Anda di halaman 1dari 14

Pada ekstraksi padat cair, satu atau beberapa komponen yang dapat larut dipisahkan dari bahan

padat dengan bahan pelarut. Pada ekstraksi yaitu pada bahan ekstraksi dicampur dengan pelarut,
maka pelarut menembus kapiler-kapiler dalam bahan padat dan melaritkan ekkstrak. Larutan
ekstrak dengan konsentrasi yang tinggi terbentuk dibaian dalam bahan ekstraksi. Dengan cara
difusi akan terjadi kesetimbangan konsentrasi anatara larutan tersebut dengan larutan luar bahan
padat. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai unjuk kerja ekstraksi atau kecepatan
ekstraksi yang paling tinggi pada ekstraksi padat-cair yaitu:

1. Karena perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak antara fase adat dan fase
cair, maka bahan itu perlu sekali memiliki permukan yang luas mungkin
2. Kecepatan alir pelarut sedapat mungkin besar dibandingkan dengan laju alir bahan
ekstraksi
3. Sehu yang lebih tinggi (viskositas pelarut lebih rendah,kelarutan ekstrak lebih besar)
dari pada umumnya unjuk kerja ekstraksi (Winarti.2008)
Dalam ekstraksi padat cair, larutan yang mengandungkomponen yang digunakan harus bersifat tak
campur dengan cairan lainnya. Proses ini banyak digunakan dalam pemisahan minyak dari bahan
yang mengandung minyak (Ibrahim.2009).
Teknik ekstraksi terdapat 3 metode dasar ekstraksi padat cair, yaitu:

1 Ekstraksi bertahap

Ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling sederhana. Caranya dengan menambahkan pelarut
pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula. Kemudian dilakukan ekstraksi dengan
alat soklat yang dilakukan dengan cara berkesinambungan, sehingga terjadi kesetimbangann
konsentrasi zat yang akan diektraksi pada kedua lapisan. Setelah itu tercapai, lapisan didiamkan
dan dipisahkan dengan metode destilasi.

2. ekstraksi kontimyou
Digunakan bila perbandingan distribusi relatif kecil, sehingga untuk pemisahan yang kuantitatif
diperlukan ebebraoa tahap ekstraksi.

3. ekstraksi kontinyou Counter current


Fase cair penekstraksi dialirkan dengan arah berlawanan dengan larutan yang mengandung zat
yang diekstraksi. Biasanya digunakan untuk pemisahan zat, isolasi ataupun pemurnian
(Khopkhar.1990).
Metode refluks merupakan metode berkesinambu
EKSTRAKSI CAIR-CAIR

1. Pengertian Ekstraksi

Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan dengan bantuan
pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu campuran
homogen menggunakan pelarut cair (solven) sebagai separating agen. Pemisahan terjadi atas dasar
kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam campuran. Contoh ekstraksi :
pelarutan komponen-komponen kopi dengan menggunakan air panas dari biji kopi yang telah dibakar
atau digiling.

Pemisahan zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak saling mencampur antara lain menggunakan alat
corong pisah. Ada suatu jenis pemisahan lainnya dimana pada satu fase dapat berulang-ulang
dikontakkan dengan fase yang lain, misalnya ekstraksi berulang-ulang suatu larutan dalam pelarut air
dan pelarut organik, dalam hal ini digunakan suatu alat yaitu ekstraktor sokshlet. Metode sokshlet
merupakan metode ekstraksi dari padatan dengan solvent (pelarut) cair secara kontinu. Alatnya
dinamakan sokshlet (ekstraktor sokshlet) yang digunakan untuk ekstraksi kontinu dari sejumlah kecil
bahan Istilah-istilah berikut ini umumnya digunakan dalam teknik ekstraksi:

1. Bahan ekstraksi: Campuran bahan yang akan diekstraksi

2. Pelarut (media ekstraksi): Cairan yang digunakan untuk melangsungkan ekstraksi

3. Ekstrak: Bahan yang dipisahkan dari bahan ekstraksi

4. Larutan ekstrak: Pelarut setelah proses pengambilan ekstrak

5. Rafinat (residu ekstraksi): Bahan ekstraksi setelah diambil ekstraknya

6. Ekstraktor: Alat ekstraksi

7. Ekstraksi padat-cair: Ekstraksi dari bahan yang padat

8. Ekstraksi cair-cair (ekstraksi dengan pelarut = solvent extraction): Ekstraksi dari bahan ekstraksi
yang cair

Pada ekstraksi tidak terjadi pemisahan segera dari bahan-bahan yang akan diperoleh (ekstrak),
melainkan mula-mula hanya terjadi pengumpulan ekstrak dalam pelarut.

Ekstraksi akan lebih menguntungkan jika dilaksanakan dalam jumlah tahap yang banyak. Setiap tahap
menggunakan pelarut yang sedikit. Kerugiannya adalah konsentrasi larutan ekstrak makin lama makin
rendah, dan jumlah total pelarut yang dibutuhkan menjadi besar, sehingga untuk mendapatkan pelarut
kembali biayanya menjadi mahal.

Semakin kecil partikel dari bahan ekstraksi, semakin pendek jalan yang harus ditempuh pada
perpindahan massa dengan cara difusi, sehingga semakin rendah tahanannya. Pada ekstraksi bahan
padat, tahanan semakin besar jika kapiler-kapiler bahan padat semakin halus dan jika ekstrak semakin
terbungkus di dalam sel (misalnya pada bahan-bahan alami).

Ekstraksi dibagi menjadi dua, yaitu:

 Ekstraksi padat-cair

Pada ekstraksi padat-cair, satu atau beberapa komponen yang dapat larut dipisahkan dari bahan padat
dengan bantuan pelarut. Pada ekstraksi, yaitu ketika bahan ekstraksi dicampur dengan pelarut, maka
pelarut menembus kapiler-kapiler dalam bahan padat dan melarutkan ekstrak. Larutan ekstrak dengan
konsentrasi yang tinggi terbentuk di bagian dalam bahan ekstraksi. Dengan cara difusi akan terjadi
kesetimbangan konsentrasi antara larutan tersebut dengan larutan di luar bahan padat.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai unjuk kerja ekstraksi atau kecepatan ekstraksi yang
tinggi pada ekstraksi padat-cair, yaitu:

1. Karena perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak antara fase padat dan fase cair,
maka bahan itu perlu sekali memiliki permukaan yang seluas mungkin.

1. Kecepatan alir pelarut sedapat mungkin besar dibandingkan dengan laju alir bahan ekstraksi.

1. Suhu yang lebih tinggi (viskositas pelarut lebih rendah, kelarutan ekstrak lebih besar)
pada umumnya menguntungkan unjuk kerja ekstraksi.

 Ekstraksi cair-cair

Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran dipisahkan dengan
bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara destilasi
tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan azeotrop atau karena kepekaannya terhadap
panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri dari sedikitnya
dua tahap, yaitu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua
fase cair itu sesempurna mungkin. Pada makalah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai ekstraksi cair-
cair.

2. Ektraksi Cair – Cair

Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction): solute dipisahkan dari cairan pembawa (diluen)
menggunakan solven cair. Campuran diluen dan solven ini adalah heterogen ( immiscible, tidak saling
campur), jika dipisahkan terdapat 2 fase, yaitu fase

diluen (rafinat) dan fase solven (ekstrak). Perbedaan konsentrasi solute di dalam suatu fasadengan
konsentrasi pada keadaan setimbang merupakan pendorong terjadinya pelarutan (pelepasan) solute
dari larutanyang ada. Gaya dorong (driving force) yang menyebabkan terjadinya proses ekstraksi
dapatditentukan dengan mengukur jarak system dari kondisi setimbang.

Fase rafinat = fase residu, berisi diluen dan sisa solut.

Fase ekstrak = fase yang berisi solut dan solven.

(a)

(b)

Gambar 1. (a)Proses ekstraksi cair-cair dan (b) aplikasi ekstraksi cair-cair.

Dalam hal yang paling sederhana, bahan ekstraksi. Yang cair dicampur berulangkali dengan pelarut segar
dalam sebuah tangki pengaduk (sebaiknya dengan saluran keluar di bagian bawah). Larutan ekstrak yang
dihasilkan setiap kali dipisahkan dengan cara penjernihan (pengaruh gaya berat).

Yang konstruksinya lebih menguntungkan bagi proses pencampuran dan pernisahan adalah tangki yang
bagian bawalmya runcing (yang dilengkapi dengan perkakas pengaduk, penyalur bawah, maupun kaca
Intip yang tersebar pada seluruh ketinggiannya).

Alat tak kontinu yang sederhana seperti itu digunakan misalnya untuk mengolah bahan dalam jurnlah
kecil,atau bila hanya sekali-sekali dilakukan ekstraksi. Untuk Pemisahan

Yang dapat dipercaya antara fasa berat dan fasa ringan, sedikit-sedikitnya diperlukan sebuah kaca intip
pada saluran keluar di bagian bawah tangki ekstraksi.

Selain itu penurunan lapisan antar fasa seringkali dikontrol secara elektronik (dengan perantara alat
ukur konduktivitas),secara optik (dengan bantuan detektor cahaya 289 hatas) atau secara mckanik
(dengan pelampung atau benda apung). Peralatan ini mudah digabungkan dengan komponen pemblokir
dan perlengkapan alarm, yang akan menghentikan aliran keluar dan/atau memberikan alarm, segera
setelah lapisan tersebut melampaui kedudukan tertentu.Agar fasa ringan (yang kebanyakan terdiri atas
pelarut organik) tidak masuk ke dalam saluran pembuangan air,pencegahan yang lebih baik dapat
dilakukan dengan memasang bak penampung (bak penyangga) dibelakang ekstraktor.

Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran dipisahkan dengan
bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala besar misalnya untuk memperoleh
vitamin, antibiotika, bahan-bahan penyedap, produk-produk minyak bumi dan garam-garam. logam.
Proses ini pun digunakan untuk membersihkan air limbah dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padat cair.
Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara destilasi tidak mungkin
dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau karena kepekaannya terhadap panas) atau
tidak ekonomis. Seperti halnya pada proses ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas
sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan
pemisahan kedua fasa cair itu sesempurna mungkin.

Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu ekstrak meninggalkan pelarut yang pertarna
(media pembawa) dan masuk ke dalam pelarut kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini,
bahan ekstraksi dan pelarut tidak. saling melarut (atau hanyadalam daerah yang sempit). Agar terjadi
perpindahan masa yang baik yang berarti p erformansi ekstraksi yang besar haruslah diusahakan agar
terjadi bidang kontak yang seluasmungkin di antara kedua cairan tersebut. Untuk itu salah satu cairan
distribusikan menjaditetes-tetes kecil (misalnya dengan bantuan perkakas pengaduk). Tentu saja
pendistribusian initidak boleh terlalu jauh, karena akan menyebabkan terbentuknya emulsi yang tidak
dapat lagiatau sukar sekali dipisah. Turbulensi pada saat mencampur tidak perlu terlalu besar. Yang
penting perbedaan konsentrasi sebagai gaya penggerak pada bidang batas tetap ada. Hal ini berarti
bahwa bahan yang telah terlarutkan sedapat

mungkin segera disingkirkan dari bidang batas. Pada saat pemisahan, cairan yang telah terdistribusi
menjadi tetes-tetes hanis menyatu kembali menjadi sebuah fasa homogen dan berdasarkan perbedaan
kerapatan yang cukup besar dapat dipisahkan dari cairan yang lain. Kecepatan pembentukan fasa
homogen yang diikuti dengan menentukan output sebuah ekstraktor cair-cair. Kuantitas pemisahan
persatuan waktu dalam hal ini semakin besar jika permukaan lapisan antar fasa di dalam alat semakin
luas. Sama haInya seperti pada ekstraksi padat-cair,alat ekstraksi tak kontinu dan kontinu yang akan
dibahas berikut ini seringkali merupakan bagian dari suatu instalasi lengkap. Instalasi tersebut biasanya
terdiri atas ekstraktor yang sebenarnya (dengan zone-zone pencampuran dan pemisahan) dan sebuah
peralatan yangdihubungkan di belakangnya (misalnya alat penguap, kolom rektifikasi) untuk mengisolasi
ekstrak atau memekatkan larutan ekstrak dan mengambil kembali pelarut.

Pertimbangan pemakaian proses ekstraksi sebagai proses pemisahan antara lain:

 Komponen larutan sensitif terhadap pemanasan jika digunakan distilasi meskipun padakondisi
vakum

 Titik didih komponen-komponen dalam campuran berdekatan

 Kemudahan menguap (volatility) komponen-komponen hampir sama.

Untuk mencapai proses ekstraksi cair-cair yang baik, pelarut yang digunakan harus memenuhi kriteria
sebagai berikut (Martunus & Helwani, 2004;2005):
1. kemampuan tinggi melarutkan komponen zat terlarut di dalam campuran.

2. kemampuan tinggi untuk diambil kembali.

3. perbedaan berat jenis antara ekstrk dan rafinat lebih besar.

4. pelarut dan larutan yang akan diekstraksi harus tidak mudah campur.

5. tidak mudah bereaksi dengan zat yang akan diekstraksi.

6. tidak merusak alat secara korosi.

7. tidak mudah terbakar, tidak beracun dan harganya relatif murah.

Berdasarkan sifat diluen dan solven, sistem ekstraksi dibagi menjadi 2 sistem :

1. immiscible extraction, solven (S) dan diluen (D) tidak saling larut.

1. partially miscible, solven (S) sedikit larut dalam diluen (D) dan sebaliknya , meskipun demikian,
campuran ini heterogen, jika dipisahkan akan terdapat fase diluen dan fase solven.

Skema sistem itu :

Gambar 2. Skema sistem ekstraksi.

Suatu unit ekstraksi, selalu diikuti unit pemungutan solven agar dapat digunakan kembali ( solvent
recovery unit), seperti gambar di bawah ini:

Gambar 3. Skema unit ekstraksi yang diikuti unit pemungutan solven.

Ditinjau dari cara kontak kedua fase, maka ekstraktor dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Kontak kontinyu ( continuous contactor) seperti Rotary Disc Contactor, Packed bed extractor,
spray tower.

2. Kontak bertingkat ( stage wise contactor) seperti menara plat/tray, mixer-settler.

(a) (b) (c) (d)

(e)

Gambar 4. (a)(b) Spray tower, (c)(d) Baffle-plate coloumn, dan (e) Sieve tray extractor.

Menara kontak kontinyu sering disebut menara transfer massa, sedangkan menara platsering disebut
menara stage keseimbangan. Oleh karena itu, pada menara kontak kontinyuharus diperhatikan
kecepatan perpindahan massa solut dari fase pembawa ke fase pelarut.

Tujuan perancangan alat ekstraksi dengan kontak bertingkat adalah menentukan jumlah stage
seimbang/ideal/teoritis yang dibutuhkan.Jumlah stage sesungguhnya merupakan rasio stage ideal
dengan efisiensi alatnya.

Di dalam menganalisis alat ekstraksi, seseorang harus mengetahui dan menentukan :

1. kondisi bahan yang akan dipisahkan (umpan), yaitu kecepatan arus fluida umpan, komposisi.

2. banyak solut yang harus dipisahkan,


3. jenis solven yang akan digunakan,

4. suhu dan tekanan alat,

5. kecepatan arus solven minimum dan kecepatan arus solven operasi,

6. Diameter menara,

7. Jenis alat kontak,

8. Jumlah stage ideal, aktual, dan tinggi menara,

9. Pengaruh panas.

Pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan pelarut yang digunakan adalah:

 Selektifitas (factor pemisahan = β)

 = fraksi massa solut dalam ekstrak/fraksimassa diluant dalam ekstrak

fraksi massa solut dalam rafinat/fraksimassa diluent dalam rafinat

Agar proses ekstraksi dapat berlangsung, harga β harus lebih besar dari satu. Jika nilai β =1 artinya kedua
komponen tidak dapat dipisahkan.

 Koefisien distribusi

K = konsentrasi solut dalam fasa ekstrak, Y konsentrasi solut dalam fasa rafinat, X

Sebaiknya dipilih harga koefisien distribusi yang besar, sehingga jumlah solvent yangdibutuhkan lebih
sedikit.

 Recoverability (kemampuan untuk dimurnikan)

Pemisahan solute dari solvent biasanya dilakukan dengan cara distilasi, sehingga diharapkan harga
“relative volatility” dari campuran tersebut cukup tinggi.

 Densitas

Perbedaan densitas fasa solvent dan fasa diluent harus cukup besar agar mudah terpisah. Perbedaan
densitas ini akan berubah selama proses ekstraksi dan mempengaruhi laju perpindahan massa.

 Tegangan antar muka (interfasia tension)

Tegangan antar muka besar menyebabkan penggabungan (coalescence) lebih mudahnamun


mempersulit proses pendispersian. Kemudahan penggabungan lebih dipentingkansehingga dipilih
pelarut yang memiliki tegangan antar muka yang besar.

 Chemical reactivity

Pelarut merupakan senyawa yang stabil dan inert terhadap komponen-komponen dalamsystem dan
material (bahan konstruksi).

 Viskositas
tekanan uap dan titik beku dianjurkan rendah untuk memudahkan penanganan dan penyimpanan.

 Pelarut tidak beracun dan tidak mudah terbakar.

Koefisien distribusi

Pada percobaan ini menentukan koefisien distribusi untuk system tri kloro etilen-asamasetat-air, dan
menunjukkan ketergantungannya terhadap konsentrasi. Pada campuran ketigazat ini dianggap bahwa
fasa berada pada kesetimbangan. Pada konsentrasi rendah, koefisiendistribusi tergantung pada
konsentrasi, sehingga Y = K.X

Y = konsentrasi solute dalam fasa ekstrak

X = konsentrasi solute dalam fasa rafinat

K = koefisien distribusi

Neraca massa dan koefisian perpindahan massa

Pada percobaan ini mendemonstrasikan bagaimana kelakuan neraca massa padakolom ekstraksi dan
mengukur koefisien perpindahan massa dan variasinya terhadap laju

alir dengan fasa air sebagai media kontinu. Symbol dan rumus-rumus yang digunakan dalam
perhitungan ditunjukkan sebagai berikut. Untuk system tri kloro etilen-air-asam asetat,

Vw = Laju alir air (L/s)

Vo = Laju alir TCE (L/s)

 = konsentrasi asam asetat dalam fasa organic (kg/L)

 = konsentrasi asam asetat dalam fasa air (kg/L) Indeks 1: pada puncak kolom

Indeks 2: pada dasar kolom

1.Neraca Massa

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa organic (rafinat) = Vo(X1-X2)

Asam asetat yang terekstraksi dari fasa air (ekstrak) = Vw(Y1-0)

Maka: Vo(X1-X2) = Vw(Y1-0)

2.Efisiensi Ekstraksi

Koef mass transfer = laju perpindahan massa/(volume packing X gaya dorong rata-rata)

Log rata-rata gaya dorong = (ΔX1 – ΔX2)/ ln (ΔX1/ΔX2)

ΔX1: gaya dorong pada puncak kolom = X2 – 0

ΔX2: gaya dorong pada dasar kolom = X1 – X1*

X1*: konsentrasi asam di dalam fasa organic yang berkesetimbangan dengan konsentrasi Y1 di dalam
fasa air. Harga kesetimbangan ini didapatkan dari kurva koefisien distribusi
Ada tiga faktor penting yang berpengaruh dalam peningkatan karakteristik hasil dalam ekstraksi cair-cair
yaitu (Martunus dkk., 2006; Martunus & Helwani, 2004; 2005; 2006):

1. Perbandingan pelarut-umpan (S/F).

Kenaikan jumlah pelarut (S/F) yang digunakan akan meningkatan hasil ekstraksi tetapi harus ditentukan
titik (S/F) yang minimum agar proses ekstraksi menjadi lebih ekonomis.

2. Waktu ekstraksi.

Ekstraksi yang efisien adalah maksimumnya pengambilan solut dengan waktu ekstraksi yang lebih cepat.

3. Kecepatan pengadukan.

Untuk ekstraksi yang efisien maka pengadukan yang baik adalah yang memberikan hasil ekstraksi
maksimum dengan kecepatan pengadukan minimum, sehingga konsumsi energy menjadi minimum.

Ekstraktor cair-cair kontinu

Operasi kontinu pada ekstraksi cair-cair dapat dilaksanakan dengan sederhana, karena tidak saja
pelarut, melainkan juga bahan ekstraksi cair secara mudah dapat dialirkan dengan bantuan pompa.
Dalam hal ini bahan ekstraksi berulang kali dicampur dengan pelarut atau larutan ekstrak dalam arah
berlawanan yang konsentrasinya senantiasa meningkat.

Setiap kali kedua fasa dipisalikan dengan cara penjernihan. Bahan ekstraksi dan pelarut terus menerus
diumpankan ke dalam alat, sedangkan rafinat dan larutan ekstrak dikeluarkan secara kontinu.Ekstraktor
yang paling sering digunakan adalah kolom- kolom ekstraksi,di samping itu juga digunakan perangkat
pencampur-pemisah (mixer settler). Alat-alat ini terutama digunakan bila bahan ekstraksi yang harus
dipisahkan berada dalam kuantitas yang besar, atau bila bahan tersebut diperoleh dari proses-proses
sebelumnya secara terus menerus.

Senyawa organik lebih larut dalam pelarut air dibandingkan dalam pelarut organik (koefisien distribusi
antara pelarut organik dan air kecil). Ekstraksi senyawa dengan koefisien campuran rendah antara
pelarut organik dan air biasanya memerlukan pelarut organik dalam jumlah yang banyak. Penggunaan
pelarut yang besar ini bisa diatasi dengan ekstraksi kontinyu dimana hanya relative kecil volume pelarut
yang dibutuhkan

(vogel, 1989 : 156). Teknik ekstraksi cair-cair kontinyu, pelarutnya dapat didaur ulang menjadi campuran
yang mengandung air sehingga penyusunnya dapat diekstraksi dengan pelarut lain. (Ralph J. Fessenden,
1993 : 84).
Gambar 5. Alat ekstraksi cair-cair kontinyu

Gambar 5. menunjukkan alat ekstraksi kontinyu menggunakan pelarut yang lebih encer dari air
(ekstraktor yang lain dapat dirancang untuk pelarut yang lebih kental dari air). Larutan yang diekstraksi
ditem-patkan pada tabung panjang. Pelarut ditempatkan di labu destilasi, seperti ditunjukkan pada
gambar. Ketika pelarut didestilasi, uap hasil kondensasi masuk pada pipa sempit yang ada dalam dasar
tabung besar.Ketika pipa sempit itu diisi pelarut, gelembung-gelembung kecil pelarut naik melalui pipa
dan keluar sebagai uap air.

Ekstraksi senyawa organik di atas dengan air akan keluar kembali pada botol penyulingan, dimana lebih
banyak lagi pelarut yang didestilasi. Ekstraksi cair-cair kontinyu ini membutuhkan waktu beberapa jam
atau beberapa hari tetapi operator bebas beraktivitas dimana ekstraksi bekerja sendiri. Ketika ekstraksi
sudah lengkap, ekstraks organik kering dan komponen organik bebas dari pelarut
Ekstraksi Fase Padat

22.08 LANSIDA 3 comments

Jika dibandingkan dengan ekstraksi cair-cair, ekstraksi fase padat yang biasa disebut Solid Phase
Extraction (SPE) merupakan teknik yang relatif baru akan tetapi SPE cepat berkembang sebagai alat yang
utama untuk pra-perlakuan sampel atau untuk clean-up sampel-sampel yang kotor, misal sampel-
sampel yang mempunyai kandungan matriks yang tinggi seperti garam-garam, protein, polimer, resin,
dll.

Keunggulan SPE dibandingkan dengan ekstraksi cair-cair adalah:

Proses ekstraksi lebih sempurna

Pemisahan analit dari penganggu yang mungkin ada menjadi lebih efisien

Mengurangi pelarut organik yang digunakan

Fraksi analit yang diperoleh lebih mudah dikumpulkan

Mampu menghilangkan partikulat

Lebih mudah diotomatisasi

Karena SPE merupakan proses pemisahan yang efisien maka untuk memperoleh recovery yang tinggi
(>99%) pada SPE lebih mudah dari pada ekstraksi cair-cair. Dengan ekstraksi cair-cair diperlukan
ekstraksi beberapa kali untuk memperoleh recovery yang tinggi, sedangkan dengan SPE hanya
dibutuhkan satu tahap saja untuk memperolehnya.

Sementara itu kerugian SPE adalah banyaknya jenis cartridge (berisi penjerap tertentu) yang beredar di
pasaran sehingga reprodusibilitas hasil bervariasi jika menggunakan cartridge yang berbeda dan juga
adanya adsorpsi yang bolak-balit pada cartridge SPE.

Prosedur SPE

Ada 2 strategi untuk malakukan penyiapan sampel menggunakan SPE ini. Strategi pertama adalah
dengan memilih pelarut yang mampu menahan secara total analit yang dituju pada penjerap yang
digunakan, sementara senyawa-senyawa yang mengganggu akan terelusi. Analit yang dituju yang
tertahan pada penjerap ini selanjutnya dielusi dengan sejumlah kecil pelarut organik yang akan
mengambil analit yang tertahan ini. Strategi ini bermanfaat jika analit yang diutuju berkadar rendah.

Diagram skematik prosedur SPE sebagai berikut :

Strategi lain adalah dengan mengusahakan supaya analit yang tertuju keluar (terelusi), sementara
senyawa pengganggu tertahan pada penjerap.
Tahap pertama menggunakan SPE adalah dengan mengkondisikan penjerap dengan pelarut yang sesuai.
Untuk penjerap non polar seperti C18 dan penjerap penukar ion dikondisikan dengan mengalirinya
menggunakan metanol lalu dengan akuades. Pencucian yang berlebihan dengan air akan mengurangi
recovery analit. Penjerap-penjerap polar seperti diol, siano, amino, dan silika harus dibilas dengan
pelarut nonpolar seperti metilen klorida.

Dari diagram atas dapat diketahui bahwa ada 4 tahap dalam prosedur SPE, yaitu:

i. Pengkondisian

Cartridge (Penjerap) dialiri dengan pelarut sampel untuk membasahi permukaan penjerap dan untuk
menciptakan nilai pH yang sama, sehingga perubahan-perubahan kimia yang tidak diharapkan ketika
sampel dimasukkan dapat dihindari.

ii. Retensi (tertahannya) sampel

Larutan sampel dilewatkan ke cartridge baik untuk menahan analit yang diharapkan sementara
komponen lain terelusi atau untuk menahan komponen yang tidak diharapkan sementara analit yang
dikehendaki terelusi.

iii. Pembilasan

Tahap ini penting untuk menghilangkan seluruh komponen yang tidak tertahan oleh penjerap selama
tahap retensi.

iv. Elusi

Tahap ini merupakan tahap akhir untuk mengambil analit yang dikehendaki jika analit tersebut tertahan
pada penjerap.

Fase SPE

Berbagai macam cartridge SPE yang berisi berbagai macam penjerap diringkas dalam tabel dibawah.
Suatu penjerap pada SPE harus dipilih yang mampu menahan analit secara kuat selama pemasukan
sampel ke dalam cartridge.

Inilah berbagai jenis fase SPE dan kondisi-kondisinya.

Untuk sampel-sampel yang bersifat ionik atau yang dapat terionisasi, digunakan penjerap penukar ion.
Fraksi analit yang keluar dari SPE dapat langsung diinjeksikan ke sistem kromatografi atau dilakukan
pengaturan pH untuk meminimalkan ionisasi sehingga dapat dipisahkan dengan kolom fase terbalik
pada KCKT.
Pengembangan metode

Sebagaimana dalam metode kromatografi cair, retensi analit tergantung pada konsentrasi sampel,
kekuatan pelarut, dan karakteristik penjerap. Pendekatan empirik untuk melakukan pengembangan
metode SPE melibatkan screening penjerap yang tersedia. Langkah pertama adalah menentukan
penjerap mana yang paling baik dalam hal menahan analit yang dituju. Pertimbangan kedua adalah
pelarut apa yang dibutuhkan untuk mengelusi analit yang dituju. Langkah ketiga adalah menguji matriks
sampel blanko untuk mengevaluasi adanya pengganggu yang mungkin ada, dan akhirnya (langkah
keempat) adalah menentukan recovery dengan menambah analit dalam jumlah tertentu harus
dilakukan.

Polaritas pelarut yang meningkat dibutuhkan untuk mengelusi senyawa yang tertahan dalam penjerap
silika; sementara untuk senyawa yang tertahan dalam penjerap non polar (seperti C18) digunakan
pelarut non polar.