utama dalam penanganan pasien. Kemampuan partisipan

yaitu kecepatan dan ketepatan dalam melakukan tindakan pada

pasien gagal jantung kongestif karena penanganan pasien gagal

jantung kongestif dilakukan secara cepat dan tepat untuk

menyelamatkan pasien.

Prinsip penanganan pasien meupakan memprioritaskan

kondisi yang memerlukan tindakan segera, terkadang tindakan

yang dapat dilakukan besama dengan pengkajian. Pada prinsipnya

perawat gawat darurat membutuhkan penanganan cepat dan tepat,

kerja yang terus-menerus, jumlah pasien yang repatif banyak dan

mobilitas tinggi. Kecepatan dan kualitas penolong merupakan

prinsip utama dalam melakukan tindakan. (Krisanty, 2002).

Pekerjaan seorang perawat sangatlah berat, dari satu sisi

seorang perawat harus menjalankan tugas yang menyangkut

kelangsungan hidup pasien yang dirawat, di sisi lain keadaan

psikologis perawat sendiri juga harus tetap terjaga, kondisi seperti

ini lah yang menimbulkan rasa tertekan pada perawat. Sehingga dia

mudah mengalami stress, beban kerja merupakan ketegangan

mental yang mengganggu kondisi emosional, proses berfikir, dan


99

kondisi fisik seseorang. Berdasarkan fenomena yang terjadi,

perawat yang bertugas di instalasi gawat darurat memiliki stressor

yang tinggi karena perawat setiap hari akan berhadapan dengan

aspek lingkungan fisik dan lingkungan psikososial yang tinggi di

pekerjaannya. Penurunan kualitas pelayanan dari perawat dapat

dimungkinkan karena beban kerja yang dirasa perawat berlebihan

sehingga mengakibatkan perawat mengalami stress. Ketika

seseorang mengalami stres dia akan cenderung melakukan sesuatu

yang dapat membahayakan dirinya. Ketidakmampuan perawat

dalam menjawab tuntutan lingkungan akan menimbulkan situasi

stres dalam lingkungan kerja sehingga secara tidak sadar ataupun

tidak dapat mempengaruhi kinerja dan perilaku perawat itu sendiri

(Mngkunegaran, 2002).

Menurut Munandar (2001), menyatakan bahwa fluktuasi

beban kerja terjadi pada jangka waktu tertentu, sehingga terkadang

bebannya sangat ringan dan saat-saat lain bebannya bisa

berlebihan. Situasi tersebut dapat kita jumpai pada tenaga kerja

yang bekerja pada rumah sakit khususnya perawat. Keadaan yang

tidak tepat tersebut dapat menimbulkan kecemasan, ketidakpuasan

kerja dan kecenderungan meninggalkan kerja.

Sebagai ujung tombak pelayanan keperawatan rumah sakit,

IGD harus menlayani semua kasus yang masuk ke rumah sakit.

Dengan kompleksitas kerja yang sedemikian rupa, maka perawat


100

yang bertugas di ruangan ini dituntut untuk memiliki kemampuan

lebih dibanding dengan perawat yang melayani pasien di ruang

yang lain. Setiap perawat yang bertugas di ruang IGD wajib

membekali diri dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, bahkan

diangggap perlu mengikuti pelatihan-pelatihan yang menunjang

kemampuan, bahkan dianggap perlu mengikuti pelatihan-pelatihan

yang menunjang kemampuan perawat dalam menangani pasien

secara cepat dan tepat sesuai dengan kasus yang masuk ke IGD.

Perawat juga dituntut untuk mampu bekerjasama dengan tim

kesehatan lain serta dapat berkomunikasi dengan pasien dan

keluarga pasien yang berkaitan dengan kondisi kegawatan kasus di

ruang tersebut (Haryani, 2008).

Salah satu indikator keberhasilan penanggulangan medik

penderita gawat darurat adalah kecepatan memberikan pertolongan

yang mamadai kapada penderita gawat darurat baik pada keadaan

rutin sehari-hari atau sewaktu bencana. Keberhasilan waktu

tanggap atau respone time sangat tergantung kepada kecepatan

yang tersedia serta kualitas pemberian pertolongan untuk

menyelamatkan nyawa atau mencegah cacat sejak di tempat

kejadian, dalam perjalanan hingga pertolongan rumah sakit (Wilde,

2009).

Menurut Mansjoer dalam Austaryani (2012) prinsip

penanganan gagal jantung kongestif harus dengan pemberian


101

oksigen terlebih dahulu serta pengontrolan cairan tubuh pasien dan

observasi status hemodinamik pasien.

Pada prinsipnya menyelamatkan pasien gagal jantung

kongestif haruslah cepat dan tepat. Cepat dan tepat yang dimaksud

adalah cepat melakukan tindakan dan tepat dalam pengobatan. Jika

penolong tidak cepat dan tepat dalam menangani pasien tersebut

akan terjadi kematian mendadak.


102

BAB VI

PENUTUP

6.1 KESIMPULAN

Berdasarkan analisa dari kata kunci yang telah didapat dalam

penelitian ini makadiperoleh kesimpulan sebagai berikut:

6.1.1 Mendeskripsikan pengalaman perawat dalam melakukan pengkajian

pada pasien gagal jantung kongestif.

Berdasarkan analisa yang telah dilakukan dalam penelitian didapatkan

2 tema yaitu primary survey dan secondary survey. Pada tahap primary

survey meliputi pengkajian Airway, Breathing, Circulation. Sedangkan

pada tahap secondary survey meliputi pengkajian EKG.

6.1.2 Mendeskripsikan pengalaman perawat dalam merumuskan diagnosa

pada pasien gagal jantung kongestif.

Berdasarkan analisa yang telah dilakukan dalam penelitian didapatkan

2 tema yaitu dasar perumusan diagnosa dan jenis diagnosa. Pada

perumusan diagnosa meliputi data subyektif dan data obyektif.


103

Sedangkan pada jenis diagnosa terdiri atas diagnosa aktual dan

prioritas.

6.1.3 Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam menentukan intervensi

pada pasien gagal jantung kongestif.

Berdasarkan analisa yang telah dilakukan dalam penelitian didapatkan

2 tema yaitu intervensi mandiri perawat dan intevensi kolaborasi.

Dalam intevensi mandiri perawat terdapat rencana keperawatan

mandiri yaitu rencana memberi posisi yang nyaman. Sedangkan pada

intervensi kolaborasi terdapat rencana pemberian obat dan oksigen.

6.1.4 Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam melakukan implementasi

keperawatan pada pasien gagal jantung kongestif.

Berdasarkan analisa yang telah dilakukan dalam penelitian didapatkan

2 tema yaitu implementasi mandiri perawat dan implementasi

kolaborasi. Pada implementasi mandiri perawat terdapat tindakan

memberikan posisi nyaman (setengah duduk) pada pasien gagal

jantung kongestif, dan pada implementasi kolaborasi terdapat tindakan

pemberian obat diuretik dan analgetik pada pasien gagal jantung

kongestif.

6.1.5 Mengidentifikasi pengalaman perawat dalam melakukan evaluasi

keperawatan pada pasien gagal jantung kongestif.

Berdasarkan analisa yang telah dilakukan dalam penelitian di dapatkan

1 tema yaitu tipe evaluasi. Dalam tipe evaluasi terdapat evaluasi

obyektif dan evaluasi subyektif.


104

6.1.6 Mengidentifikasi dampak emosi perawat dalam menejemen kasus

gagal jantung kongestif.

Berdasarkan analisa yang telah dilakukan dalam penelitian di dapatkan

2 tema yaitu respon emosional dan prinsip penanganan pasien. Pada

respon emosional terdapat rasa empati, rasa kasihan, rasa bersalah, rasa

bertanggung jawab dan kepuasan diri. Dan pada prinsip penanganan

pasien terdiri dari cepat dan tepat.


105

a. SARAN

6.2.1 Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi

Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta untuk menentukan langkah –

langkah dalam peningkatan pengetahuan dan kompetensi tentang

penanganan gagal jantung kongestifsehingga pihak managemen

Rumah Sakit diharapkan meningkatkan ketrampilan perawat

melalui pelatihan dalam penanganan gagal jantung kongestifdan

diharapkan pelayanan kepada pasien gawat darurat meningkat.

6.2.2 Institusi Pendidikan

Memperkaya literatur ilmu keperawatan dibidang

kegawatdaruratan kardiovaskuler sebagai penunjang dalam proses

belajar mengajar atau praktik gawat darurat.

6.2.3 Peneliti Lain

Peneliti lain dapat menambah pengetahuan tentang penanganan

gagal jantung kongestif dan menjadikan hasil penelitian ini untuk

referensi atau acuan peneliti lainya dengan metode yang berbeda

yang berhubungan dengan penanganan gagal jantung kongestif.


106

6.2.4 Peneliti

Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan peneliti tentang

pengalaman perawat dalam penanganan gagal jantung kongestif,

sehingga peneliti lebih memahami tentang gagal jantung kongestif.


DAFTAR PUSTAKA

Aaronson, Philip I. & Jeremy P.T. Ward. (2010). At a Glance: Sistem


Kardiovaskular. Edisi 3. Jakarta : Erlangga.

Advani N. (2006).Diagnosis dan penatalaksanaan mutakhir gagal jantung pada


anak. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Afiyanti, Yati dan Rachmawati Imami. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif


dalam Riset Keperawatan. Jakarta : PT Raja Grafindo

AHA. (2012). About heart failure.16 September, 2015. http://www.heart.org/H


EARTORG/Conditions/HeartFailure/AboutHeartFailure/About-Heart-
Failur e_UCM_002044_Article.jsp

Antonius, dkk. (2009).Pedoman Pelayanan Medis.Ikatan Dokter Anak Indonesia.


Farmakope IDAI

Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : buku kedokteran EGC

Austaryani, Nessma Putri. (2012). Asuhan Keperawatan Pada Tn.J Dengan


Congestive Heart Failure (Chf) Di Ruang Intensive Cardio Vascular Care
Unit (Icvcu) Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta.Naskah
Publikasi.Surakarta : UMS

Black, Joice M. & Hawks, Jane H. (2009). Medical surgical nursing: clinical
management for positive outcomes (8th ed). Singapore: Elsevie

Bohn, D. (2006).Inotropic agents in herat failure. Philadelphia : Saunders Elsevier

Bradke, Peg. (2009). Transisi depan program mengurangi readmissions untuk


pasien gagal jantung. 16 September, 2015. http://translate.google.co.
id/translate?hl=id&langpair=enlid&u=http://www.innoverations.ahrq.gov
/content.aspx%3Fid%3D2206.

Budiyarti, Lina. (2013). Home Based Exercise Training Dalam Mengatasi


Masalah Keperawatan Intoleransi Aktivitas Pada Pasien Gagal Jantung
Kongestif Di Ruang Rawat Penyakit Dalam Melati Atas RSUP
Persahabatan.Artikel Ilmiah.Depok.Fakultas Ilmu Keperawatan.

Carpenito, L.J. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8, Alih Bahasa
Ester M. Jakarta : EGC.

Cresswell, J.W. (2013). Qualitative Research. 3th ed. Thousand Oaks : Sage
Publications.
Davis, R.C., Hobbs, F.D.R., dan Lip, G.Y.H. (2000). ABC of heart failure: history
and epidemiology. BMJ 2000, 320, 39-42

Dermawan. (2012). Keperawatan Perencanaan Konsep dan Kerangka Kerja.


Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Haryani. (2008). Hubungan Antara Beban Kerja dengan Stres Kerja pada Perawat
di Rumah Sakit Islam Surakarta.
Etd.eprints.ums.ac.id/2705/1/J210040036.pdf.

Haryanto. (2007). Konsep Dasar Keperawatan dan Pemetaan Konsep. Jakarta :


Salemba Medika.

Hasibuan. (2006). Organisasi dan Motivasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Hidayat. (2008). Psikologi dalam Ilmu Keperawatan. Surabaya.

Holder. (2002). Patient assessment routine medical care primary dan secondary
survey. San Mateo Country EMS Agency.

Hwang, Boyoung., Jill Houe-Esguivel.,Kirsten E. Fleischmann., Nancy A.Stotts.,


Kathleen Dracup . (2012). Family caregiving in pulmonary arterial
hypertension. Journal Heart and Lung

Imaligy, Ervinaria Uli. (2014). Gagal Jantung pada Geriatri.CDK-212/Vol.41


no.1. Bandung: Dokter Umum Rumah Sakit Gigi dan Mulut Maranatha.

Kasron. (2012). Kelainan dan Penyakit Jantung. Yogyakarta : Nusa Medika.

Kristanty, Paula. (2002). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Jakarta : Trans


Info Medika.

Mangkunegara, A.P. (2002). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.


Bandung : PT. BPFE

Marreli, T.M. (2008). Buku Saku Dokumentasi Keperawatan. Edisi 3. Jakarta :


EGC.

Munandar. (2001). Budgeting, Perencanaan Kerja Pengkondisian Kerja


Pengawasan Kerja. Edisi Pertama. Yogyakarta : BPFE Univesitas Gajah
Mada.

Mutaqqin, Arif. (2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Kardiovaskular. Jakarta : Salemba Medika.
Notoadmojo, S. (2010). Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. (Edisi Revisi:
2010). Jakarta : Rineka Cipta.

Nurhayati, Euis. (2009). Gambaran Faktor Resiko Pada Pasien Penyakit Gagal
Jantung Kongestif di Ruang X.A RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.
www.stikesayani.ac.id/publikasi/e.../201004-004.pdf.

Nursalam (2008). Proses Dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik.


Jakarta : Salemba Medika.

Nurasalam. (2011). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Polit, D.F. & Beck, C.T. (2012). Nursing research: generating and assesing
evidance for nursing practice. 9th edition. Philadelphia : Lippincott
Williams & Wilkins.

Price. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 1.


Edisi 6. Jakarta : EGC

Roni, Setiawan, & Fatimah, Sari. (2010). Fisiologi Kardiovaskular.Jakarta: EGC

RSCM. RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. 16 September, 2015.


http://www.rscm.co.id/.

Sears. M. (2004). Using Terapeutic Communication to Connect with Patient,


Madrid. Delmar Publisher

Setiadi. (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta : Graha


Ilmu.

Setiawati, A., & Nafrialdi. (2007). Obat Gagal Jantung. In D. F. Indonesia,


Farmnakologi dan Terapi (5th ed., pp. 299-313). Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.

Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G. (2002). Brunner & Suddarth’s textbook
of medical surgical nursing 8th ed. (Agung Waluyo et. al.,
Penerjemah).Philadelphia: Lippincott

Stole, K.M. (2004). Diagnosa Keperawatan Sejahtera (E. Noviestari, Terj.) Jakarta
: EGC. (tulisan pertama asli dipublikasikan tahun 1996).

Subroto (2002). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap rehospitalisasi pasien


decompensasi cordis. Skripsi. Yogyakarta
Sugiono. (2013). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta.

Susan, dkk. (2005). Standar Perawatan Pasien: Proses Keperawatan, Diagnosis,


dan Evaluasi, Patient Care Standards. Jakarta : EGC

Sutopo, HB. (2006). Metode Penelitian Kualitatif. Surakarta : UNS Press.

Suhartono, T. (2011). Dampak home based exercise training terhadap kapasitas


fungsional dan kualitas hidup pasien gagal jantung di RSUD
NgudiWaluyo Wlingi. Tesis. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia.

Urden, Linda. (2000). Priorities in Critical Care Nursing. University School of


Nursing. San Diego

Walgito, Bimo. (2003). Psikologi Sosial. Jakarta : C.V. Andi offset.

Wilde, E. T. (2009). Do Emergency Medical System Response Time Matter for


Health Outcomes?. New York : Colombia University.

Wolff. (2010). New graduate nurse practice readiness: Perspectives on the context
shaping our understanding and expectations.
http://publish.uwo.ca/~hkl/img/YNED%20New%20Graduate%20Readin
ess%20Angela%20Wolff.pdf.