Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

UPAYA-UPAYA PENCEGAHAN PRIMER, SEKUNDER DAN TERSIER


PADA KASUS KEGAWAT DARURATAN

Oleh :
KELOMPOK 1

WINDI SINTIA DEBI


TUTIK SETIYAWATI
PATI LESTARI
HEMA MAULINA
M. ZAINI
ZUHRI RAIS
SILARAGITA DWI OKTAVIA

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S.1
MATARAM
2018

i
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah S.W.T, karena atas


berkat rahmat dan inayah-Nya terutama rahmat kesehatan dan kesempatan sehingga
kami dapat menyusun Makalah Gawat Darurat dengan judul”Pencegahan Primer,
Sekunder dan Tersier pada Gawat Darurat Berbagai Sistem”
Terimakasih kami ucapkan kepada dosen pengajar , yang dengan ikhlas telah
mengajar dan mengarahkan kami dalam menyelesaikan tugas makalah. Terimakasih
juga kami ucapkan kepada teman-teman kelas A2 yang selalu memberi dukungan
kepada kami dalam penyelesaian tugas ini.
Kami menyadari bahwa dalam Makalah ini, kami terdapat banyak hambatan
yang dihadapi, namun dengan ketabahan dan kerja keras kami serta dengan bantuan
dari teman- teman sehingga Alhamdulillah segala sesuatu dapat teratasi.
Kritik dan saran dari semua pihak akan kami terima dengan senang hati demi
kesempurnaan Makalah ini.

Mataram, Maret 2018

Kelompok 1

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i


KATA PENGANTAR ............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii
BAB 1 : PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 2
1.3 Tujuan ..................................................................................................... 2
BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 3
2.1 Pencegahan Primer .................................................................................. 3
2.2 Pencegahan Seknder................................................................................ 5
2.3 Pencegahan Tersier ................................................................................. 7
2.4 Pencegahan Primer Skunder Dann Tersier Berdasaran Letak
Trauma .................................................................................................... 7
2.4.1 Trauma Kepala Dan Wajah ........................................................ 7
2.4.2 Trauma Toraks Dan Leher ......................................................... 7
2.4.3 Trauma Abdomen ....................................................................... 8
2.4.4 Trauma Tulang Belakang ........................................................... 9
2.4.5 Trauma Muskuloskeletal ............................................................ 10
BAB 3 : PENUTUP ................................................................................................ 12
3.1 Simpulan ................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA

iii
iv
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan suatu Negara yang terletak dalam pertemuan 5
lempeng dunia, selain itu Indonesia juga terletak direntetan gunung berapi
mulai dari aceh hinga ke Maluku.
Akhir-akhir in berbagai bencana sepertinya belum bisa lepas dari Negara
kita mulai dari kebakaran pabrik, banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami
dan letusan gunung berapi, hal ini menggambarkan bahwa masih rentannya
masyarakat menjadi korban bencana. Bencana yang pernah kita kenal ada dua
macam yaitu bencana yang bersifat umum ( menyangkut orang banyak ) dan
bencana yang hanya terjadi pada satu orang atau beberapa orang saja atau
sering kita sebut sebagai kecelakaan. Kecelakaan umumnya terjadi secara
mendadak dan seringnya kita sebagai tenaga kesehatan tidak cukup siap untuk
menolong korban walaupun berpuluh-puluh teori sudah kita pelajari. Kita tentu
mengingat tentang Gawat Darurat, bahkan kata-kata itu sudah menjadi kata-
kata setiap hari yang sering kita ucapkan walaupun belum tentu benar dalam
mengartikannya.
Gawat artinya mengancam nyawa, sedangkan darurat adalah perlu
mendapatkan penanganan atau tindakan dengan segera untuk menghilangkan
ancamannyawa korban. Keperawatan gawat darurat (Emergency Nursing)
merupakan pelayanan keperawatan yang komprehensif diberikan kepada
pasien dengan injuri akut atau sakit yang mengancam kehidupan. Tujuan
penanggulangan gawat darurat adalah untuk:
1. Mencegah kematian dan cacat pada pasien gawat darurat, hingga dapat
hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat.
2. Merujuk pasien gawat darurat melalui system rujukan untuk memperoleh
penanganan yang lebih memadai.
3. Penanggulangan korban bencana.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah pencegahan primer, sekunder dan tersier pada gawat darurat ?
1.2.2 Apakah pencegahan primer sekunder dan tersier pada gawat darurat di
berbagai system ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pencegahan primer, sekunder tersier pada gawat
darurat
1.3.2 Untuk mengetahui pencegahan primer sekunder dan tersier pada
gawat darurat di berbagai system

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pencegahan Primer


Upaya yang ditujukan kepada orang-orang sehat dan kelompok resiko
tinggi yakni mereka yang belum menderita, tetapi berpotensi untuk mengalami
Multi trauma. Tujuan dari pencegahan primer yaitu untuk mencegah
timbulnya Multi Trauma pada individu yang beresiko mengalami Multi
Trauma atau pada populasi umum. Sasaran pencegahan primer yaitu orang-
orang yang belum sakit dan klien yang beresiko terhadap kejadian Multi
Trauma.
Pencegahan primer adalah intervensi biologi, sosial, atau psikologis
yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan atau menurunkan
insiden penyakit di masyarakat dengan mengubah faktor-faktor penyebab
sebelum membahayakan seperti penyuluhan kesehatan, pengubahan
lingkungan, dukungan system social.
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan :
2.1.1 Penyuluhan kesehatan
Penyuluhan kesehataan merupakan salah satu bagian dari
pencegahan primer yang mampu dilakukan. Penyuluhan kesehatan
mencakup memperkuat individu dan kelompok melalui pembentukan
kompetensi. Asumsinya adalah banyak respon maladaptive terjadi
akibat kurangnya kompetensi. Hal ini meliputi kurangnya control yang
dirasakan terhadap kehidupan seseorang, rasa keefektifan diri yang
rendah, kurang efektifnya strategi koping, dan harga diri rendah yang
terjadi. Penyuluhan kesehatan mencakup empat tingkat intervensi
berikut ini.
1. Meningkatkan kesadaran individu atau kelompok tentang masalah
dan peristiwa yang berhubungan dengan sehat dan sakit, seperti
tugas perkembangan normal.
2. Meningkatkan pemahaman seseorang tentang dimensi stressor yang
potensial, kemungkinan hasil (baik adaptif maupun maladaptif),
dan respon koping alternative.

3
3. Meningkatkan pengetahuan seseorang tentang dimana dan
bagaimana memperoleh sumber yang diperlukan.
4. Meningkatkan keterampilan penyelesaian masalah individu atau
kelompok, keterampilan interpersonal, toleransi terhadap stres dan
frustasi, motifasi, harapan, dan harga diri.
2.1.2 Pengubahan lingkungan
Intervensi preventif mungkin dilakukan untuk memodifikasi
lingkungan terdekat individu atau kelompok atau system social yang
lebih besar. Intervensi ini terutama bermanfaat apabila lingkungan
menempatkan tuntutan baru kepada pasien, tidak tanggap terhadap
kebutuhan perkembangan, dan hanya memberikan sedikit dukungan.
Pengubahan lingkungan meliputi jenis berikut ini.
1. Ekonomi
Mengalokasikan sumber untuk bantuan financial atau
bantuan anggaran dan pengelolaan penghasilan.
2. Pekerjaan
Menerima tes pekerjaan, bimbingan, pendidikan, atau
pelatihan kembali yang dapat menghasilkan pekerjaan atau karir
baru.
3. Perumahan
Pindah ketempat baru, yang berarti meninggalkan atau
kembali pada keluarga dan teman; memperbaiki rumah yang sudah
ada; mendapatkan atau kehilangan keluarga, teman atau teman
sekamar.
4. Keluarga
Memasukkan anak pada fasilitas perawatan, taman kanak-
kanak, sekolah dasar, atau berkemah, mendapatkan pelayanan
rekreasi, social, keagamaan, atau komunitas.

5. Politik

4
Memengaruhi struktur dan prosedur pelayanan kesehatan;
berperan serta dalam perencanaan dan pengembangan
komunitas; mengatasi masalahlegislatif.
2.1.3 Dukungan system social
Penguatan dukungan social adalah cara mengurangi atau
memperkecil pengaruh dari peristiwa yang berpotensi menimbulkan
sters. Empat jenis intervensi preventif yang mungkin adalah:
1. Mengkaji lingkungan masyarakat untuk mengidentifikasi area
masalah dan kelompok resiko tinggi.
2. Meningkatkan hubungan antara system dukungan masyarakat dan
pelayanan kesehatan jiwa formal.
3. Menguatkan jaringan pemberian pelayanan yang ada, meliputi
kelompok gereja, organisasi masyarakat, kelompok wanita,
dukungan tempat kerja, dan lingkungan, dan self-help group.
4. Membantu individu atau kelompok dalam mengembangkan,
mempertahankan, memperluas, dan menggunakan jaringan social
yang tersedia.

2.2 Pencegahan Sekunder


Tujuan dari pencegahan skunder kegawat daruratan yaitu Pendeteksian
dini Multi Trauma serta penanganan segera sehingga komplikasi dapat dicegah.
Sasaran pencegahan skunder yaitu pasien multi trauma yang baru terdiagnosa
dan Kelompok penduduk resiko tinggi ( supir, tukang ojek, Balita, Pekerja
bangunan, pemanjat tebing ). Pencegahan skunder termaksud menurunkan
prevalensi ganguan. aktifitas pencegahan skunder meliputi penemuan kasus
dini, skrining dan pengobatan efektif yang cepat. intervensi krisis adalah suatu
modalitas terapi pencegahan sekunder yang penting.
2.2.1 Krisis
Krisis adalah gangguan internal yang ditimbulkan oleh peristiwa
yang menegangkan atau ancaman yang dirasakan pada diri seseorang.
Mekanisme koping yang biasa digunakan seseorang. Mekanisme
koping yang biasa digunakan seseorang menjadi tidak efektif untuk
mengatasi ancaman, dan orang tersebut mengalami suatu

5
ketidakseimbangan serta peningkatan ansietas. Ancaman atau peristiwa
pencetus biasanya dapat diidentifikasi. Tujuan intervensi krisis adalah
individu pada tingkat fungsi sebelum krisis. Krisis memiliki
keterbatasan waktu, dan konflik berat yang ditimbulkan dapat
menstimulasi pertumbuhan personal. Apa yang dilakukan seseorang
terhadap krisis menentukan pertumbuhan atau disorganisasi bagi orang
tersebut.
2.2.2 Factor pengimbang
Dalam menguraikan resolusi krisis, beberapa factor pengimbang
yang penting perlu dipertimbangkan. Keberhasilan resolusi krisis
kemungkinan besar terjadi jika persepsi individu terhadap peristiwa
adalah realististis bukan menyimpang, jika tersedia dukungan
situasional sehingga orang lain dapat membatu menyelesaikan masalah,
dan jika tersedia mekanisme koping untuk membantu mengurangi
ansietas.
2.2.3 Jenis –jenis krisis
a. Krisis maturasi.
Krisis maturasi merupakan masa transisi atau perkembangan
dalam kehidupan seseorang pada saat keseimbangan psikologis
terganggu, seperti pada masa remaja, menjadi orang tua,
pernikahan, atau pensiun. Krisis maturasi menuntut perubahan
peran. Sifat dan besarnya krisis maturasi dapat dipengaruhi oleh
model peran, sumber interpersonal yang memadai, dan kesiapan
orang lain dalam menerima peran baru.
b. Krisis situasi.
Krisis situasi terjadi ketika peristiwa eksternal tertentu
mengganggu keseimbangan psikologis individu atau
keseimbangan kelompok. Contohnya yaitu kehilangan pekerjaan,
perceraian, kematian, masalah sekolah, penyakit dan bencana.

6
2.3 Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya meningkatkan angka kesembuhan,
angka survival (bertahan hidup), dan kualitas hidup dalam mengatasi penyakit.
Aktivitas pencegahan tersier mencoba untuk mengurangi beratnya gangguan
dan disabilitas yang berkaitan. Rehabilitasi adalah proses yang memungkinkan
individu untuk kembali ke tingkat fungsi setinggi mungkin.

2.4 Pencegahan primer skunder dann tersier berdasaran letak trauma :


2.4.1 Trauma kepala dan wajah
a. Pencegahan primer
Upaya yang dilakukan perawat untuk pencegahan primer
meliputi penyuluhan kepada masyarakat luas melalui lembaga
swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya. Program
penyuluhan diarahkan ke penggunaan Helm saat mengemudi
kendaraan bermotor, Anak – anak yang masih Balita selalu diawasi
oleh orang tua, jangan Mengemudikan kendaraan dengan
kecepatan yang tinggi, pada pemanjat tebing saat memanjat harus
menggunakan pengaman pada kepala dan badan, Pada pekerja
bangunan agar menggunakan helm saat menaiki bangunan yang
tinggi.
b. Pencegahan sunder
1) Penanganan segera secara cepat dan tepat pada penderita Multi
Trauma:
Pada cedera Otak :
a) Pertahankan kepala harus berada dalam posisi gais tengah
b) Untuk jaringan yang terkoyak dari wajah, semua jaringan
dan organ yang lepas dikembalikan ke tempat semula.
c) Berikan sedatif untuk mengatasi agitasi, ventilasi mekanis
d) Berikan obat untuk menghentikan kejang : Benzodiazepin.
e) Tindakan untuk menurunkan TIK
2) Pencegahan komplikasi akut dan kronis :
a) cegah perdarahan yang hebat

7
c. Pencegahan tersier
1) pada cedera kepala ringan : -
a) Klien harus didampingi oleh seseorang selama waktu 24
jam sesudah cedera.
b) Jangan meminum minuman beralkohol selama 24
jam.beristirahat selama 24 jam berikutnya
c) Jangan mengemudikan kendaraan, mengoperasikan mesin,
atau mengamibil keputusan yang penting.
2.4.2 Trauma Toraks dan Leher
a. Pencegahan primer
paya yang dilakukan perawat untuk pencegahan primer
meliputi penyuluhan kepada masyarakat luas melalui lembaga
swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya. Program
penyuluhan diarahkan ke penggunaan Helm saat mengemudi
kendaraan bermotor, Anak – anak yang masih Balita selalu
diawasi oleh orang tua, jangan Mengemudikan kendaraan dengan
kecepatan yang tinggi, pada pemanjat tebing saat memanjat harus
menggunakan pengaman pada kepala dan badan, Pada pekerja
bangunan agar menggunakan helm saat menaiki bangunan yang
tinggi.
b. Pecegahan skunder
1) Tindakan untuk mengeluarkan cairan yang masif lewat Chest
tube
2) Bebaskan jalan napas dengan mengatur posisi mandibula
yang tepat
2.4.3 Trauma Abdomen
a. Pencegahan primer
Upaya yang dilakukan perawat untuk pencegahan primer
meliputi penyuluhan kepada masyarakat luas melalui lembaga
swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya. Program
penyuluhan diarahkan ke penggunaan Helm saat mengemudi
kendaraan bermotor, Anak – anak yang masih Balita selalu diawasi
oleh orang tua, jangan Mengemudikan kendaraan dengan

8
kecepatan yang tinggi, pada pemanjat tebing saat memanjat harus
menggunakan pengaman pada kepala dan badan, Pada pekerja
bangunan agar menggunakan helm saat menaiki bangunan yang
tinggi.
b. Pencegahan skunder : Lakukan pemeriksaan Fisik secara cermat.
c. Pencegahan tersier
1) Pada Trauma Limpa :
 Imunisasi rutin dengan vaksin pneumucocus, dilakukan
pada pasien yang baru menjalani splenektomi yang baru
pulanng dari rumah sakit, untuk mengurangi risiko
overwhelming postsplenectomy infection ( OPSI)
 Pada pasien yang mengalami hematoma Limpa
Subkapsular Menghindarai aktivitas yang berat dan
olahraga fisik selama kurang lebih 3 bulan untuk
mencegah terjadinya perdarahan ulang yang
menyebabkan ruptur limpa.
2) Pada pasien yang mengalami cedera colon :
 Pasien yang diduga cedera colon atau rekrum harus
diberikan profillaksis antibiotik parenteral untuk
mengatasi kuman – kuman gram negatif aerob ( se perti
Escherichia Coli ), dan anerob ( seperti Bcateroides
fragilis ), sehingga kadar darah yang adekuat dapat
dicapai pada saat laparatomi.
3) Pada cedera vaskular abdomen : tindakan umtuk mencegah
hipotermi
4) Menghangatkan semua cairan infus kristaloid dan darah
5) Menggunakan rangkaian proses pemanasan leawt ventilator
6) Memberikan selimut hangat dan memasang lampu Menutup
kepala pasien.
2.4.4 Trauma Tulang Belakang
a. Pencegahan primer
paya yang dilakukan perawat untuk pencegahan primer
meliputi penyuluhan kepada masyarakat luas melalui lembaga

9
swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya. Program
penyuluhan diarahkan ke penggunaan Helm saat mengemudi
kendaraan bermotor, Anak – anak yang masih Balita selalu diawasi
oleh orang tua, jangan Mengemudikan kendaraan dengan
kecepatan yang tinggi, pada pemanjat tebing saat memanjat harus
menggunakan pengaman pada kepala dan badan, Pada pekerja
bangunan agar menggunakan helm saat menaiki bangunan yang
tinggi.
b. Pencegahan skunder
1) Pasien harus di imobilisasi
a. Stabilisasi kepala dengan memfiksasinya dalam posisi
segaris dan memerintahkan kepada pasien untuk tidak
menggerakkan leher atau kepalanya.
b. Pengkajian fungsi motorik dan sensorik
c. Bantuan langsung untuk memasang serta mengunci kollar
servilkal yang kaku sesuai dengan ukuran, menggulingkan
tubuh pasien satu garis ke sisi tubuhnya serta memasang
papan punggung dan mengikat tali papan punggung serta
alat penyangga kepala dan pitanya.
d. Cegah hipoksia dengan mempertahankan saturasi oksigen
yang melibihi 90 % dan nilai hematokrit yang melibihi 30
%.
2.4.5 Trauma Muskuloskeletal
a. Pencegahan primer
Upaya yang dilakukan perawat untuk pencegahan primer
meliputi penyuluhan kepada masyarakat luas melalui lembaga
swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya. Program
penyuluhan diarahkan ke penggunaan Helm saat mengemudi
kendaraan bermotor, Anak – anak yang masih Balita selalu diawasi
oleh orang tua, jangan Mengemudikan kendaraan dengan
kecepatan yang tinggi, pada pemanjat tebing saat memanjat harus
menggunakan pengaman pada kepala dan badan, Pada pekerja

10
bangunan agar menggunakan helm saat menaiki bangunan yang
tinggi.
b. Pencegahan skunder
1) Untuk mengendalikan perdarahan lakukan penekanan
langsung ( Turniket)
2) Apabila benda yang menancap maka harus distabilkan dengan
metode apa saja, sehingga mencegah trauma lebih lanjut.
3) Imobilisasi fraktur : Pembidaian bagian atas dan bawah
fraktur, meliputi persendian proksimal dan distal.
4) Pada pasien yang fraktur :
a) Pembatasan aktivitas yang sederhana dengan penggunaan
mitela dan kruk
b) Reposisi tertutup diikuti oleh pemasangan gips.
c. Pencegahan tersier
1) Untuk menangani avulsi yaitu :
a) memantau dan mengendalikan perdarahan dengan
penekanan langsung
b) rigasi flap kulit yang dilakukan dengan hati – hati, dan
selanjutnya ditutupi dengan balutan yang tebal, steril serta
basah.
2) Imobilisasi fraktur : Pembidaian dengan pemasangan bantalan
(pad ) untuk mencegah disrupsi kulit yang lebih lanjut.
3) Untuk mencegah terjadinya fraktur yang lebih lanjut : pasien
yang akan dipulangkan :
a) Perawatan gips harus disampaikan dan dicatat
b) Paien yang menggunkan kruk : harua mengajarkan cara
berjalan yang tepat.

11
BAB 3
PENUTUP

3.1 Simpulan
Gawat artinya mengancam nyawa, sedangkan darurat adalah perlu
mendapatkan penanganan atau tindakan dengan segera untuk menghilangkan
ancaman nyawa korban.
Keperawatan gawat darurat (Emergency Nursing) merupakan pelayanan
keperawatan yang komprehensif diberikan kepada pasien dengan injuri akut
atau sakit yang mengancam kehidupan.
Tujuan penanggulangan gawat darurat adalah untuk:
1. Mencegah kematian dan cacat pada pasien gawat darurat, hingga dapat
hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat.
2. Merujuk pasien gawat darurat melalui system rujukan untuk memperoleh
penanganan yang lebih memadai.
3. Penanggulangan korban bencana.

12
DAFTAR PUSTAKA

Musliha. 2010. Keperawatan Gawat Darurat. Nuha Medika:


Yogyakarta.
Oman K. S. 2008 . Panduan Belajar Keperawatan Emergensi. Jakarta:
EGC.
Jasa KZ, Fachrul, dkk. 2014. Lauran Pasien Cedera Kepala Berat yang
Dilakukan operasi Kraniotomi Evakuasi Hematoma atau
Kraniektomi Dekompresi di RSU Dr. Zaenoel Abidin Banda
Aceh. Vol.3, No.1 (8-14).
Hastuti Dwi. 2017. Hubungan Pengetahuan Tentang Antisipasi Cedera
Dengan Praktik Pencegahan Cedera pada Anak Wilayah
Puskesmas Jelengkong Kabupaten Bandung. Vol.3, No.1 (52-
62).
Takatelid, Lucky, dkk. 2017. Pengaruh Terapi Oksigenasi Nasal Prong
Terhadap Perubahan Saturasi Oksigen Pasien Cedera Kepala
Di Instalasi Gawat Darurat RSUP. Prof. DR. R. D.Kandou
Manado. Vol.5, No.1.

13