Anda di halaman 1dari 35

1.

Pendahuluan

Suture materials adalah semua bahan yang dipakai untuk meligasi atau mengaproksimasi
jaringan dan menahannya sampai jaringan mengalami penyembuhan.
Penggunaan alat dan Material penjahitan yang berkualitas meliputi beberapa syarat
tertentu.
1. Kenyamanan untuk digunakan atau untuk dipegang.
2. Pengamanan yang cukup.
3. Steril serta cukup elastik bukan terbuat dari bahan yang reaktif.
4. Kemampuan untuk biodegradasi kimia untuk mencegah perusakan dari benda
asing.

2. Instrumen
Instrumen bedah dan penjahitan dibagi menjadi beebrapa komponen, seperti pisau bedah,
needle holder, dan benang jahit. Instrumennya sendiri dibagi 4, yaitu instrument pemotong,
instrument penjepit, instrument hemostatic, dan instrument pemegang jarum.

1. Insttrumen Pemotong
Pisau Bedah
Terdiri atas dua bagian yaitu gagang(scalpel) dan mata pisau (mess/bistouri/blade).
Terdapat beberapa macam pisau :
 Reusable. Gagang dan bilah merupakan suatu kesatuan, harus diasah kembali setiap
akan digunakan. Akan tetapi, model ini dapat menjadi media penularan penyakit
(contoh HIV) sehingga hampir tidak digunakan lagi.
 Disposable. Gagang terbuat dari bahan PVC(polivinilklorida). Harga relative mahal
dan karang digunakan.
 Gabungan. Gagang dan bilah merupakan hal yang terpisah, gagang dapat dipakai
ulang sedangkan bilah diganti setiap akan digunakan paling sering di Indonesia

Terdapat dua nomor gagang pisau yang sering dipakai, yaitu gagang nomor 4 (untuk mata
pisau besar) dan gagang nomor 3 (untuk mata pisau kecil). Guna pisau bedah ini adalah untuk
menyayat berbagai organ /bagian tubuh. Mata pisau disesuaikan dengan bagian tubuh yang
akan disayat.

Gambar . Scalpel

Gambar . Bisturi

Gunting

Gunting Benang

Ada dua macam gunting benang yaitu gunting benang yang bengkok dan lurus yang kegunaannya
untuk memotong benang operasi, merapikan luka. Penyediaan masing-masing satu buah.
Gunting Diseksi

Gunting ini ada dua jenis, yaitu lurus dan bengkok. Ujungnya biasanya runcing. Terdapat
dua yang sering digunakan, yaitu tipe Mayo dan tipe Metzenbaum. Kegunaan gunting ini adalah
untuk membuka jaringan, membebaskan tumor kecil dari jaringan sekitarnya, untuk esksplorasi
dan merapikan luka.

Gambar . Gunting Benang


Gambar . Gunting Diseksi

Gunting perban/pembalut

Kegunaan adalah untuk menggunting pembalut dan plester.

Gambar . Gunting Perban dan Pembalut

2. Instrumen pemegang jarum

Needle holder

Nama lainnya pemegang jarum atau nald voeder. Jenis yang digunakan bervariasi, yaitu tipe
Crille wood (bentuknya seperti klem) dan tipe Mathew Kusten (bentuk segitiga). Guna
needle holder ini pada penjahitan sebagai pemegang jarum jahit dan sebagai penyimpul
benang.
Gambar. Needle Holder Tipe Crille Wood

Gambar . Needle Holder Tipe Mathew Kusten

3. Instrumen Hemostatik

Klem (Clamp)

Klem arteri pean. Ada dua jenis, yaitu yang lurus dan bengkok. Kegunaannya adalah untuk
hemostasis terutama untuk jaringan tipis dan lunak.
Gambar . Klem Arteri Pean

Klem Kocher. Ada dua jenis yaitu klem yang lurus dan yang bengkok. Tidak ditujukan
untuk hemostasis. Sifat khasnya adalah mempunyai gigi pada ujungnya (mirip gigi pada
pinset sirurgis). Gunanya adalah untuk menjepit jaringan, terutama agar jaringan tidak
meleset dari klem, dan hal ini dimungkinkan dengan adanya gigi pada ujung klem.

Gambar . Klem Kocher


Klem Mosquito. Mirip dengan klem arteri pean, tetapi ukuranya lebih kecil. Penggunaannya
dalah untuk hemostasis terutama untuk jaringan tipis dan lunak.

Gambar . Klem Mosquito

Klem Allis. Penggunaannya adalah untuk menjepit jaringan yang halus dan menjepit tumor
kecil.

Gambar . Klem Allis


Klem Babcock. Penggunaanya adalah untuk menjepit tumor yang agak besar dan rapuh.

Gambar . Klem Babcock

Towel clamp (Doek klem). Penggunaanya adalah untuk menjepit doek/kain operasi.

Gambar . Klem Doek


5. Retraktor (Wound Hook)

Retraktor langenbeck. Penggunaannya adalah menguakkan luka.

Gambar . Retraktor Langenbeck

US army double ended retractor. Penggunaannya untuk menguakkan luka.

Gambar . US Army Double Ended Retractor

Retraktor volkman. Penggunaannya adalah untuk menguakkan luka. Pemakaian retractor


disesuaikan dengan lebar luka. Ada yang mempunyai dua gigi, 3 gigi, dan 4 gigi. 2 gigi
untuk luka kecil, 4 gigi untuk luka besar. Terdapat pula retractor bergigi tumpul.

Gambar . Retraktor Volkman


4. Instrumen Penjepit

Pinset

Pinset sirurgis. Penggunaanya adalah untuk menjepit jaringan pada waktu diseksi dan penjahitan
luka, member tanda pada kulit sebelum memulai insisi.

Pinset anatomis. Penggunaanya adalah untuk menjepit kasa sewaktu menekan luka, menjepit
jaringan yang tipis dan lunak.

Benang penjahit luka dapat dibagi atas beberapa kriteria , yaitu :


1. Benang diserap atau tidak (absorbable or non-absorbable)
2. Benang berbahan alami atau sintetis (nature or synthetic)
3. Benang berserat tunggal atau banyak (monofilament or polyfilament)
4. Benang dilapisi atau tidak (coated or uncoated)
1. BENANG DISERAP DAN BENANG TIDAK DISERAP

Benang diserap mempunyai waktu keberadaan yang terbatas di dalam tubuh. Lamanya
waktu berada didalam tubuh dapat disesuaikan dengan organ yang dijahit dengan jalan memilih
jenis benang yang sesuai. Sebagai contoh, fascia harus dijahit dengan benang yang lama waktu
penyerapannya, karena untuk penyembuhannya fascia butuh waktu yang cukup lama (hingga
beberapa bulan). Dengan alasan tertentu, kadang-kadang malah digunakan benang tak diserap
untuk menjahit fascia. Sebaliknya luka pada saluran cerna (lambung-usus) tak butuh sokongan
lama oleh benang jahit karena telah cukup kuat pada hari ke-7 hingga hari ke-10. Benang tak
diserap akan berada seumur hidup mulai saat ia ditempatkan didalam tubuh. Benang-benang ini
digunakan dengan alasan tertentu, misalnya pada penyambungan pembuluh darah dengan dacron
graft, dimana pembuluh darah yang merupakan organ hidup tak akan pernah mengalami
penyambungan dengan graft yang merupakan benda mati. Disini jahitan dengan benang tak
diserap berfungsi mempertahankan penyatuan tadi. Demikian juga dengan pemasangan katup
jantung buatan. Harus diingat bahwa kehadiran benang jahitan disini merupakan benda asing yang
sedikit banyak akan mengakibatkan terjadinya reaksi dari jaringan tubuh. Karena itu, untuk tujuan
meminimalkan reaksi dari jaringan tubuh, digunakan bahan yang inert dan memberikan reaksi
yang minimal. Catgut baik plain maupun chromic dan kolagen merupakan contoh benang diserap,
sedang polyamida (nylon) dan sutera (silk, zyde) merupakan contoh benang tidak diserap.

Keuntungan benang tidak diserap adalah dapat memberikan permanent support tidak akan
pernah habis namun meninggalkan benda asing dalam tubuh.

2. BENANG BERBAHAN ALAMI ATAU SINTETIS

Benang-benang alami berasal dari bahan alam, contohnya rambut, bulu binatang, katun,
linen dan catgut. Benang-benang ini telah digunakan sejak dahulu kala, mudah didapat dan relatif
murah harganya.

Benang sintetis harganya lebih mahal, namun mempunyai berbagai keunggulan dalam hal
absorpsi yang terprediksi dan umumnya telah disesuaikan dengan organ yang akan dijahit. Contoh
benang sintetis, polyglycolic acid, polypropylene, polyamide, polyester, polyglactin,
polydioxanone, polyglyconate, polynylidene, polybutylester dan stainless steel. Umumnya
benang-benang ini dijual dalam kemasan dan bentuk sediaan khusus.

3. BENANG BERSERAT TUNGGAL (Monofilament) ATAU BERSERAT BANYAK (


Multifilament)

Benang serat tunggal umumnya lebih lentur namun kekuatan simpulnya (knotting security)
biasanya lebih kecil, sehingga simpul jahitan mudah terbuka. Keunggulannya adalah bekas
jahitannya (stitching mark) halus. Sedangkan benang serat banyak lebih baik kekuatan simpulnya,
karena jalinan seratnya membuat benang lebih kesat dan menggigit. Perlu diperhatikan bahwa
celah-celah yang terdapat pada benang merupakan tempat berkumpulnya nidus yang dapat menjadi
fokal infeksi yang sukar sembuh karena sulit dicapai makrofag. Sering terjadi pembentukan sinus
atau luka yang sukar sembuh pada penggunaan benang serat banyak. Bekas jahitan dengan benang
ini lebih kasar dan nyata.

Benang serat banyak dapat dibagi dua, yaitu braided yang berupa benang anyaman seperti
rambut dikepang (contohnya polyester, polyglycolic acid, polyamide (polyfilament) dan sutera),
dan twisted dimana jalinan benang terdiri dari serat-serat yang dililit/dipilin (contohnya katun dan
linen). Polyamide (nylon) dapat dijumpai dalam 2 bentuk yaitu berserat tunggal dan berserat
banyak.
Gambar . Benang Monofilament dan Multifilament

4. BENANG DILAPISI ATAU TIDAK DILAPISI

Pelapisan benang (coated) mempunyai berbagai tujuan, bisa untuk mendapatkan benang
yang lebih kesat sehingga kekuatan simpulnya lebih baik, untuk mengamankan jalinan benang
sehingga tampil lebih rapi dan kokoh, untuk menutup celah-celah (pore) pada anyaman sehingga
tidak terdapat tempat kuman untuk bersarang, serta untuk meminimalisasi reaksi jaringan.

Polyglycolic acid dan polydioxanone merupakan benang berserat banyak dan berlapis.
Sutera diberi lapisan lilin agar benang lebih kaku dan lebih menggigit, serta untuk menutup celah-
celah pada benang.

Kriteria untuk penggunaan benang yang memenuhi syarat untuk penjahitan bedah antara
lain

1. Memiliki kekuatan regangan (tensile strength) yang baik sesuai dengan ukurannya.
2. Mudah penanganannya dan memiliki tahanan yang rendah ketika diaplikasikan dalam
jaringan
3. Memiliki kemasan steril yang baik dan mudah dibuka sehingga aman digunakan oleh
personil bedah
4. Reaksi minimal pada jaringan dan tidak cenderung meningkatkan pertumbuhan bakteri
5. Non-alergenik dan non-karsinogenik

Tabel : Klasifikasi Suture Materials

Breakdown Origin Strand Generic Name Trade Name

Absorbable Natural Multifilamant Catgut-plain

Catgut-chromic

Monofilament None

Synthetic Multifilament Glycolic Acid


Primer

- Polyglycolic acid Dexon (D+G)

- Polyglactin 910 Vicryl (Ethicon)

Polysorb (USSC)

Monofilament Polydioxanone PDS (Ethicon)

Trimethylene/ Maxon (D+G)


Glycolic acid

Poliglecaprone 25 Monocryl (Ethicon)

Nonabsorbable Natural Multifilament Silk

Linen

Cotton
Stainless Steel

Monofilament Stainless Steel

Synthetic Multifilament Polyester Ethibond/Mersilene (Ethicon)

Ti-cron/ Dacron (D+G)

Dyflex/Teflex/Polyflex (Dynek)

Polyamide (Nylon) Surgilon (D+G)

Nurolon (Ethicon)

Monofilament Polyamide (Nylon) Ethilon (Ethicon)

Dermalon (D+G)

Nylene Dynek)

Polypropylene Prolene (Ethicon)

Surgilene (D+G)

Polyvinylidene Vilene (Dynek)

Polybutester Novafil (D+G)

Polyether Dyloc (Dynek)

(D+G) : Davis and Geck, a Division of Cyanamid, US

(Ethicon) A division of Johnson & Johnson Medical

(USSC) United Stated Of Surgical Corporation, Parent Company of Autosuture

(Dynek) An Adelaide Based Australian owned Sutured Company.


4 Jarum Bedah

Jarum bedah merupakan instrumen yang sangat penting dalam penjahitan bedah.
Pemilihannya disesuaikan dengan jaringan dan regio pembedahan. Kriteria umum yang harus
dimiliki oleh jarum bedah antara lain :

1. Mengandung bahan antikarat (stainless steel)


2. Cukup kuat untuk menembus jaringan tanpa menjadi bengkok
3. Tidak mudah patah
4. Ukuran yang ramping hingga tidak menimbulkan trauma pada jaringan
5. Tajam hingga dapat menembus jaringan dengan mudah
6. Stabil bila digunakan bersama instrumen (needle holder)

Gambar. Anatomi Jarum Bedah

Anatomi Jarum Bedah (surgical needle)

Pada surgical needle yang standar terdapat beberapa bagian yaitu : Needle Point, yaitu
ujung needle yang relatif lebih tajam dan memiliki diameter terkecil dibandingkan semua bagian
Needle. Swage adalah pangkal needle yang memiliki pegangan berupa lubang atau celah untuk
benang. Cord Length adalah jarak antara needle point dan swage apabila ditarik garis lurus ,
sedangkan needle length adalah jarak antara swage dan needle point dengan mengikuti lengkung
lingkar luar needle. Radius adalah jarak antara pusat kelengkungan needle dengan needle itu
sendiri. Needle Diameter adalah ketebalan needle pada setiap bagian.

Karakteristik Surgical Needle

Karakteristik yang paling penting dari surgical needle adalah :

 Ketajaman dan kelengkungan


 Needle length dan diameter needle (ukuran)
 Mata needle dan bentuk melintang needle
 Jenis perlekatan dengan benang jahit terhadap needle

Karakteristik utama jarum bedah, meliputi:

1. Harus terbuat dari stainless steel (baja tahan karat) yang berkualitas tinggi.
2. Menahan/ menolak lentur sehingga akan cenderung membengkok sebelum putus.
3. Cukup kuat untuk mempenetrasi jaringan tanpa bengkok.
4. Cukup elastis untuk menembus jaringan tanpa merusaknya.
5. Cukup tipis sehingga dapat meminimalisir trauma pada jaringan saat penjahitan.
6. Cukup lebar untuk menarik benang melalui jaringan tanpa abrasi yang tidak semestinya.
7. Cukup tajam untuk memudahkan penetrasi ke dalam jaringan.
8. Stabil saat dipasang dan digunakan dalam instrumen seperti needle holder.
1. Ketajaman dan Kelengkungan
Ketajaman dan kelengkungan needle berkaitan erat dengan fungsinya. Seringkali needle yang
khusus hanya untuk satu jenis operasi saja, misalkan J-shaped, yang digunakan hanya untuk
operasi hernia femoralis saja.

¼ Circle : Opthtalmic dan Microsurgery

3/8 Circle : Dipakai secara umum untuk semua


jenis jaringan

½ Circle : Dipakai secara umum untuk semua


jenis jaringan

5/8 Circle : Cardiovascular dan Cavitas (Oral,


Nasal, Pelvis dll)

J-shaped : Untuk Femoral Hernia

Gambar . Ketajaman dan Kelengkungan Jarum Bedah

Bentuk jarum secara umum diklasifikasikan menurut tingkat kelengkungan tubuh 5/8, 1/2, 3/8 atau
1/4 lingkaran dan lurus dengan lancip (taper), pemotongan (cutting), poin tumpul (blunt points)
atau tapercut (needle tips). Jarum panjang digunakan untuk menjahit fasia dan sayatan kulit,
diameter jarum dan benang lebih tebal. Jarum pendek dan tipis digunakan untuk menjahit jaringan
visera, pembuluh darah dan muskulus. Bentuk jarum bedah ada 8 macam :
1. Lurus (straight)
2. Curve
3. ½ curve
4. ¼ circle
5. ½ circle
6. ⅜ circle
7. ⅝ circle
8. Huruf J

Gambar . Bentuk-bentuk Jarum Bedah


Gambar . Bentuk Jarum Bedah dan Kegunaannya

Gambar . Bentuk Jarum Bedah dan Aplikasinya

2. Panjang dan diameter needle

Potensial length dari needle, ditentukan oleh ketebalan bahan yang digunakan dan rigiditas,
ductility dan kekuatan sebuah needle menentukan ukuran needle. Kenyataannya needle dengan
diameter 66 mm dengan ultra-thin wire gauge akan lebih mudah bengkok atau patah jika
dibandingkan dengan needle yang pendek dengan diameter yang tebal. Needle yang panjang lebih
baik digunakan untuk menjahit fasia dan kulit dengan bahan needle dan bahan yang lebih kuat.
Needle yang pendek seringkali digunakan untuk menjahit viseral dan pembuluh darah .
3. Mata dan penampang melintang needle

Titik lubang yang dibentuk oleh needle ditentukan oleh bagian terujung dari mata needle sampai
diameter melintang yang terbesar dari needle. Terdapat empat jenis lubang yang dibentuk oleh
needle: yaitu : Conventional Cutting, Reverse Cutting, Taper Point dan Blunt.

Conventional Cutting dan Reverse Cutting: digunakan dalam penjahitan kulit, periosteum, tendon

Taper: Digunakan untuk jaringan yang gampang ditembus dan untuk mendapat luka yang minimal

Blunt: Baik untuk menembus fascia dan aman pada glove.

Gambar. Mata Jarum Bedah

Bentuk Ujung Jarum Bedah :

1. Taper point needles


Berfungsi untuk jaringan yg lembut dan mudah untuk ditembus.

2. Conventional cutting needles


Berfungsi untuk dua pemotongan tepi yang berlawanan, dengan yang ketiga pada kurva di
dalamnya. Perubahan dalam lintas-bagian dari sebuah segitiga memotong ujung ke tubuh pipih.

3. Tapercut needles
Bentuk lancip dengan ujung memotong seperti dua jarum dalam satu. Berfungsi untuk jaringan
yang alot (keras),

4. Ethiguard*Blunt point needles


Bentuk lancip, berfungsi untuk untuk pembedahan (diseksi) tumpul dan menjahit jaringan rapuh
(jaringan yg mudah rusak bila dijahit).

5. Reverse cutting needles


Berfungsi untuk jaringan keras/alot yang susah ditembus

6. Precision point needles


Berfungsi untuk bedah plastik atau bedah kosmetik. Memotong ujung electropolished untuk
ditambahkan ketajaman.

7. Precision cosmetic-conventional cutting prime needles


Berfungsi untuk bedah plastik atau bedah kosmetik. Ujung konvensional memotong dan
meningkatkan ketajaman geometri utama.

8. Conventional spatula
visibilitas titik di bawah berfungsi untuk memberikan kontrol pada kedalaman penetrasi

9. Visi-Black*Needle
titik jarum lancip ramping dengan warna hitam berfungsi untuk meningkatkan visibilitas dan
penetrasi.

10. Micro-point*Reverse cutting needle


Pemotongan tepi, berfungsi untuk operasi mata. Sangat halus dan sangat tajam untuk operasi mata.

11. Micro-point*Spatula needles


Profil tipis, datar, dirancang khusus untuk operasi segmen anterior mata.

12. CS Ultima*Spatula needle


Berfungsi untuk mengurangi tepi sudut, memberikan penetrasi yang lebih baik. Siap memfasilitasi
rotasi simpul pada operasi mata.

13. Sabreloc*Spatula needle


Memotong sisi tepi berbentuk spatula. Berfungsi untuk lapisan jaringan sklera atau kornea. Titik
jarum spatula terpusat untuk stabilitas maksimum jarum di sklera tipis. Empat tepi berjarak sama
dan pasti tepat memberikan kontrol yang lebih besar.

Spatula
Taper point Convensional needl
needl cutting

Tapercut Reverse cutting


Blunt point nee needles
needl
Gambar . Bentuk Ujung Jarum Bedah dengan Penampangnya

Untuk menjahit kulit digunakan yang berpenampang segitiga agar lebih mudah mengiris kulit
(scharpe nald). Sedangkan untuk menjahit otot dipakai yang berpenampang bulat (rounde nald).

4. Jenis perlekatan benang jahit terhadap needle

Needle umumnya sudah melekat dengan benang yang akan kita gunakan. Teknologi tersebut mulai
dikenal beberapa dekade terakhir. Secara tradisional semua needle memiliki 2 mata pada
pangkalnya dan benang jahit harus dimasukkan pada mata needle tersebut sebelum dipergunakan.
Terdapat dua macam perlekatan pada jarum-benang, yang pertama adalah tipe eye, yang dewasa
ini sudah mulai jarang digunakan karena kurang praktis dalam pemakaianya dan menimbulkan
trauma pada jaringan yang dijahit.

Tipe yang kedua adalah swedged, dimana benang sudah digabungkan dengan jarum di dalam
kemasan. Hal ini lebih disukai karena tipe ini menimbulkan trauma yang minimal pada jaringan,
selain itu penggunaan jarum pun tidak dapat diulang sehingga mengurangi risiko penularan
penyakit bagi pasien.

Gambar . Perlekatan Benang Pada Jarum Bedah


Gambar . Beberapa Perbedaan Karakteristik Jarum Bedah

Gambar . Produk Jarum Bedah dengan Benang Terpasang

Gambar . Bentuk Ujung Jarum Bedah Closed Eye (kiri) dan French Eye (kanan)
5 Teknik Ligasi

Teknik yang digunakan dalam mengikat pembuluh darah dalam usaha homeostasis. Ada dua
macam teknik ligasi, yaitu :

1. Free tie / Freehand. Menggunakan benang serat tunggal. Setelah hemostat dijepitkan pada
ujung pembuluh darah, benang dilingkarkan ke sekeliling pembuluh tepat dibawah hemostat, lalu
simpul dikencangkan dengan menggunakan jari.

Gambar . Teknik Free Tie

2. Stick Tie / Suture ligature / Transfixion Suture. Adalah tehnik ligasi dengan
menggunakan jarum. Caranya, jarum dimasukkan di bawah pembuluh darah kemudian
diikat.
Gambar . Teknik Stick Tie

JAHITAN PRIMER

Adalah jahitan yang mempertahankan aproksimasi tepi luka selama penyembuhan pada
kesempatan pertama.

Continous Suture / Running Stiches

Adalah suatu serial jahitan yang dibuat dengan menggunakan satu untaian benang/bahan. Untaian
benang/bahan.dapat diikat pada setiap ujung jahitan, dengan cara mengikat kedua ujung benang.
Cara ini dapat dilakukan dengan cepat, meninggalkan sedikit benda asing pada luka, memperoleh
kekuatan dari distribusi tegangan seluruh jahitan sepanjang luka. Tarikan yang terlalu kuat harus
dihindari untuk mencegah putusnya jahitan yang akan merusak semua jahitan. Biasanya
digunakan diperitoneum atau fascia dinding abdomen. Untuk luka infeksi harus menggunakan
benang monofilament karena tidak mempunyai ruang yang dapat digunakan untuk berkembang
biaknya kuman. Macam jahitan yang terputus adalah sebagai berikut :

 Interlocking stitch, knotted at each end


 Two strands knotted at each end and knotted in the middle
 Looped suture tied to itself
 Over and over running stitch
Interupted Suture

Teknik ini memerlukan lebih banyak benang karena setiap jahitan harus dibuat simpul dan
dipotong. Relatif lebih aman karena bila satu jahitan putus jahitan lainnya tidak terganggu.
Biasanya digunakan untuk luka yang terinfeksi, karena kuman terlokasi dalam satu jahitan.
Macam jahitan yang terputus adalah sebagai berikut :

 Simple interrupted

Gambar . Teknik Simple Interrupted

 Interrupted Vertical Mattress Suture

Gambar . Teknik Simple Vertical Mattress Suture


Indikasi utama penggunaan vertical matress suture adalah untuk mengangkat permukaan pinggir
luka. Vertical mattress suture sering digunakan pada bagian tubuh pinggir luka mengalami
kecenderungan untuk inverted, seperti posterior neck atau luka yang terdapat pada permukaan
yang concave. Beberapa peneliti percaya bahwa penggunaan vertical mattress suture yang
menyebabakan pinggir luka mengalami eversi lebih baik dibandingkan teknik penjahitan luka yang
lain.

Horizontal Mattress Suture

Teknik horizontal mattress suture adalah suatu teknik suture yang bertujuan untuk membuat
pinggir luka menjadi eversi (menjorok keluar) dan membagi rata tekanan pada seluruh pinggir
permukaan luka. Teknik ini dipergunakan biasanya pada luka yang memiliki jarak kedua
permukaan pinggir luka yang cukup jauh, sehingga dipergunakana sebagai initial suture untuk
mendekatkan dua permukaan pinggir luka. Teknik suture ini juga cukup efektif dalam memegang
permukaan kulit luka yang rapuh seperti kulit pada orang tua dan orang yang mendapatkan
pengobatan steroid dalam jangka waktu lama.

Corner Stitch

Variasi dari teknik horizontal mattress suture dan half-buried horizontal mattress suture, atau
disebut juga corner stitch, banyak dipergunakan dalam menutup luka di klinik–klinik. Teknik
suture corner stitch dipergunakan untuk mendekatkan pinggir luka yang membentu sudut tanpa
menghilangkan atau mengurangi suplai darah ke permukaan kulit tersebut.

Jahitan yang dikubur (buried)

Seluruh jahitan berada dibawah lapisan epidermal kulit. Bisa dilakukan dengan
menggunakan jahitan tidak terputus atau tidak terputus dan tidak diangkat setelah operasi.
Gambar . Teknik Buried Stitch

Jahitan pure-string

Merupakan jahitan tidak terputus pada sekitar lumen yang dikencangkan seperti tali celana
untuk membalikan bagian yang terbuka. Contohnya seperti pada apendektomi.

Gambar . Teknik Pure-String

Jahitan Subkutikuler

Adalah jahitan yang tidak terputus pada jaringan subkutan di bawah lapisan epitel.
Jalurnya searah atau paralel dengan luka. Jahitan dilakukan pendek-pendek, dibagian lateral
sepanjang luka. Setelah jahitan selesai dilakukan, kedua ujung tali diikat.
Gambar . Teknik Subkutikuler

JAHITAN SEKUNDER

Tujuan jahitan sekunder adalah untuk:

 Memperkuat jahitan primer


 Menghilangkan dead space
 Mencegah akumulasi cairan pada luka abdominal selama proses penyembuhan.
 Untuk penutupan luka sekunder karena kerusakan jahitan pada masa penyembuhan.
 Umumnya digunakan benang tidak diserap.

Terdiri dari :

1. Jahitan sambung menyambung (through and through)

Yaitu jahitan yang dilakukan dari dalam ruang peritoneal melewati semua lapisan dinding
abdomen termasuk peritoneum.

2. Jahitan buried coaptation

Yaitu jahitan yang digunakan untuk menutup peritoneum. Memakai jahitan terputus
(interrupted), dengan cara menembus lapisan fascia hingga lapisan kulit.
Prinsip – Prinsip Dalam Membuat Simpul Ikatan

1. Kuat dan tidak mudah lepas, sederhana


2. Ikatan sekecil mungkin, ujung dipotong sependek mungkin
3. Tidak boleh ada gesekan antara untaian benang  melemahkan jahitan
4. Tidak boleh ada kerusakan materi jahitan
5. Tidak boleh terdapat tarikan yang berlebihan
6. Jangan menjahit terlalu kuat

7. Pertahankan tarikan pada satu ujung benang setelah ikatan pertama supaya lilitan tidak
longgar pada jahitan tidak terputus

8. Buat lilitan akhir sehorizontal mungkin

9. Jangan ragu–ragu merubah posisi pasien supaya letak simpul aman dan rata

Pengangkatan jahitan

Pengangkatan jahitan antara lain disesuaikan dengan daerah luka, kondisi luka, usia luka,
jenis benang yang digunakan, jenis tehnik jahitan. Jahitan mungkin ditinggalkan terutama bila
digunakan benang yang diserap. Pengangkatan dilakukan pada jahitan kulit. Benang mungkin
diangkat sekaligus atau berselang-seling dengan selang waktu1 – 3 hari.

Tabel . Suggested Removal Times for Interrupted Skin Sutures

Area Removal time (days)


Face 3 to 5
Neck 5 to 8
Scalp 7 to 9
Upper extremity 8 to 14
Trunk 10 to 14
Extensor surface hands 14
Daftar Pustaka

1. Edwin A. Deitch, Tools of the Trade and Rules of the Road, A Surgical Guide. Lippincott
– Raven, USA 1997.
2. Sjamsuhidajat R, De Jong Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC
3. Skinner, I : Basic Surgical Skill Manual Chapter 3; Suture Material and Surgical Needle.
Mc Graw Hill Book Co. Australia. 2000
4. Skinner, I : Basic Surgical Skill Manual Chapter 4; Basic Surgical Skill . Mc Graw Hill
Book Co. Australia. 2000
5. http://www.npcentral.net/talks/basic.suturing.doc
6. Surgery Today, Volume 34, Number 2 / February, 2004
7. Non-suture methods of vascular anastomosis, British Journal of Surgery, 19 Feb 2003:
Volume 90, Issue 3, Pages 261 - 271
8. Circular vascular stapling in coronary surgery, Konstantinov, Annals of Thoracic
Surgery, 2004; 78: 369-373
9. History of United States Surgical Corporation Stapled versus Sutured Gastrointestinal
Anastomoses in the Trauma Patient: A Multicenter Trial, Journal of Trauma-Injury
Infection & Critical Care. 51(6):1054-1061, December 2001.
10. Putra, Sukman tulus et al. Kapita selekta kedokteran Edisi 2014. Jakarta : Media
Aesculapius.
11. https://herrysetyayudha.wordpress.com/2012/02/29/keterampilan-dasar-tehnik-bedah-
dengan-pengetahuan-material-suture/
REFERAT DASAR ILMU BEDAH
SUTURING MATERIAL

Disusun Oleh :
Muhammad Reza Irzanto
NPM : 1102011180

Pembimbing :
dr. Dik Adi Nugraha, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
RSUD SOREANG
2015