Anda di halaman 1dari 13

OBAT WARUNG DESA

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4
1. HERA MUTMAINAH 17340079
2. DINA PUSPITA CHANDRA 17340055
3. DINDA MINHAYATI 17340056
4. EKA SEPTIA NINGRUM 17340063
5. ELLA MARTIKA SARI 17340064
6. ELSITA HAFIZHA SUHAILI 17340065
7. LIDIYA WINOVRISA 17340088

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
TAHUN 2017

1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Segala puja dan puji syukur kami haturkan kepada Allah SWT, karena atas
berkat, rahmat, taufik, hidayah, serta inayah-Nya lah sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas pembuatan makalah KEPENDUDUKAN DAN KB dengan
judul “Masalah Kependudukan dan Kemiskinan di Indonesia dan Di Dunia”
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini disusun sebagai syarat melengkapi tugas Semester Ganjil
tahun ajaran 2017/2018. Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah banyak
mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya
ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ibu Rosmiyati, S.ST, M.Kes. selakudosen pengajar Kependudukan dan KB.
2. Pihak-pihak yang secara langsung ataupun tidak langsung telah membantu
dalam penyusunan tugas makalah ini.
Penulis mengaku bahwa “tak ada gading yang tak retak”, oleh karena itu,
sumbang saran dan kritik yang sifatnya membangun senantiasa saya harapkan
demi perbaikan dan penyempurnaan.semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
para pembaca.
Akhirul kalam ... wabilahit taufiq wal hidayah war ridho wal inayah.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung, Oktober 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar........................................................................................... 2
Daftar Isi......................................................................................................3
BAB I. Latar Belakang.................................................................................4
BAB II. Tinjauan Pustaka............................................................................7
A. Definisi warung obat desa...........................................................7
B. Macam-macam obat desa............................................................8
C. Obat-obatan pada ibu hamil, bersalin dan menyusui...................
D. Klasifikasi obat0obatan warung..................................................
E. Cara pengelolaan obat warung.....................................................
BAB III. KESIMPULAN.............................................................................12
DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 14

3
BAB I
LATAR BELAKANG

Pembangunan kesehatan adalah bagian dari Pembangunan Nasional yang


bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Pembangunan kesehatan merupakan upaya seluruh potensi bangsa, baik
masyarakat, swasta maupun pemerintah. Dalam upaya pembangunan kesehatan,
kemandirian merupakan salah satu isu pokok yang dipelopori melalui
pembangunan kesehatan yang bersumber daya masyarakat. Melalui kedua latar
belakang pemikiran itu dikembangkan dan diperluas upaya pembangunan
kesehatan bersumber daya masyarakat yang dikenal dengan POSYANDU (1986).
Setelah Posyandu yang bersifat promotif dan preventif, muncul kebutuhan
lain yaitu keinginan masyarakat untuk mengenal dan menanggulangi penyakit
sederhana yang mereka derita. Kebutuhan itu kemudian ditampung dalam bentuk
POS OBAT DESA (POD), 1992.
Posyandu memberi kesempatan untuk meningkatkan kesehatan dan
pencegahan khusus, POD membuka kesempatan untuk pengobatan dini.
Tantangan strategis terjadi dengan munculnya krisis moneter pada 1997. Hal ini
berdampak luas terhadap perikehidupan masyarakat diantaranya dengan
meningkatnya pengangguran dan jumlah penduduk miskin yang pada gilirannya
akan berpengaruh pada sumber daya manusia Indonesia.
Untuk mendekatkan pelayanan obat pada masyarakat dan meningkatkan
pendapatan masyarakat dirasa perlu adanya upaya pengembangan POD menjadi
WARUNG OBAT DESA (WOD) dimana peran serta masyarakat dan kerja sama
lintas sektor lebih ditingkatkan. WOD melengkapi kegiatan Posyandu dan WOD
merupakan jawaban terhadap pertolongan pertama pada penyakit.
Desa Siaga adalah desa yang pendudukny memiliki kesiapan sumber daya
dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah
kesehatan, bencana dan kegawat daruratan kesehatan secara mandiri. Pengertian

4
Desa di sini dapat berarti kelurahan atau nagari atau istilah-istilah lain bagi satuan
administrasi pemerintahan setingkat desa. Kriteria desa siaga adalah desa yang
telah memiliki sekurangkurangnya sebuah pos kesehatan desa.
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) adalah Upaya Kesehatan Bersumber
Masyarakat (UKBM) yang dibentuk di desa dalam rangka
raendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat.
Sumberdaya poskesdes meliputi tenaga, bangunan, sarana dan pembiayaan.
Tenaga poskesdes minimal seorang bidan dan dibantu oleh sekurang-kurangnya 2
orang kader. Bangunan poskesdes dapat berasal dari pondok bersalin desa
(polindes), balai desa, balai RW/dusun, balai pertemuan atau bangunan lain yang
sudah ada, dan dapat juga bangunan baru. Sarana poskesdes meliputi sarana
medis, sarana non medis dan obat dalam upaya pelayanan kesehatan dasar yang
meliputi upaya promotif, preventif dan kuratif. Pembiayaan poskesdes sebaiknya
merupakan swadaya masyarakat desa setempat.
Pembentukan Poskesdes didahulukan pada desa yang tidak memiliki
rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu (Pustu), dan bukan ibu kota
kecamatan atau ibu kota kabupaten. Poskesdes diharapkan sebagai pusat
pengembangan dan koordinator berbagai UKBM yang diburuhkan masyarakat
desa, misalnya pos pelayanan terpadu (posyandu) dan waning obat desa (WOD)
masyarakat perdesaan dapat dengan mudah memperoleh obat bermutu dan
terjangkau untuk pengobatan sendiri.
WOD diselenggarakan oleh kader kesehatan yang telah dilatih atau tenaga
kesehatan. Kader WOD minimal berpendidikan tamat SD/sederajat yang
ditenrukan oleh kepala desa. Penyelenggaraan WOD mencakup pelayanan
penggunaan obat dan pengelolaan obat. Pembinaan Pelayanan penggunaan obat
mengacu pada pedoman pengobatan WOD, di bawah pengawasan dokter
puskesmas. Pembinaan pengelolaan obat mengacu pada pedoman pengelolaan
obat WOD di bawah pengawasan apoteker/asisten apoteker puskesmas.
Pembinaan penyelenggaraan WOD dilakukan oleh kepala desa dan
pembinaan teknis dilakukan oleh puskesmas melalui bidan di poskesdes. WOD

5
dapat menarik keuntungan dari pelayanan obat sesuai dengan kemampuan
masyarakat setempat

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Warung Obat


Warung Obat Desa (WOD) adalah tempat dimana masyarakat pedesaan
dapat dengan mudah memperoleh obat bermutu dan terjangkau untuk pengobatan
sendiri.
Penyelenggara WOD adalah kader kesehatan, atau tenaga kesehatan yang
telah dilatih. Persyaratan penyelenggara WOD, minimal berpendidikan tamat

6
sekolah dasar. Pemilihan/penunjukkan penyelenggara WOD dilakukan oleh
Kepala desa.
Tujuan umum kegiatan WOD adalah meningkatkan peran serta masyaraka
dalam memperluas akses pelayanan kesehatan serta memajukan ekonomi rakyat
perdesaan.
Tujuan khusus WOD adalah:
a) Memperluas keterjangkauan obat bagi masyarakat pedesaan.
b) menyediakan obat untuk pengobatan sendiri yang akan memudahkan
anggota masyarakat yang sakit untuk mendapat pertolongan pertama
secepatnya,
c) meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengobatan sendiri yang
benar,
d) meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan
kesehatan di puskesmas.
Sasarannya adalah kelompok masyarakat yang masih rendah
keterjangkauannya dalam hal obat dan pengobatan.
Tata Cara Mendirikan WOD
1. Kepala desa menunjuk penyelenggara WOD yang memenuhi persyaratan
pendidikan minimal tamat sekolah dasar dan berkelakuan baik.
2. Penyelenggara mengikuti Pelatihan Manajemen Pengelolaan Obat WOD.
3. Penyelenggara mengikuti Pelatihan Penggunaan Obat WOD.
4. Penyelenggara mengikuti Pelatihan Pengelolaan Usaha WOD.
5. Penyelenggara WOD meminta Kredit Layak Tanpa Agunan (KLTA)
melalui Bank
6. Kepala desa dan penyelenggara menentukan lokasi WOD.
7. Puskesmas memberi bantuan teknis untuk pengelolaannya
Penyelenggaraan WOD mencakup pelayanan penggunaan obat dan
manajemen pengelolaan (pengadaan, penyimpanan dan penyerahan) obat.
Pelayanan penggunaan obat harus mengacu pada pedoman pengobatan WOD
sedangkan manajemen pengelolaan obatnya mengacu kepada pedoman
pengelolaan obat WOD. Pembinaan penyelenggaraan WOD dilakukan oleh
Kepala desa sedangkan pembinaan teknis oleh Puskesmas.
Pelayanan penggunaan obat di bawah pembinaan, supervisi dan
pengawasan dokter Puskesmas sedangkan manajemen pengelolaan obat di bawah

7
pembinaan, supervisi, dan pengawasan Apoteker / Asisten apoteker pengelola obat
Puskesmas.
WOD dapat menarik keuntungan atas penyerahan obat sesuai dengan
kemampuan masyarakat setempat.

B. Macam-macam Obat Desa


Pengadaan obat WOD harus mengacu pada daftar obat WOD yang berisi :
a) obat bebas,
b) obat bebas terbatas,
c) obat kontrasepsi oral
d) jamu.
Pengobatan dilakukan untuk penyakit yang sering diderita masyarakat
setempat sesuai yang tercantum dalam pedoman pengobatan WOD. Pengobatan
bersifat simptomatik dan dilakukan pengamatan mengenai hasil pengobatan
tersebut. Bila tidak ada perubahan yang positif penerima obat dianjurkan untuk
berobat ke Puskesmas.
Pembinaan dan pengawasan penggunaan obat dilakukan oleh dokter
Puskesmas melalui pelatihan, kunjungan rutin serta pelaporan penggunaan obat
secara berkala. Pembinaan dan pengawasan pengelolaan obat dilakukan oleh
Apoteker/ Asisten Apoteker Puskesmas melalui pelatihan, kunjungan rutin serta
pelaporan pemasukan dan pengeluaran obat WOD secara berkala.
C. Obat-obatan pada ibu hamil, bersalin dan menyusui
Tidak semua obat di WOD aman untuk ibu hamil, bersalin dan
menyusui hanya beberapa saja yang bias digunakan. Untuk klasifikasi
sakitnya ada pada table di bawah ini.
PEDOMAN PENGGUNAAN OBAT PADA WARUNG OBAT DESA (WOD)
NO GEJALA TANDA-TANDA PENGOBATAN ATURAN PAKAI
1 Batuk Batuk berdahak atau  Sering-sering minum
berlendir air putih untuk
mengeluarkan lendir
 Obat batuk hitam 3x sehari 1
sendok makan
2 Demam,  Suhu badan lebih  Istirahat cukup
mastitis, nyeri tinggi dari biasa  Parasetamol 500 mg 3x sehari 1 tablet
perinium  Payudara bengkak
dan nyeri pada ibu
menyusui

8
 Jalan lahir sakit
pada ibu yang baru
melahirkan
3 Keluhan pada Gigi berdenyut, nyeri Parasetamol 500 mg 3x sehari 1 tablet
gigi dan mulut biasanya berlubang
4 Keluhan pada  Kutu air  Cuci tangan dan atau
kulit Gatal di sela-sela kaki dengan air
jari tangan dan kaki hangat dan asbun
 Salep kutu air Oleskan setip
malam sebelum
tidur secara
merata
 Scabies  Scabisid salep Oleskan salep
Gatal terutama pada scabisid ke
malam hari seluruh tubuh
diseluruh tubuh setelah itu selama
terutama di antara 24 jam tidak
jari tangan yang boleh mandi
kadang disertai
bintik berair dan
atau bernanah pada
tempat yang gatal
 Biang keringat
Bintik-bintik merah - Mandi teratur 2 x
terutama di leher, sehari
punggung, dada dan - Bedak Salisil 2% Taburkan setiap
dahi atau di ketiak kali habis mandi
dan lipat paha,gatal terutama saat
 Panu berkeringat
Bercak bersisik - Mandi teratur dengan
halus, bercak Sabun
berwarna - Salep antijamur Oleskan setiap
putih/merah, dapat DOEN habis mandi
mengenai seluruh
bagian tubuh, gatal
saat berkeringat
 Kudis atau borok
Bintik atau benjol, - Cuci bersih dengan
bernanah, bersisik air hangat dan sabun
- Kompres dengan
larutan Povidon Iodida
10% Kompres pada
luka dengan kasa
- Salep kudis 2-4 Oleskan secara
merata setelah
mandi

9
5 Keluhan pada Mata merah, bengkak, - Tetes mata - 3-4 kali sehari
mata berair,kadang disertai teteskan pada
rasa gatal mata yang sakit
- Salep mata - 3-4 kali sehari
oleskan pada
mata yang sakit

6 Diare Buang air besar encer - Beri minum


atau cair lebih dari 3 x sebanyak mungkin, air
sehari, tidak ada darah gula garam, teh manis
dalam tinja - Oralit pada 6 jam
pertama :
10 gelas oralit.
selanjutnya 1
gelas oralit tiap
habis buang air
besar.

7 Nyeri Perut kembung, rasa - Makan teratur dan


Lambung mual, perih, nyeri ulu menghindari makanan
hati yang merangsang
(pedas, asam, kopi, teh
kental, Alkohol),
hindari stres.
- Antasida DOEN atau 3 x sehari 1 tablet
Obat nyeri lambung sebelum makan
lain

8 Kurang darah Sering terjadi pada - Ferro sulfat 200 mg Dewasa :


wanita yang 3 x sehari 1 tablet
sedang haid dan - Vitamin C 50 mg Ibu hamil :
wanita hamil, warna 1 x sehari 1 tablet
pucat pada kelopak
mata
bagian bawah, lemas,
mata berkunang-
kunang

9 Nyeri Sendi Nyeri sendi, sendi - Paracetamol 500 mg 3 x sehari 1-2


(Pegal Linu) terasa kaku, rasa sakit tablet
terutama pagi hari, - Balsem, Obat gosok, Dioleskan pada
dan bertambah sakit dll. bagian yang sakit
apabila bergerak
terlalu banyak.

10 Luka Luka

10
Sakit, pendarahan dan - Povidon Iodine 10% Kompres dengan
lecet pada daerah larutan Povidon
yang luka iodide
menggunakan
Luka bakar kasa.
Luka, kulit kemerahan - Rendam dengan air
sampai melepuh, rasa dingin selama
nyeri dan panas mungkin,
angkat dari air, bila
nyeri sudah hilang Oleskan levertran
- Levertran salep salep

11 PUSING Kepala terasa sakit, - Istirahat, tidur


DAN berdenyut atau - Paracetamol 500 mg 3 x sehari 1
SAKIT berputar. tablet.
KEPALA

D. Klasifikasi obat-obatan warung


Obat adalah sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan
untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan pathologi
dalam rangka menetapkan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi.
Beberapa bentuk obat yang ada di WOD:
a) Berbentuk padat: tablet, tablet bersalut gula, kapsul, serbuk untuk
diminum dan
b) serbuk tabur (bedak).
c) Berbentuk cair: sirup, obat luka
d) Berbentuk setengah padat: salep, krim
Obat dalam dan obat luar :
a) Obat dalam adalah obat yang digunakan dengan cara diminum atau
ditelan, contoh: obat demam, obat cacing, obat batuk hitam dll.
b) Obat luar adalah obat yang digunakan untuk bagian luar tubuh, contoh:
obat tetes mata, obat luka, salep kudis dll.
Obat rusak adalah obat yang tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Obat rusak
tidak boleh dijual karena sudah tidak berkhasiat lagi dan dapat beracun.
Tanda-tanda obat rusak :

11
a) Warna sudah berubah dari aslinya.
b) Bentuk berubah, misalnya tablet pecah, cairan jernih menjadi keruh.
c) Obat rusak harus dimusnahkan melalui Puskesmas dikembalikan ke
distributor untuk diganti yang baru sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan.
E. Cara pengelolaan obat warung
Modal awal WOD adalah Kredit Kemitraan dan Kredit Layak Tanpa
Agunan (KLTA) yang disalurkan melalui Bank. Pendapatan diperoleh dari hasil
penjualan obat WOD. Sedangkan informasi mengenai penggunaan obat
merupakan pelayanan yang wajib dilakukan sebelum menyerahkan obat.
Pencatatan penerimaan dan pengeluaran uang dilakukan sesuai dengan pedoman
pengelolaan usaha WOD.
BAB III
KESIMPULAN

12
DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


983/MENKES/SK/VIII/2004 Tentang Pedman Penyelenggaraan
Warung Obat Desa.

13