Anda di halaman 1dari 5

Summary

METAKOGNISI

Sumber: Buku “Model Pembelajaran Menumbuhkembangkan Kemampuan Metakognitif”


Penulis buku: Prof. Nurdin Arsyad, M.Pd.

DISUSUN OLEH

SAIFUL BACHRI
1701513016

PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN MATEMATIKA


UNIVERSITAS COKROAMINOTO PALOPO
A. Pengertian Metakognisi
Pengertian yang paling umum dari metakognisi adalah thinking about thinking (berpikir tentang
berpikir) atau learn how to learning (belajar bagaimana belajar). Pengertian metakognisi
menurut para pakar:
1. O'Neil & Brown mengemukakan pengertian metakognisi sebagai proses seseorang berpikir
tentang berpikir mereka sendiri dalam rangka membangun strategi untuk memecahkan
masalah
2. Flavell mengemukakan bahwa metakognisi adalah pengetahuan seseorang berkenaan
dengan proses dan produk kognitif orang itu sendiri atau segala sesuatu yang berkaitan
dengan proses dan produk tersebut
3. William Peirce mendefinisikan secara umum metakognisi adalah berpikir tentang berpikir.
4. Hamzah B. Uno (2007: 134) metakognisi merupakan keterampilan seseorang dalam
mengatur dan mengontrol proses berpikirnya.
Berdasarkan pengertian-pengertian yang dikemukakan beberapa pakar di atas, maka
dirumuskan pengertian metakognisi adalah proses seseorang belajar bagaimana belajar dan
berpikir tentang berpikir mereka sendiri dalam rangka membangun strategi kognitif dan
menyadari penggunaannya dalam proses belajar.

B. Komponen (Indikator) Pembangun Metakognisi


Flavel mengemukakan bahwa metakognisi meliputi dua komponen, yaitu: (a)
pengetahuan metakognitif dan (b) pengalaman atau regulasi metakognitif. Baker & Brown dan
Gagne mengemukakan bahwa metakognisi memiliki dua komponen, yaitu: (a) pengetahuan
tentang kognisi, dan (b) mekanisme pengendalian diri dan monitoring kognitif.
Schoenfeld mengemukakan tiga cara untuk menjelaskan metakognisi dalam
pembelajaran matematika, yaitu: (a) Keyakinan dan intuisi, menyangkut ide-ide
matematika apa saja yang disiapkan untuk menyelesaikan masalah matematika dan bagaimana
ide-ide tersebut membentuk jalan/cara untuk menyelesaikan masalah matematika, (b)
Pengetahuan tentang proses berpikir, menyangkut seberapa akurat seseorang dalam
menyatakan proses berpikirnya, dan (c) Kesadaran-diri (regulasi-diri), menyangkut keakuratan
seseorang dalam menjaga dan mengatur apa yang harus dilakukannya ketika menyelesaikan
masalah matematika, dan seberapa akurat seseorang menggunakan input dari pengamatannya
untuk mengarahkan aktivitas-aktivitas menyelesaikan masalah.
North Central Regional Educational Laboratory (NCREL) mengemukakan tiga elemen
dasar dari metakognisi secara khusus dalam menghadapi tugas, yaitu: (a) mengembangkan
rencana tindakan, (b) mengatur atau memonitor rencana, dan (c) mengevaluasi rencana.
Anderson & Krathwohl mengemukakan tiga aspek pengetahuan metakognitif, yaitu: (a) penge
tahuan strategis (strategic knowledge), (b) pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif, termasuk
pengetahuan kontekstual dan kondisional (knowledge about cognitive task), dan (c)
pengetahuan diri (self knowledge). Flavel membagi pengetahuan metakognitif ke dalam tiga
variabel, yaitu: (a) variabel pengetahuan-diri (individu), (b) variabel tugas, dan (c) variabel
strategi.

C. Strategi Meningkatkan Kemampuan Metakognitif


Huitt menjelaskan bahwa Osman & Hannafin menggunakan dua kriteria untuk
mengklasifikasikan strategi-strategi pelatihan metakognitif, yakni: pendekatan pelatihan
(training approach) dan hubungannya dengan materi pelajaran (relationship to lesson content).
Osman & Hannafin menggambarkan strategi-strategi pelatihan metakognitif berdasarkan
pendekatannya, ada yang melekat (embedded) atau tergabung dalam isi pelajaran dan ada yang
diajarkan secara terpisah (detached) dari materi pelajaran. Berdasarkan hubungannya dengan
konten/isi pelajaran, startegi bisa tergantung pada (dependent on), atau bebas dari (independen
of) konten/isi pelajaran.
Blakey & Spence mengemukakan strategi atau langkah- langkah untuk meningkatkan
keterampilan (perilaku) metakognitif: (a) mengidentifikasi apa yang kau ketahui (what you
know dan apa yang kau tidak ketahui (what you don't know), (b) berbicara tentang berpikir
(talking about thinking), (c) membuat jurnal berpikir (keeping thinking journal), (d) membuat
perencanaan dan regulasi-diri (planing and self regulation), (e)
melaporkan kembali proses berpikir (debriefing thinking process),dan (f) evaluasi-diri
(self evaluation)
Cara-cara mengimplementasikan strategi belajar dalam pembelajaran matematika:
a. Pilih sebuah strategi belajar yang sesuai dengan keterampilan matematika (misal:
memahami konsep).
b. Deskripsikan dan modelkan strategi tersebut paling sedikit 3 kali.
c. Cek pemahaman siswa. Pastikan mereka mehamami strategi tersebut dan bagaimana
menggunakannya.
d. Sediakan cukup kesempatan bagi siswa untuk mempraktikkan strategi tersebut.
e. Sediakan waktu untuk mengoreksi umpan balik dan memo delkan kembali strategi tersebut
sesuai kebutuhan
f. Sediakan lembaran petunjuk bagi siswa untuk memulai sendiri menggunakan strategi
tersebut.
8. Berilah penguatan bagi siswa yang mampu menggunakan strategi tersebut secara tepat.
h. Secara implisit, gunakan strategi itu ketika melakukan korespondensi (mengkomunikasikan)
keterampilan matematika dalam kelas
Gagne merekomendasikan cara yang dianggap efektif mengenai prosedur mengajarkan
strategi kognitif pemecahan masalah , yaitu dengan mengkombinasikan uraian strategi secara
verbal dengan latihan dalam memecahkan masalah.

D. Implikasi dalam Pembelajaran


Implikasi dari penerapan pengetahuan metakognitif dalam pembelajaran dapat diajarkan
melalui berbagai mata pelajaran seperti: bahasa Inggris, matematika, IPA, IPS, seni, musik, dan
pendidikan kursus fisik. Untuk Ilmu keguruan, bisa mengajarkan metode ilmiah umum dan
prosedur, tetapi pembelajaran mungkin akan lebih efektif ketika terikat dengan konten ilmu
tertentu, tidak diajarkan secara abstrak. Kuncinya adalah bahwa guru berencana untuk
menyertakan beberapa tujuan mengajar pengetahuan metakognitif dalam perencanaan, dan
kemudian benar-benar mencoba mengajar dan menilai pengetahuan metakognitif seperti
mengajarkan pengetahuan konten lainnya. Salah satu aspek paling penting dari pembelajaran
pengetahuan metakognitif adalah pelabelan eksplisit kepada siswa. Ketika mereka mendengar
dan melihat bagaimana teman sekelas mereka mengerjakan tugas, mereka dapat
membandingkan strategi mereka sendiri dengan teman sekelas mereka dan membuat penilaian
tentang kegunaan relatif dari berbagai strategi.
Selain pengembangan seputar pengetahuan metakognitif, strategi pembelajaran lain yang
penting adalah pemodelan strategi, disertai dengan penjelasan. Misalnya, guru yang
memecahkan masalah di kelas, ia mungkin akan berbicara keras tentang proses kognitif sendiri
saat ia bekerja memecahkan masalah. Ini merupakan model bagi siswa, menunjukkan kepada
mereka bagaimana mereka menggunakan strategi dalam memecahkan masalah nyata. Selain
itu, guru juga mungkin membahas mengapa dia menggunakan strategi tertentu untuk masalah
khusus, demikian juga melibatkan siswa dalam isu-isu mengenai pengetahuan kondisional yang
mengatur kapan dan mengapa menggunakan strategi yang berbeda. Sebagai ahli di bidangnya,
guru memiliki semua jenis pengetahuan implisit tentang strategi serta kapan dan mengapa
mereka gunakan. Namun, siswa sering kekurangan sarana untuk mendapatkan akses ke
pengetahuan ini. Jika pengetahuan tidak pernah dibagi melalui diskusi, pemodelan , atau
instruksi eksplisit , sulit bagi siswa untuk belajar .
Implikasi untuk penilaian pengetahuan metakognitif oleh para guru akan lebih baik
informal daripada formal. Misalnya, jika guru mengajar dan mendiskusikan pengetahuan
metakognitif sebagai bagian dari wacana normal kelas mereka, mereka akan perlu berbicara
dengan siswa mereka tentang pengetahuan metakognitif dan mungkin lebih penting, benar-
benar mendengarkan siswa ketika mereka berbicara tentang kognisi mereka sendiri dalam
belajar. Sebagai hasil dari pembicaraan tersebut, guru akan menyadari tingkat pengetahuan
metakognitif dalam kelas mereka dan akan dapat menilai cukup cepat tingkat dan kedalaman
pengetahuan metakognitif siswa. Dalam banyak hal, ini tidak berbeda dari apa yang dilakukan
guru untuk menilai tingkat pengetahuan konten siswanya. Penilaian dapat dimulai dari diskusi,
mengajukan beberapa pertanyaan, mendengarkan jawaban, dan berbicara dengan siswa.
Berdasarkan wacana ini, guru dapat dengan cepat memperkirakan kedalaman pengetahuan
siswa. Penilaian informal dapat digunakan untuk mengkalibrasi instruksi dan membantu siswa
memperoleh pengetahuan faktual, konseptual, prosedural sekaligus pengetahuan metakognitif.
Dari perkiraan informal tentang " penilaian percakapan, " guru juga dapat membuat kesimpulan
tentang tingkat pengetahuan metakognitif masing-masing siswa Guru dapat berbicara dengan
siswa secara individu atau dalam kelompok-kelompok kecil untuk memperkirakan tingkat
pengetahuan metakognitif. Kuesioner formal dan prosedur wawancara dapat digunakan untuk
menilai pengetahuan metakognitif siswa mengenai strategi belajar mereka serta pengetahuan
mereka tentang konteks tugas yang berbeda (Baker & Cerro , 2000; Pintrich et al , 2000)..
Dalam hal penilaian pengetahuan metakognitif diri menyiratkan bahwa siswa harus
memiliki kesempatan untuk menilai kekuatan dan kelemahan mereka sendiri. Dalam kelompok
masyarakat yang lebih besar, penting juga untuk motivasi bahwa self -assessment lebih pribadi,
dapat dilakukan antara satu guru dan satu siswa (Pintrich & Schunk , 2002). Dengan cara ini,
siswa dapat bertemu secara terpisah dengan para guru untuk membahas kekuatan dan
kelemahan persepsi mereka sendiri, dan guru dapat memberikan umpan balik kepada mereka
tentang persepsi tersebut. Penilaian portofolio menawarkan kepada siswa kesempatan untuk
merefleksikan pekerjaan mereka dalam portofolio dan ini tentu menyediakan informasi self-
assessment untuk mereka. Sebagai siswa, mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk
merefleksikan pembelajaran mereka sendiri, mereka akan lebih mengembangkan pengetahuan
metakognitif diri yang dapat membantu mereka.