Anda di halaman 1dari 12

GASTROENTERITIS

Disusun Oleh:
YUNIAR SAFITRI WULANDARI
WARO SUBADRO
TRI ANTONI

PROGRAM DIPLOMA III KEPERAWATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2006 – 2007
1. DEFINISI
Gastroenteritis adalah suatu infeksi saluran cerna.

2. ETIOLOGI
a. Infeksi enteral : infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan
penyebab utama diare pada anak meliputi:
 Infeksi bakteri : vibrio colerae, E. coli, salmonella, shigella,
compylobater, yersima aeromonas, dan sebagainya.
 Infeksi virus : enterovirus (virus echo, cosackie, poliomyelitis), adeno
virus, rotavirus, astrovirus, dan lain-lain.
 Infeksi parasit:
 Cacing (ascaris, trichuris, oxyuris, stroneyloides)
 Protozoa (entamoeba, histolytiva, gardia langia, trichomonas
homonis)
 Jamur (candida albicalis).
b. Infeksi parenteral ialah infeksi alvar diluar alat pencernaan makanan
seperti: otitis media akut (OMA), tonsicitis/tonsito-faringitis,
bronkopneumoma, ensefalitis, dan sebagainya. Keadaan ini terutama
terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 5 tahun.

3. MANIFESTASI KLINIS
 Mula-mula pasien cengeng dan gelisah
 Suhu tubuh meningkat
 Nafsu makan berkurang/tidak ada kemudian timbul diare
 Tinja cair, mungkin disertai lendir atau lendir dan darah
 Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena bercampur
dengan empedu
 Anus dan daerah sekitarnya timbul lecet karena sering defetasi dan tinja
makin lama makin asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang
berasal dari laktosa yang tidak diabsorbsi oleh usus selama diare
 Gejala muntah dapat timbul sebelum/sesudah diare dan dapat disebabkan
karena lambung turut meradang/akibat gangguan keseimbangan asam basa
dan elektrolit
 Bila pasien telah banyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi
mulai tampak yaitu:
 Berat badan menurun
 Turgor berkurang
 Mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi)
 Selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering
4. PATOFISIOLOGI
Faktor Infeksi (Bakteri, Virus, Parasit)

Gastroenteritis
Tubuh mengkompensasi dengan
me antibodi berupa pe leukosit

Pe suhu tubuh Pe asam lambung Peningkatan Output yang berlebihan


(HCl) peristaltikusus

G3 keseimbangan suhu Iritasi/peradangan Makanan dalam tubuh


tubuh Kehilangan cairan Peningkatan defekasi
pada lambung tidak dapat diabsorbsi dan elektrolit dengan tinja yang
dengan sempurna cair disertai
Mual muntah Dehidrasi lendir/darah, tinja
Penurunan energi makin lama makin
(ATP) asam
G3 pemenuhan
kebutuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh - kelemahan G3 keseimbangan - mata cowong Lecet pada anus dan
- asam basa - turgor berkurang daerah sekitarnya
- BB menurun
- muksa bibir dan
Intoleran aktivitas Shock G3 integritas kulit
kulit kering
hipovolemik daerah anus
- ubun-ubun
cekung (pada bayi)
5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan tinja
Makroskopis dan mikroskopis, pH, dan kadar gula jika diduga ada
intoteransi gula, biakan kuman. Untuk mencari kuman penyebab dan uji
resistensi terhadap berbagai antibiotik (pada diare persisten).
2. Pemeriksaan darah
Darah perifer lengkap, analisis gas darah dan elektrosit (terutama Na, K,
Ca, dan P serum pada diare yang disertai kejang).
3. Pemeriksaan kadar ureuin dan kreatinin darah untuk mengetahui faal
ginjal
4. Duodetal intubation untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif
dan kualitatif terutama pada diare kronik.

6. PENATALAKSANAAN
1. Pemberian cairan/rehidrasi
 Jenis cairan dan cara pemberian cairan, jumlah pemberiannya
 Penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya
 Tujuan terapi rehidrasi untuk mengoreksi kekurangan cairan dan
elektrolit secara tepat.
2. Dietetik (cara pemberian makanan)
Makanan harus terus diberikan bahkan ditingkatkan selama diare untuk
menghindarkan efek buruk pada status gizi.
3. Obat-obatan anti diare meliputi : antimotiltias, anti muntah, antibiotik dan
anti parasit.
Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat
dehidrasinya dan keadaan umum.
a. Cairan per oral. Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan
diberikan per oral berupa cairan yang berisikan NaCl dan NaHCO3, KC1, dan
glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada anak di alas umur 6 bulan kadar na
trium 90 mEq/L. Pada anak di bawah umur 6 bulan dengan dehidrasi ringan/
sedang kadar Natrium 50-60 mEq/L. Formula lengkap sering disebut oralit.
Cairan sederhana yang dapat dibuat sendiri (formula tidak lengkap) hanya
mengandung garam dan gula (NaCl dan sukrosa), atau air tajin yang diberi ga-
ram dan gula, untuk pengobatan sementara di rumah sebelum dibawa berobat
ke rumah sakit/pelayanan kesehatan untuk mencegah dehidrasi lebih jauh.
b. Cairan parenteral. Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan
sesuai dengan kebutuhan pasien misalnya untuk bayi atau pasien yang MEP.
Tabel 3-1. Kehilangan cairan menurut derajat dehidrasi pada anak dibawah 2
tahun.
Derajat dehidrasi PWL* NWL** CWL*** Jumlah
Ringan 50 100 25 175
Sedang 75 100 25 200
Berat 125 200 25 350

Tabel 3-2. Kehilangan cairan menurut derajat dehidrasi pada anak dibawah 2 – 5
tahun.
Derajat dehidrasi PWL* NWL** CWL*** Jumlah
Ringan 30 80 25 135
Sedang 50 80 25 155
Berat 80 80 25 185

Tabel 3-3. Kehilangan cairan menurut derajat dehidrasi berat menurut berat badan
pasien dan umur
Berat Badan Umur PWL NWL CWL Jumlah
0-3 kg 0 – 1 bl 150 125 25 300
3-10 kg 1 bl – 2 th 125 100 25 250
10-15 kg 2 – 5 th 100 80 25 205
15-25 kg 5 – 10 th 80 25 25 130

Tetapi kesemuanya itu bergantung tersedianya cairan setempat. Pada


umum-nya cairan Ringer Laktat (RL) selalu tersedia di fasilitas kesehatan di mana
saja. Mengenai pemberian cairan seberapa banyak yang diberikan bergantung dari
berat/ringanya dehidrasi, yang diperhitungkan dengan kehilangan cairan sesuai
dengan umur dan berat badannya.
Cara memberikan cairan:
a. Belum ada dehidrasi
 Per oral sebanyak anak mau minum (ad libitum) atau 1 gelas tiap defekasi
b. Dehidrasi ringan
 1 jam pertama: 25-50 ml/kgBB per oral (intragastrik)
 Selanjutnya: 125 ml/kgBB/hari ad libitum
c. Dehidrasi sedang
 1 jam pertama: 50-100 ml/kgBB per oral/intragastrik (sonde)
 Selanjutnya: 125 ml/kgBB/hari ad libitum
d. Dehidrasi berat
 Untuk anak umur 1 bl-2 th berat badan 3-10 kg:
1 jam pertama: 40 ml/kgBB/jam = 10 tetes/kgBB/menit (set infus
berukuran 1 ml - 15 tetes) atau 13 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 20
tetes)
7 jam berikutnya: 12 ml/kgBB/jam = 3 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml =
15 tetes) atau 4 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 20 tetes)
16 jam berikutnya: 125 ml/kgBB oralit pe roral atau intragastrik. Bila
anak
tidak mau minum, teruskan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/menit (set infus
1 ml = 15 tetes) atau 3 tetes/kgBB/menit (set infus 1 ml = 20 tetes)
 Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg
1 jam pertama: 30 ml/kgBB/jam atau 8 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes)
atau 10 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).
7 jam berikutnya: 10 ml/kgBB/jam atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15
tetes) atau 4 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).
16 jam berikutnya: 125 ml/kgBB oralit peroral atau intragastrik. Bila anak
tidak mau minum dapat diteruskan dengan DG aa intravena 2
tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20
tetes).
 Untuk anak lebih 5-10 thn dengan BB 15-25 kg
1 jam pertama: 20 ml/kgBB/jam atau 5 tetes/kgBB/mnt (1 ml = 15 tetes)
atau 7 tetes/kgBB/mnt (1 ml = 20 tetes)
7 jam berikut: 10 ml/kgBB/jam atau 2 1/2 tetes/kgBB/mnt (1 ml = 15
tetes) atau 3 tetes/kgBB/mnt (1 ml = 20 tetes)
16 jam: 105 ml/kgBB oralit peroral atau bila anak tidak mau minum dapat
diberikan DG aa intravena 1 tetes/kgBB/ menit (1 ml = 15 tetes) atau 1 ½
tetes/kgBB/ menit (set 1 ml =20 tetes).
 Untuk bayi baru lahir (neonatus) dengan berat badan 2-3 kg
Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kgBB/24 jam. Jenis
cairan: Cairan 4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO 3 1 1/2%).
Kecepatan: 4 jam pertama: 25 ml/kgBB/jam atau 6 tetes/kgBB/menit (1 ml
= 15 tetes) 8 tetes /kgBB/menit (1 ml= 20 tetes).
20 jam berikutnya 150 ml/kgBB/20 jam atau 2 tetes/kgBB/menit (1 ml =
15 tetes) atau 2 1/2 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20 tetes).
 Untuk bayi berat badan lahir rendah, dengan berat badan kurang dari 2
kg. Kebutuhan cairan 250 ml/kgBB/24 jam. Jenis cairan: Cairan 4:1 (4
bagian glukosa 10% + 1 bagian NaHCO3 1 1/2%) Kecepatan cairan sama
dengan pada bayi baru lahir.
 Cairan untuk pasien MEP sedang dan berat dengan diare dehidrasi berat
Misalnya untuk anak umur 1 bulan - 2 tahun dengan berat badan 3-10 kg,
jenis cairan DG aa dan jumlah cairan 250 ml/kgBB/24 jam (lihat Tabel 3-
3). Kecepatan: 4 jam pertama: 60 ml/kgBB/jam atau 15 ml/kgBB/jam atau
= 4 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 5 tetes/kgBB/menit (1 ml = 20
tetes). 20 jam berikutnya: 190 ml/kgBB/20 jam atau 10 ml/kgBB/jam atau
2 1/2 tetes/kgBB/menit (1 ml = 15 tetes) atau 3 tetes/kgBB/menit (1 ml =
20 tetes).
ASUHAN KEPERAWATAN
1. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan
tubuh b/d pengeluaran yang berlebihan sekunder terhadap GE
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
mual muntah.
c. Gangguan integritas kulit daerah anus b/d peningkatan defekasi, frekuensi
BAB yang sering.
d. Gangguan keseimbangan suhu tubuh b/d proses infeksi.
e. Intoleran aktivitas b/d penurunan energi /ATP
f. Shock hipovolemik b/d kekurangan cairan (dehidrasi) sekunder terhadap
GE.

2. Rencana Asuhan Keperawatan


a. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan
tubuh b/d pengeluaran yang berlebihan sekunder terhadap GE.
Intervensi Rasional
Monitor TTV (Nadi, Suhu, RR, TD) Dengan mengetahui TTV dapat
diketahui perkembangan penyakit
pasien.
Beri rehidrasi secara CRO dan CRP Untuk mengembalikan cairan yang
hilang.
Monitor pemberian cairan IV dan per Agar tidak terjadi kelebihan cairan dari
oral yang dibutuhkan tiap harinya.
Catat intake dan output secara akurat Untuk mengetahui keseimbangan antara
intake dan output dengan rehidrasi yang
diberikan secara CRO dan CRP dan
untuk mengetahui adanya
hipovolemi/hipervolemi.
Timbang berat badan tiap hari Untuk mengetahui tingkat dehidrasi dan
mengetahui rehidrasi yang diberikan.
Intervensi Rasional
Ukur urine yang keluar dan berat jenis Untuk mengetahui perkembangan
urine penyakit dan mengetahui keseimbangan
input dan output serta sebagai indikasi
keberhasilan rehidrasi.
Monitor hasil Dx laboratorium Untuk mengetahui penyebab dan
menentukan terapi dan perawatan
selanjutnya.
Anjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI mampu menggantikan cairan dan
ASI elektrolit yang hilang selama pasien
diare.
Kolaborasi dalam pemberian oralit Dapat mengatasi diare dan mencegah
output yang berlebihan.

b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dan kebutuhan tubuh


b/dmual muntah
Intervensi Rasional
Catat frekuensi dan karakter dari diet Untuk mengetahui intake yang masuk
yang diberikan sesuai dengan pengeluaran.
Pertahankan cairan secara CRO dan Agar kebutuhan cairan dan elektrolit
CRP tubuh tetap terpenuhi selama dehidrasi.
Beri makan dalam porsi sedikit tapi Dengan makan dalam porsi sedikit tapi
sering sering diharapkan tidak merangsang
anak untuk muntah dan anak tidak
bosan.
Monitor input dan output Untuk mengetahui keseimbangan antara
nutrisi per oral maupun parenteral
dengan kehilangan cairan dan elektrolit.
Monitor keadaan hidrasi melalui Untuk mengetahui keseimbangan input
perubahan (oral, parenteral) dan output.
Intervensi Rasional
Libatkan orang tua atau keluarga Karena pasien atau anak mau
terdekat dalam memberikan makan per melakukan sesuatu bila bersama dengan
oral orang tua.
Hidangkan makanan dengan Dengan menggunakan alat-alat yang
menggunakan alat-alat yang menarik menarik akan membangkitkan selera
makan pasien.
Monitor keadaan pasien setelah Untuk mengetahui apakah masih terjadi
pemberian makanan muntah terhadap makanan yang
diberikan.

c. Gangguan integritas kulit di daerah anus b/d frekuensi BAB yang sering
Intervensi Rasional
Bersihkan daerah anus dan bokong Dengan membersihkan daerah anus dan
dengan air dan sabun lunak setelah bokong dengan air dan sabun lunak,
defekasi akan mencegah iritasi dan perluasan
lecet.
Berikan iotion untuk kulit setelah Untuk memberikan kelembapan daerah
dibersihkan dengan air kulit yang mengalami iritasi.
Beri pengalas tidur yang kering, bersih Untuk mengurangi tekanan pada daerah
dan lembut bokong dan memberikan rasa nyaman
pada waktu pasien istirahat.
Anjurkan pada keluarga agar selalu Untuk memberi rasa nyaman pada
menjaga kebersihan pakaian dan alat pasien.
tidur
Monitor personal hygiene yang telah Untuk mengetahui tingkat pengetahuan
dilakukan oleh keluarga keluarga tentang personal hygiene dan
memberi pendidikan perawatan pada
keluarga untuk pasien diare.
Intervensi Rasional
Gunakan salep untuk melindungi Mencegah meluasnya iritasi
daerah perineum kulit/kerusakan jaringan kulit.
Lepas dan ganti pakaian jika basah oleh Memberi rasa nyaman dan kebersihan
karena diare, muntahan diri pasien.

DAFTAR PUSTAKA
 Dr. Patricia Gilbert : 1985. Penyakit Yang Lazim Pada Anak-Anak. Arcan:
Jakarta.
 Ngastiyah : 1997. Perawatan anak sakit. EGC : Jakarta.
 Arif Mansjoer dkk : 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius.
FKUI : Jakarta.
 Marilynn E. Doenges : 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC : Jakarta.