Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGUJIAN DAN EVALUASI TEKSTIL 3

“PENGUJIAN TAHAN LUNTUR WARNA”

NAMA : Wahyu Robi’ah Nuralhasanah


NPM : 16020009
GROUP : 2K1
DOSEN : Khairul U., SST., MT.
ASISTEN : Mia E., S.ST.
Tjiptodi

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2018
I. JUDUL PRAKTIKUM

1.1 Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Pencucian

1.2 Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Gosokan

1.3 Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Keringat

II. TANGGAL PRAKTIKUM

23 Februari 2018

III. MAKSUD DAN TUJUAN

3.1 Maksud

Mengetahui dan memahami bagaimana cara pengujian ketahanan luntur bahan


tekstil terhadap pencucian, gosokan dan keringat secara baik dan benar.

3.2 Tujuan

 Mengetahui bagaimana melakukan pengujian tahan luntur warna terhadap


pencucian, gosokan dan keringat

 Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tahan luntur warna

IV. DASAR TEORI

4.1 Tahan Luntur Warna

Dalam pemakaian bahan tekstil sehari-hari baiki ditinjau dari segi


kepentingan konsumen maupun produsen tahan luntur warna mempunyai arti
yang penting. Tahan luntur warna ditinjau dari segi kepentingan konsumen
meliputi bermacam-macam tahan luntur, misalnya tahan luntur terhadap sinar
matahari, pencucian, gosokkan, penyetrikaan dan lainyya yang dapat digunakan
untuk menentukan tahan luntur warna tertentu. Sedangkan dari segi kepentingan
produsen misalnya untuk mengetahui pengaruh dari proses penyempurnaan
terhadap kain berwarna, umpanya pengaruh dari proses penyempurnaan anti
mengkeret dan merserisasi.

Masing-masing tahan luntur warna tidak mempunyai korelasi terhadap suatu zat
warna, sehingga untuk suatu zat warna perlu ditentukan beberapa sifat tahan
lunturnya sesuai dengan penggunaan akhir dari bahan tekstilnya. Misalnya suatu
warna mempunyai sifat tahan luntur warna yang baik terhadap pencucian dan
gosokan, tetapi tahan lunturnya terhadap sinar dan keringat adalah jelek.
Dengan adanya bermacam-macam tahan luntur warna maka timbul bermacam-
macam cara pengujian yang biasanya disesuaikan dengan kondisi setempat, tetapi
prinsip cara pengujiannya biasanya sama. Untuk mencegah timbulnya penilaian lain
didalam mengevaluasi hasil pengujian, maka perlu dicantumkan standar cara
pengujian yang digunakan dalam menentukan tahan luntur warna tersebut.
Penilaian tahan luntur warna dilakukan dengan mengamati adanya perubahan
warna asli dari contoh uji sebagai : tidak berubah, ada sedikit perubahan, cukup
berubah dan berubah sama sekali. Disamping dilakukan penilaian penodaan warna
terhadap kain putih.
Penilaian secara visual dilakukan dengan membandingkan perubahan warna
yang terjadi dengan suatu standar perubahan warna. Standar yang dikenal adalah
standar yang dilekuarkan oleh Internasional Standar Organization, yaitu standar
skala abu-abu untuk menilai perubahan warna contoh uji dan standar skala
penodaan untuk menilai penodaan warna pada kain putih.
Perbedaan visual antara contoh asli dan contoh yang telah diuji dibandingkan
dengan perbedaan yang ditunjukkan oleh skala abu-abu. Nilai tahan luntur contoh
uji adalah angka standar skala abu-abu yang sesuai dengan kekontrasan antara
contoh dan contoh yang telah diuji.

4.2 Grey Scale

Standar skala abu-abu terdiri dari 9 pasang lempeng standar abu-abu dan
setiap pasang menunjukkan perbedaan atau kekontrasan warna yang sesuai
dengan nilai tahan luntur warna. Nilai 5 terdiri dari sepasang lempeng standar
abu-abu netral dengan daya pantul 12 ± 1% dan beda warnanya sama dengan nol.
Bahan tekstil yang telah diuji dibandingkan dnegan contoh aslinya dengan
meletakkan berdampingan dengan arah yang sama diatas dasar yang telah
berwarna abu-abu sedikit lebih tua dari warna abu-abu pada nilai 5 standar skala
abu-abu. Untuk bahan yang tipis diperlukan dua atau lebih untuk mencegah
pengaruh dari warna dasar. Skala abu-abu yang yang telah diletakkan
berdampingan dengan contoh uji diterangi dengan cahaya matahari utara untuk
daerah-daerah dibelahan bumi utara atau cahaya matahari selatan untuk daerah-
daerah di belahan bumi selatan dengan sudut 45o yang kuat penerangannya tidak
kurang dari 50 lumen per square foot.

Gambar Grey Scale

4.3 Staining Scale

Standar skala penodaan dipakai untuk menilai penodaan warna pada kain putih
yang digunakan dalam menentukan tahan luntur warna. Seperti pada standar skala
abu-abu, penilaian penodaan pada kain adalah 5,4,3,2, dan 1 yang menyatakan
perbedaan penodaan terkecil sampai terbesar. Standar skala penodaan terdiri dari
sepasang lempeng standar putih dan delapan lempeng standar putih dan abu-abu,
yang tiap pasang menunjukkan perbedaan atau kekontrasan warna yang sesuai
dengan nilai penodaan warna.
Nilai 5 ditunjukkan oleh sepasang lempeng standar putih yang mempunyai daya
pantul tidak kurang dari 85% dan perbedaan warnanya sama dengan nol. Nilai-nilai
dibawanya terdiri dari pasangan lempeng standar putih dan abu-abu dengan
perbedaan warna.
Penodaan pada kain putih didalam uji tahan luntur warna, dilakukan dengan
membandingkan perbedaan warna dari kain putih yang dinodai dan yang tidak
dinodai dengan perbedaan yang digambarkan oleh stabdar skala penodaan, yang
dinyatakan juga dengan nilai ke khromatikan adam seperti halnya pada standar
skala abu-abu,

Gambar Staining Scale

4.4 Serat Kapas

Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman kapas. Tanaman kapas
termasuk dalam jenis Gossypium. Tanaman yang berhasil dikembangkan adalah
jenis Gossypium hirsutum dan Gossypium barbadense. Kedua tanaman berasal
dari Amerika, Gossypium hirsutum kemudian terkenal dengan nama
kapas ”Upland” atau kapas Amerika dan Gossypium barbadense kemudian
dikenal dengan nama kapas ”Sea Island”. Kapas upland merupakan kapas yang
paling banyak diproduksi dan digunakan untuk serat tekstil, sedangkan kapas sea
island meskipun produksinya tidak terlalu banyak, tetapi kualitasnya sangat baik
karena seratnya halus dan panjang. Oleh karena itu kapas sea island digunakan
untuk tekstil kualitas tinggi.
Komposisi Kapas

Kandungan terbesar dari serat kapas adalah selulosa, zat lain selulosa akan
menyulitkan masuknya zat warna pada proses pencelupan, oleh karena itu zat
selain selulosa dihilangkan dalam proses pemasakan. Komposisi serat kapas
dicantumkan pada tabel.

Tabel Komposisi Serat Kapas

Senyawa Kandungan (%)

Selulosa 94

Protein 1,3

Pektin 1,2

Lilin 0,6

Abu 1,2

Pigmen dan zat lain 1,7

Sifat Serat Kapas

Serat kapas berasal dari tanaman, oleh karena itu serat kapas termasuk
serat selulosa, sehingga sifat kimia serat kapas mirip seperti sifat selulosa. Di
dalam larutan alkali kuat serat kapas akan menggembung sedangkan dalam
larutan asam sulfat 70% serat kapas akan larut. Proses penggembungan serat
kapas dalam larutan NaOH 18% disebut proses merserisasi. Kapas yang telah
mengalami proses merserisasi mempunyai sifat kilau lebih tinggi, kekuatan
lebih tinggi dan daya serap terhadap zat warna yang tinggi. Oksidator selama
terkontrol kondisi pengerjaanya tidak mempengaruhi sifat serat, tetapi oksidasi
yang berlebihan akan menurunkan kekuatan tarik serat kapas. Oleh karena itu
pada proses pengelantangan yang menggunakan oksidator harus digunakan
konsentrasi oksidator dan suhu pengerjaan yang tepat agar tidak merusak serat.
Morfologi serat kapas jika dilihat dibawah mikroskop mempunyai penampang
memanjang seperti pita yang terpilin dan penampang melintang seperti ginjal
dengan lubang ditengah yang disebut lumen.

Gambar Morfologi Serat

Beberapa karakteristik serat kapas tercantum dalam tabel berikut :

Tabel Karakteristik Serat Kapas


Daya serap : Hidrofilik, Moisture Regain : 8.5 %.

Elastisitas : Kurang baik.

Kimia : tidak tahan terhadap asam yang kuat, tidak tahan terhadap alkali,
tidak tahan terhadap bahan kimia yang berlebihan.

Pembakaran : terbakar habis, tidak meniggalkan abu.

Stabilitas : dapat terjadi penyusutan jika dilakukan pencucian yang tidak


dimensi sesuai.

Kekuatan : 2 – 3 gram/denier, kekuatan akan meningkat 10 % lebih kuat


ketika basah.

Mulur : Mulur serat kapas berkisar antara 4-13 % bergantung pada


jenisnya dengan mulur rata-rata 7 %.
Gambar Struktur Serat Kapas

4.5 Serat Poliester

Serat poliester merupakan serat sintetis yang dibuat dari asam tereftalat dan
etilena glikol. Pemintalan dilakukan dengan cara pemintalan leleh yang
menghasilkan morfologi berbentuk silinder dengan penampang melintang bulat.
Serat poliester dalam bentuk stapel terkenal sebagai serat pencampur paling baik
karena bisa dicampur dengan begitu banyak jenis serat, menghasilkan bahan
dengan perbaikan sifat yang diinginkan tanpa terjadi kerusakan pada komponen
seratnya. Serat poliester dalam bentuk filamen terkenal sebagai serat yang paling
multiguna. Serat poliester telah mempunyai warna putih sehingga tidak perlu lagi
dikelantang.

Sifat Kimia

Polyester tahan tehadap asam lemah meskipun pada suhu mendidih, dan
tahan asam kuat dingin. Polyester tahan tehadap basa lemah, tetapi kurang tahan
terhadap basa kuat. Polyester tahan terhadap zat oksidator, alcohol, keton, sabun,
dan zat-zat untuk pencucian kering. Polyester meleleh diudara pada suhu 250 oC
dan tidak menguning pada suhu tinggi.

Sifat Fisika

Polyester memiliki elastisitas yang baik sehingga kain polyester tahan


kusut. Berat jenisnya adalah 1,38, memiliki morfologi berbentuk silinder dengan
penampang lintang bulat.

Serat poliester adalah serat sintetik yang terbentuk dengan cara polimerisasi
kondensasi asam tereftalat dengan etilena glikol pada temperatur tinggi. Poliester
dari 1,2-ethanediol (etilena glikol) dan benzene 1,4-asam dikarboksilat (asam
tereptalik) telah diolah dan ditemukan meleleh pada suhu ± 265 ºC, dimana
hasilnya poliester lebih dikenal dengan poli (etilena tereftalat).

Berikut ini merupakan reaksi pembuatan serat poliester :

nHOOC COOH + nHO-CH2-CH2-OH

Asam Tereftalat Etilena Glikol

=
H O-C C - O - CH2 - CH2 OH + (2n-1) H2O
=

O n

Polietilena Tereftalat Air

Setiap unit polimer di dalam serat poliester terikat satu dengan yang lainnya
membentuk ikatan hidrogen dan van der waals. Dengan tingginya tingkat
orientasi selama pembuatan filamen menyebabkan suatu struktur yang kompak
dan sejajar dengan sumbu serat sehingga daya serap poliester menjadi lemah.

Poliester tahan asam lemah dan asam kuat dingin, basa lemah, tetapi kurang
tahan basa kuat. Serat poliester 100% mempunyai sifat-sifat yang baik seperti
tahan gosokan, sifat cuci dan pakai (wash and wear) sifat tahan kusut dan dimensi
yang stabil. Selain sifat-sifat di atas, serat poliester 100% dikenal dapat
menimbulkan elektrostatik bila dipakai.

V. ALAT DAN BAHAN

5.1 Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Pencucian

 Alat :
- Launder o meter
- Kelereng baja
- Grey Scale
- Staining Scale
 Bahan :
- Kain contoh uji
- Kain pelapis
- Air suling
- Sabun tanpa pemutih optik

5.2 Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Gosokan

 Alat :
- Crockmeter
- Staining Scale

 Bahan :
- Kain contoh uji
- Kain kapas
- Air Suling

5.3 Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Keringat

 Alat :
- AATCC Perspiration Tester
- Alat Pemeras Mangel
- Lempeng kaca
- Oven
- Grey Scale
- Staining Scale

 Bahan :
- Kain contoh uji
- Kain pelapis
- Keringat buatan (asam dan basa)
VI. CARA KERJA

6.1 Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Pencucian

1) Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum ini.
2) Siapkan larutan sabun standar.
3) Jahit kain contuh uji dengan kain pelapis.
4) Masukkan kain contoh uji yang telah diberikan kain pelapis, kelereng baja, dan
150 ml larutan sabun kedalam tabung.
5) Tutup tabung dan lakukan pencucian pada mesin Launder-O meter selama 45
menit dalam suhu 40-50oC.
6) Keringkan contoh uji dengan memasukkan contoh uji dengan kain pelapisnya
kedalam oven sampai kain benar-benar kering.
7) Setelah contoh uji kering lakukan evaluasi grey scale dan staining scale.

6.2 Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Gosokan

1) Buat contoh uji kain dengan kuran 20 x 5 cm.


2) Metakkan contoh uji rata diatas alat penguji dengan sisi yang panjang, searah
dengan arah gosokkan.
3) Membungkus jari crockmeter dengan kain putih kering dengan anyamannya
miring terhadap arah gosokkan.
4) Kemudian gosokkan 10 kali maju mundur (20 kali gosokkan) dengan memutar
alat pemutar 10 kali dengan kecepatan satu putaran perdetik. Kain putih diambil
dan di valuasi.
5) Memandingkan kain penggosok dengan staining scale.

6.3 Pengujian Tahan Luntur Warna Terhadap Keringat

1) Memotong contoh dengan ukuran 4 cm x 10 cm, potong pula kain pelapis


dengan ukuran yang sama.
2) Contoh uji diletakkan diantara sepasang kain pelapis, kemudian jahit salah satu
kain terpendek.
3) Menyiapkan larutan keringat asam atau basa buatan dalam campuran.
4) Contoh uji direndam dan diaduk-aduk dalam larutan, biarkan 15 – 30 menit
untuk mendapatkan pembasahan sempurna. Apabila kain sukar dibasahi, contoh
uji direndam, diperas dengan mangel, direndam lagi, diperas lagi demikian
dilakukan berulang-ulang, sampai mendapatkan pembasahan yang sempurna.
5) Contoh uji diletakkan diantara 2 lempeng kaca atau plastic perspiration tester,
lalu seluruh lempeng kaca dan contoh uji dipasang pada perspiration tester dan
diberi tekanan 10 pound (60 g/cm2). Dan diatur sedemikian rupa sehingga
tekann pada contoh uji tetap.
6) Contoh uji yang telah diberi tekanan tersebut dimasukkan kedalam oven dalam
kedudukan contoh uji vertkal pada suhu 38 ± 1oC, selama paling sedikit 6 jam.
Bila setelah 6 jam contoh uji belum kering, kemudian dikeringkan diudara pada
suhu tidak lebih dari 60oC. untuk mudahnya contoh uji tersebut dapat dikerjakan
selama 16 jam. Percobaan-percobaan menunjukkan bahwa setelah 6 jam tidak
terjadi lagi perubahan warna atau penodan.
Evaluasi perubahan warna contoh uji dilakukan dengan membandingkan
terhadap grey scale dan evaluasi penodaan warna dilakukan dengan
membandingkan penodaan wrna pada kain putih terhadap staining scale.

VII. DATA PERCOBAAN

Kain Contoh Uji


7.1 Evaluasi uji tahan cuci

Staining Scale pada uji tahan cuci

Contoh Uji Jenis Pelapis Nilai Staining Scale Kain Pelapis

Kapas
(diatas kain 4/5
printing)

Contoh Uji 1

Poliester

(dibawah 5

kain printing)

Poliester

(diatas kain 5

printing)

Contoh Uji 2

Kapas

(dibawah 5

kain printing)
Grey Scale pada uji tahan cuci

Contoh Uji Nilai Grey Scale Kain

Contoh Uji 1 5

Contoh Uji 2 5
7.2 Evaluasi uji tahan gosok

Contoh Uji Nilai Staining Scale Hasil Gosok

Contoh Uji 1 4/5

Gosok

Kering

Contoh Uji 2 4/5

Contoh Uji 3 1

Gosok

Basah

Contoh Uji 4 ½
7.3 Evaluasi uji tahan keringat

Staining Scale pada uji tahan keringat

Contoh Uji Jenis Pelapis Nilai Staining Scale Kain Pelapis

Kapas
(diatas kain 3/4
printing)
Contoh uji 1

Keringat Asam
Poliester

(dibawah 4/5

kain printing)

Poliester

(diatas kain 4/5

printing)
Contoh uji 2

Keringat Asam
Kapas

(dibawah 4

kain printing)
Contoh Uji Jenis Pelapis Nilai Staining Scale Kain Pelapis

Kapas
(diatas kain 4/5
printing)
Contoh uji 3

Keringat Basa
Poliester

(dibawah 5

kain printing)

Poliester

(diatas kain 5

printing)
Contoh uji 4

Keringat Basa
Kapas

(dibawah 4

kain printing)
Grey Scale pada uji tahan keringat

Contoh Uji Nilai Grey Scale Kain

Contoh uji 1

(kapas diatas kain printing) 5

Keringat Asam

Contoh uji 2

(poliester diatas kain printing) 5

Keringat Asam

Contoh uji 3

(kapas diatas kain printing) 5

Keringat Basa

Contoh uji 4

(poliester diatas kain printing) 5

Keringat Basa
VIII. DISKUSI

8.1. Pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian

Pengujan evaluasi tahan luntur terhadap pencucian ini dimaksudkan untuk


mengetahui tingkat kelunturan warna pada kain tenun dengan proses pencucian,
evaluasi dilakukan dengan staining scale (skala penodaan) dan grey scale (skala
abu-abu). Hasil pengujian tahan luntur warna terhadap pencucian ini diamati
dengan grey scale dan staining scale secara visual dengan lampu daylight. Penilaian
tahan luntur warna ini dilakukan dengan melihat adanya perubahan dari warna asli
dengan warna hasil pencucian dengan suatu standar perbahan warna.

Pada praktikum ini, praktikan mempunyai 2 kain contoh uji. Kain contoh uji 1
adalah kain yang pelapis atasnya adalah kapas dan kain contoh uji 2 adalah kain
yang pelapis atasnya adalah poliester. Berdasarkan data hasil praktikum, evaluasi
staining scale pada kain contoh uji 1 mempunyai hasil yang dapat dikatakan hampir
tidak luntur sama sekali. Sedangkan pengujian grey scale menunjukkan bahwa kain
mendapat nilai 5 yang artinya kain hasil cuci warnanya masih sama dengan kain
contoh uji awal. Kain contoh uji 2 mempunya hasil staining scale yang
menunjukkan tidak adanya penodaan pada kan pelapis, begitu jugapun grey scale-
nya juga menunjukkan bahwa warna kain masih sama dengan contoh uji awal.

8.2. Pengujian tahan luntur warna terhadap gosokan

Pengujan evaluasi tahan luntur terhadap gosokan ini dimaksudkan untuk


mengetahui tingkat kelunturan warna pada kain tenun dengan proses gosokan.
Pengujian yang dilakukan ada dua cara yaitu gosokan kering dan basah. Pada
gosokan kering, praktikan menggunakan kain kapas kering yang telah dipasang
pada crockmeter, lalu gosokan basah menggunakan kain kapas yang telah dibasahi
sebelumnya. Masing-masing pengujian dilakukan dengan 10 kali gosokan.
Pengujian ini dilakukan untuk mengumpamakan kain pada kehidupan sehari-hari
yaitu semacam gesekan-gesekan yang terjadi saat kita memakainya. Evaluasi
dilakukan dengan staining scale (skala penodaan) saja. Sama dengan uji pencucian,
hasil pengujian diamati dengan staining scale secara visual dengan lampu daylight.
Penilaian tahan luntur warna ini dilakukan dengan melihat adanya penodaan pada
kain pelapis putih karena adanya luntur pada kain contoh uji.

Berdasarkan praktikum, nilai staining scale gosokan kering mendapatkan nilai


4/5 pada kedua contoh uji. Tetapi pada pengujian gosok basah, didapatkan nilai
yang sangat kecil yaitu 1 dan 1/2 yang artinya tahan luntur terhadap gosokan
basahnya sangat jelek.

8.3. Pengujian tahan luntur warna terhadap keringat

Pengujan evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kelunturan


warna pada kain tenun terhadap keringat. Keringat yang digunakan adalah keringat
buatan yaitu keringat asam dan keringat basa. Kain contoh uji yang digunakan ada
empat buah, dua kain diuji dengan keringat asam dan sisanya untuk keringat basa.
Pengujian ini dilakukan untuk mengumpamakan kain pada kehidupan sehari-hari
saat terkena keringat manusia.

Pada pengujian terhadap keringat asam, nilai staining scale paling kecil yang
didapat adalah 3/4 saat kain kapas menjadi pelapis atasnya. Hasil grey scale
terhadap keringat asam menunjukkan hasil yang baik yang artinya warna kain
contoh uji masih sama dengan kain contoh uji awal. Lalu, pengujain terhadap
keringat basa menunjukkan nilai staining scale paling kecil 4 yaitu saat kain kapas
menjad pelapis bawah kan contoh uji. Sedangkan hasl grey scale menunjukkan hal
yang sama dengan hasil keringat asam, yaitu menunjukkan hasil yang baik yang
artinya warna kain contoh uji masih sama dengan kain contoh uji awal.
IX. KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapat kesimpulan sebagai berikut:

 Kain contoh uji mempunyai ketahanan luntur warna yang baik terhadap
pencucian karena mempunyai hasil grey scale dan staining scale yang baik pula.

 Kain contoh uji mempunyai ketahanan luntur warna yang baik terhadap
gosokan kering tetapi mempunyai ketahanan luntur warna yang jelek untuk
gosokan basah.

 Kain contoh uji mempunyai ketahanan luntur warna yang cukup baik terhadap
keringat. Kain contoh uji lebih tahan dengan keringat basa dibanding keringat
asam.

X. DAFTAR PUSTAKA

Soeprijono, P., Poerwati, Widayat & Jumaeri. 1974. Serat-Serat Tekstil.


Bandung: Institut Teknologi Tekstil.

Merdoko, Wibowo. Dkk. 1975. Evaluasi Tekstil (Bagian Kimia). Bandung :


Institut Teknologi Tekstil

Hitariat, NM. Susyami. Dkk. 2005. Bahan Ajar Praktek Evaluasi Kain.
Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung.

Anda mungkin juga menyukai